Half of My Heart: Kai

Sub Title          :Be Mine

Author             : Inhi_Park & Kim Mus2

Main Casts      : Kim Jongin a.k.a. Kai&Kim Hyora

Genre              : Romance

Rating             : PG-15

Summary         :“Yang ku tahu adalah kau milikku dan hanya milikku.”

(Kai’s side)

Mataku tertuju pada beberapa orang siswi yang sedang berkumpul beberapa meter di depanku, tepatnya di barisan paling depan. Seringkali aku merasa bingung kenapa para yeoja senang sekali berkumpul lalu mengobrol sambil terkadang diselingi dengan tawa yang menurutku sangat mengganggu. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?

Salah satu dari kelima siswi yang tadi sedang bergosip itu berjalan kearahku. Ia mendekat sambil memamerkan senyumnya. Gadis berambut cokelat yang diikat keatas itu menarik kursi lalu duduk di hadapanku.

“Kai, setelah sekolah selesai aku mau ke toko buku dulu.” Katanya dengan masih memajang senyum di bibir tipisnya.

“Tapi aku tidak bisa menemanimu. Aku ada latihan basket.” Jawabku santai.

“Tidak apa-apa, lagipula aku bilang padamu bukan karena mau mengajakmu… wleee~…” Dia menjulurkan lidahnya lalu berdiri.

“Perginya besok saja, biar bisa ku temani. Hari ini kau langsung pulang saja.” Kataku yang sukses membuatnya mengurungkan niat untuk kembali ke kerumunan siswi di depan kelas tadi.

Ia berbalik lalu berkata, “Tidak usah, aku pergi sekarang saja. Aku benar-benar membutuhkan bukunya.”

“Besok saja. Akan ku temani.” Masih dengan nada datar aku kembali menghardik keinginannya.

“Aku bisa pergi sendiri Kai.” Senyumnya memudar, berganti dengan ekspresi kesal.

“Ku bilang besok saja! Hari ini kau harus langsung pulang ke rumah.” Aku berdiri dan berlalu meninggalkannya yang masih berdiri di tempatnya.

Aku melangkahkan kaki menuju pintu kelas. Tanpa menoleh kebelakang pun aku yakin kalau saat ini gadis itu sedang menggembungkan pipinya sambil menatap tajam kearahku. Dan tak lama setelah itu dia pasti langsung mengomel tidak karuan sambil mengata-ngataiku. Hah… aku sudah sangat hapal bagaimana sifat gadis itu.

Oh iya, sepertinya aku lupa memperkenalkannya. Namanya Hyo. Kim Hyora. Dia teman baikku yang juga kebetulan tinggal di sebuah rumah tepat di samping rumahku. Kami sudah berteman cukup lama. Kalau aku tidak salah ingat, pertemanan kami di mulai saat kami masuk ke kelas yang sama sewaktu SMP dulu. Dan entah karena takdir atau apa, dari dulu sampai sekarang kami selalu berada di kelas yang sama.

Karena kami bertetangga, hampir setiap hari kami pergi dan pulang sekolah bersama. Saking seringnya terlihat bersama, orang-orang seringkali mengira kalau kami pacaran. Padahal tidak, kami benar-benar hanya teman biasa.

Di kantin aku melihat Suho hyung sedang duduk dengan sepiringkimbab di hadapannya. “Hyung…” sapaku. Ia nampak sedang sibuk dengan kimbabnya sehingga ia hanya menjawab sapaanku dengan gumaman pelan.

“Ya Kai, kau sudah disini ternyata.” Chanyeol menepuk pundak kananku lalu mengambil tempat duduk si sebelahku.

“Ne, memangnya kenapa?” Tanyaku pada pria yang sekarang malah sedang sibuk berebut makanan dengan Suho hyung.

“Aniyo. Tadi aku ke kelasmu untuk mengajakmu kesini, tapi pas kutanyakan pada Hyora dia menjawab dengan wajah yang sangat tidak enak dilihat.” Jelas Chanyeol panjang lebar.

“Kau apakan lagi dia?” Kini Suho hyung ikut bersuara.

“Tidak ku apa-apakan hyung…” Ujarku singkat.

<><><>

Aku kembali ke kelas setelah menghabiskan waktu istirahat makan siang bersama kawan-kawanku di kantin. Baru satu langkah aku memasuki ruang kelas, pemandangan yang pertama ku tangkap adalah wajah mengkerut yang di tunjukan oleh Hyo.

Kakiku bergerak mendekati mejanya lalu berhenti saat aku berada tepat di sampingnya. Tanganku bergerak mengusap puncak kepalanya. “Akan ku temani kau ke toko buku besok. Aku janji. Jangan marah lagi ya…” Setelah ku rasa cukup aku segera pergi ke tempat dudukku sendiri. Begitulah… itu senjata terakhir jika dia sedang merajuk seperti itu.

Sekarang pandanganku tertancap pada Hyo, gadis yang sejak pertama kali mengenalnya aku sudah merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah telah bersikap kasar padanya tadi. Tapi apa mau dikata, hatiku menyuruhku untuk melakukannya. Aku tidak mau membiarkan dia pergi sendirian. Entah kenapa, hanya saja aku akan merasa tidak tenang jika tahu dia berkeliaran sendirian. Suho hyung dan Chanyeol juga sering mempertanyakan hal itu, tapi aku juga tidak tahu jawabannya apa. Yang jelas aku hanya tidak suka membiarkan dia jauh dari pengawasanku.

<><><>

Sudah lebih dari satu minggu sejak insiden ngambeknya dia karena kularang pergi ke toko buku sendirian waktu itu. Aku dan Hyo sudah kembali akrab setelah aku menuruti berbagai macam keinginannya saat kami pergi ke toko buku keesokan harinya.

Setelah jam istirahat selesai, kulihat dia melangkah masuh kelas dengan raut wajah yang berseri-seri. Dia menghampiriku dengan senyuman lebar terukir di bibirnya.

“Kenapa?” Aku yakin ada sesuatu yang baru saja terjadi padanya.

“Nanti kau pulang sendiri tidak apa-apa ya?” Tangannya melingkar di lengan kiriku, terlihat jelas ia sedang merajuk.

“Memangnya kau mau kemana?”Responku, masih dengan nada yang datar.

“Aku akan pulang dengan Taemin oppa.”Katanya riang. “Kali ini ku mohon bersikap baiklah.” Wajahnya terlihat sedikit lebih serius saat menatap mataku sambil mengucapkan permohonannya itu.

Bukannya menanggapi, aku malah melangkah pergi tanpa mempedulikan Hyo yang berkali-kali memanggilku untuk kembali. Aku berjalan menuju kamar mandi pria yang tertelak di ujung lorong. Saat melewati sebuah ruang kelas dan melihat namja yang tadi disebut oleh Hyo, Lee Taemin, hatiku memanas. Tanganku terkepal kuat menahan emosi yang kini sudah sampai ke puncak ubun-ubun.

<><><>

“Ayo pulang.” Aku menghampirinya yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Baru saja jam pulang berdering dan Kim seonsaengnim pun belum hilang sempurna di balik pintu, aku langsung mendatangi meja Hyo untuk mengajaknya pulang.

“Kan sudah ku bilang hari ini kita tidak bisa pulang bersama.”Katanya tanpa kelihat kearahku. Ia masih sibuk merapikan barang-barang yang berserakan di mejanya.

“Aku tidak meng-iya-kan kata-katamu. Jadi ayo kita pulang.” Tanganku bergerak meraih pergelangan tangannya yang baru saja selesai menutup tasnya.

“Kai, kau ini kenapa?” Ia melepaskan genggaman tanganku lalu menatapku tajam.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin pulang. Ayo cepat.” Aku kembali meraih pergelangan tangan kanannya dan menariknya menuju pintu.

“Kai, lepaskan!”Hyo meronta berusaha melepaskan genggaman tanganku.

“Hyora-ssi?” Langkahku terhenti saat seorang namja berambut kemerahan berdiri tepat di depan pintu.

“Oppa?” Pekik Hyora. Gadis itu semakin keras menarik lengannya dari genggamanku.

“Maaf, Hyo akan pulang denganku.” Kataku sambil berlalu dengan tidak melepaskan tangan Hyora.

“Kai!” Hyora berteriak di belakangku. “Kai…!!!” Tidak Hyo, aku tidak akan melepaskanmu.

Aku membawanya berjalan meninggalkan namja bernama Taemin itu menyusuri lorong kelas yang terlihat masih ramai karena jam pelajaran memang baru saja selesai. Orang-orang di sekitar kami menancapkan pandangan penuh tanda tanya pada kami berdua, tapi aku tidak peduli. Aku masih terus berjalan ke tempat tujuanku, atap gedung sekolah.

Setibanya kami di tempat yang selalu tampak sepi itu, aku melepaskan tangannya dengan kasar. “Kau tidak boleh pergi dengan orang itu.” Kataku.

“Memangnya kenapa?” Wajahnya memerah. Aku tahu dia sangat kesal padaku. Tangan kirinya mengusap-usap pergelangan kanannya yang terlihat merah karena genggamanku yang sepertinya terlalu keras tadi.

“Pokoknya tidak boleh.” Rahangku mengeras menahan emosi. Aku tidak mau kalau sampai harus melampiaskan kemarahanku padanya.

“Memangnya dia salah apa?” Dia berkata dengan nada yang sangat tajam. “Hah, tentu saja dia tidak salah. Tidak ada yang salah padanya karena satu-satunya yang salah disini adalah dirimu, Kai. Kau selalu begitu. Setiap kali ada yang mendekatiku, sikapmu selalu seperti ini. Apa kau ingat sudah berapa orang namja yang kau perlakukan seperti Taemin oppa tadi? Sudah banyak Kai.”

Aku terdiam. Dia benar, melarangnya pergi dengan namja yang berusaha mendekatinya memang sudah berkali-kali ku lakukan. Segala cara sudah pernah ku lakukan untuk menghindarkan Hyo dari namja yang menyukainya.

“Aku tidak suka kau dekat dengan orang lain.” Kataku.

“Apa maksudmu huh? Kau melarangku bergaul dengan orang lain. Apa seumur hidup aku hanya boleh mengenalmu saja huh?” Suaranya meninggi.

Mendengar kata-katanya tadi membuat emosiku tidak terkontrol. “Iya, kau hanya boleh dekat denganku. Kau milikku!” Refleks aku berteriak padanya.

“Hah, selalu seperti itu. Kau selalu bilang kalau aku milikmu. Aku bukan milikmu Kai!” Ia mendelik.

“Kau milikku, Kim Hyora!”

“Sejak kapan? Bagaimana caranya aku bisa menjadi milikmu? Kau bukan kekasihku, kau hanya sahabatku Kai.”

“Jadi itu yang kau pikirkan selama ini? Kau hanya menganggapku sahabatmu.”

“Tentu saja. Memangnya aku harus menganggapmu siapa hah? Pacarku? Hah? Ayolah Kai, kau tidak pernah mengatakan kalau kau mencintaiku dan memintaku selalu bersamamu. Kau hanya selalu bilang kalau aku milikmu sementara aku tidak tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku.”

“Apa tidak cukup apa yang kulakukan selama ini untuk menunjukan apa yang kurasakan padamu.”

“Tidak! Kau pikir aku bisa membaca pikiranmu huh?”

Tanganku mengepal keras. Kata-katanya barusan menancap tepat di hatiku. Semua yang dikatakannya benar. Aku memang selalu berkata kalau dia milikku, karena memang itu yang kurasakan. Aku tidak pernah mau jauh darinya. Makanya aku selalu menjadi bayangan yang selalu bersamanya kemanapun dia pergi. Dan mengenai hubungan kami, dia juga benar. Selama ini aku tidak pernah memikirkannya. Yang kutahu hanya aku selalu ingin bersamanya, begitupun dia yang harus selalu bersamaku. Itu saja. Aku tidak pernah mencoba mencari tahu alasannya.

Perlahan kepalan tanganku melonggar. Nafasku kembali teratur. Tanpa aba-aba aku menarik tubuh mungil yang masih diam mematung itu ke dalam pelukanku.

“Mianhae… Aku selalu bertindak egois dengan memaksamu selalu di sampingku tanpa memikirkan perasaanmu. Selama ini yang ku tahu hanya ingin bersamamu tanpa ku sadari perasaan apa yang membuatku seperti itu. Aku selalu mengingkari semua debaran yang kurasakan saat aku bersamamu. Tapi sekarang aku tahu. Aku mencintaimu Kim Hyora.”

Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar. Aku tahu dia sedang menangis sekarang.

“Be mine please…” Bisikku padanya.

Tangisnya semakin keras. Dan di saat itulah aku merasakan dia menganggukan kepalanya. Ku eratkan lagi dekapanku.

Tiba-tiba dia melepaskan pelukanku dan mendorong tubuhku menjauh. “Tapi kau gila Kai. Kau menyeretku kesini. Semua siswa melihat kita tadi. Kau tidak malu apa? Di tambah ini, kau lihat ini? Tanganku merah. Ini sakit tahu…” Dia menggerutu sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah.

Aku tersenyum lalu mengapit dagunya dengan ibu jari dan telunjukku, ku tarik wajahnya mendekat lalu ku daratkan sebuah kecupan singkat di bibir mungilnya. “Kau terlalu banyak bicara Kim Hyora.” Kulihat wajahnya merona. “Dan kau tahu, aku tidak peduli berapa banyak orang yang melihat kita tadi. Malah semakin banyak semakin bagus, karena itu artinya semakin banyak pula yang tahu kalau kau milikku. SaranghaeKim Hyora.” Kataku.

~END~

Alright… Versi Kai selesai…

Lalu bagaimana hasilnya? Memuaskan kah??? Semoga iya ya…

Ayoo.. ayoo… Reader yang baik ga pernah lupa buat ninggalin jejak yaa… mari di comment… hehe…

Sampe ketemu di versi selanjutnya yaa…

Salam Authors n_n

109 pemikiran pada “Half of My Heart: Kai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s