Half of My Heart: Chanyeol

Sub Title          : Fall for You

Author             : Inhi_Park & Kim Mus2

Main Casts      : Park Chanyeol&Song Yejin

Length             : Series

Genre              : Romance

Rating             : PG-12

Summary         :“Apapun akan ku lakukan demi mendapatkanmu.”

(Chanyeol’s side)

Raungan suara motor sport merahku berhenti seketika saat aku memutar kunci dan memarkirkannya dengan manis di depan sebuah cafe. Ku lambaikan tangan kananku saat penglihatanku menangkap wajah dua oarang yang sangat ku kenal. Dua orang sahabatku. Suho hyung dan Kai.

Keningku mengerut saat ternyata ekspresi dua orang itu tidak seceria wajahku saat ini.

“Hai hyung…” Sapaku sambilmelemparkan jaket kulit hitam serta kunci motor ke atas meja.

“Kenapa lagi, Chanyeol-ah?” Seolah bisa membaca pikiranku, Suho, namja yang terbilang paling tua diantara kami langsung dapat menebak kalau pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“Tidak apa-apa.” Jawabku enteng.

~Neon machi chagaun machine… Neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine… Neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine ~ Handphoneku berbunyi nyaring, tanda ada panggilan masuk.

“Ya… Kau tidak dengar? Handphonemu bunyi tuh…” Tegur Kai.

“Angkat dulu. Dia sudah menelpon kami berkali-kali. Katanya kau tidak bisa dihubungi.” Kata Suho hyung.

“Shireo…” Jawabku sambil menekan tombol merah, maka ponselku tak lagi bersuara.

“Kenapa?” Tanya Suho.

“Dia sudah gila.” sahutku.

“Tapi orang gila yang kau katakan itu Appamu.” Bantah Kai.

“Ara. Dan kalian tahu, Appaku itu menjodohkanku dengan anak dari rekan kerjanya. Ya tuhan, dia pikir sekarang kita ada di jaman apa? Apa masih musim yang namanya perjodohan…” Kataku panjang lebar.

“Jadi itu alasannya?” Suho hyung, masih dengan nada santainya.

“Emh… jadi kau akan dijodohkan?” Kata Kai sambil mengangguk-angguk. “Tunggu… tunggu… kau bilang kau akan dijodohkan? Memangnya kau mau?” tambahnya.

“Tentu saja tidak.” Tegasku.

“Ya… tentu saja tidak mau. Apa kata dunia kalau seorang Park Chanyeol,playboy yang paling terkenal seantero sekolah, tiba-tiba harus memiliki ikatan resmi dengan seorang wanita saja…”LedekKaiyang berbuah ketukan pelan di kepalanya.

“Kau jangan sembarangan mengataiku aku playboy. Jangan salahkan aku kalau yeoja-yeoja itu tergila-gila padaku.” ucapku angkuh. “Aku tidak pernah meminta mereka untuk bersikap baik padaku, mereka saja yang…”

Kata-kataku terhenti. Apa kau pernah mengalami situasi ketika semua yang ada di otakmu menghilang secara tiba-tiba? Aku mengalaminya saat ini. Rasanya seperti semua yang akan ku katakan menguap seketika saat seorang gadis berambut sepunggung melangkahkan kaki jenjangnya memasuki cafe tempatku berada saat ini.

“YA!” sebuah pukulan pelan dari Kai mendarat di lengan kananku. “Kau ini lihat apa sih?” Tanyanya.

Dua namja yang duduk di depanku kini mengikuti arah pandanganku yang terpaku pada sesosok gadis yang kini sedang duduk sendirian.

“Hah… jangan bilang kau tertarik pada yeoja itu?” tanya Kai sinis.

“Kau bercanda. Ada juga yeoja itu yang akan tertarik padaku.” jawabku percaya diri.

“Oh ya???” ledek Kai. “Buktikan.” Tambahnya.

Aku menjawab dengan seringaian penuh arti. Tanpa banyak bicara aku berdiri meninggalkan dua orang yang kini saling berpandangan menuju meja gadis itu.

“Emh… hai…” Sapaku.

Gadis itu tidak menjawab. Aku mengulurkan tangan kananku.

“Apa aku mengenalmu?” Tanyanya dingin.

“Aku Park Chanyeol.”

“Lalu?”

“Bwahahahaha…” Terdengar tawa yang menggelegar dari sudut cafe tempat dua kawanku berada. Sialan, mereka menertawaiku karena gadis ini terlihat sama sekali tidak tertarik padaku.

“Hmmm… kalau tidak keberatan, aku ingin berkenalan denganmu.”

Dengan tampak sedikit ragu-ragu, gadis itu menyambut uluran tanganku. “Yejin imnida.”

<><><>

Malam ini aku menginap di rumah Suho hyung karena rasanya aku sedang tidak ingin bertengkar dengan Appaku hari ini. Aku berbaring di kasurnya sementara si empunya sedang mandi. Kedua tanganku terulur ke udara. Ini adalah tangan yang menjabat tangan gadis bernama Yejin tadi. Tangan yang sangat lembut dan hangat. Aku menempatkan tanganku itu tepat di dadaku, merasakan debaran jantung yang bersemayang di dalamnya. Debaran yang sangat kuat setiap kali aku mengingatnya.

<><><>

Keesokan harinya aku kembali ke cafe tempat aku bertemu gadis bernama Yejin kemarin. Dan ~tadaaa~ gadis itu ada disana. Duduk di meja yang sama. Tapi tunggu, dia tidak sendiri. Dia nampak sedang mengobrol dengan seorang namja berperawakan tinggi yang kalau tidak salah bernama Kris, teman sekelasnya Suho hyung.

Meski tak bisa kupungkiri kalau aku benar-benar tidak suka melihatnya bersama namja lain, tapi aku sungguh senang bisa melihatnya hari ini. Setelah memesan soft drink, sekarang aku menyibukan diri dengan terus memperhatikannya. Memperhatikan gadis pertama yang tidak luluh akan pesonaku. Dan mungkin karena itulah aku langsung tertarik padanya.

<><><>

“Darimana saja kau?” itu suara Appaku. Baru satu langkah aku memasuki ruang tengah, Appa sudah menyambutku dengan tatapan dinginnya. “Appa sedang bertanya padamu, kenapa tidak menjawab?”

“Chanyeol-ah, kemari sebentar. Ada yang ingin kami bicarakan.” Kini giliran Eomma yang bersuara.

“Aku tidak mau dijodohkan eomma.” Dengan yakin aku menjawab sebelum mereka sempat mengutarakan maksudnya.

“Baiklah, kami tidak akan memaksa. Tapi tolong kau turuti permintaan kami sekali ini saja. Malam ini ikut kami makan malam dengan keluarga mereka ya?” Melihat ekspresi wanita paruh baya yang sangat ku sayangi itu, rasanya aku sudah tidak punya kekuatan untuk menolak.

“Baiklah.” Kataku lesu.

<><><>

Dan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Malam ini aku terlihat sangat konyol dengan jas semi formal yang atas dasar paksaan, pada akhirnya aku kenakan untuk acara makan malam dengan keluarga calon tunanganku di salah satu restaurant mewah.

Jam menunjukan pukul 19.30 saat sepasang suami istri seumuran kedua orang tuaku berjalan menuju meja kami. Dan penderitaanku pun dimulai.

“Anyeong Jongki-ssi…” Sapa Appaku.

Setelah puas saling menyapa, mengutarakan pujian dan lain-lain, sekarang giliran aku yang jadi pusat perhatian.

“Ahh… Kau pasti Chanyeol. Tampan sekali…” Pujian yang dilontarkan oleh wanita yang baru ku ketahui bernama Song Sohwa itu sama sekali tidak membuatku bangga.

“Oh iya, ngomong-ngomong mana calon menantuku?” Ya Tuhan, Appa… apa yang barusan kau katakan? Calon menantu? Yang benar saja… Rutukku dalam hati.

Berdasarkan informasi dari Song ahjuma, putrinya yang katanya sangat cantik itu akan datang terlambat karena ada sesuatu hal yang harus dia kerjakan dulu. Hah, akan lebih baik jika sekalian tidak datang saja…

Mataku menjelajahi setiap sudut ruangan demi membunuh rasa bosan yang hampir membuatku mati. Para orang tua ini sibuk mengobrolkan rencana mengenai pesta pertunangan yang akan dilaksanakan tidak lama lagi. Eomma bohong, katanya tidak memaksa, tapi nyatanya apa, aku sama sekali tidak di biarkan mengeluarkan pendapat sedikitpun. Hah, kalau terus seperti ini, jangan salahkan kalau aku nekad melakukan apapun demi membatalkan semua ini. lihat saja nanti, tekadku dalam hati.

Saat sedang asyik dengan aktifitas menjelajahi (?) seluruh sudut restaurat, aku melihat gadis itu, Yejin, dia ada di tempat ini. Apa yang sedang dia lakukan disini? Tanpa pikir panjang, aku beranjak meninggalkan meja dimana dua keluarga yang mulai terlibat pembicaraan yang semakin seru mengenai rencana pesta pertunangan itu.

“Chanyeol-ah… kau mau kemana?” Aku berjalan lurus ke arah Yejin dengan tanpa mempedulikan Eomma dan Appaku yang mulai berteriak memanggilku.

Setelah berada tepat dihadapannya, aku meraih lengan kanannya. Yejin menatapku nanar. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi yang berarti. Dan tanpa basa-basi aku menariknya menuju pintu keluar. Di belakang sana, suara kedua orang tuaku semakin membahana. Tapi telingaku seolah tertutup untuk semua itu, yang ada di kepalaku saat ini adalah sekarang aku harus memberitahu Yejin tentang perasaanku padanya.

Yejin mengikutiku tanpa banyak bersuara. Aku berhenti tepat di gerbang taman yang terletak tidak terlalu jauh dari restaurant tempat tadi kami bertemu. Kakiku berjalan memasuki taman setelah sebelumnya melepaskan genggaman tanganku darinya. Yejin mengikutiku.

Sekarang kami berada di taman yang cukup sepi. Kami berdiri berhadapan. “Yejin-ah…”Kataku. Tingginya yang hanya setinggi daguku membuatnya harus mendongakkan kepala agar bisa menatap lurus ke wajahku. “Apa kau menyukaiku?” Ia menautkan kedua alisnya.

“Emh… Yaa… Ku rasa kau orang baik.” Suaranya terdengar ragu-ragu.

“Bukan. Maksudku… apa kau menyukaiku sebagai seorang namja? Bukan karena aku baik…”

“Maksudmu?”

“Saranghae, Yejin-ah.”

Akhirnya. Akhirnya aku mengungkapkan apa yang kurasakan padanya. Aneh memang. Apalagi kalau dipikir-pikir kami hanya 2 kali bertemu. Bahkan dalam 2 pertemuan itu sama sekali tidak ada yang istimewa. Tapi inilah yang kurasakan. Meski pada awalnya aku juga bingung dengan apa yang kurasakan, tapi pada akhirnya aku yakin kalau aku jatuh cinta padanya. Dari pertama kali aku melihatnya.

Dia masih terdiam dan itu sukses membuat jantungku berdegup kencang mengantisipasi apa jawabannya.

“Aku… aku sudah di jodohkan oleh orang tuaku?”

~Dhuarrr~ Apa katanya barusan? Dia dijodohkan?

“Maksudmu?” tanyaku meminta penjelasan darinya.

“Ya, orang tuaku sudah memilihkan namja yang akan mendampingiku.”

Hah… andai dia tahu kalau sebenarnya aku memiliki takdir yang sama dengannya, dan saat ini aku sedang berusaha menolak takdir itu demi dirinya.

“Dan kau menerimanya?” tanyaku dengan suara lesu.

“Iya.” Dia menjawab tanpa sedikitpun keraguan dari suaranya.

“Kau mengenalnya?”

“Secara langsung, tidak.”

“Lalu bagaimana kau bisa menerimanya?”

“Karena aku jatuh cinta padanya.”

“Hah… Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada orang yang bahkan tidak kau kenal…” Aku tidak habis pikir. Dia bilang apa? Dia bilang kalau dia sudah jatuh cinta pada orang yang dijodohkan dengannya, orang yang bahkan tidak dia kenal.

“Entahlah… Lagipula kita tidak perlu punya alasan untuk mencintai orang lain.”

Aku terdiam. Yejin… gadis pertama yang sukses menarik perhatianku, gadis pertama yang memaksaku mengakui kalau aku mencintainya, gadis yang sangat ku harapkan bisa menjaga hatiku, dia mencintai orang lain.

“Aku harus kembali. Orang tuaku dan orang tua calon tunanganku sudah menunggu.” Dia melangkah pergi sementara aku masih sibuk merutuki nasib naasku sendiri.

Menyadari kalau saat ini Yejin sudah berjalan meninggalkanku, aku berusaha mengejarnya. “Tunggu… Yejin-ah…” teriakku. “Yejin…”

Percuma. Sepertinya dia sudah sangat yakin dengan perasaannya sendiri. Yejin sama sekali tidak menoleh padaku.

Aku terduduk di trotoar pinggir jalan. Kepalaku tertunduk.

Mungkin ini takdirku, aku kehilangan gadis yang sebenarnya kini sudah menguasai hatiku. Baiklah… sepertinya aku sudah tidak punya alasan untuk menolak perjodohan itu. Biar ku hadapi saja.

Dengan langkah super pelan dan tak bertenaga, aku kembali ke restauran tempat diadakannya acara makan malam dengan keluarga calon tunanganku.

“Kau kemana saja Chanyeol-ah? Kami lama menunggumu.” Tegur Appa begitu aku menampakan wajah di depan empat orang yang duduk mengelilingi sebuah meja yang cukup besar.

“Aku…” Tunggu sebentar bukan empat orang, tapi lima. Dan yang kelima itu… “Kau???”

“Anyeonghaseo… Song Yejin imnida.”

Benar, aku tidak salah lihat. Gadis yang sedang duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja itu adalah Yejin. Tapi bagaimana bisa?

“Lho? Aku kira kalian sudah saling mengenal. Tadi kalian…” Tanya Song ahjussi.

“Ah yeobo… Kau seperti tidak pernah muda saja…” Song ahjumma menimpali sambil mencubit pelan lengan suaminya.

“Oke… Apa ada yang bisa memberiku penjelasan. Aku benar-benar tidak mengerti…” Aku tidak bercanda, aku benar-benar tidak mengerti.

Setelah sejenak tertawa melihat reaksiku yang terkaget-kaget, akhirnya Eomma berbaik hati menjelaskan semuanya padaku. “Chanyeol-ah… Ini keluarga Song, mereka sahabat baik kami. Dan gadis cantik ini, namanya Song Yejin. Gadis yang akan menjadi tunanganmu.”

“Tapi berhubung kemarin kau bilang tidak setuju dengan perjodohan ini…”

“Tunggu Appa… aku…” Sahutku sebelum Appa menyelesaikan kalimatnya.

“Ahahaha… dasar anak muda.” Tawa pria paruh baya itu meledak. “Baiklah, Jongki-ssi… karena ini sudah malam, sepertinya kita harus mengakhiri makan malam kita sekarang. Kapan-kapan kita harus menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama lagi.” Kedua orang tuaku bangkit dari kursinya lalu secara bergiliran menyalami sepasang suami istri yang merupakan sahabat mereka sejak remaja dulu. “Chanyeol-ah, kau antar Yejin pulang ke rumahnya ya. Bagaimana Jongki? Boleh kan?” Kata Appa, sementara aku masih sibuk mencerna setiap kejadian yang baru saja terjadi.

“Tentu saja. Kita beri mereka waktu untuk saling mengenal. Yaa walau mereka mungkin sudah saling mengenal lebih yang kita tahu.” Dua pasang suami istri itu berjalan meninggalkan aku yang masih membatu.

“Kau belum mau pulang?” Kata Yejin yang sontak menarikku ke dunia nyata.

“Ah, ne… Kajja.” Kataku.

Aku berjalan dengan kedua lengan terselip di saku celana. Sesekali ku tendang kerikil yang ada di jalanan. Di belakangku, gadis dengan gaun berwarna peach berjalan membuntutiku.

“Jadi…” Ucapku tertahan.

“Emh…?”

Dengan sekali hentakkan ku balikkan tubuhku yang sontak membuatnya yang sedang berjalan di belakangku secara tiba-tiba juga menghentikan langkahnya. “Sejak kapan kau tahu kalau aku adalah orang yang dijodohkan denganmu?”

“Sejak pertama kali tahu kalau aku akan dijodohkan.” Jawabnya tenang

“Berarti…?”

Senyum tipis terukir di bibirnya. “Aku lebih pintar darimu Park Chanyeol. Kau pikir kita bertemu semata-mata karena kebetulan?” Katanya. “Berterimakasih lah pada Kris Oppa, dia yang membantuku mencari tahu seperti apa calon tunanganku ini.”

“Lalu pernyataanmu tadi… apa kau serius?” Tanyaku menyelidik.

“Aku serius. Kris Oppa memang sangat membantuku.” Katanya sambil mengangguk kuat.

“Bukan yang itu… Tapi, pernyataanmu saat kita bicara di taman tadi. Saat kau bilang kalau kau mencintai calon tunanganmu. Itu berarti kau mencintaiku kan?” Tanganku kini bertengger manis di kedua pundaknya. Dan bibirku menyunggingkan senyum bahagia.

Yejin menundukan kepalanya dalam. Wajahnya merona merah.

Senyumku melebar. Dalam hati aku bersorak karena tahu kalau ia memang jatuh cinta padaku. Ku tarik tubuh mungilnya ke dalam pelukanku. “Nado saranghae Song Yejin. Jeongmal saranghaeyo…”

~END~

~tet toret toreeeettt…~ “Chanyeol’s version is coming…” hehe

Setelah bersusah payah mendobrak yang namanya ‘writer’s block’, akhirnya selesai juga… #terharu.Semoga hasilnya ga mengecewakan para reader dan Chanyeol lovers yaa…

Dan seperti biasanya… untuk perbaikan di karya2 selanjutnya, di tunggu banget RCL nya yaa… Terima kasih…

Salam Authors n_n

82 pemikiran pada “Half of My Heart: Chanyeol

  1. “Apapun akan ku lakukan demi mendapatkanmu.” kta kata itu kayaknya nggak cocok deh ke ceritanya. kalau memang chanyeol akan melakukan apapun demi mendapatkan cintanya. tapi kenapa dia pasrah dan tidak memperjuangkan cintanya. jadinya kayak nggak seru deh…. sorry yah thorr, soalnya udah sering baca yg ginian ceritanya. sekali lagi sorry ya thorrr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s