False

Author: @li_idi_il/ Lee Idil

Main Cast:

Park Chan Yeol

Jung Ji Eun

Support Cast:

Park Ji Yeon

Do Kyong Soo (DO)

Length: OneShoot

Genre: Romance

***

Note: Sebelumnya mian kalo ff nya gaje, terus banyak typony, trus alurnya gak jelas, trus bahasanya gak menarik, trus kepanjangan, dan kekurangan2 lainnya. Tapi biar karya author lebih baik dari sebelumnya, maka author bener2 ngarep komenannya. Gamsahamnida udah mau mampir dan baca ff ini. *bow. Kalo sudi sekalian Like juga yaa. Hihihi

Happy Reading^-^

***

Yeoja manis ini berada didalam pelukannya sekarang. Begitu hangat. Jantungnya belum bisa berdetak normal lagi, semenjak seorang namja yang sekarang memeluknya menyatakan perasaannya.

“chukkaeyo…” kata suara manis dari ujung tempat ini. Suara Jiyeon. Teman dekat yeoja manis ini, sekaligus teman sekelas namja-chingu barunya.

Mendengar suara itu, ChanYeol, namjachingu-baru-nya itu segera melepaskan pelukan mereka, dan melemparkan senyuman kearah yeoja yang diketahui adalah chingu dari yeoja manis tadi. ChanYeol menarik yeoja manis itu untuk menemui classmatenya, Ji Yeon.

“Gamsahamnida Jiyeon,” kata ChanYeol dengan merangkulkan tangannya ke pundak  Jiyeon.

“cheonman, bersenanglah…”jawab Jiyeon sambil melepaskan rangkulan namjachingu-baru-yeoja-manis itu.

***

“jagi, temani aku ke salon” rengek Ji Eun manja, yang diketahui sebagai yeojachingunya ChanYeol.

“pergilah sendiri. Aku ingin mengerjakan tugas kelompok Fisika ku dengan Jiyeon” jawabnya yang terus berkutat dengan buku yang di bacanya.

“kau lebih mementingkan Jiyeon dari pada aku?” tanya yeoja itu lagi berpura-pura marah dan berkacak pinggang agar ChanYeol mau menemaninya.

“Ani. Aku lebih mementingkan Fisika dari pada kamu” kali ini ChanYeol menoleh kearahnya, memerongkan lidahnya, dan melemparkan senyum indahnya.

Dan senyumannya selalu sukses membuat Ji Eun luluh dan tidak bisa berkata apa-apa. Semburat merah telah mewarnai pipinya. Entahlah. Padahal ini bulan kedua Ji Eun menjadi yeojachingunya, tapi tetap saja, ia masih sering salah tingkah karena ChanYeol.

“baiklah, aku akan pergi sendiri” kata Ji Eun sambil mempoutkan bibirnya. ChanYeol hanya tertawa kecil dan mencubit pipi yeoja chingunya.

***

Hari-hari dilalui Ji Eun dengan semakin senang semenjak ia berpacaran dengan ChanYeol. Namja jangkung yang sangat tampan menurutnya.

Ia selalu memuja namja itu, sekalipun namja itu menyakiti hatinya. Itu janjinya. Tapi sampai detik ini, semenjak dua bulan yang lalu, belum ada yang benar-benar menyakiti hati yeoja manis ini.

Ji Eun yang sangat manja, selalu ingin melakukan semuanya dengan ChanYeol. ChanYeol juga senang melakukan hal bersama Ji Eun, tapi jika ia benar dalam keadaan tidak bisa di ganggu maka ia tak akan segan menolak Ji Eun. Biarpun itu sulit, karena Ji Eun akan selalu merengek. “oppa ayo ke kantin” rengeknya lagi.

“ChanYeol-ah, ayo, rapat hampir dimulai” Jiyeon tiba-tiba muncul dari balik pintu kelas mereka. Kelas ChanYeol-juga-Jiyeon.

“ah, aku lupa. Kau duluanlah” jawabnya seraya tersenyum dan melambaikan tangan kepada Jiyeon. Jiyeon hanya tersenyum kepada JiEun-dan-ChanYeol lalu pergi.

“Jagi, kau ke kantin sendiri saja ya?” pintanya sambil memelas. Ia memasang puppy eyes, yang tidak pernah bisa di tolak Ji Eun.

“Shireo!” Ji Eun melipatkan kedua tangannya didada. Mempoutkan bibir-nya dan menggembungkan pipinya. Berharap ChanYeol mengerti kalau ia sangat ingin ke kantin bersama.

“ppuing…ppuing” ChanYeol pun mengeluarkan senjata andalannya, Aegyo. Jelas Ji Eun sudah kalah sekarang.

Ji Eun pun tidak jadi pergi kekantin, biarpun perutnya sekarang sangat lapar. Ia hanya akan melakukan sesuatu dengan namjanya. Sepulang sekolah, moodnya kembali lagi setelah melihat ChanYeol berdiri di depan kelasnya, tentu saja untuk menunggunya pulang bersama.

“oppa, nanti sore apa kau ada acara?” tanya Ji Eun sambil berjalan bersampingan dengan ChanYeol.

“ani…waeyo?” jawab ChanYeol singkat tanpa menatap Ji Eun. Tatapannya tak pernah lepas dari layar handphone-nya. Ia sedikit sebal dengan perilaku ChanYeol, tapi ia sudah mulai terbiasa karena ChanYeol sudah sering tidak menatap Ji Eun saat berbicara dan malah menatap layar hapenya semenjak mereka bertemu. Entah apa yang ada di layar hapenya itu.

“bagaimana kalau kita pergi ke namsan tower?” pinta Jieun lagi. Sambil mengalungkan tangannya di rangkulan tangan ChanYeol. Ia terus melihat wajah namjanya yang tidak sedikitpun melihat ke arahnya. Ji Eun masih menunggu jawaban ChanYeol.

“noye sesangero” ChanYeol segera melepaskan rangkulan yeoja-chingunya mendengar hape-nya berbunyi. Dan menjawab telfon.

“yeoboseyo?”

“…” samar-samar Ji Eun mendengar suara seorang Yeoja. Hati Ji Eun terasa sesak. Tapi ia yakin, namjanya tidak akan berpaling darinya. Karena ChanYeol selalu mengatakan ‘saranghae yongwonhi’ setiap akhir dari pertemuan mereka. Itu kamus basi ChanYeol yang selalu meluluhkan hati Ji Eun.

“ok, baiklah. Aku akan menunggumu di taman kota nanti sore” ChanYeol segera mematikan teleponnya. Ia tersenyum.

“nugu?” tanya Ji Eun lagi menyelidik. Ia berharap jawaban yang akan menenangkan hatinya keluar dari ChanYeol.

“ani” jawab ChanYeol singkat lagi, dan terus memandangi layar hape-nya penuh senyum.

“jadi bagaimana?” Kini Ji Eun mengalihkan pembicaraan. Ini lebih penting dari pada berfikir terus kalau namjanya selingkuh.

“ah, sepertinya aku tidak bisa. Bagaimana kalau besok?” ChanYeol beralih bertanya. Akhirnya dia menatap yeojachingunya ini, biarpun hanya sekilas. Ia langsung berpaling, kali ini ke rerumputan.

“aku ada kerja kelompok” jawab Ji Eun ketus. Tentu saja ia bohong. Ia hanya marah pada ChanYeol. Bagaimana tidak? Jelas-jelas yang duluan mengajaknya pergi sore ini adalah Ji Eun, tapi dia malah memilih pergi dengan teman bicaranya di telfon tadi.

“ah, ya sudahlah. Lain kali saja, kalau kita tidak ada acara” jawab ChanYeol tanpa merasa rasa bersalah.

“…”

***

‘taman kota…nanti sore,,,taman kota…nanti sore,,,’ yeoja ini terus memikirkan hal ini. Ia ingin sekali menguntit apa yang dilakukan ChanYeol dengan teman telefonnya itu di taman. Sore hari lagi, waktu yang tepat sekali untuk berkencan.

Tapi rasanya menjadi penguntit bukan hal yang bisa di maklumi, tak terkecuali ChanYeol.

Tapi dia sangat penasaran. Akhir-akhir ini perhatian namjachingunya berkurang. ChanYeol seperti selalu memikirkan sesuatu yang lain saat bersamanya.

Akhirnya, ia memilih untuk menguntit. Toh, selama tidak ketahuan tidak akan apa-apa. Kalau pun nanti ChanYeol mendapati Ji Eun berada disana, dia bisa berpura-pura sedang main kesana juga.

***

Tepat sekali. Sekarang ia telah melihat ChanYeol sedang berjalan menuju taman dan berhenti di samping pohon besar.

ChanYeol menarik tangan seseorang yang berada di balik pohon itu. Dan Ji Eun menemukan seseorang itu adalah yeoja, temannya sendiri. Ji Yeon.

Dada Jieun sekarang terasa sesak, seperti ada yang menekan di bagian dadanya. Membuatnya susah bernafas dan sedikit membenangi matanya dengan air.

Tapi Ji Eun belum puas. Ia terus menguntiti mereka, ChanYeol-dan-Jiyeon, hingga sampai di pusat perbelanjaan  Seoul, di sebuah butik.

ChanYeol terlihat sedang memilih-milih dress yang ada disana, begitu juga dengan Jiyeon.

“menurutmu ini atau ini?” tanya ChanYeol kepada Jiyeon sambil memegangi dua dress di butik itu. Jiyeon menimbang-nimbang dan akhirnya memilih salah satu diantaranya. Mereka terus tersenyum dan tertawa di balik butik itu, seakan merasa tak berdosa atas apa yang mereka lakukan.

Ji Eun sudah tidak sanggup. Ia berniat untuk pergi, dan tidak ingin bertemu dengan mereka lagi.

Ia berjalan gontai menuju kafe terdekat, duduk dengan pandangan kosong. Ia masih mengingat-ingat kejadian yang sangat ingin ia lupakan itu. Ia ingin sekali meminta penjelasan dari ChanYeol atas semua ini. Tapi ia takut, ChanYeol malah memilih temannya dari padanya.

***

Beruntungnya Ji Eun kafe ini sedang sepi. Tidak banyak pengunjung, hanya 3 atau 4 pasangan. Jadi kalaupun nanti dia menangis, tidak akan ada yang menyadari. Setiap air mata yang hampir jatuh selalu langsung ia seka.

“maaf nona” seorang pelayan datang ke meja yang di duduki Ji Eun. Ia menyodorkan sapu tangan ke arah yeoja manis ini. Ji Eun terheran. Tapi ia segera mengambil sapu tangan itu, dan berkata, “gamsahamnida” dengan kepala sedikit menunduk.

“Kyung Soo imnida” serunya langsung tanpa mengucapkan cheonman, yang seharusnya diaucapkan setelah seseorang berterimakasih.

Ji Eun tidak membalasnya. 1 menit…2 menit Kyung Soo menunggu balasan dari yeoja yang membuatnya tertarik ini dengan sia-sia. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk duduk di salah satu bangku di meja itu, disamping Ji Eun.

“nona lagi ada masalah?” tanya pelayan yang tampan ini. “bukan urusanmu” jawab Ji Eun dingin karena merasa pelayan ini kelewatan dalam melayani pelanggan di kafe.

“maaf nona jika aku terlalu lancang” katanya sopan. “tapi aku hanya ingin kepedihan yang ada di hatimu itu menghilang. Apapun caranya. Mungkin dengan kau membaginya kepadaku, kepedihanmu sedikit berkurang” tambahnya. Kyung Soo memandang Ji Eun dalam.

Pelayan, eh, Namja ini sangat baik. Perilakunya kepada Ji Eun membuat Ji Eun terkagum. “kau tau, aku baru saja melihat namja-chingu-ku sedang bersama yeoja lain ke butik yang ada diseberang sana” Ji Eun tiba-tiba membuka mulutnya.

Biarpun kalimat itu menyedihkan, tapi entah kenapa Kyung Soo senang mendengarnya. Seperti ia akan mendapati kesempatan untuk memiliki yeoja manis ini.

“tenanglah, aku akan meminjamkan pundakku untukmu. Menangislah”

DEG! Kalimat itu sukses membuat Ji Eun terpesona. “tapi setelah itu nona harus meminjamkan senyuman nona untuk saya” tambahnya lagi, tak kurang dengan senyuman indahnya.

Sesaat Ji Eun melupakan kejadian tadi. Ji Eun menyunggingkan sedikit senyumnya. Dan, Itu membuat jantung Kyung Soo berdegup kencang. Semburat merah kali ini mewarnai wajah tampan Kyung Soo.

“ah, aku lupa, Anda mau pesan apa?” kata Kyung Soo setelah melihat yeoja-yang-membuat-ia-tertarik itu tersenyum.

“Cappucino saja” jawab Ji Eun lagi sambil tersenyum. Kyung Soo semakin semangat. Ia akan membuat Cappucino terbaik seumur hidupnya. Ia segera pergi untuk membuat Cappucino.

Ji Eun terus tersenyum hingga tak melihat punggung pelayan itu lagi. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.

Sialnya. Ia mendapati ChanYeol dan JiYeon sedang tertawa bersama dan masuk ke kafe tempat Ji Eun berada sekarang. Jantung Ji Eun terasa sesak lagi. Ia segera menutupi wajahnya dengan buku menu yang ada di atas meja.

***

“Kau yakin kan dia akan menyukai hadiahku ini?” kata suara berat seorang namja, yang dikenali Ji Eun sebagai suara namjachingunya. “tentu saja. Itu hadiah paling keren” suara manis itu menjawab perkataan ChanYeol.

“lihatlah, dia manis sekali kan?” seru namja itu lagi. Ji Eun mengintip sedikit dari buku menu yang menutupi wajahnya itu. ChanYeol sedang menunjukkan layar hapenya kepada Jiyeon “hhh…kau ini. Kau itu melihatnya setiap hari” jawab yeoja itu malas.

“ani. Itu berbeda. Aku lebih suka memandangi Ji Eun di hape-ku. Soalnya biarpun detak jantungku masih berdetak tidak normal tapi setidaknya lebih normal dibandingkan aku melihatnya langsung” Jelas ChanYeol dengan mata berbinar-binar.

Jadi selama ini objek yang dilihat ChanYeol dengan terus tersenyum itu adalah fotonya? Kenapa ia bisa meragukan cinta ChanYeol terhadapnya? Ia sudah salah sangka dengan ChanYeol selama ini. Ia terlalu memikirkan yang tidak-tidak tentang ChanYeol. Ia bodoh sekali tidak mempercayai ChanYeol seutuhnya. Ia merasa sangat bersalah.

“Nona. Ini pesananmu. Ini cappucino terbaik yang pernah ada” Kyung Soo datang sambil memberikan Cappucino dan senyum yang selalu merekah untuk Ji Eun.

“ah, ne” jawab Ji Eun sewajarnya, seperti baru bertemu Kyung Soo. Ji Eun juga langsung mengalihkan gerak matanya saat melihat bola mata Kyung Soo menangkap matanya. Kyung Soo heran dengan perilaku Ji Eun yang tiba-tiba berubah. Ia tercengang, ia menundukkan badan dan setelah itu pergi. ‘Apa yang terjadi pada yeoja itu?’ batinnya.

***

Ji Eun mengambil sehelai kertas dari notes nya. Dan menulis,

KYUNG SOO-ssi…

Gamsahamnida telah membuatku tersenyum kembali… J

Tapi tenang saja aku tidak akan mengganggumu lagi…

-Ji Eun, yeoja tadi-

Setelah selesai menulis. Ji Eun menyeruput cappuccino-nya sampai habis, dan segera beranjak dari tempat duduknya, dengan bersembunyi-bunyi agar ChanYeol tidak melihat keberadaannya.

Kyung Soo memandangi Ji Eun dari kaca di balik dapur. Ia ingin menahan yeoja itu, tapi tidak dilakukannya. Ditatapnya punggung yeoja-yang-membuatnya tertarik itu. Ji Eun berjalan sedikit demi sedikit semakin menjauh. Semakin banyak langkah yang ia ambil semakin banyak juga jarak di antara mereka. Hingga akhirnya sosok Ji Eun telah menghilang darinya. Kyung Soo sangat  tak ingin menghilangkan jarak di antara mereka. Ia ingin melihat Ji Eun lebih lama lagi. Kyung Soo akan selalu mengingatnya. Tapi ia tau semua yang dilakukan yeoja itu adalah yang terbaik untuknya, Kyung Soo yakin.

Ji Eun membayar makanannya ke kasir, dan meminta tolong kepada penjaga kasir itu untuk memberikan secarik kertas yang ia tulis tadi kepada Kyung Soo, si pelayan kafe yang tampan itu.

Dan akhirnya, Ji Eun pulang ke rumah dengan wajah berseri lagi.

END~

20 pemikiran pada “False

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s