One Way to You (Chapter 1)

Author : Firstrianisa (@oishiionew)

Main Cast : Song Hyein, Kris, Park Chanyeol

Genre : Romance –I don’t know-

Length : Chaptered .

Happy Reading Guys, hope you like it J

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

 

 

“permisi.” Aku  berlari kecil sambil menahan pusing di kepalaku melewati hiruk pikuk tempat ini. Berulang kali aku mengucap kata maaf pada orang-orang yang sama sekali tak kukenal di stasiun ini agar diberi jalan. Sayang sekali tas besar berisi laptop dan laporan wawancara yang harus kuedit ini menghambatku untuk berjalan cepat karena bahuku yang sakit membawa tas berat ini.

“C’mon self, bertahanlah! Kali ini saja. Kita hampir sampai di rumah” ujarku dalam hati.  Tapi terlambat, seorang anak kecil berambut keriting dengan lollipop di mulutnya memberitahuku kalau aku mimisan. “kak, hidungmu berdarah.” Ujar anak  itu polos sambil menunjuk ke arah hidungku.

“benarkah?”

anak kecil itu mengangguk lalu ia berlari ke tempat ibunya yang berada tak jauh dari tempatku berdiri kini.

oh great, kenapa di tempat seperti ini?” aku menyeka cairan merah kental yang ada di hidung. Sambil menahan darahnya keluar dengan tangan, aku berusaha mencari tissue yang ada di tas. Dan aku baru menyadari kalau tissuenya tertinggal di rumah karena terburu-buru mengejar narasumber untuk bahan beritaku. “wow, daebak hyein! Kau bahkan lupa membawa tissue disaat genting seperti ini.” Aku merutukki kebodohanku sendiri.

Aku bergegas mencari kamar mandi untuk membersihkan darah yang mengotori wajahku.  Hal seperti ini memang sudah sering terjadi padaku. Kalau aku sedang lelah pasti aku selalu pusing dan mimisan, menyusahkan sekali. Padahal pekerjaanku menuntutku untuk bekerja lebih gesit, tapi kebiasaan mimisan ini menghambatku.

*****

Aku membersihkan sisa kotoran di wajahku sekenanya dengan air di kamar mandi ini. Sebentar lagi kereta yang akan kutumpangi datang. Aku mengambil handphone di tasku dan melihat jam di layarnya. “Ya Tuhan! Ini sudah waktunya kereta datang.” Aku berlari menuju peron keretaku, benar saja keretaku sudah berhenti dengan manisnya di peron dengan masinis yang setia mengawasi penumpang yang keluar dan masuk pintu kereta. Aku mempercepat langkahku sebelum pintu otomatisnya ditutup, “tunggu!!” teriakku. Percuma saja, ketika kakiku hampir sampai dengan kereta itu, pintu otomatisnya tertutup. “hya! Tunggu! Buka pintunya!” pekikku sambil berlari dan menggedor pintu kereta yang mulai melaju itu, sayang tenagaku tak sekuat mesin kereta itu. Aku tak mampu mengejarnya.

“HYA! AKU BISA GILA!” keluhku sambil mengacak rambutku

Aku berjalan perlahan untuk duduk di kursi tunggu stasiun yang ada di hadapanku. kubenahi tas beratku yang menyusahkan ini di bahuku, aku mengambil handphoneku dan memencet nomor yang sangat kuhafal.

Tak perlu menunggu nada sambung lama, ia sudah mengangkat panggilanku.

“Halo.” Katanya dari seberang.

“Halo Kris.” Jawabku lemas.

“Kau kenapa? Mimisan lagi?” tanyanya. Dia memang kekasih terbaik. Kenapa bisa tahu kalau tadi aku mimisan.

“hm.” Aku mengangguk pelan, walau aku tahu dia tidak akan melihatnya.

“kau ada di mana?”

“aku masih di stasiun, tadi aku ketinggalan kereta. harus menunggu satu jam lagi sampai kereta berikutnya datang.” Ujarku sambil mendesah panjang.

“tunggu disana saja, biar kujemput.”

“Kau sedang berada di Korea?”

“iya. Kau duduk diam di sana ya! Aku akan menjemputmu.”

“Tak usah!. Aku tidak apa-apa. Lagipula  aku meneleponmu bukan minta dijemput. Aku cuma ingin mengobrol supaya tidak bosan menunggu kereta datang.”

“ck, bodoh! Tutup teleponnya! Aku jemput kau sekarang. Kau mau pingsan di stasiun lagi seperti waktu itu?” ck, apa-apan dia ini memerintah aku seenaknya.

“aku bilang kan tidak…”

“aku berangkat kesana, tunggu aku!” setelah itu sambungan terputus. Ia menutup telepon. Kalau begini aku jadi terpaksa menunggu Kris datang menjemput.

******

Sudah 20 menit aku duduk menunggu kedatangan Kris. Aku menghilangkan rasa bosanku dengan memandangi orang disekelilingku berlalu-lalang sambil mengayunkan kakiku yang tak menyentuh lantai ini ke depan dan belakang.

 

“maaf nona.” Seorang lelaki di sampingku menepuk bahuku sambil menyodorkan sapu tangan padaku. Aku menatapnya bingung.

 

“hidungmu.” Ia menjawab pertanyaan yang tak kukatakan sambil tersenyum ramah. Tangannya masih menyodorkan sapu tangan padaku.

 

Ya Tuhan aku baru menyadari kalau aku mimisan lagi. Aku membersihkan hidungku dengan tangan. Kali ini darahnya banyak sekali. “pakai ini saja, hidungmu akan terluka kalau kau membersihkannya seperti itu.” Pria ini menawarkan sapu tangan miliknya. Aku mengambilnya dengan segan. “terimakasih” kataku pelan, aku melihatnya sekilas. Ia tersenyum.

 

Sambil membersihkan hidungku, aku melirik ke pria di sampingku. Wajahnya tampan. Ia memakai t-shirt putih dengan kemeja flannel dan celana jeans dan sepatu sneakers membuatnya terlihat semakin keren. Satu hal lagi, dia wangi. Bahkan hidungku yang terhalang oleh darah bisa mencium aroma tubuh pria ini.

 

“Hyein!” seseorang memanggilku, memecah konsentrasiku pada lelaki di sampingku ini.

 

Ah, akhirnya dia datang juga.

 

“kenapa kali ini frekuensi mimisanmu semakin sering?” Kris menghampiriku sambil memandang dengan tatapan menginvestigasi. “ayo cepat ke mobil!. Pulang lalu istirahat!.” ia mengambil tasku dan berjalan mendahuluiku.

 

“hey Kris,kenapa kau selalu bertindak semaumu sih? Aku kan bilang aku tidak apa-apa.” kataku kesal. Kris tak menanggapi kata-kataku barusan. Aku terpaksa mengikutinya lalu berlari untuk menjajarkan langkahku dengannya yang jauh mendahuluiku.

******

 

Handphoneku bordering, aku mencarinya ke dalam tasku yang berisi penuh barang bawaanku. Aku berhenti mencari handphone saat aku menemukan sapu tangan yang berlumuran noda darah di dalam tasku.

 

“kenapa tidak diangkat.” Tanya Kris sambil menyetir di sebelahku.

 

“ah iya Kris, untung kau ingatkan.” Aku meletakkan sapu tangan itu ke tas dan kembali mencari handphoneku yang sudah berhenti bordering, saat kulihat layarnya ternyata barusan bosku menelepon. “aish, si botak ini pasti mau marah-marah lagi.”

 

“ck, bodoh!” sudut bibir kiri Kris membentuk lengkungan, menertawakanku ha?. Aku memandangnya kesal.

*****

“istirahatlah!” Kris membuka pintu pagar rumahku.

 

“kau tidak masuk dulu?” ia menggeleng.

 

“kau harus istirahat, cepat masuk!”

 

“oke, bye Kris.”

 

“sepertinya kau lupa sesuatu.” Kris melipat tangannya. Lupa? Aku melupakan apa?. Aku memandang Kris heran.

 

“ck, bodoh, sudah sana masuk ke dalam. Cepat tidur! Aku akan membantu mengedit hasil wawancaramu besok.”

*****

“huaaah. Capek sekali ya Tuhan!” aku meregangkan lenganku di udara.

 

“ck, si botak tadi menelelponku pasti untuk menagih laporan wawancara.” Aku bergerutu sambil mengambil laptop di tasku untuk mengedit laporan wawancara tadi. Sebuah kain jatuh dari tasku saat aku mengambil laptopku. Sapu tangan yang tadi. Aku mengambilnya.

 

“ah, kenapa tadi lupa bilang terimakasih.” Aku teringat akan pria yang tadi memberikanku sapu tangan miliknya.

****

Beruntung sekali hari ini pekerjaanku tidak sepadat biasanya. Aku melirik jam tangan pria gendut yang duduk  di sebelahku. Masih jam empat sore rupanya. Aku tersenyum sendiri menikmati waktu pulang yang cepat. Kereta hari ini juga tidak sepadat biasanya. Ah Tuhan, Kau begitu baik hari ini. Rasanya ingin memeluk pria gendut yang ini. Lalu tidur di perutnya yang seperti kasur air semalaman.

 

“pffft…” Tanpa sadar aku memandangnya sambil tertawa. Ia melirikku, matanya melotot. Aku berhenti menertawakannya dan kembali fokus menikmati perjalan kereta menyenangkan –hanya hari ini-.

 

Dan. . . ini hanya perasaanku saja atau memang benar. Sepertinya ada yang memperhatikanku dari tadi. Aku bisa merasakan tatapan matanya. Aku melirik ke arah orang itu. Oh tidak. Dia benar-benar sedang menatapku. Jangan-jangan dia itu pria mesum penculik perempuan muda. Aku memalingkan wajahku. Tapi sepertinya pernah melihatnya. Tapi dimana?.

 

****

“oh great! Kenapa penuh sekali, ini kan bukan hari senin.” Keluhku saat melihat stasiun yang penuh sesak. Aku menunggu kedatangan keretaku yang tiba sebentar lagi. Melirik ke samping, kulihat  seorang ibu berusia sekitar lima puluh tahun yang terlihat bersiap naik kereta juga. Aku yakin dia pasti tipe orang yang menyusahkan, tidak mau mengalah, cerewet, dan berisik di kereta kalau tidak dapat tempat duduk atau keretanya berhenti mendadak.

 

Kereta yang kutunggu sudah datang. Benar kan dugaanku, ibu tua itu menyusahkan. Bahkan dia mendorongku hingga aku hampir kehilangan keseimbangan.

****

Benar-benar sesak, bahkan aku harus berdiri di depan pintu kereta. Dan menyebalkan sekali saat kau berdiri di antara ketiak pria besar yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil memegang tiang penyangga untuk menjaga keseimbangan.

 

Tuhan, aku hampir mati dengan bau badan dua pria ini. Aku menggelengkan kepalaku pelan menahan pusing akibat terlalu lama mencium aroma tubuh yang mahadahsyat baunya. Aku berusaha mengarahkan badanku ke arah lain, agar aroma kedua pria ini tidak tercium tepat oleh hidungku.

 

Lagi-lagi…

 

Aku bertemu orang itu lagi. Kali ini aku yang melihatnya duluan, dia menatap arah lain. Tapi tak lama ia menoleh ke arahku, sepertinya ia mengenalku. Ia tersenyum ke arahku. Aku menganggukkan kepala pelan, tanpa membalas senyumnya.

****

 

“hey!” seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku menoleh. Orang itu lagi.

 

“masih ingat aku?.” Katanya sambil tersenyum. aku memandangnya bingung, sambil menjaga jarak. Ia tertawa melihatku. Aku semakin bingung.

 

“apa kau sudah baikan? Tidak mimisan lagi?” Katanya lagi sok akrab. Tunggu..dia bilang apa? Mimisan?. Apa dia ini…..

 

“AH! Aku baru ingat! Kau orang yang waktu itu kan?” Ujarku sambil menunjuk ke arahnya. Lagi-lagi ia tersenyum sambil menganggukan kepalanya.

 

“terimakasih untuk yang kemarin, aku bahkan lupa berterimakasih padamu waktu itu.” Aku membungkukkan badanku. Aku melihatnya berangguk pelan.

 

“mm.. kau berterimakasih hanya dengan kata-kata saja?” akhirnya aku melihat perubahan di wajahnya, kali ini bukan senyum. Tapi ia mengerucutkan bibirnya memasang wajah cemberut. Tapi itu justru membuatnya semakin tampan. Ah tidak! Apa-apaan pikiranku ini.

“ha? Maksudnya?.”

 

“ah tidak, aku hanya bercanda.” Ia tersenyum-lagi-. “well, kau tidak bertanya siapa namaku?” katanya sambil menyembunyikan kedua tangannya di balik saku celananya. kenapa orang ini? Apa isi kepalanya tertinggal di kereta? Kenapa selera humornya buruk sekali.

 

“oh iya, aku lupa. Namamu siapa?” tanyaku basa-basi menuruti kemauannya.

 

“Park Chanyeol” Jawabnya ramah.

 

“mm..baiklah Chanyeol-ssi sepertinya aku harus cepat kembali ke rumah. Sampai jumpa.” Aku membungkukan badanku, meninggalkan orang yang mengaku bernama Chanyeol itu. Aish, kukira dia pangeran berkuda penyelamat, ternyata dia  orang aneh yang suka tersenyum.

 

“hei kau belum memberitahu namamu kan?.” Ujarnya setengah berteriak. Tak kujawab, aku meneruskan langkahku meninggalkannya.

 

 

***

Bagaimana? Mm. sepertinya masih banyak kekurangan di FF ini. aku sih ngerasa ada yang gak pol! Tapi apa? Aku sendiri bingung. Kalau sudah baca, kasih tau ya. J

Khamsahamnida.

 

Iklan

11 pemikiran pada “One Way to You (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s