Bad Girl (Chapter 3)

Title                : BADGIRL

Author                       : @EunriPark

Main Cast     : Kim Jong-In, Park Eunri, Oh Sehun, Cho Kyuhyun.

Support Cast            : EXO, SJ, SMTOWN.

Genre             : Romance, Friendship

Length                       : Multi Chapter

Rating                        : PG13

OST                 : Apink – My My, B2ST – Fiction, SNSD – Bad Girl

“Dia… segala hal tentangnya nyaris sama sepertimu, dan aku mencintainya.” Kuhela nafasku pelan, “Jadi jangan mulai lagi, kumohon, aku tidak ingin menyakitinya…”

*****

Ern’s room

 

“Buka saja eomma, tidak dikunci.” Eunri melemparkan apel ditangannya sembarang dan semakin mengeratkan pelukannya pada boneka teddy-bear yang besarnya melebihi ukuran tubuhnya itu, hanya berdiam acuh, sama sekali tak berniat menoleh pada siapapun yang barusaja membuka pintu dan kini masuk kedalam ruangan pribadinya itu.

“Ada apa?” tanyanya nyaris malas, karena setelah tiga menit, mungkin, orang itu belum bersuara sama sekali. “Jika eomma berniat marah-marah tentang keadaan kamar ini silahkan sa—” Eunri membalikkan tubuhnya dan secara reflex melemparkan boneka yang dipeluknya kearah seorang pria yang terlihat cengo dipintu kamarnya, “Apa yang kau lakukan disini hah?”

Eunri mendekati pria itu dan memungut boneka yang baru saja dilemparkannya, kemudian kembali memeluknya sayang. Ia menjatuhkan tubuhnya lagi keatas ranjang empuknya, “Kau lapar? Kulkasnya dibawah, bukan disini. Kau salah alamat, Kkamjong.” Ujarnya dingin. Ia masih bertahan dalam diamnya saat pria itu tertawa pelan dan ikut-ikutan menjatuhkan tubuhnya diranjang itu, menatap lurus kearah langit-langit kamar itu yang didominasi warna abu-abu samar, warna kesukaannya yang entah bagaimana menjadi warna kesukaan pria itu juga.

“Mianhae,”

“Aku tidak dengar.”

“Maaf.”

“Aku tidak dengar.”

“Mianhamnida,”

Eunri mendengus, “Aku tidak mau dengar.”

“Im Sorry.”

“Sok Inggris.”

“Hya! Pabo! Apa perlu aku menciummu agar kau mau menoleh dan memaafkanku? Aish.. sebenarnya aku juga tidak tahu salahku apa!”

“Mesum~!” Eunri mencoba menahan senyumnya, “Kalau begitu kenapa kau meminta maaf, bodoh?”

“Aku kira tadi kau marah?”

“Aku tidak marah, hanya ingin membunuhmu. Itu saja. Kau menyebalkan!”

“Kau sudah memaafkanku?”

“Belum.”

“Sudah,”

“Belum.”

“Sudah.”

“Belum!”

Kai menghela nafas, “Sudah!”

“Aku bilang belum! Kau itu keras kepala seka—”

“Sudaaaaah~” Kai tiba-tiba saja dengan santainya memeluk gadis itu dari belakang, membuat Eunri kehilangan fokusnya dan menutup mulut. “Aku, Baekhyun dan Sehun akan ke Jeju untuk photoshoot Calvin Klein lusa,”

“Lalu apa hubungannya denganku?” ujar Eunri dengan nada setenang mungkin, mencoba melepaskan tangan pria itu yang kini melingkar diperutnya, karena hal itu membuatnya gugup setengah mati. Sementara dengan kurangajar-nya pria itu juga melingkarkan kakinya. “Lepas bodoh. Kau bau sekali!”

Kai mendengus, mengambil jarak dan kembali menjelajahi langit-langit kamar ini dengan matanya. Pulang latihan tadi dia memang langsung menuju kerumah gadis ini tanpa mau repot-repot mandi. “Siapa tahu kau mau ikut? Bagasi mobil van kami kos—Ya!”

Kai memekik kecil setelah mendapat satu jitakan keras dikepalanya. “Kau cari mati?” ujar gadis itu melayangkan death-glare nya, “Lusa ada kelas piano,”

“Lagipula siapa juga yang ingin ikut kesana dan menonton.. Tch, kau yang beraksi didepan kamera dengan keadaan telanjang?” Eunri memutar bola matanya, teringat lagi pada hasil photoshoot-nya kemarin-kemarin untuk merk pakaian yang sama. “Shireo.”

“Eunri~ya..” Kai mulai merajuk, sebenarnya cara seperti itu tak akan berhasil untuk gadis ini tapi bagaimana lagi? Ia ingin gadis itu ikut ke Jeju, sangat ingin. Liburan? Mungkin. Mengingat jadwalnya yang sangat padat akhir-akhir ini, pemuda itu berniat untuk setidaknya menikmati sunset berdua di bibir pantai dengan gadis itu. “Ayolah! Aku sudah mengatakan ini pada manager hyung, dia bilang kita pulang jam dela—”

“Tunggu.. tadi kau bilang.. Sehun juga? Dia juga akan telanjang? Andwei! Aku takut jatuh cinta padanya jika—Yak lepaskan tanganmu dari rambutku bodoh!” gadis itu mencoba menjauhkan tangan Kai yang menjambak-jambak rambutnya dengan gemas, “Aish kau mengajakku bercinta lagi hah?”

Kai tertawa, bercinta? “Bercinta? Kau mengajakku bercinta? Aku tidak tahu bahwa kau sama mesumnya dengan Eunhyuk hyung haha—”

“Aish pabo! Ini yang namanya bercinta!” Kai memekik keras saat gadis itu menghujaninya dengan pukulan lewat bantal, berguling beberapa kali lalu mendorong tubuhnya hingga nyaris jatuh dari ranjang, dan ia menarik ujung kaos gadis itu. “Yak! Yang mesum itu kau! Yaya! Eww.. Kim Jong—”

Eunri merasakan dunianya berhenti berputar saat dirinya mendorong tubuh pria itu yang ikut menariknya hingga mereka terjatuh dalam keadaan Eunri dibawah. Pria itu menindihnya, namun menahan berat tubuhnya dengan menyimpan kedua tangannya disamping tubuh gadis itu, dengan jarak sangat ekstrim. Hidung mereka bahkan nyaris bersentuhan. Terjebak dalam situasi yang sedikit aneh karena jarak yang terlalu dekat dengan pria itu, membuat jantungnya bekerja ekstra dan darahnya mengalir lebih cepat. Membuatnya sengaja tak sengaja mencium bau maskulin pria yang kini masih betah menatapnya jauh. Ia bahkan tak merasa sakit saat punggungnya menabrak lantai beberapa detik lalu.

Kai tertegun menatap wajah polos gadis itu yang sama terpaku dengannya, perlahan tapi pasti Kai mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya, menyapa bibir gadis itu dengan bibirnya. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung gadis itu yang sama menggila, merasakan gugupnya gadis itu dan mulai menikmati pipi gadis itu yang membiaskan semburat kemerahan. Merekam semuanya dalam putaran waktu entah yang bagaimana terasa begitu lambat dengan indra penglihatnya. Merasakan manis bibir gadis itu yang bergerak lembut dalam pautan bibirnya. Ia menikmati semuanya. Ciuman pertamanya dengan gadis ini. Gadisnya.

“Apel,” komentar Kai setelah menarik diri, “Sayangnya aku lebih suka anggur atau jeruk, mungkin?”

Eunri mendengus tak peduli dan mengulurkan tangannya pada pria itu yang sudah berdiri dihadapannya, membiarkan tubuhnya tertarik oleh tangan pria itu yang kemudian meraih tangan Eunri dan menariknya untuk berdiri.

“Punggungku rasanya remuk,” dengus gadis itu, “Sialan kau!”

Gadis itu lagi-lagi mendengus keras saat Kai menunjukkan wajah polosnya, tapi.. entahlah Eunri merasa ada ekspressi mesum yang sedikit terbaca disana. Kai menjatuhkan tubuhnya lagi keatas ranjang itu, “Tapi kau menikmatinya, kan?”

“MWOYA?”

Kai meneloyor kening gadis itu dengan telunjuknya, “Tidak usah mengelak~ tertulis dengan jelas di jidatmu!”

Siapa juga yang mengelak? Eunri tersenyum sinting. Dengan semena-mena gadis itu menjatuhkan tubuhnya, menjadikan perut kotak-kotak pria itu sebagai bantal.

“Jadi bagaimana, Eunri~ya? Kau ikut, kan? Ayolah kapan lagi kita bisa menghabiskan penghujung siang di Jeju? Gratis!”

“Aku lebih suka matahari terbit,” ujar gadis itu dingin. Ia mendengar detak jantung Kai yang sedikit tak beraturan, dan merasa sedikit.. teringat akan sesuatu, dan.. seseorang dalam masa lalunya. Eunri menyukai ini. Menyukai bagaimana jantung pria itu berdetak cepat.. untuknya.

“Tapi kau suka laut!” Kai memainkan rambut gadis itu yang tergerai berantakan diatas perutnya, “Dan disana juga ada taman bunga matahari disana. Aku ingin.. untuk sekali saja, kita menjadi pasangan normal seperti yang lainnya. Apa kau ingat kapan terakhir kali kita menghabiskan waktu bersama?” pria itu menggelengkan kepalanya, “Terlepas dari jadwalku yang padat dan jadwal sekolahmu juga, kesempatan kita terbatas Eunri~ya.”

Eunri meniup poninya dan berbalik hingga kini ia berhadapan dengan wajah innocent pria itu. Bertatapan langsung dengan sorot matanya yang tajam namun terlihat acuh dalam waktu bersamaan. Gadis itu menghela nafas kecil lalu menyentil hidung mancung pria itu dengan telunjuknya, “Baiklah. Apapun asal kau bahagia~”

Kai memasang tampang ingin muntahnya yang membuat gadis itu terkikik geli, “Let’s just say I never said it.” katanya yang membuat dahi Kai mengkerut bingung. Gadis itu meniup poninya sebal, mencoba memahami bahwa ability english pria ini memang payah, “Aku tidak janji.” Tapi aku akan mengusahakannya. Untukmu.

*****

Seoul Performing Art School

 

Bel pulang itu baru saja menggema di pelataran salah satu media edukasi ternama di Korea Selatan ini, membuat dengan bersemangat-nya banyak murid langsung memasukkan paparan buku diatas mejanya kedalam tas. Atau beberapa yang sedang berkecamuk di kelas dance menghentikan gerak tubuhnya dan menyambit air mineral.

Eunri terlihat biasa saja di bangkunya yang paling belakang. Setelah Park Seongsaenim keluar disusul nyaris 80 % dari penghuni kelas ini, gadis itu baru membereskan bukunya, menyampirkan tas selempangnya disebelah bahunya dan beranjak untuk pulang setelah kelas lumayan sepi. Hari ini dia memang sendirian. Pasalnya, dua sahabat-nya sama-sama tidak masuk karena menghadiri sebuah seminar yang entah dimana itu Eunri tidak mau tahu.

“Joomi~ya,” Eunri duduk disamping kursi Hwang Joomi, teman sekelasnya yang memegang jabatan sebagai seksi absensi. “Sepertinya besok aku tidak akan masuk.”

“Mwohae?” gadis yang dipanggil Joomi itu membenarkan letak kacamata-nya, membuka lembaran buku absensi bulan ini dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau sudah terlalu banyak absen bulan ini, Eunri~ya. Wae?”

Eunri menggaruk pipinya, jika saja namja itu tidak memaksanya untuk ikut… pasti tidak akan se-awkward ini. Jika saja besok bukan hari selasa, bukan pelajaran Lim seongsaenim guru kesukaannya, kelas favoritnya, dia tidak akan repot-repot meminta izin seperti ini. “Aku harus ke Jeju is—”

Kedua alis Joomi tertaut, menatap heran kearah Eunri yang tiba-tiba saja menutup mulutnya dengan punggung tangan lengkap dengan ekspressi panic-nya yang berlebihan.

“Ada urusan keluarga,” ralatnya kikuk. Joomi mengangguk pelan setelah beberapa detik menyipitkan matanya curiga. “Baiklah,”

“Gomawo!” Eunri melangkah santai menuju keluar kelas, dan semakin mempercepat langkahnya saat pekikan dari teman sekelasnya itu mencoba menginterupsi langkah kakinya, “Ya! Kau! Jeju? Omo—ya!”

Eunri memperlambat lagi gerak kakinya setelah berlari cukup jauh dari kelasnya, menatap bingung kearah kerumunan yang sepertinya mengerubungi mading didekat pelataran parkir.

“Hyosung~ssi!” panggilnya pada seseorang yang tak sengaja ia lihat nametag-nya, jika ia tidak salah orang itu adalah teman sekelasnya tahun lalu. Eunri melambaikan tangannya menyuruh gadis bernama Hyosung itu mendekat.

“Mwosseumnika?” tanya Eunri setelah Hyosung mendekat, tanpa memalingkan arah pandangnya dari kerumunan itu.

“Perpisahan,” ujar Hyosung ikut-ikutan menatap kerumunan itu yang kini mulai berkurang, “Acara perpisahan non-formal yang melibatkan adik kelas. Tanpa guru, dan kita semuanya.. harus hadir.”

Eunri mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kapan? Dimana?”

“Jika aku tidak salah tanggal 25 bulan ini, dan itu pesta topeng. Apgeujeong, mansion milik putra kepala sekolah. Aku juga belum tahu betul posisi spesifiknya. Kau tahu kan? Park sunbae-nim lulus tahun ini,” jawab gadis itu, “Ah mian Eunri~ssi aku ada urusan, annyeonghi!”

Eunri lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya, tak ambil pusing tentang acara seperti ini yang terbilang langka. Prom night digantikan dengan pesta topeng?

Ia menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh darinya. “Hyosung~ssi!” teriaknya yang membuat Hyosung menghentikan langkahnya dan berbalik. Gadis itu lantas tersenyum, “Gamsahamnida!”

*****

SMEnt building, The next day.

 

Eunri memberikan beberapa won pada supir taksi yang berhenti tepat di gedung menjulang dihadapannya itu, turun dan melangkah ringan menuju lobby. Diliriknya jam tangan abu-abu yang melingkar manis dipergelangan tangan kanannya itu lalu mempercepat langkahnya. Ia sudah telat beberapa detik, sepertinya.

Gadis itu memasukkan tangannya kedalam saku cardigan yang ia gunakan. “Sial..” desisnya pelan saat menyadari ponselnya ketinggalan dikamarnya tadi karena terburu-buru. Ia membungkuk sopan saat beberapa staff salah satu agensi teratas di Korea Selatan itu menyapanya. Dan beruntunglah gadis itu karena tepat saat ia sampai di depan pintu lift, terdengar bunyi denting dan detik selanjutnya pintu terbuka lebar. Ia masuk sendirian, dan sepertinya tidak lagi ketika seorang pria dengan tinggi tubuh semampai menahan pintu besi yang nyaris tertutup itu dengan jarinya, lalu masuk setelah pintu kembali terbuka lebar.

Eunri menegang, tahu dengan jelas siapa pria yang baru saja masuk dan berdiri tepat disampingnya saat ini, dan terjebak bersama dengan pria ini hanya berdua saja didalam lift bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Pria itu menoleh kearahnya setelah pintu tertutup, “Kim Jong-In.. dia siapamu?”

Ya Tuhan.. to the point sekali! “A-Aku.. dia.. Kami-kami hanya—akh memangnya apa urusanmu?”

Kyuhyun memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya, “Aku ‘kan hanya bertanya. Kenapa harus sepanik itu?” Gadis itu diam mematung ditempatnya kini. Percuma saja bergerak atau mencoba lari bersembunyi dan apapun itu sejenisnya karena box ini hanya berukuran 2×2 meter. Eunri hanya terus menghindari sorot mata pria itu yang membuatnya merasa ngeri sendiri dengan tatapan mata namja itu yang amat mengintimidasinya.

“Dia kekasihku. Kau puas?”

Entah atas dasar apa, dengan satu gerakan Kyuhyun membalikkan tubuh gadis itu, mengunci tubuh mungilnya didinding. Membiarkan punggung gadis itu menempel dengan permukaan dinding ruangan ini yang dingin. Menatap intens kedua bolamata kecoklatan miliknya.

“Apa yang kau lakukan?” pekik gadis itu cepat, “Me-menjauh dariku!”

Gadis itu menarik nafasnya, berusaha mengembalikan nyalinya yang kini berada dititik terendah hanya karena tatapan itu dan bahasa tubuh itu yang amat.. menyudutkannya. Mencoba meormalkan nafasnya yang memburu dan jantungnya yang berdetak amat cepat nyaris membuatnya sesak. “K-kau membuatku takut, Kyuhyun~ssi..”

“Kau.. sejak kapan menyebut namaku dengan cara seperti itu? Aku bukan anonymous!” Ucapan dingin itu terasa sangat menusuk ditelinga Eunri, membuatnya semakin dalam menudukkan kepalanya. Gadis itu bisa mendengar jelas bagaimana pria tinggi dihadapannya baru saja menghela nafas kecil, “Aku tidak suka kau memanggilku begitu, Eunri~ya.” Katanya melembut.

Eunri mendongak lalu memberanikan diri menatap manik mata kecoklatan itu dengan pancaran dingin dari matanya, berharap degup jantungnya yang menggila kini tak terdengar olehnya. “Anda ingin saya memanggil anda apa, Cho Kyuhyun~ssi? Oppa?”

Kyuhyun tersenyum tipis, “Tidak, itu menggelikan seperti katamu. Walau memang sedikit tidak sopan.. tapi aku suka caramu menyebut namaku. Jangan memanggilku seperti itu lagi, Eunri~ya. Aku bukan orang asing, kan?”

Untuk beberapa detik gadis itu diam. Mencoba mengartikan dari sudut paling positif akan apa yang barusaja pria itu katakan. Susah payah gadis itu menghindari kontak apapun dengan pria ini tiga bulan kebelakang, apa akan berakhir begitu saja disini? Dengan sebegini mudahnya? Eunri menggelengkan kepalanya pelan, tidak setuju dengan apa yang baru saja terlintas di jalan pikirnya. “Terserah.” Ujarnya dingin, mendorong dada pria itu dan menjauhkan punggungnya dari dinding ruangan ini. “Menjauh dariku,”

Hening. Gadis itu merasakan suatu perasaan asing pada hatinya saat bibirnya berkata begitu. Bahwa gadis itu bukan hanya menginginkan pria ini menjauh darinya saat ini saja tapi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.. mungkin.

Tubuh gadis itu menegang saat tiba-tiba saja lampu lift mati, membuat matanya sama sekali tak bisa melihat apapun. Dengan cepat gadis itu memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya kuat. “Kyu—” Desisnya tercekat, “Aku takut.”

Gadis itu menggerser kesamping dan memegang erat ujung jas pria itu, menggeleng-gelengkan kepalanya kuat menekan keinginan gilanya untuk berhambur kedalam pelukan pria ini dan bersandar pada dadanya yang bidang dan selalu bisa membuatnya merasa nyaman. “Err, kenapa lampunya bisa mati?”

Kyuhyun diam. Menahan tangannya untuk tidak bergerak dan melakukan hal fatal seperti merangkul gadis ini atau menariknya kedalam sebuah pelukan untuk menenangkannya. Dia tahu betul bahwa gadis yang pernah menjadi miliknya ini tidak berteman baik dengan sesuatu yang bernama gelap. Ah.. mungkin Kyuhyun tahu segalanya tentang gadis ini dan satu hal yang paling malas untuk diketahuinya, bahwa dirinya sadar betul saat ini, gadis yang sedang ketakutan disampingnya ini, bukan miliknya lagi.

“Buka matamu bodoh, ini sudah menyala,” ujar pria itu dengan nada gelinya, membuat gadis yang kini berpegang erat pada ujung blazer pria itu menjaga jarak dalam gerakan lambat.

“Tidak lucu Cho Kyuhyun…” desis gadis itu yang kembali meremas ujung blazer pria itu karena barusan saat ia mencoba membuka matanya, keadaan dalam ruangan kecil ini masih sama gelap. Cho Kyuhyun masih seperti yang dulu. Tidak ada yang berubah. Ada atau tidak adanya Park Eunri dalam kehidupannya, dia tetap seperti itu.

Kyuhyun menahan tawanya, “Ternyata semuanya memang terlalu cepat berubah,” ujarnya ambigu, “Aku tidak pernah berpikir bahwa terjebak dalam keadaan seperti ini bersama denganmu akan semenyenangkan ini, Eunri~ya. Apa kau memikirkan hal yang sama dengaku?”

Tubuh gadis itu semakin menegang ketika tangan hangat pria itu menggenggam tangan mungilnya paksa, “Aku ingin seperti ini lebih lama. Dengan kau didekatku.” Kyuhyun menghela nafas perlahan menekan gengsinya untuk sampai pada titik terendah, “Tinggalkan dia dan kembali padaku.”

Kyuhyun mendesah kecewa saat gadis itu menghempaskan tangannya hingga tautan mereka terlepas, sementara gadis itu menggigit bibir bawahnya, barusaja menyadari gerakan reflex tangannya yang mungkin membuat pria ini salah mengartikannya. I Can’t.

Kyuhyun kembali memasukkan tangannya kedalam saku celananya, membiarkan gadis itu meremas ujung jasnya lagi. “Im afraid I can’t,” ujar gadis itu pelan yang sama sekali tak dimengertinya, dan kali ini Kyuhyun merasa menyesal akan skill english-nya yang seperti telur besar berwarna ungu itu.

“Dia… segala hal tentangnya nyaris sama sepertimu, dan aku mencintainya.” Ujar gadis itu datar yang membuat Kyuhyun mengepalkan tangannya, “Jadi jangan mulai lagi Cho Kyuhyun, kumohon, aku tidak ingin menyakitinya…”

Kau sudah menyakitinya bodoh.

*****

Seorang pemuda yang baru saja keluar dari salah satu ruangan di gedung itu membungkukkan badannya saat seorang pria paruh baya berjalan kearah ruangan itu. “Sajangnim,” sapanya formal lengkap dengan senyum tumpulnya, “SooMan sajangnim sudah menunggu anda sejak tadi.” Lanjutnya kemudian.

“Ah ne, Kai, mobil van-mu sudah menunggu di bawah.”

Pemuda itu lantas menganggukkan kepalanya, “Algasseumnida.”

Kai melihat punggung pria paruh baya yang dikenalnya sebagai CEO Kim Youngmin itu menghilang dibalik pintu ruangan setelah melayangkan senyum simpul padanya. Ia berjalan ringan menyusuri koridor panjang ini yang lumayan sepi padahal sudah nyaris jam delapan. Dia meraih ponsel yang terdapat dalam saku celananya, membuka flip ponsel itu kemudian menekan beberapa nomor yang telah ia hapal diluar kepala lalu menempelkan benda berbentuk persegi panjang itu didepan daun telinga kanannya.

“Aish jinjja!” rutuknya pelan, “Nonaktif? Gadis bodoh itu..”

Dengan kesal Kai memasukkan ponselnya lagi kedalam sakunya dan kembali berjalan malas, mengacak rambutnya sendiri saat terlintas dipikirannya bahwa gadis itu tidak akan datang. “Aku akan membunuhnya jika—argh!” Pemuda dengan tinggi diatas rata-rata itu kembali mengacak-rambutnya sebelum menghentikan langkahnya tepat didepan lift, menyilangkan tangannya didepan dada menunggu pintu lift terbuka. Selang beberapa detik terdengar suara denting lift dan terbukalah pintu besi itu. Mengizinkan sepasang mata itu menangkap dua sosok insan yang sangat tak asing untuknya. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya, meyakinkan dirinya sendiri untuk memastikan bahwa yang dilihatnya kini tidaklah salah. Tapi setelah ia sadar bahwa yang dilihatnya seratus persen benar, pemuda itu ubah haluan. Ia berharap bahwa yang dilihatnya kini adalah salah atau mungkin.. hanya halusinasinya saja, sayangnya itu hanya harapannya saja.

Kai masih mematung setelah menyadari dengan siapa gadis dihadapannya itu saat ini. Menyesali setiap detik yang dirasanya berlalu begitu lambat. Kenapa dia harus melihat pemandangan menyakitkan seperti ini? Sorot mata pemuda itu berubah pasi, menatap nyalang pada gadis itu yang terdiam bahkan tak berusaha membela diri atau apapun itu, hanya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dalam rangkulan lengan seorang pria yang dikenalinya sebagai salah satu sunbae-nya di agensi ini. Ia mengalihkan arah pandangnya pada pria itu yang menatapnya dingin, membuatnya berpikir untuk setidaknya melayangkan satu saja bogem mentah dari tangannya yang entah sejak kapan mengepal kuat, tapi ia masih bisa berpikir jernih diantara emosi yang menyeruak.

Pemuda itu menyeringai pahit dan berbalik dengan cepat, enggan lebih lama menatap pemandangan seperti itu yang dengan sukses telah membuat jantungnya berdenyut-denyut sakit saat ini, memaksanya untuk mengingat kembali bagaimana cara menarik nafas yang benar karena paru-parunya kini terasa hampa, tidak bisa menghirup oksigen.

“Ini sama sekali tak seperti yang kau pikirkan—” ujar gadis itu dengan nadanya yang bergetar namun terdengar tak peduli dalam waktu bersamaan, membuat Kai menghentikan langkahnya sejenak, merasakan kepalan tangannya yang semakin menguat sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk melanjutkan laju kakinya lagi. “Have a nice trip Kai,”

TBC

Iklan

18 pemikiran pada “Bad Girl (Chapter 3)

  1. greget bukan maen bacanya… gue baca ini sampe teriak teriakan gak karuan dah.. gemes ampe jungkir balik guling guling loncat loncat kopral dah (fake)….

    keren dahh nih ff thor… jarang jarang ff bisa bikin gue gemes ampe teriak teriakan -,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s