Love Sign (Chapter 1)

Tittle : Love Sign

Author : Shane

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Disclaimer : Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya.

_____________­_________

“Aku berangkat ya Taejun!” teriak Yoojun seraya berjalan menjauhi rumahnya. Seperti tahu suatu hal yang terjadi setelah ia berteriak.

Benar saja, kakak lelaki-nya —yang dipanggil Taejun— tiba-tiba keluar dari rumah dan berteriak, “YA! Panggil aku oppa!”

Yoojun pun berlari secepat mungkin.

Ia memang enggan untuk memanggil kakaknya dengan sebutan oppa. Walaupun mereka terpaut umur yang cukup jauh, Yoojun masih merasa enggan. Ia merasa kakaknya harus dipanggil ahjussi karena umurnya yang hampir kepala tiga. Yaitu, 28 tahun. Sedangkan Yoojun masih berumur 17 tahun. Masih bersekolah ditingkat menengah akhir.

Orang tua yang selalu berpergian membuat Yoojun tergantung pada kakaknya. Sepuluh tahun ia habiskan berdua bersama kakaknya. Suka dan duka mereka lewati bersama tanpa kedua orang tua.

Sekolah mereka berada ditepi jalan yang cukup besar. Yoojun harus menyebrang atau memutar jalan —jika ia tidak mau menyebrang— yang cukup jauh. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyebrang jalan tersebut.

Tepat ditengah perjalanan, sebuah klakson dari mobil besar berbunyi. Mobil tersebut berjalan dengan kecepatan cukup tinggi.

Tiiiin… Tiiinnn…

Suara klakson itu terdengar semakin jelas dan Yoojun masih terpaku dijalan tersebut, pikirannya blank, tidak tau ia harus apa. Ia terpejam.

Gwenchana?” sebuah suara lembut terdengar dari telinga Yoojun. Pelan-pelan ia membuka matanya, dilihatnya seorang namja tepat didepan wajahnya. Matanya masih berkunang-kunang hingga bisa melihat secara jelas.

“Penghuni surga yang sangat tampan…” erang Yoojun tidak jelas.

“Eh? kau masih berada didunia aggashi,” Ia tertawa. “Gwenchana?”

Sekarang Yoojun mendapati kesadarannya. Ia langsung berdiri dan menatap namja itu. nametag bertuliskan ‘Kim Jong In’ dengan sebuah bintang menghiasi nametag tersebut dengan rapih.

Yoojun langsung berlari menuju sekolahnya tanpa mengucapkan apapun.

***

“Hyesung-ie…” kata Yoojun. Ia masih mengaduk-aduk makanan yang sedari tadi dibelinya itu. Tidak terbesit sedikitpun dibenaknya untuk memakannya. Bahkan untuk menatapnya saja Yoojun enggan.

Hyesung menoleh, “Apa?”

“Aku hampir ditabrak mobil tadi pagi.”

“Lalu?” tanya Hyesung tenang.

“Aku nggak jadi ditabrak,” Yoojun menyeruput banana milk-nya. “Aku ditolong orang.”

Hyesung mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu. “Memangnya kau ditolong siapa?”

“Kim Jong In.”

Burrrrr…. Air yang tadinya ingin ditelan Hyesung malah ia sembur tepat  ke wajah Yoojun. Mereka berdua terdiam. Menatap mata satu-persatu.

Mwoya?!” teriak Yoojun. “Aku tidak bohong, aku melihat nametag-nya dengan mata kelapaku sendiri!”

“Nih…” ujar Hyesung seraya memberikan tisu.

“Aku rasa aku jatuh cinta padanya,” kata Yoojun. Ia lalu membersihkan wajahnya dengan tisu. Menyeruput lagi banana milk-nya hingga habis. Wajahnya bersemu-semu saat memikirkan wajah namja yang menolongnya itu.

“Kau ingin kusembur lagi?” tanya Hyesung tanpa rasa bersalah. Yoojun menggeleng keras.

***

Taejun belum pulang. Rumahnya masih tampak gelap dari luar. Bahkan pagarnya saja masih terkunci dengan rapat. “Haaaah~” Yoojun menghela nafas saat memasuki rumah tersebut.

Dinyalakannya lampu didalam rumahnya. Rumah yang cukup besar tetapi hanya dihuni oleh dua orang. Walau kadang teman-teman Taejun sering kemari, Yoojun masih belum bisa merasakan kalau rumah ini ramai.

Sebuah memo tertempel dilemari es. Pesan dari Taejun, pikir Yoojun. Ia kemudian mengambil dan membacanya.

Aku pulang larut. Kau beli makanan diluar saja ya? Uangnya sudah kutinggalkan di dekat meja makan. Jangan lama-lama diluar! Cepat pulang kalau sudah membelinya.

-Taejun oppa

Ahjussi bawel,” ujar Yoojun.

Ia pun mengganti bajunya dan memakai sebuah jaket. Setelah mengambil uangnya, ia lalu pergi membeli sebuah bibimbap di luar.

Untung saja rumahnya tidak terlalu jauh dari perkotaan. Walaupun harus berjalan cukup jauh, tetapi jajanan yang ditawarkan tidak mengecewakan. Memang tidak sama seperti apgujeong—bahkan Yoojun ingin sekali punya rumah ditengah-tengah keramaian apgujeong.

Setelah menemukan rumah makan dan membeli bibimbap, ia berecana untuk ‘main’ sebentar. Yoojun memilih kedai minuman untuk tempat mainnya tersebut. Berhubung Yoojun adalah seorang yang gemar sekali dengan susu, ia memilih kedai tersebut.

“Aku pesan susu tidak pakai gula dan cream.” Pelayan kedai tersebut mengangguk.

Yoojun segera duduk ditempat yang disediakan. Kedai ini tampak seperti Bar. Dengan meja yang melingkar dekat dengan kursi tanpa penyangga. Yoojun menenggelamkan kepalanya. Ia masih memikirkan kejadian tadi pagi.

Kejadian yang hampir merenggut nyawa atau merenggut beberapa bagian tubuhnya. Ya, itulah kemungkinan-kemungkinan terburuk yang ia pikirkan.

Tidak ingin memikirkannya terlalu dalam, Yoojun menolehkan kepalanya kesamping. Matanya tampak membulat setelah melihat seseorang disampingnya tersebut.

Neo?” ujar seorang namja yang tak lain adalah Kim Jong In.

“Kim Jong In-ssi?!” seru Yoojun. Ia tidak menyangka akan bertemu namja ini disebuah kedai minuman. Wajahnya merona merah, mungkin ia bisa mengalahkan merahnya kepiting yang tengah direbus. Mungkin.

“Itu Kai,” ralatnya. “Panggil aku Kai saja.”

Hening. Tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Hingga pesanan Yoojun tiba dihadapannya.

“Susu?” tanya Kai membuka pembicaraan. Yoojun mengangguk, lalu tersenyum seraya melihat minuman berwarna putih bersih tersebut.

“Aku suka susu karena walaupun tidak menggunakan gula ataupun pemanis, rasanya tetap enak. Juga, walaupun mengandung kolesterol yang cukup tinggi tapi susu juga mengandung banyak manfaat.” Jelas Yoojun.

Kai mengangguk. “Alasanmu bagus juga.”

Yoojun tersenyum, tapi tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Ia belum mengucapkan terima kasih pada Kai, pikirnya.

“Itu… Kamsahamnida!”

“Untuk apa?”

“Karena telah menolongku tadi pagi,”  kata Yoojun mengingatkan. “Tadi pagi aku langsung berlari karena aku kaget. Mianhaeyo.”

“Tidak apa-apa, aku memakluminya.” ucap Kai tenang.

Yoojun meminum susu itu sekali teguk. Ia melihat jam dipergelangan tangannya, pukul sembilan lebih empat puluh lima menit. Kakaknya pasti akan membunuhnya jika ia pulang selarut ini.

Cepat-cepat Yoojun merapihkan bajunya dan membayar pesanannya tersebut. Wajahnya pucat, ia pasti akan sampai di Rumah pukul sepuluh atau lebih kalau berjalan.

“Kau kenapa? Wajahmu kenapa pucat?” tanya Kai bingung. Beberapa menit yang lalu, wajah yeoja ini masih ceria.

“Aku akan dibunuh kakakku kalau pulang selarut ini.”

“Larut?” tanya Kai masih tidak mengerti. “Mau kuantar sampai rumah?”

Yoojun terdiam. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan sekarang ini. Pulang diantar oleh namja yang ia sukai —bahkan ia tidak mengenalnya cukup jauh membuatnya melamun.

“Hei,” Kai mengibaskan tangannya tepat didepan mata Yoojun.

“Tolong antarkan aku ya, aku masih ingin menikmati masa mudaku,” pinta Yoojun. Sepersekian detik Kai tertawa, Ia lalu mengangguk mendengar permintaan Yoojun tersebut.

Mereka berjalan agak menjauh dari kedai tersebut. Sebuah Porsche terparkir rapih disana. Mata Yoojun membulat melihat mobil yang sangat diidam-idamkan kakaknya itu sekarang berada didepan matanya.

“Kau naik mobil?” tanya Yoojun. Kai menjawabnya dengan anggukan. Ia lalu masuk ke dalam Porsche tersebut.

Kai mempunyai sebuah porsche?! Aku pasti sedang bermimpi, pikir Yoojun.

“Mau kuantar tidak? Ayo masuklah!” ujar Kai.

Akhirnya Yoojun masuk kedalam mobil tersebut dan duduk dibelakang. Kai berdecak pelan, “Kalau begitu aku terlihat seperti supir taksi. Duduklah didepan.”

Dan Yoojun pindah untuk duduk didepan, atau lebih spesifik duduk disamping Kai.

Kamsahamnida,” ucap Yoojun sambil membungkuk. Setelah keluar dari mobil, Ia melihat keadaan rumahnya. Ternyata masih sama seperti sebelum ia tinggalkan.

Hmm, lain kali kau harus membawa kendaraan,” kata Kai bercanda. Dia lalu pamit untuk pulang, tidak lama kemudian mobil tersebut melaju meninggalkan rumah Yoojun. Kini hatinya terasa sepi lagi.

Rumahnya benar-benar kosong. Taejun belum pulang —atau dia bahkan tidak akan pulang? Taejun memang sibuk. Ia adalah model untuk sebuah fashion site dan juga menjadi DJ. Kadang, Yoojun harus menjaga rumah ini sendirian.

Tidak ada nafsu lagi untuk memakan bibimbap yang ia beli. Selain sudah dingin, ia kehilangan nafsu makannya. Makan makanan seorang diri benar-benar tidak mengundang selera makan, pikirnya.

Ia lalu beranjak ke kamarnya. Tidur atau sekedar merebahkan tubuhnya saja. Hari ini terlalu banyak kejadian yang membuat tekanan pada dirinya.

***

Ya! Aku bosan bertemu dirimu yang setiap pagi hanya melamun,” gerutu Hyesung.

“Aku bukannya melamun, tapi sedang berimajinasi.”

“Terserah,” paparnya. “Aku hanya tidak mau mempunyai teman yang kejiwaannya makin memburuk.”

Yoojun meringis. Temannya yang satu ini memang selalu bersikap dingin padanya, tapi entah kenapa Yoojun sendiri menemukan sisi hangat dari seorang Hyesung. Mungkin itu hanya Yoojun yang tahu.

“Yoojun-ah…”

Uhm?”

“Kau sadar suatu hal tidak?” nada bicara Hyesung sekarang terdengar serius. Ini membuat Yoojun makin penasaran.

Yoojun mengerutkan kening, “Apa?”

“Kim Jong In itu dari kelas khusus.” Kata Hyesung tenang. Beberapa detik kemudian hening terjadi diantara mereka.

MWOT?!” teriak Yoojun.

Sekolah yang ditempati Yoojun memang cukup unik. Sekolah tersebut membagi kelasnya menjadi dua bagian, kelas khusus dan kelas reguler. Memang tidak ada peraturan tertulis untuk menjaga jarak antara kelas khusus dan kelas reguler, tetapi peraturan tidak tertulis menguatkan semuanya.

Kelas khusus dan kelas reguler tidak diperbolehkan untuk bersosialisasi didalam lingkungan sekolah.

Yoojun mengutuk dirinya sendiri. Ia jatuh cinta pada orang yang berada di kelas khusus. Ini pasti akan menjadi gossip paling hangat.

Kakak Yoojun sendiri juga alumni dari kelas khusus tersebut, tetapi itu sewaktu orang tua mereka masih bersama mereka. Kelas khusus diperuntukan oleh orang-orang yang berprestasi dan tentu saja, mempunyai kelebihan dalam bidang ekonomi.

“Aku ingin menjadi Taejun,” gumam Yoojun.

“Kau ingin menjadi homo? Kakakmu itu seorang namja, pabo.”

Yoojun menghela nafasnya, “Nan arra.”

***

Kantin kelas reguler sudah hampir penuh. Beruntung Yoojun mempunyai teman seperti Hyesung, si Dingin yang dihormati siapapun. Jadi, jika Kantin terasa penuh, Hyesung bisa meminta tolong pada teman-temannya untuk mem-booking salah satu tempat.

Seperti biasa, banana milk atau sekedar Pocky rasa cokelat selalu menemani menu makanan Yoojun. Hyesung juga penggemar Pocky, walaupun tidak se-freak Yoojun. Hyesung selalu membawa Pocky —atau kalau tidak ia akan menyediakan stock dirumahnya.

“Ini rahasia awet muda,” ujar Yoojun sambil menyeruput banana milk-nya. Kali ini ia membelinya dua buah.

Hyesung tidak menghiraukannya, ia hanya fokus untuk memakan menu makan siang kali ini. Sampai ia teringat sesuatu. “Aku punya ide!”

Yoojun menoleh, “Apa itu?”

“Bagaimana kalau kau menjadikan Kim Jong In sebagai pacarmu?”

Hening.

Ia segera menelan banana milk yang ada dimulutnya. Bisa gawat kalau ia menyembur Hyesung dengan susu. Hyesung sangat anti dengan susu.

“Kau ‘kan suka padanya, nyatakan saja perasaanmu!” seru Hyesung tanpa ragu.

Yoojun masih menyeruput banana milk-nya. Kali ini ia menyeruputnya hingga habis. Ia membutuhkan banyak susu untuk memperjelas apa yang ia dengar tadi. Ia menghela nafas setelah menghabiskan kedua banana milk tersebut dalam satu teguk.

Ia berubah menjadi ‘menyeramkan’ kalau membicarakan pacar. Yoojun tidak—sebut saja tidak ingin mempunyai pacar. Ia lebih suka menyukai dan memendamnya.

“Ayolah, demi masa depanmu sendiri.” Hyesung menatapnya lagi, “Setidaknya buatlah sebuah pengalaman untuk mempunyai namjachingu.”

“Aku tidak yakin Hyesung-ie.” Akhirnya Yoojun angkat bicara.

Hyesung menatap Yoojun lekat, “Kau nyatakan perasaanmu hari ini. Jangan ditunda-tunda.”

Tepat saat murid-murid dari sekolah tersebut kembali ke rumah mereka masing-masing. Yoojun memilih untuk diam, menunggu seseorang bernama Kai muncul. Waktu pulang kelas khusus dan kelas reguler memang dibedakan.

Yoojun harus menunggu sekitar limabelas menit untuk menunggu Kai keluar dari lingkungan kelas khusus.

Bel.

Ini waktunya Yoojun untuk melakukan aksinya.

“Kai-ssi,” katanya.

“Ap—hei, sedang apa kau disini? Bukankah sudah waktunya untuk pulang?”

Yoojun menatap kekanan dan kekiri, ah banyak orang yang sedang menatap mereka sekarang. Ini bukan hal yang bagus.

“Bisa kita bicara ditempat lain? Err keadaan tidak begitu bagus.” bisik Yoojun.

Mereka berdua pun berpisah ditempat itu.

***

Mereka bertemu disebuah taman yang jaraknya cukup jauh dari sekolah. Setelah memastikan tidak ada orang selain mereka. Yoojun mulai melakukan aksinya sambil bersumpah didalam dirinya. Ini adalah akhir riwayatmu Park Yoojun, katanya dalam hati.

“Aku menyukaimu, Aku ingin kau menjadi pacarku!”

Keheningan yang cukup panjang terjadi setelah Yoojun mengucapkan kata-kata tersebut. Yoojun masih menunduk, wajahnya merah padam atas ucapannya sendiri. Antara malu dan lega. Kedua perasaan tersebut memenuhi hatinya.

“Boleh saja…” Kai menatap Yoojun teliti. Sebuah senyuman terukir dibibirnya.

Jinjjaro?!”

“Tapi kau harus membuatku jatuh cinta padamu.”

Lagi-lagi Kai membuat Yoojun speechless. Persyaratan paling konyol yang pernah ia dengar. Membuat Hyesung dekat dengannya saja sudah sangat susah. Bagaimana untuk membuat Kai yang notabene-nya orang yang baru ia temui beberapa hari yang lalu —untuk membuat ia jatuh cinta padanya? Pada seorang Yoojun?

Kai berdeham, “Bagaimana? Kau tetap ingin menjadi pacarku?”

Yoojun masih terdiam. Lidahnya kelu sampai-sampai untuk menggerakan mulutnya saja ia tidak berdaya. Ini kejadian paling langka dalam hidupnya.

“Aku menunggu…”

Tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang Park Yoojun, kata Yoojun mantap dalam hati.

Yoojun tersenyum penuh percaya diri, “Aku akan membuatmu mencintaiku! Lihat saja!”

***

Hari minggu yang cerah. Yoojun masih setengah terlelap ketika mendengar kakaknya mengetuk pintu kamarnya. “Yoo-gom, cepat bangun!”

“Ini ‘kan hari minggu!” teriak Yoojun tidak mau kalah.

“Bersih-bersih rumah bodoh! Hari minggu waktunya bersih-bersih rumah!”

“IYAAAAA!!” teriak Yoojun histeris. Ia tidak mau kalau pintunya nanti rusak karena kemarahan kakaknya yang bisa dikategorikan seram itu. Ia bergidik ngeri, hanya membayangkannya saja ia sudah keringat dingin.

Setelah mandi dan memakai bajunya, ia langsung keluar dari kamarnya. Sepersekian detik mata Yoojun membulat melihat sosok didepannya. Sekarang ia mengerti kenapa kakaknya membangunkannya pada jam-jam ini.

Jam 9:45

“K… Kai-ssi?”

Morning! Apa kau tidur nyenyak semalam?” tanya Kai dengan senyuman terhias di bibirnya.

“Aku tidur cukup nyenyak,” Yoojun menghela nafasnya. “Apalagi setelah kejadian kemarin, tidurku nyenyak sekali sampai suara tikus saja aku mendengarnya.”

Kai tertawa mendengar pernyataan Yoojun yang konyol tersebut. Kejadian seperti ini mungkin hanya Yoojun yang melakukannya.

Ya! kalian berdua bisa tolong bantu aku?” tanya Taejun. Ia membawa beberapa kardus yang cukup besar dari gudang. Kai langsung membantunya sementara Yoojun hanya melihat mereka berdua.

Ia masih ingin tidur atau sekedar merebahkan tubuhnya saja.

Taejun dan Kai menghempaskan tubuh mereka ke sofa yang berada di ruang TV. Setelah mengangkat beberapa kardus —yang pastinya berat— dari gudang sampai ke taman membuat mereka kelelahan.

Yoojun menyodorkan satu botol pocari sweat kepada Kai. Taejun yang melihat itu langsung menatap sinis adiknya. “Buatku mana?”

“Kau ‘kan bisa mengambilnya sendiri,” ujar Yoojun tenang.

Taejun meringis, “Aku ini kakakmu lho.”

Yoojun pun dengan gontai berjalan ke dapur dan mengambil sebuah pocari sweat dari lemari es. Pocari sweat itu langsung dilemparkan ke arah Taejun “Igeo.”

Taejun menangkapnya dengan cepat.

Hyung, kau tau tidak?” tanya Kai membuka pembicaraan.

Ne?”

“Kalau sepasang kekasih sedang berdua, maka yang ketiga itu adalah setan.” Kata Kai tenang. Yoojun tertohok mendengar perkataan Kai yang sangat mudah untuk dicerna. Khususnya oleh Yoojun sendiri.

Taejun menatap kedua orang itu bingung. Hingga beberapa menit kemudian, ia menyadari sesuatu. “Ah sialan!” umpatnya lalu ia pergi meninggalkan Yoojun dan Kai di Ruang tamu. Berdua.

Yoojun tertawa melihat kakaknya dibodohi oleh anak yang umurnya sepuluh tahun lebih muda daripada dirinya. Bahkan Kai sendiri secara langsung adalah adik kelasnya.

Setelah puas tertawa, Yoojun terdiam. Ia bingung harus melakukan apa, terlebih ada Kai disini —membuatnya semakin bingung. Awkward moment terjadi lagi. Yoojun belum menyiapkan langkah-langkah untuk membuat Kai jatuh cinta padanya.

Ini terlalu cepat, pikirnya. Ia tidak mungkin hanya berdiam diri saja tanpa ada obrolan sama sekali. Ini sama saja membuat Kai merasa bosan padanya.

“Aku pulang ya,” kata Kai sambil berdiri.

Mwo? Sudah ingin pulang?”

“Habis kau hanya diam saja tanpa mengucapkan apapun padaku,” Yoojun yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya. Ia mengutuk dirinya sendiri.

Kai yang melihat itu hanya tersenyum. Mungkin kebanyakan yeoja akan marah atau cemberut bila mendengar kalimat seperti itu. Sedangkan Yoojun, wajahnya malah semakin merah.

“Kita kencan saja!” seru Yoojun tiba-tiba.

Eodieyo?”

Mo—” Yoojun menunduk lagi, “Moreugesseoyo.”

Kai, lalu menarik tangan Yoojun. Membawanya entah kemana. Mereka terus berlari hingga tersadar kalau mereka sekarang bukan berada di lingkungan rumah Yoojun lagi. aku butuh oksigen, kata Yoojun dalam hati. Tangan kai yang memegangnya terus menerus membuat ia kehilangan oksigen dan membuat pacuan jantungnya menjadi lebih cepat.

Mereka berhenti di sebuah taman dekat perkotaan. Taman yang tidak terlalu ramai tapi sangat rindang. Banyak macam pepohonan yang tumbuh disini, tapi entah mengapa segilintir orang enggan untuk mendatangi taman ini.

Mungkin karena taman ini terlalu kuno? Mungkin. Banyak permainan yang memang sepertinya sudah rapuh, tetapi ada daya tarik tersendiri di taman ini.

“Kau mau ice cream tidak?” tanya Kai dengan nafasnya yang tersenggal-senggal.

Melihat Kai dengan nafas tersenggal-senggal dan dada yang naik-turun membuat Yoojun ingin melakukan sesuatu untuk Kai —atau sekedar membelikannya sebuah minuman agar ia tidak kelelahan.

Jamkaman!” Yoojun, lalu berlari menuju sebuah kedai minuman dan membeli dua botol air mineral.

Kai duduk disebuah bangku taman. Ia harus mengumpulkan energinya kembali sebelum ia benar-benar kelelahan. Berlari dari rumah Yoojun sampai ke taman ini bukan jarak yang dekat. Ia juga bingung kenapa ia harus berlari padahal ia membawa mobil.

Igeo.” Yoojun duduk disebelah Kai.

“Kenapa tidak kau bilang saja padaku lalu aku akan membelikannya.”

“Aku ingin membuatmu mencintaiku. Kalau kau yang membelikanku minuman, itu namanya kau membuatku makin mencintaimu,” jelas Yoojun sambil menjulurkan lidahnya.

Lagi-lagi yeoja ini membuat Kai tersenyum. Sudah sangat lama ia tidak tersenyum lepas seperti ini, sangat lama bahkan ia sudah lupa kapan terakhir ia tersenyum seperti ini.

Gomawo,” kata Kai.

KAI MENGUCAPKAN TERIMA KASIH PADAKU MENGGUNAKAN BANMAL!! teriak Yoojun dalam hatinya. Kejiwaannya sedang naik-turun disaat-saat seperti ini.

Semburat merah muncul lagi dipipi Yoojun.

“Mungkin lain kali kau harus pergi ke Rumahku,” ujar Kai sambil meneguk air mineralnya.

“RUMAH?!” seru Yoojun histeris. Ia tidak pernah pergi ke Rumah teman lelakinya sebelumnya—bahkan jika diminta untuk mengerjakan tugas saja, ia akan dengan senang menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat mengerjakan tugas.

Pergi ke Rumah teman lelaki —apalagi Kai adalah namjachingunya— adalah hal yang tabu bagi Yoojun. Tidak salah kalau ia se-histeris itu.

“Histeris sekali. Kau tidak berfikiran yang macam-macam ‘kan?”

“EH? MACAM-MACAM?!” Yoojun berteriak makin histeris.

Kai tertawa mendengar teriakan Yoojun yang terbilang lucu. Gadis ini terlalu kuno atau kurang pengalaman, pikirnya. “Kau tidak pernah pergi ke rumah teman (lelaki) mu?”

Yoojun menggeleng, “Aniyo… kenal saja jarang, bagaimana mungkin aku pergi kerumah mereka?”

Hoo,” Kai mengangguk. Dugaannya benar kalau yeoja yang satu ini kurang pengalaman dalam memiliki kekasih. Ia menjadi semakin tertarik untuk mencari tahu tentang yeoja yang berada disampingnya ini.

Tanpa sadar sebuah senyum terukir dibibirnya.

“Namamu Park Yoojun ‘kan?”

Ah, ye.

Kai menatap langit siang itu. Terik, tapi entah kenapa ia merasakan sebuah kehangatan. Hari minggu ini berbeda dari hari minggu sebelumnya. Kai menyadari itu. “Boleh kupanggil secara informal?”

Yoojun menatap Kai tidak percaya.

“Yoojun-ah.”

TBC

Ayo whaddup~ Ini adalah fanfict tanpa prolog yang sangat abal-abal. Maaf ya, saya masih pemula jadi masih banyak typo atau kata-kata yang tidak dimengerti *bow. Thanks bgt buat admin yang udah publish FF saya jeongmal kamsahamnida 🙂

commentnya yaaa~ coment like oxygen ^^ hehe oh iya, Apakah ini telalu panjang? Nanti kalau kepanjangan saya pendekin deh jadi beberapa halaman aja muehehe. Dan juga beribu-ribu terimakasih untuk yang sudah baca. Saya harap kalian menikmatinya (emang makanan dinikmati -_-) udah ah, ditunggu ya part 2 nya! Gidarijuseyo~ ^^

58 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 1)

  1. oke, aku menyesal baru menemukan + membaca ff seru kaya gini sekarang ;_;
    but, no problem lah~
    dan aku hanya ingin bertanya 1 hal aja thor, mana chapter 11 nya?
    *efek komen mundur kebelakang, jadi nanyain chapter 11nya disini-.-* aku dan segenap reader yang bertugas(?) membaca turut berduka atas tidak dilanjutkannya cerita seru ini T_T
    NEXT CHAPTER PLEASE~!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s