I Love Him, But I Need You (Chapter 2)

Author          : Chanye’s0608

Tittle             : I Love Him, But I Need You

Main Cast     :

–         Song Hyunhae (OC)

–         Park Chanyeol

–         Kris Wu

Other Cast    :

–         Park Mikyu (OC)

–         Lee Chaeky (OC)

–         Kim Jongin (aka Kai)

–         D.O

Genre            : Romance

Bacot Author : pertama-tama dan yang paling utama #plak

maksudnya pertama author pengen ngucapin big thanks buat admin yang udah rela ngeposin FF author yang gagal maning ini.

 

kedua author mohon komen dari readers sekalian untuk kelangsungan hidup author dimasa yang akan datang. hhe

mian ceritanya rada aneh, ga nyambung, ataupun ga menarik T.T

mian TYPO bertebaran

dan mian author ganti-ganti marganya Kyung Soo^^

 

 

sekali lagi please RCL

Happy reading~

Author’s POV

 

 

“ kalian, sebenarnya ada apa?” Hyunhae melirik Chaeky yang telah menyandang tasnya, membiarkan Hyunhae menatap kearahnya bimbang.

“ mianhae, aku terlalu sibuk dengan Joon Myeon oppa akhir-akhir ini jadi aku tidak terlalu memperhatikan kalian” kini gantian Hyunhae yang meraih tasnya. Yeoja itu berdiri sedikit lebih dulu dari Chaeky. Keduanya meninggalkan ruang kelas yang telah kosong.

“ molla, aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada Chanyeol. sungguh” Chaeky menemukan kejujuran dalam mata Hyunhae. Gadis itu mengangguk, ia masih berusaha untuk bertanya lebih kepada Hyunhae.

“ ehm, soal Mikyu, kau tahu siapa gadis itu? Maksudku dia bukan gadis yang sedang berkencan dengan Chanyeol kan?” Hyunhae menggeleng, menghela napas dengan wajah yang terus menunduk. Chaeky merasakan Hyunhae mencengkram tasnya dengan begitu kuat.

“ aku sering melihatnya beberapa kali didepan rumah Chanyeol tapi aku tidak tahu siapa gadis itu” Chaeky menggangguk, menyudahi pertanyaannya. Ia terlalu takut membuat Hyunhae merasa resah. Gadis itu melirik kearah ruang dance yang masih terbuka, ia benar-benar tidak berharap bertemu dengan Kai saat ini. Namun setelah benar-benar mendekat keduanya malah tidak menemukan Kai disana, melainkan Chanyeol dengan gadis yang tadi mereka perbincangkan, Mikyu. Mata Hyunhae melebar ketika dilihatnya Chanyeol mengacak-acak rambut Mikyu yang basah oleh keringat, membuat gadis berambut keriting itu berteriak marah kearahnya.

Hyunhae menghela napas berat, ia tidak ingin Chanyeol mengacak rambut gadis lain kecuali dirinya. Ia tidak ingin Chanyeol tersenyum begitu lebar kepada yeoja lain kecuali pada dirinya. Dan tidak ingin itu malah membuatnya sesak napas sekarang. Ia sendiri juga bingung, apa yang terjadi pada dirinya.

 

 

20.00 KST

Hyunhae membesarkan focus matanya saat melihat Chanyeol keluar dari garasi dengan motor hitam bersama Jongdae. Namja itu mengenakan celana jeans hitam, kaos berwarna putih dan kemeja abu-abu yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka. Cara berpakaian Chanyeol sehari-hari. Hyunhae menatap namja yang sudah beberapa hari ini tidak menegurnya.

Gadis itu mulai berpikir ia telah melakukan suatu kesalahan besar kepada sahabatnya. Ia juga sudah tidak pernah menghubunginya bahkan sebelum tidur dan itu membuat Hyunhae susah untuk memejamkan matanya. Ia terlalu terbiasa mendengar namja itu mengomel sebelum ia beranjak kekasur.

TOK TOK TOK

Hyunhae sedikit terkejut mendengar ketukan pintu kamarnya. Belum sempat gadis itu berujar ‘masuk’ D.O sudah muncul didepan daun pintu yang terbuka lebar.

“ sedang apa?” Hyunhae tersenyum kecil menatap kakak lelakinya. Gadis itu menutup jendela kamarnya, Chanyeol sudah tidak terjangkau oleh pandangan matanya lagi sekarang.

“ eopseoseo” Hyunhae merangkak menuju kasur, sedangkan D.O berjalan mendekati adiknya. Namja itu duduk disisi kiri Hyunhae, mengenggam boneka kesayangan adiknya PORORO.

“waeyo? Tumben oppa datang kekamarku” D.O berdecak mendengar perkataan adiknya. Dengan cepat Hyunhae tertawa melihat ekspresi kesal kakak tercintanya itu.

“ aku khawatir padamu pabbo”

“ sepertinya semua orang menghawatirkanku dan Ya! Kyung Soo oppa berhentilah memanggilku pabbo”

“ dan berhentilah memanggilku Kyung Soo Hyunhae-yaah. ck” keduanya berpandangan tajam sesaat tetapi detik berikutnya keduanya sudah tertawa bersama, membuat seisi rumah terkejut mendengarnya.

“ Ya! Oppa, aku tidak tahu kau memakai anting sekarang”

“ kau memang tidak pernah memperhatikanku Hyun bbabbon”

“ Ya! Aku sudah tidak gemuk lagi sekarang”

“ tapi aku suka memanggilmu seperti itu”

“ ck” Hyunhae menatap kakaknya yang tertawa dengan begitu renyah. Entah kenapa Kyung Soo merasakan ada suasana aneh pada diri adiknya.

“ kau sudah berjanji untuk melupakan namja itu untukku” Hyunhae mengangkat kepalanya, menatap manik mata kakaknya yang terlihat begitu serius. Hyunhae mengangguk kecil, beberapa detik berikutnya ia kembali fokus ke mata kakaknya.

“ oppa, bolehkan aku bertanya sesuatu?” Kyung Soo mengangguk, memantapkan hati adiknya yang terlihat ragu untuk bertanya kepadanya.

“ mana yang oppa  pilih, sesuatu yang oppa butuhkan atau sesuatu yang oppa inginkan??”

“ semua manusia pasti akan memilih sesuatu yang ia inginkan Hyu, itu manusiawi. Tapi ingat, kau punya pencipta dan Ia pasti akan memberikan sesuatu yang kau butuhkan bukan yang kau inginkan ”

“ oppa, ini kata-kata paling bijak yang pernah kau ujarkan kepadaku”

“ kau tidak tahu? Aku ini pandai merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat yang begitu indah dengan,,,”

“ Ya! Ya! Ya! shikureo”

——

 

Hyunhae tersentak mendengar suara jam beker diatas meja belajarnya. Gadis itu menolehkan kepalanya, 06.30 dan dia masih dengan entengnya bersimpuh diatas kasur. Gadis itu dapat mendengar ommanya berteriak panik dari luar kamar.

5 menit terbuang sia-sia oleh gadis itu, dirinya sama sekali tidak bergerak dari ranjang. Ketika jam beker itu berdering kembali, barulah ia berlari kekamar mandi. Mandi dipercepat, berpakaian dipercepat, mengemas buku dipercepat sampai menuruni anak tangga pun dipercepat.

 

BUUUKKK

 

“ Hyunhae-yah gwenchana”

“ yaah! Bbabbon gwencahana”

Hyunhae tersenyum malu, gadis itu langsung menyambar dua tumpuk roti selai kacang diatas piring dimeja makan, mendekati sang omma dan menciumnya.

“ Chanyeol belum datang?” seperti langsung sadar dengan ucapannya sendiri, gadis itu memandang kedua orang didepannya ragu. Chanyeol, kenapa ia harus menanyakan namja itu??

“ annyia, maksudku appa mana omma?”

“ kau lupa? Appa sedang dinas diPulau Jejju”

“mwo??  oppa, antarkan aku kesekolah. jebaaal”

“ kau lupa?? Aku baru saja kecelakaan. Mana bisa bawa motor”

Hyunhae meneguk ludahnya, gadis itu menoleh ke jam didinding brewarna Hijau muda itu. Mengamati jarum panjang dan pendeknya berharap dengan begitu kedua jarum itu dapat berputar kearah berlawanan. 07.15

“ HUUAAAH AKU TERLAMBATTT”

Gadis itu mencium ommanya kemudian berteriak kearah keduanya ‘aku pergi’ sebelum mengasah kemampuan berlarinya. Gadis itu mengencangkan otot-otot kakinya saat ia melihat bus sekolah mendekat sedangkan ia masih setengah perjalanan.

“ Changkamaaaaaannn”

—–

 

Hyunhae menghela napasnya, menepuk-nepuk dadanya berharap dengan begitu akan banyak udara yang masuk keparu-parunya. Ia menoleh kesegala arah, berusaha menemukan tempat duduk kosong untuk sekedar meregangkan kekakuan pada kakinya.

Dan disaat itulah ia menemukan namja itu. Namja yang tadi pagi ia sebut tanpa sadar. Namja itu sedang tertidur, dengan topi yang menutupi beberapa bagian wajahnya. Hyunhae menghela napas, namja itu tidak tidur semalaman. Ia tahu, Chanyeol akan tidur dimana saja saat ia merasa tidurnya kurang.

Hyunhae mengeluarkan handphone dari blazernya, memasangkan headset pada handphone putih susu itu sebelum memilih lagu yang sekarang tengah mengalun ditelinganya. Ia, mendekati namja itu. Duduk dalam diam sembari terus memperhatikannya, dan beberapa saat kemudian yeoja itu menyodorkan sebelah kanan headsetnya ketelinga kiri namja itu, Chanyeol.

 

Ganjorhi barabogo barandamyeon

i-rwojilkka donghwayegichorom

yongwonhan dulmane happy ending happily ever after

 

Chanyeol menggerakkan tubuhnya, tersadar sesuatu mengalun indah ditelinganya. Namja itu mengerjapkan matanya, menatap Hyunhae yang telah menatapnya sejak lima menit yang lalu. Gadis itu perlahan menyunggingkan senyumnya, menarik headset ditelinga kirinya dan memasangkannya tepat ditelinga kanan Chanyeol. Membiarkan seluruh perasaan namja itu tercurah pada senyuman manisnya. Perlahan Chanyeol menarik ujung bibirnya. Ia… begitu merindukan gadis itu. Dan dengan sekali gerakan ia sudah berhasil membuat gadis itu merontah-rontah kesal.

“ KYYAAA HENTIKAN, kau menghancurkan rambutku PARK CHANYEOLLLL”

-skip-

 

Hyunhae memandang Chanyeol yang sedari tadi sibuk dengan kain pel ditangannya. Hyunhae bersumpah, Chanyeol tidak maju barang sejengkal saat sedang mengepel. Namja itu terus membersihkan pada tempat yang sama.

“ kenapa kau hanya membersihkan lantai yang itu saja Park Chanyeol”

“ ck, berisik. Kau tidak tahu bagaimana kotornya lantai ini pabbo”

Hyunhae menggembungkan pipinya, pertanda kalau ia sedang kesal. Gadis itu menatap jam dinding dikelas mereka, 15.30 seingatnya Chanyeol mulai mengepel saat jarum panjang itu berada diangka dua belas tadi.

“ ck, kapan kita akan pulang kalau begini?” Hyunhae langsung mendapatkan tatapan mematikan namja didekatnya. Dengan sekali hentakan kain pel ditangannya sudah melayang kelantai didekatnya, namja itu berkacak pinggang.

“ kalau kau mau cepat, bantu aku bodoh”

“ kau masih mau menerima bantuan ‘sibodoh’ eoh?? Dasar tower man”

“ YA! Aku tidak terlalu tinggi, kau saja yang pendek”

“ mwondae????” Hyunhae berdiri geram, memandang Chanyeol dari atas kebawah sebelum melangkah keluar kelas. Chanyeol menatap punggung gadis itu. Dengan cepat ia mengambil lagi kain pel yang tadi ia banting. Menyapukan bagian yang tadi sudah ia pel tapi Hyunhae injak kembali. Perlahan namja itu menghembuskan napasnya, memulai aktivitasnya kembali.

===

 

 

Ia masih berusaha menstabilkan emosinya saat punggungnya bertabrakan dengan seseorang. Namja itu menoleh kebelakang. Matanya membulat, menatap gadis didepannya yang tersenyum menyindir.

“ bahkan ‘sibodoh’ yang membersihkan ¾ bagian kelas ini tuan Tower??”

“ ck, memang lelaki tidak seharusnya melakukan ini”

“ kurae, seharusnya lelaki tidak tidur saat jam pelajaran dan tidak dihukum untuk membersihkan kelas seorang diri”

“ kurae… aku salah, mian. Lagipula siapa yang menyuruhmu membantuku eoh?”

“ Ya! Neo micheoso??”

Hyunhae mengulurkan tangannya, berniat mencubit lengan itu ketika Chanyeol dengan cepat membaca gerak-geriknya. Namja itu meraih tangannya lebih dulu, menguncinya kebelakang punggung Hyunhae sehingga membuat keduanya tertarik mendekat. Hyunhae merasakan napasnya menderuh. Ia sudah sering memeluk namja itu, bahkan mencium pipinya. Tetapi entah kenapa saat ini ia merasakan wajahnya memanas. Gadis itu menunduk, tidak mengindahkan tatapan mata Chanyeol yang sedari tadi tak lepas dari wajahnya. Namja itu memperhatikannya dengan begitu seksama.

“ Chanyeol-ahh,,,” Hyunhae-Chanyeol tersentak. Menoleh keambang pintu bersaaman. Dan keduanya mendapati Mikyu mematung menatap mereka, menelisik Chanyeol untuk meminta penjelasan.

“ Mikyu-ahhh,,” tetapi, gadis itu telah berlari

“ Chanyeol-aahh,” Hyunhae menarik lengan namja itu ketika disadarinya Chanyeol bergerak hendak pergi. Chanyeol melirik gadis itu sebentar sebelum berujar ‘mianhae Hyunnie-yah’ dan kemudian berlari pergi. Meninggalkan Hyunhae didalam kelas seorang diri.

Gadis itu merasakan angin dingin menyapu kulit dan hatinya. Ia,, benar-benar kehilangan Chanyeolnya. Tower mannya.

^^^^^^^

 

Hyunhae menghembuskan napasnya sekali lagi ketika handphone dibalzernya kembali bergetar. Gadis itu mengeluarkannya dari saku, memandang nanar nama yang tertera di layar phonselnya ‘Yeolli^^’. Namja itu sudah puluhan kali menghubunginya dan sudah puluhan kali pula mengirimi pesan singkat dengan isi yang sama ‘neo eoddiga?’

Hyunhae menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu melepaskan casing handphonenya dan mengeluarkan baterai dari dalam handphonenya, membiarkan latar hitam memenuhi wallpaper handphonenya sekarang. Ia benar-benar sedang tidak ingin bertemu Chanyeol.

Gadis itu mengedarkan pandangannya, menatap beberapa orang yang duduk didalam bus yang sama dengan dirinya. Gadis itu sudah duduk disitu sejak lima menit yang lalu, saat Chanyeol meninggalkannya dikelas seorang diri. Gadis itu merenung, kenapa semua orang senang sekali meninggalkannya??

Gadis itu melirik kearlojinya setelah sekian lama bermellow ria dengan pikirannya yang mulai melayang-layang tidak jelas. Bus akan segera sampai ke Namsan dalam 20 menit kedepan. Gadis itu merapatkan Blazernya, hawa dingin tiba-tiba menyergap belakang punggungnyaentah darimana.

Ia melirik kaca jendela bus yang berada disamping kanannya. Menghembuskan napasnya berharap akan ada uap disana, tetapi matahari cukup panas sepertinya sore ini. gadis itu mendesah, ia mulai menjelajahkan matanya kebeberapa mobil yang melewati mereka.

“ Chanyeol-ah,,” gadis itu bergumam kecil. Menatap mobil kuning cerah yang tengah melintas meninggalkan bus yang ia tumpangi. Namja itu, tadi tidak memakai mobil saat pergi sekolah. Dan Hyunhae sangat mengenal mobil itu. Mobil yang beberapa hari ini sering terlihat oleh mata Hyunhae. Mobil Mikyu.

–skip–

 

Hyunhae melangkahkan kakinya perlahan, beberapa orang menatapnya aneh yang masih menggunakan seragam sekolah dengan lengkap. Gadis itu, memandang rel panjang didepan matanya dengan tersenyum. Dengan sekali uluran tangan ia sudah berhasil meraih gembok yang dulu sempat ia sematkan diantara ribuan gembok yang telah memenuhi rel panjang itu. Gadis itu kembali tersenyum, memandang karya tangannya dibadan gembok berbentuk hati itu.

 

Kris ❤ Hyunhae

17 Desember 2009

 

‘2009? Berarti hampir tiga tahun berlalu sejak saat itu’ gadis itu berpikir. Ia melepaskan gembok ditangannya saat matanya menangkap namanya tertulis digembok berbeda. Tulisan itu, ia hapal dengan sangat. Tulisan yang dulu selalu ada disetiap buku tulisnya. Ia juga ingat betul dengan tulisan namja yang selalu mengajarinya matematika itu. Tulisan Kris. Gadis itu meraih gembok yang menarik perhatiannya, berusaha untuk tidak menangis melihat tulisan pendek yang namja itu tulis.

 

I’m Always Loving Hyu

08 November 2011

Kris Wu

 

Hyunhae merasakan tubuhnya melemas mendapati tanggal yang tertulis digembok berbentuk hati itu. 08 november 2011. Hyunhae ingat betul hari itu, hari dimana ia memberanikan dirinya bertanya kepada Kris apakah namja itu masih mencintainya. Ia ingat dengan jelas.

Hyunhae merasakan matanya memanas, beberapa detik ia membiarkan air mata jatuh membasahi pipinya. Gadis itu benar-benar tidak bisa membendung rasa cintanya kepada namja itu. Ia benar-benar menginginkan namja itu berada disisinya, selamanya.

***************

 

Untuk yang kesekian kalinya Chanyeol melirik arloji hitam yang melingkari pergelangan tangannya. Ia mendesah mendapati dirinya telah duduk didepan gerbang megah berbahan kayu itu sejak 5 jam yang lalu. Namja itu sama sekali tak berniat bangkit bahkan ketika D.O menyuruhnya untuk menunggu Hyunhae didalam rumah. Entahlah, ia terlalu khawatir.

Yeoja itu meninggalkannya begitu saja tadi, saat ia mengejar Mikyu untuk memberikannya penjelasan. Ia sudah berusaha menelpon dan mengirimi banyak pesan singkat kepada gadis itu sebelum handphonenya… tidak aktif. Chanyeol menumpukan kepalanya dilututnya yang sengaja ia ditekuk, membiarkan kepalanya sedikit terkulai lemas.

Ia membiarkan hawa dingin menyerang tubuhnya yang hanya, lebih tepatnya masih menggunakan seragam sekolah lengkap. Namja itu merasakan pundaknya mengeras, ia letih. Dan ia meringis saat tangannya menepuk bahunya sendiri, namja itu merasakan seseorang berjalan mendekat kearahnya. Begitu pelan.

Chanyeol mengangkat kepalanya, melirik gadis dengan seragam sekolah lengkap yang berdiri beberapa meter darinya. Ia perlahan bangkit, menatap manik mata sang gadis dengan lirih. Perlahan namja itu ikut mendekat.

“ dari mana saja? Kau pulang pukul 16.00 tadi?” Chanyeol merasakan suaranya sedikit meninggi, ia benar-benar menghawatirkan gadis itu rupanya.

“ Hyunnie jawab aku” Hyunhae menengadah, menatap Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya. Dari matanya gadis itu berusaha mengatakan apa yang ia rasakan.

“ Hyunnie, mian. Tadi aku, maksudku aku harus menjelaskan kesalahpahaman itu kepada Mikyu, maaf aku meninggalkanmu” Hyunhae menghela napas berat, matanya sengaja ia alihkan kearah lain. Takut Chanyeol dapat membaca apa yang ingin ia katakan. Perlahan gadis itu beranjak, meninggalkan Chanyeol yang menyusulnya dengan terburu. Namja itu menahan lengannya, begitu keras sampai gadis itu meringis.

“ Chanyeol-ah, aku letih. Biarkan aku istirahat, jebal”

Dan dengan sekali hentakan, Chanyeol sudah menatap punggung gadis itu menghilang dibalik daun pintu gerbang yang tertutup rapat. Perjuangannya menunggu gadis itu selama 5 jam, sia-sia. Chanyeol merasakan matanya berkunang-kunang saat dengan cepat seseorang menyambar lengannya panik.

“ oppa, neo gwenchana??”

 

 

 

26 November 2011~

“ kau sudah menjawabnya sendiri Chae-yah”

“ mwoya?”

“ siapa yang mengisi relung hatimu”

“ eoh??”

“ sudahlah, Kai menunggumu sekarang. Ditempat  yang dulu”

“ mwo??”

Hyunhae  melangkah susah payah meninggalkan Chaeky yang masih terdiam di gazebo taman itu, berharap beberapa detik setelah itu Chaeky berlari kearah yang tepat. Yaa, gadis itu memang pandai menasihati orang lain tetapi masalahnya saja tidak ada ujungnya sampai sekarang.

Hyunhae menyerengit menatap jari-jari kakinya yang sepertinya sedikit lecet didalam high heels putih sembilan centi yang ia gunakan. Kalau bukan karena Baekhyun memintanya untuk tampil sebagai pengisi acara pada festifal ini, ia akan memilih untuk tiduran fullday dirumahnya. Tanpa harus melihat namja itu menari bersama yeoja lain. Hyunhae merasakan badannya sedikit panas ketika nama Chanyeol dan Mikyu dipanggil oleh MC untuk segera maju mengisi acara, sebagai pembuka acara tentunya.

Gadis itu merasakan sedikit hantaman aneh dihatinya saat dilihatnya kedua manusia itu saling bergenggaman tangan sembari meliuk kesana-kemari. Hyunhae menghela napas, ia selalu merasakan napasnya kurang melihat Chanyeol bersama yeoja itu. Yeoja yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.

DRET DRET DRET DRET

Hyunhae meraih tas tangannya yang bergetar, menatap layar handphone polos sebelum menempelkannya ditelinga.

“ ne yoboseyo oppa”

“……..”

“ eoh, disekolah. Wae?”

“……..”

“ ah, annyia. Aku saja yang kesana nanti”

“ …..”

“ eoh kureomyeon. Ne, gomawo”

Gadis itu menghela napas. Sepertinya, ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Pilihannya sudah bulat sekarang. Dia, berharap memang benar namja itu yang ia butuhkan, bukan orang lain.

—skip—

 

Chanyeol menatap Hyunhae yang membungkuk disambut tepuk tangan riuh yang membahana memenuhi setiap sudut aula utama sekolah mereka ini. bahkan, tepuk tangan untuknya tidak semeriah ini tadi. Namja itu menyunggingkan sedikit senyumnya, menyadari pikiran bodohnya barusan. Gadis itu, yang sekarang meninggalkan pianonya untuk berjalan kebelakang panggung, benar-benar membuatnya terpesona. Permainan pianonya, suaranya dan.. wajahnya.

Tanpa sadar Chanyeol berjalan meninggalkan aula utama, menangkap sosok Hyunhae yang membungkuk terima kasih kearah Baekhyun sang ketua osis. Hyunhae tersenyum manis, senyum yang hampir berminggu-minggu ia sembunyikan dari Chanyeol. Namja itu menengadah, berusaha menahan rasa rindunya.

“ Chanyeol-ah” Chanyeol menoleh, menatap gadis cantik yang menggunakan celana skiny jeans dan baju berlengan panjang yang memperlihatkan abs tubuhnya itu dengan senyum lirih.

“ wae?”

“ kau bertanya kenapa? Ka pikir aku bodoh?”

Chanyeol menatap mata Mikyu dengan binar bingung, gadis itu meraih tangan besar Chanyeol dan meletakkan sebuah lollipop ketelapak tangan namja itu. Membiarkan Chanyeol terdiam beberapa saat.

“ seseorang menjemputnya, kudengar begitu”

Dan setelah mendengar ucapan pendek dari yeoja didepannya, Chanyeol langsung berlari menuju gerbang utama. Tempat dimana namja itu melihat Hyunhae terakhir tadi. Namun terlambat, gadis itu sudah naik diatas ducati merah namja yang tadi menjemputnya, Kris.

Chanyeol mencoba menstabilkan emosinya, ia menggenggam erat lollipop ditangannya. Pikirannya berkecamuk, ia sudah kalah. Kalah telak. Ia masih sempat melihat senyum Hyunhae begitu merekah saat menaiki motor yang menjemputnya tadi. Ia juga masih sempat melihat Hyunhae melingkari tangannya dipinggang namja itu sebelum motor melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Chanyeol yang terdiam mematung. Menyadari kekalahannya untuk kedua kalinya. Kalah tanpa sempat melakukan apapun.

Namja itu melirik kearah gadis yang sejak tadi menatapnya. Memberikan sinyal kepada gadis itu bahwa ia baik-baik saja. Yeoja itu mendekat, mengulurkan lengannya untuk menyambut tubuh lemah Chanyeol.

“ lalu, apa keputusanmu… oppa” Chanyeol merasakan semilir angin menerbangkan beberapa helai rambutnya. Membuatnya sedikit mendongak melihat Mikyu yang sepertinya tidak merasakan apapun. Chanyeol menatap gadis itu gusar.

“ oppa sudah mendapatkan jawabannya kan? Kureom, oppa harus menepati janji oppa padaku”

“ ne, aku…. akan menepatinya”

^^^^^^^

 

Hyunhae merasakan matanya melebar menatap bangunan tiga tingkat didepannya. Sekolah mereka, saat Junior High School. Saat ini hari sabtu, hari dimana siswa-siswa memanjakan diri dengan bangun terlambat ataupun sengaja tidur seharian penuh.

Kris menatap sekolah lama mereka sambil tersenyum. Tempat ini, tempat pertama kali ia melihat Hyunhae. Saat gadis itu dengan beraninya membantah perkataan seniornya saat acara Masa Orientasi Siswa berlangsung. Dan saat itu jugalah Kris mulai menyimpan perasaan padanya.

Namja itu menyodorkan selembar kain berwarna pink kearah Hyunhae.

“ kau masih menyimpannya oppa?” Hyunhae tersenyum simpul, memandangi sapu tangan yang dulu iya berikan kepada Kris. Sebagai ucapan terima kasih untuk kakak terbaik yang ia pilih saat orientasi siswa. Kris mengangkat ujung bibirnya, dengan perlahan ia menggangguk.

“ kau mendapatkan banyak hadiah dari juniormu waktu itu kan. Hhaa. Kau benar-benar idola oppa” Hyunhae kembali tersenyum simpul, membuat Kris tanpa sadar mengacak lembut rambut gadis didepannya yang sekarang mulai mendesis kesal.

“ ck, sudah cukup anginnya saja yang mengacak rambutku oppa” Kris tertawa, tanpa sadar. Membuat lamunan Hyunhae jatuh kepada cerita cinta mereka 3 tahun yang lalu, saat ia membuat lelucon yang menurut Kris sangat lucu. Hyunhae terdiam, hanya ingin memandang namja itu lama.

“ waeyo??” Kris meraba wajahnya. Namja itu berpikir Hyunhae melihat sesuatu yang aneh pada wajahnya mungkin. Hyunhae menggeleng, ia menarik ujung bibirnya. Perlahan gadis itu mengedarkan pandangannya ke segalah arah ditaman sekolah itu. Terlalu banyak kenangan yang muncul. Dan perlahan, ia melihat bayangan Chanyeol yang sedang tertidur diatas kursi taman didepan mereka. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat, berusaha mengenyahkan bayangan Chanyeol dari pikirannya.

“ Hyunnie,”

“ ne”

Hyunhae merasakan sesuatu menarik poninya, membuat pandangannya menjadi dua kali lipat lebih jelas. Yeoja itu mengangkat tangannya, meraba sesuatu yang diletakkan Kris diatas kepalanya. Jepit rambut?

“ kau ingat pernah mengatakan kepadaku bahwa kau menginginkan jepitan rambut yang pernah kita lihat didaerah Dongdaemun?” Hyunhae membulatkan matanya. Ia tidak percaya Kris masih ingat dengan ucapannya saat itu. Gadis itu menatap Kris yang tersenyum.

“ sebenarnya aku ingin memberikannya kepadamu sebelum aku berangkat, tapi aku tidak sempat bertemu denganmu waktu itu” namja itu tertawa. menututpi perasaan bersalahnya. Tanpa ia sadari Hyunhae telah menatapnya gusar, yeoja itu bingung. Ia benar-benar mencintai namja didepannya ini. Ia bahkan pernah berniat bunuh diri saat namja ini meninggalkannya. Perlahan ingatan-ingatan kecil hinggap  dikepalanya.

 

“ Hyunnie-yah, maukah kau menjadi kekasihku?”

“ oppa, tulisanmu jelek. Biar aku saja yang menulisnya”

“ Hyunnie-yah, bagaimana kalau kita makan bulgogi eohh? paegobba”

“ taraaaa, es krim strawberry vanilla. Apakah nona bersedia mencobanya???”

 

“ mianhae Hyunnie-yah” Hyunhae mengangkat kepalanya, meninggalkan khayalan yang mulai berterbangan diingatannya. Gadis itu menggangguk.

“ ne” Kris menatap Hyunhae tak percaya. Ada binar bahagia dibola matanya saat Hyunhae menggumamkan kalimat singkat itu kearahnya. Kris mengulurkan tangannya, menarik Hyunhae kedalam pelukkannya. Perlahan Hyunhae merenggangkan jarak diantara keduanya, berusaha menatap dalam ke mata Kris. Ia perlu berbicara jujur kepada namja itu, tentang perasaannya.

–skip—

 

Chanyeol memandang jendela kamarnya sekali lagi, melemparkan pandangannya jauh keluar kamar. Kearah jendela kamar yang masih terbuka lebar. Banyak yang ingin ia sampaikan kepada gadis itu sebenarnya. Tentang perasaannya, yang pasti. Tapi ia sudah berjanji secara jantan waktu itu, jadi tidak mungkin ia melupakannya begitu saja. Ia sudah berusaha merelakan gadis itu dengan namja yang ia pilih.

“ oppa sudah siap?” Chanyeol menolehkan kepalanya kearah Mikyu diambang pintu. Gadis itu sudah mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih casual. Kalau ia kembali dengan baju seperti saat festival tadi, bisa-bisa ia dibunuh. Chanyeol tersenyum membayangkannya, membuat Mikyu menyerengit aneh.

“ oppa”

“ ne, aku siap Mikyu-ahh”

Namja itu menutup jendela kamarnya, melangkah mendekati Mikyu. Dengan gerakan pelan, ia menutup pintu kamar, meninggalkan semua kenangan manis yang pernah ia buat dikamar itu. Selama 7 tahun, bersama gadis yang sekarang ia relakan bersama pria yang ia cintai. Perlahan ingatan-ingatan tentang gadis itu hinggap dikepalanya secara random.

 

“Ya! Park Chanyeol. Aku hanya jatuh dari sepeda, berhenti menangis seperti yeoja begitu”

“ Aku tidak mau pulang. Omma jahat, guru privat itu jahat dan kau juga jahat kalau menyuruhku pulang”

“ Ya! Park Chanyeol, kau tidak tahu bagaimana aku menyisir rambutku tadi pagi”

 

Namja itu mendesah, sembari masuk kedalam limosin yang telah menunggunya sejak tadi ia terus mengingat beberapa gelintir kenangan yang pernah ia lakukan dengan yeoja itu.

 

 “ bagaimana aku akan tidur kalau kau menelponku terus??”

“ kau masih mau menerima bantuan ‘sibodoh’ eoh?? Dasar tower man”

“ dia kembali Chanyeol-ah. Dia kembali, dan aku,,, aku masih mencintainya”

 

Chanyeol  memejamkan matanya. Ia tidak ingin mengingat hal-hal seperti itu, hal-hal yang menjelaskan kalau Hyunhae sama sekali tidak mencintainya. Namja itu menghela napasnya gusar.

“ oppa, kau mau merubah pikiranmu?”

Chanyeol menatap mata yeoja yang berbicara kearahnya seperti berkata ‘ are you kidding me?’ dan hanya dibalas tatapan sendu gadis dihadapannya.

“ aku tahu kau gusar, aku akan membatalkannya kalau kau meminta”

“ aku sudah janji padamu Mikyu-ah”

“ annyia, oppa apa berkata jujur sangat susah untukmu? Kalau kau suka katakan suka, kalau tidak katakan tidak. Kalau kau mau pergi katakan pergi, kalau tidak katakan tidak” Chanyeol membalas pernyataan Mikyu dengan sorot mata lirih, namja itu masih berperang dengan hatinya.

“ dia sudah menemukan namja yang tepat untuknya”

“ annyia, apa oppa tau bagaimana pandangannya setiap melihat kita bersama? Apa oppa tau bagaimana tatapannya ketika melihatku lewat? Dia mencintaimu oppa, bukalah matamu”

“ Mikyu-ah”Tanpa mendengar pendapat keras kepala Chanyeol, gadis itu menekan tombol kecil didekatnya dan berujar pelan.

“ kembali ketempat awal”

“ Ya! PARK MIKYU”

—–

 

Hyunhae melepaskan high heelsnya dengan tidak sabaran. Ia sudah berada disekitar perumahan mereka sekitar jam 7 malam. Gadis itu mendesah saat melihat lampu-lampu didalam rumah Chanyeol telah mati dan gerbang utama yang telah.. terkunci. Gadis itu menerobos memasukki rumahnya, menatap semua anggota keluarganya yang menungguinya dengan cemas.

“ appa, eomma, oppa”

“ kemana saja kau?”

Hyunhae menggenggam erat heels putihnya dengan takut saat D.O berteriak kencang kearahnya. Namja itu terlihat begitu marah.

“ oppa, aku..”

“ dia sudah pergi Hyu. Pesawatnya juga sudah terbang” Hyunhae menangkap nada kekesalan disuara appanya, perlahan gadis itu merosot ditempatnya berdiri. Membuat sang omma mendekat kearahnya panik kemudian mendekapnya.

Hyunhae merasakan napasnya tercekat, ia berusaha sekuat tenaga mengisi paru-parunya dengan semua udara disekitarnya. Tapi nihil, Chanyeol membawa separuh jiwanya pergi. Bersamanya, ke California.

Hyunhae merutukki tindakan bodohnya yang menjauhi Chanyeol belakangan ini. Merutukki kebodohannya yang mengisi semua memori diotaknya dengan namja itu, Kris. Ia melupakan Chanyeol, orang yang selalu ada untuknya. Orang yang selalu menghawatirkan keadaannya. Orang yang selalu ia butuhkan. Yeoja itu mengalihkan ingatannya kebeberapa jam yang lalu saat ia dengan sekuat hati membulatkan keputusannya.

 

“ Hyunnie-yahh, aku masih mencintaimu” Hyunhae menatap ke manik mata namja didepannya, ia sudah tidak terkejut mendengar pengakuan namja itu.

“ oppa, ada yang harus kau tahu. Sebenarnya, aku sangat mencintaimu. Sangat besar” Kris menatap Hyunhae dengan senyumnya, namja itu menggenggam kedua tangan Hyunhae yang mendingin.

“ lalu?”

“ aku tidak bisa” Kris membalas tatapan sendu Hyunhae dengan kaget. Hyunhae melepaskan gengaman tangan Kris perlahan, menatap namja itu dan tersenyum.

“ aku.. membutuhkan namja lain untuk tetap disisiku. Aku tahu, aku tidak boleh egois dengan menginginkan kalian berdua”

“ Hyunnie”

“ aku mohon, maafkan aku sunbae” mata Kris memanas. Ia ingin sekali mendengar yeoja itu memanggilnya ‘sunbae’ seperti mereka saat berpacaran dulu. Yang sempat membuat Hyunhae berpikir bahwa itu adalah alasan namja itu meninggalkannya. Mana ada orang yang berpacaran masih memanggil pacarnya sunbae??

“ Hyunnie, aku tahu. Aku begitu bodoh telah meninggalkanmu dan membuatmu bergantung pada namja lain bukan padaku. Dan aku rasa ini balasan yang pantas untuk semuanya”

“ sunbae,,”

“ kuharap Chanyeol membahagiakanmu”

“ eoh, bagaimana…. sun..bae tahu?”

“ kau bahkan sudah menyukainya sebelum kau menyukaiku dan aku tahu ia juga menyukaimu. Maaf, aku terlalu memaksakan diri untuk berdiri diantara kalian berdua waktu itu”

“ hah?”

 

Dan Hyunhae ingat bagaimana Kris membawanya dengan kecepatan yang begitu tinggi ketika kedua orang tua Hyunhae menelpon dan mengatakan Chanyeol akan pindah ke California. Gadis itu mendesah, ia tidak ingin Chanyeol meninggalkannya seperti Kris dulu. Ia tidak tahu harus bergantung pada siapa lagi selain pada namja itu.

Perlahan ia merasakan getaran pada tas tangannya. Gadis itu merasakan ommanya menguraikan pelukannya, membiarkannya membaca pesan singkat yang masuk ke handphonenya. Nomor baru.

 

From : 011-267-***-***       

Dia menunggumu, disekolah

 

Hyunhae menghapus bulir bening dipipinya. Gadis itu menatap keluarganya bergantian sebelum berlari meninggalkan rumah tanpa alas kaki, membuat semua anggota keluarganya berteriak panik.

Gadis itu tak memikirkan apapun lagi, kecuali berharap bahwa yang dimaksud pesan itu adalah namja yang baru saja ia tangisi. Hyunhae menatap awan malam yang gelap, menemaninya berlari tanpa henti hingga gerbang usang sekolahnya terlihat oleh matanya. Disana, didalam sana ia mendapati namja itu menyenderkan punggungnya di depan lobby, dengan kedua tangan masuk kedalam saku jeans yang ia kenakan. Hyunhae merasakan matanya memanas saat pandangannya bertemu. Keduanya terdiam, membiarkan satu sama lain menatap dengan kerinduan dan kebahagian yang amat dalam.

Perlahan pula, keduanya melangkah sedikit demi sedikit hingga keduanya benar-benar berada dihadapan masing-masing. Memandang mata masing-masing yang menangis. Chanyeol menahan tangisnya, perlahan namja itu mengulurkan tangannya yang kedinginan. Menyentuh pipi Hyunhae yang memerah, namja itu menghapus bulir air mata Hyunhae yang telah berhasil membuat matanya sembab.

Hyunhae, dengan gerakan pelan menahan tangan namja itu dipipinya. Menarik tangan Chanyeol kedepan bibirnya dan menciumnya. Membuat namja itu langsung mendekap gadis itu kedalam pelukannya.

Keduanya menangis, semakin jadi saat perlahan Chanyeol menarik kepalanya dan mencium kening Hyunhae lembut dan lama. Membiarkan gadis itu memejamkan kedua bola matanya. Chanyeol membiarkan tangan Hyunhae melingkari pinggangnya.

“ saranghae”

Dan gadis itu malah menangis semakin jadi didalam dadanya. Membuat Chanyeol panik bukan main.

“ kau bodoh bodoh” Hyunhae meninju-ninju dada Chanyeol dengan lemah, membuat namja itu hanya memandangnya bingung tak mengerti.

“ kenapa kau membiarkanku bersama Kris oppa kalau kau mencintaiku? Kau bodoh Chanyeol-ah kau bodoh” Hyunhae kembali menumpahkan air matanya, gadis itu menarik tangannya dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Membuat Chanyeol dengan sigap menarik tangan itu dan membiarkan Hyunhae menangis dihadapannya.

“ kupikir kau mencintainya, jadi aku..”

“ aku memang mencintainya,” Chanyeol menatap Hyunhae yang sekarang malah berusaha menghapus air mata yang mengalir dipipinya. Namja itu menyerengit.

“ tapi aku membutuhkanmu untuk berada disisiku Yeolli-ah, selamanya” Chanyeol mengerjap, menatap mata Hyunhae yang telah lama sembab. Gadis itu perlahan memajukan wajahnya kearah Chanyeol, namun namja itu malah memundurkan kepalanya.

“ pabbo” Chanyeol menjitak kepala Hyunhae pelan. Tidak susah untuknya yang memang lebih tinggi dari yeoja itu.

“ dimana-mana yang mencium duluan itu namja. Jangan pernah sekali-kali berbuat begitu kepada namja lain. Arra?” dan belum sempat gadis itu menjawab, Chanyeol sudah menarik dagu Hyunhae keatas dan menempelkan bibirnya kebibir gadis itu. Bibir lembut Hyunhae menyapu lembut bibirnya, membiarkan hidung gadis itu menyentuh hidungnya. Perlahan, Hyunhae kembali melingkarkan tangannya dipinggang Chanyeol.

“ oppa, opss” Hyunhae tersentak, dengan cepat ia mendorong Chanyeol kearah dinding. Membuat namja itu meringgis pelan.

“ Ya! Park Mikyu, ck.. tidak sopan”

“ mianhae, siapa suruh melakukan hal seperti itu dilobby” Hyunhae menunduk malu, tanpa ia sadari sepasang sepatu telah bertengger manis didekat kakinya. Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Mikyu yang tersenyum simpul.

“ kulihat kau tidak memakai alas kaki tadi saat kesini. Semoga pas dengan ukuran kakimu kakak ipar”

“ eoh? Ka..kak ipar?”

“ hm, dia adik tiriku, Park Mikyu. Hyunhae-yah, kau tidak tahu?”

“ annyia” Hyunhae menggeleng, menatap kedua orang itu bergantian. Park Chanyeol, Park Mikyu.

“ kau tidak pernah cerita padaku”

“ aku baru menjadi adik tirinya setahun yang lalu. Omo!!!  Apa kau berpikir aku adalah yeoja yang sedang berkencan dengan Chanyeol oppa, kakak ipar?”

“ eoh? Benarkah Hyunhae??? Tapi,, Ya! Siapa yang mau berkencan dengan yeoja sepertimu. Hanya sibodoh Baekhyun mungkin”

“ Ya! Ya! Mworago? Kau mau mati Park Chanyeol. Tidak ingat kalau aku yang menolongmu tadi??” Hyunhae tersenyum melihat perkelahian kecil kakak beradik didepannya. Gadis itu hanya tersenyum samar saat Chanyeol beringsut mengenggam tangannya. Genggaman hangat yang begitu ia rindukan.

“ ck, beraninya hanya berlindung dibelakang yeoja” Perlahan Hyunhae menyadari Mikyu telah berjalan kearah limosin yang terparkir diluar sekolah dengan kesal. Meninggalkannya dengan Chanyeol yang masih larut dalam tawa. Chanyeol menolehkan kepalanya, melirik Hyunhae yang sudah tampak lebih baik sekarang.

“ saat ini kau memang hanya membutuhkanku Hyunhae-yah tapi suatu saat nanti kau akan membutuhkanku sekaligus mencintaiku. Aku janji” Hyunhae tersenyum, namja itu berusaha menggombalinya kah??

“ dan, mau dilanjutkan? Maksudku yang tadi terputus”

“ ck, dasar yadong”

“ Ya! Kenapa kau jahat sekali pada namchin mu sendiri?”

“ ck, berhentilah bersikap seperti itu Park Chanyeol. Sudah tidak cocok dengan usiamu”

“……”

“ Ya! Ya! Ya! Kau marah eoh? Baiklah aku akan mentraktirmu es krim?”

“ pabbo, malam-malam dingin begini kau mengajakku makan es krim?”

“ Ya! PARK CHANYEOL …..BERHENTI MENGATAIKU BODOH. DASAR TOWER MAN”

“ Ya! Mwondae?”

 

FIN~~~

 

 

thanks buat readers yang udah nunggu dan ngikutin FF ini. apa ada yang nungguin cerita author selanjutnya? #plak #PD

#BowbarengSuho

Iklan

74 pemikiran pada “I Love Him, But I Need You (Chapter 2)

  1. Daebak . . . Akhirnya mereka bersaatu.lucu, so sweet berasaatux mereka. Kris wu kshan sma Ω̶̣̣̥̇̊ќ͡ʊ̤̥̈̇ ăjĴ⪪ªħ ya. Plak emg kris ♏ăăª◦°˚˚°◦ǚǚ. ┡┦a◑.◑҉=D┡┦a◑.◑=))҉┡┦a◑.◑ .

  2. Memilih sesuatu yang paling dibutuhkan atau yang paling diinginkan..
    Keren bagus banget ide + ceritanya thor!! God job.
    Sulit emang milih orang yg dibutuhin atau yg dicintain.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s