This Love (Chapter 2)

Title                      :  This Love (chapter 2)

Author                  :  @jejesikha

Genre                    :  Romance

Main Cast              :  Lee Ah Ra (OC)

Park Chanyeol (EXO K)

Tiffany (OC)

Other Cast             :  all EXO-K Member

Length                   : Multi Chapter

 

10000000% made by me, so enjoy reading!

“ah-ra?”

Ucapnya setelah membalikan badannya, semua laki-laki itu menatapku, keheranan, terkecuali chanyeol, aku bisa melihat mukanya yang speechless setelah melihatku yang sekarang ada di hadapannya.

 

“siapa dia hyung?” Tanya laki-laki berambut coklat muda, aku sering melihatnya ditelevisi, dia seorang maknae.

“fans beratmu?” lanjutnya.

Fan beratnya? Sudah kuduga, dia tidak menceritakanku pada teman temannya mengenai diriku, sudah kuduga dia benar benar merahasiakanku, berusaha untuk menjauhkanku, lalu berusaha melupakanku dan mencari penggantiku, dia benar benar brengsek.

“hanya diam? Tidak mengatakan hal apapun? Chanyeol?” tanyaku langsung, aku sedikit melangkahkan kakiku mendekatinya.

“jadi begini? Berusaha melupakanku? Kau takut hatiku tersakiti, begitukah chanyeol?”

Mereka terus menatapku keheranan, sesekali mereka saling berbisik satu sama lain, aku tahu mereka sedang membicarakanku.

“ah-ra, bukan maksudku..”

“sudahlah” potongku cepat,

“lupakan saja aku, aku tahu kau sudah asyik dengan duniamu yang baru, kau tidak butuh gadis seperti aku lagi kan? Aku hanya mengganggumu.”

Ucapku seraya pergi dari hadapannya, aku mengambil ponsel dan dompetku di meja, berlari kecil keluar dari café itu, cafe yang dulu menjadi saksi cintanya padaku yang sekarang sudah pudar terbawa angin lalu.

“ah-ra! Ini salah paham!” teriaknya dari dalam café, tapi aku menghiraukannya.

Aku terus berlalri menjauhi café itu.

Bodoh, aku memang bodoh, seharusnya aku tidak menerima cintanya saat itu kalau pada akhirnya dia akan seperti ini.

 

Baru setengah jalan yang aku tempuh, tiba tiba ponselku bergetar ‘incoming call-chanyeol’

‘Sialan, untuk apa dia menelfonku? Masih peduli padaku? Takut hatiku tersakiti? Atau ingin mengelak semua fakta yang telah aku dapatkan?’ gerutuku dalam hati.

Tapi aku menghiraukannya, mencabut baterai ponselku lalu memasukannya kedalam sweaterku.

 

 

“hey gadis bersweater pink”

Gadis bersweater pink?

Aku?

Aku menoleh ke belakang, Suaranya yang sedikit menggelegar membuatku ketakutan.

Dan kulihat sosok pria berpostur tubuh jangkung dan berambut pirang berdiri di depanku, entah siapa, dia hanya melipat tangannya kebelakang, menatapku dengan tatapannya yang sedikit menyeramkan. Siapa dia? Dia tidak terlihat seperti seorang Korean.

“aku?” tanyaku memastikan pendengaran

“ya, siapa lagi gadis yang bersweater pink disini?” ucapnya seraya mendekatiku, namun aku menjauhinya.

“siapa kau?!” bentakku.

“tenanglah, aku bukan orang jahat” dia menghampiriku, berusaha memegang tanganku tapi aku berhasil menjauhinya, berlari sekuat tenagaku.

“hey! Tunggu!” teriaknya namun aku menghiraukannya, tanpa membalikkan badanku aku langsung pergi jauh dari hadapannya.

Saat kurasa dia mulai jauh dari hadapanku, aku mulai memperlambat jalanku,

sungguh hari ini membuatku benar-benar tidak karuan. Menyebalkan!

Chanyeol brengsek, bisa bisanya dia mempermainkanku, apakah dimatanya aku ini wanita lemah? Yang mudah untuk dipermainkan? Ish, dia salah. Mungkin aku lengah saat ini, karena terlalu merindukannya, karena ku kira dia benar benar mencintaiku, aku sudah bersamanya cukup lama, tapi inikah balasannya? Mengecewakanku dengan sikapnya? Bahkan sekarang dimataku dia hanya seorang leleaki brengsek, dia meyebalkan!

 

Aku masuk kedalam apartementku, lelah, ya hari ini bukan hanya badanku yang lelah, tapi hati dan ragaku juga.

 

Aku melepas sweaterku, lalu beranjak menuju ranjang sambil menyelimutkan selimut dibadanku.

 

“ahra? Bangunlah”

Suara itu membuatku sedikit membuka mataku,

“bangunlah sudah jam 12 siang.” Ucapnya dengan lembut sembari membuka selimut yang sedari tadi menyelimutiku,

“siapa?”

Aku mulai bangun dari ranjang, mataku yang sedikit sembab akibat  kejadian kemarin yang sulit membuatku untuk membuka mata.

 

“Tiffany??!!” teriakku saat melihat sosok gadis yang hampir 2 minggu menghilang dari hadapanku, ya, dia tiffany, sahabat terbaikku sepanjang masa.

“merindukanku? Aku sangat merindukanmu!” ucapku seraya memeluknya, rasa rindu ini tidak bisa tertahankan lagi, tanpa dirinya aku sulit untuk membuat mengerjakan semua tugasku dan kehilangan teman untuk sekedar shopping atau facial treatment. Dialah yang terbaik!

“bagaimana keadaan orang tuamu?” tanyaku dengan posisi aku masih duduk di ranjang

“mereka memutuskan untuk bercerai dan yeah, aku memilih untuk tetap tinggal di korea bersamamu. Entahlah mereka begitu menjengkelkan, mereka menyuruhku untuk pindah dan melanjutkan studiku di LA”

“tidak, kau harus bersamaku!” aku memeluknya kembali, hanya dialah yang menjadi sandaranku sekarang.

 

Tiffany, seorang mahasiswa jurusan design interior ini sahabatku sejak aku memasuki universitas yang sama dengannya, namun kami berbeda jurusan, aku lebih memilih design grafis.

Umurnya 1 tahun lebih tua dariku, dia 20 tahun, namun hanya 1 langkah lagi dia sudah menjadi seorang sarjana. Setelah orang tuaku meninggal akibat kecelakaan pesawat 1 tahun yang lalu, tiffany memutuskan untuk pindah dan tinggal bersamaku, karena dia hanya tinggal sendirian di korea, sedangkan kedua orang tuanya bekerja disalah satu perusahaan Gadget di California.

 

“tentu saja, aku akan bersamamu.” dia mengelus elus rambutku, bagiku dia adalah pengganti ibuku.

“oh ya, sekitar 5 hari yang lalu, aku melihat chanyeol bersama teman satu grupnya berekreasi di Disney land, kudengar mereka menyelenggarakann konser di LA, Apa dia memberi tahumu?” tambahnya.

“sudahlah, dia bukan siapa-siapa lagi bagiku”

“apa maksudmu? Kalian berpisah?”

“bisa dibilang begitu, aku tak tahan lagi,dia pria paling brengsek.” Aku bangun dari ranjang, berjalan menuju dapur, membuat secangkir teh untuknya.

“masalah ideal type itu?” tanyanya sambil berjalan menuju sofa, melihat-lihat barang yang tergeletak di meja ruang tamuku.

“bukan hanya itu, dia bilang kalau aku bukan siapa siapa pada teman satu grupnya.”

Aku berjalan sambil membawa secangkir teh aroma vanilla menuju sofa, menghapiri tiffany yang sedang asyik memainkan ponselku.

“minumlah” tawarku.

“kurasa dia benar-benar brengsek.” dia mengambil cangkirnya dariku, meminumnya sedikit demi sedikit.

“dia yang paling brengsek.” aku duduk disebelahnya, melihatnya yang mulai menimum tehnya sambil memainkan ponselku.

“oh ya, kemarin perusahaan Kwon menelfonku, katanya kau tidak bisa dihubungi, dan aku katakana kau sedang berada di California, mereka ingin kau bekerja sama dalam berusahaan tersebut”

“dalam hal apa?”

“entahlah, design interior mungkin.”

“kau punya nomor telfon perusahaan mereka?”

“ada, ada di dompetku”

Aku berjalan kecil menuju kamarku, mengambil sweter pinkku dan merogoh sakunya.

Dompetku? Dimana dompetku?

“tiff, kau melihat dompetku?” teriakku dari dalam kamar

“tidak, aku baru datang pagi ini, aku tidak melihatnya.”

Dimana dompetku? Aku mulai panik, kemarin aku tidak memakai celana bersaku, dan aku ingat betul, aku menaruh dompetku di dapam saku sweaterku tapi dompetku tidak ada disana.

Aku berjalan mondar-mandir, berusaha mencari dompetku disegala arah, di ruang tamu, di kamar, di lemari dan di ruang pakaianpun, aku tidak menemukannya.

Ini gawat, banyak hal penting yang ada didalam dompetku. Dompetku tidak boleh hilang. Ini tidak mungkin!

“ada apa? kau terlihat sangat sibuk?”

“dompetku tiff, aku yakin aku lupa menaruh dompetku,”

“apa mungkin terjatuh?”

Terjatuh? Apa mungkin? Tapi, apa aku menjatuhkannya? Aku rasa tidak.

 

“ah, ada panggilan masuk” tiffany bejalan mengahmpiriku dan memberikan ponselnya padaku.

Dengan segera aku menekan tombol hijau yang artinya mengangkat telfon lalu mengarahkan ponselnya ketelingaku.

 

 

“hallo?” ucapku lembut.

“hey, yo whatsup pink sweater girl”

“siapa kau?!”

“aku pria yang kemarin kau temui, kenapa kemarin malam kau lari begitu saja?”

Pria yang kemarin aku temui, pria yang tidak seperti seorang Korean itu?! Dari mana dia tahu nomor ponselku?!!

Atau jangan-jangan, dompetku?!!!

“HEY YA! KEMBALIKAN DOMPETKU!” teriakku tanpa basa basi lagi

“kau baru sadar, pink sweater girl?”

“kembalikan cepat!”

“tenanglah”

“kau mengobrak-abrik dompetku?!”

“ya, dompetmu yang pink itu?”

“diam! Sekarang cepat kembalikan!”

“tidak semudah itu,”

Pria ini mulai membuatku jengkel, hampir aku putuskan sambungannya tapi, jika aku memutuskan sambungannya, aku tidak akan pernah mendapatkan dompetku kembali, sial. Siapa pria ini sebenarnya.

“baiklah, betemu denganku di suatu tepat, lalu kembalikan dompetku dan masalah ini selesai” ujarku

“tidak, aku sangat sibuk”

“lalu bagaimana dengan dopetku????!”

“baiklah, hari ini jam 12 malam dipusat kota”

“semalam itu?!”

“aku sibuk, aku juga merelakan jam tidurku untuk mengembalikan dompetmu”

“mengapa kau tidak menyuruh bawahanmu atau kau bisa mengirimkan dompetku via post!”

“tuuut….tuuuut…”

“hallo? Hallo? YA! kau stanger??”

Sambungan terputus? Sial!

 

“ada apa ahra? Siapa yang tadi menelfonmu?”

“entahlah tiff, dompetku terjatuh kemarin malam dan pria yang menemukan dompetku itu begitu menjengkelkan!”

“pria? Siapa?”

“entahlah, kulihat dia seperti bukan seorang Korean tapi dia fasih berbahasa korea, badannya tinggi dan berambut pirang.”

“apakah dia tampan?” tanyanta sambil tertawa getir,

“tiff, di situasi seperti ini kau masih menanyakan dia tampan atau tidak?!”

Dia tertawa, terkadang tawanya itu membuatku sedikit jengkel.

 

“bagaimana dompetku? Kartu mahasiswaku? Uangku? Kartu kreditku?!” aku menggaruk garuk kepalaku, nyaris, 2 hari ini aku hampir menjadi gila.

“tenanglah, jam 12 kau akan bertemu denganya kan?”

“mana bisa aku tenang??”

“ahra, aku baru datang dan kau menyambutnya dengan semua kegilaanmu.”

“saat kau tidak ada, aku benar-benar hampir gila, merindukanmu, merindukan chanyeol, dan kau tahu saat ternyata aku bertemu dengannya di café Mui Mui? Aku hampir gila, apakah dia benar benar pasangan sejatiku? Bahkan sebelumnya aku tidak tahu dia ada disana, dan yang membuatku benar benar dipuncak kegilaan, dia tidak menceritakan tentangku pada teman-temannya, saat aku menelfonnya dan saat temannya bertanya siapa diriku, dia menjawab aku bukanlah siapa-siapa. Coba rasakan! Kau ada si posisiku?!”

“ya, ya, ya, aku tahu persaanmu, aku tahu segalanya tentang kau”

Kujatuhkan badanku di sofa, berusaha menenagkan pikirianku.

dompet, aku tidak peduli dompetnya, namun beberapa kartu nama penting perusahaan, nomor telfon beberapa perusahaan dan id card kartuku.

Apakah pria itu bisa dipercaya? Aku tidak begitu yakin tapi, mukanya sedikit familiar dimataku, semacam aku pernah bertemu atau melihatnya sebelumnya, ucapan katanya yang sepertinya dia benar-benar bukan seorang Korean.

Atau jangan-jangan dia salah satu agen luar negri yang mencari gadis korea untuk mereka perjual berikan?!!

“TIIDAAAAAK!!!!!”

“ahra, ada apa?” tanyanya terkejut,

Sontak aku berteriak, didompetku, semua identitasku, fotoku, semuanya. Sial!

“tiff, kau akan menemaniku kan jam 12 nanti?” tanyaku sambil menghampirinya

“aku lelah, 12 jam perjalanan menuju korea, transit yang berkelanjutan, aku kurang tidur”

“jadi, aku pergi sendirian?”

“menurutku dia bukan orang yang berbahaya, maksudku, bukan yang ada dipikiranmu, kau hanya terlalu mengada-ada, hanya ambil dompetmu dan masalah sudah selesai, begitukah?”

“aku sedikit takut”

“kenapa? mukanya menyeramkan? Cara berpakaiannya seperti seorang preman?”

“bukan” sangkalku

“tapi sepertinya aku pernah melihatnya, tapi…”

“sudahlah” potongnya,

“aku akan tidur, mungkin hibernasi”

Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar tidurnya,

“jangan ganggu aku, terkecuali kau dalam bahaya”

Ucapnya sambil menutup pintu kamarnya,

 

 

Kulihat jam dinding yang terus berdetak tiap detiknya

‘jam 11, haruskan aku berangkat sekarang?’ batinku.

Aku hanya menggunakan kemeja transparent berwarna krem dan celana blue jeans, tidak harus terlalu bergaya bukan? Aku hanya ingin mengambil dompetku kembali lalu pulang?

-Dreeet dreeet-

Ponselku bergetar ‘incoming call  stranger’

‘Untuk apa dia menelfonku?’ gerutuku dalam hati.

Aku langsung menekan tombol hijau dan mengarahkan ponselnya ketelingaku,

“hallo?”

“segeralah datang.” ucapnya datar

“belum jam 12 bukan?”

“lebih cepat lebih baik.”

“apa maksudmu?” tanyaku keheranan,

“sudahlah, cepat datang”

“tuuut…. Tuuut…”

Orang aneh, apa yang dia inginkan sebenarnya?

 

Aku mulai memakai oxford shoesku dan berjalan keluar apartement. Rasa takutku mulai berkurang, seoul bukanlah kota mati, sudah selarut ini masih banyak lampu yang menyala, masih ramai dikunjungi penduduk, dan mall yang tak pernah matipun sedikit membuatku lega, lampu taman dan lampu toko-toko bar dipinggir jalan menerangiku sampai aku menuju tempat tujuan, pusat kota seoul,

 

Aku menunggu disalah satu market, memesan 2 cappuccino hangat, entah mengapa aku memesan dua cappuccino, oh ya, mungkin stranger itu kehausan, atau kedinginan, apa salahnya aku berbagi minum dengannya bukan?

 

Seseorang turun dari mobil BMW X5, tak salah lagi, dia pasti si stranger itu namun aku tidak melihatnya membawa dopetku?

“sudah lama menungguku?” tanyanya sambil duduk dihadapanku, namun aku hanya diam, tidak berkata apapun.

“cappuccino untukku?” tanyanya lagi dan aku masih diam

“kenapa hanya diam?” dia meminum cappuccinonya, bahkan aku belum mengizinkannya untuk meminumnya, orang macam apa dia ini? menjengkelkan.

“oh ya, dompetmu, aku akan memberikannya untukku tapi..”

“tapi apa?” dan pada akhirnya akupun mengeluarkan suaraku

“antar aku mengelilingi kota seoul.”

“apa?!” mataku terbuka maksimal, apa maksudnya? mengantarnya berkeliling seoul? Apa pria ini sudah gila!?

“masalah?”

“tentu saja!” bentakku

“berhentilah membentakku!”

“kembalikan dompetku!”

“sudah kubilang, aku akan mengembalikan dompetmu tapi antarkan aku berkeliling seoul.” dia berdiri lalu menarik tanganku masuk kedalam mobilnya, aku berusaha memberontak tapi tenaganya bagaikan buffalo, aku tidak bisa mengahalaunya.

“pakailah safety belt,” ucapnya sembari menyalakan mesin mobilnya.

“tidak mau” aku membelakanginya, mengahadap kejendela tanda tidak setuju.

“ish, kau begitu kenakan-kanakan”

dia mendekatakan tubuhnya padaku, bukan hanya tubuhnya tapi jarak antaramu mukaku dengan mukanya mungkin berkisar 15 cm, dan apa yang dia lakukan?!

“apa yang kau lakukaaan?!” teriakku memecahkan keheningan

“apa? aku hanya akan memakaikanmu safetybelt”

Sial, sial!  Dia membuatku malu, kukira dia akan melakukan hal aneh yang tidak terduga, jantungku berdetak cepat,

“kau kaget? Mukamu memerah?”

Benarkah?  Mukaku memerah, konyol! Pasti mukaku sangat konyol sekarang.

“tidak, aku hanya kedinginan” ucapku asal.

“kita akan kemana? Tn. Stranger?” tambahku mengalihkan pembicaraan.

“stranger? Namaku Wu Fan.”

“Wu Fan?”

 

TBC

Hello^^ gimana FFnya? Mau dilanjutin lagi? Comment ya~ trims

 

 

 

 

 

23 pemikiran pada “This Love (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s