The Last Target (Chapter 1)

Title : The Last Target

Nama author : milkchocholate

Genre : Romance

Length : 1 of ? (on writing)

Main cast : Oh Sehun, Shin Hyera

Other cast : Exo members, Shin Hyera’s friends

 

Author note :

Gomawo buat admin yang udah mau publish karya anehku disini *kadoin bias*, ini adalah FF pertamaku tentang exo, dan yang anehnya adalah biasku itu Baekhyun tapi main cast disini adalah magnae jangkungnya exo, Oh Sehun, hoho.. *ditimpuk*

Gomawo buat reader yang mau mampir dan sedikit melirik karyaku *tebar bias* :D, FFnya masih ancur, jelek, ga rapi, typo dimana-mana, alur ga jelas, cerita aneh, dll, tapi mohon bantuan semuanya biar aku bisa bikin yang lebih baik dari ini.. ^^

 

Enjoy!!! ^^

 

Mungkin aku memang bersalah, menodai begitu banyak cinta yang datang padaku

Mungkin aku memang bodoh, menyakiti mereka yang tulus menyayangiku

Tapi setelah semua kesalahan dan kebodohan itu, aku tau kau akan datang, dan menjadi yang terakhir untukku

The Last Target

President University, 8 am

 

President University, Universitas yang penuh dengan kesan eksklusif, mewah, dan mahal, tempat para anak orang kaya, penguasa, dan orang penting dalam negeri bahkan luar negeri berkuliah. Dengan berbagai gedung unik nan mewah, sistem belajar berbeda, fasilitas terlengkap, dan tenaga pengajar muda dengan kualitas nomor satu, menjadikan Universitas ini menjadi Universitas impian. Sayang universitas ini hanya menerima sedikit sekali murid dibandingkan universitas lain, untuk menjaga imagenya yang sangat tinggi di masyarakat.

 

Pagi itu tampak ramai, kelas dengan dua puluh lima mahasiswa di dalamnya itu terdengar sangat ramai dari luar, pintu terbuka menampakkan seorang wanita dengan pakaian rapi dan beberapa buku di tangannya. Go Sarang, dosen sekaligus orang yang dipercaya menjadi pemimpin universitas itu. orang-orang biasa menyebutnya direktur, karena universitas ini lebih terkesan seperti perusahaan dibandingkan sebuah sekolah. Ia menyimpan bukunya lalu menatap seisi ruangan, menulis beberapa kalimat di papan tulis yang langsung disambut teriakan frustasi dari orang-orang di hadapannya.

 

“Pre test pagi-pagi begini??” protes seorang laki-laki yang duduk di barisan kedua.

 

“Keluarkan saja alat tulismu Jongin-ah..” jawab dosen tersebut sambil membagikan kertas pre testnya. Sampai ia tiba di meja seorang mahasiswi yang tengah tertidur pulas di atas mejanya, Shin Hyera. Dosen tersebut hanya memandanginya putus asa. Tidak tau apa yang harus dilakukannya lagi terhadap mahasiswinya yang satu itu. Ia menyimpan kertas itu sambil menggebrak meja, membuat gadis itu terbangun.

 

“Tidurmu nyenyak, nona? Kuharap pre testmu kali ini bagus..” ucap dosen tersebut sambil berjalan menuju mejanya. “Datang ke ruangan saya setelah ini..” tambahnya lagi, membuat suasana sangat sepi dan mencekam, membuat seluruh orang yang berada disana hanya bisa terdiam. Hyera sendiri masih sibuk mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya lalu mengerang frustasi melihat kertas di hadapannya.

 

Dua puluh menit berlalu dan kertas dihadapan Hyera masih dalam keadaan sama seperti tadi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas dengan bosan lalu melirik meja di sampingnya, tempat seorang mahasiswa sedang menekuni kertas pre testnya dengan serius. Hyera mencoba memanggilnya. Entah karena terlalu fokus pada pekerjaannya atau memang tak mendengar suara Hyera yang kelewat pelan, lelaki itu tak beranjak sedikitpun dari posisinya untuk merespon panggilan Hyera. Setelah perjuangan bermenit-menit akhirnya murid itu menatap Hyera, yang memandangnya penuh harap. Tapi bukannya memberi jawaban seperti yang Hyera harapkan, ia hanya menunduk kaku lalu berjalan ke depan, menyerahkan kertasnya lalu berjalan keluar ruangan. Hyera menatapnya dengan mata hampir meloncat keluar.

 

***

 

Hyera keluar dari ruang direktur dengan wajah masam dan penuh kekesalan. Ia langsung menuju kantin dan menghampiri teman-temannya yang sedang berkumpul.

 

“Kau dimarahi lagi?” Min Hani, sahabatnya, menyambutnya saat Hyera duduk di kursinya.

 

“Sial sekali hari ini.”

 

“Kenapa kau tidak bolos saja, dan datang di kelas kedua seperti biasa..” gadis kedua bernama Song Yoomi ikut bertanya dari balik kaca rias kecil yang dibawanya.

 

“Mana aku tau hari ini ada pre test, aku benar-benar sial..”

 

“Memang semalam kau pulang jam berapa?” giliran Jung Jin ah yang bertanya, Hyera berfikir sesaat, menelungkupkan kepalanya di atas meja kantin lalu tiba-tiba mendongak menatap teman-temannya.

 

“Mungkin jam 2 malam, aish.. aku mau tidur..” ia langsung menelungkupkan lagi wajahnya sekaligus menarik diri dari kegiatannya bersama teman-temannya barusan.

 

***

 

Shin Hyera, anak bungsu dari pengusaha kaya raya. Orang tuanya tidak menetap di Korea sehingga membuat Hyera hanya tinggal bersama kakak laki-laki dan kakak perempuannya yang juga jarang ada di rumah. Hyera termasuk mahasiswi nakal, sering telat masuk kelas, nilai-nilai yang sangat jauh dari standar, dan imagenya sebagai ‘bad girl’, ia tak pernah mempunyai hubungan yang jelas dengan pria manapun. Ia hanya bersama mereka untuk bersenang-senang, main-main, atau hanya untuk dimanfaatkannya. Ia berganti pria hanya dalam waktu beberapa hari, setelah bosan ia akan menjauhi pria-pria itu dengan alasan bosan, tak punya beban apapun karena menurutnya, selama mereka tak punya hubungan jelas, mereka bebas bersama siapa saja. Sahabat-sahabatnya, Min Hani, Jung Jin ah, dan Song Yoomi, tidak jauh berbeda dengan Hyera, anak-anak orang kaya, golongan kelas atas yang kekurangan kasih sayang keluarga dan orang tua. Begitulah empat gadis ini selalu bersama, membicarakan pria yang selanjutnya harus mereka jadikan target, yang akan dicampakan setelah digunakan. Mereka juga dijuluki ‘Queen of Party’, pesta manapun pasti akan mengundang empat gadis ini, seperti jaminan untuk sebuah pesta bisa dihadiri banyak orang.

 

***

 

President University, 03.00 pm

 

Hyera sedang membereskan lockernya saat seorang pria menghampirinya.

 

“Ada apa?”

 

“Aku antar pulang, Hyera-ya..”

 

“Aku pulang bersama teman-temanku.”

 

“Tapi kemarin-“

 

“Itu kemarin, hari ini dan seterusnya kau tak usah menemuiku lagi, eo?”

 

“Tapi-“

 

“Gomawo untuk minumannya, ini untukku kan?” ucap Hyera tersenyum manis sambil merebut minuman kaleng di tangan pria tadi. Seperti biasa senyuman Hyera tak pernah gagal meluluhkan lelaki manapun, tak peduli apapun yang dilakukan Hyera sebelumnya. Ia lalu beranjak menjauhi locker, menemui teman-temannya yang sudah menunggunya.

 

“Ah segarnya..” ujar Hyera sambil meminum minuman yang ia ambil dari pria tadi. Teman-temannya hanya tertawa melihatnya.

 

“Wajahnya kasian sekali..” ujar Hani sambil melongokkan kepalanya ke arah locker tempat pria tadi masih berdiri mematung kaku.

 

“Dia membosankan, hanya mengajakku belanja, dia pikir aku gadis mata duitan yang hanya mau uangnya apa?” Hyera lalu membuang kaleng minuman kosong di tangannya lalu ikut berjalan menyusul teman-temannya yang sudah duluan berjalan. Mereka lalu masuk lift menuju parking area, tak lama mereka sampai dan baru akan keluar lift saat hampir bertabrakan dengan seorang mahasiswa berperawakan tinggi yang membawa beberapa buku tebal. Mahasiswa itu menunduk dalam, tak menatap mereka sekalipun. Tapi walau pria jangkung itu terus menunduk Hyera tau siapa pria itu. Oh Sehun. Orang yang duduk di sebelahnya saat di kelas pagi tadi. Yang sudah mengacuhkannya saat pre test tadi. Hyera hanya tersenyum penuh arti.

 

***

 

Myeongdong street, 10.30 pm

 

Dua belas dancer menyelesaikan penampilannya dengan diiringi tepuk tangan meriah dari orang-orang di jalan. Mereka berpegangan tangan dan menunduk bersama, menambah kemeriahan jalanan Myeongdong malam itu. Dua belas orang itu pun pergi, mencari tempat sepi untuk beristirahat.

 

“Ahh lelahnya..” Lay menyenderkan badannya pada drum kosong yang tergeletak begitu saja di sampingnya lalu membuka white mask dan tudung jaketnya. Sebelas pria lain pun melakukan hal yang sama. Dengan brutal membuka aksesori yang dipakainya dan menaruhnya di jalanan.

 

“Aku butuh minum..” teriak seseorang.

 

“Hyung-ah..” Sehun melempar botol minumnya pada Chanyeol yang berteriak minta minum. Ia lalu menidurkan lagi badannya di jalanan.

 

“Igeo igeo!!” Chen menunjuk-nunjuk ponselnya yang sedang membuka aplikasi internet. Disana terpampang sebuah gambar dengan dua belas pria memakai mask putih polos yang menutupi wajah di dalamnya. Itu mereka. Dua belas street dancer yang hampir setiap malam selalu beraksi. Entah dijalanan mana, dalam keadaan bagaimanapun, mereka selalu menari. Entah hanya untuk sekedar bersenang-senang, melepas penat, atau untuk mendapatkan uang untuk bersenang-senang. Sampai sekarang tak ada yang tau wajah siapa saja di balik topeng-topeng putih itu, mereka sangat merahasiakan identitas mereka, untuk menjaga identitas mereka yang sebenarnya. Tadi mereka baru saja tampil di jalanan Myeongdong, kawasan yang tampak selalu penuh, apalagi di hari libur seperti sekarang ini, sebuah cafe baru saja dibuka dan meminta mereka tampil tepat menghadap cafe tersebut untuk menarik orang-orang. Dan seperti biasa, kedua belas orang itu selalu berhasil menciptakan dunianya sendiri saat mereka sedang beraksi. Terbukti dengan banyaknya pengunjung yang mencoba masuk ke dalam cafe tersebut setelah menyaksikan aksi mereka.

 

***

 

Kris’s Apartement, 01.30 am

 

“Aku akan tidur sampai besok siang..” ujar Kai sambil menepuk-nepuk bantal, bersiap tidur. Kini mereka semua sudah berada di ruang tengah apartement Kris yang disulap menjadi kamar tidur besar yang cukup untuk dua belas orang. Chen dan D.O sudah terlentang sambil berhadapan dengan ponsel masing-masing.

 

“Kita ada kelas pagi, Jongin-ah..” Sehun mengingatkan.

 

“Aigoo ya.. seperti biasa, urri Sehunnie memang rajin..” Suho merangkul Sehun untuk menggodanya, yang lain ikut tertawa dan saling bersahutan menggoda Sehun.

 

“Sehun-ah, apa sudah ada gadis yang menarik perhatianmu di kampus?” Xiumin bertanya sambil memasukan masknya ke dalam tas besar di tangan Baekhyun.

 

“Eopseo, gadis-gadis kaya itu hanya perduli pada kaca rias dan produk sepatu baru..” jawab Sehun polos yang disambut gelak tawa

 

“Satu-satunya yang menarik perhatianmu di kampus memang hanya buku-buku tebal penuh teori itu kan?” sahut Kai dari balik selimutnya. Sehun hanya memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Sehun.

 

***

 

Shin Hyera’s bed room,

 

“Jadi targetmu kali ini mahasiswa universitas lain yang kemarin bersamamu di pesta?”

 

“Aniyo..” Hyera, Hani, dan Jin ah langsung menatap temannya dengan pandangan bingung, pasalnya kemarin Yoomi terlihat sangat antusias berkenalan dengan seorang pria yang ia kenal lewat sebuah pesta, tapi sekarang Yoomi mengatakan hal yang sebaliknya.

 

“Pria itu terlalu baik, aku lebih suka anak nakal seperti temannya..” ujar Yoomi dengan senyum mengembang.

 

“Ah.. jinjja Song Yoomi, sudah seharusnya seperti itu, semalamam bersama seorang pria, besoknya kau menghubungi temannya.. kau memang Song Yoomi..” ujar Jin ah yang disambut tawa dari teman-temannya termasuk Yoomi.

 

“Lalu kau?” tiba-tiba Hani mengalihkan pembicaraan dan menatap Hyera yang sedang menekuni macbooknya.

 

“Apanya?”

 

“Apalagi?” Hyera hanya tertawa dari balik macbooknya. Ia menatap teman-temannya lalu menyeringai.

 

“Oh Sehun..”

 

“Mwoya???” ujar Hani dan Jin ah bersamaan sementara Yoomi langsung duduk disamping Hyera, menatapnya dengan pandangan tak percaya.

 

“Wae?” Hyera hanya tertawa menanggapi reaksi teman-temannya. “Targetku sekarang Oh-Se-Hun!” tegasnya lagi, menutup macbooknya lalu menatap Yoomi yang duduk disampingnya.

 

“Kau Shin Hyera kan?” Yoomi bertanya dengan kedua tangannya berada dikedua sisi wajah Hyera. Hyera hanya mendengus geli mendengar pertanyaan temannya itu. Memang keputusannya kali ini terbilang aneh dan sangat ‘bukan Hyera’.

 

“Babo.. Aku Shin Hyera, kalau pria itu membosankan juga, akan kutinggalkan dalam waktu kurang dari sehari, ara?”

 

“Kenapa harus Oh Sehun? Dia kan-”

 

“Tidak dekat dengan wanita manapun. Aku tau..”

 

“Aku bahkan berfikir ia tak tertarik dengan wanita..” ujar Hani polos, membuat semua teman-temannya tertawa.

 

“Akan kubuktikan kalau manusia jenis Oh Sehun itu juga bisa kutaklukan, eo?”

 

“Kalau kau gagal?”

 

“Shin Hyera tak pernah gagal, ingat?”

 

***

 

President University, 7.30 am

 

Hyera masuk ke dalam ruang direktur, matanya berputar liar mencari seseorang yang ternyata sedang menatap lurus ke arahnya, Hyera membungkuk sopan dihadapannya. Sang direktur hanya mengerutkan kening melihat tingkah mahasiswinya yang satu itu. Kejadian seperti ini terbilang jarang terjadi. Shin Hyera datang ke ruangannya atas inisiatifnya sendiri. Bukan karena telat, hasil test buruk, atau keburukan lain yang biasanya dilakukan gadis itu.

 

“Jadi ada apa nona besar datang ke ruanganku pagi-pagi begini?”

 

“Direktur, aku butuh bimbingan..”

 

***

 

“Tugas ini dikerjakan oleh dua orang, tidak kurang atau lebih.” Ucap Go Sarang lalu menyuruh seorang mahasiswa untuk membagi kelompok. Mahasiswa itupun mengatur kelompok sesuai perintah. Beberapa mahasiswa yang sudah dipanggil langsung saling lirik dengan partnernya.

 

“Oh Sehun, dengan-“

 

“Shin Hyera.” Ucap Hyera lantang membuat semua mata menatapnya. Heran, kaget, aneh, dan bingung. Suasana pun hening. Hyera menatap Go Sarang, tersenyum manis pada dosennya itu sebelum mengeluarkan suara. Sehun sendiri hanya menatap Hyera dengan pandangan kosong.

 

“Aku ingin sekelompok dengan Oh Sehun, apa boleh?” Hyera memasang tatapan memohon andalannya. Mahasiswa yang sedang membagi kelompok itu pun kebingungan. Oh Sehun tak pernah sekelompok dengan Hyera, apalagi ini hanya berdua. Dan lagi, ia takut dengan tatapan membunuh mahasiswa lain yang menginginkan berpartner dengan Hyera. Tapi seperti biasa, keinginan Hyera adalah perintah yang wajib dituruti semua orang.

 

“Tentu saja, ya.. Oh Sehun dengan Shin Hyera..” ucapnya terbata setelah sebelumnya menelan ludah berkali-kali karena gugup. Hyera pun tersenyum senang lalu menatap Sehun yang duduk di sampingnya.

 

“Mohon kerjasamanya Oh Sehun ssi..” ucap Hyera dengan nada manis. Sehun menatap Hyera gugup lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Hyera dan teman-temannya hanya tertawa melihatnya.

 

***

 

Oh Sehun’s House, 2 pm

 

Sehun sedang latihan dance saat ponsel yang digunakannya untuk latihan berdering. Nomor tak dikenal.

 

“Yoboseo..”

 

“Sehun-ah..” Sehun mengerutkan kening mendengar suara gadis tak dikenal yang memanggilnya dengan panggilan nonformal itu.

 

“Ini-“

 

“Hyera, Shin Hyera.. ayo cepat buka pintu, aku bosan menunggu di luar..” Sehun membelalakan matanya. Terlalu kaget dengan perkataan Hyera barusan. Hyera bilang buka pintu, berarti-

 

“Ppaliwa..” Sehun langsung kelabakan bingung, ia keluar dari ruang latihannya lalu melesat menuju pintu.

 

“Kau tau berapa lama aku menunggu di luar hah?” Hyera langsung masuk sebelum Sehun mengatakan apapun dan duduk di ruang tamu. Mengipas-ngipas wajahnya dengan majalah yang ada di meja lalu menatap Sehun.

 

“Kau punya minum?”

 

***

 

“Bagaimana kau tau rumahku?” Sehun tengah membuat minuman sedangkan Hyera hanya duduk di pantry, memperhatikan Sehun.

 

“Kai.”

 

“Lalu-“

 

“Kai juga memberiku nomor ponselmu. Itu yang mau kau tanyakan kan?” Sehun menatapnya sebentar lalu kembali ke gelas-gelas di hadapannya. Hyera hanya tersenyum melihat kegugupan Sehun. “Kenapa kau selalu terlihat gugup?”

 

“Aku tidak terbiasa berada di dekat wanita..” jawab Sehun jujur, membuat Hyera kaget karena kejujurannya. Biasanya pria akan mencari alasan lain atau bahkan balik menggodanya kalau ia bertanya seperti itu. Sehun mengangkat nampan berisi minuman dan makanan ringan lalu berjalan menuju ruang tengah, menyimpan nampannya di meja dan sedikit membereskannya. “Kita langsung kerjakan saja ya, aku sudah sedikit mencari referensi jadi kita bisa-“

 

“Kamarmu dimana?” tanya Hyera tiba-tiba, Sehun hanya terbengong dengan posisi setengah duduk. “Apa yang itu?” Hyera menunjuk asal salah satu pintu ruangan di lantai dua.

 

“Ah ani.. itu..” Sehun refleks menunjuk pintu kamarnya lalu kaget sendiri dengan apa yang dilakukannya. Sementara Hyera sudah berjalan santai ke arah kamarnya. “Mian.. tapi-“ Sehun berusaha mengejar Hyera yang ternyata sudah sampai di depan pintu kamarnya, hendak membuka handle pintu tersebut. “Kau ja-“ dan Hyera pun membuka pintu kamar Sehun lalu masuk diiringi tatapan bengong Sehun.

 

“Kamarmu cukup rapi ko..” Hyera duduk di ujung tempat tidur Sehun dengan matanya yang berkeliling liar, melihat setiap isi dari kamar Sehun. Hyera sendiri sebenarnya tak pernah senekat ini dalam menggoda targetnya. Tapi entah mengapa Hyera begitu menikmati setiap hal ia lakukan terhadap Sehun. Sehun sendiri berdiri di ujung lain tempat tidurnya dengan wajah resah. “Kenapa kau gugup?”

 

“Jangan-jangan, aku adalah gadis pertama yang masuk ke kamarmu?” telak. Sehun hanya menatap Hyera kosong tanpa menjawabnya.

 

“itu..”

 

“Aku benar kan?” potong Hyera, Sehun memilih tak menjawabnya. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau ia mengaku yang sebenarnya. Jangankan gadis seumurnya, bahkan ibu atau pembantunya saja Sehun larang masuk ke kamarnya. Jadi bisa dipastikan Hyera adalah wanita pertama yang masuk ke kamarnya.

 

Karena Sehun tak merespon, Hyera menghampirinya lalu menariknya menuju kaca besar di sisi kamar Sehun yang lain.

 

“Mau a-“

 

“Kenapa kau harus setinggi itu sih?” Hyera memandang pantulan dirinya dan Sehun di cermin dengan wajah cemberut. Ia terus memadangi cermin dan Sehun yang berada di sampingnya bergantian. Sehun tersenyum melihat tingkah anak-anak Hyera. “Kau tertawa?? Menertawakanku?” Sehun refleks menggelengkan kepala dengan wajah panik. Membuat Hyera gantian menertawakannya.

 

“Tugas kita..”

 

“Shiro.. aku masih mau disini.” Hyera kembali duduk di ujung ranjang Sehun, seakan merapatkan badannya dengan ranjang itu agar tidak keluar dari ruangan itu.

 

Hyera masih saja asyik berada di kamar Sehun, bertanya tentang apa saja mengenai Sehun dan hal lainnya. Sehun sendiri sudah habis akal untuk mengajak Hyera turun dan melanjutkan niat awal mereka mengerjakan tugas kelompok.

 

“Kau punya ikat rambut?” tanya Hyera tiba-tiba, Sehun hanya terbengong mendengarnya. Ia pun menggeledah laci-lacinya.

 

“Aku tidak punya benda seperti itu, tapi mungkin ini bisa dipakai..” Sehun menyerahkan tali sepatu hitamnya pada Hyera. Hyera mengambilnya lalu mengembalikannya lagi ke tangan Sehun. Sehun hanya menatap tali sepatu ditangannya dengan pandangan kosong.

 

“Kau ikatkan tali itu ke rambutku bodoh..”

 

Sehun tengah melilitkan tali sepatu yang cukup panjang itu di rambut Hyera, mengikatnya ke atas sesuai perintah Hyera saat pintu kamarnya terbuka dan menampakan wajah seseorang yang Sehun kenal tengah memasang wajah shock.

 

“Hyung..”

 

“Kau..” orang itu hanya melongok, menatap Sehun dan gadis yang tertutupi tubuh Sehun itu bergantian.

 

“Luhan hyung, kau-“

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Luhan lagi, Sehun yang bingung pun menatap ke arah Hyera lagi. Memperhatikan posisi mereka, Sehun berdiri dan Hyera duduk, Sehun menunduk ke arah Hyera dan menutupi tubuh Hyera dari depan. Berarti Luhan melihat mereka seperti sedang-

 

“Kami tidak melakukan apa-apa..“

 

***

 

Suho’s House, 09.00 pm

 

Waktu rutin latihan mereka dikacaukan mulut besar Luhan yang langsung menceritakan apa yang dilihatnya tadi siang di kamar Sehun, tanpa sedikitpun meminta penjelasan dari Sehun. Sang tokoh utama hanya pasrah saja digoda semua hyungnya sejak satu jam lalu saat ia sampai di ruang latihan rumah Suho ini.

 

“Gadis itu bukan siapa-siapa..”

 

“ah.. keuraeyo..” goda semua hyungnya lagi bersamaan dengan suara se-aegyo mungkin, yang malah terdengar menyebalkan di telinga Sehun.

 

“Kau benar-benar bersama Shin Hyera?” tanya Kai lagi, membuat semua mata menatapnya.

 

“Jadi namanya Shin Hyera?” sahut Tao yang langsung disambut senyum aneh dari kesepuluh pria lain disana.

 

***

 

President University, 01.00 pm

 

Suasana kantin siang itu tampak ramai. Seorang mahasiswa dengan penampilan modis lengkap dengan seorang gadis yang tengah merangkulnya, berbicara di hadapan semua mahasiswa yang tengah memenuhi kantin.

 

“Ini pestaku dan aku pastikan, semua orang akan bersenang-senang disana..” teriaknya disambut riuh tepuk tangan semua orang disana. Mereka terlihat mulai sibuk mencari pasangan, syarat untuk datang ke pesta tersebut. Beberapa langsung mendapat pasangannya karena telah memiliki kekasih, beberapa sibuk dengan telepon genggamnya.

 

“Aku harus bisa pergi dengannya..” ujar Yoomi yang langsung menelpon seseorang. Sudah bisa ditebak kalau orang yang Yoomi hubungi adalah targetnya yang waktu itu ia ceritakan. Hani dan Jin ah malah sibuk menolak para lelaki yang menurut mereka tidak cocok dengan mereka. Hyera tak mempedulikan pria-pria yang mengerubunginya, ia mendekati meja di ujung kantin, pojok yang tak menonjol, Hyera berdiri di samping orang itu  lalu menarik lengannya.

 

“Ini pasanganku..” teriak Hyera lantang disambut keheranan semua orang termasuk Sehun, ia menatap kaget Hyera di sampingnya yang kini tengah bergelayut manja di lengannya. “Oppa, kita pergi bersama, eo?”

 

***

 

TBC

 

Kya~~~~~  (apa sih? =.=) gomawo buat semuanya!! Yang udah baca awalnya doank, yang sampai tengah, yang sampai akhir kalimat, jeongmal gomawoyo~~~ ^^ *bow bareng cast*

Jeongmal mianhae kalo FFnya jauh dari harapan reader semua, masih belajar nih authornya.. hehe..

Next chapter tunggu ya.. (semoga masih pada minat.. TTATT)

Annyeong~~~ *dadah-dadah bareng cast* 😀

Iklan

34 pemikiran pada “The Last Target (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s