Metronome (Chapter 2)

Author: monggu

Genre: Angst. Yaoi

Rating: PG-15

Length: Multi Chapter; 1959w

Main Cast: Park Chanyeol. Byun Baekhyun

Summary: “Baekhyunnie akan hidup 20 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun lagi!”

 

A/N: Makasih banyak buat yang udah baca dan review part 1-nya, author seneng banget T_T Dan ternyata lebih panjang dari perkiraan, sepertinya di lanjut ke Part 3. Terus disini ratingnya naik btw, wahaha. Ya udah deh, happy reading ya :3

Aku terbangun dan mengerjapkan mataku. Cahaya dari jendela menembus masuk ruangan, menghujaniku dengan rasa hangat yang nyaman. Aku menggulirkan pandanganku pada jam dinding di seberang, jarum pendeknya tepat menunjuk angka 10. Hari ini kami tidak punya jadwal, pantas saja tidak ada yang membangunkanku.

 

Aku melirik ranjang lain di ruangan. Kosong—Baekhyun sudah bangun duluan.

 

Aku duduk ditepi kasur, bengong. Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya. Aku mencoba mereka ulang kejadian tadi malam, dan yang bisa kuingat hanya suara batuk Baekhyun. Mukanya yang tirus dan layu, matanya yang sedikit berair, bibirnya yang pu—

“Kau sedang apa?”

 

Pikiranku buyar. Aku menengadahkan kepala, tampak sosok kecil Baekhyun berjalan masuk kedalam kamar. Rambutnya basah, dengan butir-butir air kecil menetes dari ujung helainya. Sebuah handuk putih tergantung di bahunya, dan dari sini aku bisa mencium aroma shampoo yang manis.

 

“Aku sedang memikirkan Baekhyun.” Jawabku asal ceplos.

 

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya, lalu dia tertawa kecil. Aku memperhatikan ujung bibirnya yang tertarik ke atas—yang dalam hitungan detik berhasil membuat jantungku mengeluarkan suara ‘dug’ kencang. Demi apapun, dia manis sekali. Seandainya aku jadi lebah dan dia madunya, mungkin aku sudah mati lantaran madu yang dia berikan terlalu manis.

 

“Omongan Chanyeol aneh seperti biasa. Pabo.” dia menjulurkan lidahnya, sembari menghampiri lemari baju, memilah-milah baju miliknya.

 

Benar, Baekhyun, aku memang bodoh. Demi kau, aku rela jadi orang paling bodoh sedunia. Aku rela orang lain memanggilku bodoh. Aku rela jadi Chanyeol yang bodoh kalau memang itu maumu.

 

“Baekhyun manis, loh,” aku terseyum lebar, sengaja mengeraskan suaraku agar Baekhyun dapat mendengarku dengan jelas. “Senyum lagi padaku, dong.

 

Baekhyun tidak menjawab, dia pura-pura sibuk mengacak tumpukan baju didalam lemari. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat telinganya memerah. Kalau saja akal sehatku sudah tidak ada, mungkin sekarang aku sudah menghampirinya, menggigit telinganya yang merona, dan membiarkan dia mencoba membebaskan diri secara sia-sia.

 

“Kau mau diam disana? Aku mau ganti baju,” aku menganggukkan kepala dengan polos. Baekhyun membalasnya dengan tatapan sinis.

 

Ani, keluar Park Chanyeol, sarapan sana.” ucapnya lagi. Aku mengerang, dan langsung ambil langkah keluar dari kamar.

 

Aku mengacak-ngacak rambutku sambil menyusuri jalan menuju dapur. Kepalaku menoleh kesana kemari, mencoba mencari anggota lain yang sedang beraktivitas. Tapi nihil, mulai dari kamarku hingga dapur, aku tidak menemukan siapapun. Kalau hari ini tidak ada jadwal, mungkin mereka semua pergi main keluar. Aku setengah meyakinkan hati bahwa sekarang hanya ada aku dan Baekhyun di sini. Hanya berdua. Apapun yang akan kami lakukan tidak jadi masalah.

 

Tapi itu hanya anggapanku, jadi wajar saja kalau aku kaget saat menemukan sang maknae—Sehun—sedang duduk sendirian menyantap sarapannya di meja makan. Aku menaikkan sebelah alisku, memberi otakku sedikit jeda untuk mencerna sosok anak lelaki di depanku.

 

“Pagi Yeol-hyung.” Sehun menengadahkan kepalanya ke arahku. Matanya kosong.

 

Aku mengangguk sembari mengeluarkan suara gumaman kecil. Padahal kukira Sehun sudah pergi entah kemana untuk menemui Luhan.

 

Tanganku meraih kotak sereal dan menaburkannya kedalam mangkuk berisi susu. Bukan sarapan yang mengenyangkan, sebenarnya. Tapi ini lumayan untuk mengganjal perutku sampai siang nanti, toh aku memang tidak punya kegiatan hari ini.

 

Sehun menatap mangkuk serealnya dengan hampa. Tangannya mengaduk-ngaduk isi mangkuk dengan sendok, sama sekali tidak berniat untuk menyantapnya. Aku berdeham dan menendang pelan kaki Sehun dari bawah meja, memberinya isyarat untuk segera menghentikan perbuatannya.

 

“Jangan diaduk-aduk begitu, Sehun-ah. Menjijikkan.” Ujarku.

 

Sehun mengalihkan pandangannya dari mangkuk ke arahku. Sorot matanya masih tak bernyawa seperti tadi.

 

Uh—hyung,” alisnya mengerut. Dia tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya, maka aku hanya balas menatapnya sambil mengunyah sarapanku.

 

“Hyung, tadi di lantai kamar mandi, aku—aku lihat sesuatu,”

 

Mwo?”

 

Sehun menggigit bibir bawahnya. “—darah.”

 

Aku butuh waktu cukup lama untuk menangkap maksud Sehun, karena aku benar-benar tidak tahu apa yang aneh dengan adanya darah di lantai kamar mandi. Aku baru membelalakkan mataku ketika Sehun melanjutkan perkataannya.

 

“Baekhyun-hyung masuk kamar mandi sebelum aku, jadi kukira dia yang—“

 

Sehun tidak melanjutkan ucapannya, dia diam. Aku tahu dia pasti dihujani oleh pikiran-pikiran aneh tentang Baekhyun. Mungkin dia mengira Baekhyun sedang terluka, atau Baekhyun telah membunuh anak ayam di kamar mandi dan meminum darahnya.

 

Tapi justru pikiranku lebih aneh dan acak-acakan. Yang bisa kuingat sekarang hanya penyakit Baekhyun, dan betapa parahnya itu hingga bisa mengeluarkan darah dari tubuhnya. Seketika aku dihantam rasa takut yang besar—besar sekali. Bagaimana bila ternyata sudah separah itu? Bagaimana bila aku tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya diam menyaksikannya? Bagaimana jika semuanya sudah terlambat?

 

“Yaa, kenapa kalian berdua bengong?”

 

Lagi-lagi. Baekhyun muncul di belakangku, mukanya datar. Kulihat rambutnya masih sedikit basah. Untung saja aku sedang tidak melahap serealku, kalau iya mungkin aku sudah tersedak.

 

Sehun tampak kaget sekali. Pupil matanya menipis, memperhatikan sosok Baekhyun dengan hati-hati. Sang main vocal balas menatap si maknae, lalu senyumnya mengembang. Senyum termanis yang pernah kulihat.

 

“Jangan melotot begitu Sehun, kau kenapa?” Baekhyun sekarang berdiri tepat di belakang kursi tempatku duduk, kedua tangannya mendarat diatas pundakku.

 

“Aku melihat darah di kamar mandi, apa hyung—“

 

“Itu darahku, tadi kakiku tergores sesuatu dan aku tidak menyangka darahnya akan keluar banyak.” Baekhyun memotong perkataan sang maknae dengan cepat, seolah dia tahu maksud dan isi pertanyaannya jauh sebelum Sehun membuka mulutnya.

 

Aku tidak tahu apakah harus mempercayai Baekhyun apa tidak, kakinya nampak baik-baik saja, tanpa bekas luka. Untuk sekarang, aku anggap saja itu benar. Aku tahu Baekhyun tidak akan berbohong tanpa alasan.

 

*

 

Pikiran tentang Baekhyun terus menghantuiku, memasuki sela-sela kehidupanku seperti bayangan. Apapun yang kulakukan, aku teringat dia. Apapun yang kupikirkan, selalu berakhir padanya. Semua kegiatanku terusik, aku tidak bisa fokus. Aku bahkan sering gagal menangkap maksud perkataan orang yang bicara padaku. Mereka bilang aku terlalu banyak bengong.

 

“Ya! Chanyeol!”

 

Aku tersentak. Hal-hal yang tengah kulamunkan barusan mulai pudar, dan sayup terdengar lantunan lagu tak asing. Aku mulai mengenali lagu ini—laguku.

 

Oh. Aku sedang latihan koreografi.

 

Kesadaranku lambat laun pulih. Aku menutup mata dan menggelengkan kepala, mencoba mengingat apa yang sekarang sedang kulakukan. Begitu aku membuka mataku kembali, muncul sosok seseorang tengah melambaikan tangannya di hadapan mukaku.

 

“Park Chanyeol! Kau dengar tidak?” Terdengar suara bentakan yang cukup keras. Itu Suho-hyung, wajahnya tampak kesal. Jarang-jarang aku melihatnya seperti ini.

 

“Aku dengar, hyung. Ada apa?”

 

Suho menghela napas panjang. Dia mengumbar senyum terpaksa, kentara sekali sedang menahan amarahnya. “Kau tidak dengar. Kubilang dinginkanlah kepalamu dulu, kau mengacaukan latihan kita. Dari awal kau hanya diam mematung disana, kau kerasukan atau apa?”

 

Aku ingin mengatakan bahwa kepalaku sudah dingin. Beku—sampai-sampai aku tidak bisa memikirkan apapun. Aku juga ingin bilang kalau aku sedang tidak kerasukan. Tapi Suho-hyung akan lebih marah kalau aku mengatakan itu, jadi kukurungkan niatku.

 

Aku menepi ke sudut ruangan dan duduk di sana. Dari tempat itu, aku bisa mengamati seantero ruangan. Musik kembali mengalun—MAMA. Anggota lain mulai menggerakkan tubuh sesuai koreografi, bersamaan dengan turunnya butir-butir peluh dari dahi mereka. Tapi aku tidak peduli pada yang lain, mataku hanya mengikuti Baekhyun.

 

Dia tampak sehat, tidak ada tanda-tanda bahwa gerakannya melemah. Sesekali dia terbatuk kecil, dan aku yakin hanya aku yang memperhatikan hal ini.

 

Pada suatu bagian, Baekhyun terbatuk lagi. Aku melemparkan pandangan iba—hatiku sakit. Kulihat tariannya melambat, hingga akhirnya dia berhenti. Aku nyaris melompat ke arahnya dari tempatku duduk ketika Baekhyun tiba-tiba membungkuk, memegangi perutnya sambil terbatuk keras. Suaranya serak dan kering.

 

“Baekhyunnie!” Aku mengelus pundaknya, berusaha untuk menghentikan serangan batuk. Mukanya mulai memerah—dia tidak diberi kesempatan untuk mengambil napas. Aku mencengkram lengan bajunya dengan keras, sementara yang lain hanya memperhatikan dengan bingung. Kecuali Suho-hyung, yang panik mengambilkan botol minum untuk Baekhyun.

 

“Apa hyung sedang sakit?” Jongin bertanya dengan suara pelan.

 

“Aku tidak tahu. Flu, mungkin.” Jawab Baekhyun kemudian, ketika akhirnya dia berhenti batuk dan menenangkan kembali jantungnya.

 

Setelah Baekhyun diserang serangkaian batuk lain, Suho mengambil keputusan singkat untuk menyuruhnya pulang dan istirahat duluan. Aku memaksa agar aku juga diizinkan kembali ke dorm dengannya.

 

Dalam perjalanan pulang, kami tak banyak bicara. Baekhyun hanya batuk. Dan aku hanya menggenggam tangannya dalam diam.

 

*

 

Hal pertama yang dilakukan Baekhyun saat tiba di dorm adalah berlari menuju kamar dan mendarat di kasur miliknya. Aku mengekor dari belakang, lalu duduk di tepi ranjangnya.

 

Baekhyun membenamkan kepalanya dalam-dalam pada bantal sambil bergelung seperti kucing. Aku memaksa diriku untuk tidak tersenyum melihat pemandangan itu, ini bukan saat yang tepat.

 

“Kau ngapain duduk disana?” Baekhyun bertanya setelah beberapa saat, suaranya teredam oleh bantal.

 

“Kalau aku pergi nanti Baekhyunnie batuk lagi.” Tukasku dengan cepat. Alasan paling tidak masuk akal yang pernah kubuat. Kukira Baekhyun akan mengataiku bodoh lagi, tapi tidak. Dia tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhnya ke posisi terlentang dan menatapku dengan matanya yang sayu.

 

“Hei, Chanyeol,”Baekhyun membuka mulutnya, masih melekatkan matanya ke arahku. Dia sempat memberi jeda lama sebelum melanjutkan ucapannya. “…aku capek.”

 

Aku memiringkan kepala beberapa senti, terlihat bingung, walau sebenarnya aku tahu maksud perkataan Baekhyun. “Apanya?”

 

“Kau tahu kan tentang penyakitku? Kau tahu kan kemana aku dan manager-hyung pergi tiap minggu?”

 

Sebuah pertanyaan yang paling tidak ingin aku dengar. Tapi aku tidak berniat untuk pura-pura tidak tahu lagi. Aku mengangguk pelan, bibirku melengkung ke bawah.

 

“Tahu tidak, kemarin—“ kulihat dia tersenyum hambar. Alisnya mengerut sedih.

 

“—kemarin aku dengar mereka memberiku vonis 2 tahun.”

 

Jemariku spontan mencengkram kain sprei ranjang. Mataku membulat, aku berusaha mati-matian untuk menyembunyikan rasa terkejutku. Hatiku melejit sakit lagi—kali ini jauh lebih sakit, sakit sekali. Orang sialan mana yang berani memberi Baekhyunku waktu hidup 2 tahun?

 

Aku butuh usaha besar untuk tetap membuat diriku stabil. Banyak hal yang ingin kukatakan, tapi akhirnya yang keluar hanya sebuah pertanyaan bodoh—“Kau sakit apa memangnya?”

 

Baekhyun menangkat pundaknya sedikit. “Sesuatu yang parah. Tidak bisa diobati, hanya diperlambat.”

 

“Aku tidak percaya.” Jawabku singkat. Aku serius, sepintar apapun dokternya, aku tidak akan percaya. Kalau semua dokter di dunia memperkirakan jangka hidupnya 2 tahun, maka aku akan membuat diriku jadi satu-satunya dokter yang memberinya harapan hidup 1000 tahun.

 

“Baekhyunnie akan hidup 20 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun lagi!” ujarku dengan tulus. Aku memberinya senyum terbaik yang pernah kumiliki, senyum yang hanya kupersembahkan untuk orang yang paling kusayangi. Baekhyun membalasnya denan seringai lemah, lalu dia berbalik membelakangiku.

 

Aku mencondongkan tubuhku mendekat, mencoba melihat wajahnya. Dan seketika aku menyesal, harusnya aku tidak melakukkan ini.

 

Baekhyun menangis.

 

Menangis. Air mata bening membuat jejak basah di pipinya. Dia terisak pelan, bibirnya terkatup rapat—berusaha meredam suara yang dia keluarkan.

 

Aku diam terpaku di posisiku. Aku menahan napas, berusaha untuk tidak terbawa suasana dan malah ikut menangis. Tapi apa boleh buat, air sudah menggenangi sudut mataku. Aku diam-diam menghapusnya dengan lengan bajuku.

 

Tapi Baekhyun malah terisak lebih keras. Jantungku nyaris hilang ketika aku memanggil dan membalikkan badannya ke arahku, dia terlihat kusut. Hidungnya merah, dan sekarang pipinya benar-benar basah oleh air mata.

 

“Baekhyunnie…” Aku mengusap ujung matanya dengan lembut, sambil masih menahan rasa sakit hatiku. Aku tidak mau melihatnya tampak lemah. Tapi dia masih menangis.

 

“Ap—apa yang harus kulakukan kalau hanya dua tahun?” Baekhyun bertutur pelan, sambil masih sesekali tersedak.

 

“….Banyak hal yang ingin aku lakukan, Chanyeol.” Lanjutnya. Lalu dia mengernyit, mengeluarkan air mata lagi. Aku menggenggam kedua lengannya untuk membuatnya tenang, namun tidak berhasil.

 

Aku menarik napas panjang, lalu mendekat ke arahnya. Sekarang aku dan Baekhyun hanya berjarak beberapa senti, aku bahkan bisa merasakan panas dari wajahnya. Baekhyun memandangku dengan matanya yang berair, dan aku hanya bisa balas menatapnya.

 

Tahu-tahu saja aku sudah menempelkan bibirku diatas miliknya. Aku memajukkan wajahku kedepan sedikit lagi, menciumnya lebih dalam. Pipiku ikut basah ketika bersentuhan dengan mukanya.

 

Baekhyun mengeluarkan suara erangan kecil ketika aku melepaskan ciumanku untuk mengambil napas. Tangannya menarik kepalaku dari belakang, mencoba membuatku kembali padanya. Aku tidak bisa menolak.

 

Kali ini Baekhyun banyak berulah. Tepat ketika aku mendarat di atas bibirnya, dia langsung menggigitku dengan keras. Aku mengutuk dalam hati, rasanya sakit. Tapi aku bisa dengan cepat mengabaikan perihnya karena Baekhyun tiba-tiba mengulum bibir bawahku dengan manis, sambil sesekali menggunakkan lidahnya.

 

“Tidak akan hanya 2 tahun,” ucapku pelan, ketika aku mengangkat bibirku. Aku bisa merasakan Baekhyun tersenyum, walau aku tidak melihatnya.

 

“Tidak ada yang bisa mengambil Baekhyunnie dariku.”

Tidak boleh ada.

 

-TBC-

 

Metronome [Part 2]

Author: monggu

Genre: Angst. Yaoi

Rating: PG-15

Length: Multi Chapter; 1959w

Main Cast: Park Chanyeol. Byun Baekhyun

Summary: “Baekhyunnie akan hidup 20 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun lagi!”

 

A/N: Makasih banyak buat yang udah baca dan review part 1-nya, author seneng banget T_T Dan ternyata lebih panjang dari perkiraan, sepertinya di lanjut ke Part 3. Terus disini ratingnya naik btw, wahaha. Ya udah deh, happy reading ya :3

 

Aku terbangun dan mengerjapkan mataku. Cahaya dari jendela menembus masuk ruangan, menghujaniku dengan rasa hangat yang nyaman. Aku menggulirkan pandanganku pada jam dinding di seberang, jarum pendeknya tepat menunjuk angka 10. Hari ini kami tidak punya jadwal, pantas saja tidak ada yang membangunkanku.

 

Aku melirik ranjang lain di ruangan. Kosong—Baekhyun sudah bangun duluan.

 

Aku duduk ditepi kasur, bengong. Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya. Aku mencoba mereka ulang kejadian tadi malam, dan yang bisa kuingat hanya suara batuk Baekhyun. Mukanya yang tirus dan layu, matanya yang sedikit berair, bibirnya yang pu—

 

“Kau sedang apa?”

 

Pikiranku buyar. Aku menengadahkan kepala, tampak sosok kecil Baekhyun berjalan masuk kedalam kamar. Rambutnya basah, dengan butir-butir air kecil menetes dari ujung helainya. Sebuah handuk putih tergantung di bahunya, dan dari sini aku bisa mencium aroma shampoo yang manis.

 

“Aku sedang memikirkan Baekhyun.” Jawabku asal ceplos.

 

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya, lalu dia tertawa kecil. Aku memperhatikan ujung bibirnya yang tertarik ke atas—yang dalam hitungan detik berhasil membuat jantungku mengeluarkan suara ‘dug’ kencang. Demi apapun, dia manis sekali. Seandainya aku jadi lebah dan dia madunya, mungkin aku sudah mati lantaran madu yang dia berikan terlalu manis.

 

“Omongan Chanyeol aneh seperti biasa. Pabo.” dia menjulurkan lidahnya, sembari menghampiri lemari baju, memilah-milah baju miliknya.

 

Benar, Baekhyun, aku memang bodoh. Demi kau, aku rela jadi orang paling bodoh sedunia. Aku rela orang lain memanggilku bodoh. Aku rela jadi Chanyeol yang bodoh kalau memang itu maumu.

 

“Baekhyun manis, loh,” aku terseyum lebar, sengaja mengeraskan suaraku agar Baekhyun dapat mendengarku dengan jelas. “Senyum lagi padaku, dong.

 

Baekhyun tidak menjawab, dia pura-pura sibuk mengacak tumpukan baju didalam lemari. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat telinganya memerah. Kalau saja akal sehatku sudah tidak ada, mungkin sekarang aku sudah menghampirinya, menggigit telinganya yang merona, dan membiarkan dia mencoba membebaskan diri secara sia-sia.

 

“Kau mau diam disana? Aku mau ganti baju,” aku menganggukkan kepala dengan polos. Baekhyun membalasnya dengan tatapan sinis.

 

Ani, keluar Park Chanyeol, sarapan sana.” ucapnya lagi. Aku mengerang, dan langsung ambil langkah keluar dari kamar.

 

Aku mengacak-ngacak rambutku sambil menyusuri jalan menuju dapur. Kepalaku menoleh kesana kemari, mencoba mencari anggota lain yang sedang beraktivitas. Tapi nihil, mulai dari kamarku hingga dapur, aku tidak menemukan siapapun. Kalau hari ini tidak ada jadwal, mungkin mereka semua pergi main keluar. Aku setengah meyakinkan hati bahwa sekarang hanya ada aku dan Baekhyun di sini. Hanya berdua. Apapun yang akan kami lakukan tidak jadi masalah.

 

Tapi itu hanya anggapanku, jadi wajar saja kalau aku kaget saat menemukan sang maknae—Sehun—sedang duduk sendirian menyantap sarapannya di meja makan. Aku menaikkan sebelah alisku, memberi otakku sedikit jeda untuk mencerna sosok anak lelaki di depanku.

 

“Pagi Yeol-hyung.” Sehun menengadahkan kepalanya ke arahku. Matanya kosong.

 

Aku mengangguk sembari mengeluarkan suara gumaman kecil. Padahal kukira Sehun sudah pergi entah kemana untuk menemui Luhan.

 

Tanganku meraih kotak sereal dan menaburkannya kedalam mangkuk berisi susu. Bukan sarapan yang mengenyangkan, sebenarnya. Tapi ini lumayan untuk mengganjal perutku sampai siang nanti, toh aku memang tidak punya kegiatan hari ini.

 

Sehun menatap mangkuk serealnya dengan hampa. Tangannya mengaduk-ngaduk isi mangkuk dengan sendok, sama sekali tidak berniat untuk menyantapnya. Aku berdeham dan menendang pelan kaki Sehun dari bawah meja, memberinya isyarat untuk segera menghentikan perbuatannya.

 

“Jangan diaduk-aduk begitu, Sehun-ah. Menjijikkan.” Ujarku.

 

Sehun mengalihkan pandangannya dari mangkuk ke arahku. Sorot matanya masih tak bernyawa seperti tadi.

 

Uh—hyung,” alisnya mengerut. Dia tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya, maka aku hanya balas menatapnya sambil mengunyah sarapanku.

 

“Hyung, tadi di lantai kamar mandi, aku—aku lihat sesuatu,”

 

Mwo?”

 

Sehun menggigit bibir bawahnya. “—darah.”

 

Aku butuh waktu cukup lama untuk menangkap maksud Sehun, karena aku benar-benar tidak tahu apa yang aneh dengan adanya darah di lantai kamar mandi. Aku baru membelalakkan mataku ketika Sehun melanjutkan perkataannya.

 

“Baekhyun-hyung masuk kamar mandi sebelum aku, jadi kukira dia yang—“

 

Sehun tidak melanjutkan ucapannya, dia diam. Aku tahu dia pasti dihujani oleh pikiran-pikiran aneh tentang Baekhyun. Mungkin dia mengira Baekhyun sedang terluka, atau Baekhyun telah membunuh anak ayam di kamar mandi dan meminum darahnya.

 

Tapi justru pikiranku lebih aneh dan acak-acakan. Yang bisa kuingat sekarang hanya penyakit Baekhyun, dan betapa parahnya itu hingga bisa mengeluarkan darah dari tubuhnya. Seketika aku dihantam rasa takut yang besar—besar sekali. Bagaimana bila ternyata sudah separah itu? Bagaimana bila aku tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya diam menyaksikannya? Bagaimana jika semuanya sudah terlambat?

 

“Yaa, kenapa kalian berdua bengong?”

 

Lagi-lagi. Baekhyun muncul di belakangku, mukanya datar. Kulihat rambutnya masih sedikit basah. Untung saja aku sedang tidak melahap serealku, kalau iya mungkin aku sudah tersedak.

 

Sehun tampak kaget sekali. Pupil matanya menipis, memperhatikan sosok Baekhyun dengan hati-hati. Sang main vocal balas menatap si maknae, lalu senyumnya mengembang. Senyum termanis yang pernah kulihat.

 

“Jangan melotot begitu Sehun, kau kenapa?” Baekhyun sekarang berdiri tepat di belakang kursi tempatku duduk, kedua tangannya mendarat diatas pundakku.

 

“Aku melihat darah di kamar mandi, apa hyung—“

 

“Itu darahku, tadi kakiku tergores sesuatu dan aku tidak menyangka darahnya akan keluar banyak.” Baekhyun memotong perkataan sang maknae dengan cepat, seolah dia tahu maksud dan isi pertanyaannya jauh sebelum Sehun membuka mulutnya.

 

Aku tidak tahu apakah harus mempercayai Baekhyun apa tidak, kakinya nampak baik-baik saja, tanpa bekas luka. Untuk sekarang, aku anggap saja itu benar. Aku tahu Baekhyun tidak akan berbohong tanpa alasan.

 

*

 

Pikiran tentang Baekhyun terus menghantuiku, memasuki sela-sela kehidupanku seperti bayangan. Apapun yang kulakukan, aku teringat dia. Apapun yang kupikirkan, selalu berakhir padanya. Semua kegiatanku terusik, aku tidak bisa fokus. Aku bahkan sering gagal menangkap maksud perkataan orang yang bicara padaku. Mereka bilang aku terlalu banyak bengong.

 

“Ya! Chanyeol!”

 

Aku tersentak. Hal-hal yang tengah kulamunkan barusan mulai pudar, dan sayup terdengar lantunan lagu tak asing. Aku mulai mengenali lagu ini—laguku.

 

Oh. Aku sedang latihan koreografi.

 

Kesadaranku lambat laun pulih. Aku menutup mata dan menggelengkan kepala, mencoba mengingat apa yang sekarang sedang kulakukan. Begitu aku membuka mataku kembali, muncul sosok seseorang tengah melambaikan tangannya di hadapan mukaku.

 

“Park Chanyeol! Kau dengar tidak?” Terdengar suara bentakan yang cukup keras. Itu Suho-hyung, wajahnya tampak kesal. Jarang-jarang aku melihatnya seperti ini.

 

“Aku dengar, hyung. Ada apa?”

 

Suho menghela napas panjang. Dia mengumbar senyum terpaksa, kentara sekali sedang menahan amarahnya. “Kau tidak dengar. Kubilang dinginkanlah kepalamu dulu, kau mengacaukan latihan kita. Dari awal kau hanya diam mematung disana, kau kerasukan atau apa?”

 

Aku ingin mengatakan bahwa kepalaku sudah dingin. Beku—sampai-sampai aku tidak bisa memikirkan apapun. Aku juga ingin bilang kalau aku sedang tidak kerasukan. Tapi Suho-hyung akan lebih marah kalau aku mengatakan itu, jadi kukurungkan niatku.

 

Aku menepi ke sudut ruangan dan duduk di sana. Dari tempat itu, aku bisa mengamati seantero ruangan. Musik kembali mengalun—MAMA. Anggota lain mulai menggerakkan tubuh sesuai koreografi, bersamaan dengan turunnya butir-butir peluh dari dahi mereka. Tapi aku tidak peduli pada yang lain, mataku hanya mengikuti Baekhyun.

 

Dia tampak sehat, tidak ada tanda-tanda bahwa gerakannya melemah. Sesekali dia terbatuk kecil, dan aku yakin hanya aku yang memperhatikan hal ini.

 

Pada suatu bagian, Baekhyun terbatuk lagi. Aku melemparkan pandangan iba—hatiku sakit. Kulihat tariannya melambat, hingga akhirnya dia berhenti. Aku nyaris melompat ke arahnya dari tempatku duduk ketika Baekhyun tiba-tiba membungkuk, memegangi perutnya sambil terbatuk keras. Suaranya serak dan kering.

 

“Baekhyunnie!” Aku mengelus pundaknya, berusaha untuk menghentikan serangan batuk. Mukanya mulai memerah—dia tidak diberi kesempatan untuk mengambil napas. Aku mencengkram lengan bajunya dengan keras, sementara yang lain hanya memperhatikan dengan bingung. Kecuali Suho-hyung, yang panik mengambilkan botol minum untuk Baekhyun.

 

“Apa hyung sedang sakit?” Jongin bertanya dengan suara pelan.

 

“Aku tidak tahu. Flu, mungkin.” Jawab Baekhyun kemudian, ketika akhirnya dia berhenti batuk dan menenangkan kembali jantungnya.

 

Setelah Baekhyun diserang serangkaian batuk lain, Suho mengambil keputusan singkat untuk menyuruhnya pulang dan istirahat duluan. Aku memaksa agar aku juga diizinkan kembali ke dorm dengannya.

 

Dalam perjalanan pulang, kami tak banyak bicara. Baekhyun hanya batuk. Dan aku hanya menggenggam tangannya dalam diam.

 

*

 

Hal pertama yang dilakukan Baekhyun saat tiba di dorm adalah berlari menuju kamar dan mendarat di kasur miliknya. Aku mengekor dari belakang, lalu duduk di tepi ranjangnya.

 

Baekhyun membenamkan kepalanya dalam-dalam pada bantal sambil bergelung seperti kucing. Aku memaksa diriku untuk tidak tersenyum melihat pemandangan itu, ini bukan saat yang tepat.

 

“Kau ngapain duduk disana?” Baekhyun bertanya setelah beberapa saat, suaranya teredam oleh bantal.

 

“Kalau aku pergi nanti Baekhyunnie batuk lagi.” Tukasku dengan cepat. Alasan paling tidak masuk akal yang pernah kubuat. Kukira Baekhyun akan mengataiku bodoh lagi, tapi tidak. Dia tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhnya ke posisi terlentang dan menatapku dengan matanya yang sayu.

 

“Hei, Chanyeol,”Baekhyun membuka mulutnya, masih melekatkan matanya ke arahku. Dia sempat memberi jeda lama sebelum melanjutkan ucapannya. “…aku capek.”

 

Aku memiringkan kepala beberapa senti, terlihat bingung, walau sebenarnya aku tahu maksud perkataan Baekhyun. “Apanya?”

 

“Kau tahu kan tentang penyakitku? Kau tahu kan kemana aku dan manager-hyung pergi tiap minggu?”

 

Sebuah pertanyaan yang paling tidak ingin aku dengar. Tapi aku tidak berniat untuk pura-pura tidak tahu lagi. Aku mengangguk pelan, bibirku melengkung ke bawah.

 

“Tahu tidak, kemarin—“ kulihat dia tersenyum hambar. Alisnya mengerut sedih.

 

“—kemarin aku dengar mereka memberiku vonis 2 tahun.”

 

Jemariku spontan mencengkram kain sprei ranjang. Mataku membulat, aku berusaha mati-matian untuk menyembunyikan rasa terkejutku. Hatiku melejit sakit lagi—kali ini jauh lebih sakit, sakit sekali. Orang sialan mana yang berani memberi Baekhyunku waktu hidup 2 tahun?

 

Aku butuh usaha besar untuk tetap membuat diriku stabil. Banyak hal yang ingin kukatakan, tapi akhirnya yang keluar hanya sebuah pertanyaan bodoh—“Kau sakit apa memangnya?”

 

Baekhyun menangkat pundaknya sedikit. “Sesuatu yang parah. Tidak bisa diobati, hanya diperlambat.”

 

“Aku tidak percaya.” Jawabku singkat. Aku serius, sepintar apapun dokternya, aku tidak akan percaya. Kalau semua dokter di dunia memperkirakan jangka hidupnya 2 tahun, maka aku akan membuat diriku jadi satu-satunya dokter yang memberinya harapan hidup 1000 tahun.

 

“Baekhyunnie akan hidup 20 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun lagi!” ujarku dengan tulus. Aku memberinya senyum terbaik yang pernah kumiliki, senyum yang hanya kupersembahkan untuk orang yang paling kusayangi. Baekhyun membalasnya denan seringai lemah, lalu dia berbalik membelakangiku.

 

Aku mencondongkan tubuhku mendekat, mencoba melihat wajahnya. Dan seketika aku menyesal, harusnya aku tidak melakukkan ini.

 

Baekhyun menangis.

 

Menangis. Air mata bening membuat jejak basah di pipinya. Dia terisak pelan, bibirnya terkatup rapat—berusaha meredam suara yang dia keluarkan.

 

Aku diam terpaku di posisiku. Aku menahan napas, berusaha untuk tidak terbawa suasana dan malah ikut menangis. Tapi apa boleh buat, air sudah menggenangi sudut mataku. Aku diam-diam menghapusnya dengan lengan bajuku.

 

Tapi Baekhyun malah terisak lebih keras. Jantungku nyaris hilang ketika aku memanggil dan membalikkan badannya ke arahku, dia terlihat kusut. Hidungnya merah, dan sekarang pipinya benar-benar basah oleh air mata.

 

“Baekhyunnie…” Aku mengusap ujung matanya dengan lembut, sambil masih menahan rasa sakit hatiku. Aku tidak mau melihatnya tampak lemah. Tapi dia masih menangis.

 

“Ap—apa yang harus kulakukan kalau hanya dua tahun?” Baekhyun bertutur pelan, sambil masih sesekali tersedak.

 

“….Banyak hal yang ingin aku lakukan, Chanyeol.” Lanjutnya. Lalu dia mengernyit, mengeluarkan air mata lagi. Aku menggenggam kedua lengannya untuk membuatnya tenang, namun tidak berhasil.

 

Aku menarik napas panjang, lalu mendekat ke arahnya. Sekarang aku dan Baekhyun hanya berjarak beberapa senti, aku bahkan bisa merasakan panas dari wajahnya. Baekhyun memandangku dengan matanya yang berair, dan aku hanya bisa balas menatapnya.

 

Tahu-tahu saja aku sudah menempelkan bibirku diatas miliknya. Aku memajukkan wajahku kedepan sedikit lagi, menciumnya lebih dalam. Pipiku ikut basah ketika bersentuhan dengan mukanya.

 

Baekhyun mengeluarkan suara erangan kecil ketika aku melepaskan ciumanku untuk mengambil napas. Tangannya menarik kepalaku dari belakang, mencoba membuatku kembali padanya. Aku tidak bisa menolak.

 

Kali ini Baekhyun banyak berulah. Tepat ketika aku mendarat di atas bibirnya, dia langsung menggigitku dengan keras. Aku mengutuk dalam hati, rasanya sakit. Tapi aku bisa dengan cepat mengabaikan perihnya karena Baekhyun tiba-tiba mengulum bibir bawahku dengan manis, sambil sesekali menggunakkan lidahnya.

 

“Tidak akan hanya 2 tahun,” ucapku pelan, ketika aku mengangkat bibirku. Aku bisa merasakan Baekhyun tersenyum, walau aku tidak melihatnya.

 

“Tidak ada yang bisa mengambil Baekhyunnie dariku.”

Tidak boleh ada.

 

-TBC-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

89 pemikiran pada “Metronome (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s