MAMA (Chapter 1)

Genre : Romance

Author : @Rimahyunki

Length : Chaptered, episode

Rating : G

Main Cast :

Kim Jongin (Kai)

Xi Luhan
Yixing (Lay)
Wu Yifan (Kris)
Ahn Richan
Choi Geulrin
Another main and supporting cast will appear soon ~

 

MAMA 1ST EPISODE

Enjoy reading~~

●●●●●●

 

Diliriknya jam tangan yang ia kenakan kemudian kembali mendesah. Kenapa bisa kesiangan? Geulrin juga. Kenapa tak membangunkanku?

Setelah mengencangkan tali sepatunya, yeoja itupun segera bergegas pergi tanpa lupa mengunci pintu.

Namun iamenghentikan langkahnya begitu sampai di tangga yang dipenuhi oleh beberapa orang yang terlihat sedang sibuk.

“Ah ne member exo-m itu akan terbang ke China untuk debut, bukan?” gumamnya sembari menganggukkan kepala. Matanya yang semula fokus, kini bergerak berkeliling mencari seseorang. Luhan. Tapi sayangnya, yeoja berambut panjang  itu hanya dapat melihat punggung Luhan yang sudah berada jauh di bawah.

“Biar ini aku saja yang bawa hyung, kalian duluan saja” ujar Kris, (sok) menawarkan diri untuk membawakan tas yang dipikul dan dijinjing manajer mereka.

“Ah baiklah”

Pria bertubuh besar itupun menuruni anak tangga, meninggalkan Kris yang masih sibuk mengunci dorm. Setelah memasukkan kunci bewarna perak itu ke dalam tas, pria bertubuh tinggi itupun mulai mengangkat satu persatu tas yang walaupun berukuran tidak terlalu besar ternyata cukup berat. Dengan segala kesusahannya, namja tampan itu akhirnya berhasil membawa semua tas dan mulai menuruni anak tangga.

Richan yang melihat sikap Kris hanya membatin heran, “Ia memang tampan, tapi bodoh sekali ckck”

Richan tidak meu tau tentang apa yang dilakukan namja yang sekarang berjalan di depannya, ia mulai menuruni anak tangga, namun karena Kris yang berjalan lambat di depannya, ia hanya bisa melangkah satu demi satu secara perlahan. Richan hendak mendahuluinya lewat samping kanan, namun namja itu dan tas-tas jumbonya ikut miring ke kanan, begitupun saat  ia hendak menyalip dari kiri.

“Kau mau aku bantu tidak?” tukas Richan ikut frustasi.

Kris yang mendengarnya langsung berhenti, ia tetap memasang muka cool-nya lalu berkata, “Tidak usah, aku tidak ingin menyusahkan”

Richan menaikkan pundaknya mendengar jawaban Kris.

“Ah..” balas yeoja itu kemudian mencari celah untuk turun.

Kris yang melihat Richan malah berjalan mendahuluinya menjadi panik. Ketika yeoja itu baru menuruni satu anak tangga, Kris langsung meralat ucapannya, “Baiklaah, tolong bawakan yang ini saja”

Richan membalikkan tubuhnya, iapun menerima satu tas berukuran cukup besar yang disodorkan Kris.

“Aigooh” keluh namja bernama asli Wufan itu saat meletakkan semua tas yang dibawanya begitu selesai melewati tangga.

“Gomawo, aku pasti akan membalas jasamu nanti”

Richan hanya mengukir sebuah senyuman kecil. Ia membalikkan badannya kemudian berjalan meninggalkan namja tampan itu. Namun baru beberapa langkah, yeoja itu kembali berbalik dan berjalan ke arah Kris seakan teringat sesuatu.

“Tolong berikan pada Luhan oppa”

Kris hanya menaikkan sebelah alisnya melihat sebuah bungkusan seperti permen.

“Untuk menghindari mabuk udara” tukas Richan sebelum sempat ditanya.

“Ah, obatnya bisa dikunyah karena rasanya manis” tambah yeoja berambut panjang itu kemudian pergi.

Kris melihat bingung ke arah Richan yang berjalan kian menjauh.

Ia membalik-balik obat di tangannya, memperhatikan benda  yang dibungkus plastik itu. Entah apa yang mendorongnya, kedua tangannya menyobek bungkus obat mirip permen itu kemudian memasukkanya ke dalam mulut.

Namja itupun kembali berjalan menuju mobil hitam yang sudah menunggunya.

Bukk.

Kris menutup pintu mobil dimana semua member exo-m berada. Leader sekaligus main rapper itu tiba-tiba melihat ke arah Luhan yang sedang sibuk dengan rubiknya.

“Wae Wufan.ah?” tanya Luhan mendapati Kris yang sedang melihatnya.

“Ani.. Aniyo” jawab Kris masih mengunyah permen dalam mulutnya.

“Kau sedang makan apa?”

“Hanya permen..”

. . .

SME Building, 10.00 KST

“Annyeonghasseo”

Geulrin membungkukkan badannya sopan begitu melihat yeoja cantik yang merupakan salah satu sunbae-nya.Jung Jessica.

“Annyeong” balas Jessica ramah sembari menepuk pundak yeoja manis itu kemudian berlalu.Geulrin kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang dance-practice yang tak jauh dari tempatnya sekarang.

Klek. Pintu yang telah dibukanya ia tutup kembali setelah melihat ruangan yang ingin dimasukinnya ternyata telah penuh dengan orang.

Ah! Mungkin di ruang bawah tanah masih sepi, pikirnya kemudian mengalihkan kakinya menuju ruang latihan bawah tanah.

Begitu tiba di depan pintu ruangan yang jauh lebih kecil dari ruang sebelumnya, yeoja berambut seleher itu tidak langsung membukanya. Suara berisik yang timbul dari dalam membuatnya menempelkan pintu.

Walaupun tidak terlalu jelas terdengar, Geulrin dapat menangkap beberapa suara yang membuatnya mengernyitkan dahi.

“Aigoo jagiyaa kenapa kau tidak percaya padaku? Halo..halo!”

Pintu yang semula tertutup tiba-tiba terbuka tepat disaat Geulrin akan menarik gagangnya.

Brakk.Bukk.

“Aigooo!” Keningnya berdenyut keras begitu daun pintu di depannya mendarat tepat disana.

“Omonaa! Gwenchanayo? Aigoo Mianhae aku tidak tau kau di depan pintu. Apa kepalamu baik-baik saja?” Sehun, sang pelaku (?) terus menanyai yeoja manis itu cemas. Takut-takut jika ada luka parah di kening yeoja itu.

. . .

Geulrin menepis tangan Sehun yang masih berusaha mengoleskan handuk basah ke kening Geulrin yang mulai membiru.

“Sudah sudah tidak usah” tukasnya membuat Sehun menarik tangannya.

“Jeongmal mianhamnida Choi Geulrin.shi”

Geulrin melihat datar ke arah Sehun yang menunjukkan muka bersalahnya.

“Aigoo, aku sudah mendengarnya sepuluh kali, jangan katakan itu lagi” ujar Geulrin memasang tampang seperti orang bosan.

“I’m really sorry Miss” ucap Sehun dengan wajah polosnya membuat Geulrin tersenyum kecil melihatnya.

Matanya melirik ke arah tas besar yang dibawa Sehun dimana sebuah boneka Teddy Bear cukup besar muncul dan menarik perhatiannya. Ia berjalan kemudian mengambil boneka bewarna cokelat itu.

“Untuk pacarmu yang namanya Ara..Ara itu?” tanya Geulrin yang dijawab anggukan oleh Sehun.

“Kalian sedang bertengkar?” tanyanya lagi mengingat apa yang di dengarnya beberapa menit lalu.

Sehun bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Geulrin.

“Ne.. Entahlah, aku merasa ia sedikit berubah akhir-akhir ini”

Geulrin bisa menangkap perasaan sedih di kedua mata bening Sehun. Ia menepuk-nepuk pundak namja itu memberikan semangat, “Kau sangat menyayanginya ya?”

Sebenarnya yeoja itu bukanlah orang yang  mau peduli apalagi ikut campur terhadap urusan orang lain. Tapi entahlah, ia tidak bisa untuk tidak peduli pada maknae berwajah imut itu.

“Kau mau tidak membantuku?” pinta Sehun tiba-tiba.

Geulrin mengalihkan kepalanya ke arah lain,  nah ini yang aku tidak suka.

“Ayolaah” Sehun meletakkan kedua tangannya di pipi, menunjukkan aegyo di depan Geulrin.

“Aigoo baiklah baiklah, jangan tunjukkan muka seperti itu”

DRRT.. DRRT..

Nada dering dan getaran dari handphone Geulrin membuat mereka berdua menghentikan percakapan mereka.

Yixing ? Bukankah ia berangkat ke China pagi ini ?

“Yoboss…”

“Geulrin.aah!!” Geulrin langsung menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar suara teriakan Lay.

“Hyah!! Yixiing! Berhenti berteriak!” seru Geulrin dengan suara tak kalah tinggi (?)

Sehun yang berada di dekatnya hanya bisa menahan tawa sambil asyik memperhatikan.

“Aish jinjjaa” desis Geulrin lalu mematikan sambungan teleponnya.

Ia langsung mengambil tasnya di atas lantai, lalu pergi begitu saja meninggalkan Sehun yang masih terbengong.

Ketika akan membuka pintu, yeoja itu baru mengingat keberadaan namja yang sedang merdiri menyangga kepalanya.

Ia pun berbalik lalu berkata, “Ah Sehun.shi aku ada urusan sekarang, nanti saja kita bahas lagi”

. . .

Selalu saja menyusahkan orang. Dasar kakek-kakek! Ah aniyo. Kakekku saja tidak seceroboh dan sepikun Yixing.

Geulrin terus mengeluh dalam hatinya, gara-gara namja itu ia jadi harus kembali ke tempat tinggalnya untuk mengambilkan pc tablet, dompet serta gadget yang ketinggalan.

“Itu Richan bukan?” gumam Geulrin memicingkan kedua matanya melihat seorang yeoja dan seorang namja yang mirip dengan Kai.

Hey mau apa mereka itu?

Yeoja berjaket putih itu langsung berjalan cepat ke arah Richan dan Kai.

“Richan.ah ikut aku!” seru Geulrin langsung menarik tangan Richan, bermaksud menjauhkannya dari Kai yang wajahnya tadi berada dekat di telinga Richan.

“Ke..ma..ma..na?” tanya Richan masih tidak bisa berjalan dengan normal.

“Bandara” jawab Geulrin datar, tak menghiraukan reaksi Kai saat ia membawa sahabatnya itu pergi.

. . .

Incheon Airport, 10.30

Lay berputar-putar tidak tenang di tempatnya berdiri. Sambil terus melirik handphone-nya yang tak kunjung berdering, namja bernama asli Yixing itu hanya dapat berjalan mondar-mandir.

Luhan yang semula duduk tenang di kursi ikut terganggu melihat tingkah Lay.

“Yixing.ah bisakah kau itu menunggu Geulrin dengan duduk tenang di sebelahku?”

Lay hanya melirik sebentar ke arah Luhan kemudian kembali berjalan mondar-mandir.

Luhan mendesis, ia bangkit dari duduknya kemudian ikut berjalan bersama Lay.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Lay bingung melihat Luhan yang berjalan mengikutinya.

“Aku? Tidak melakukan apa-apa” jawab Luhan mengukir sebuah senyuman angelic yang bisa membuat semua yeoja meleleh melihatnya.

Lay menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Luhan yang berjalan di belakang hampir menubruknya. Namja itu membalikkan badan kemudian melihat Luhan.

“Aku pasti akan merindukannya” ucap Lay membuat Luhan mengernyitkan dahi. “Maksudmu Geulrin?”

Lay menggelengkan kepalanya, bukan karena jawaban dari pertanyaan Luhan adalah tidak. Entahlah, namja itupun tak tau dengan apa yang dibicarakannya.

Luhan menepuk pundak temannya yang selalu terlihat bingung itu.

“Kau ini benar-benar lucu sekali kawan” kata Luhan membuat Lay semakin tak mengerti.

Lay melirik jam tangan yang dikenakannya, tinggal dua jam lagi dari jadwal penerbangan. Namun tak satupun terlihat tanda-tanda Geulrin akan muncul.

“Kenapa kau tidak bilang saja pada manajer hyung jika ada barang yang tertinggal?” tanya Luhan yang kini duduk di sebelah Lay menyodorkan sekaleng kopi hangat.

Lay menerima kaleng minuman dari Luhan dan meneguknya. Ia tertawa kecil lalu berkata, “Hyaa Luhan.ah kau tau kan jika manajer hyung pasti akan menjitak kepalaku dan berkata…”

“KAKEKKU YANG BERUMUR 80 TAHUN SAJA TIDAK LEBIH PIKUN DARI KAU!” sorak Luhan dan Lay, tawa kemudian pecah dari mulut kedua namja rupawan itu.

Beberapa orang yang berlalu lalang di ruang tunggu itu cukup mengalihkan perhatian Lay yang terus menatap layar ponselnya. Ia memerhatikan orang-orang itu berharap yeoja yang ditunggunya adalah salah satu diantara mereka.

“Yixing.ah sepertinya aku perlu ke toilet” ujar Luhan berpamitan meninggalkan Lay sendirian karena Xiumin,Chen, Kris dan juga Tao yang belum juga kembali dari restoran.

“Hey Mister pikun”

Suara itu ? Lay langsung beranjak dari kursi. Wajahnya yang semula merengut langsung berubah sumringah ketika orang yang ia tunggu kini berada di depannya.

“Hyaa Geulrin.ah! Kemana saja kau? Aku sudah menunggumu daritadi!”

Ucapan Yixing ketika menyambut kedatangan Geulrin langsung dibalas oleh pukulan di lengan berototnya.

“Jangan memukulku dengan itu! Semua barang berhargaku ada disana” sergah Lay langsung mengambil tas berisi gadget yang digunakan Geulrin untuk memukulnya.

Geulrin mengadahkan tangannya, meminta sebungkus snack yang telah dijanjikan.

“Kau ini benar-benar perhitungan sekali” ujar Yixing menggelengkan kepala. Dari dalam tas kopernya, ia mengambil sebuah bungkusan snack bewarna hijau.

“Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kau yang sudah menyusahkanku” balas yeoja bersuara cempreng itu lalu mengambil salah satu persediaan snack member EXO-M itu.

Lay hanya bisa menggaruk rambutnya, Geulrin memang benar. Gara-gara sifat pelupanya, ia harus menyuruh yeoja yang kebetulan tinggal di sebelah dormnya untuk mengantar tas miliknya sebelum ia dan member EXO-M lain terbang ke China.

“Yixing.ah” panggil Geulrin membuat Lay langsung menghentikan aktivitasnya memasukkan semua gadget ke dalam tas punggungnya.

Begitu namja itu akan menoleh dan bertanya,  Geulrin sudah berjinjit di depannya sambil mengalungkan sebuah neckpillow bewarna abu-abu gelap.

“Kado ulang tahun yang belum sempat kuberikan” ujar Geulrin tanpa sempat ditanya.

Yixing mengukir sebuah senyuman, ia memegangi bantal itu senang layaknya seorang anak kecil yang baru mendapat mainan bagus.

“Gomawo”

Keduanya saling berpandangan beberapa lama, membuat Richan yang berdiri tidak jauh dari mereka jadi merasa tak berguna berada disana.

“Ah ne, satu lagi” tukas Geulrin membuat Yixing menaikkan sebelah alisnya.

Dari balik kantung jaketnya, ia mengeluarkan sebuah gantungan kecil berbentuk boneka.

Lagi-lagi sebuah senyuman merekah dari bibir Yixing, ia ingat betul dengan gantungan kunci itu. Gantungan kunci kesayangan Geulrin yang tak boleh satu orangpun memakainya.

“Jika kau sampai menghilangkannya, maka lupakan kita bisa berteman lagi, arasseo?”

Lay menegakkan badannya kemudian memberikkan hormat pada Geulrin, “Siaap!”

Namja itu langsung memasukkan gantungan kunci dari  Geulrin ke dalam tas dan menutupnya rapat-rapat.

Senyuman puas terukir di wajah Yixing, semua kebingungannya tadi seakan hilang ketika melihat yeoja manis di depannya. Sadar atau tidak, ia pasti akan merindukan yeoja itu di China nanti.

“Annyeong~”

Geulrin melambaikan tangannya ke arah Lay kemudian menarik tangan yeoja yang hanya berdiri melihati mereka berdua.

“Kau mencari siapa hah?” tanya Geulrin pada Richan yang terlihat sedang mencari seseorang.

“Ah ani..” balasnya berkata bohong. Dimana Luhan oppa? batinnya mencari pria yang mungkin akan lama tidak dilihatnya lagi di Korea.

Bukk!

Richan mengusap kepalanya yang terbentur dengan badan seseorang.

“Aish” keluhnya kemudian mendongakkan kepala, melihat namja yang menjulang tinggi di depannya. Wu Yifan.

Kris dan Richan hanya saling melihati wajah masing-masing tanpa berkata apapun.

“Pria di depanku ini sudah lama tinggal di sebelahku, tapi kami bahkan tidak pernah mengobrol” batin yeoja itu seraya menggelengkan kepala. Dasar namja dingin! Kenapa harus bertemu dengannya? Kenapa bukan Luhan oppa saja?

“Dasar yeoja dingin” pikir Kris melihat yeoja yang jauh lebih pendek darinya itu.

Geulrin yang berjalan di depan langsung berteriak memanggil Richan ketika menyadari yeoja itu tidak ada di belakangnya.

“Richan.ah kajjaaa!” serunya membuat Richan langsung mengalihkan matanya dari Kris.

“Annyeong” ucap Richan sambil membungkukkan badannya kecil. Ia baru akan berjalan sebelum sesuatu mencegahnya.

Aish apalagi ini? keluhnya saat gelang yang dikenakannya menyangkut di pakaian Kris. Sebenarnya ia terkena kutukan apa hingga bisa bertemu dengan namja ini dua kali, dan kedua-duanya tidak ada yang menguntungkan baginya.

Mata mereka kembali bertemu beberapa lama hingga Richan berhasil melepaskan gelangnya dengan sesuah payah. Mereka baru saja akan berjalan ketika cincin exo yang dikenakan Kris balik tersangkut di kain rajutan pakaian Richan.

Aigo.

. . .

SME Building

Geulrin mengunyah snack di tangannya santai. Ia tidak memedulikan Richan yang sedang sibuk menghitung gelang yang sepertinya tidak lengkap.

“Memangnya kau tidak akan merindukan Yixing oppa?”

Pertanyaan Richan membuat Geulrin menghentikan aktivitas makannya. Dahinya berkerut seperti sedang berpikir. Richan benar juga, jika pria itu berada di China, tidak akan ada orang lagi yang selalu menjahilinya, menyembunyikan sepatunya saat latihan,  memakai kaos kakinya tanpa ia ketahui, lalu siapa yang akan mengajarinya main gitar?

“Hmm mungkin sedikit” balas Geulrin terkekeh kecil. Ia memakan snacknya lebih cepat dari sebelumnya, mencegah air mata yang sudah siap keluar.

Keduanya berjalan menuju gedung SME setelah sempat pergi ke bandara. Tidak ada kata istirahat untuk semua trainee di manajemen sebesar SooMan Entertainment itu, termasuk mereka berdua.

“Ah ngomong-ngomong kau ada hubungan apa dengan Wufan oppa?”

Richan langsung tersendak mendengar pertanyaan yeoja di sebelahnya. Ia   menggelengkan kepalanya sembari membuka pintu kaca gedung SM.

“Haha yang benar saja, kau tau kan siapa yang  kusukai”

Geulrin memutar bola matanya, “Ya ya ya, Lu…”

Ia tidak melanjutkan kata-katanya begitu melihat seorang pria yang berdiri dan bersandar di tembok.

“Geulrin.ah…”

“Ne ne, pergi saja kalian” potong yeoja berambut pendek itu sudah mengerti apa yang akan dikatakan Richan.

“Annyeong!” seru dua orang di depan Geulrin kompak. Keduanya berlalu meninggalkan Geulrin yang hanya bisa mengangkat pundak melihat punggung Richan dan namja di sebelahnya. Ahn Richan.. Sebenarnya kau itu kelewat cool, polos atau bodoh?

. . .

Dari balik kaca jendela, Kai terus memerhatikan ke arah luar, lebih tepatnya ke arah seseorang yang sedang tertunduk di kursi tunggu.

“Baguslah, tapi kau tetap tidak boleh terlalu memaksakan kakimu”

Ia langsung memalingkan wajah kemudian mengangguk-anggukan kepalanya sembari membungkuk kecil ke arah pria berpakaian putih yang menepuk pundaknya ramah. Namja itu membuka pintu ruang pemeriksaan, kemudian berjalan menuju ke arah seseorang yang sudah menungguku.

“Gomawo sudah menemaniku,” ucapnya pada yeoja yang masih sibuk dengan handphone di tangannya.

“Bagaimana cideramu?” tanya Richan kemudian beranjak dari kursi dan berjalan bersamaku.

Kai melihatnya sekilas kemudian terkekeh,”Aaa kau mengkhawatirkanku yaa? Mengaku saja kau pasti sangat mencemaskanku, memikirkan keadaaku tiap malam apakah aku baik-baik saja atau tidak”

Richan memukul lengan Kai gemas sambil berjalan cepat mendahului namja berwajah manis itu.

“Kim Jongin menyebaalkaaan,” teriaknya kemudian berjalan cepat di depan Kai.

Aku menyukainya. Setiap gerakan tangannya, langkah kakinya, caranya tersenyum, rambut panjangnya yang tergerai. Ia gadis yang sempurna, teman yang selalu memperhatikanku lebih dari kakakku sendiri, mengkhawatirkanku lebih dari diriku sendiri.

“Hyaaa kenapa kau meninggalkanku?!” serunya seraya membalikkan pundak Richan. Sekarang yeoha itu tepat berada di depannya, ia bisa melihat kedua mata bening yeoja di depannya yang sedang menatapnya. Inikah saatnya ? Saat yang tepat setelah lebih dari dua tahun lamanya?

“Wae? Knapa melihatku seperti itu? Jangan membuatku takut Jongin.ah”

Tangannya belum terlepas dari pundak Richan. Yeoja itu berada sangat dekat dengannya, wajahnya yang cantik itu terlihat begitu jelas. Yah sekarang saatnya, batin namja itu meyakinkan dirinya.

“Aku…”

Drrt..Drrt.. Richan langsung membalikkan badan dan mengangkat telepon yang sudah dapat ditebak oleh Kai siapa. Aish sial dia selalu muncul disaat seperti ini!

“Annyeong oppa, ah bagaimana kabarmu disana?”

TITT. Kai merebut handphone di tangan Richan kemudian mematikan sambungan teleponnya.

“JONGIN! KKAMJONG! Kembalikan !”

Ia terus saja melompat-lompat untuk meraih handphone yang diangkat tinggi-tinggi. Haha untunglah ia pendek, pikir Kai senang.

“Kan sudah kubilang jika kau tidak boleh tidak mendengarkan ucpanku!” balas Kai masih berputar-putar menghindari tangan Richan yang terus berusaha. Tidak butuh waktu beberapa lama, tiba-tiba namja bermarga Kim itu kehilangan keseimbangan di kakinya, tubuhnya melayang dan BUKK.

Mereka berdua terjatuh di lantai. Ah tidak lebih tepatnya Richan terjatuh di atas Kai. Mukanya langsung memerah, begitupun dengan kedua pipi Kai yang terasa memanas.

“Aku benci padamu Kim Jongin! Jangan bicara padaku!” Richan bangun dari posisinya setelah mengambil handphone dari tangan pria yang masih tertidur di atas lantai..

“Hey aku belum selesai bicara..!”

Aish.Sebuah kursi ditendangnya kesal. Sekali lagi dan untuk yang kesekian kalinya. Gagal.

. . . . . .

 

8 April 2012

Wanita paruh baya itu memeluk yeoja di depannya yang tak lain adalah anak kesayangannya sendiri. Ia menciumi puncak kepala anaknya penuh sayang.

“Ummaaa uljjimma, jika kau menangis aku juga akan ikut menangis” ucap yeoja imut itu yang matanya sudah berkaca-kaca. Padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis sekarang. Yeoja itu terus memeluk ibunya yang sedang mengelus-elus rambut panjangnya.

“Kau jaga dirimu baik-baik ya sayang, kau tau kan jika kehidupan  disana tidak akan mudah?” tutur ummanya yang dijawab oleh anggukan. Park eomoni melepaskan pelukan mereka kemudian mencium kening anaknya.

“Ingat ya sayang, disana kau jangan salah memilih pacar” sahut Park aboeji yang tak lain adalah appa-nya, memecah suasana kesedihan yang menyelimuti mereka bertiga.

“Ah appaa~ aku disana bukan untuk mencari pacar”

“Haha, ya ya appa tau.. Tapi appa masih memimpikan punya menantu bersuara merdu”

“Appaa..”

Yeoja berambut kecoklatan itu melihat appa dan umma-nya, ia pasti akan merindukan mereka. Yah kedua orang yang telah membesarkannya sampai sekarang.

“Kau hati-hati ya disana” tutur pria tampan itu seraya mengacak rambut anak perempuannya. Sekali lagi mereka saling berpelukan. Sebuah pelukan terakhir untuk melepaskan kepergian anak perempuannya yang bersiap memasuki ruang tunggu penumpang.

. . .

SME Building, 07.00 KST

 

“Di…”

“Ada di dalam” sela Geulrin ini sebelum Kai sempat menyelesaikan pertanyaannya. Tapi sepertinya ia memang sudah tau apa yang ingin namja itu tanyakan.

Klek.

Ia  baru akan berteriak sebelum melihat seseorang yang dicarinya tertidur di atas lantai. Yah, namja itu sangat tau bagaimana gesture-nya saat tertidur. Dengan agak menjinjit ia berjalan mendekatinya. Ia pasti tertidur karena kelelahan.

Setelah sampai di dekatnya, Kai duduk di sebelahnya, memerhatikan yeoja di sebelahnya itu yang masih belum bergerak. Melihat wajahnya yang polos dan tanpa dosa itu membuatnya ingin… mengabadikannya dalam sebuah foto.

Tapi entah apa yang mengganjal kaki namja bernama Jongin itu, tiba-tiba ia hampir tersungkur hingga terjatuh tepat diatas wajah Richan. Oh God. Aku  bisa melihat jelas setiap lekuk dan garis di wajahnya. Wajah yang selalu membuatku selalu ingin melihatnya.

“Hyaaa Jongin.aah!”

Brak. Kai langsung terjatuh setelah yeoja ini bangkit dan mendorong badannya.

“Aigoo kau membuatku  jantungan”

Kai mengelus belakang kepalanya yang sedikit ngilu karena terbentur lantai.

“Dan kau membuat kepalaku benjol!”

“Itu salahmu sendiri! Kenapa tiba-tiba ada diatasku” keluh Richan membuat Kai terkekeh  mendengar gerutuannya.

“Apa kau lupa hah? Kau kan sudah berjanji mau menemaniku, aku…”

“Iyaa Kai, aku tau nanti sore kau debut, tapi aku tidak janji bisa menemanimu..”

Kai langsung berdiri, sambil mengerucutkan  bibir, ia balas menggerutu kemudian berjalan menuju pintu bersikap seolah-olah sedang marah pada               Richan.

“Hey kkamjong! Aku hanya bercanda!”

Richan tiba-tiba berada di sebelahnya, melingkarkan tangannya di pundak Kai meski harus menjinjit.

“Tentu saja aku akan menemanimu, kita sudah menjadi teman cukup lama, dan sudah tentu sahabat akan saling mendukung” ucapnya seraya mengerlingkan sebelah mata. Kai meliriknya sebentar. Yah tentu saja seorang teman.

Has it ever cross your mind when we’re hanging spending time girl.. Are we just friend? Is there more is there more?

“Wae? Ada yang salah?” tanya Richan  menyadari jika Kai tiba-tiba diam.

“Bagaimana jika suatu hari aku menyukaimu? Lalu aku menyatakannya padamu? Apa kau akan menerimanya?” astaga! Apa yang kau katakan barusan Kim Jongin!

Richan mengerutkan dahinya kemudian tidak lama ia malah terkekeh. Kepalanya bergeleng seperti tak habis pikir.

“Aku akan mempertimbangkannya jika aku tidak lagi menyukai kau-tau-siapa” katanya sambil memutar bola mata kemudian tertawa.

“Haha kau ini ke-geer-an sekali! Lagipula aku tidak akan menyukai yeoja sepertimu” balasku menutupi kenyataan yang sebenarnya. Mau atau tidak, kami memang lebih nyaman berada di hubungan yang seperti sekarang. Dan itu tidak akan berubah. Yah, aku memang selamanya hanya akan menjadi sahabat untuknya.

. . .

Beijing_

“Keep calm guys” tutur Kris mencoba menenangkan keempat member exo-m yang sudah seperti cacing kepanasan karena terus mengeluh nervous. Luhan, Xiumin, Chen dan juga Tao tidak bisa tenang di tempat duduknya, berbeda dengan Lay yang hanya diam dan menundukkan kepala.

Tidak, mungkin lebih tepatnya namja itu sedang memperhatikan sesuatu di tangannya.

Hey, gantunganmu itu usang sekali” tukas Lay membuat Geulrin langsung naik darah. Yeoja itu langsung mengambil paksa lagi miliknya.

“Biarkan saja huh, walaupun sudah usang tak seorangpun boleh memakainya!” balas Geulrin sinis. Yixing memandangi yeoja di depannya, ia dapat melihat jika gantungan kunci berbentuk boneka danbo itu merupakan barang berharga untuknya.

Lay tersenyum melihat benda di tangannya itu. Geulrin pasti punya alasan memberikan benda berharga ini untuknya. Setidaknya yeoja itu pasti sangat mempercayainya.

“Huuh” Lay menarik napas panjang. Semua perasaan gugup itu hilang ketika ia melihat gantungan kunci itu, benda yang selalu mengingatkannya pada Geulrin.

“YIXING.AH!!”

Yixing langsung terkejap, seperti seseorang yang baru sadar dari pengaruh hipnotis ketika Kris berteriak memanggil namanya.

“Sebenarnya kau ini sedang melihat apa?” tanya namja cool itu tanpa ada jawaban dari Lay.

Lay hanya nyengir seraya memasukkan gantungan kunci tadi ke dalam saku celananya. Kris hanya menggelengkan kepalanya melihat Lay, tapi ia sedikit bersyukur, karena setidaknya ia tak perlu menenangkan Lay yang sama sekali tidak terlihat nervous.

. . . .

Diusapnya keringat yang mengucur dari puncak kepala Geulrin dengan handuk kecil di tangannya. Ia menatap lurus ke dinding cermin di depannya, memperhatikan pantulan dirinya yang terlihat kelelahan.

Desah napas tak beraturan yang keluar dari mulutnya membuat yeoja itu menyandarkan tubuh sambil memejamkan mata.

“Aku duluan ya” ujar beberapa orang teman pada  Geulrin.

“Ne hati-hati!”

Setelah napasnya kembali normal, yeoja itu beranjak dari tempatnya hendak mengganti pakaian yang sudah basah karena keringat.

8 April 2012, sebuah smirk terukir di wajahnya melihat tanggal di layar handphone-nya. Hari ini? hari debutnya kan?

“Chukkae Yixing.ah” gumam Geulrin kemudian mengetikkan perkataannya tadi ke dalam account me2day-nya.

Klik. Ia menutup flip handphone-nya, bergegas untuk kembali pulang ke rumahnya. Menghabiskan waktu seharian di gedung latihan SM bukanlah hal baru untuk seorang trainee sepertinya. Lupa waktu, yah tentu saja. Apalagi jika ia sudah bersama Yixing, teman yang selalu menjahilinya.

. . . .

Mobil yang membawa keenam member exo-m itu melaju dalam kecepatan sedang. Setelah memecah ketegangan dengan beberapa gurauan yang keluar dari celetukan Xiumin dan Lay, semua member pun mulai dapat mengontrol rasa nervous mereka dan menggantinya dengan tawa lepas.

Kris tiba-tiba teringat akan sesuatu saat ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebuah benda yang entah kenapa selalu dibawa bersamanya.

Dikeluarkannya sebuah gelang metalic simple yang sebenarnya bukan miliknya.

Kenapa aku selalu membawanya? Sungguh tidak penting sekali,bukan? tanyanya pada diri sendiri.

“Wah gelang siapa itu? Lucu sekali, sini aku pakai saja” ujar Luhan hendak menyahut benda yang dibawa Kris.

“Tidak mau! Lagipula ini bukan punyaku” sergah namja bernama Wufan itu kembali memasukkan gelang tadi ke dalam saku celananya, membuat Luhan mencembungkan pipinya kesal.

. . .

SBS Inkigayo

“Aigoo nae Jongin, akhirnya kau debut juga” ujar Richan menjinjit lalu mengacak rambut namja yang jauh lebih tinggi darinya. Kai meliriknya. Sesuatu seperti bergetar saat ia berkata ‘Nae Jongin’ apalagi saat tangan putihnya menyentuh puncak kepala Kai. Hampir saja namja itu menggigit bibirnya gemas.

“Aku gugup huhh” ucapnya sembari menarik napas panjang. Entahlah ini rasa gugup karena debut atau karena yeoja di depannya sekarang.

Richan mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Sebuah permen coklat. Seperti yang sdah diduganya. Ia memang selalu memberikan Kai permen disaat namja itu sedang marah, panik ataupun sedih, dan anehnya hal itu berhasil membuatnya tenang.

Aku terus merintih sambil memegangi pergelangan kaki yang terasa begitu sakit. Ah apakah kakiku patah?

Air mata keluar begitu saja. Aku menangis. Ini bukan karena sakit yang kurasakan. Aku takut terjadi apa-apa dengan kakiku yang hingga akhirnya akan membuatku tidak bisa lagi menari. Bagaimana nasibku nanti? Aku baru saja akan mengikuti audisi, jika seperti ini tentu saja aku akan gagal.

Jongin bodoh! Kenapa kau bisa seceroboh ini? Tersandung kemudian terjatuh seperti anak baru bisa berjalan. Aish!

“Gwenchanayo?”

Kudongakkan kepalaku sebentar melihat seorang anak perempuan yang berdiri di depanku. Aku tidak menggubrisnya, terlalu sibuk dengan rasa sakit dan tangisanku.

Tiba-tiba saja gadis yang kelihatannya seumuran denganku itu berjongkok, ia menarik kaki kiriku kemudian mengelus pergelangannya. Hey apa yang ia lakukan?

“Aah” aku sedikit meringis ketika ia sedikit menekan tangannya.

“Nah sekarang kau bisa menggerakkannya” ucapnya polos. Sebelah alisku terangkat heran mendengar ucapannya, namun entah kenapa aku malah mengikuti perintahnya. Dengan perlahan aku menggerak-gerakan dan memutar kakiku itu. Hey kenapa tidak terasa sakit?

“Ini” ucap yeoja itu mengulurkan sebuah permen coklat.

“Ne?”

“Makan saja, kau pasti akan merasa lebih baik”

Perempuan berkuncir kuda itu tersenyum kemudian berlari meninggalkanku. Namun beruntungnya aku sempat melihat nama dada yang tertulis di seragam sekolahnya.

Yah, nama itu tak akan kulupakan. Nama seorang perempuan yang kini berdiri di depanku sekarang. Kai tersenyum lalu menerima permen coklat dari Richan. Ia membalikkan badan hendak kembali masuk ke waiting room dan bergabung bersama yang lain. Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Rasa gugup yang tadinya tidak ada kini muncul.

“Hey..”

“Ne?”

“Bolehkah aku memelukmu?” Kai menelan ludahnya sendiri begitu mengatakannya. Entahlah sebenarnya apa yang kulakukan sekarang.

Richan  melihati Kai dengan ekspresi kaget dan bingung.Suasana berubah menjadi sedikit awkward. Keduanya hanya berdiri mematung di tempat. Hingga beberapa lama kemudian Richan menganggukkan kepalanya, membuat namja itu memajukan langkah hati-hati sambil merentangkan tangan, begitu juga dengan Richan yang membuka tangannya untuk menyambut namja di depannya.

Akhirnya aku memeluknya, ia benar-benar ada di dalam pelukanku sekarang dan itu membuatku merasa sangat nyaman.

Kai memberanikan dirinya untuk mempererat pelukan mereka,mencium wangi parfum dan rambutnya. “Tenanglah, tidak usah gugup” ujar Richan tepat di belakang telinganya.

“Sebenarnya aku hanya takut jika para fans-fansku akan pingsan jika melihatku” balasnya nyeleneh.Richan langsung melepaskan pelukan mereka dan mencubit lengan Kai.

“Dasar kkamjong!”

Keduanya tertawa bersamaan memecah suasana canggung yang sempat tercipta.

“Sudahlah, kau segera masuk sana!” serunya mendorong tubuhku menuju pintu.

“Hyaaa! berhentilah mendorongku~”

“Arasseo”

Kai melirik Richan yang melepaskan tangannya dari punggung Kai, ia beranjak pergi membuat Kai reflek membalikkan badan. Namja itu menarik tangannya hingga Richan berbalik dan sekali lagi, Kai melayangkan sebuah pelukan padanya.

“Hyaa Kim Jongin! Jika tidak mengingat aku sudah mengenalmu tiga tahun, aku mungkin akan mengiramu menyukaiku” ucapnya membuat Kai tersentak. Dasar yeoja bodoh! Justru seharusnya kau mengenalku jauh lebih baik dari orang lain.

Do you catch a breath When I look at you, are you holding back like the way I do? Cause I’m trying trying to walk away but I know this crush ain’t going away

“Lihat, aku makan permennya sekarang!” ucap Kai lalu menelan permen coklat itu di depan Richan.

Kai menarik napas dalam. Sebentar lagi giliran kami tampil untuk yang pertama kalinya. Akhirnya, perjuanganku selama lima tahun ini berbuah manis. Tak akan kubiarkan cedera kecil ini mengganggu performaku nanti. Tidak akan.

Richan tersenyum melihat Kai seakan tau apa yang namja itu pikirkan.

“Kai fighting!” ujar Richan tiba-tiba memegang sebelah pipinya kemudian seenaknya saja pergi tanpa mengetahui wajah Kai yang sudah memerah seperti kepiting dan kedua pipinya yang memanas seperti udang rebus. Aigoo.

“Tarik napaas! Buang! tarik napaas! Buang!”

Kai menoleh ke arah Baekhyun dan Chaenyeol  yang entah sejak kapan sudah berdiri tidak jauh darinya. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak seperti sedang melihat acara komedi yang terpampang di muka namja itu. Chanyeol kemudian menirukan apa yang  Richan lakukan. Ia memegang pipi Baekhyun sambil berkata, “Kai fighting!”

“HYAA! Kalian berduaa!”

. . . . . . .

_Richan poV_

Careless careless, shoot anynonymous shoot anynonynous,

Heartless Mindless no one who care about me

Alunan musik menggema di seluruh studio. Teriakan para fans yang menamakan diri mereka exotics kian membahana saat keenam pria tampan itu mulai bernyanyi. Mataku tertuju pada seseorang yang berada paling depan. Yah, Kim Jongin atau sekarang aku harus memanggilnya Kai?

Aku tersenyum saat melihatnya begitu cool di atas panggung. Jauh berbeda ketika di belakang panggung.

Meskipun bahagia, aku tidak bisa menutupi rasa cemasku apalagi setiap melihat kakinya bergerak begitu lincah. Aigoo Jongin, semoga kau akan baik-baik saja.

“Bolehkah aku memelukmu?”

Aku langsung menggelengkan kepalaku mengingat ucapan Kai tadi. Kenapa aku jadi memikirkan hal itu? Saat ia meminta ijin untuk memelukku seketika itu juga tubuhku membeku. Itu adalah pertama kalinya aku merasakan ada sesuatu yang berbeda semenjak kami berteman. Aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya. Aish ! Tidak seharusnya aku memikirkan itu. Kita hanya sebatas sahabat. Yah hanya sahabat.

Kutepuk-tepuk sendiri kedua pipiku. Ingat! Lagipula kau itu kan menyukai Luhan oppa! ucapku meyakinkan diriku sendiri. Seharusnya aku tak perlu ragu lagi tentang perasaanku padanya.

Aku menyukai Luhan dan hanya Luhan oppa.

DRRT..DRRT..

Getaran handphone di saku celanaku yang cukup keras membuatku langsung berjalan menjauh dari panggung. Yah tentu saja, aku tidak akan bisa mendengar apapun jika terus berada disana.

Sebelah alisku terangkat begitu melihat nama yang terpampang di layar handphone-ku. Pasti ada sesuatu yang harus kukerjakan sekarang.

“Yobosseyo.. Ah ia sudah datang?.. Ne ne baiklah.. Bagaimana ciri-cirinya?.. Tidak terlalu tinggi, berambut kecoklatan, cantik, ah arasseo.. Haha bagaimana jika aku berteriak keponakan Sooman sangjangnim, keponakan Sooman sangjangnim.. Ne..”

Kuputus sambungan teleponku lalu kembali memasukkan ponsel tua itu ke dalam kantung celanaku.

Aku yang sekarang sedang berdiri jauh diatas panggung tidak bisa melakukan apapun selain segera pergi darisini. Kujinjitkan tubuhku untuk melihat perform exo sebelum aku pergi, tapi sialnya mataku tak berhasil menangkap apapun.

Kuambil lagi ponselku, membuka menu pesan dan mengetikkan sebuah kalimat.

Good Joob Kim Jongin ^^d

“Mianhae Jongin.ah aku tidak bisa melihatmu sampai akhir” gumamku agak sedikit menyesal. Begitu keluar dari studio aku langsung bergegas menuju tempat parkir.

Aku jadi penasaran dengan yeoja yang akan kutemui di Incheon nanti.

. . . .

 

_Geulrin poV_

Aku menaiki kurang lebih dua puluh anak tangga menuju apartemen atau yang bisa dibilang sebagai dorm. Dengan tas punggung yang cukup berat, ditambah kedua kaki yang rasanya hampir patah cukup membuatku lama melewati tangga ini.

Langit yang sudah gelap ditambah udara dingin yang menembus kulit membuatku bergidik. Tempat ini jadi terasa sepi sekali semenjak keenam namja yang tinggal di sebelah pergi ke China, entah untuk beberapa lama.

Aku jadi ingin tersenyum sendiri saat  ingat jika hampir setiap hari ada seorang namja akan berdiri di ujung tangga, berdiri melipat kedua tangannya kemudian menyambut kedatanganku dengan gurauan garingnya.

Apa benar kata orang jika kita baru menyadari betapa orang itu berharga saat ia meninggalkan kita?

Aish Jinjja! Choi Geulrin, bicara apa kau barusan? Ingatlah jika tidak ada waktu untuk memikirkan urusan hati atau apalah itu. Bukan sesuatu yang penting yang harus dipikirkan.

Kuhentikan langkahku di depan pintu dorm yang terletak tepat di sebelah dorm-ku. Lagi-lagi aku tersenyum setiap mengingat bagaimana aku selalu melempar kaos kaki ke wajah pria yang selalu iseng menyembunyikan sepatuku itu.

“Yixing.ah aku pasti akan merindukan untuk melempar sepatu ke kepalamu” ucap ku terkekeh sendiri mendengar perkataanku barusan. Aku kembali melanjutkan langkahku menuju dorm, rasanya kedua kakiku ini sudah tidak sanggup melangkah. Apa aku terlalu memaksakan diri karena seharian penuh berlatih? Melelahkan, sangat melelahkan tapi memang inilah risiko yang harus kuhadapi dan aku tidak boleh mengeluh apalagi menyerah.

Begitu sampai tak jauh dari dorm-ku, aku langsung memicingkan kedua mataku. Aku melihat seorang yeoja berambut panjang yang kuyakin bukanlah Richan ataupun seseorang yang kukenal, ia tampak sedang menunggu seseorang.

Siapa dia? Kenapa berdiri di depan pintuku? Apa ia menungguku?

Kumajukan kakiku beberapa langkah mendekat , bersamaan dengan yeoja yang sepertinya sudah menunggu kedatanganku. Yeoja cantik itu melihatku tajam. Hey apa aku berbuat salah padanya? Tidak mungkin. Mengenalnya saja tidak.

“Kau mencari si…”

Tanpa memberikan kesempatan padaku untuk banyak bertanya, yeoja itu sudah mencelaku dengan nada yang cukup membuat telingaku risih, “Kenapa kau merebut Sehun-ku?”

. . . . . . To be continue . . . . . .

Hehe, gimana ceritanya?

Mau tau kelanjutan ceritanya?

Kelanjutannya bisa dibaca jika banyak yang menantikan haha /kicked/

Hmm.. Nantikan saja ya part selanjutnya^o^

P.S: kalian bisa kunjung blog-ku, mungkin ff-nya bisa publish lebih cepat

(Rimahyunki.wordpress.com)

Thanks for reading..

Really appreciate your comment 🙂

15 pemikiran pada “MAMA (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s