Den (Chapter 3)

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [Author] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO]; Byun Baekhyun [EXO]

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO] ; find it.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chapter

Rating              : PG15

Fanfict             :

Taraaa ~~~ Chapter 3 hadir di sini ^^ Semoga menghibur J. Mianee kalau ini membosankan, membingungkan, dll. Gomawo J yang sebelumnya udah comment ^^

Chapter 2

“Omo!” pekikku.

Aku terlonjak kaget, seseorang sudah berada tepat di depanku, tatapannya begitu tajam namun terlihat lelah. Kenapa namja ini disini?

-TBC-

Chapter 3

                ~Hyosung’s Point Of View~

Yang benar saja, Jongin sekarang sudah berdiri di hadapanku. Matanya terlihat begitu lelah, ada kantung hitam di bawah matanya, tatapannya kosong dan sayu. Jongin, kenapa lagi dia?

“Kau tidak apa? Apa kau tidak lapar? Apa kau tidak haus? Apakah kau baik-baik saja?” sederet pertanyaan dia ajukan kepadaku.

Aku hanya menggeleng pelan sambil menunduk. Dia memegang kedua pipiku dan mengangkat kepalaku agar bisa melihatnya. Sontak aku berusaha melepaskan tangan Jongin, aku teringat kejadian yang ‘waktu itu’.

“Sungie,” ucapnya lirih.

Aku hanya diam saja dan kembali menunduk, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Jongin. Hingga aku merasa aku sudah berada di dekapan seseorang, atau yang lebih tepatnya di pelukan Jongin. Dia memelukku erat, aku hanya diam dan tidak berusaha menolak atau melepaskan diri darinya. Perasaan itu datang lagi, jantungku lagi-lagi berdetak cepat, nafasku tercekat. Perasaan apa ini? Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya.

“Sungie, aku  mengkhawatirkanmu,” ucapnya lembut.

Jongin memelukku semakin erat, dan itu sukses membuat jantungku semakin bertedak tak karuan. Aku hanya diam. Aku merasa nyaman. Nyaman di pelukan seorang Oppa.

                3 hari terkahir, terasa sangat canggung bagiku. Bagaimana tidak? Setelah kejadian itu aku menjaga jarak dan memilih diam. Meskipun diam itu sendiri adalah kebiasaanku, namun kali ini terasa berbeda, karena kau melakukannya untuk menjauhi seseorang, yaitu Jongin.

Sejam yang lalu, Baekhyun datang ke rumahku. Jongin sudah pergi lagi dan entah kemana. Baekhyun mengajakku jalan-jalan, dan akhirnya aku disini, di salah satu kedai Pojangmacha atau street food tempat pedangang kaki lima berada. Aku dan Baekhyun berada dalam sebuah kedai yang menjual Tteokbokki.

“Bagaimana rasanya?” tanya Baekhyun.

“Hmm, mashitta,” aku menjawabnya datar.

Baekhyun hanya menganguk pelan. Aku sebenarnya menikmati jalan-jalanku dengan Baekhyun. Namun, entah kenapa hatiku tidak tenang, ada sesuatu yang mengganjal hatiku, aku sendiri tidak tahu itu apa. Aku sadar kalau Baekhyun sedikit risih dengan sikapku yang terkesan dingin dan biasa.

“Hyosung-ah. Boleh aku tanya sesuatu?” tanyanya.

“Ne, apa itu?”

“Sebenarnya,” dia menggantungkan kalimatnya, “kenapa kau mengurung diri di kamarmu? Apakah kau sedang bertengkar dengan Oppamu?”

“Hmm, seperti itulah.”

“Oppamu, dia tidak beranjak sama sekali dari depan pintumu, mungkin dia menunggumu keluar kamar, wajahnya tampak pucat.” Baekhyun menceritakan apa yang dia ketahui sambil memakan Tteokbokkinya.

Baekhyun terlihat menerawang sambil mengingat-ingat. “Aku tidak menyangka kalau dia seperhatian itu, padahal waktu itu dia menyakitimu. Dari penampilannya saja, dia sudah seperti namja berandalan, apakah kau tahan dengan Oppa seperti dia?”

Aku terdiam. Baekhyun, dia tidak mengetahui semuanya, dia tidak mengetahui bagaimana kondisi keluarga kami. Jongin memang seperti itu, tampak beradalan, kasar, dan semacamnya. Namun, dia juga perhatian, ya, dia perhatian. Dia berubah menjadi namja yang baik dengan perlahan. Kalau saja dia masih seperti dulu, mungkin aku sudah memikirkan untuk kabur dari rumah dan hidup sendiri daripada bersamanya. Sekarang? Mungkin aku akan berpikir 2 kali.

“Aku tidak apa, meskipun dia seperti itu, aku tidak apa-apa,” ucapku lesu.

“Tenang saja, aku ada disini,” ucap Baekhyun tulus.

Baekhyun benar-benar tulus, aku tahu ini karena perasaan tertariknya padaku, namun sayang aku tidak bisa membalas itu, aku dan dia baru saling kenal, sangat tidak mungkin kalau aku ada rasa dengannya.

“Ne. Gomawo, Baekhyun Oppa,” ucapku sembari tersenyum kecil ke arahnya.

“Akhirnya kau tersenyum juga, sedari tadi wajahmu selalu murung.” Baekhyun terlihat sangat girang.

Benarkah? Mungkin iya. Aku hanya membalas ucapan Baekhyun dengan senyuman.

“Eumm, Hyosung-ah, ada yang ingin aku bicarakan,” ucapnya serius.

“Ne, apa itu?”

“Sebenarnya, aku ada rencana sekolah di Jepang, mau tidak mau aku harus kesana, aku sudah susah payah untuk mengambil beasiswa disana, jadi,” Baekhyun terlihat ragu, “hari ini aku juga mau berpamitan denganmu,” ucapnya dengan air muka yang cemas.

Aku menatapnya dengan membelakkan mataku. Pergi? Dia akan pergi?

“Hmm, begitu. Baiklah, hati-hati disana, jaga kesehatanmu, belajar yang rajin, semoga kau sukses,” ucapku mendukungnya.

“Tapi, ada yang membuatku ragu untuk berangkat,” ucapnya.

“Apa itu?”

“Aku takut aku tidak bisa menjagamu, ya.. kau tahu ‘kan Oppamu seperti apa. Kalau saja aku tidak ke rumahmu kemarin lalu, apa yang akan terjadi? Aku takut sesuatu terjadi padamu.” Baekhyun terlihat cemas.

Aku mengehela nafas. Memang benar, Baekhyun yang membuatnya selamat dari perilaku Oppanya. Kalau Baekhyun pergi, aku bagaimana? Tidak akan ada orang yang mau perhatian lagi, tidak akan ada orang yang membuatku merasa senang, tidak ada yang melindungiku dari perbuatan Jongin sewaktu-waktu. Ah, Hyosung tidak boleh seperti ini, kau tidak boleh bergantung pada orang lain.

Dengan wajah yang berseri aku tersenyum padanya, “Gwenchana, aku akan baik-baik saja, kalau ada apa-apa, aku bisa menghubungimu ‘kan?” ucapku mantap.

Baekhyun tersenyum manis dan mengannguk padaku. Entah, apa yang akan terjadi kedepannya kalau Baekhyun tidak ada. Sudahlah.

                ~Auntor’s Point Of View~

2 days later.

                “Baekhyun-ah, hati-hati disana ya?” ucap Hyosung sambil tersenyum ke arahnya.

“Seharusnya aku yang bilang seperti itu, kau harus berhati-hati pada Oppamu itu, kalau dia menyakitimu, hubungi aku, aku akan cepat pulang.” Baekhyun menceramahi Hyosung.

“Tapi kurasa dia sudah berubah perlahan,” ucap Hyosung menerawang.

“Aku bisa melihat itu,” Baekhyun menyahut bergumam.

“Sudahlah, tidak perlu mengkhawatirkan aku Baekki-ah. Pergilah,” Hyosung sedikit merndorong bahu Baekhyun.

“Baiklah, ingat pesan-pesanku.” Baekhyun mendekatkan diri kepada Hyosung.

Hyosung merasa ada yang aneh dari tatapan Baekhyun, Hyosung hanya terdiam. Baekhyun semakin mendekat ke arah Hyosung, tak butuh waktu lama bibir hangat Baekhyun sudah mendarat di kening Hyosung.

“Aku masih menyukaimu. Jaga dirimu.” Baekhyun pergi dari hadapan Hyosung perlahan dan segera naik lift untuk pergi ke Waiting Room.

Hyosung menganguk kecil dan menyentuh keningnya. Hyosung merasakan hal yang biasa saja ketika Baekhyun mencium keningnya, dia tidak merasa hal aneh. Hyosung tidak merasakan hal yang sama ketika Jongin menciumnya atau memeluknya. Jujur saja, Hyosung lebih suka sentuhan Jongin –Oppanya.

                Hyosung membuka pintu rumahnya dengan sedikit lesu. Sepanjang jalan menuju rumah, dia tak henti-hentinya merutuki perasaannya yang sedang kalut tak karuan.

“Ya, Sungie-ya! Kau darimana saja? Pulang malam seperti ini?” Jongin sudah bertengger di ruang tamu rumahnya.

Hyosung mengerutkan keningnya, dia melirik jam dinding, masih jam 8 malam. Apakah itu sudah terlalu malam? Kenapa Jongin marah? Bukankah biasanya Jongin juga pulang malam, lebih malam pula?

“Ya! Terserahku pulang jam berapa,” Hyosung mendengus kesal.

“Tapi kau seorang yeoja, tak baik pulang malam seperti ini,” ucap Jongin yang rupanya juga sedikit kesal.

“Lalu apa urusanmu? Apakah dengan aku pulang malam akan merugikanmu, ha?” tanya Hyosung kesal dan berlalu meninggalkan Jongin.

Didengarnya suara Jongin yang memanggil namanya untuk berhenti dan mendengarkan ocehan Jongin. Namun, Hyosung malah berlari menuju kamarnya dan menutup pintu keras-keras. Tidak menggubris panggilan Oppanya.

                Hyosung sendirian di rumah, tidak ada aktifitas lagi. Dia tidak sekolah, dia tidak pergi jalan-jalan, Baekhyun sudah di Jepang, tidak ada orang yang bersamanya lagi sekarang.

Kring!

                Telpon rumah kediaman Kim berbunyi. Hyosung dengan cepat mengangkat telpon itu.

“Yoboseyo?”

“Dimana Jongin?” sebuah suara asing bertanya keberadaan Jongin.

“Nan mollayo. Nuguseyo?”

“Nuguseyo?” suara itu malah bertanya balik.

“Naneun Kim Hyosung,”

“Kau Kim Hyosung?”

“Ne?”

“Rupanya calon istriku yang mengangkat telpon ini, baiklah, sampaikan pada Oppamu kalau aku menelpon,”

“Ya! Nugu-.” Hyosung mendecak kesal, telponnya sudah terputus.

Tunggu! Calon istri? Ha? Pasti itu tadi hanya orang gila.

“Sungie-ya! Aku pulang,” seru seseorang dari pintu depan, siapa lagi kalau bukan Jongin?

Hyosung yang tengah berada di dapur terlonjak kaget mendengar suara Jongin. Seketika saja, Hyosung merasa takut bertemu dengan Jongin, dia masih canggung dengan Jongin, dan ia tak mau suasana itu.

Hyosung berlari menuju ke arah tangga meninggalkan Jus yang baru saja ia buat begitu saja. Dia hendak ke kamarnya supaya dia tidak bertemu dengan Jongin. Naas, Hyosung tidak memperhatikan langkahnya sehingga ia tersandung salah satu anak tangga.

“Aww,” rintihnya cukup keras dengan posisi terjatuh.

“Sungie?” pekik Jongin dan langsung menghampiri asal suara Hyosung.

Jongin membulatkan matanya sempurna melihat Hyosung yang tengah merintih kesakitan sambil memegang kaki kanannya. Dia menghampiri Hyosung dengan wajah panik.

“Kau kenapa? Jatuh? Mana yang sakit? Kenapa bisa jatuh? Kau buru-buru? Kenapa buru-buru?” Jongin menanyai Hyosung bertubi-tubi.

Hyosung hanya merintih dan tidak menghiraukan pertanyaan Jongin. Jongin jongkok dan mengangkat kaki kanan Hyosung  ke atas pahanya, memeriksa kaki Hyosung yang sakit itu. Jongin mengelus kaki Hyosung lembut, kemudian memelintirnya.

“Ya!!!!” teriak Hyosung kesakitan.

“Ini sepertinya terkilir,” ucap Jongin masih terus mengelus kaki Hyosung.

“Aigo, sakit,” keluh Hyosung.

Tanpa basa-basi, Jongin menggendong Hyosung. Awalnya, Hyosung meronta karena kaget atas perilaku Jongin, namun Jongin berisi keras untuk menggendongnya. Jongin menaiki tangga sambil menggendong Hyosung ala bridal. Hyosung menatap leher jenjang Jongin yang bisa dilihatnya sangat dekat itu. Jantung Hyosung sudah bertedak tak karuan lagi, dia sebisa mungkin menahan nafasnya yang menderu tak karuan itu. Sesekali hembusan nafas Hyosung yang berat terdengar oleh mereka berdua.

“Sungie, kau kenapa? Sesak? Kau sakit?” Jongin mempercepat langkahnya menuju kamar Hyosung dengan perasaan khawatir.

“Ani, ani.” Hanya itu yang bisa diucapkan Hyosung.

“Sebentar lagi, aku akan panggil dokter, kau tampak pucat,” ucap Jongin.

                “Jongin-ssi, adikmu tidak apa-apa. Kakinya hanya terkilir, itu saja,” ucap Dokter panggilan Jongin.

“Tapi, dia tampak pucat, dia terlihat sakit,” ucap Jongin heran.

“Mungkin dia kelelahan, kalau begitu, istirahat dan makan teratur, itu saja sudah cukup,” ucap Dokter itu.

“Ah, ne. Khamsahamnida.” Jongin membungkuk.

Tak lama, Dokter itu sudah pergi meninggalkan kediaman keluarga Kim. Jongin menatap Hyosung lega, ternyata yeodongsaengnya itu tidak apa-apa. Sedangkan Hyosung terus mengerutuki dirinya sendiri, itu bukan karena dia sakit, namun karena jantungnya bertedak tak normal jika dekat dengan Jongin.

“Sungie, kau istirahat saja, aku akan membelikanmu bubur, itu cocok untukmu yang sedang sakit,” ucap Jongin.

“Andwae. Aku tidak sakit, sungguh aku tidak,” Hyosung menolak.

“Tapi, kau begitu pucat tadi.” Jongin mengertukan keningnya.

“Mungkin .. karena efek ketakutanku, aku takut kakiku kenapa-napa.” Hyosung berbohong, bukan itu alasannya.

“Baiklah, aku akan membelikanmu makanan yang lain, mau ‘kan?” tawarnya.

Hyosung hanya menganguk lemah. Langsung saja Jongin keluar dari kamar Hyosung dengan setengah berlari untuk membeli makanan.

                ~Hyosung’s Point Of View~

Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke sekolah. Sudah seminggu lamanya aku tidak sekolah, selain aku masih tidak mau sekolah, kondisi kakiku mendukungku untuk tidak masuk sekolah. Sebenarnya itu hanya terkilir biasa, namun Jongin melarangku untuk pergi ke sekolah, dan dengan senang aku menurutinya karena aku malas untuk pergi ke sekolah.

Hubunganku dengan Jongin juga berlangsung seperti biasanya lagi, tidak secanggung dulu, sudah seperti layaknya adik dan kakak. Meskpiun aku cukup diam dan terkesan tidak peduli terhadapnya, atau mungkin aku memang tidak peduli?

Aku membelokkan langkahku menuju ke sebuah minimarket, aku berniat membeli perlengkapan sekolah, rasanya aku memerlukan barang-barang baru.

“Hyosung-ssi,” panggil seseorang.

Aku menghentikan aktifitasku memilih alat tulis.

“Eh, Jongdae-ssi?” sahutku.

“Ne. Kau sedang belanja? Kau tidak sekolah?” tanyanya.

“Aku berangkat setelah membeli perlengkapan sekolah,” ucapku.

“Oh, begitu. Bagaimana kabarmu? Kakimu sudah tidak apa-apa?” tanyanya.

“Eh?”

“Ne. Syukurlah, sepertinya kondisimu sudah membaik. Aku sempat senang mendengarmu sudah mau keluar kamar,” katanya lagi sambil tersenyum.

“Eh?”

Aku rasa Jongdae ini teman dekat dari Jongin, dia sampai tahu namaku waktu kami pertama bertemu, dia juga tahu kalau aku sempat mengurung diri? Dari siapa tahu kalau bukan dari Jongin?

“Apakah Oppamu sudah berangkat kerja?” tanyanya.

“Kerja? Bukankah dia pergi untuk pergi bersama temanya?” tanyaku heran.

“Teman? Siapa temannya?” kini ia yang balik bertanya.

“Bukankah kau temannya? Pasti kau tahu temannya siapa saja dan kau tahu dia kemana.” Aku berpendapat sambil menatapnya.

“Temannya sekarang itu hanya aku, dia tidak mungkin pergi kemana-mana tanpa sepengetahuanku,” ucapnya.

“Ha?” pekikku, aku semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Jongin?

                Disinilah aku, duduk di sebuah cafe, duduk berhadapan dengan Jongdae. Dia menyeruput minuman yang ia pesan beberapa kali, sedangkan aku hanya terpaku. Aku memutuskan untuk bolos sekolah, karena penasaranku terhadap Jongin, dan aku yakin Jongdae memiliki semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku.

“Dulu, memang ia seperti itu. Suka balap liar, taruhan, dan lainya. Dunianya itu hanyalah dunia malam yang kelam. Aku dulu sering memperingati dia, tapi dia tidak mau mendengarkanku, akhirnya aku memutuskan untuk menyerah. Namun, di saat aku menyerah, dia datang padaku untuk meminta bantuan,” jelasnya panjang.

“Bantuan? Bantuan apa?”

“Dia mencoba menjadi namja yang baik, yang bertanggung jawab, yang tidak seperti dirinya yang dulu,” jelasnya.

“Jelas saja aku tidak bisa membantunya, karena kalau dia ingin seperti itu, dia harus mengubahnya sendiri, aku hanya bisa memberi tahu mana yang seharusnya dia lakukan bukan mengatur semua apa yang ia lakukan.”

“Apakah kau tahu, apa yang membuatnya begitu?” tanyaku cemas.

“Aku sendiri juga tidak tahu. Aku juga menanyakan hal itu, kenapa dia tiba-tiba ingin berubah, dia hanya menjawab bahwa dia harus melakukan itu semua demi semua orang yang ia cintai,” ujar Jongdae sambil menerawang.

“Dulu, dia begitu kasar padaku, namun setelah kematian Appa dia berubah, membuatku bingung dan heran. Sebelumnya hanya ada Appa, orang yang perhatian padaku, dan kini Jongin juga perhatian padaku, dia baik padaku.” Aku tersenyum mengingat perilaku Jongin yang sangat perhatian.

“Dia juga tidak pernah ke klub lagi, dia tidak pernah minum-minum lagi, dia selalu menolak tawaran temannya untuk ikut balap liar lagi, dia tidak melakukan itu semua. Dia juga memutuskan untuk bekerja, bekerja untuk membiayai hidup kalian, dia menjadi seseorang yang bertanggung jawab.” Jongdae terlihat tersenyum lega.

Apa? Dia berhenti melakukan itu semua? Seorang Kim Jongin telah berubah menjadi seseorang yang lebih baik?

“Hyosung-ssi, dia bahkan bilang bahwa dia ingin menunjukkan padamu kalau dia adalah namja yang bisa berlaku seperti Appamu, bisa menjadi seorang namja yang bisa menggantikan posisi Appamu,” ucapnya lembut.

Aku terhenyak. Seorang Kim Jongin memang sudah pernah mengatakan kalau dia ingin menjadi seperti Appa yang menjaga, melindungi, dan menyayangiku. Namun, aku tidak menyangka kalau Jongin mengatakan hal itu kepada Jongdae.

Tiba-tiba teringat kejadian-kejadian dimana sikapnya yang berubah membuatku bingung. Mulai dari malam itu, dimana untuk pertama kalinya dia tidak membanting daun pintu, dan malam itu, dimana dia menciumku, yang aku yakini kalau itu hanyalah bentuk kasih sayang untukku dari seorang Appa.

“Jongdae-ssi, aku tahu ini sedikit tidak sopan, namun apakah kau tahu siapa yeoja yang disukai oleh Oppaku, aku tahu dia sudah bermain dengan banyak yeoja, tapi apakah kau tahu siapa yang dicintainya?” ujarku dengan sedikit merendahkan volume suaraku.

“Dia tidak pernah menyentuh wanita manapun, dia tidak pernah bermain wanita, dia hanya digoda oleh wanita-wanita itu, dan dia hanya mencintai satu wanita, yang hanya aku dan dia yang tahu, dan maaf, aku tidak bisa memberitahumu,” ujarnya sedikit terlihat menyesal.

“Gwenchanayo, aku mengerti, setidaknya aku sedikit lega, dia tidak seburuk apa yang aku bayangkan,” ujarku sembari tersenyum

“Dan sebenarnya dia itu ingin sekali mengajakmu bicara dengan baik, memperlakukanmu seperti layaknya dongsaeng, bertindak seperti seorang Oppa. Hanya saja, ia tidak ada keberaniaan untuk itu, karena mengetahui keadaan keluarga kalian yang benar-benar rusak,” Jongdae menjelaskan.

Aku menatap Jongdae sedikit heran. Aku susah mempercayai Jongin yang seperti itu. Jongin yang sebetulnya baik dan lembut.

“Baiklah Jongdae-ssi, aku rasa aku akan pulang, sampai jumpa,” ucapku sambil berlalu meninggalkan Jongdae diikuti dengan lambaian tangannya ke arahku.

Jongin, entah perasaan apa ini, tapi mendengar penjelasan Jongdae membuatku sedikit terkesima oleh sosok Jongin yang telah berubah. Jadi, seperti itu sosok Jongin?

“Hyosung-ssi,” teriak Jongdae dari belakang.

Aku mebalikkan badanku agar bisa melihat Jongdae, “Ne?”

“Aku sarankan kau mulai memanggilnya ‘Oppa’, dia sangat menginginkan hal itu, terkadang dia mengira kau masih benci padanya dan menganggap dia orang lain,” ujarnya.

Aku teridam. Benar saja, selama ini aku tidak sekalipun memanggilnya ‘Oppa’. Aku menganguk sambil tersenyum ke arah Jongdae. Aku berpikir bahwa aku juga harus merubah sikapku, Jongin sudah menunjukan sikap positifnya kepadaku, sudah seharusnya aku bertindak sama.

                “Sungie, aku pulang,” kudengar suara Jongin memasuki rumah.

Aku melihatnya yang berjalan mendekat ke arahku yang berdiri di ujung tangga. Dia menunjukan senyumnya yang manis itu. Tatapannya .. lagi-lagi sangat aku suka.

“Sungie, kau belum tidur, ini sudah malam, tidak baik seorang yeoja tidur malam-malam,” ucapnya sambil mengelus rambutku.

Sebenarnya aku merasa aneh diperlakukan seperti itu, namun aku meyakinkan diri bahwa apa yang ia lakukan hanya bentuk kasih sayangnya kepada yeodongsaengnya. Bentuk usahanya untuk bisa seperti Appa. Aku tersenyum memandangnya.

“Kau bekerja dimana, Oppa?” tanyaku.

Dia terdiam dan membelakkan matanya, aku tahu mengapa dia melihatku seperti itu. Sesuatu yang tidak pernah kuucapkan, akhirnya terucapkan.

“Kau memanggilku apa, Sungie?” Wajahnya menunjukkan kalau ia benar-benar senang.

“Ne, Oppa. Kau bekerja dimana?” kuulangi pertanyaanku.

Dia tersenyum lebar. Aku rasa dia pasti senang karena mendapatkan panggilan ‘Oppa’ dariku. Selama ini aku memanggilnya dengan namanya dan diikuti dengan kata –ssi. Dan aku merasa, kalau selama ini aku terlalu jauh dengannya, seperti orang asing sebelum kematian Appa. Seperti kata Jongdae, dia ingin aku memanggilnya seperti itu.

“Darimana kau tahu aku bekerja?”

“Jongdae-ssi mengatakannya padaku tadi pagi waktu aku belanja,”

“Dia? Apa saja yang ia katakan?” kini wajah Jongin Oppa mulai panik.

“Hanya itu saja, kenapa?” tanyaku bingung dan sedikit berbohong.

“Ah, tidak ada. Aku bekerja di perusahaan Appa, meskipun tidak menjabat di posisi Appa dulu.” Dia tersenyum kembali.

“Oppa, sebetulnya beberapa hari yang lalu ada yang menelpon, dia mencarimu dan mulai berbicara yang tidak waras, dia mengatakan kalau aku adalah calon istrinya, dia tidak menyebutkan namanya, aku rasa dia orang gila, Oppa,” ucapku sedikit kesal.

Tampak Jongin Oppa sedikit kaget. “Sudahlah, jangan hiraukan hal-hal seperti itu.” Dia berusaha tersenyum.

Aku menatapnya lembut dan penuh kasih sayang, entah sejak kapan, perasaan marah, kesal, dan sebagainya itu hilang ketika mendengar namanya atau melihat dirinya. Yang ada, kini aku semakin ingin melihatnya setiap saat. Dengan sikapnya yang seperti ini, membuatku nyaman, aman, dan bahagia.

“Oppa,” panggilku.

“Ne, chagi?” sahutnya.

“M-Mwo?” pekikku.

“Ne, chagi? Tidak bolehkah aku memanggilmu seperti itu?” tanyanya sambil menyampirkan rambutku ke belakang telinga.

Aku sungguh tidak marah, aku hanya kaget. Aku menatapnya dengan sedikit mendonggakkan kepalaku, mengingat dia yang lebih tinggi dariku. Jongin Oppa mengangkat tangannya dan kembali memegang leherku.Tangganya begitu hangat, sangat hangat. Dia memperkecil jarak antara kami berdua. Aku berpikir, apakah dia akan menciumku lagi?

Jongin Oppa semakin mendekatkan tubuhnya dan mencondongkan kepalanya ke arahku, langsung saja mataku terpejam. Anehnya, aku tidak mencoba untuk menghindar, aku malah tidak ingin menghindar. Kurasakan hembusan nafas kami saling bertabrakan dan langsung kurasakan bibirku basah. Dia mengecupku singkat dan melepaskannya. Ada sedikit rasa kecewa menyelimutiku. Aku menatap Jongin Oppa dengan sedikit kecewa.

“Wae, Sungie? Kau marah?” tanyanya khawatir.

“Ani,” ucapku mendekat ke arahnya.

Senyuman melukisi wajah Jongin Oppa lagi. Dengan cepat, bibir Jongin Oppa sudah menempel erat dengan bibirku. Kurasakan bibirnya yang hangat itu menciumku lebih dalam dan lama. Kurasa aku sudah lepas kendali.

Entah sejak kapan, aku melihatnya bukan seperti ‘Oppa’ namun sebagai ‘namja’.Aku tidak tahu kenapa, kurasa karena selama ini aku tidak pernah merasakan rasanya memiliki seorang Oppa, padahal aku memiliknya, seolah Oppa itu hanya sebuah status bukan sosok. Tiba-tiba Jongin bersikap baik dan lembut seperti itu,memberiku kasih sayang, membuat hati ini merasakan sesuatu aneh yang tak bisa dijelaskan. Kurasa ….

Hari ini aku berniat untuk pergi ke sekolah. Aku mulai berlari sedikit tebirit-birit karena aku takut terlambat.

“Sungie?” panggil Jongin Oppa.

“Ne?” sahutku sambil membetulkan sepatu yang aku pakai.

“Kau mau berangkat sekolah ‘kan? Ayo aku antar,” ujarnya.

“Mwo?” pekikku.

“Ne. Palli kajja!” serunya bersemangat.

“Arrasseo,” ucapku sambil tersenyum ke arahnya.

Setelah membetulkan sepatuku. Jongin Oppa membukakan pintu mobilnya untukku, aku sedikit tersipu atas perlakuan Jongin Oppa padaku.

Selama perjalanan, kami hanya diam saja, entah dalam atmosfer seperti ini aku merasa senang namun aku juga merasa tegang. Kulihat dari sudut mataku, Jongin Oppa berkali-kali melihat ke arahku sambil tersenyum. Membuatku takut untuk menoleh ke arahnya, aku terlalu gugup mungkin.

“Ya, Sungie. Kau pulang jam berapa?” tanya Jongin Oppa.

“Molla, tergantung nanti ada tambahan atau tidak,” ujarku.

“Geurae, kalau ada waktu aku mungkin akan menjemputmu,” ujarnya.

“Tidak perlu kalau memang tidak bisa,” tolakku halus.

Dia hanya menganguk pelan, dan kami berdua kembali dalam keheningan. Rasanya sekolah tak kunjung sampai, padahal jaraknya juga tidak terlalu jauh.

“Sungie. Mianhae,” ucap Jongin Oppa tiba-tiba.

“Nde? Buat apa?” tanyaku heran.

“Waktu itu aku pernah hampir menabarkmu ‘kan? Mianhae, aku tidak minta maaf waktu itu,” ucapnya dengan nada yang terdengar sedikit menyesal.

“Ah, itu, gwenchanayo,” balasku.

“Gomawo, kau sudah bisa menerimaku sebagai Oppamu,” ujarnya lembut.

“Cheonmaneyo, Oppa,” ucapku .

“Nah, sudah sampai,” ucapnya tiba-tiba.

Aish! Saat aku sudah mulai menikmati pembicaraanku dengannya, kenapa sudah sampai di sekolah? Aigoo!

“Ne, Oppa, gomawo.” Aku membuka pintu mobil.

“Chakkaman.” Tangan Jongin Oppa menahanku.

Aku mengerutkan dahiku. “Wae, Op-”

Aku tercekat. Nafasku berbentur dengan leher jenjang Jongin Oppa. Dia mencium dahiku. Dia mengecupnya cukup lama, membuatku terlena dan memejamkan mata menikmati kehangatan bibirnya yang menempel itu. Hingga kurasa, Jongin melepaskan kecupannya dan membelai rambutku, aku membuka mataku perlahan. Kulihat Jongin Oppa tersenyum lembut menatapku. Aku membalas senyumannya.

“Aku menyayangimu, Sungie,” ucapnya lembut.

-TBC-

Gimana, readers? Commentnya saya tunggu !! ^^~ Mianee kalau kurang ya, apalagi soal Baekki, saya bingung Baekki mau diapain, yaudah saya pindahin aja ke Jepang. Mianeeee T_T

56 pemikiran pada “Den (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s