Bad Girl (Chapter 4)

Title                : BADGIRL

Author            : @EunriPark

Main Cast      : Kim Jong-In, Park Eunri, Oh Sehun, Cho Kyuhyun.

Support Cast : EXO, SJ, SMTOWN.

Genre              : Romance, Friendship

Length            : Multi Chapter

Rating             : PG13

OST                : Secondhand Serenade – Fall For You

 “I know you don’t think that I’m trying, over and over again. So please just don’t make me change my mind,”

*****

Jeju island, South Korea

 

“Cut!” seorang pria dewasa dengan postur tubuh tinggi gendut itu mendesah lagi saat melihat objek hasil potretnya dalam layar LCD kamera polaroidnya untuk yang kesekian kali, menggeleng-gelengkan kepalanya karena menurutnya, hasil jepret-nya itu (masih) kurang memuaskan. Ekspressi dari sang model kurang menyeruak. “Kai~ssi, focus!” pemuda yang dipanggil Kai itu mengangkat tangannya setelah menatap dua pemuda disampingnya bergantian, “Okay break 5 minutes!”

“Dia kenapa?” Baekhyun bertanya pada Sehun setelah meneguk air mineral-nya, menatap kemana arah Kai kini mengambil jarak dari kerumunan orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dipantai ini. Sehun mengangkat bahunya tak tahu, “Molla.” Jawabnya seadanya.

Baekhyun mendudukkan tubuhnya disana selagi Sehun mengikuti Kai, melihatnya sedang telentang sambil menutup matanya dihamparan pasir dengan jarak beberapa belas meter dari lokasi pemotretan yang lumayan sepi, jauh dari hiruk pikuk itu dan mendudukkan tubuhnya disamping Kai, “Mwosseumnika?”

“Kai, seriously, kau terlihat aneh hari ini. Sesuatu mengganggumu?” Lanjutnya karena tak mendapat respon berarti dari sahabatnya itu. Kai bahkan tak membuka matanya sama sekali.

“Kau tahu hanya gadis itu yang selalu berhasil menggangguku.”

Sehun memainkan tutup botol mineral ditangannya, “Eo? Kali ini apa? Bukannya kalian memang selalu saling menggangg—Yak!”

Pria itu meringis keras saat Kai menjitak kepalanya sepenuh hati tanpa ekspressi sama sekali. Kai memilih memejamkan matanya lagi dan memainkan pasir yang dipijaknya dengan tangan. “Saat seseorang menyayangi dua orang sekaligus.. kau pikir dia akan memilih yang mana? Yang pertama, atau.. yang kedua?” Aku harap dia memilih yang kedua.

“Kau tahu, makhluk bernama perempuan itu egois—mereka terkadang tak bisa memilih,” Sehun ikut-ikutan membaringkan tubuhnya, mencoba masuk kedalam percakapan jenis apa yang sahabat-nya ini maksudkan, “Tapi jika yang kau bicarakan adalah Eunri, kupikir dia akan memilih yang pertama. Jika yang pertama adalah kau,”

“Tidak.. sayangnya aku bukan yang pertama. Dia—”

Sehun menelan ludahnya, “Mwo? Jadi yang pertama siapa?”

“Seseorang dimasa lalunya. Dan aku pikir bukan tidak mungkin jika gadis itu menginginkan untuk kembali pada masa lalunya itu.”

“Nugu?” tanya Sehun memutar bola matanya, “Masa lalunya yang mana? Setahuku tidak ada yang berpengaruh pada gadis it—”

“Kau tidak tahu, Sehun~ah. Dia menyembunyikan rahasianya dengan baik. Saat itu.. entah bagaimana, Eunri menjalin hubungan dengan…” Kai menghembuskan nafas, meyakinkan dirinya untuk membocorkan rahasia gadis itu yang sebenarnya tabu. “Kyuhyun hyung.”

“MWOYA?” pekik Sehun shock, “Kyuhyun.. Super Junior? Lucu sekali kkamjongie!”

“Aku tidak bercanda,” Kai memejamkan matanya, “Orang itu yang berpengaruh untuknya. Aku berani bertaruh hubungannya dengan Kyuhyun cukup lama. Dia.. benar-benar merahasiakannya dengan sangat rapi dari kita, Sehun~ah.”

Sehun mengerjap, “Serius?”

Kai menoleh pada Sehun yang masih menatapnya tak percaya lalu balik menatapnya tanpa minat, “Apa wajahku terlihat seperti orang bercanda? Aku melihatnya berdua dengan pria itu tadi pagi di lift—dia bahkan berada dalam rangkulan pria itu.”

Sehun menggelengkan kepalanya prihatin, “Jadi itu yang membuatmu terlihat begitu berantakan hari ini?” katanya polos yang membuat Kai mendengus, “Memangnya apa lagi? Sial, Sehunnie! Apa kau memikirkan hal yang sama denganku? Asal kau tahu saja gadis itu.. hanya mendengar nama Kyuhyun saja dia sudah salah tingkah. Dia masih menc—”

“Jangan negative thinking dulu,” Potong Sehun, “Mungkin sa—”

“Dia sendiri yang mengatakannya padaku,” ujar Kai cepat yang membuat Sehun lagi-lagi menatapnya tak percaya, “Dia bilang.. dia lelah untuk mencoba. Park Eunri.. benar-benar gila, kan?” Dan sialnya aku mencintai gadis gila itu.

Kai merebut botol air mineral ditangan Sehun dan meneguknya.

“Maksudmu?” tanya Sehun lemot. Kai mendengus, “Kurasa waktu 5 menit kita sudah habis.” Ia beranjak dari tempat itu meninggalkan Sehun sendirian, sementara Sehun masih tenggelam dalam lamunannya sampai suara berat manager-nya yang memanggil membuatnya cepat-cepat beranjak dari tempat itu dan kembali ke area pemotretan.

*****

SMEnt Building, rooftop. Few hours earlier.

“Eunri~ya?” gadis yang sedang menikmati besarnya angin yang menerpa tubuhnya di rooftop gedung SM Entertainment itu membalikkan tubuhnya cepat dan menggantikan ekspressi malasnya dengan tersenyum lebar, “Ahjusshi!”

“Ada apa ahjusshi kemari?” Ia lagi-lagi tersenyum saat ahjusshi-nya itu membelai rambutnya lembut, “Memangnya tidak boleh? Hey-ya! Jong-In bilang kau akan ikut bersama mereka ke Jeju? Kenapa masih disini?”

“Itu.. aku.. eng..” skakmat! Eunri kehilangan pita suaranya. Bagaimana bisa pria itu memberitahu ahjussi-nya ini bahwa dia akan ikut?

“Ah, kau pasti kesiangan, kan? Ck,”

Eunri mengangguk kikuk, “He-he,”

“Seharusnya kau menghilangkan kebiasaanmu yang satu itu, Eunri~ya,” nasihat pemilik salah satu agensi terbesar Korea Selatan itu yang membuat Eunri memanyunkan bibirnya.

“Arra, arra.” Dengusnya masih manyun.

“Apa kau sebegitu inginnya menikmati sunset dengan Jong-In-mu itu?”

“Mwo? A-aniya!”

Pamannya itu tertawa nyaring yang malah membuatnya semakin salah tingkah, “Tertulis jelas di jidatmu,” lanjutnya santai, masih berminat untuk menggoda gadis itu.

“Hya! Ahjussi! Aku tid—”

“Tenang saja Eunri~ya, member yang lain juga akan berangkat. Tapi nanti siang~ kau masih mau kesana? Ah tentu saja. Iya, kan?”

“Aish, jadi apa yang harus kulakukan sampai nanti siang?”

Lee Soo-Man mengangkat sebelah alisnya, “Sebegitu tidak sabarnya?”

“Berhenti menggodaku ahjusshi, menunggu itu membosankan!” Eunri meniup poninya.

“Ya, kau benar~” kali ini Eunri mendengus karena tangan besar pamannya itu kembali mengacak rambutnya. “Kau benar-benar setipe dengan ibumu, ya?”

“Kau mengacak tatanan rambutku!”

“Memangnya rambutmu pernah rapi?”

Eunri meniup poninya, “Ngomong-ngomong soal eomma, dia bilang titip salam untukmu.”

“Sampaikan salamku balik.”

“Baiklah Eunri~ya ahjusshi pergi dulu, ada yang harus ku-urus untuk SMTOWN LA nanti.”

“Mwo? SM..Town? kapan?”

“Tanggal 20. Wae? Kau mau ikut juga?”

Eunri menggigit bibir bawahnya, “Apa EXO juga.. ikut?” tanyanya ragu.

“Tentu saja, mereka bagian dari SM Family, bukan?”

Eunri memukul-mukul kepalanya sendiri, pertanyaan terbodoh yang pernah dilontarkannya. Lalu otaknya kembali berputar setelah menelaah satu kata itu. SMTOWN. Semua band dibawah naungan SM Ent. Include.. Super Junior. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengangguk dan lebih memilih untuk menggeleng pelan. “Shi…reo,”

“Wae? Ahjusshi bisa menguruskan akomodasi-nya untukmu.”

Eunri menelan ludah gugup, menundukkan kepalanya dan kakinya mengayun-ayun tidak jelas, “Eung, tugas sekolahku sedang numpuk, ahjusshi…” ujar gadis itu seratus persen bohong.

“Sayang sekali,” komentar ahjusshi-nya itu pelan, “Gwenchana, tugas sekolahmu lebih penting. Arra?”

Lee SooMan membelakangi gadis itu dan memulai langkahnya, “Ahjusshi!”

“Ne?”

“Aku ikut!”

“Mwoya?”

Eunri memutar bola matanya, “Aku ikut kebawah.” Katanya seraya melangkah kecil dengan tempo cepat, mencoba mengimbangi langkah ahjusshi-nya itu.

*****

SMEnt, Parking Area.

11.07 KST

Chanyeol yang duduk dikursi depan mobil van mini itu baru saja menepuk bahu sang supir pelan untuk menyuruhnya jalan saat tiba-tiba saja pintu tengah mobil terbuka.

Dio dan Suho yang duduk dibelakang menatap gadis yang menyembulkan kepalanya dari luar itu bingung, “Ada apa?” tanya Dio akhirnya.

“Suho~ssi, geser.” Ujar gadis itu dengan nada datarnya yang membuat Dio mendengus karena diabaikan.

“Mwoya? Kau i-ikut?”

Eunri mengangkat sebelah alisnya, lalu duduk disamping Suho setelah pria itu mengeret kearah Dio. “Memangnya kenapa? Kau keberatan?” katanya menatap Chanyeol tanpa minat.

“Ck, kau itu!” Chanyeol hampir saja menjitak kepala gadis itu, tapi sepertinya terhalang oleh kepenasarannya untuk alasan apa gadis ini ikut. “Untuk apa kau ikut?”

“Menyusul Kim Jong-In.” jawab gadis itu asal. Ia menutup pintu dan menyandarkan kepalanya pada bahu kursi, mencari posisi senyaman mungkin. Ia membuka jendela mobil itu dan menatap hiruk-pikuk jalanan kota ini yang sepertinya tak akan pernah lenggang. Memilih untuk mengacuhkan setengah dari member EXO-K yang sedang mengobrolkan hal yang entah apa itu Eunri tak mau tahu.

“Mwosseumnika?” Suho berdesis, membuat Eunri menoleh kearahnya. “Kau berbicara denganku?”

“Memangnya dengan siapa lagi?” katanya kalem.

“Dio mungkin?” Eunri tersenyum kecil menyadari wajah kesal leader boyband ini, “What’s wrong, dude?”

“Kau tidak berminat memanggilku oppa? Umurku terpaut jauh denganmu, bocah!” Suho menggumam agak keras, disambung dengan Dio dan Chanyeol yang mengangguk setuju, sedangkan gadis itu masih betah dengan pemandangan diluar. “Ani, tidak sama sekali.”

Suho menghela nafas kecil, sepertinya memang butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi gadis disampingnya ini. Leader boyband itu berdehem ringan, “Ada apa? Kurasa kau tidak akan mau repot-repot menyusul-nya ­jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. Hm?”

“Jangan bilang kau hanya akan mengantarkan bekal makan siang untuknya?” Chanyeol menyahut dari kursi depan, merapikan poninya menyadari gadis itu yang masing diam tak bergeming. “Jangan bilang tebakanku benar!?”

“Aku bermasalah dengannya—” ujar gadis itu blak-blakan tanpa memindahkan arah pandangnya, “Dia melihatku bersama dengan Kyuhyun didalam lift.”

Dio dan Chanyeol saling pandang.

“Kyuhyun.. hyung?”

“Ne, Cho Kyuhyun-nim.” Ulangnya tak ingin dicurigai.

“Lalu apa masalahnya? Lift itu memang untuk umum, kan?” sahut Chanyeol, lagi. Eunri menatapnya tajam.

“Dia pasti cemburu lah,” tukas Dio yang membuat Eunri menoleh kearahnya, menatapnya dengan tatapan jadi-kau-menguping-juga?

Suho mengangguk faham. Kyuhyun memang pernah menceritakan tentang gadis ini padanya dulu.

“Dia merangkulku.”

“MWO?” itu suara Dio dan Chanyeol yang selanjutnya diabaikan oleh Eunri.

“Sudahlah aku kira kau mengerti,” katanya, ditujukan untuk Suho.

“Naega aniya!” ujar Chanyeol dan Dio nyaris bersamaan yang membuat Eunri meniup poninya, “Ingin tahu saja! Dasar tukang menguping!”

Eunri memasangkan headset besar ditelinganya dan mejamkan matanya menolak untuk buka mulut lagi. Hanya dalam waktu beberapa menit setelah itu, ia sudah tenggelam dalam dunia mimpinya.

*****

Jeju island

“Ireona~” Eunri merasakan guncangan kecil ditubuhnya dan langsung membuka lalu mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba beradaptasi ditempat yang.. remang-remang ini. Dia menguap kecil lalu meregangkan otot-ototnya, “Ini dimana?” tanyanya serak dengan ekspressi bodohnya yang membuat Chanyeol tertawa melihatnya dari spion dalam.

“Jeju. Bukannya kau bilang kau suka laut? Kau tidak bisa mencium baunya?” ujar Suho sambil menatap keluar jendela mobil.

“Tch~ bagaimana bisa aku mencium bau kesukaanku itu jika bau tiga namja disekitarku membuat hidungku sakit?”

Gadis itu nyengir tak bersalah mendapati sorot mata membunuh dari tiga pria disekitarnya. “Arra. Mianhae oppaaa~”

Dio nyaris tersedak dengan cemilan yang sedang dikunyahnya. Gadis itu tertawa kecil lalu membuka jendela mobil, “Bagaimana kalau kita keluar? Lihat, sepertinya kita bisa menikmati sunse—” perkataannya terhenti begitu saja ketika sepasang matanya menangkap punggung yang sangat dikenalinya dipantai yang berjarak tak jauh dari posisi mobil van mereka saat ini. Sekitar 15 meter.

“Pergilah,” usir Suho pengertian setelah ikut-ikutan mengikuti arah pandang gadis itu.

Eunri menelan ludah gugup, “Untuk apa?”

“Hya! Pabo!” Dio meneloyor kepala gadis itu dari belakang. “Bukannya itu tujuanmu kemari?”

“Eww,” ringis gadis itu, mengelus-ngelus kepalanya lalu membuka pintu mobil. “Aku berubah pikiran.” Katanya yang membuat dirinya kembali mendapat satu jitakan gratis dari Dio.

“Yak!”

“Hampiri dia, kami menunggumu di restaurant-sifud itu dengan Sehun dan Baekhyun, oke?”

Gadis itu baru saja akan mengelak saat Suho mendorongnya keluar dari mobil disusul Chanyeol dan Dio. Ketiga namja itu melambaikan tangannya sebelum berbalik dan melangkah menuju restaurant yang ditunjuk Suho tadi.

“Berjuanglah~” kata Chanyeol dengan nada mengejek. Lagi-lagi saat Eunri akan balas berteriak kearahnya, Suho membalikkan tubuh gadis itu dan mendorong punggungnya.

“Chanyeol hyung, jaga headset-ku baik-baik! Aku tidak akan segan menendang pantatmu jika benda itu rusak!”

Dio menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Hyung? Apa gadis itu masih waras?”

Suho menggeleng, “Tidak.”

“Daridulu dia memang sudah tidak waras, Kyungsoo~ya.” Chanyeol merangkul Dio dan lead-vocal itu balas melingkarkan tangannya dipinggang Chanyeol yang lebih tinggi darinya. “Ne. Kau benar. Kajja!”

Park Eunri menatap punggung pria itu yang kini membelakanginya dari jauh, melangkah setengah tidak yakin setelah Suho mendorong punggungnya untuk mendekati pria itu dan membicarakan semua kesalahpahaman yang terjadi. Sebenarnya ia malas untuk itu, tapi mengingat kali ini ia yang –walaupun setengah mati malas mengakuinya- bersalah. Dan sepertinya Eunri harus menekan egoisme-nya ke titik terendah untuk meluruskan ini semua. Jujur saja, ia sendiri merasa bingung apa yang harus dikatakannya nanti.

Eunri menoleh kebelakang, restaurant itu memang berlawanan arah dengan arahnya kini. Ia tersenyum kecil mendapati Suho yang mengepalkan tangannya diudara memberi semangat untuknya.

Punggung pria itu semakin dekat dimatanya, dan kini berjarak tak lebih dari satu meter. Eunri menghela nafas dalam, mempersiapkan diri sebelum duduk tepat disamping pria itu yang masih enggan menoleh atau bahkan melirik sedikitpun kearahnya yang ia yakin telah menyadari keberadaannya sejak beberapa detik lalu. “Kau marah padaku? Kecewa? Apapun itu yang membuatmu tak ingin mendengar suaraku atau bahkan melihat kearahku sedikitpun?”

Deburan ombak-lah yang menjawab desis tanya gadis itu yang sebenarnya tak memerlukan jawaban. Ia menghela nafas kecil, menghirup oksigen pantai yang terpatin dengan bau asin laut yang selalu disukainya. Tiba-tiba saja Eunri berubah pikiran. Tidak, bukan salahnya jika pria ini melihatnya sedang berdua dengan Kyuhyun di lift yang entah bagaimana lampunya bisa mati tiba-tiba itu.

Eunri memejamkan matanya, “Kau berhak untuk itu. Jika kau tidak ingin mendengar penjelasanku, tentu saja.”

Gadis itu baru saja beranjak, hendak melangkah untuk mendekat ke bibir pantai jika Kai tidak menahan lengannya dan memaksanya kembali duduk disampingnya. “Aku tidak akan bunuh diri,” dengus gadis itu, melemparkan segenggam pasir putih ditangannya kearah kaki pria itu yang terbalut jeans panjang. Dan pria itu tidak membalas kelakuannya seperti apa yang ia harapkan. Sial.

Eunri menautkan jemari mereka dengan sedikit canggung, menatap jauh kearah matahari yang mulai tersembunyi penuh dibalik peraduannya diufuk barat. Merasa sedikit gamang saat dirasanya tangan pria itu sama sekali tak merespon. Beku. Pria ini benar-benar marah. “Aku brengsek, aku tahu.” Mulai gadis itu dengan nadanya yang dingin, “Tapi demi apapun, apa yang kau lihat tadi pagi tidak sama seperti apa yang ada dalam otakmu, Jong-In~ah. Itu kecelaka—”

“Dia merangkulmu!” Potongnya tak kalah dingin. “…dan aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum itu.” Lanjutnya dengan nada yang lebih menusuk. Eunri menoleh kearah pria itu yang masih enggan menatapnya. Jadi kau tidak mempercayaiku?

“Aku tidak peduli dengan spekulasimu.” Gadis itu akhirnya menyerah, dengan lemas ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan pria itu dan memeluk lututnya sendiri. “Semuanya terserah padamu. Kau berhak menentukan pilihan—”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak ingin terikat dengan orang yang tidak mempercayaiku. Kau tahu? Kepercayaan itu aspek yang terpenting dalam sebuah hubungan, Jong-In~ssi.”

“I know you don’t think that I’m trying over and over again.” Eunri kembali berbicara sebelum pria itu memberikan respon, tak ingin peduli apa sebenarnya pria itu mengerti atau tidak apa yang baru saja dikatakannya. “Please just don’t make me change my mind about this.”

“Please, Jong-In~ah, trust me.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” gadis itu menangkap tangan Kai mengacak rambutnya yang berantakan dari sudut matanya, “Katakan bagaimana caranya!”

“Tidak usah memaksakan diri,” jawab gadis itu seakan tak peduli, ia bahkan mengangkat bahunya terkesan tak ambil pusing. Eunri membuka ikatan rambutnya, membiarkan setiap helainya berterbangan dibelai angin. “Lagipula sudah kukatakan dari awal, bukan, bahwa aku tidak memaksamu? Tidak sama sekali.”

“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?” Kai memekik jengah, mengundang tatapan datar dari gadis disampingnya yang mulai merasa bahwa perang dingin ini akan berakhir buruk. “Broken up?”

Gadis itu menelan ludahnya susah payah. Dia bahkan baru menyadari bahwa pria itu telah memutuskan untuk hengkang dari bibir pantai yang selalu dikaguminya ini beberapa detik lalu. Meninggalkannya sendirian. Membiarkan kakinya terus terayun menjauhi tempatnya berpijak kini. Ia tersenyum pahit, tapi kemudian dengan santainya membaringkan tubuhnya pada hamparan pasir pantai setelah menghirup oksigen yang entah bagaimana terasa sangat menyesakkan untuk paru-parunya. Membiarkan apapun yang mengisi otaknya kini terbang disapu angin malam, tertutupi oleh gelapnya malam bertabur bintang. Merasa ditemani oleh debur ombak yang saling berlomba untuk lebih dulu sampai diperaduan, pantai. Pahatan Tuhan dibumi yang selalu disukainya. Eunri bahkan menginginkan rumah yang penuh jendela dan view utamanya adalah pantai.

“Sendirian?” suara ringan itu menginterupsi kesunyian yang daritadi seakan tak ingin berpaling dari gadis itu. Ia menoleh, memaparkan senyum termanis yang ia miliki. Membuat orang yang kini berbaring disampingnya itu mengalihkan pandangan darinya, berpikir bahwa tidak sehat mengkonsumsi senyum seperti itu terlalu lama.

“Menurutmu?” jawabnya dingin namun lembut dalam bersamaan yang membuat pria disampingnya merasa bahwa yang barusaja berbicara bukan manusia tapi mungkin titisan malaikat.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai Jongin memukul tembok dengan tinjunya hingga punggung tangannya berdarah tadi tapi—”

“Stop calling his name in front of me boy,” tukas gadis itu, menutupi mulut sipembicara dengan telapak tangannya. Tapi si pria dengan cepat menjauhkan tangan mungil itu dari mulutnya. “Yang kutahu dia bermasalah denganmu,”

“Please, Sehun~ah. Jangan bicarakan dia sekarang atau aku akan menendangmu hingga tenggelam dilaut sana,” ujar gadis itu dingin yang malah membuat Sehun terkekeh geli. “Algasseumnida~”

Eunri mendudukkan tubuhnya dan mengibas-ngibaskan rambutnya yang tertempeli pasir, membuat Sehun menatapnya enggan untuk berkedip. Gadis itu.. terlihat sangat menikmati suasana disini padahal Sehun tau betul gadis ini tidak sedang baik-baik saja.

“Indah, ya?” gumam gadis itu setelah keheningan terjadi. Sehun menatap gadis itu yang masih menjadi objek pandangnya sejak tadi. Menganggukkan kepalanya setuju, “Tapi kau lebih indah.” Katanya tanpa sadar yang membuat Eunri menatapnya aneh.

Sehun balas menatap mata hazel gadis itu yang entah bagaimana terlihat kehilangan banyak dari binar cahayanya yang biasanya selalu terbias, membius siapapun yang menatap kilau itu. “Apa yang kau bicarakan kkk~”

Eunri kembali melemparkan tatapannya pada hamparan laut yang mulai disinari cahaya rembulan penuh, “Aku selalu menyukai malam~”

“Dan anehnya kau bermusuhan dengan gelap.” Komentar Sehun yang dibalas oleh dengus kecil gadis itu, “Ayolah Sehun malam itu tidak selalu identik dengan kegelapan!”

“Begitu?” ledek Sehun tidak setuju, dan biasanya, Park Eunri akan langsung mendebatnya tidak mau kalah. Tapi kali ini lain. Gadis itu hanya meniup poninya tanpa mau repot-repot berargumen. Sesuatu yang membuat Sehun semakin yakin bahwa masalahnya dengan Kim Jong-In mengganggu gadis ini.

“Bintang selalu setia menemani-nya Sehun~ah, begitupun bulan. Yah, meskipun kadang mereka absen karena awan mendung sialan menghalanginya.” Eunri mengibaskan rambutnya dan beranjak duduk setelah menghirup dalam-dalam udara kesukaannya ini.

“Let’s go back. Its already late—” perkataan gadis itu terpotong saat dilihatnya Sehun menatapnya dengan cara seperti.. terpesona? Ia tertawa pelan akan pemikiran konyolnya lalu berdiri, mungkin pria itu tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakannya. Ia mulai melangkah, “Ayo, kau mau van kita meninggalkanmu disini?”

Sehun tersadar dan buru buru berdiri, mensejajarkan langkahnya dengan gadis itu. Merasa sedikit kaget saat gadis itu tiba-tiba saja dengan santainya menggenggam tangannya erat, menautkan jari-jarinya, membuatnya akhirnya membalas mini-skinship itu dan menikmati kebersamaannya dengan sahabat sekaligus kekasih-sahabatnya ini. “Kau tahu? Aku merasa seperti aku ini adalah benar-benar selingkuhanmu sekarang.” Celetuk Sehun, ringan. Ia mengusap-ngusap punggung tangan gadis itu yang kini tertaut dengan jemari miliknya.

“Nobody cares anyway—” Eunri tersenyum kecil, sadar akan bad-attitude-nya yang nyaris mendekati limit wajar. Salah? Keduanya tahu, faham betul. Gadis itu hanya menikmati bagaimana suasana hatinya membaik saat tangan besar pria ini menggenggam tangannya. Nyaman, hangat. Dan untuk alasan yang satu ini ia tak ingin munafik. “…let it rain, I need you here in my side.”

Sehun tertegun akan perkataan ringan gadis itu yang seperti mengibaskan bendera hijau untuk sebuah balapan mobil, mengizinkan jajaran race-car dibelakang garis start untuk melaju. Seperti gadis itu memang menginginkannya untuk menjadi seseorang baginya, memulai sesuatu dibalik hubungannya dengan Jong-In. Sehun tersenyum, mengacak rambut gadis itu lembut dan melanjutkan langkahnya. “Nado.”

Dosa? Memangnya siapa yang peduli?

*****

TBC

Betapa gajelau(?)nya part ini kkk~ ada yang keberatan kalo aku jadiin Sad Ending? o.O komen ya XD Ohiyaa FF ini sesuai jadwalnya EXO juga loh u,u jadi aku mau minta saran dong bagusnya end dipart berapa? X) well thanks for RC! *tebarbias*

Iklan

49 pemikiran pada “Bad Girl (Chapter 4)

  1. akhhh poor jong in, makin suka ma ff ini.sbenarnya gimana sih perasaan eunri??? msh gk bs move on? pingin jd eunri, gk ada kai sehun pun jadi. d tunggu part selanjutnya

  2. akhhh poor jong in, makin suka ma ff ini.sbenarnya gimana sih perasaan eunri??? msh gk bs move on? pingin jd eunri, gk ada kai sehun pun jadi. d tunggu part selanjutnya y min…jgn kelamaan ngepostnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s