Way Back Into Love (Chapter 2)

Title : Way Back Into Love

Author             : Lee Soon Hi

Main Cast        : Yoon Eun Hee

Huang Zi Tao as Huang Zi Tao

Oh Se Hun as Oh Se Hun

Other Cast       : Kang Min Ji

Byun Baek Hyun as Yoon Baek Hyun

Kim Joon Myun as Yoon Joon Myun aka Su Ho

Xi Lu Han as Xi Lu Han

Kim Jong In as Kim Jong In aka Kai

Genre              : Romance, Friendship, Family

Rating                         : semua umur

 

Annyeong 😀 Author is back! Kembali dengan chapter 2. Sebelumnya mian klo FF ini gaje banget, banyak typo, atau yang aneh-aneh. Sekali lagi RCL ya ;), soalnya semua kritik dan saran bisa bantu author hehe….

OK, happy reading XD

***

– Author POV –

 

“Baek Hyun-a, bangunkan Eun Hee, dong,” perintah Joon Myun dari dalam dapur. Dia sedang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.

 

“Ai, kenapa si Eun Hee tidak bisa bangun sendiri, sih,” omel Baek Hyun yang sedang menonton TV.

 

“Sudah jangan banyak bicara, cepat bangunkan saja. Nanti dia terlambat seperti dulu,” kata Joon Myun sabar menghadapi tingkah adiknya itu.

“Ne,”

 

Dengan langkah gontai Baek Hyun berjalan ke kamar adiknya dan membuka pintu. Ia berjalan pelan ke arah kasur. Ia berdecak heran ketika melihat adiknya tidur dengan selimut tebal yang membelit tubuh kecilnya. Baek Hyun meraih ponsel Eun Hee yang tergeletak begitu saja di sebelah Eun Hee.

 

“Ya Tuhan. Padahal alarmnya sudah bunyi sejak 30 menit yang lalu. Kenapa belum bangun?” gumam Baek Hyun keheranan dengan pola tidur adiknya itu.

 

“Ya, Eun Hee! Bangun! Kau tidur seperti gom*! Kupanggil kau ‘Gom’ kalau kau tak bangun,” Baek Hyun mengguncang tubuh adiknya itu dengan sekuat tenaga.

 

Eun Hee yang merasa tidurnya terganggu langsung bereaksi. Ia menendang-nendang kakinya ke segala arah dengan brutal. Baek Hyun harus rela tertendang tepat di wajah imutnya itu. Setelah sadar, Eun Hee langsung terbangun.

 

“Eh? Ini jam berapa? Yak, aku hampir telat!” tanpa banyak bicara Eun Hee langsung berdiri dari kasur dan menuju lemari untuk mengambil seragam sekolahnya.

 

 

Ia sama sekali tidak sadar jika ada Baek Hyun yang sedang mengusap-usap wajahnya yang habis tertendang Eun Hee. Eun Hee sendiri baru menyadarinya setelah sampai di ujung pintu kamar. Ia menatap heran ke arah Baek Hyun.

 

“Oppa, kau sedang apa? Kenapa duduk di lantai seperti itu? Mukamu kenapa?” tanya Eun Hee datar, berpikir jika kakaknya itu aneh.

 

Tanpa menunggu jawaban Baek Hyun, Eun Hee sudah melengos ke kamar mandi. Meninggalkan Baek Hyun yang malang yang meratapi wajahnya.

 

“Dasar Gom! Dia hampir saja melukai wajah tampanku,” keluh Baek Hyun sambil memegang dan mengelus-elus wajahnya. ~dasar si Baekkie narsisnya ga ketulungan XD~

Gom* = beruang

***

 

Mobil sedan hitam itu menepi. Eun Hee keluar dari mobil dengan raut wajah yang tak bisa digambarkan, antara menderita, ngeri, sekaligus takut. Itu semua karena saat sarapan tadi Joon Myun Oppa lupa memasukkan beberapa bumbu sehingga masakannya jadi aneh. Membuat Eun Hee dan Baek Hyun yang memakannya muntah-muntah.

 

“Eun Hee, nanti pulang sendiri saja. Aku pulang malam soalnya,” kata Baek Hyun dari dalam mobil.

 

“Ne, Bacon oppa,” jawab Eun Hee datar.

 

“Bye bye, Gom!” ledek Baek Hyun yang sudah meninggalkan Eun Hee yang kesal karena dipanggil ‘Gom’.

 

“Ya! Dasar kau Yoon Baek Hyun! Awas kau-”

Belum sempat Eun Hee menyelesaikan umpatannya, ia sudah menabrak seseorang sehingga buku-buku yang dibawa orang tersebut berserakan di jalan. Eun Hee yang panik langsung membantu orang tersebut dan membungkuk meminta maaf berulang kali.

***

– Se Hun POV –

 

“Jweisonghamnida. Yongseohaeyo. Igeon modu je jalmosimnida,” kata gadis itu. Ia yeoja yang menabrakku barusan. Ia membantuku mengambil buku-buku perpustakaan yg ingin kukembalikan hari ini.

 

Yeoja itu sudah membungkukkan badannya untuk minta maaf padaku hampir berkali-kali. Aku mencoba menghentikannya karena sekarang banyak anak-anak yang memandangku ingin tahu.

 

“Ne, gwaenchanayo. Nan jeongmal gwaenchanayo,” kataku mencoba menenangkan.

Yeoja itu menatapku. Ia terlihat sangat kaget, begitu pula denganku. Kami saling memandang dengan pandangan kaget. Akhirnya ia buka suara.

 

“Se… Se… Se Hun O-Oppa?” tanyanya dengan nada dan tatapan bingung. Aku ingin sekali tertawa melihat ekspresinya itu.

 

“Eun Hee?” aku balik bertanya sambil tersenyum-senyum.

 

“Kenapa kau ada di sini?” tanyanya lagi. Kali ini ekspresinya berubah menjadi ceria.

Kami berjalan bersama menuju ke gerbang sekolah. Seoul International High School.

 

“Aku murid di sini Eun Hee. Aku kelas XI 2. Kau tak pernah tahu aku?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya. Hal yang baru kusadari, Eun Hee tidak cukup tinggi rupanya. Ia hanya setinggi pundakku tapi itu yang membuatnya tampak imut di mataku.

 

“Aku tak pernah lihat Oppa. Seharusnya aku tahu karena Oppa termasuk namja populer. Ah, aku benar-benar kuper,” ia memasang ekspresi sedih dan menatapku, lalu ia tertawa sendiri.

 

Aku ikut tertawa. Yeoja ini suka sekali tertawa, pikir Se Hun. Ia tersenyum-senyum sendiri melihatnya.

 

“Kau kelas berapa?” tanyaku.

 

“XI 5. Kelas kita jauh, sih. Aku jadi tidak pernah tahu, Oppa, hehe,” jawabnya.

 

Mendengar kata ‘Oppa’ aku teringat sesuatu. Teringat akan seorang namja yang dipanggil ‘Oppa’ kemarin malam yang sukses membuatku tak bisa tidur semalaman. Kebetulan namja tampan yang menjemputnya tadi malam juga mengantarnya pagi ini.

 

“Ehm, Eun Hee-ya?”

 

“Iya?” ia menoleh dengan wajah polos. Aku sedikit berdegup-degup menanyakan hal tersebut. Takut jika yang ditakutkannya nyata.

 

“Jeo sarami nuguinikka?” tanyaku hati-hati. “Namja yang mengantarmu tadi pagi?” aku memandangnya.

 

“Saram? Ah, jeo saram. Jeo sarami nae oppa imnida,” jawabnya sambil tersenyum.

 

“Wae?”

 

“Ani,” aku ingin melonjak saking senangnya. Aku tak henti-hentinya menyembunyikan wajah senangku.

 

Iya, aku jatuh cinta. Nege ppajyeo beoryeosseo. Pandangan pertama pula. Walau baru bertemu dengannya tadi malam tapi sifatnya yang ramah dan sering tersenyum itu membuatku tertarik. Belum lagi tingkahnya yang berbeda dengan yeoja lain seumurannya.

 

“Oppa, aku ke kelas dulu, ya,” ia pamit menuju kelasnya yang tak searah denganku. Ia di lantai 3 aku di lantai 2.

 

“Ne. Hati-hati, ya,”

***

– Eun Hee POV –

 

Akhirnya jam pulang sekolah yang sudah dinanti datang juga. Aku segera menutup semua buku di atas mejaku dan menumpuknya. Kepalaku yang sedari tadi berat untuk disangga ini kuletakkan di tumpukan buku itu. Aku menatap langit yang agak mendung dan daun-daun berjatuhan, maklum saat ini pertengahan musim gugur, bulan Oktober.

 

“Eun Hee-ya?” tiba-tiba suara seorang yeoja mengagetkanku. Aku segera mengangkat wajah dan menatapnya.

 

“Kenapa Min Ji-a?” tanyaku dengan mata sayu. Kang Min Ji adalah sahabatku sejak SD.

 

“Kau tak lupa, kan?” ia balik bertanya sambil berkacak pinggang. Wajahnya sedikit kesal melihatku yang kebingungan.

 

“Ehehe apa?” aku memang tak mengerti apa maksud dari Min Ji.

 

Min Ji yang sudah tak bisa menahan kekesalannya menjitak kepalaku. Aku berteriak kesakitan. Memberi pandangan ‘kau-tahu-ini-sakit-Min-Ji-A’.

 

“Ekstra Fotografi kita! Tugas akhir kita!” seru Min Ji.

 

Aku menepuk jidat. Aku segera memasukkan bukuku, mengalungkan kamera SLR milikku di leher. Aku sendiri baru ingat bahwa hari ini aku harus melapor pada pembina ekstra Fotografi. Aku dan Min Ji segera keluar kelas dan menuju ke ruang ekstra Fotografi yang terletak di taman belakang sekolah.

 

“Apa kau sudah menemukan tema yang ingin kau pakai?” tanya Min Ji, langkahnya terburu-buru. Membuatku terpaksa mengikutinya dengan setengah berlari.

 

“Ne,” jawabku singkat.

 

“Apa?”

 

Aku tak langsung menjawab. Aku sudah memikirkan tema ini sejak seminggu yang lalu. Ia sudah berkonsultasi dengan Joon Myun Oppa dan ia berkata jika itu adalah ide yang brilian.

 

“Bela diri,” jawabku mantap. Jawabanku barusan sukses membuat Min Ji berhenti dan berbalik ke arahku.

 

“Wow, keren!” Min Ji yang tadi tampak sebal kini berubah menjadi ceria. Aku tersenyum bangga.

 

“Sepulang sekolah aku akan menemui Lee Sung Min Sunbae untuk minta izin sekaligus minta bantuan,” kataku. “Kau sendiri memilih apa?” tanyaku.

 

Min Ji tak langsung menjawab juga. Ia malah cekikikan tak jelas. Membuatku sebal dan memukul pelan lengannya.

 

“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?” tanyaku sewot.

 

“Ehehe… Aku ragu dengan temaku tapi aku menyukainya,” kata Min Ji berbinar-binar. Aku terus menatapnya dengan tatapan datar. Rupanya ia tak tahan.

 

“Aku memberi judul ‘Namja Tampan di antara Jam Sekolahku’,” ia mengucapkannya dengan sedikit genit dan wajahnya tampak berseri-seri. Sejak dulu sahabatku yang satu ini memang suka dengan namja tampan. ~Author juga XD~

 

“Idemu juga bagus. Mau ambil objek apa? Masa kau mau hunting namja satu sekolah kita dan menawari mereka jadi modelmu?” tanyaku.

 

“Wah, rencanamu keren, Eun Hee-ya,” sungguh, responnya tidak sesuai dengan harapanku -___-.

*skip*

 

Siang ini Min Ji menemaniku ke ruang basket, tempat dimana anak-anak yang sedang berlatih bela diri berada. Pembina ekstranya memuji ide brilianku dan dia bilang bahwa dia akan membantuku jika ada kesulitan. Ruang basket yang cukup luas di sekolahku memang multifungsi, selain untuk berlatih dan bertanding basket juga bisa untuk tempat berkumpul beberapa anggota ekstrakurikuler.

 

Aku dan Min Ji memasuki ruang basket dengan hati-hati. Jujur, ini pertama kalinya aku melihat anak-anak ekstra bela diri ini berlatih. Beberapa anak -kulihat tak sampai 10 anak, sedang berlatih masing-masing. Aku melihat ada seorang yang tampak paling senior sedang memberi aba-aba kepada anak-anak yang berlatih itu. Aku dan Min Ji mendekati orang itu.

 

“Annyeong, Lee Sung Min-ssi,” sapaku. Aku dan Min Ji membungkuk hormat dan dibalas olehnya.

 

“Annyeong,” balasnya. “Eun Hee, kau sudah siap rupanya,” ia kemudian menepuk tangannya beberapa kali dan menyuruh anak-anak yang berlatih berkumpul di sekitarnya.

 

“Hari ini kita kedatangan tamu special. Namanya Yoon Eun Hee. Dia kemari untuk mengerjakan tugas untuk tugas akhir ekstrakulikulernya,” kata Sung Min-ssi. “Ini kesempatan bagus bagi kita juga untuk memperkenalkan ekstra bela diri kepada yang lain. Oleh karena itu, mari kita bantu Eun Hee,” Sung Min-ssi mengakhiri pidato singkatnya itu.

 

“Ne. Annyeonghaseyo. Nae ireumeun Yoon Eun Hee imnida. Bangapseumnida. Mohon bantuannya,” aku memperkenalkan diri kepada seluruh orang yang berada di situ.

 

Mereka semua sangat ramah. Aku menyuruh Min Ji yang menemaniku, duduk manis di tribun. Sebelumnya aku sudah menyogoknya dengan beberapa bungkus kripik kentang favoritnya. Sementara anak-anak yang lain kembali berlatih, Sung Min-ssi memberiku saran untuk tugasku. Aku mendengarkan detailnya. Walau Sung Min-ssi adalah pelatih bela diri, ia sangat handal dalam fotografi. Ia pernah menjuarai lomba fotografi tingkat nasional di Seoul beberapa waktu yang lalu. Itulah alasan mengapa aku meminta bantuannya.

 

“Oh ya, objek apa yang ingin kau fokuskan?” tanyanya padaku.

 

“Kurasa sebuah skill yang mengagumkan,” jawabku asal. Mana tahu aku soal martial art.

 

“Begitu, ya,” ia tampak berpikir. “Kusarankan kau mengambil objek ini,” kata Sung Min-ssi yang jujur aku tak paham maksudnya. Aku hanya mengangguk setiap kali ia bicara.

 

“Terserah, Sung Min-ssi saja, deh,” kataku sambil meringis padanya.

 

“Aiii, jangan memanggilku dengan panggilan ssi. Panggil saja aku Min Sunbae,” ia tersenyum memamerkan gigi kelincinya itu. Aku mengangguk paham.

 

“Ada satu anak yang sebenarnya sangat cocok dengan konsepmu,” kata Min Sunbae. Aku menatapnya, entah kenapa aku berpikir.

 

“Siapa? Nuguya? Mungkin kalau dia tidak keberatan dia bisa membantuku,” kataku senang. Yah, semoga dia benar-benar mau membantuku.

 

Min Sunbae menunjuk sebuah pemandangan dimana seorang namja sedang berlatih sendirian. Namja itu tidak seperti teman-temannya yang lain, yang berlatih bersama-sama. Ia berlatih sendirian dan tampaknya ia sangat mahir dalam martial art.

 

“Namanya Huang Zi Tao, biasa kami memanggilnya Tao. Ia murid pindahan dari China. Ia kelas XII sekarang. Ia sangat ahli dalam wushu. Dia lebih suka berlatih sendirian daripada dengan teman-temannya yang lain,” kata Min Sunbae panjang lebar. “Kau bisa meminta bantuannya,” tambahnya.

 

Tanpa banyak bicara, kuiyakan kata-kata Min Sunbae tadi. Ia mengajakku menemui namja China itu dan mengenalkanku.

 

“Tao, Tao?” Min Sunbae memanggil Tao yang sedang asyik berlatih. Mendengar ada yang memanggilnya, Tao segera menghentikan aksinya dan menghampiri Min Sunbae dan aku.

 

“What’s wrong?” ia bertanya dengan nada datar. Tapi…. Omo!

 

Aku terpesona melihatnya. Baru kali ini sepertinya aku memandang seorang namja benar-benar sebagai namja. Aku terpesona oleh matanya >///<. Well, mungkin sebagian orang akan menganggap aku aneh. Bagaimana mungkin tatapan membunuh itu -tatapan si Tao itu, kubilang indah dan menarik.

 

“Eun Hee-ya?” tiba-tiba Min Sunbae mengguncangku. Ia tersenyum ke arahku. Dalam imajinasiku, sepertinya tadi saat dia sibuk menjelaskan sesuatu pada Tao, aku menatap Tao dengan mulut membentuk O bulat seperti ketika aku melihat film.

 

“Ne?”

 

“Kau melamun, ya? Tadi aku sudah bicara dengan Tao dan dia siap membantu,” kata Min Sunbae. Aku mengangguk paham.

 

Detik selanjutnya, Min Sunbae sudah meninggalkanku berdua saja dengan Tao. Aku agak canggung dengan situasi ini. Belum lagi Tao yang dari tadi mengamatiku.

 

“Ehm… Ni hao, Tao Gege. Kau bisa bahasa Korea?” tanyaku bodoh. Aku terlalu bingung saat ini.

 

“Ne, hal su isseo,” jawabnya singkat.

 

“Sebelumnya perkenalkan aku Yoon Eun Hee, murid kelas XI. Aku mohon bantuannya,” aku membungkuk memberi hormat.

 

“Salam kenal. Aku Huang Zi Tao. Aku akan membantu sebisaku,” kata Tao.

 

Tidaaaaak!!!! Aku hampir saja kehabisan nafas melihatnya. Untuk pertama kalinya, sejak kami pertama bertemu, dia tersenyum. Senyum yang indah. Aku melamun.

 

“Ehm… Eun Hee-ssi?” ia menyadarkanku.

 

“Eh? Ah, ne. Ngomong-ngomong aku harus memanggil Tao-ssi apa?” tiba-tiba kata-kata ini meluncur saja tanpa kupikirkan.

 

Ia tampak berpikir sebentar. “Aku tak begitu paham dengan kultur Korea. Terserah kau saja,” katanya singkat.

 

“Baik. Akan kupanggil kau Tao Oppa saja, ya?” tanyaku dengan nada memohon. Ia mengangguk. Jujur, saat aku memanggilnya ‘Oppa’, aku merasa wajahku berubah menjadi merah. Akhirnya, aku menutupinya dengan memintanya berlatih kembali sedangkan aku memfotonya.

 

– Tao POV –

 

Aku terus berlatih. Mencoba tak mengindahkan tatapan gadis itu ketika ia sedang tidak mengambil gambar. Tapi entah kenapa aku merasa aneh jika di dekatnya. Apalagi tatapan dan tingkahnya itu, aku sedikit canggung. Aku berhenti berlatih dengan toyaku.

 

“Eun Hee-ssi, kita istirahat dulu,” aku mengajaknya duduk di tribun.

 

Aku mencoba mengatur nafasku. Dari sudut mataku aku dapat melihat jika dia terus melamun ke arahku. Aku berdeham.

 

“Eh?” ia tampak kaget. Segera ia mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya lalu menyerahkannya padaku. “Ini untukmu, Oppa,”.

 

Aku menerimanya sambil tersenyum ramah. Ia membalas senyumku. Saat menerima botol darinya tanpa sengaja tanganku menyentuh tangannya. Ia menatapku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan. Tatapan yang belum pernah kulihat. Tatapan bahagia bercampur terkejut. Tapi kenapa jantungku berdebar?

***

TBC

Gimana? Gimana? TBC-nya pas ga? RCL ya klo ada yg kurang atau lebih 😉

Iklan

17 pemikiran pada “Way Back Into Love (Chapter 2)

  1. Waaaa bagus thooor *O* entar itu si eunhee sama sehun apa sama tao yaaa? Jgn jgn ntar min ji sama sehuun (?) next chap ku tunggu thooor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s