Guardian Angel (Chapter 1)

GUARDIAN ANGEL (chapter 1)

Author: Rin

Cast(s): Byun Baekhyun, Shim Eun Jo (You)

Supporting cast(s): Xi Luhan, Kim Jongin, Do Kyungsoo

Genre: Romance, Angst

Legh: Two shoot

Rated: Untuk chap ini, masih aman 😀

Disclaimer: Cerita ini MURNI milik author 🙂 sedangkan member EXO, Cuma pinjem nama doang… T.T

Warn: Typo(s), alur berantakan, cerita aneh, mutu minimal, dll. Don’t Like? Don’t read dears…. 😀

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

Eun Jo merebahkan tubuh lelahnya ke bed mungilnya, mengambil earphone hitamnya dari tas kuliahnya kemudian memakainya asal.

Machi~ amugeotdo moreuneun airo geureoke
Dashi~ taeeonan sungan gachi~

Eun Jo mendengus kesal begitu mendengar lagu yang secara acak berputar di playlist ponselnya. Buru-buru ia menekan tombol stop pada layar sentuh ponselnya, kemudian melemparkan ponselnya asal ke sisi lain kasurnya.

Lagu itu… Eun Jo sangat membencinya. Lagu yang penuh akan bayangan seorang namja. Lagu favorit namja tercintanya….

Eun Jo membalikkan badannya menuju arah meja belajarnya. Meraih sebuah figura yang secara rapih ia tempatkan di sudut meja belajarnya.

“Luhan Oppa… Bagaimana keadaanmu di surga?”, Eun Jo tersenyum manis pada foto di depannya. Foto dirinya yang tersenyum lebar dengan seseorang di sampingnya yang juga tersenyum lembut.

Bogosipoyo~”, Eun Jo menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang akan mendesak keluar dari tubuhnya. Namun percuma, toh akhirnya pertahanannya roboh.

Cairan bening itu keluar untuk kesekian kalinya karena namja yang sangat di cintainya itu. Eun Jo sedikit terisak, memukul dadanya pelan karena rasa sesak yang teramat.

Ia belum rela Luhan meninggalkannya, untuk selamanya.

Perlahan mata Eun Jo terpejam seiring dengan rasa sesaknya yang mulai pulih. Tidak peduli kalau ia bahkan belum mandi dan mengganti baju kuliahnya tadi. Tidak peduli Eommanya kesal karena Eun Jo bahkan belum makan malam. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah sebuah ketenangan….

.

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

.

“Eun Jo-ah, tunggu.” Suara itu kembali mengganggu pendengaran Eun Jo. Dengan malas ia membalikkan tubuhnya. Dan benar, Kim Jong In mengejarnya.

“Kau benar-benar menolak ajakanku untuk makan malam nanti?” Kai, atau Kim Jong In menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

Eun Jo berusaha tersenyum setulus mungkin, “Mianhae Kai. Aku benar-benar tidak bisa.”  Kemudian Eun Jo berbalik.

Kai terlihat sangat kecewa. Tanpa sadar ia mencekal tangan Eun Jo yang sudah akan beranjak dari tempatnya. “Belajarlah melupakan Luhan Eun Jo-ah…. Ini bahkan sudah enam bulan lebih.”

Eun Jo menatap Kai tajam, kemudian menghempaskan tangan Kai yang mengenggam lengannya.

“Berhenti mencampuri urusanku, Kim Jong In!” Hardik Eun Jo sadis.

“Kau sahabatku Eun Jo-ah!” Jawab Kai.

“Kau tau? Bahkan aku hampir frustasi melihatmu menjadi begini! Menjadi pribadi yang diam dan tertutup karena Luhan. Hadapi kenyataan kalau Luhan sudah tiada Eun Jo-ah!”

PLAKK.

Eun Jo menampar pipi Kai keras. Sangat keras malah. Dadanya naik turun menahan amarahnya. Matanya terasa panas, hampir menangis. Dan seketika itu, Eun Jo meninggalkan Kai begitu saja. Tanpa sepatah kata apapun.

.

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

.

Eun Jo menyesap strawberry juicenya tanpa minat. Sesekali ia melihat kearah jam yang tergantung manis di dinding café yang ia datangi.

Hari ini Eun Jo ada janji dengan teman satu fakultasnya, Kyungsoo. Mereka berencana mengerjakan tugas kelompok yang di berikan oleh dosen mereka. Namun sudah berlalu lima belas menit dari jam yang mereka sepakati, Kyungsoo tak kunjung datang.

Baru saja Eun Jo berniat untuk menghubungi Kyungsoo, tapi ponsel androidnya buru-buru sudah bergetar.

Drrt… Drrt…

Satu pesan masuk.

From: Kyungsoo

Eun Jo-ah, nenekku masuk rumah sakit. Mianhae, aku tidak bisa datang hari ini.

Eun Jo mendesah pelan. Ia kemudian melangkah menuju kasir untuk membayar strawberry juicenya. Kemudian memilih langsung pulang, beranjak keluar dari café favoritnya itu.

Eun Jo tersenyum nanar begitu menyadari senja musim semi yang nampak sangat cantik. Pohon dan tanaman yang mulai menghijau diterpa cahaya jingga matahari yang mulai terbenam, menjadikan lukisan pemandangan yang sangat cantik.

Ahh~ Eun Jo ingat orang itu sangat menyukai musim semi. Ia akan mengajak Eun Jo kencan lebih sering ketika musim semi. Terpatri jelas bayangan orang itu yang sedang tersenyum sangat tulus, mengenggam tangan Eun Jo erat dan mengajaknya ke berbagai tempat.

“Haahh~” Eun Jo kembali mendesah. Tiba-tiba ia ingat Kai tadi siang. Eun Jo sedikit merasa bersalah telah menampar sahabatnya sejak SMA itu. Kai sedikit benar, semenjak kepergian Luhan untuk selamanya, Eun Jo berubah total. Dari gadis cerewet dan sangat ceria menjadi gadis muram, pendiam, dan tertutup. Luhan, memang selalu membawa dampak yang begitu besar untuk hidupnya.

“Nona… Nona….” Eun Jo mengernyitkan dahinya, seperti ada yang memanggilnya berkali-kali.  Eun Jo kemudian menolehkan tubuhnya. Benar saja, seorang namja terlihat mengejarnya.

“Haah… Bukumu, Hahh… tertinggal Nona….” Namja itu berbicara di tengah nafasnya yang tersengal akbat berlari seranya menyerahkan buku ukuran A4 super tebal milik Eun Jo.

Jeongmal gomapsumnida.” Eun Jo membungkuk sebagai bentuk terima kasih.

Namja itu melemparkan senyum lebarnya sebagai balasan. “Byun Baekhyun imnida.Namja yang ternyata bernama Baekhyun  itu mengulurkan tangannya.

Eun Jo terlihat sedikit bingung, tiba-tiba saja namja ini memperkenalkan dirinya.

“Namamu Nona?” Baekhyun masih tersenyum lebar, pantang arang untuk mengetahui nama gadis di depannya ini.

“Shim Eun Jo.” Eun Jo hanya menjabat tangan Baekhyun sekilas, kemudian berniat melanjutkan perjalanannya.

“Kau pulang kearah sana Eun Jo? Wuaahh~ kebetulan! Aku juga kesana. Kita pulang bersama ya?” Baekhyun tersenyum ramah.

Eun Jo sedikit mati gaya menghadapi Baekhyun. Namja ini begitu…… ah, Eun Jo sulit mengungkapkannya. Akhirnya Eun Jo mengikuti langkah penuh semangat milik Baekhyun.

Aigoo Eun Jo kau lamaa~ Ayo cepatlah, nanti kita bisa ketinggalan bus!” Baekhyun terpaksa menyeret agar langkah Eun Jo bisa lebih cepat.

Eun Jo sedikit terhenyak, bagaimana mungkin namja yang baru dikenalnya bisa tau kalau dia akan naik bus?

.

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

.

Eun Jo membuka laptopnya di bawah pohon maple di kampusnya. Jam kuliah berikutnya masih dua jam lagi, dan ia memanfaatkan waktu untuk mengerjakan tugasnya yang masih menumpuk.

Cess.

Eun Jo sedikit tersentak merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Ia tolehkan wajahnya menuju sumber dingin itu.

“Kau kaget? Hehehe. Strawberry milk dingin untukmu.” Seseorang menyodorkan sekotak strawberry milk dingin.

“Byun Baekhyun?” Eun Jo menerima kotak strawberry milk masih dengan rasa terkejutnya.

“Yapp! Sibuk sekali kau Eun Jo, tugas apa?” Bakhyun tanpa ijin duduk di samping Eun Jo, melongokkan kepalanya kearah laptop Eun Jo yang menyala terang.

“Kau kuliah disini? Aku tidak pernah melihat….”

“Tidak. Aku hanya kebetulan sedang kesini, aku melihatmu, jadi aku menghampirimu.” Jawab Baekhyun santai.

“Hahaha, jangan pikirkan kehadiranku yang tiba-tiba, lanjutkan saja tugasmu Eun Jo-ah. Aku akan menemanimu.” Baekhyun mengulurkan tangannya kemudian mengacak pelan pucuk kepala Eun Jo, membuat poni gadis itu sedikit berantakan.

Eun Jo sedikit menunduk ke tanah, menggigit bibirnya pelan.

“Aku akan menemanimu.”

Luhan juga selalu mengatakan itu kalau Eun Jo sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Luhan kemudian akan mengacak atau menepuk pelan kepala Eun Jo.

Apa-apaan ini?

Baekhyun,

Siapa dia?

“Wae Eun Jo-ah? Ada yang salah?” Baekhyun terlihat khawatir mendapati Eun Jo tiba-tiba diam.

“Eun Jo-ah….” Baekhyun menyentuh lengan gadis itu lembut.

“Eung? Ah, Gwencanayo~” Eun Jo tersenyum tipis.

“EUN JO!” Tiba-tiba dari arah depan mereka, seseorang memanggil Eun Jo. Kai.

Baekhyun terlihat sedikit terkejut dan panik.

“Ah, Eun Jo-ah aku pergi dulu. Nanti kau pulang jam berapa? Jam dua? Kita pulang bersama ya? Aku tunggu kau di sini ya?” Baekhyun menyelesaikan kalimatnya cepat sebelum Kai lebih dekat dengan mereka. Kemudian tiba-tiba pergi.

“Baekhyun!” Eun Jo berusaha memanggil Baekhyun kembali. Namun sayang, langkah Baekhyun terlalu cepat.

“Aku pulang jam empat sore….” Lanjut Eun Jo lirih.

“Siapa dia Eun Jo?” Kai duduk di bangku yang di duduki Baekhyun tadi.

Molla….” Eun Jo dan Kai sudah akrab seperti biasa, seperti tidak terjadi apapun kemarin.

Eun Jo kemudian melirik ke kotak strawberry milknya yang belum ia minum.

Kenapa? Kenapa Baekhyun tau benar selera Eun Jo?

.

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

.

Baekhyun meletakkan kepalanya malas ke meja yang sama dengan tadi siang. Sudah pukul empat lebih dan gadis itu belum juga muncul. Akhirnya untuk mengusir rasa bosan ia mainkan bibirnya, persis seperti anak kecil.

“Aku kira kau sudah pulang.” Suara lirih itu menyadarkan Baekhyun dari dunianya.

“EUN JO! Ku kira kau tidak akan datang.” Baekhyun segera bangkit dari posisinya, tersenyum lebar kepada Eun Jo.

“Aku datang.” Eun Jo mengambil posisi di samping Baekhyun.

“Hyaa~ kenapa malah duduk, kita harus cepat. Nanti keburu telat.” Baekhyun bangkit dengan cepat, kemudian menarik Eun Jo secara paksa. Membuat gadis itu sedikit kewalahan mengikuti langkah panjang Baekhyun.

“Baekhyun kita mau kemana?” Eun Jo bertanya di tengah langkah terburu-buru mereka.

“Rahasia! Tapi aku yakin kau akan senang!” Baekhyun tersenyum manis, kemudian meraih tangan Eun Jo yang bebas, mengengamnya dan membawa Eun Jo melangkah ke suatu tempat.

Persis seperti Luhan.

.

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

.

Baekhyun tersenyum puas mendapati Eun Jo takjub melihat pemandangan yang ia suguhkan.

Di sebuah taman kota, mereka duduk. Dan di depan mereka, matahari musim semi yang mulai tenggelam berada tepat di tengah celah dua gedung tinggi. Sinarnya ber-diferensi menghamburkan cahaya abstrak ke setiap penjuru. Memantul ke air mancur di depan mereka, ke pohon maple yang mulai hijau, ke bunga warna-warni nan indah, dan ke tubuh dua sosok yang sedang duduk itu.

Yeppo….” Eun Jo bergumam pelan, menoleh penuh terima kasih kepada Baekhyun.

“Eumm… Eun Jo-ah, boleh pinjam ponsel dan earphonemu?”

Eun Jo sedikit bingung, namun detik berikutnya ia sudah menyerahkan dua benda yang Baekhyun minta tersebut.

Baekhyun menerima dengan senyum hangat yang terpatri dalam wajahnya, ia pasangkan earphone itu ke telinganya, hanya satu. Karena yang satu ia pasang di telinga mungil Eun Jo.

Machi~ amugeotdo moreuneun airo geureoke
Dashi~ taeeonan sungan gachi~

DEG.

Seketika nafas Eun Jo sesak. Tangannya berniat melepas earphone yang tersemat di telinganya. Namun tiba-tiba saja Baekhyun mencegah tindakan Eun Jo.

“Hanya menikmati lagunya Eun Jo-ah.” Baekhyun tersenyum manis. Tangannya menggengam tangan Eun Jo hangat. Namun pandangannya memandang lurus ke depan, menggumamkan lirik lagunya pelan.

Neoui sesangeuro yeorin barameul tago

Eun Jo tidak tahan, akhirnya dengan sebelah tangannya yang bebas, ia hempaskan earphone itu dari telinganya.

“Kau selalu menghindar dari masalahmu, Eun Jo-ah.” Baekhyun meoleh kearah Eun Jo, tersenyum lembut.

“Apa yang kau katakan?”

“Luhan. Kau selalu menghindari lukamu. Kau tidak berusaha untuk menyembuhkannya. Kau hanya memperparah lukamu sendiri.”

Eun Jo kaget. Dari mana Baekhyun tau soal Luhan? Siapa dia sebenarnya?

“Kau menolak setiap namja yang berusaha mendekatimu. Kau menolak mereka untuk menyembuhkan lukamu tentang Luhan.”

“Aku bisa mengobati lukaku sendiri!”

“Tidak, kau tidak bisa hanya mengobati. Kau butuh seseorang untuk menyembuhkannya Eun Jo-ah.”

“Berhenti mencampuri urusanku! Kau itu bukan siapa-siapa!”

“Keras kepala. Sampai kapan kau akan menyimpan Luhan dalam hatimu hah?! Kau harus segera melupakannya!”

Cukup.

Eun Jo berdiri dari tempatnya. Tanpa menghiraukan dan peduli tentang Baekhyun, ia meninggalkan tempat itu.

Eun Jo berjalan sekencangnya. Memang siapa Baekhyun itu? Hanya namja yang ia kenal tiga hari lalu. Lancang sekali ia mengungkit-ngungkit Luhan!

Tak terasa sepercik air mata kembali keluar dari mata Eun Jo. Eun Jo kecewa terhadap Baekhyun. Saat hatinya mulai hangat karena perlakuan Baekhyun, tiba-tiba ia hancurkan begitu saja hati Eun Jo.

Aigoo~ nona yang cantik, temani kami.” Suara serak menghadang langkah Eun Jo. Dua orang namja berusia 20 tahunan maju menuju Eun Jo.

Eun Jo takut, kini salah satu dari namja itu sudah berada di belakangnya, kemudian mendorong tubuh mungil Eun Jo.

“Lepaskan!” Eun Jo meronta ketika si namja memeluknya, kemudian menghempaskan ke tembok gang sempit itu.

“Wajah yang manis. Sayang kalau di lewatkan begitu saja.” Si namja tersenyum mesum, kemudian mulai menyosorkan bibirnya kearah Eun Jo.

Tubuh Eun Jo gemetar, bau alkohol dan keringat yang menguar dari si namja membuatnya sangat takut. Ia tidak bisa berbuat apapun ketika dua namja itu mulai bertindak kurang ajar. Eun Jo hanya bisa berteriak serak dan menangis.

“Tidak baik memaksa seorang Nona, Tuan-tuan perkasa!” Sebuah suara menginterupsi kegiatan dua namja itu. Eun Jo tidak begitu yakin apa yang terjadi, tapi hanya dalam waktu lima detik, dua namja itu sudah terkapar di aspal jalanan gang tersebut.

“Eun Jo-ah, gwencanayo?”  Baekhyun menghampiri Eun Jo yang menangis ketakutan. Dirinya sedikit merasa bersalah.

“Baek-Baekhyun….” Eun Jo menghambur kepelukan Baekhyun. Dirinya begitu takut dengan apa yang terjadi kepadanya barusan.

“Sshh… gwencana, aku di sini.” Baekhyun mengelus lembut punggung Eun Jo.

“Aku sangat takut Baekhyun.” Eun Jo mulai terisak, membuat kemeja Baekhyun basah.

“Aku disini melindungimu, Eun Jo-ah….” Kata Baekhyun lembut. Perlahan, ia kecup ujung kepala Eun Jo lembut, penuh rasa sayang.

.

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

.

“Eun Jo-ah….”

Eun Jo menoleh ke sumber suara. Seketika matanya dipenuhi warna putih. Sebuah ruangan tanpa batas dengan warna putih.

“Luhan oppa?” Eun Jo melonjak senang. Di depannya Luhan menyambutnya dengan senyum khasnya.

Senyum yang sangat Eun Jo rindukan.

“Kemarilah.” Luhan kembali tersenyum, menyuruh Eun Jo mendekat.

Dan tentu, tanpa pikir panjang Eun Jo berlari menuju pelukan Luhan.

Bogosipoyo Oppa~” Eun Jo menangis terharu. Ia eratkan pelukannya ke tubuh Luhan. Masih sama. Rasa dan aroma orang ini masih tetap sama.

Ada sedikit jeda di antara mereka.

“Eun Jo-ah, lupakan aku, carilah cintamu sesungguhnya.” Luhan tersenyum lembut.

Eun Jo merengut, “Tidak mau! Aku hanya mencintaimu Oppa.” Eun Jo kemudian kembali memeluk Luhan, membenamkan wajahnya lebih dalam dalam pelukan Luhan.

“Dengarkan aku Eun Jo, kau tau? Kepergianku menandakan kalau kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Carilah takdirmu Eun Jo, aku yakin kau akan lebih bahagia dengan takdirmu yang sesungguhnya.” Luhan menepuk kepala Eun Jo pelan.

Eun Jo terdiam meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Luhan.

“Aku harus pergi sekarang, ingat perkataanku. Lupakan aku, dan cari takdirmu, arra?” Dan seketika itu, bersamaan dengan senyum tulus yang mengembang di bibir Luhan, cahaya yang luar biasa terang menghambur membuat Eun Jo menutup matanya silau.

Dan ketika Eun Jo kembali membuka matanya, tidak ada lagi ruangan serba putih. Yang ada hanyalah langit-langit kamarnya yang gelap.

Eun Jo memeluk tubuhnya sendiri, memejamkan matanya erat.

“Luhan Oppa~” Eun Jo sedikit terisak. Ini pertama kalinya ia memimpikan Luhan sejak kepergiannya. Padahal sejak dulu ia begitu merindukannya, tapi tidak pernah sama sekali Luhan masuk dalam mimpinya.

“Takdirku?” Eun Jo memejamkan matanya erat mengingat perkataan Luhan dalam mimpinya. Dan entah bagaimana, tiba-tiba bayangan Baekhyun dengan senyum manisnya menguasai seluruh pikiran Eun Jo.

“Luhan Oppa….”

“Apakah aku telah menemukan takdirku?”

TBC.

.

=G=U=A=R=D=I=A=N=A=N=G=E=L=

.

Apa-apaan ini? ==”

Gaje ya chingu? Bingung sama ceritanya? Nggak mudeng?

Emang titik terang dan klimaksnya ada di chapt 2. Sebenernya tadinya ini oneshoot. Tapi karena terlalu panjaaanggg sekali, author jadiin twoshoot, takut reader akan bosen. ^^

Sebenernya ini project ff udah lama bgt, tp tiba2 ide nge-stuck gitu ajaa… Jadi mian kalo jadi aneh… #nangiskejer

Betewe, author ngarang kebiasaan bacon yg suka mainin bibir. Dan ternyata BACON ASLINYA EMANG SUKA MAININ BIBIRNYA! Mem-pought, monyong2, sampai meliuk2(?)kan bibirnya. Yah walaupun gak se-insten kayak Sehun yg doyan banget mainin lidahnya sampai bikin author ngeces-ngeces litanya… #authoredan

Demi apa kok kebetulan sekali pas, jangan-jangan Bacon jodohnya author yak? #ngek #daunpunberguguran

Hehehe, mian readers~ saya memang suka random banget .__. #alterego

Yosh! Author terlalu malu buat minta LC dari reader mengingat cerita yang sangat amburadull~ #nangislagi

61 pemikiran pada “Guardian Angel (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s