Den (Chapter 2)

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [Author] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO]; Byun Baekhyun [EXO]

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO] ; find it.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chapter

Rating              : PG15

Fanfict             :

“Hentikan, Jongin-ssi. Dia yeodongsaengmu, tidak seharusnya kau memperlakukannya seperti ini.” Seorang namja berdiri tegap memadang Jongin penuh amarah.

“Kau?! Bagaimana kau bisa disini?” tanya Jongin marah.

“Pintu depan tidak dikunci, dan aku mendengar keributan, aku khawatir akan terjadi sesuatu kepada Hyosung, dan rupanya itu benar,” jawab namja itu datar.

“B-Baekhyun?” Hyosung menatap laki-laki itu tak percaya.

“Hyosung-ssi. Gwencahanayo?” tanya Baekhyun lembut.

“Nan gwenchanayo,” ucap Hyosung.

Jongin yang terlihat kesal meninggalkan mereka berdua dengan langkah cepat. Dia benar-benar kesal. Dia menampar Hyosung untuk berhenti bicara, karena perkataan Hyosung itu sangat menyakitkan. Menusuk jantungnya. Jujur saja, dia tidak seperti apa yang dipikiran Hyosung. Jongin bingung harus bersikap seperti apa agar Hyosung tidak menganggapnya seorang namja yang rusak, kejam, dan sebagainya.

                “Gomawoyo, Baekhyun Oppa,” ucap Hyosung tersipu malu.

“Gwenchana. Lagipula, sebagai seorang namja sudah seharusnya membantu dan melindugi yeoja.” Baekhyun menatap ke depan .

Hyosung yang tadinya menunduk, sekarang dia mengangkat kepalanya cepat. Hyosung menatap Baekhyun yang sedang menatap ke dapan sambil menerawang itu. Kata-kata Baekhyun sangat menusuk hati Hyosung. Belum pernah ada namja yang mengatakan seperti itu selain Appanya. Belum ada namja yang perhatian kepadanya seperti Appanya.

“Hyosung-ssi. Aku percaya, kau tidak sedingin penampilanmu,” ucap Baekhyun.

“Eh?”

“Nde. Kau terlihat sangat dingin, namun aku percaya bahwa kau memiliki hati yang lembut.” Baekhyun menatap Hyosung lembut.

Seketika, mata mereka berdua bertemu. Hyosung menatap Baekhyun sembari tersenyum. Namun, Baekhyun hanya diam saja, sekujur tubuhnya terasa kaku. Ada gertaran di hatinya yang membuatnya kaku, jantungnya bertedak cepat. Rasanya waktu terhenti, yang bergerak hanya mereka berdua, serasa di dunia ini hanya ada mereka berdua.

Baekhyun mengangkat tangannya perlahan, dia memegang pipi kiri Hyosung. Hyosung merintih sakit, bekas tamparan Jongin terasa sangat perih mengingat 4 kali tamparan keras dilayangkan ke pipi kirinya itu. Bakhyun mengelus pipi Hyosung lembut, matanya menatap Hyosung lembut. Hyosung hanya diam saja mendapat perlakuan seperti itu, dia hanya seikit kaget Baekhyun mengelus pipinya.

“Hyosung-ssi. Nan … dangsineul johahaeyo,” ucap Baekhyun lembut.

“Nde?” Hyosung menatap Baekhyun bingung.

“Ne, aku menyukaimu, aku tertarik padamu.” Baekhyun menatap Hyosung penuh keyakinan.

                Tok ! Tok!

Sebuah pintu terbuka diikuti dengan raut muka kaget dari seorang namja yang membuka pintu tadi.

“Kai? Kenapa kemari?” tanya lelaki itu.

“Jongdae-ya, aku perlu bicara padamu, sepertinya aku perlu bantuanmu,” ucap Kai, yang tidak lain adalah Jongin.

Kai adalah nama akrab yang gunakan teman-temannya untuk memanggilnya. Namja yang dipanggil Jongdae tadi hanya menganguk keheranan. Dia tahu, tidak biasanya Jongin seperti ini. Pasti ada suatu hal yang membuatnya seperti ini.

                Sudah jam 11 malam, seperti biasa Jongin belum pulang. Hyosung menunggu di ruang tengah, agar ia tak perlu terganggu karena bantingan pintu dan teriakan Jongin untuk malam ini.

Tok Tok!

Hyosung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini?

Cklek!!

“Annyeong, aku pulang,” ucap seseorang yang tadinya dikira Hyosung adalah tamu itu.

“Sudah makan malam? Apakah kau memasak?” namja itu kini masuk ke rumah dan berjalan melewati Hyosung yang terpaku di daun pintu rumahnya.

Hyosung terkejut. Sangat terkejut. Kim Jongin –Oppanya? Pulang dalam keadaan tidak mabuk? Tidak marah-marah? Tidak membanting pintu? Sungguh aneh. Hyosung berjalan ke luar rumah, dilihatnya mobil Jongin yang sudah terparkir di halaman rumahnya, tidak di tempat sembarangan lagi. Ada apa dengan Oppanya?

Apa benar itu Kim Jongin. Namja kasar itu? Benar ‘kan? Tapi kenapa tadi dia msuk rumah memberi salam, kenapa pulang seperti orang normal biasanya, kenapa tidak pulang dengan keadaan yang buruk. Apa benar itu Jongin?

“Sungie. Kau belum makan ya? Tidak ada makanan sama sekali,” ucap Jongin menghampiri Hyosung yang terdiam di depan rumah.

Hyosung membalikkan badannya menatap Jongin heran. Dia merasa ada sesuatu yang aneh terhadap Oppanya itu. Ada apa dengan Oppanya? Kenapa Oppanya bersikap tidak wajar? Ini aneh.

“Kau kenapa, Sungie?” tanya Jongin heran.

Hah? Sekarang apa lagi? Memanggil Hyosung dengan kata ‘Sungie’. Panggilan sayang dari Appanya. Hyosung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendesah nafasnya. Hyosung yakin ada yang tidak beres dengan Oppanya. Kemudian dia melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam rumah, dia berjalan melewati Jongin begitu saja.

“Sungie. Aku lapar, dan aku yakin kau juga belum makan. Ayo makan di luar.”Jongin menahan tangan Hyosung sehingga langkahnya terhenti.

Ingin sebenarnya Hyosung menolak, tapi mengingat dia belum makan sejak tadi siang, dia tidak bisa menolak. Meskipun di hatinya masih heran mengapa Jongin bersikap seperti itu.

                “Sungie. Sudah kenyang belum?” tanya Jongin sembari tersenyum melihat Hyosung yang meneguk lemon tea.

“Ne. Jongin-ssi. Gomawo,” ucap Hyosung datar.

“Sungie. Ada noda di pipimu,” ucap Jongin sambil menunjuk ke arah pipi Hyosung.

“Nde? Apakah sudah hilang?” Hyosung berusaha mengelap noda di pipinya.

“Belum.” Kai mengambil selembar tisu yang berada di dekatnya, “ sini.”

                ~Hyosung’s Point Of View~

“Sini.” Jongin mengusap pipi kiriku.

“Aww,” rintihku.

Pipi kiriku perih, ini bekas tamparannya tadi. Jongin menatapku heran, tatapan matanya menyiratkan pertanyaan ‘kenapa’. Aku hanya menatapnya sinis, seolah-olah tidak mau membahas kejadian tadi siang.

“Mianhaeyo, Sunggie,” lirihnya sambil menunduk.

“Mwo?” sahutku sedikit ketus.

“Ne. Mianhae, pasti pipimu sakit ya?” tanyanya masih menunduk.

Aku hanya diam. Entah aku berpikir untuk menjawab ‘Iya, gomawo atas tamnaprannya’ atau mungkin kalimat lain yang menyindirnya. Namun hatiku bilang aku tidak boleh mengatakan hal itu. Sikap Jongin hari ini begitu membingungkanku. Tadi pagi dia marah dan menamparku 4 kali, malam ini berubah 180o. Dia tidak pulang mabuk, dia memakirkan mobilnya sendiri, tidak mendobrak pintu, tidak langsung tergeletak di ruang tengah seperti biasanya, dan kali ini dia mengajakku makan di luar. Terakhir kali kami seperti ini adalah waktu aku masih berusia 9 tahun. Setelahnya, tidak pernah hingga sekarang.

“Sungie. Kau marah? Mianhae, aku emosi waktu itu, aku tidak berpikir bahwa kau akan terluka seperti itu. Mianhae,” ucapnya masih menunduk.

Demi apa dia meminta maaf seperti itu? Kim Jongin yang selama ini aku kenal adalah seseorang yang tidak mau meminta maaf ketika dia berbuat salah. Dia justru akan menyalahkan orang lain, dia tidak mau tahu, dia egois. Lalu sekarang? Dia memita maaf? Tidak ada nada keterpaksaan disana, yang ada adalah ketulusan. Sebenarnya. Apa yang terjadi padanya?

“Sungie. Mulai sekarang aku akan menjagamu, aku akan selalu melindungimu, aku akan selalu berada di sisihmu. Seperti yang Appa lakukan padamu,” ucapnya tegas lalu menatap ke arahku tajam.

Aku hanya bisa diam dan terhenyak atas kata-katanya. Tuhan, ada apa dengan Jongin sebenarnya?

                “Sungie,” panggil Jongin padaku.

“Jangan panggil aku seperti itu. Panggil saja namaku seperti biasa,” ucapku sinis.

“Tidak bisa, aku akan tetap memanggilmu seperti itu,” kukuhnya.

Aku hanya memutar bola mataku, menyatakan –terserahlah-. Aku membalikkan badanku untuk masuk ke kamarku. Kamarku bersebrangan dengan kamar Jongin. Dulu, jarak kamar yang lumayan dekat itu dimanfaatkannya untuk memanggiku atau bisa dibilang meneriakiku kemudian menyuruhku melakukan apa yang ia perintahkan. Aku seperti pembantunya –dulu.

“Sungie. Aku pergi dulu ya,” ucapnya yang sukses menghentikan langkahku.

Aku terdiam sejenak. Pergi? Pergi kemana dia? Pikiran negatif berkelibat di otakku.

“Ya sudah pergi saja. Sekalian pulang malam juga seperti biasanya, sekalian mengangguku setiap malam dengan bantingan pintu dan mobil yang terparkir sembarangan!” bentakku sambil memasuki kamarku.

“Sungie. Aku tidak mel-” ucapnya terpotong.

Blamm!!

                Aku membanting pintu kamarku tepat di hadapannya. Entah apa yang terjadi nanti. Dia marah lagi? Aku tak peduli. Sudah makananku sehari-hari mendapat kemarahannya. Dan juga, kenapa aku tadi sewot seperti itu? Aneh sekali.

“Kalau kau mau pergi, pergilah! Aku juga tidak peduli!” teriakku dari dalam kamar.

Aku benar-benar bingung sendiri akan kondisi sekarang. Semalam dia begitu berbeda, dan pagi ini dia kembali ke sifat aslinya? Haha! Lucu sekali.

                Tok Tok!

Pintu depan terketuk. Aku berjalan lemas untuk membukakan pintu. Ini masih jam 10 pagi, kenapa sudah ada tamu? Cklek!

“Annyeong. Hyosung-ssi,” seorang namja tengah berdiri tegap.

“Ne. Nuguya?” tanyaku yang merasa tidak pernah bertemu dengan namja ini namun dia mengenalku?

“Ah, ne. Kim Jongdae imnida, kau bisa memanggiku Jongdae,” ucapnya dengan senyuman dari bibirnya yang tipis itu.

“Ne, Jongdae-ssi. Mencari siapa ya?” tanyaku.

“Apakah Oppamu ada? Kim Jongin?” tanyanya.

Medengar nama Jongin, entah kenapa hatiku panas lagi, aku sungguh membenci nama itu, orangnya juga tentu saja. Jongin, membuatku bingung, heran, dll. Dia sungguh aneh. Dan kali ini apa? Seseorang mencarinya? Siapa? Aku tidak pernah bertemu.

“Dia tidak ada di rumah. Memangnya ada apa?” tanyaku sinis.

“Tidak ada di rumah? Mwo?!” ucapnya terkejut.

Aku mengerutkan dahiku. Ada apa? Bukankah itu hal yang biasa kalau seorang Kim Jongin tidak berada di rumah?

“Aneh, sudah 2 hari ini dia tidak ke klub, katanya ada urusan di rumahnya, makanya aku kesini untuk menemuinya,” ujarnya.

“Mwo? Tidak pergi ke klub? Urusan rumah?” Aku sedikit berteriak.

“Ne. Kau dongsaengnya bukan? Kau tahu dimana dia?” tanyanya.

“Aku tidak tahu dia dimana,” ujarku kembali sinis.

“Kalau begitu, aku boleh titip pesan?”

“Tidak bisa. Aku tidak mau, sampaikan langsung saja padanya,” bentakku.

Aku tahu aku tidak bersikap sopan seperti ini. Entah, sesuatu yang berhubungan dengan Jongin membatku seperti ini –mudah tersulut emosi. Aku banyak berteriak, hatiku selalu panas, aku sering marah-marah dengan alasan yang kadang tidak jelas.

“Ah, aku tahu kau akan menolak. Baiklah, aku permisi dulu. Annyeong.” Jongdae berbalik dan berjalan menjauh diikuti dengan pandanganku kepadanya –heran.

                “Sungie. Aku pulang,” ucapnya yang terdengar jelas olehku.

“Sungie, kau sudah makan?” Dia menghampiriku yang tengah duduk di ruang tengah sambil menonton tv.

Aku hanya diam. Kali ini apa? Kalau aku belum makan, dia akan mengajakku untuk makan seperti kemarin malam? Aku melirik Jongin sekilas, tampak dirinya yang tengah tersenyum ke arahku. Ah, kapan terakhir kali aku melihat dia tersenyum? Kemarin malam saat makan malam? Ah, kemarin malam adalah pertama kalinya aku melihatnya tersenyum sejak kondisi keluarga kami yang memburuk.

“Aku bawa makanan, kau makan ya?” tawarnya sambil menunjukan kantung plastik yang dibawanya.

“Ne,” ucapku singkat.

Aku bangkit dari dudukku sembari menerima kantung plastik yang dibawanya dan menuju ke arah meja makan, Jongin mengikutiku. Aku duduk di meja makan dan mulai membuka makanan yang ia bawa untukku. Bindaeddeok? Dia membawakanku Bindaeddeok? Ini hanya kebetulan atau memang dia sengaja membawakan makanan favoritku? Aku menatap Jongin yang kini duduk di sebelahku di meja makan. Dia masih tersenyum. Apa maksudnya tersenyum-senyum seperti itu?

“Ayo makan,” ucapnya mambuyarkan keheningan.

Aku hanya menganguk pelan.

“Sini, aku suapi,” ujarnya sambil mengambil Bindaeddeok dengan garpu.

“Jongin-ssi,” panggilku.

“Ne?” sahutnya.

“Berhenti bersikap seperti itu, aku merasa risih,” ucapku mengeluh.

“Kenapa harus risih? Bukankah aku Oppamu?” tanyanya heran.

“Tapi sikapmu membuatku risih. Kau tidak biasanya seperti ini, kau berubah, banyak hal aneh terjadi padamu akhir-akhir ini, aku bingung, aku heran,” keluhku sedikit kesal.

Aku memilih untuk terang-terangan daripada kebingungan dan keherananku aku simpan sendiri. Terlihat dirinya yang menatapku datar, dia menghembuskan nafasnya panjang.

“Aku hanya mencoba seperti Appa, menjagamu, memberimu perlindungan,” lirihnya, “dan memberimu kasih sayang.”

Aku tercekat. Kata-kata itu terulang lagi, dan dia menambahkan kata ‘kasih sayang’. Itu membuatku terhenyak sejenak.Apakah dia tidak apa-apa? Apa yang membuatnya seperti ini? Oh, Jongin. Kau sungguh membuatku bingung. Ingin sekali aku bertanya dia bersikap seperti itu, apa yang membuatnya berubah. Namun ada sesuatu yang hinggap di hatiku dan menyuruhku untuk tidak menanyakan hal itu.

“Jongin-ssi, tadi seseorang mencarimu,” ujarku.

“Nugu?”

“Namanya Kim Jongdae. Dia bilang, kau tidak ke klub malam 2 hari ini,” ucapku sambil menatapnya penuh tanya.

“Jongdae? Dia kesini?” Jongin terlihat kaget.

“Baiklah, terimakasih infonya,” ucapnya sembari berusaha menyuapiku namun aku terus menggeleng.

“Ayo makan, sudah lama aku tidak menyuapimu,” ucapnya memohon.

Sudah lama? Memangnya kapan dia menyuapiku? Ah, iya waktu kecil. Tunggu, dia masih ingat?

“Ayo buka mulutmu,” pintanya.

Akhirnya aku membuka mulutku dan menerima suapannya. Dia tersenyum melihatku yang mau disuapi, aku sedari tadi menatap matanya tanpa henti. Dia menatapku lekat, dan akku juga melakukan hal yang sama.

Deg!!

Omo! Tiba-tiba saja tubuhku terasa kaku. Aku menatapnya dalam tanpa berkedip. Jantungku berdebar cepat, tenggorokanku tercekat, rasanya oksigen tidak bisa masuk ke paru-paruku. Entah, bukannya mengalihkan pandanganku, mataku makin lekat menatapnya. Kulihat dia tersenyum kecil sambil terus membalas tatapanku. Aku tidak mau melepas tatapan ini! Tatapannya begitu teduh, matanya yang biasanya menatapku kosong atau marah, kini berubah menjadi lembut, matanya berbinar tulus. Dia benar-benar Kim Jongin yang berbeda.

Tanganya tiba-tiba terangkat dan mengelus rambutku lembut. Dia memperkecil jarak antara kami. Jantungku semakin berdetak tak karuan, ritme jantung yang tidak seirama lagi, membuat nafasku memburu. Jongin menurunkan tangannya ke leherku. Aku yakin tubuhku menjadi dingin seketika, rasa gugup, rasa takut, entah rasa apa itu, bercampur menjadi satu.

Jongin mendekatkan kepalanya ke arahku, aku tidak melepaskan tatapan matanya yang makin mendekat itu. Ada hasrat yang ada di hatiku yang menyuruhku untuk memejamkan mata, aku menutup mataku perlahan. Kurasakan hembusan nafasnya di sekitarku, nafasku yang bertabrakan dengan nafasnya membut jantungku semakin berdebar cepat.

Tidak sampai 5 detik, aku merasakan bibirku basah. Kurasakan sesuatu lembab menempel di bibirku, terasa hangat dan nikmat. Awalnya tidak ada gerakan antara aku dengannya. Tiba-tiba, dia melumat bibirku pelan, sesekali terdengar suara decakan akibat pergeranku dengannya. Aku meraih tengkuknya dan dia juga melakukan hal yang sama, dia menekan tengkukku untuk memperdalam ciuman kami. Jarakku dan Jongin semakin dekat, ani, sangat dekat!!!!

Aku membuka mataku perlahan. Kulihat Jongin yang tengah memejamkan mata. Tunggu!! Jongin!! Dia Oppaku!! Sontak aku melepaskan ciumannya dan menatap ke arahnya kaget, bingung, marah, kesal, dan perasaan lainnya yang tidak bisa aku tebak.

“Jongin-ssi,” lirihku dengan nafas yang menderu.

Jongin menatapku dan sesekali berkedip pelan, dia menatapku bingung. Aku hanya menatapnya dan memegang bibirku yang tadi dilumat oleh Jongin, Oppaku sendiri. Tubuhku bergetar, ciuman pertama yang aku bayangkan akan aku lakukan bersama orang yang aku cintai di suatu tempat yang indah kini hancur seketika karena mengetahui ciuman pertamaku diambil oleh namja yang jelas-jelas adalah Oppaku sendiri.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan suara yang bergetar.

Jongin hanya terdiam, matanya terlihat sayu dan melihatku dengan tatapan bersalah. Seketika tangisanku pecah, aku berlari menaiki tangga menuju kamarku, bisa kudengar langkah kaki Jongin mengikutiku. Kututup pintuku keras sehingga menimbulkan suara yang keras, aku menguncinya.

“Sungie, Sungie.” Jongin mengetuk pintu kamarku sambil memanggil namaku.

Aku mengerutuki diriku sendiri, mengapa aku tidak menolak ciumannya, mengapa aku tidak berusaha untuk menghentikan usahanya untuk menciumku, mengapa aku mau saja melakukan itu. Aku sangat bodoh. Aku seolah tersihir oleh tatapan matanya yang meneduhkan itu.

“Sunggie-ya. Mianhaeyo,” suara Jongin masih terdengar olehku.

Aku hanya diam saja, aku terduduk lemah di lantai dan bersandar di pintu kamarku yang aku yakini jarak antara Jongin dan aku terpisah hanya oleh pintu ini. Aku menangis dalam diam, merutuki semuanya.

                Sudah 2 hari aku mengurung diri di kamar, tidak berniat untuk keluar sama sekali. Aku juga tidak merasa lapar ataupun haus. Yang aku lakukan hanya melamun sepanjang hari, mengingat-ingat kenangan-kenanganku bersama Appa. Appa yang selalu ada bersamaku, yang sudah pasti selalu ada di sampingku, selalu siap kapanpun aku butuhkan, Appa yang tidak pernah marah ataupun sedih yang terlalu berlebihan di depanku, Appa yang selalu kuat menjalani apapun meskipun sakit ia pendam sendiri. Dan kini, apakah Jongin bisa akan mewujudkan niatnya untuk menjadi seperti Appa, menjaga, melindungi, mengasihiku.

“Hyosung-ah,” panggil seseorang dari luar.

“Ini aku. Baekhyun, kudengar kau tidak keluar kama selama 2 hari ini,” ucapnya.

Aku yang mendengar nama ‘Baekhyun’ segera turun dari tempat tidurku dan mendekat ke arah pintu kamarku. Baekhyun? Dia kesini? Setelah kejadian itu? Ya, dimana dia bilang bahawa dia menyukaiku, dan aku pergi begitu saja dari hadapannya, yang secara tidak langsung menolaknya. Jujur saja, siapa yang tidak kaget begitu mendengar orang yang kau baru kenal langsung menyatakan bahwa dia menyukaimu, yang secara tidak langsung meminta jawabanmu atas perasaannya?

“Mianhae. Waktu itu aku menyatakan sesuatu yang tidak tepat, terlalu cepat, dan mungkin aku sekarang datang untuk minta maaf, kau pasti terkejut kan waktu itu?” ujarnya.

“Tapi, aku memang sudah tertarik padamu waktu pertama bertemu. Hyosung-ah, jangan seperti ini ya? Meskipun aku tidak tahu kenapa kau seperti ini, tapi ini tidak baik. Appamu akan kecewa padamu, kau menyia-nyiakan hidupmu untuk seperti ini,” ujar Baekhyun.

Aku menghela nafas. Aku membenarkan perkataan Baekhyun, pasti Appa kecewa kalau aku seperti ini. Aku tidak boleh seperti ini! Ini hanya masalah kecil, ya ini masalah kecil!

                Hari sudah mulai sore, namun aku masih belum memberanikan diri untuk keluar kamar sejak tadai pagi setelah Baekhyun sedikit menyadarkanku kalau yang aku lakukan ini salah. Tapi aku takut kalau nanti berhadapan dengan Jongin. Apa yang aku akan katakan nanti? Haruskah aku marah padanya? Tapi itu juga kesalahanku.

Akhirnya setelah dengan sedikit takut aku membuka pintu kamarku pelan, aku membukanya perlahan.

“Omo!” pekikku.

Aku terlonjak kaget, seseorang sudah berada tepat di depanku, tatapannya begitu tajam namun terlihat lelah. Kenapa namja ini disini?

TBC

Jangan lupa commentnya ya Readers ^^~ Mianee kalau ada typo, bahasa kuranh dimengerti, cerita gak jelas,  dll T_T

Iklan

48 pemikiran pada “Den (Chapter 2)

  1. kok jongin berubah 180° sih
    ck, aneh tu jongin
    ha? jongin sm hyosung kissed???
    jangan2 jongin suka lagi yama yeodongsaengnya sendiri. gawat!!!
    next thor and keep writing^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s