That Yeoja is Mine (Chapter 3)

Namaauthor :(rima) @rimawm

Main cast : Kai (EXO-K), Tao (EXO-M), Park Mirae, all EXO

Part : 3

Rating :Pg 15

Genre : Romance

Disclaimer :namadiatassayacantumkankarenamereka bias saya. Keep reading ya ^^… mianhae kalaugejeceritanya, sayamasihpemulaJ

Note : Maaf banget kalau typo, ceritanya ga jelas, etc. >.< aku benar-benar kaget ternyata banyak juga yang membaca ff perdanaku. Tambahan, anggap saja para member itu satu umur ya ^^ anyway, happy reading ya readers dan jangan lupa di komen dan di kritik. Salam! *bowing bareng Kai dan Tao

_________________________________

Jadi begitulah, selama 3 minggu ini aku sering menemani Kai oppa sekaligus para member EXO.Tidak latihan dance maupun latihan basket, aku selalu menempeli mereka. Kadangakuberpikir, mungkin lama-lama akubiasmenjadimanajerpribadimereka kaliya, untung saja ada wakil ketua di klub inggrisku yang sangat menikmati menggantiku selama sebulan ini, jadi aku lebih bebas kemanapun bersama mereka.Tapiakulebihmemilihmenjadimanajer Kai oppasajadaripada yang lain, apalagi Tao!

Memikirkansatunamaituakumalahjadikesal. Selama 3 mingguinijugaakuselaludigangguinTao, padahal Kai oppaselalumemarahinyakalausudahkelewatan, tapi Taomalahsemakinsenangmenggangguku.Tapi, walau Tao seringmenggangguku, diajugaseringmembuatkuberdebar-debar karenakelakuanspontanitasnya. Contohnya,waktu aku jatuhkarenakelimpunganmembawabelanjaanuntukpara member, tiba-tiba Tao datingdanmembantukumembereskanbelanjaanku yang jatuh, dandengansantaidiamengambilbelanjaannyalaluberjalan di depanku.

“Ya!Darimanakau?Bukannyakaulatihan malah keliaran?” tanyakukesalsambiltergesa-gesamengikuti Tao.

“Akumenjagamudarikecerobohanmu.Kalautidak,mungkinbelanjaaninitidakakansampaiselamat sampai tujuan,” ucapnyasambilberbaliktiba-tiba.Wajahnyaterlihatmengejekku.

Kurasakanwajahkumemanas. Oh tidak, matanya yang terkenaltajamdiantaracewek-cewekitubenar-benarmembuatkugugupsetiap bertemu dengannya. Kalauakuseringditatapnya sepertiitu, sepertinyaakubakallebihkelimpungan.

“Mirae-ah, gwenchana?” kurasakanseseorangmenepukbahukudaribelakang.

Akuterlonjakkaget, ternyata Kai oppa yang memanggilkudanterlihatcemas, “Ah, oppa.Gwenchanayo,” katakusambiltersenyum.

Selama 3 minggujugalah, akusemakindekatdengan Kai oppa.Perhatiannyabenar-benarmembuatkusenang.Tapibayangandiamenganggapkusebagaidongsaengtetapmembayangiku, membuatkubergidikngeri.Akutidakmaudianggapdongsaeng!

Terusmaudianggapapakau? Kata hatiku, pacar?Yang benarsaja, memangnyakaupantasmenjadipacarnya?

“Pantaslah!”

“Pantasapanya, Mirae-ah?” Chanyeoloppamenatapku bingung sambilmengambil air minumditanganku.

Wajahkumemerah, “ E-eh, nggakkok.”

Takkukira Kai oppamasihdisebelahku, “Kokmalahbengongsih?”

Akumenyengir, “Mianhe, oppa.Kayaknyaaku mulai mengantuknih.”

Karenasekarang jam 9 malam, danakusedangberada di dalamlapangan outdoor, angin yang lewatmembuatkukedinginansekaligusmengantuk. Sepulangsekolahakulangsungdiseretpara member daridalamkelaskumenuju dorm mereka.Akumalusekalisewaktumerekamenungguku, siswa yang lain menatapkudenganiri. Oh ya, karenakasihanmelihatkumondar-mandirsendiriansepertianakhilang, Jiyoungjadiikutmenemanikudanmembantuku. KulihatJiyoungsekarangsedangmenyemangatiBaekhyunoppa.

Tidaksadarakumenguap.Lalutiba-tibakurasakanjaketmenyentuhsekitarbahuku.Ternyata Kai oppamenyelimutikudenganjaketnya.Setelahmenyelimutiku, Kai oppadudukdisebelahkulagi, lalutersenyum.

“Badanmumenggigil.Kaumaupulang?” tanyanya.

Akumenggeleng, “Nantisaja,” akuinginbersamamusepertiini.

Kai oppamenghelanafassambilmenatappara member yang sedangasyiklatihan, “Gakerasaseminggulagipertandingannyaya,” katanyamelamun.

“Oppagugup?” tanyakupolos.

Kai oppamengangguksambilmenyengir, aigoolucunyaaaa, “Hehe, begitulah,” ucapnyasambalgaruk-garukkepala, “akumerasaakumasihbelumsiap. Belum lagi setelah itu aku debut.”

Denganmengumpulkankeberanianku, akumenepukbahunya, “Tenanglah, oppa.Dalamsebulaninioppasudahberlatihkeraskan? Kulihatoppasemakinmahirkok.”

“Hmm,” gumamnyasambilmenatapku, membuatkupanasdingin, “Kalaukautidakadabersamakuselamasebulanini, mungkinakutidakakanberlatihkeras.”

Wah, apanihmaksudnya? Apaakuadalahmotivasidari Kai oppa? Terus demi akuoppaberlatihkeras?

“Maksudnya?” tanyakukebingungan.

“Mirae-aaah!” tiba-tibaseseorangmemelukkudaribelakang.Akulangsungterlonjakkaget, kulirikkebelakang.Aish! Ternyata Tao yang denganseenaknyamemelukku.

Akulangsungmeronta-ronta, “Ya!Lepaskanakusekarangjuga!”

“Sedangngomonginapasih?Kokseriusbanget?Hmmm?” tanyanyatidaktahumalu, wajahnyamenempelkewajahku.Membuatdadakusakitkarenadebaranjantungku yang keras.

Kai oppaterlihattidaksenang, “Kauinikenapasih?SenangbangetmenggangguMirae?Lihatdia, mukanyalangsungcemberutbegitu.”

Tao langsungmenolehdanmengamatiwajahku, kebiasaannya yang sukamengamatiwajah orang membuatkumakindeg-degan.Tapisetelahmelihatmuka Kai oppa yang tidaksenangakulangsungpanik, “Tao!Lepasinga?” ucapkukembalimeronta-ronta.

“Kenapa?”Tao tidakpedulidengan kata-kataku, malah menjawab pertanyaan Kai oppa, “karenaakumenyukainya,” jawabnyakalemsambildudukdisebelahku, lalusekarangmerangkulku.

Aku yang terlalu shock mendengarpernyataan Tao, hanyaterdiamsambilmelototkearah Kai oppa.Benar-benarkurangajarsi Tao ini!

SeketikaKai oppaberdiri, “Ah, ada-ada saja kau. Cepatlah berdiri, aku ingin latihan sekali lagi,” lalu dengan santai Kai oppa meninggalkanku dengan Tao.

Aku menatap punggung Kai oppa yang menjauh dengan sedih, tidak pedulikah dia dengan pernyataan terang-terangannya Tao ini terhadapku? Kalau dia menyukaiku seharusnya tadi dia marah karena perkataan Tao dan langsung merebutku dari pelukan Tao ini.

“Sudah lah lupakan saja Kai, kan masih ada aku,” dengan santainya dia berkata seperti itu! Benar-benar kurang ajar dia.

Aku mendelik marah, “Kalau kau berani berkata seperti tadi, aku tidak akan memaafkanmu! Bercandamu benar-benar keterlaluan tahu!” kataku sambil menyentak tangannya dari bahuku.

Tao cemberut, “Bercanda? Aku ngomong yang sebenarnya Mirae,” katanya sambil mencubit pipi kanan dan kiriku, “memangnya kenapa kau menganggapku tidak serius?”

Aku membuang muka padanya, “Terserah deh katamu apa. Sekarang pergi latihan sana, sebelum Kai oppa marah padamu.”

Wajah Tao tersenyum, “Kalau marah bagus kan?” katanya sambil berlalu setelah mengacak rambutku.

Maksudnya apa coba?

***

“Rumahmu terlihat sepi,” Kai oppa bergumam sambil memandang rumahku yang gelap.

Aku mengangkat bahuku, “Palingan ortuku sudah tidur.”

Kai oppa mengangguk, lalu dia menoleh kearahku, “Besok mau kemana?” ucapnya tiba-tiba.

Wajahku memanas. Karena sebentar lagi pertandingan basket diselenggarakan, dan bandnya Kai oppa juga akan memulai debutnya, seminggu ini latihan diberhentikan. Katanya sih biar lebih rileks pas hari H-nya.

Jadi lah aku tidak punya kerjaan lagi, karena selama ini aku mengintili Kaioppa dan para member kemana-mana setelah pulang sekolah, dan kadang-kadang hari minggu pun aku dipanggil untuk menemani mereka. Benar-benar deh ya, memangnya aku relawan yang sedia setiap saat? Tapi selama disitu ada Kai oppa, aku rela menjadi apapun deh!

“Di rumah mungkin. Kalau oppa?” tanyaku sambil menoleh kearah Kai oppa.

Kulihat Kai oppa tersenyum hangat, “Bagaimana kalau besok kuajak kau jalan?”

Mataku seketika membesar, “Benarkah?! Kemana?” tanyaku antusias.

Kai oppa tertawa, “Rahasia,” katanya sambil memegang wajahku, “Mimpi indah ya. Sampai ketemu besok.”

DEG! Wajahnya sekarang berada sangat dekat kearahku, seakan-akan dia akan mencium bibirku. Aku langsung panas dingin membayangkan Kai oppa menyiumku. Hwaaa bagaimana ini? Tubuhku kaku karenanya.

Tapi ternyata Kai oppa langsung menjauh sambil menepuk kepalaku pelan, “Cepatlah masuk. Sudah malam.”

Tubuhku yang masih kaku ini tidak mampu menjawab omongannya, jadi aku hanya mengangguk dan langsung membuka pintu mobilnya.

Setelah aku membuka pagar, mobil Kai oppa langsung menjauh dan memasuki rumahnya. Aku masih menatap rumahnya sampai di pintu rumahku, dadaku masih bergemuruh karena tindakannya tadi. Ya tuhan, Kai oppa tidak pernah menyentuhku dan begitu dekat dengan pandangan seperti itu! Apa ini disbut kemajuan? Kalau iya, terima kasih Tuhan!

Dengan langkah semnagat aku langsung memasuki kamarku, dan tidak sabar menanti jalan bersama Kai oppa besok.

***

“Gimana es krimnya? Katanya disini es krim rasa anggurnya enak banget lho,” tanyanya sambil menoleh kearahku. Tangannya memegang es krim rasa cokelat.

Aku mengangguk senang, “Lezat dan dingin sekali!”

Kai oppa tertawa, “Es krim memang dingin kali,” ucapnya sambil merhong kearahku.

Wajahku memanas, lalu langsung membalas mehrongnya, “Biarin,” kataku sambil tertawa.

Senangnya hari ini! Kai oppa ternyata mengajakku berkeliling Seoul untuk berburu makanan enak. Dengan berbekal rekomendasi teman-teman EXO dan internet, kami berburu makanan sana-sini. Mulai doebokki yang terkenal unik bentuknya dan lezat sekali, sampai restoran mahal sekitar Namsan Tower. Sekarang kami berada di dalam taman di sekitar Namsan Tower. Dengan es krim di tangan, kami duduk di bangku taman. Terlihat lumayan ramai, karena hari ini hari Minggu jadi banyak anak-anak yang bermain di sekitar danau buatan, dan banyak juga pasangan yang duduk-duduk dikejauhan. Mengingat kata pasangan membuatku panas dingin. Kalau orang-orang yang sedang melihat kami sekarang mungkin menganggap kami sedang berpacaran.

“Mirae, ada apa? Kok senyum-senyum sendiri?” tiba-tiba Kai oppa membuyarkan lamunanku.

Aku langsung tergagap, “E-eh, nggak kok. Aku hanya senang dengan pemandangan disini.”

Kai oppa mengangguk sambil menjilati eskrimnya dia menoleh kearah danau buatan, “Sore-sore begini memang pemandangannya bagus sekali.”

Pemandangan begini, dengan Kai oppa disampingku, benar-benar hari yang sempurna!

“Ngomong-ngomong,” kata Kai oppa sambil membuang sampahnya di tempat sampah, “kau dan Tao pacaran ya?”

Aku langsung menoleh, “Apaan sih? Kok Kai oppa berkata seperti itu? Nggak kok! Mendengar namanya saja aku kesal,” kataku sambil menggelengkan kepala dengan cepat.

Kai oppa tersenyum hangat, “Syukurlah, kukira pernyataan Tao hyung malam tadi membuatmu senang.”

Aku mengernyitkan dahi dan cemberut, “Senang? Apanya yang senang! Sudahlah, aku jadi sebal kan,” sifatku yang moody ini memang menyusahkanku.

“Ah, ya sudah kita bahas yang lain saja,” katanya sambil menatapku cemas.

Dari 3 minggu ini aku ingin sekali mengatakan ini, tapi aku tidak berani karena malu. Tapi karena situasinya memungkinkan, mungkin aku akan mengatakannya sekarang.

“Oppa,” panggilku.

“Hmmm?” Kai oppa menoleh.

Aku menunduk karena malu, “Aku… aku senang sekarang oppa lebih terbuka padaku.”

Kepalaku merasakan tangannya yang hangat memegang puncak kepalaku, “Aku juga senang karena sekarang aku lebih sering melihatmu di dekatku. Aku jadi ingat sewaktu di UKS, kau bilang kita jadi saling sibuk. Tapi sekarang kau terus di dekatku. Memangnya tidak apa-apa?”

Wajahku memanas mengingat saat itu, “Eerr, kan sudah kubilang, wakilku sekarang yang menggantikanku.”

Kai oppa mengangguk, “Maaf ya selama 3 minggu ini aku menyusahkanmu. Mungkin mengurusin kami lebih capekketimbang mengurusi klub inggris ya? Tapi teman-temanku sangat menyukaimu, kau tahu. Mereka jarang dekat dengan perempuan seperti mereka dekat denganmu.”

Aku tertawa, “Aku juga menyukai mereka. Mereka sangat menyenangkan,” kataku sambil tersenyum, “apa… oppa senang karena oppa menyukaiku?”

Kulirik Kai oppa yang tiba-tiba terdiam karena ucapan frontalku, tapi aku benar-benar ingin tahu jawabannya.

“Err, Mirae-ah, aku…”

Seketika HP Kai oppa berdering, ternyata telepon.

“Dari Chanyeol,” ucapnya sambil berdiri menjauhiku.

Setelah menelepon, Kai oppa mendekatiku dengan wajah menyesal, “Sepertinya aku harus mengantarmu pulang, Mirae. Tadi Sehun menyuruhku untuk segera ke dorm karena ada rapat.”

Dengan perasaan kecewa aku mengangguk pelan, aku mencoba tersenyum, “Ya sudah yuk pulang.” Ucapku sambil berdiri.

Kai oppa tetap memperlihatkan wajah sesalnya, “Maafkan aku, Mirae.”

“Untuk apa memangnya? Yuk ah nanti kita dimarahin sama Chanyeol lagi.”

Aku memang berusaha untuk tersenyum dan membuat suaraku terdengar biasa, aku terlalu takut dan malu dengan jawaban yang akan Kai oppa jawab jika tidak diselamatkan oleh telepon dari Chanyeol oppa.

***

“Asiiik, cuman dikasih tugas!” jerit Jiyoung senang dari pintu kelas lalu langsung duduk di sebelahku.

Aku mengangguk, “Lebih baik kita kerjakan sekarang, yuk.”

Jiyoung mengangkat satu alisnya, “Kukira kau akan menceritakan acara kemarin.”

“Hmmm, begitulah. Biasa aja kok,” ucapku sambil mengangkat bahu. Tapi wajahku tersenyum lebar mengingat kejadian kemarin.

“Bohong!” senggol Jiyoung sambil cemberut, “aku ingin cerita lengkap!”

Lalu berceritalah aku tentang acaraku kemarin dengan Kai oppa. Aku memang senang sekali oppa sudah terbuka denganku dan lebih perhatian seperti dulu lagi. Dan kuceritakan sewaktu kejadian aku menanyakan Kai oppa apa dia menyukaiku dan dipotong dengan bunyi teleponnya.

“Ah!” Jiyoung mendesah kesal, “Kau tuh ya, selalu nyaris! Seharusnya sekarang kau sudah jadian dengannya kalau telepon sialan itu tidak berbunyi!”

Aku melotot padanya, “Ga mungkin.”

“Berani sumpah Kai oppa sebenarnya suka padamu, cumaaan,” ucapnya sambil mengangkat bahu, “dia tidak menyadarinya saja.”

“Entahlah, Jiyoung,” kataku lemas, “aku masih merasakan dia hanya menganggapku sebagai ‘dongsaeng’nya.”

Jiyoung menepuk bahuku tanda bersimpati, “Fighting! Aku yakin sehabis mereka debut dan bertanding basket, kau dan Kai oppa bakal jadian!”

Mau tidak mau aku tertawa melihat Jiyoung mengepalkan tangannya dan melotot penuh semangat, “Terima kasih sudah menyemangatiku.”

“Mirae-ah! Dicariin tuh!” salah satu anak di kelasku tiba-tiba memanggilku.

“Siapa?” tanyaku sambil mencari-cari.

“Kamii!” tiba- tiba dua kepala muncul dari pintu. Ternyata Kris dan Xiu Min oppa.

Aku tersenyum melihat mereka, “Ke dalam saja, oppa!”

Lalu Kris dan Xiu Min oppa berjalan menuju bangkuku dan Jiyoung,teman-teman sekelas seketika mengamati mereka. Ada yang terbengong-bengong, ada yang menjerit kesenangan, heboh deh pokoknya.

“Hey, ke kantin yuk?” ajak Kris oppa sambil menarik tanganku.

“Ga bisa oppa. Aku lagi ngerjain tugas nih.” Ucapku sambil cemberut.

Xiu Min oppa duduk di mejaku, “Udah lah kan bisa ngerjain pas istirahat. Kangen nih kita, sehari ga diurusin kamu gimanaaaa gitu,” Lay oppa menggeleng-geleng sedih

Aku tertawa melihatnya, “Istirahat aku ke lapangan deh, sekarang aku mau ngerjain tugas dulu.”

Jiyoung membela mereka, “Ikut aja ih! Ntar ketemu Kai oppa lho,” godanya sambil mengedipkan mata.

Kris oppa mengangguk, “Ayo buruan. Atau mau kita seret lagi kayak kemarin-kemarin? Nanti tanganmu merah lagi lho.”

“Atau mau digotong sama kita? Tinggal pilih!” celetuk Xiu Min oppa disambung tawanya Kris oppa.

Mau tak mau aku tertawa sambil meninju pelan Xiu Min oppa, “Apaan sih kalian tuh ya! Ya udah yuk. Aku juga kangen kalian,” ucapku sambil berdiri, “Kau ikut?” tanyaku pada Jiyoung.

Jiyoung menggeleng, “Aku nitip salam sama Baekhyun oppa aja deh.”

Sejak menemaniku mengurus mereka, Jiyoung dan Baekhyun oppa menjadi dekat. Aku curiga sebentar lagi mereka jadian, kalau sampai jadian aku sangat senang karenanya.

Lalu kami pun meninggalkan kelasku, Xiu Min oppa ternyata sangat humoris. Sepanjang jalan menuju kantin dia selalu bercerita yang lucu-lucu, sampai sakit perut aku dibuatnya.

Sampai ke kantin, aku mengernyitkan dahi, “Kok sepi?”

Tak jauh dari pintu kantin, duduklah sesosok cowok membelakangi kami di meja makan yang sepi dari siswa. Dari potongan rambut dan postur tubuhnya aku langsung mengetahui siapa dia.

“Tao! Kita udah nyulik dia nih,” Xiu Min oppa menarik tanganku untuk mendekat kepada Tao.

Aku meronta panik, “Oppa lepasin! Mana yang lain?!”

Kris oppa terlihat menyesal, “Sebenarnya kami disuruh Tao untuk memanggilmu kesini. Hanya kami, tidak ada yang lain.”

“Mwo?! Aku mau ke kelas!” kataku masih meronta.

Sebuah tangan langsung menarikku, badanku otomatis tersentak kearah tarikkan itu. Aku langsung menubruk badan Tao karena tangan Tao lah yang menarikku.

“Temenin aku sebentar ya,” katanya sambil tersenyum manis. Membuatku takut karena kemanisannya. Biasanya orang kayak gini lebih nakutin kalau lagi manis-manis gini!

Daripada bergulat sama 3 cowo ini, tidak ada pilihan lain, aku langsung duduk di seberang Tao. Xiu Min oppa dan Kris oppa langsung meninggalkan kantin setelah Tao mengucapkan terimakasih pada mereka.

“Ada apa sih? Nggak usah basa-basi ya karena aku males berbasa-basi denganmu!” ucapku ketus.

Tao mengangguk, “Bagus karena aku juga maunya to the point.”

Badanku langsung membeku. Belum pernah aku melihatnya seseram ini. Matanya yang memang sudah menyeramkan sekarang seperti siap menusukku tanpa ampun. Tapi tetap saja wajahnya membuatku berdebar semakin kuat dari hari ke hari.

Alisku terangkat satu, “Ya udah mau apa kamu nyeret aku kesini?”

“Ngapain aja kamu sama Kai kemarin?” kata Tao spontan. Gila, benar-benar to the point!

“G-gak ngapa-ngapain kok. Ka-kalau ngapa-ngapain juga bukan urusanmu, kan?” kataku terbata-bata, perasaanku seperti sedang diinterogasi olehnya sekarang!

Badan Tao mencondong ke depan, membuatku menjauh, “Tentu itu urusanku,” ucapnya datar.

“Ngapain juga kamu ngurus-ngurus aku? Aku kan bukan pacarmu atau pembantumu!” kataku sewot.

Seketika tubuhnya kembali menegak, “Karena kau urusanku, ga denger ya?” bentaknya.

Aku tersentak kaget, gila, baru kali ini aku mendengar bentakannya. Tao yang biasanya jail dan genit sekarang berubah menjadi kejam dan menakutkan.

“Kasih alasan kepadaku kenapa kau menganggap aku urusanmu,” kataku memancingnya.

Aku sih bisa menduganya, pasti dia bakal ngomong, “Karena aku menyukaimu,” dan sebagainya. Tapi sepertinya dia ga bakal ngomong separah itu deh.

Setelah terdiam cukup lama, dia berkata, “Kau kan yeojaku.”

Aku melotot selebar-lebarnya. Berani sekali dia menclaim seperti itu! “Heh! Aku bukan yeojamu! Kau sudah gila apa?!”

Tao mengangkat satu alisnya, “Jadi kau yeojanya Kai?”

Wajahaku langsung kebingungan, “Mmm bukan juga,” ucapku pelan.

“Nah,” katanya sambil mencondongkan tubuhnya lagi, satu tangannya menopang wajahnya, “selama kau belum menjadi yeoja siapapun, kau yeojaku. Oke?” satu tangan yang lain menepuk kepalaku lembut.

Aku hanya bisa berpasrah. Kayaknya aku hanya bisa mengiyakan saja deh, daripada aku tidak berbentuk keluar kantin, dumalku dalam hati.

“Makan yuk, aku lapar nih,” tiba-tiba Tao bediri.

Aku menggelengkan kepala, lalu ikut berdiri siap-siap berjalan keluar, “Aku ke kelas aja.”

Tangannya menahan lenganku, “Setidaknya temani aku makan.”

“Nggak! Aku mau ke kelas!” kataku ngotot.

Tangannya yang menahanku seketika menarikku kasar, aku langsung jatuh di badannya. Lalu tangannya tidak menahan lenganku lagi, sebagai gantinya dia memelukku erat.

Badanku langsung lemas dan aku tidak bisa bepikir lagi, badannya sangat hangat dan pas memelukku. Belum pernah aku dipeluk seorang cowok, Kai oppa saja tidak pernah memelukku seerat ini. Dia memelukku pada saat aku ketakutan atau diganggu cowok, itu juga sewaktu smp.

“Ya! Lepasin ga?!” pikiran warasku kembali lagi. Tubuhku meronta-ronta keras.

Tao tetap tidak bergeming, dengan santai dia menaikkan satu alisnya, “Aku akan melepaskanmu jika kau setuju untuk menemaniku, kalau tidak mau, yaaah mungkin sampai bel istirahat berbunyi kita bakal masih begini.”

Mataku melotot panik, “Kau tidak akan berani!”

Wajahnya mendekati wajahku, seperti mau menciumku. Wajahku panas tak keruan, “Oh, nantang ya?”

Kepalaku refleks menggeleng keras-keras.

“Bagus, jadi kita sepakat kau akan menemaniku seharian ini.” Ucap Tao sambil melepaskanku, tapi satu tangannya masih merangkul pinggangku.

“Eh, apaan?! Kau kan memintaku hanya untuk menemanni makan,” kataku sambil memukul badannya.

Tao terlihat berpikir, “Setelah kupikir lebih baik kau menemaniku seharian saja. Lagipula kau tidak ada kerjaan kan? Atau,” matanya menyipit, “kau sudah janjian sama Kai?”

Andai saja omongannya benar, tapi kenyataannya tidak. Jadi kugelengkan kepalaku.

Tawa Tao membuatku sebal, lalu sambil menarik tanganku untuk kembali duduk dia berkata, “Baiklah, karena aku suntuk di dorm, lebih baik kita pergi ke tempat yang jauh! Bagaimana?”

“Kau mau menculikku?” tanyakku sebal.

Tao terkekeh, “Aku mau menculik hatimu.”

Wajahku langsung mengernyit. Rese amat jadi orang, sedetik nyeremin, sedetik ngegombal!

“Ah, beneran deh ini perut udah demo. Aku pesen dulu ya! Jangan kemana-mana, oke?” katanya tajam sambil meninggalkanku.

Aku mendengus sebal, kalaupun aku pergi juga pasti aku akan diseret lagi olehnya. Jadi daripada mengambil jalan kekerasan lebih baik aku menuruti saja kata-katanya, hanya untuk hari ini ya!

***

TBC

Note : mohon komentar dan kritikannya ya chingu ^^ mianhae kalau gajelas, lagi dalam keadaan moody nih author pas bikin FF ini -.- sekali lagi maaaaaf *bowing *ngilang dibawa Kai

Iklan

28 pemikiran pada “That Yeoja is Mine (Chapter 3)

    • maaf soalnya ini salah kompienya huhuhu
      saya nulisnya gonta ganti kompie jadi begini deh hiksss
      mudah2an chapter sesudahnya lebih bagus deh *AMIN!

  1. gomawo chinguyaaa ^^ yang ga ada spasinya itu kesalahan kompienya soalnya saya gonta ganti kompie pas bikin ff ini sama ff yang satu lagi jadi gatau gimana jadi ga ada spasinya dibagian tertentu *nangis dipelukan Kai
    jadi maaf ya jadi susah bacanya hiksss, mudah2an chapter selanjutnya FF ini lebih bagus dari sebelumnya *AMIN! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s