The Last Chance (Chapter 4)

Tittle                : The last Chance

Author             : @MayLie_

Genre              : Romance, mistery

Main Cast        : Lee Haneul (OC)

Kim Jongin / KAI (EXO K)

Lay (EXO M)

Kim Jaejoong (JYJ/TVXQ)

Other Cast       : you will found them

Jongin melemparkan tas sekolahnya dengan asal ke atas tempat tidurnya, Haneul berjalan menuju pojok tempat tidur Jongin lalu duduk di sana.

Jongin melepaskan seragam sekolahnya, Haneul menutup matanya dengan kedua telapak tangannya saat melihat tubuh Jongin.

“YA! Kim Jongin” teriak Haneul

Jongin menoleh kearah Haneul yang menutup matanya.

“wae?” tanya Jongin dengan polos

“tidak seharusnya kau telanjang dada di depan seorang yeoja” ucap Haneul tetap menutup matanya.

Jongin tersenyum tipis.

“tak ku sangka seorang roh bisa malu seperti itu” ucap Jongin dengan cuek lalu menggunakan t-shirt.

“kau bisa membuka matamu” kata Jongin.

Haneul melepaskan kedua tangannya yang menutup kedua matanya ia melihat Jongin yang sudah berpakaian, Jongin menyandarkan tubuhnya pada sandaran di tempat tidur.

“kenapa kau akhir-akhir ini selalu berada di kelasku?” Tanya Jongin.

Haneul menatap Jongin yang juga menatapnya.

“memangnya tidak boleh?” tanya Haneul.

“tidak juga, hanya saja kau bukankah ingin selalu berada dekat dengan Shinyoung”

Haneul bingung akan memberikan alsan seperti apa pada Jongin karena dari dulu dia tidak pernah bisa berbohong pada namja yang ada dihadapannya ini.

“eeemmm… aku hanya tidak ingin bertemu dengannya” jawab Haneul ragu.

Jongin menatap Haneul penuh dengan kecurigaan.

“lagi pula dia tidak bisa melihat ku” tambah Haneul untuk meyakinkan Jongin.

Haneul bisa melihat jika Jongin tidak percaya dengan alasan yang ia buat. Arrrggghh… kau sungguh pabo Lee Haneul kenapa tidak pernah bisa berbohong pada Jongin batin Haneul merutuki dirinya sendiri.

Terdengar ringtone dari ponsel Jongin, Jongin mengambil ponselnya yang berada tidak jauh darinya.

“yeoboseyo?” sapa Jongin pada orang yang menelponnya.

“oneul?” tanya Jongin “ne, arraseo” Jongin mematikan ponselnya.

Jongin bangun dari tempat tidurnya yang diikuti pandangan penuh tanya dari Haneul, Jongin mengambil mantel yang tebal karena diluar sedang turun salju.

“oddi gayo?” tanya Haneul.

Jongin menatap Haneul “aku akan pergi bertemu dengan Shinyoung”

Jongin berjalan keluar dari kamarnya saat ia sampai di depan pintu kamar ia menoleh pada Haneul.

“jangan pergi kemanapun” ucap Jongin memperingatkan lalu pergi.

Haneul menatap Jongin yang menghilang dari balik pintu.

“cih… dia kira aku bisa pergi kemana” dengus Haneul kesal.

Haneul merasa sangat kesal sekali hari ini terutama saat ini, ia kesal karena Jongin sangat peduli pada Shinyoung.

Saat ini Haneul sungguh membenci kedua orang itu, Jongin dan Shinyoung. Ia membenci Shinyoung karena memperalatnya untuk mendapatkan Jongin sedangkan ia membenci Jongin entah karena alasan apa.

“apakah dulu aku membuat kesalahan” gumam Haneul dalam kamar yang kosong dan sunyi itu.

****

Haneul berjalan-jalan mengelilingi sekolahnya itu, inilah kegiatan Haneul saat pelajaran dimulai di semua kelas. Ia merasa bosan dan tidak ingin mengganggu Jongin saat belajar.

Haneul menyusuri koridor sekolah tapi ia merasa ada yang aneh seperti ada yang mengamatinya. Haneul tahu jika itu tidak mungkin tidak ada orang yang bisa melihatnya dalam wujud seperti sekarang ini.

Haneul terus berjalan menyusuri koridor hingga sampai di atap sekolah, Haneul merasa beruntung karena pintu atap sekolah terbuka lebar.

“wuaaahh…” decak kagum keluar dari mulut Haneul saat melihat langit biru.

Di belakangnya seorang namja berdiri memandangi punggung Haneul yang sedang asik memandangi langit.

“Lee Haneul-ssi” panggil namja itu.

Haneul langsung terkejut karena tidak ada orang yang bisa melihatnya kecuali Jongin dan jelas sekali yang memanggilnya itu bukan Jongin. Haneul membalikkan tubuhnya, ia bisa melihat sesosok namja yang dia kenali.

“Lay-ssi?” ucap Haneul terkejut.

Namja yang bernama Lay itu tersenyum pada Haneul yang terkejut.

“kau… kau bisa melihatku?”

“tentu saja” jawab Lay.

Lay mendekati Haneul yang masih terpaku karena terkejut mengetahui ada orang yang bisa melihat sosok nya sebagai roh selain Jongin.

“kurasa kita berjodoh” ucap Lay lembut.

Mereka berdua duduk di atap sekolah, Haneul berbicara banyak hal dengan Lay, ia memberitahu Lay jika dia sedang koma dirumah sakit yang tentu saja sudah diketahui oleh Lay bahkan seluruh penjuru sekolah mengetahui berita itu. Haneul juga memberitahu Lay bahwa selain Lay, Jongin juga bisa melihat sosoknya dan selama ini Jongin lah membantunya.

Dan dari percakapan mereka hari ini Haneul juga tahu bahwa Lay memang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki semua manusia, dari kecil Lay memang bisa melihat sosok dari dunia yang berbeda.

Sebenarnya dulu mereka tidak akrab, mereka hanya saling mengenal satu sama lain dan jarang berbicara. Haneul kira dulu Lay merupakan namja yang menyeramkan jadi dia merasa tidak akan pernah akan dekat dengan Lay.

Tapi setelah hari ini Haneul merasa Lay merupakan namja yang baik dan menyenangkan.

****

Jongin menatap Haneul dengan tatapan marah.

“kenapa kau menatapku seperti ini?” tanya Haneul.

Sebenarnya ia sangat takut melihat Jongin yang sedang marah seperti itu. Haneul telah memberitaku Jongin jika Lay bisa melihatnya dan Haneul menceritakan banyak hal pada Lay terutama menceritakan bahwa Jongin juga bisa melihatnya juga.

“kau sungguh ceroboh” kata Jongin dengan nada dingin.

“kurasa Lay orang yang sangat baik” ucap Haneul membela diri.

“bagaimana jika ia ternyata tidak sebaik yang kau kira?”

Haneul menatap kesal pada Jongin “kau tidak seharusnya memiliki prasangka buruk padanya”

“kau melupakan perbuatan yang kau lakukan dulu padanya?”

Haneul menatap Jongin yang menatapnya dengan tatapan dingin. Haneul mengingat kejadian yang ia lakukan setahun yang lalu pada Lay.

Flashback

Haneul sibuk dengan kain-kain yang bertebaran di sekelilingnya, 2 hari lagi merupakan festival sekolah mereka jadi setiap kelas harus membuat suatu inovasi, kelas Haneul membuat rumah hantu. Dan sekarang dia memegang jarum dan kain putih yang akan ia buat sebagai baju hantu.

Murid-murid di kelasnya sangat sibuk saat ini, hari festival tinggal 2 hari lagi dan kelasnya belum sepenuhnya mempersiapkan semuanya jadi sudah dipastikan murid-murid kelas 2-3 sangat sibuk.

“Haneul-ah” panggil Shinyoung dengan ngos-ngosan sepertinya dia habis berlari.

Haneul menoleh menatap Shinyoung yang sedang mengatur napas yang ngos-ngosan itu.

“wae?” tanya Haneul bingung.

“itu.. itu diluar ada kehebohan” kata Shinyoung.

“lalu?” tanya Haneul cuek dan melanjutkan menjahit.

“aish… itu semua ada hubungannya denganmu” ucap Shinyoung kesal.

“aku?” tanya Haneul kaget.

“LEE HANEUL, LEE HANEUL”

Terdengar sorakan-sorakan dari luar. Shinyoung segera menarik tangan Haneul, Haneul melepas jarum dan kain putih yang ia pegang dan meletakkannya pada meja.

Mereka langsung berlari menuju halaman sekolah, halaman sekolah mereka yang sangat luas itu sudah didirikan sebuah panggung yang besar, panggung itu akan digunakan untuk pentas-pentas seperti band, dance dan lainnya.

Halaman sekolah itu sangat ramai dengan murid-murid yang menyaksikan seseorang di atas panggung. Dan saat Haneul sampai di sana semua murid menatapnya dan memberikannya sorakan lalu mendorongnya agar menaiki panggung.

Di atas panggung terdapat sang ketua panitia festival, dia adalah Lay. Haneul sangat terkejut mengapa dia ditarik menuju panggung.

“Haneul-ssi” panggil Lay menggunakan mikrofon.

“ne?”

“aku menyukaimu” ucap Lay.

Haneul terkejut mendengar pernyataan Lay, sungguh ia tidak menyangka sang ketua panitia, Lay yang tampan dan merupakan idaman semua yeoja di sekolah ini menyatakan cintanya padanya. Tapi dia tidak cukup dekat dengan namja itu, mereka jarang berbicara bersama jadi Haneul kaget mengapa Lay bisa menyukainya.

“jadilah paacarku”

Sorakan-sorakan memenuhi halaman sekolah, banyak yeoja yang tidak rela Lay menyatakan cintanya pada Haneul. Haneul menatap kerumunan murid-murid disana.

Disudut panggung Haneul bisa melihat sosok Jongin yang berdiri dengan lengan yang dilingkari kertas berwarna biru dengan tulisan ‘panitia’. Jongin menatap Haneul, Haneul ingin sekali meminta bantuan pada Jongin.

“mian” ucap Haneul lalu menunduk.

Seketika murid-murid yang bersorak-sorak tadi terdiam, mereka tidak menyangka Haneul akan menolak Lay yang dipuja banyak yeoja itu.

Haneul buru-buru ingin turun dari panggung itu, tapi saat ia akan beranjak turun dari panggung itu sebuah tangan yang besar dan hangat menggenggam pergelangan tangannya sehingga Haneul memutar badannya dan  sekarang Lay berada tepat di depannya.

Dan pada saat itu pun tanpa diduga Lay mencium bibir Haneul. Haneul membelalakan matanya ia langsung mendorong tubuh Lay.

PLAK!

Haneul melayangkan tamparannya yang sangat keras pada pipi Lay sehingga membuat semua orang terpekik.

“kau” ucap Lay marah.

“jangan perlakukan aku sebagai yeoja murahan” desis Haneul.

Haneul segera turun dari panggung yang diiringi tatapan marah dari Lay.

Haneul berlari kehalaman belakang sekolah lalu menangis. Jongin mendekati Haneul yang duduk ditaman dan iapun duduk di sebelah Haneul, Haneul menatap Jongin lalu langsung memeluk Jongin dan menangis dipelukannya.

Flashback End

“Lay pasti sudah melupakan semua itu” ucap Haneul.

Jongin menghela napas berat, ia tahu Haneul adalah yeoja yang sangat keras kepala sebaiknya dia tidak melawannya.

“itu semua terserahmu” ucap Jongin menyerah.

****

 

Sudah beberapa hari ini Haneul menjadi sangat akrab, mereka sering bertemu diatas atap sekolah.

“haneul-ah, ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu” ucap Lay tiba-tiba saat mereka berada di atap sekolah.

“menunjukan sesuatu?” Haneul menatap Lay penasaran.

“ikuti saja aku”

Lay berjalan pergi dan Haneul mengikuti Lay dari belakang, mereka berjalan menuruni tangga dan koridor-koridor kelas hingga mereka sampai pada ruangan yang Haneul kenali sebagai gudang sekolah.

“gudang sekolah?” tanya Haneul.

Lay hanya tersenyum melihat kebingungan Haneul, Lay membukakan pintu gudang itu dan menyuruh Haneul untuk masuk terlebih dahulu, tanpa kecurigaan sama sekali Haneul masuk kedalam gudang disusul oleh Lay lalu mengunci pintu gudang itu.

“kenapa kau mengunci pintunya?” tanya Haneul.

Lay memandang wajah Haneul dengan ekspresi wajah yang tidak pernah Haneul lihat beberapa hari ini, tapi ia pernah melihat ekspresi wajah itu satu tahun yang lalu, ekspresi wajah yang marah karena dipermalukan seorang yeoja.

“kau sungguh polos Lee Haneul”

“apa yang kau inginkan Lay-ssi?” tanya Haneul.

Sebenarnya sekarang ini Haneul merasa sangat takut terhadap Lay tetapi ia berusaha agar ketakutannya tidak terlihat oleh Lay.

“aku ingin membalas kan dendamku” ucap Lay licik.

“dendam?”

“kau lupa kejadian setahun yang lalu?”

Haneul terdiam mendengar ucapan Lay, tentu saja ia ingat kejadian itu. Tapi ia tidak menyangka Lay memiliki dendam padanya. Lay mendekati pintu gudang.

“jangan harap Jongin akan menolongmu di sini” ucap Lay.

Lay pergi dan menghilang dari balik pintu lalu terdengar suara pintu gudang itu dikunci.

Haneul menatap gudang yang penuh dengan barang-barang usang seperti tengkorang yang sudah tidak terpakai di lab biologi, bola dunia, dan barang-barang lainnya yang penuh dengan debu. Haneul duduk dilantai gudang itu.

Haneul merasa sangat bersalah pada Jongin karena tidak mendengarkan semua ucapan Jongin beberapa hari yang lalu.

“apakah aku akan berakhir seperti ini?” tanya Haneul pada dirinya sendiri.

****

 

Sinar matahari dari ventilasi gudang makin lama semakin meredup dan gudang pun semakin gelap karena tak ada sinar yang masuk keruang gudang selain satu ventilasi yang memancarkan cahaya dari luar.

Haneul meringkuk dilantai gudang, ia sudah pasrah dengan nasibnya di gudang ini. Ia sedang menunggu dewa kematian yang bernama Tao itu menjemputnya dan membawanya pergi. Sebenarnya sejak dirinya menjadi roh Haneul sudah siap untuk pergi dari dunia ini orang tuanya sudah tidak menginginkannya lagi, sahabatnya membencinya dan ada seorang namja yang memiliki dendam padanya, jadi untuk apa dirinya masih berada di dunia ini.

Cklek… cklek…

Terdengar suara gangga pintu yang terkunci berusaha dibuka.

“Haneul-ah” panggil Jongin.

Haneul segera berdiri dari duduknya “Jongin-ah”

Jongin berusaha mendobrak pintu gudang yang terkunci itu, setelah tiga kali dobrakan pintu gudang itu terbuka.

Haneul bisa melihat keringat yang mengucur ditubuh Jongin seragam sekolahnya sudah basah kuyup oleh keringat. Haneul bisa mengetahui jika Jongin sudah mencarinya dari tadi.

“siapa yang melakukannya?” tanya Jongin marah.

Tapi Haneul tidak menjawab pertanyaan Jongin, ia tidak mau Jongin berurusan dengan Lay.

“Lay, pasti dia”

Jongin beranjak dan pergi keluar gudang Haneul hanya bisa mengikuti Jongin pergi entah apa yang akan dilakukan oleh Jongin.

Jongin mencari Lay yang ternyata baru saja akan pulang sekolah, keadaan lingkungan sekolah sudah sangat sepi karena hampir semua murid sudah pulang siang tadi.

Jongin dengan sangat cepat mengampiri Lay yang berjalan menuju gerbang sekolah, Jongin langsung mencengkram bahu Lay dan saat Lay membalikkan badannya Jongin langsung melayangkan tinjuan ke wajah Lay, Lay langsung terjatuh ketanah karena mendapat tinjuan mendadak dari Jongin.

“jangan pernah kau menyakiti Haneul” kata Jongin kasar.

Jongin kembali melayangkan tinjuannya ke wajah Lay yang masih tertidur ditanah.

“Jongin-ah cukup!” teriak Haneul.

Jongin menatap Haneul dan langsung pergi meninggal kan Lay yang masih tergeletak tak berdaya di tanah karena tinjuan yang sangat kuat dari Jongin.

Haneul sangat khawatir, dia memiliki firasat buruk. Haneul berusaha menampik pikirannya itu Haneul berharap tidak akan terjadi sesuatu pada Jongin.

Tapi semua firasat buruk yang Haneul menjadi kenyataan.

Keesokan harinya setelah Jongin dan Haneul pulang dari sekolah, Jongin dihadang oleh segerombolan preman, Jongin ditarik dan dibawa ke sebuah jalan sepi berupa lorong gang yang jarang dilewati oleh orang-orang.

Di jalan sepi itu Jongin dipukuli oleh segerombolan preman yang sudah dipastikan dikirim, Haneul sangat panik ia tidak tahu harus berbuat apa, dia sangat benci saat sosoknya menjadi roh yang memiliki kemampuan terbatas seperti ini.

Seorang namja dengan wajah babak belur datang mendekati Jongin yang dipukuli preman-preman itu. Haneul bisa mengenali wajah namja yang nanak belur itu dia adalah Lay.

“hentikan” perintah Lay pada preman-preman itu.

Lay mendekati Jongin yang sudah terkapar tidak berdaya di atas tanah. Lay menarik rambut Jongin hingga Jongin meringis.

“sebaiknya kau jangan macam-macam padaku, atau inilah hasil dari perbuatanmu” ucap Lay licik.

Lay melepaskan tangannya dari rambut Jongin dengan kasar, lalu menjauhi Jongin dan preman-preman itu kembali memukuli Jongin. Lay melewati sosok Haneul yang berdiri panik di dekat Jongin lalu ia tersenyum licik kepada Haneul lalu pergi.

Haneul menatap Jongin dalam keadaan sangat lemah dan sudah hampir tidak sadarkan diri. Haneul merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menolong Jongin.

apa yang harus kulakukan batin Haneul

TBC

34 pemikiran pada “The Last Chance (Chapter 4)

  1. Ya Allah bagaimana kelanjutannya, jangan bilang belum ada endingnya hiks hiks hiks ganjal banget di hati kaya gondok kalo belum ada endingnya,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s