For You (Chapter 9)

Author: Nisha_gaem407

Main Cast: Baekhyun & Chanyeol

Genre: Romance/Friendship/School Life/Family

AN:  Untuk kelangsungan cerita, umur kakak Baekhyun yang terpaut 7 tahun lebih tua daripada Baekhyun, dalam cerita ini menjadi 4 tahun lebih tua.

“Ok! Rapat selesai dan terimakasih untuk semuanya. Saya harap koordinator dapat bekerja sama dengan para anggotanya masing-masing.” Baekhyun angkat bicara, menyudahi rapat pentas seni yang berlangsung sesudah pulang sekolah sekitar dua jam yang lalu.

Rapat kali ini sedikit berbeda karena rapat yang biasanya diadakan dalam ruangan osis yang tak cukup besar sekarang diadakan di auditorium sekolah. Ditambah lagi rapat yang selalu dilakukan hanya bersama dengan koordinator seksi acara, kini ditambah oleh anggota-anggota baru yang terbilang dengan angka ratusan –mungkin sekitar seratus lebih, tapi kurang dari seratus dua puluh. Yeah, memang pada acara besar seperti ini harus membutuhkan jumlah anggota yang sangat banyak , apalagi dalam hal usaha dana.

Dan lagi-lagi karena rapat ini ia harus pulang ketika langit sudah mulai gelap. Tapi apa boleh buat? Itu semua memang sudah menjadi kewajiban seorang ketua osis sepertinya.

Ketika ia baru saja akan menjalankan mobilnya, ia merasakan handphone dalam saku celananya bergetar, tanda ada yang meneleponnya.

‘Eomma Calling’

Satu dari dua kata yang tertera pada layar handphonenya sudah bisa membuatnya menebak siapa yang meneleponnya.

“Ada apa eomma?”

Kau ingat janji kita malam ini kan?” Suara lembut milik ibunya terdengar dari seberang, sedikit membuat ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyum tipis.

“Tentu saja eomma. Aku baru saja ingin menjemput Hyerin di apartemen.”

“Baiklah… Eomma menunggumu sayang.”

“Ne…”

TUT…TUT…

Sambungan langsung terputus begitu saja. Alih-alih menyimpan handphonenya kembali dalam saku, ia malah menekan nomor yang sudah di hafalnya luar kepala.

Beberapa detik ia menunggu dan yang ia dengar adalah suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang dihubunginya tidaklah aktif, bukan suara seseorang yang ia inginkan. Beberapa kali sudah dicobanya, namun hasilnya tetaplah sama.

Mendesah kesal sebentar, kemudian ia akhirnya memutuskan untuk menelpon nomor lainnya –apartemennya yang mungkin saja dapat membuatnya terhubung dengan seseorang yang diingkannya untuk menjawab panggilan darinya.

“Hyerin-ah… Ini aku, Baekhyun.” Baekhyun langsung saja menyambar ketika tak terdengar lagi nada tunggu yang berarti telepon darinya telah diterima.

Ada apa?

“Kau sudah siap? Aku akan menjemputmu sekarang.”

Ya ya, aku sudah siap bayi~…

Ok! Bye…

Sambungan terputus sebelum Baekhyun benar-benar menyimpan kembali handphone miliknya ke dalam saku dan segera tancap gas menuju apartemennya.

***

Di dalam sebuah kamar yang cukup besar bercat putih, terlihat seorang lelaki yang berbaring tidur di atas sebuah tempat tidur berukuran king size. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Chanyeol-ah…” Suara disertai ketukan yang terdengar dari balik pintu kamarnya sedikit membuatnya terlonjak kaget dan segera berjalan cepat menuju pintu kamarnya.

CKLEK

“Ada apa bibi?” Seorang wanita yang memanggilnya tersenyum sebentar, “Bibi pergi menjenguk teman bibi yang sakit. Jika kau lapar, ada makanan di kulkas. Tinggal kau panaskan saja hm?” Chanyeol hanya mengangguk patuh sambil tersenyum tipis.

“Jaga dirimu baik-baik.” Sang bibi sedikit berjinjit mengelus puncak kepalanya lembut.

“Iya, bi. Bibi juga hati-hati.”

“Iya sayang.”

Chanyeol belum memasuki kamarnya sampai punggung bibinya perlahan menghilang pada tikungan koridor yang berada di tepat di ujung bawah tangga.

Bibinya dan kakaknya, dua orang yang ia miliki di dunia ini, dua orang yang juga ia sangat sayangi melebihi apapun, bahkan dirinya sendiri. Keluarganya telah lama meninggalkan dunia ini, ibunya yang meninggal karena sakit dan ayahnya yang meninggal bunuh diri. Sungguh miris bukan? Tapi ia beruntung masih mempunyai bibi yang merupakan satu-satunya saudara kandung Ibunya mau merawat dan membesarkannya.

Bahkan sahabat yang ia punya dulu membenci dan menjauhinya karena suatu ‘kesalahan’ yang bahkan ia tak perbuat.

Byun Baekhyun

Nama itu, nama sahabatnya…dulu. Sahabat lama yang Tuhan pertemukan kembali dengannya setelah kurang lebih lima tahun lamanya mereka tak bertemu, bahkan mereka juga sekelas dan duduk berdampingan.

Ia tak tahu harus bersikap bagaimana setiap bertemu Baekhyun. Dalam hati terdalamnya, ia ingin mereka bercerita dan bertegur sapa seperti biasa, walaupun layaknya sebagai teman biasa –bukan sahabat. Tapi disatu sisi, ternyata Baekhyun masih membenci dan mencoba untuk menjauhinya. Bahkan saat ia mencoba untuk memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Baekhyun pagi tadi, lelaki itu langsung saja pergi keluar kelas meninggalkannya tanpa sepatah katapun yang terucap.

Meskipun begitu, ia masih berharap semuanya akan kembali bahagia seperti dulu, dimana saat mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama.

***

Keluarga Byun sekarang telah berkumpul di ruang makan mereka, ditambah dengan kehadiran Hyerin yang sudah mereka anggap sebagai keluarga sendiri. Sangatlah jarang mereka berkumpul dan makan bersama seperti ini karena aktivitas dan pekerjaan masing-masing. Pengecualin jika itu adalah sebuah hari spesial, contohnya seperti ulang tahun Baekhyun saat ini.

Awalnya Hyerin sedikit cangung karena belum sepenuhnya mengenal keluarga Byun –ayah Baekhyun dan juga kakaknya, Jongjin yang berbeda 4 tahun darinya. Ibunya? Tak usah ditanyakan lagi, bahkan mereka seperti anak dan ibu pada umumnya.

Lama kelamaan berada di tengah-tengah keluarga itu malah justru membuatnya semakin nyaman. Ayah Baekhyun dan kakaknya ternyata sangat humoris, membuatnya sakit perut karena terus tertawa terpingkal-pingkal. Sangat berbeda dengan Baekhyun yang menurutnya lebih terlihat serius, tapi asal jangan lupakan saja ia memiliki sifat yang manjanya selangit.

“Kau tahu Hyerin-ah, waktu Baekhyun kecil, dia sering ngompol.” Sekarang, mereka semua berkumpul di ruang keluarga Byun –setelah selesai makan malam tentunya. Jongjin mulai bercanda dengan menceritakan kebiasaan-kebiasaan buruk Baekhyun sewaktu kecil, yang tentu saja disambut Hyerin dengan tawa.

“Hyung~…” Nada rengekkan dari Baekhyun terdengar, entah sudah keberapa kalinya, tapi tetap saja kakaknya itu melanjutkan ‘kegiatannya’.

“Ah ya! Adik kecil kakak ini juga sangat cengeng.” Jongjin merangkul seraya mengacak rambut Baekhyun yang tepat duduk di sampingnya.

“Aish!!” Berusaha menghindar dari hyungnya, Baekhyun melarikan diri dengan duduk di samping Ibunya yang berada di seberang tempat dimana ia duduk sebelumnya, mengundang tawa dari semua yang berada disana.

TING TING

Jam yang terletak pada salah satu sudut ruang keluarga tiba-tiba berbunyi nyaring, menandakan bahwa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

Eomma, appa, sepertinya aku dan Hyerin harus pulang sekarang.” Baekhyun berdiri dari duduknya, diikuti dengan Hyerin dan juga yang lainnya.

“Baiklah sayang. Hati-hati dijalan hm?”

Ne eomma. Dah~…” Baru saja Hyerin akan mengucapkan salam pamit kepada keluarga Baekhyun, lelaki itu malah menarik pergelangan tangannya cepat, membuatnya sedikit limbung dan terlihat seperti orang bodoh karena masih mencoba menunduk sebagai salam pamit dan terimakasih.

Jongjin terkekeh kecil begitu Baekhyun dan Hyerin sudah menghilang di balik pintu rumah mereka, menimbulkan ekspresi heran dari kedua wajah orangtuanya, “Ada apa?”

“Adikku sepertinya sudah dewasa. Hehehe…”

“Ya, ya, dan sepertinya appa akan mempunyai cucu sebentar lagi.”

***

“Hyerin-ah.” Hyerin menoleh pada seseorang yang menyetir di sampingnya ketika namanya merasa dipanggil. Dilemparkannya raut ‘ada apa’ pada sang pemanggil, tanpa berniat mengeluarkan suara sedikitpun.

“Kau dan, um…Chanyeol saling kenal?” Suara-suara iblis terdengar berbisik pada telinganya. Sekali-sekali ia menggoda Baekhyun tak apa-apa kan? Hahaha… Ia hanya ingin melihat wajah Baekhyun yang malu dan merah merona.

“Kau cemburu?”

“A-ANI! Si-siapa bilang ak-aku cemburu?!”

“Walaupun kau tak mengatakannya, tapi itu terlihat jelas bayi~…” Rencananya berhasil! Betapa senangnya ia melihat wajah Baekhyun saat ini. Dan jujur ia akui, Baekhyun terlihat, er…imut?! Entahlah yang jelas tanpa ia sadari tangan kanannya telah terangkat menuju pipi Baekhyun, lalu sedetik kemudian terdengar erangan keras dari dalam mobil putih itu.

“Kenapa kau mencubitku?!”

“Tanya saja pada tanganku.” Hyerin baru akan tertawa ketika melihat wajah Baekhyun yang merenggut kesal sambil mengelus pipinya yang kemerahan sekarang, tapi terhenti begitu melihat sesuatu yang bercahaya dari benda yang dikenakan Baekhyun di lehernya.

“Kau memakainya?” Awalnya Baekhyun sedikit bingung, tapi begitu ia menatap Hyerin dan mencari tahu kemana arah gadis itu memandang, ia tahu yang dimaksudkan adalah kalung yang dipakainya.

“Tentu saja. Sejak kau memberikannya, sejak itu juga benda ini menjadi salah satu yang berharga dalam hidupku.”

***

Masing-masing dari setiap orang pasti mempunyai hari keberuntungan dalam tujuh hari yang dirangkap dengan sebutan seminggu, begitu pula yang terjadi pada Jiyeon.

Memang banyak hari keberuntungan yang telah ia alami, tapi hari ini sedikit berbeda mungkin?! Yeah, sedikit berbeda karena keberuntungan itu juga melibatkan jantungnya yang juga terus berdegup kencang beberapa kali lipat dari biasanya.

Dan itu semua karena seorang siswa baru di sekolahnya yang baru saja bertemu dengannya empat hari yang lalu.

Sebelumnya ia memang tak begitu percaya dengan satu kalimat yang terdiri dari empat kata, cinta pada pandangan pertama. Dan rasanya ia ingin menertawakan dirinya sendiri karena itulah yang ia alami saat ini.

Kesimpulannya? Tak bisa ia pungkiri bahwa dirinya telah jatuh hati saat pandangan pertama pada seseorang bernama lengkap Park Chanyeol yang berada bersamanya sekarang.

Tak ia sangka, seseorang yang ia sukai memiliki hobby yang sama dengannya, fotografi. Dan berhubung Chanyeol masih siswa baru yang belum mengetahui ekstrakulrikuler apa saja yang ada di sekolah ini, kecuali fotografi tentunya –setelah Hyerin memberi tahu secara tak langsung padanya,  jadilah ia memilih untuk memilih ekstrakurikuler ini dengan meminta bantuan Jiyeon untuk mengambil formulir yang notabene adalah anggota club fotografi.

“I-ini formulirnya Chanyeol-ssi.” Chanyeol tersenyum lebar seraya mengambil formulir yang disodorkan Jiyeon padanya, tanpa tahu senyumnya membuat gadis di depannya itu berusaha mati-matian menutupi wajahnya yang telah memerah.

“Chanyeol-ssi? Bukannya waktu itu aku menyuruhmu dan Hyerin untuk memanggilku dengan sebutan oppa?!”

“Ah…um, ya.” Jiyeon hanya menganggup gugup menanggapi. Ia tak tahu harus membalas dengan kata apalagi. Sepertinya perasaan gugup memang benar-benar menguasai dirinya saat ini.

“Haha…sudahlah. Jadi kapan aku harus mengumpulkan formulir ini?”

“Le-lebih cepat lebih baik.”

“Baiklah. Gomawo Jiyeon-ah.” Setelah itu Chanyeol pergi melangkah meninggalkan Jiyeon dengan tak lupa memberi senyuman khas andalannya, yang membuat Jiyeon masih terus mamatung pada tempatnya jika saja tak ada suara familiar yang memanggilnya.

“Jiyeon-ssi!” Suara itu sukses membuat ia berbalik dan melihat ketua osis sekolahnya berlari menuju ke arahnya.

“Baekhyun sunbae? Ada apa?”

“Um, kau mau bergabung menjadi panitia pentas seni? Maksudku bidang dokumentasi. Aku sudah melihat beberapa hasil foto-fotomu dan aku menyukai semuanya. Yah daripada aku menyewa fotografer luar, padahal di sekolah ini banyak yang memiliki bakat itu.

“………..”

“Bagaimana?” Cukup lama Jiyeon terdiam memikirkan tawaran Baekhyun sebelum ia memilih untuk menganggukkan kepalanya.

“Baiklah kalau begitu. Dua hari lagi datanglah ke auditorium, kita akan rapat sepulang sekolah.”

Ne sunbae.” Setelah itu kecanggungan menghinggapi keduanya, sampai Baekhyun berinisiatif untuk menanyakan kemana Jiyeon akan pergi.

“Tujuan kita searah, mau jalan bersama?”

“Um yeah, sepertinya itu ide yang bagus.”

Satu urusan telah selesai –mengajak Jiyeon untuk bergabung dengan tim dokumentasi pentas seni, dan sekarang ia harus mengecek pemasukan dan pengeluaran yang akan diperlukan untuk mempublikasikan acara sekolah mereka nanti. Ngomong-ngomong tentang pemasukan keuangan untuk acara pentas seni ini nanti, Baekhyun tak terlalu ambil pusing karena ia dan panitia lain tak perlu repot-repot memikirkan seutuhnya bagaimana cara mereka mendapatkan dana. Bersyukurlah sekolah mereka dengan senang hati membiayai setengah dari jumlah uang yang dibutuhkan. Jangan heran, Hyundai High School memang terkenal adalah salah satu sekolah yang ‘Wow!’ dimata masyarakat Korea Selatan.

Sepertinya kecanggungan di antara mereka berdua telah meluap entah kemana, terlihat dari mereka yang sedang bercanda dan tertawa entah satu sama lain. Baekhyun dan Jiyeon berbelok pada tikungan di ujung koridor dan langkah keduanya terhenti begitu saja ketika melihat sesuatu yang berada beberapa meter di depan mereka. Cukup jauh memang, tapi mereka ias melihatnya dengan jelas.

Park Chanyeol sedang berciuman dengan seorang gadis yang mereka tahu pasti adalah Song Hyerin.

________________________

Aduh… Maaf banget lama updatenya T.T

Admin lagi sibuk soalnya~….

Dan aaf juga kalo ceritanya jadi makin gaje.. aduduh!!!

………

Akhir kata
.
.
Comment = Love

71 pemikiran pada “For You (Chapter 9)

  1. Park Chanyeol sedang berciuman dengan seorang gadis yang mereka tahu pasti adalah Song Hyerin.

    Kalimat terakhir itu ckup mmbuat q kaget, heran, n merasa aneh …
    Kaget, beneran itu mreka ?
    Heran, lho kq tiba2 ada kjadian gtu ?
    Aneh, gmn crtanya bsa mpe mteka berciuman gtu ???
    😀
    Pasti Jiyeon n Baek langsung patah hati itu ngliatnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s