Balas Dendam?

Author : Park Min Gi (@WhiteYellow716)
Main Cast :
– Kim Jong In
– Son Na Eun
Cameo :
– Kim Hye Jung
– Oh Se Hun
– Park Chan Yeol
– Kim Tae Yeon
Genre : Happy romace,friendship.
Rating : General.
Happy Reading ya…
~ Author POV ~
“Hyejung-ah,kita putus!” kata seorang namja dengan sangat santai tanpa menjaga perasaan lawan bicaranya itu.
“Mwo,Jonginie,kenapa kau ingin putus denganku?” tanya yeoja itu dengan suara serak menahan tangis.
“Jangan panggil aku Jonginie lagi,aku sudah bukan namjachingumu. Kenapa aku ingin putus? Tentu saja karena aku tidak mencintaimu lagi!” jawab namja itu dengan dengan wajah tanpa dosa sedikit pun.
Dan *plakk* tangan yeoja itu pun mendarat di pipi sebelah kiri Jongin dan meninggalkan bekas merah.
Hyejung lalu pergi dan langsung berlari meninggalkan Jongin. Ia menuju tempat yang sangat sepi. Hanya terdapat pohon yang lebat dan satu kursi panjang berwarna putih. “Huuuaaaa!!!! Jongin-ah,kenapa kau jahat padaku!!!” teriaknya sambil menangis,dia bebas berteriak sesuka hatinya disini,karena hanya dia yang ada di tempat itu. Ia segera mengangkat ponselnya dan menelfon teman baiknya. “Naeun-ah,cepat kau ke tempat biasanya,ada yang ingin ku ceritakan!” katanya dan langsung menutup ponselnya.
Tak lama setelah ia menelfon Naeun,Naeun pun langsung datang ke tempat sepi itu. Ia terkejut melihat wajah temannya kini telah banjir oleh air mata. Naeun pun langsung berlari menghampiri Hyejung. “Hyejung-ah,waeyo?” tanya Naeun penasaran. “Jongin?” tanya Naeun lagi tanpa menunggu jawaban dari Hyejung. Hyejung pun hanya mengangguk meladeni pertanyaan Naeun. “Tuh kan,sudah ku bilang,dia tidak baik untukmu,dia playboy,kenapa kau masih mau menghabiskan hidupmu melakukan hal yang tidak penting bersamanya?” celoteh Naeun. “Karena dia terlihat sangat baik saat mendekatiku.” Balas Hyejung sambil mengusap air matanya. “Entah yeoja ke berapakah kau yang dibuatnya menangis.” Kata Naeun.
“Sepertinya aku harus membalas sakit hatimu!” kata Naeun. “Bagaimana maksudmu?” tanya Hyejung bingung. “Aku akan mencoba mendekatinya,aku akan membuatnya jatuh cinta padaku,lalu aku akan meninggalkannya supaya dia tau bagaimana rasanya disakiti.” Jelas Naeun. “Tidak perlu!” kata Hyejung. “Aku bukan hanya membelamu,tapi temanku sudah banyak yang disakiti olehnya,dia harus tau bagaimana rasanya disakiti!” kata Naeun tetap teguh pada keputusan awalnya.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
~ Na Eun POV ~
Son Na Eun,apa kau tidak sadar atas apa yang tadi kau katakan,kau mencoba balas dendam pada Kim Jong In orang yang tidak pernah berbuat salah padamu sekali pun. Tapi,dia telah banyak menyakiti teman baikmu,Naeun-ah,perbuatanmu ini bertujuan baik supaya tidak banyak lagi yeoja yang disakiti oleh Kim Jong In sialan itu!
Aku bosan di kelas terus,lebih baik aku pergi ke lapangan basket. Saat sampai disana aku melihat keadaan sangat ramai,tumben sekali. Aku celingukan mencari apa yang membuat para yeoja-yeoja itu heboh.
Ah,pantas saja dari tadi semuanya berteriak-teriak histeris,rupanya Jongin sedang bertanding. Cih,dasar yeojadeul pabo,apa kalian tidak mengerti kalau dia itu playboy,suka memainkan perasaan perempuan. Masa hanya karena bibir sensualnya kalian bisa buta?
Karena disini satu-satunya tempat yang paling ramai lebih baik aku disini saja melihat pertandingan ini,walaupun sebenarnya aku tidak tau apa-apa. Saat sedang serius menonton *brukk* tiba-tiba saja aku terjatuh karena terkena bola basket yang ntah di lempar oleh siapa.
~ Na Eun POV End ~
 
~ Jong In POV ~
Ah,sial bolanya ku lempar terlalu keras sampai mengenai seorang yeoja. Aku dan teman-teman menghampirinya. “Jongin-ah,dia pingsan.” teriak Sehun. “Mwo,pingsan? Tidak mungkin,lemparan bolaku tidak terlalu keras,mungkin dia hanya pura-pura.” Balasku menanggapi kata Sehun. “Kau bodoh,hah? Bagaimana caranya dia bisa pura-pura pingsan,cepat angkat dia ke UKS,sebelum terjadi apa-apa dengannya!” bentak Chanyeol padaku.
Menyusahkan sekali yeoja ini,kenapa fisiknya sangat lemah,terkena lemparan saja sudah ambruk. Sekarang aku yang repot harus menggendongnya ke UKS. Chanyeol hyung juga kenapa membentakku saat aku tidak sengaja melempar bola ke arahnya. Parahnya aku tidak mengenal siapa yeoja ini.
Saat sudah sampai di UKS aku segera membaringkan tubuhnya di kasur yang ada di UKS itu. Chanyeol hyung juga menyuruhku untuk menungguinya sampai ia sadar,menyebalkan bukan? Untung aku membawa headphoneku,ku pasang headphone itu di telingaku.
Aku penasaran dengan identitas yeoja ini,ku lihat nametagnya bertulikaskan Son Na Eun. Oh,jadi namanya Naeun. Cantik juga yeoja ini,mungkin dia akan cocok jika menjadi yeojachinguku.
Tiba-tiba dia tersadar dari pingsan panjangnya itu. Ini lah saat yang aku tunggu,aku bisa segera pergi. Bosan menungguinya sedari tadi. “Kim Jong In,sedang apa kau disini?” tanyanya sambil sedikit menjauh. “Kau mengenalku?” tanyaku heran. “Ani,aku hanya asal tau namamu.” Jawabnya sinis. “Oh begitu.” Balasku singkat. “Jawab pertanyaanku,kenapa kau disini?” tanyanya lagi. “Chanyeol hyung yang menyuruhku membawamu kesini,karena tadi aku yang melemparkan bola dan tidak sengaja mengenai kepalamu.” Jelasku. “Oh jadi kau namja ceroboh itu?” tanyanya. “Kau menghinaku ceroboh,bukannya kau yang ceroboh karena berdiri di tempat yang salah?” balasku atas ejekannya. “Kenapa sekarang aku yang salah,kau saja tidak becus melempar bola!” katanya dengan lantang. “Terserah kau saja,aku tidak punya banyak waktu meladeni yeoja tidak jelas sepertimu,aku pergi!” balasku langsung menghentikan pembicaraan dan langsung beranjak pergi dari kursi tempat aku duduk tadi. “Jongin-ah!” panggilnya. “Wae?” tanyaku lalu berhenti sejenak “Gomawo sudah membawaku ke UKS ini.” Katanya lembut. “Ne,chonmaneyo.” Jawabku dengan senyuman kecil andalanku.
 
~ Jong In POV End ~
 
~ Na Eun POV ~
Dia yang membawaku kesini? Bagaimana caranya,apa dia menggendonku? Andwe~ itu tidak mungkin,apa yang tadi ia lakukan selagi menunggukiku,jangan sampai dia.. ah,Son Na Eun,singkirkan pikiran anehmu itu,positive thingking,okay?
Sepertinya kondisiku sudah pulih walaupun masih sedikit pusing. Lebih baik aku keluar dari tempat membosankan ini. Aku memutuskan untuk menuju kantin sambil melamunkan apa yang terjadi barusan. Bagaimana bisa kebetulan aku dicelakai olehnya,padahal baru kemarin aku berniat membalaskan sakit hati teman-temanku. Sepertinya tuhan memang sudah mengatur semua ini.
Aku sampai di kantin sekolah,lalu memesan suatu makanan,eee.. tidak,ini lebih tepat disebut camilan,aku duduk di pojok kantin sambil melahap camilan ringan yang aku bawa di tanganku. Tiba-tiba saja seseorang menyambar camilan yang aku bawa,mengambilnya dan melahapnya. “Neo mwohaneungoya?” bentakku karena tidak terima oleh perlakuannya. “Aku hanya minta seikit tapi reaksimu sudah separah itu,bagaimana jika camilan ini ku habiskan semuanya?” sindirnya. “Tentu saja aku marah,kau mengambil camilanku seenaknya tanpa permisi,kalau kau minta baik-baik pasti akan kuberi!” balasku dengan suara keras. “Ne,ne,mianhae,aku hanya bercanda,ini ku kembalikan camilanmu.” Katanya sambil menyodorkan camilanku yang tadi ia rampas. “Setelah memakannya apa kau tidak berterima kasih?” tanyaku. “Ne,kamsa hamnida,Naeun-ah!” jawabnya sedikit terpaksa.
“Naeun-ah,besok kau mau ikut aku tidak?” tanya Jongin. “Eodilo?” aku balik bertanya. “Jogging bersamaku.” Jawabnya santai. “Mwo? Jogging bersamamu?” sentakku kaget. “Waeyo?” tanya Jongin lagi. “Aku tidak suka olah raga.” Jawabku blak-blakan. “Jincha,lalu bagaimana bisa kau dapat tubuh setinggi ini?” tanya Jongin pura-pura kaget. “Anugrah dari tuhan.” Jawabku asal. “Ya sudah kalau tidak mau,aku bisa ajak yang lainnya.” Kata Jongin dengan dingginnya. Dan ia pun langsung bergegas pergi.
Tapi,Naeun-ah,bukannya ini awal yang baik untuk balas dendam,lebih baik aku menerima tawarannya. “Jongin-ah!” panggilku. “Wae,berubah pikiran?” tanyanya dan langsung berbalik. “Ne,kapan joggingnya?” tanyaku padanya.  “Minggu besok jam 07.00 tepat!” jawab Jongin. “Lalu?” tanyaku. “Tenang,aku akan menjemput tepat di rumahmu!” jawabnya,bagaimana dia bisa tau apa yang aku pikirkan,Jongin benar-benar ajaib!
******
Ya,saat yang aku tunggu,hari ini aku akan jogging bersama Jongin,entah kenapa firasatku campur aduk antara senang,risau,dan khawatir. Aku mengikat rambutku seperti kepang kuda dan mengambil handuk,siapa tau saja keringatku banyak bercucuran nantinya.
“tok.. tok.. tok..” terdengar seseorang mengetuk pintu,aku langsung berlari membukakan pintu,ternyata itu Jongin. “Jadikan?” tanyanya. “Kau tidak lihat aku sudah berpakaian seperti ini,tentu saja jadi.” Jawabku. “Kajja!” ajaknya.
Kami berlarian kecil mengitari komplek perumahanku. “Bagaimana kau bisa tau rumahku,Jongin-ah?” tanyaku karena masih penasaran. “Sudahlah kau tidak perlu tau!” jawabnya dingin. “Hemat kata-kata sekali sih,sampai tidak mau menjawab pertanyaanku!” kataku kesal. “Jangan marah Naeun-ah,ayo kita lanjutkan larinya!” ajak Jongin. Aku dan Jongin pun melanjutkan jogging.
Setelah sekitar 1 jam berlari aku pun merasakan lelah. “Jongin-ah,berhenti sebentar,istirahat dulu ya!” kataku sambil berhenti berlari. “Kau lelah?” tanya Jongin. “Tentu saja,kita sudah mengelilingi komplek ini 3 kali putaran tanpa berhenti!” pekikku sambil menghela nafas. “Ne,mari kita duduk dulu!” katanya sambil menunjuk bangku berwarna putih di bawah sebuah pohon.
Kami duduk bersebelahan,mau bagaimana lagi,bangku disini hanya satu. Tiba-tiba Jongin memandangiku. Apa yang dia lakukan,aku merasa canggung dengan apa yang dia lakukan sekarang. “Kau berkeringat.” Katanya. Lalu ia mengusap keringat yang ada di keningku dengan handuk yang ia bawa. Ada apa dengannya,kenapa tiba-tiba perhatian seperti ini,jangan-jangan….
“Jongin-ah,apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil menepis tangannya dari dahiku. “Hanya mengusap keringatmu,apa itu perbuatan kurang ajar?” balasnya dengan wajah polos. “Tidak juga sih,tapi perbuatanmu terlalu berlebihan,aku sudah bawa handuk. Percuma saja jika tadi aku membawa handuk dari rumah kalau kau sudah mengusap keringatku!” omelku dengan wajah sinis. “Hanya karena itu? Baiklah,kau ambil saja handukku ini,lalu kau beri handukmu padaku,supaya kau tidak menyesal telah membawa handuk!” candanya sambil menyodorkan handuknya. “tidak perlu selebay itu.” Kataku. “Kau sendiri yang berlebihan,masa hanya karena aku mengelap keringatmu kau marah-marah?” balas Jongin. “Okay,forget it now!” kataku yang tidak ingin percakapan menjadi panjang lebar dan tiada akhir.
“Jongin-ah,ayo kita pulang saja,aku sudah lelah!” bujukku. “Lelah,padahal ini belum 2 jam.” Balasnya menanggapi keluhku. “Ayolah,badanmu itu sudah sixpack,mau sesixpack apa lagi dengan olah raga berlama-lama?” tanyaku mencari alasan yang aneh. “Hahaha,jadi menurutmu aku sixpack?” balasnya. “Semua tau itu!” jawabku dengan datar. “Baiklah,ayo pulang!” ajak Jongin.
Aku berjalan santai bersamanya sembari menuju rumah. “Naeun-ah!” panggilnya lirih. Aku menoleh ke arahnya. Ia menatapku dalam,ia menatap mataku sambil memberi killer smile. “Ww.. wae??” balasku dengan gagap karena gugup dengan tatapan anehnya itu. “Tidak jadi!” katanya tiba-tiba menghentikan pandangan anehnya itu. Oh,aku tau apa maksudnya,jadi tatapan itu yang membuat banyak korban wanita berjatuhan,memuji-muji dan bertekuk lutut pada seorang Kim Jong In. Rupanya dia mencoba melakukan itu padaku,tapi ku rasa tidak akan bisa,hahaha.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Jongin. “Rasa lapar!” jawabku asal. “Bukan itu maksudku.” Gerutunya. “Lalu,apa?” tanyaku. “Sepertinya kau tidak paham dengan pertanyaanku,lupakan saja lha!” kata Jongin kehabisan kata-kata. “Apa,tadi kau bilang lapar? Bagaimana kalau kita makan?” ajaknya. “Odilo?” tanyaku. “Ke kedai kecil yang tadi kita lewati saat berlari.” Jawab Jongin. “Tidak usah,ummaku sudah memasak,untuk apa aku membuang uang untuk makan diluar?” balasku menolak ajakannya. “Kau menolak?” tanyanya sambil memasang raut muka sedih. “Kenapa kau mendadak sedih seperti itu,apa kau makan di rumahku saja?” tawarku. “Apa boleh?” tanya Jongin tiba-tiba menyingkirkan wajah sedihnya itu. “Aku bukan lah orang yang pelitnya keterlaluan,tentu saja boleh!” jawabku dengan tersenyum.
“Annyong..” salamku saat memasuki rumah,walaupun rumah ini kosong. Karena umma sedang pergi ke rumah Ahn ahjuma dan appa sedang mengurusi bisnis kecilnya ke tetangga sebelah.
Aku mempersilahkan Jongin untuk duduk di kursi meja makan. “Benar aku boleh mulai makan sekarang?” tanya Jongin tidak yakin. “Jongin-ah,tentu saja boleh.Jangan sungkan!” jawabku dengan sedikit bercanda. “Ne,kau tidak makan juga?” tanya Jongin. “Nanti saja.” Jawabku. “Ayolah kau makan juga,tidak enak jika aku makan sendirian,di rumah orang pula!” ujar Jongin yang memaksaku. “Baiklah,aku makan juga.” Balasku meladeni katanya. “Selamat makan.” Kata kami berdua serempak dan menikmati makanan di piring masing-masing.
“Aaahh.. kenyang!” kata Jongin setelah melahap makanan yang ada di piringnya. “Enak?” tanyaku. “Enak donk,kan gratis,hehe..” jawabnya sambil tertawa kecil. “Naeun-ah,gomawo atas makanannya,aku pamit pulang ya!” katanya sambil beranjak dari kursi meja makan. “Ne,cheonmaneyo..” jawabku lalu mengantarnya sampai pagar.
Saat ia sudah agak jauh dari rumah aku  menutup pagar rumahku dan segera masuk kembali dalam rumah. Aku segera mandi,walaupun tadi pagi aku sudah mandi tapi keringatku sangat bercucuran bekas jogging dengan Jongin tadi,baru kali ini aku merasa seberkeringat ini.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Kenapa aneh begini,kenapa tadi dia memberi tatapan yang sangat aneh padaku. Apa arti tatapan itu,saat aku tanya apa maksudnya dia malah bilang tidak jadi, huh,Jonginie kau menyebalkan. Hey,apa barusan,aku memanggilnya Jonginie,ah ralat maksudku Jongin-ah!
******
Aku memasuki gerbang sekolah,tiba-tiba saja Jongin langsung menghadangku. “Naeun-ah!” sapanya dengan aegyo. “What the hell?” tanyaku sambil melipat tanganku. “Gwaenchanayo,hanya ingin mengajakmu bersama-sama masuk kelas.” Jawabnya. “Kita beda kelas,Jongin-ah!” kataku. “Memang kalau jalan bersama harus satu kelas?” tanyanya. “Kenapa kau percaya diri sekali,kau belum bertanya aku mau atau tidak.” Kataku. “Aku tidak perlu susah-susah bertanya karena kau pasti mau.” Jawabnya dan langsung menggandeng tanganku. “Jongin-ah,kau apa-apaan sih,lepaskan aku! Kau mau aku dikroyok penggeramr-penggemarmu,hah?” teriakku sambil berusaha melepaskan gandengannya tapi tidak bisa,ia terlalu kuat.
Akhirnya kami sampai di kelasku dan aku langsung melepaskan gandengannya. “Huh,aku heran dimana-mana yoja yang agresif,kenapa dunia berputar menjadi namja yang agresif?” sindirku.
“Seharusnya kau bersyukur namja tampan sepertiku bisa melakukanmu dengan agresif!” balas jongin.
“Kau tampan? Ku rasa masih lebih tampan Chanyeol sunbaenim!” kataku.
“Jadi kau mengidolakan namja galak seperti dia?” tanya Jongin sedikit mencibir.
“Yang penting dia sopan dan pintar,tinggi besar pula!” sahutku.
“Tinggi besar? Aku kan juga tinggi besar,aku dan Chanyeol hyung hanya berjarak 3 cm!” desah Jongin dengan nada kesal.
“Kau terus saja memuji-muji dirimu sendiri,aku tidak ada waktu untuk melakukan hal bodoh seperti ini,lebih baik sekarang kau segera ke kelasmu!” paksaku lalu mendorongnya agar cepat pergi dan aku pun bergegas masuk ke kelasku.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Materi yang dibawakan  Taeyeon sonsaengnim sangat membosankan. Matematika,aku sangat membenci pelajaran ini. Entah kenapa,padahal pelajaran ini tidak pernah membuatku jengkel layaknya Kim Jong In itu.
Jam istirahat berbunyi,aku merapikan buku-buku yang berserakan di meja. Ku rasa hari ini aku cukup duduk saja tanpa keluar kelas satu kalipun kecuali saat pulang. Aku sangat malas bila nanti berpapasan dengan Jongin. Tujuan awalku mendekatinya kan untuk membuatnya jatuh cinta padaku dan balas dendam atas perlakuaannya pada teman-temanku. Tapi kenapa sangat sulit untuk melakukan hal itu?
eon machi chagaun machine
neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine
neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine
kalgachi areumdaun yeosin
neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine
neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine
Ponselku berdering,ku lihat siapa yang menelfonku. Nomornya tidak dikenal. Angkat tidak ya,aku takut kalau itu hanya orang iseng. Tapi tak apalah,aku angkat saja.
“Yoboseyo!” sapaku mengawali pembicaraan.
“Naeun-ah,kau dimana?” tanya seseorang di telfon ini.
“Nuguseyo?” tanyaku.
“Ini aku,Jongin!” jawabnya.
DEG!
Jongin yang menelfonku? Darimana dia dapatkan nomer telfonku?
“Naeun-ah,kenapa diam?” tanya Jongin menyadarkanku dari lamunanku.
“Aku di kelas.” Jawabku.
“Baiklah,aku segera ke sana.” Kata Jongin dan langsung menutup pembicaraan.
Mwo? Dia mau kemari,andwe~ bukannya tujuan awalku di kelas agar tidak bertemu dia,tapi aku malah memberi tau dimana keberadaanku sekarang? Paboya!
“Naeun-ah! aku datang…” Kata Jongin mengagetkanku dari balik pintu dengan ekspresi cildish tanpa malu. “Ne,waeyo?” tanyaku dengan lesu. “Gwaenchana,aku hanya” katanya terpotong. “Mau apa?” tanyaku penasaran. “Ah,tidak jadi!” balasnya. “Jongin-ah,kenapa setiap kau mengajak bicara serius kau selalu memotong pembicaraan itu dan bilang tidak jadi,dasar!” gerutuku kesal. “Memangnya kenapa sih kalau aku potong?” tanyanya dengan wajah polos. “Tentu saja aku jadi penasaran!” jawabku. “Oh,kau penasaran? Nanti akan aku beritau.” Katanya. “Onje?” tanyaku “Nanti sore,datanglah ke taman dekat komplekmu itu.” Jawab Jongin dan langsung pergi.
******
Sedari tadi aku masih bertanya-tanya,darimana ia mendapatkan nomor telfonku,dari mana dia tau rumahku. Ini benar-benar aneh,apa dia punya kekuatan telepathy sehingga tau tentangku tanpa menanyakan padaku langsung.
Aku merasa ini bukan gayaku,kenapa tiba-tiba aku ingin balas dendam kepada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan padaku,kenapa aku sangat perduli dengan urusan teman-temanku. Aku tau sebagai teman yang baik aku juga merasakan kesakitan hati mereka,tapi bukan begini pula caranya. Baiklah,keputusanku sudah bulat,akan aku urungkan niat burukku untuk balas dendam dan menyakiti hati Jongin.
Ternyata sudah jam 16.00 KST. Aku kan ada janji dengan Jongin,hampir saja aku lupa. Aku pun langsung bergegas menuju taman dekat komplek rumahku. Saat sudah sampai ku lihat seorang namja dengan jaket bermotif garis-garis sedang duduk di sebuah bangku taman, kurasa itu Jongin,aku pun langsung menghampirinya.
“Jongin-ah!” panggilku,ia sontak menoleh. “Naeun-ah,kau sudah datang rupanya,duduklah!” katanya dengan tersenyum tipis. “Ne.” Jawabku sambil mengangguk kecil dan langsung duduk.
“Jadi begini,sebenarnya~” kata Jongin dengan suara lirih. “Hemm.. sebentar,sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu!” ujarku. “Apa?” tanya Jongin sepertinya penasaran. “Tapi ku harap kau tidak akan marah.” Kataku. “Tenang saja,aku namja yang sabar kok!” balas Jongin yang lagi-lagi memuji dirinya sendiri.
“Jadi begini,sebenarnya tujuan awalku mendekatimu adalah untuk membalaskan dendam teman-temanku yang kau sakiti hatinya. Tapi aku sadar itu perbuatan tidak baik,maka dari itu aku menghentikannya.” Jelasku sambil menatap Jongin. Tapi Jongin hanya terdiam. “Jongin-ah,kau marah?” tanyaku.
“Hahahahahaha,Naeun-ah,kau sangat sangat sangat sangat dan sangat lucu!” katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal. “Maksudmu?” tanyaku. “Tentu saja,kau sangat aneh,balas dendam? Hahahaha~” jawabnya dan lagi-lagi ia tertawa terpingkal-pingkal. “Jongin-ah,kenapa sih?” tanyaku mulai jengkel. “Haha,kau mengira aku ini playboy apa,sampai kau mau balas dendam!” tanya Jongin “Tentu saja,kau kan namja terkenal di sekolah,tidak lazim jika kau bukan playboy!” jawabku sedikit mencibir. “Maaf ya,aku ini namja baik-baik,mereka saja yang terlalu agresif dan mengejar-ngejar cintaku,bahkan ada salah satu dari mereka yang mengancam akan bunuh diri kalau aku tidak mau jadi namjachingunya. Aku tidak suka yoja seperti itu! Mangkannya aku putuskan mereka.” jelas Jongin.
 “Lalu yoja seperti apa yang kau suka?” tanyaku.
“Neo!” jawab Jongin. Yang mebuatku kaget.
“Na?” tanyaku sedikit gagap. Dan Jongin hanya membalas dengan anggukan.
“Kau menyukaiku?” tanyaku lagi.
“Sudahlah,tidak usah dibahas!” kata Jongin yang mengalihkan topik pembicaraan.
“Lalu apa yang ingin kau katakan tadi?” tanyaku.
“Aku..” jawabnya yang lagi dipotong.
“Jongin-ah,kenapa kau selalu memotong pembicaraan serius! Tidak ada gunanya aku kemari lebih baik aku pulang.” Bentakku yang tidak tahan lagi dengan sikapnya yang membuat jengkel.
Aku beranjak pergi dari bangku di taman itu,tapi tiba-tiba Jongin berdiri dan langsung mendekapku. “Jongin apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Be mine!” bisiknya. “Maksudmu?” tanyaku yang masih tidak paham dengan perbuatan anehnya ini. “Saranghae.” Bisiknya lagi.
Ia lalu melepaskan pelukannya padaku. “Aku tau ini memang terlalu cepat,tapi aku tidak bisa menahan rasa ini lagi,Naeun-ah.” ujarnya. “Maksudmu tidak bisa menahan?” tanyaku. “Apa kau masih belum paham juga kalau aku mencintaimu,itu sebabnya aku bersikap agresif padamu!” ujarnya dengan wajah sebal. “Kau mencintaiku?” tanyaku. “Apa perkataanku kurang jelas,Naeun-ah!” balas Jongin.
“Haha,aku hanya meyakinkan diriku sendiri kalau aku tidak bermimpi.” Ujarku.
“Would you be mine?” tanya Jongin sambil berlutut di hadapanku.
“Walaupun menurutku ini juga terlalu cepat Jonginie,tapi ku rasa aku merasakan hal yang sama denganmu.” Jawabku.
“Artinya kau mau jadi yojachinguku?” tanya Jongin mengulang pertanyaanku.
“Ne.” jawabku malu-malu.
“Gomawo,chagi-ya!” kata Jongin lalu mendekapku lagi.
“Ini bukan jebakan supaya kau bisa balas dendam dan akan meninggalkanku saat kita sudah serius kan?” tanya Jongin bercanda.
*muach* aku mendaratkan bibirku di pipi Jongin. “Apa bila sudah seperti ini,apakah masih terlintas di otakku untuk balas dendam?” tanyaku.
“Aku yakin kau bukan yeoja sejahat itu.” Jawab Jongin dengan senyuman simpul.
– END –
 
Ini pertama kalinya aku publish FFku disini.
Maaf ya kalo ada yang ga suka ceritanya,castnya,alurnya,atau apa pun itu..
Satu yang penting,RCL ya readers ^^
Makasih :)))

24 pemikiran pada “Balas Dendam?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s