Bad Girl (Chapter 2)

Title            : BADGIRL

Author        : @EunriPark

Main Cast   : Kim Jong-In, Park Eunri, Oh Sehun, Cho Kyuhyun.

Support Cast        : EXO, SJ.

Genre                   : Romance, Friendship

Length        : Multi Chapter

Rating                  : PG13

A complicated story I think -_- Heylow again! Ada Sekai shipper gak disini? Cometome! XD #plak enjoy please u,u

*****

“Kyuhyun hyung?”

Kai sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai formalitas untuk pertemuan dengan sunbae-nya ini. Dia baru saja akan mendekat kearah pria itu untuk sedikit mengobrol dan berbasa-basi, mungkin, saat tangan Eunri tanpa diperintah langsung menarik pergelangan tangan Kai yang dingin dan menggenggamnya erat, terlalu erat sampai Kai menolehkan kepalanya dan menatap gadis itu heran. Membuatnya sedikit merasa sakit pada bagian dada kirinya saat gadis itu menunduk dalam dan terlihat sangat lemah sekaligus rapuh mungkin hanya karena mendengar nama pria itu.. lagi.

Cho Kyuhyun. Magnae Super Junior itu memang dikabarkan mempunyai seorang kekasih. Kai mungkin hanya mencibir, menganggap gadis itu hanya mengada-ngada dulu saat Eunri dengan santainya mengatakan pada dirinya bahwa gadis itu adalah mantan kekasih Cho Kyuhyun yang disebut-sebut itu, tapi tidak saat ini, saat kenyataan mengatakan bahwa gadis itu tidak membual. Lalu sebuah pertanyaan menakutinya kini; apa gadis ini, masih menyukainya? Menyukai pria itu? Pria yang berjarak hanya beberapa langkah dari posisinya kini? Menilik respon tubuh gadis itu saat mendengar namanya saja sudah seperti ini, siapapun akan tahu jawabannya.

Kai menggigit gigir bawahnya perlahan, ia sama sekali tidak ingin kehilangan gadis ini yang begitu kuat menggenggam tangannya, ia sama sekali tak ingin. Sepertinya Cho Kyuhyun merupakan masa lalu yang begitu terpatri dalam kehidupan gadis ini, dan bukan tidak mungkin jika gadis ini memilih untuk kembali pada masa lalunya itu.

“Ayo pergi,” ujar gadis itu amat pelan, ia menarik tangan Kai menuju motor-nya yang terparkir asal tak jauh dari posisinya saat ini. Eunri menarik turun hoodie jaket Kai hingga menutup hidungnya, masih berpegang erat pada pergelangan tangan pria itu.

“Jong-In?” Kai menghentikan langkahnya saat suara berat itu menyebutkan namanya. “Dan.. Park Eunri?” lanjutnya dengan nada menusuk, membuat Kai otomatis menoleh dan tersenyum dingin kearah Kyuhyun, merasakan bagaimana tubuh gadis itu menegang dan semakin mengeratkan genggaman tangannya meminta kepercayaan.

“O, Kyuhyun~ssi,” ujar gadis itu berusaha terlihat baik-baik saja, “Senang bertemu denganmu.. lagi,” lanjutnya tanpa sama sekali berminat untuk menoleh sedikitpun.

“Kajja, Jong-In~a.” suara lembut itu membuat Kai kembali berpijak pada dunianya, dia melambaikan satu tangannya kearah Kyuhyun yang masih menatap dirinya dan Eunri dengan sorot yang sama sekali tak bisa diartikan, lalu berjalan perlahan kearah motornya setelah mendorong pelan punggung gadis didepannya dan menaiki motornya.

Jong-In masih sempat melirik Kyuhyun dan seorang gadis yang tak ia kenal itu dari spion motornya sebelum akhirnya dengan segala resiko memilih untuk menerjang hujan dan mengantarkan Eunri ke rumahnya. Melihat dengan jelas bagaimana sorot mata pria itu terpaku pada satu objek yang kini duduk dibelakangnya.

“Ern, pegangan,” ujar pria itu agak keras sebelum menarik kupling dan mengoper ke gigi rendah, kemudian mempercepat laju motornya. Kai memejamkan matanya sebentar saat merasakan tangan gadis itu yang melingkar diperutnya dan kepalanya yang menyandar dipunggungnya yang mulai basah. “Masa lalu itu.. seberapa besarpun usahaku untuk menghapusnya aku tidak pernah bisa, dan aku lelah untuk mencoba.” Kai hanya bisa diam, perkataan itu terlalu jelas maknanya untuk dimengerti, ditengah-tengah hujan yang kini mulai mereda dan angin kencang yang berhembus disekitar mereka, ia membiarkan rasa sesak yang menjalar menahan paru-parunya untuk menarik nafas. Pria itu mempercepat laju motornya. Semakin cepat. Gadis ini, gadisnya, belum bisa melupakan pria itu, Cho Kyuhyun, kepingan dari masa lalunya. Dan sial, memangnya apa yang bisa dia lakukan?

*****

Park’s House, Gangnam.

 

Kai memberhentikan motornya dihadapan sebuah rumah megah yang disinyalir tempat tinggal gadis itu. Rumah yang sudah sangat ia kenal karena dia memang sudah bersahabat dengan gadis ini sejak lama. Dia membuka helm-nya dan nyaris turun dari motornya jika saja ia tidak merasakan kepala gadis itu yang nyaris jatuh bersamaan dengan punggungnya yang bergerak. Jangan bilang kalau gadis ini..

“Eunri~ya?” Ujar pria itu pelan. Kai lalu memutar bola matanya karena tak mendapat respon. Astaga, bagaimana bisa gadis itu tertidur dengan posisi seperti itu?

“Yak bangun bodoh!” teriak pria itu dengan nyaringnya, membuat gadis itu langsung menjitak kepalanya, dan menjerit sakit karena yang dihantamnya barusan adalah helm bukannya kepala pria itu yang biasa dijitaknya.

Eunri mengibas-ngibaskan jemarinya, “Ini dimana? Kenapa kau selalu mengganggu tidu—” Eunri menghentikan ocehannya saat merasa familiar dengan keadaan disekitarnya. Ia membuka helmnya dan mengucek-ngucek matanya yang terasa perih. Gadis itu turun dari motor dan terjatuh kehilangan keseimbangan karena merasakan kepalanya berat.

Ia meringis kecil dan merasa gugup saat sadar bahwa Kai kini merengkuh pinggangnya, mengalungkan tangan gadis itu dilehernya sendiri dan membantunya berdiri, memapahnya berjalan masuk ke kediaman Park itu dan mendudukkannya dikursi panjang yang terdapat disamping pintu utama rumah itu. “Gwenchana?”

Eunri baru saja menyadari bahwa rambut pria itu basah dan berantakan sekali, bukan apa-apa tapi hal itu membuatnya menjadi sedikit.. seksi? Dianggukkannya kepalanya beberapa kali, tapi tiba-tiba saja ia merasakan perih dibagian lututnya. Gadis itu meringis lalu menggigit bibir bawahnya, “A-aku baik-baik saja,” katanya berbohong.

“Lain kali hati-hati, bodoh! Keseimbangan tubuhmu itu payah sekali,”

Eunri mendengus, “Berhenti mengataiku bodoh! Tadi kepalaku pusing.. kau tahu sendiri kan hawa dingin itu memusuhiku.”

Kai meraba dahi gadis itu dengan punggung tangannya, “Kau demam,” simpulnya setelah merasakan hangat yang menjalar.

“Aku hanya butuh tidur,” ujar gadis itu asal, “Aa-akh sakit bodoh!” pekiknya keras lalu menendang udara kosong disekitarnya saat pria itu berlutut didepan gadis itu dan menekan lutut gadis itu dengan telapak tangannya. Kai nyengir tanpa merasa bersalah, “Rasakan!”

“Dengar Kim Jong-In aku akan memakan kepalamu setelah ini,” ujar dingin gadis itu yang kembali disambut oleh tawa kencang pria dihadapannya.

“Eunri~ya,” Kai berdiri setelah berhasil menghentikan tawanya dan duduk disamping gadis itu, mengacak-acak rambut gadis itu gemas. “Nyalakan ponselmu, ne?”

Eunri meniup poninya, “Terserah aku dong, hp hp aku!?” ujar gadis itu lalu tertawa manis menyadari ekspressi merengut dari Kai. “Ne, ne, jangan manyun seperti itu bodoh! Dasar jele—”

“Ya! Ada apa ini kenapa berisik sekali?” tepat setelah pintu terbuka, nyonya Park muncul dengan pakaian tidurnya.

“Astaga Eunri~a, ayo bawa teman-mu mas—Kai?” pekik nyonya Park heboh setelah tahu siapa teman putrinya itu, lalu mendekat kearah Kai dan duduk anggun disampingnya. “Aigo~ya! Kau pasti sibuk dengan debut-mu itu ya? Seingatku dulu kau tak sekurus ini,” ujarnya setelah puas memainkan pipi pria itu dan Kai hanya bisa meringis pasrah.

Eunri tertawa puas, ibunya itu memang selalu update dengan K-wave, mengalahkan dirinya sendiri. “Dan kau menjadi tinggi sekarang! Lihat! Gadis itu pendek sekali,” dan kini Kai yang menunjukkan ekspressi mencibirnya pada gadis itu.

“Eung, disini dingin. Ayo masuk dulu?” tawar nyonya Park ramah, Kai dan Sehun memang sudah kenal dengan baik dengan keluarga ini karena dulu mereka sering berkumpul bersama disini, menghambiskan waktu dengan bermain PS atau sekedar menikmati malam diatas rooftop.

Kai menggeleng ringan, “Aniya, sudah malam, aku harus pulang hehe, gomaweo ahjumma,” Kai memijat tengkuknya, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit. “Kalau begitu saya permisi dulu, Ern, ahjumma. Anyeonghi gaseoyo~”

“Hati-hati, Kai~a.” ujar nyonya Park, sementara Eunri hanya menatap punggung pria itu yang semakin mengecil dan pasti sebentar lagi menghilang, dan benar-benar menghilang setelah suara mesin motornya kini terdengar samar. “Eomma,” desis gadis itu nyaris tak terdengar menyadari tatapan lurus eomma-nya kearah jaket yang kini menggantung dibahunya, “Dia kekasihku.” Katanya dingin lalu masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan lagi ekspressi ibu-nya yang terheran-heran dibuatnya itu. “Ya! Eunri~ya! Jadi Cho Kyuhyun untuk eomma? Begitu?”

Eunri mendesah putus asa menyadari jiwa fangirl eomma-nya itu kambuh. Baiklah, Park Ri-Ah memang seorang ELF Sparkyu, dan dia juga single parent saat ini. Tapi tetap saja, omona, Cho Kyuhyun… “ANDWAE!” Teriak gadis itu setelah mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

“Yak! Kau itu serakah sekali Park Eunri!”

Eunri mengelus-ngelus dadanya lalu berbalik, berkacak pinggang dan melotot kearah eomma-nya itu yang kini bersandar santai pada ujung pintu. “SHIREO! Eomma, ingatlah berapa umurmu! Lagipula aku tidak ingin dia menjadi appa-ku! Aisssh yang benar saja!”

*****

SMEnt, Practice room

 

Sehun terlihat sibuk dengan dunianya sendiri yang kini terpusat pada handphone miliknya, ia tersenyum bahkan tertawa nyaring hanya karena melihat layar ponsel itu. Tidak sebenarnya, mungkin karena apa yang ditampilkan oleh layar itu. Latihan siang itu memang sudah berakhir beberapa menit yang lalu dan Sehun masih betah duduk dilantai sambil sesekali meneguk air mineralnya.

Ia menempelkan benda itu ketelinganya setelah menekan tombol hijau untuk menghubungi seseorang, “Kau benar-benar cari mati,”

Sentakan itu lagi-lagi membuatnya tersenyum sinting. “Suaramu indah, seperti bidada—”

”Jangan lanjutkan Oh Sehun kau membuatku ingin memuntahkan lagi sarapanku!”

“Baiklah tapi jangan katakan kau belum memakan obatmu? Yak tunggu, tunggu! Ini jam 11 siang dan apa kau bilang? Sarapan?”

“Aku baru saja bangun dan menghabiskan sarapanku Sehunnie, tidak usah protes, kau tersangkanya!” sungut gadis itu, “Dan jangan berlebihan tuan, aku hanya demam aish! Aku tidak suka namja bawel~”

Sehun mendengus, tadi malam mereka memang texting ria entah sampai jam berapa hingga akhirnya gadis itu mengakhirinya secara sepihak.

“Ngomong-ngomong kemana si coklat itu?”

“Hey ayolah aku selingkuhanmu saat ini dan kau menanyakan keberadaan pria itu? Wtf?” katanya dengan nada geli, dan ia melanjutkan kalimatnya setelah mendengar dengus gadis itu disebrang. “Dia dipanggil oleh SooMan sajangnim, kau tahu kan dia itu dancer favorite-nya,”

“Lalu member yang lain?”

“Suho hyung bilang mereka akan makan siang, entahlah sepertinya Baekhyun hyung kalah taruhan jadi dia yang men-traktir,” jawab Sehun panjang lebar disambung dengan kekehan kecilnya.

“Kau tidak ikut? Tumben sekali!” cibir Eunri, “Sebenarnya aku juga disuruh untuk menemui ahjusshi siang ini,” curhat gadis itu, sementara Sehun hanya mengangguk walau gadis itu tidak bisa melihatnya.

“Lalu kenapa kau tidak kemari? Eng, dengan begitu kau bisa melihat wajah tampanku hahaha—” kata Sehun, “Tapi jangan memaksakan diri. Diam saja dirumah sampai tubuhmu benar-benar pulih, arra?”

“Ne, tuan sok mengatur,” cibir gadis itu yang membuat Sehun mau tak mau lagi-lagi tertawa. “Jadwal kalian kosong lagi hari ini?”

Sehun menganggukan kepalanya pelan, “Ne, kata manager hyung kami perform besok di KBS Music Bank,”

“Jika sempat, pulang sekolah aku akan mampir ke gedung KBS dan menonton, mungkin. Ada fansign juga tidak?” ucap gadis itu yang membuat Sehun otomatis menyunggingkan senyum simpul. Entahlah kenapa rasanya sesenang ini. Pemuda itu menoleh dengan cepat saat seseorang membuka pintu ruangan latihan itu dan mendekat kearahnya.

“Sepertinya tidak. O, Kkamjongie!” sapanya hangat lalu menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya. “Apa yang dikatakan Soo-Man sajangnim?” tanyanya kemudian.

“Itu rahasia pabo, memangnya apa yang kau ingin tau hah?” semprotnya yang membuat Sehun langsung menjitak kepala pria itu dengan tangannya yang bebas. Kai hanya mendengus kecil dan membuka tutup botol air mineral yang terdapat disamping pria itu lalu bersiap meminumnya.

“Kau dengar Ern? Jong-In-mu ini menyebalkan sekali! Aku heran kenapa dia yang menjadi—yak!”

“Ern, kau disana?” Kai meneguk air mineral didalam botol santai setelah barusaja merebut ponsel Sehun dan memberikan bonus pada pemuda itu dengan sebuah jitakan tepat dikepalanya.

“Ye, aku disini. Wae? Already miss me?” celetuk gadis itu yang membuat Kai mencibir keras, “Dalam mimpimu saja! Hey nona, kau sudah meminum obatmu? Ah aku rasa percuma saja bertanya, jawabannya pasti tidak. Kau benci sekali dengan rasa pahit itu, ‘kan?”

“Setidaknya beristirahatlah dengan baik, jangan menghabiskan malammu dengan acara tidak penting seperti malam tadi. Kau pikir aku tidak tahu hah?” ujarnya tajam, dan setelah itu Kai langsung berdiri dan melemparnya kearah Sehun yang masih menatapnya cengo, seperti itu caranya memperhatikan seorang gadis? Tapi.. sepertinya Park Eunri memang menyukai cara seperti itu. Sepertinya.

“Sehun~ah, ayo latihan lagi! Ada sedikit gerakan dance yang diubah untuk besok. Yang lain juga sedang dijalan menuju kesini.”

“Ya ya. Latihan lagi saja Sehunnie! Hwaiting!” ujar gadis itu dengan nada sebal dari sebrang, kemudian tak sedetik setelah itu sambungan terputus.

*****

Ern’s Room, 3 days later

 

Gadis dengan seragam SOPA itu masih betah berdiam didepan laptopnya sejak beberapa jam kebelakang tanpa merasa pegal sama sekali. Kau tahu apa yang dia lakukan? Stalking. Dia baru saja sembuh total kemarin, dan itu membuatnya menggagalkan seluruh susunan acaranya, gadis itu bahkan baru kembali ke sekolahnya tadi pagi setelah absen dua hari kemarin. Sebenarnya sakit bukanlah alasan utamanya mengingat gadis itu hanya sedikit demam dan sakit kepala biasa. Malas, mungkin kata yang lebih tepat. Hal seperti ini.. adalah kesempatan langka untuknya.

Gadis itu mendengus entah untuk keberapa kalinya saat melihat video focused Kim Jong-In yang didapatkannya dari salah satu fansite stalker pria itu. “Senyumanmu itu terlalu lebar Kim Jong-In,” ujar gadis itu seraya menutup laptopnya sekali hentak, ia lalu menjatuhkan tubuhnya kebelakang dan beberapa kali mendengus, merasa kesal sendiri dengan apa yang baru saja dilihatnya. Baiklah, kembali pada kenyataan bahwa kekasihnya itu adalah seorang artis dan.. public figure. Sudah seharusnya ia bersifat seperti itu, tersenyum ramah pada semua orang apalagi yang berstatus sebagai fans-nya. Tapi tetap saja.. apa senyumnya harus selebar dan.. semanis itu? Cish, menyebalkan sekali! Aku sendiri saja, sebagai kekasihmu, jarang sekali mendapatkan senyum yang seperti itu darimu, Kai pabo!

Eunri bangun dan dengan cepat mengganti seragam sekolah-nya dengan kaos yang sedikit longgar dan celana pendek beberapa cm diatas lutut. Ia melihat pantulan dirinya sendiri pada cermin besar yang terdapat disamping jendela kamarnya. Gadis itu mengangkat rambutnya sendiri keatas dengan tangannya, lalu memiringkan kepalanya dan kembali menatap refleksinya dengan seksama. Belakangan ini dirinya selalu membiarkan rambutnya tergerai, karena.. baiklah, sebenarnya ia tak ingin mengingat pria itu lagi tapi.. dulu, saat ia masih berstatus sebagai kekasih Kyuhyun Super Junior, rambutnya selalu dikuncir tinggi-tinggi karena Kyuhyun bilang dia cantik jika rambutnya diikat, selain itu Kyuhyun bilang.. dia suka lehernya.

Gadis itu tersenyum pahit, mengingat bagaimana arrogant-nya pria itu. Cara pria itu mengekangnya, menatapnya.. sialan, semuanya masih tergambar jelas dikepalanya tanpa terlupa sedikitpun. Dan, melepaskan diri dari kekangan pria itu yang sebenarnya ia sukai itu, Eunri tak tahu bahwa rasanya akan sesakit ini, seperti ada ruang hampa yang mengambil alih diri dan cara berpikirnya. Seperti sebuah kenyataan yang berteriak kepadanya, bahwa dirinya butuh pria itu. Dan, melepaskan diri, memutuskan untuk terpisah dari pria itu merupakan satu kesalahan besar. Cho Kyuhyun… apakah seberpengaruh itu pada dirinya?

“Ganti bajumu gadis jelek, setelah ini kita ke Lotte World,”

“Mwo? Shireo! Bagaimana jika ada wartawan? Stalker? Diehard-fans-mu atau apapun itu yang bisa membunuhku dalam hitungan detik!? Aish lagipula aku malas Cho Kyuhyun, kau pikir enak rasanya memakai masker lengkap dengan kacamata hitam dan syal diterik mentari siang begini? Andwae! Kau tak bisa memaksaku kali ini!”

“Siapa yang bilang aku menerima penolakan nona Park? Kau pikir aku akan diam saja saat aku tahu seorang gadis kecil frustasi memikirkan kekasih-nya, artis yang super sibuk itu terlalu sibuk sehingga melupakan hari ulang tahun gadis itu, orang yang paling penting untuknya?”

Pria itu terkekeh kecil menatap gadis itu yang memalingkan wajahnya mencoba untuk menyembunyikan rona merah dikedua pipinya lengkap dengan ekspressi bodohnya, sial, pria itu selalu saja berhasil membuatnya seperti ini, kehilangan kendalinya. Seperti gadis bodoh yang terpesona pada pria tampan yang berstatus kekasihnya ini hanya karena suara yang keluar dari lidah tajamnya yang entah bagaimana terdengar manis ditelinga gadis itu. Baiklah, jadi pria itu mengingat hari ini? Keajaiban dunia kesekian! “Ayo cepat ganti baju, hari ini kita bersenang-senang!!!”

Ia memejamkan matanya, mencoba mengusir kenangan manis bersama pria itu yang kini berputar dikepalanya secara acak seperti gulungan kaset rusak, sesuatu yang selalu saja bisa merusak cara kerja otak kirinya dengan mudah, terasa seperti membunuhnya secara perlahan. Gadis itu memegang ujung meja rias itu kemudian sorot mata itu terarah pada sebuah photo tepat saat ia membuka matanya kembali, photo favorit-nya, photo seorang gadis yang merangkul dua orang pemuda yang menunjukkan tampang sok-kerennya sedangkan gadis itu sendiri hanya tersenyum miring kearah kamera.

Tidak, ia bukan gadis bodoh yang polos juga buta. Ia hanya.. sedikit tidak peka, mungkin. Kini, lagi-lagi gadis itu menyadari, dirinyalah yang melepaskan diri. Dirinya sendirilah yang dengan segala keegoisannya, mengakhiri hubungannya dengan Kyuhyun. Dan ia sama sekali tak perlu menyesal untuk keputusannya berbalik arah dari pria yang berumur 6 tahun lebih tua darinya itu, karena itu sama sekali tak ada gunanya. Setelah nyaris tiga bulan.. pria itu masih saja sering mendominasi isi kepalanya, nyaris tiga bulan juga gadis itu dengan segala cara yang ada menyembunyikan semuanya dari dunia. Kesedihannya, ke-stress-annya dengan menyibukkan diri mempelajari apapun yang mungkin di Seoul Performing Art School tempatnya menimba ilmu. Mungkin kinilah saatnya untuk membuka lembaran baru. Sangat terlambat, tapi lebih baik daripada tidak, bukan? Lagipula mungkin ini yang terbaik, dan gadis itu yang beberapa hari lalu ditemukannya bersama Kyuhyun.. mungkin, pria itu sudah bisa melupakan dirinya dan kini telah menemukan gadis lain. Apakah.. sebegitu mudahnya? “Pabo, keluar dari otakku!!!” teriaknya frustasi.

Setelah mengacak-ngacak rambut panjangnya, gadis itu kembali menatap penuh arti kearah sebuah benda mati dua dimensi yang memuat tiga orang anak sekolahan itu yang jika ia tidak salah diabadikan dua tahun kebelakang lewat polaroid milik Sehun, pria disamping kanan. Kedua ujung bibirnya tertarik keatas, tersenyum lembut saat tahu dengan segala kepercayaan dirinya bahwa hingga saat ini, dua pemuda dalam bingkai photo itu sama-sama menyayangi gadis ditengah-tengah mereka yang adalah dirinya sendiri.

Eunri membantingkan tubuhnya keatas ranjang empuknya dan tanpa sengaja tangannya menyentuh benda persegi panjang miliknya yang terdampar disana entah sejak kapan. Benda itu berkedip-kedip cepat tanda panggilan masuk, ia memang men-setting benda itu dalam profile silent.

“Yobosey—”

“Yak Park Eunri kau sedang apa hah? Mengangkat telfonku saja lama sekali! Giliran Sehun yang menelfon kau cepat tanggap! Nappeun!”

Eunri tersenyum tipis, “Maaf, aku baru saja ganti baju. Mwosseumnika?” ujar gadis itu pelan, entahlah kali ini ia sedang malas berdebat dengan pria itu.

“Alasan macam apa itu hah? Aku menelfonmu sejak satu jam yang lalu! Ganti baju sejam?”

“Ne.. Mian.”

“Kau.. ada apa denganmu? Aneh sekali,” ujar pria itu dari sebrang, masih mencoba mengajak perang pada gadis ini rupanya. Eunri dapat mendengar pria itu menghela nafas panjang setelah dirinya yang not responding, “Kau sudah makan?”

“Belum,” ujar gadis itu dingin. Ia memainkan rambutnya dengan satu tangannya yang bebas, “Kau sendiri?”

“Nado,” Eunri berdiam diri menunggu kalimat pria itu selanjutnya.“Kau sudah sembuh kan? Datanglah ke gedung SM, aku lapar.”

Eunri menahan nafasnya berusaha sabar, tapi suara rengekan pria itu disebrang malah membuat tekanan darahnya naik. “Ya? Jebal~”

“Yak Kim Jong-In memangnya kau pikir aku ini siapa hah? Koki pribadimu?” jerit gadis itu akhirnya, dan ia berniat mengakhiri sambungan itu ketika Kai malah tertawa kencang disebrang sana. “Baik, baik. Jangan tutup telfonnya bodoh! Aku senang kau kemali normal dengan cepa—”

“Stop teasing me Kim Jong-In jinjja Im not in mood.” Ujar gadis itu dengan nada yang sama sekali tak bisa dibantah. Kai berdehem pelan mendengar nada dingin itu, “Jadi.. kau akan datang kesini tidak? Sehun bilang dia merindukanmu.” Eunri memutar bolamatanya dan memindahkan benda persegi panjang itu ke depan telinganya yang lain. Alasan macam apa itu? Tapi sebenarnya mungkin gadis itu akan mengiyakan dengan mudah jika nama yang disebutkan pria itu bukan Sehun tapi Kim Jong-In. Menggelikan sekali bukan? “Shireo. Aku sibuk.”

“Ayolah Ern, YaTuhan kau tega sekali!” rengeknya yang membuat Eunri lagi-lagi memutar bolamatanya malas. “Dirumah tidak ada siapa-siapa kkamjongie, lagipula, kenapa kau tidak minta pada Yoona noona-mu itu saja yang jelas-jelas berada disana? Payah!”

“Mwoya? Kau cemburu?”

“ANIYA!” Selak Eunri cepat, secepat itu pula kai kembali mengggodanya.“Aaa, akui saja Ern! Kau cemburu, ‘kan?”

“Yak Kim Jong-In sialan kau aku tidak cemburu!” Eunri menghela nafas dalam-dalam mendengar tawa pria itu yang lagi-lagi menggema memenuhi indra pendengarannya. “Berhenti tertawa dan datanglah pada Yoona nuna-mu itu! Menyebalkan!!!”

Eunri melemparkan ponselnya itu asal hingga terdengar suara bantingan yang cukup keras, mungkin baterai-nya terlepas. Dan ia sama sekali tak ingin peduli. Sial, kenapa rasanya kesal sekali? Ayolah Kim Jong-In itu memang menyebalkan tapi.. sepertinya kali ini itu bukan salahnya. Gadis ini saja yang sedang labil, emosinya meledak-ledak tak terkontrol entah mengapa.

Gadis itu melemparkan beberapa bantal dan boneka yang terdapat diatas ranjangnya hingga kamar yang tadinya berantakan itu kini semakin berantakan. Ia kembali memekik nyaring setelah tak ada lagi bantal atau apapun itu diatas kasurnya yang tak bisa dilemparkannya untuk pelampiasan emosinya, “Kim Jong-In kau menyebalkan! Argh! Aku ingin membunuhmu!”

TBC

*****

Maaf semakin gaje dan part ini lebih pendek kkk~ konfliknya udah kerasa belom? Kritik saran-nya ditunggu banget ya 😀 dan aku saranin lanjutannya jgn ditungguin #plak

Aku mau minta saran nih, mending pake author POV gini terus atau pake POV main character-nya juga? O.o gamsah yang udah mau baca, apalagi yang mau komen u,u *kisseureadersatusatu* last meet me on Twitter @EunriPark ^^

Iklan

13 pemikiran pada “Bad Girl (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s