Half of My Heart: D.O

Sub Title          : Shoot

Author             : Inhi_Park & Kim Mus2

Main Casts      : Do Kyungsoo a.k.a. D.O&Jung Ahra (covered by Lee Jieun)

Genre              : Romance

Rating             : General

Summary         :“Aku tak berharap untuk bisa menggapaimu. Bagiku, selama kau mengizinkanku menjagamu dari sini. Aku bahagia”

(D.O’s side)

“D.O-ya…” Dari kejauhan aku melihat seorang namja berlari kearahku. Sambil mengatur nafas yang agak terengah-engah, tangan kanannya menyodorkan secarik kertas tepat ke depan mukaku.

“Ini apa?” Tanyaku polos sambil mengambil kertas itu.

“Ya seperti yang kau lihat, itu formulir pendaftaran lomba foto yang akan dilaksanakan di acara pergelaran seni tahunan sekolah kita.”Jelas Baekhyun, kawanku.

“Lalu?” Aku mengembalikan formulir itu lalu mulai melangkah pergi.

“Ish… Kau ini. Tentu saja kau harus isi formulir ini lalu mulai berburu foto. Bukankah fotografi adalah hobimu dari dulu.” Baekhyun berjalan menjajari langkahku.

“Emh… Ya, memang benar. Tapi seperti katamu tadi, fotografi itu Cuma sekedar hobi, kalau untuk ikut lomba seperti ini rasanya aku belum cukup hebat.”

Dia memegang pundak kiriku yang sukses membuatku berhenti melangkah. “Hey, kau pikir kita baru berteman kemarin sore huh? Aku sudah sangat mengenalmu dan kemampuan fotografimu itu sudah lebih dari cukup untuk memenangkan perlombaan ini.” Katanya. “Ayolah… Coba dulu… Ya?”

“Emh… Baiklah.” Kataku akhirnya.

<><><>

Kalau bukan karena bujukan sahabatku, maka bisa dipastikan aku tidak akan berada disini saat ini. Hahhh… dengan berbekal kamera SLR kesayanganku yang terkalung manis di leher, aku berjalan keliling kota demi mencari inspirasi untuk fotoku.

Beberapa gambar memang sudah berhasil ku ambil. Foto-foto pemandangan, foto suasana kota yang cukup ramai sore ini sampai foto beberapa gadis yang berseliweran di sepanjang jalan juga tak luput dari bidikan kameraku.

“Aaahh… ‘The Real Beauty’… Tema yang bagus, bagus sekali untuk membuat kepalaku pusing seperti ini.” Aku berjalan tertunduk sambil menendangi kerikil yang sebenarnya tidak bersalah.

Aku merutuki nasib yang dengan mudah terperangkap bujukan Baekhyun untuk mengikuti lomba foto itu. Ya… aku memang suka fotografi, tapi tidak untuk kompetisi seperti ini. Aku hanya melakukannya jika aku sedang benar-benar ingin, jadi aku akan melakukannya dengan tulus, bukan di bawah tekanan begini.

‘The Real Beauty’… Yang seperti apa sih keindahan yang sesungguhnya itu…???”

<><><>

Setelah cukup lama berjalan sambil terus mengarahkan kamera ke berbagai sudut kota, langkahku terhenti di depan gerbang masuk sebuah taman yang nampaknya tidak terlalu ramai. Suara tawa riang anak-anak yang sedang bermain memaksaku melangkahkan kaki memasuki area taman.

Pemandangan yang langsung tertangkap oleh mataku disana adalah candaan beberapa orang anak yang sedang bermain di area bermain anak. Beberapa anak laki-laki sedang bermain bola, sebagian lainnya terlihat sedang bermain perosotan dan bermain pasir. Selain itu terlihat juga beberapa anak yang sedang bermain ayunan.

Senyumku mengembang. Sesaat aku lupa tujuanku kesini. Melihat tawa anak-anak ini aku merasa senang dan tertarik untuk memotret mereka. Lensa kameraku sudah berhasil mengabadikan beberapa gambar mereka. Saat mereka tertawa, saling menjahili sampai ada yang sedang menangis.

Aku mengambil gambar mereka dari tempat yang tak terjangkau dari pandangan anak-anak itu. Ya… posisiku saat ini memang sedikit tersembunyi. Aku berdiri di bawah sebuah pohon besar yang jaraknya hampir 5 meter, namun seperti yang kubilang tadi, tempatku ini tidak terlalu mencolok, ditambah pohon besar yang menaungiku ini juga sedikit menghalangi tempatku berdiri, jadi sepertinya anak-anak itu tidak menyadari kehadiranku disekitar mereka. Namun beruntung, dari tempatku duduk aku dapat melihatnya dengan cukup jelas.

Saat sedang asyik mengambil foto anak-anak itu, dari gerbang lain aku melihat seorang gadis dengan coat merah muda berjalan masuk yang lalu di sambut oleh anak-anak tadi. Hampir semua bocah itu berlari kearahnya lalu berebutan untuk memeluk gadis tadi. Sebuah tanda tanya yang cukup besar timbul di benakku.

Kira-kira siapa gadis itu? Apa hubungannya dengan anak-anak itu sampai-sampai mereka terlihat sangat senang bisa bertemu dengannya? Emmhh… Apa dia eomma mereka? Ah… tidak mungkin kataku sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin hanyakerabatnya. Karena kalau dia eommanya atau guru sekolahnya sepertinya tidak mungkin karena gadis itu terlihat masih sangat muda. Kuperkirakan kalau usianya sebaya denganku, atau bahkan mungkin lebih muda dariku.

Gadis berambut panjang itu mengeluarkan sebuah kantong kertas dari dalam tasnya. Kantong kertas itu berisi lollipop warna-warni yang lalu ia bagikan pada semua anak. Setelah itu, seorang gadis kecil terlihat menggandeng tangannya lalu menariknya ke arah sebuah ayunan.Gadis itu mendudukkan anak kecil tadi di atas ayunan lalu ia mendorongnya perlahan dari belakang. Dan sekarang aku melihat pemandangan yang sungguh sangat indah. pemandangan saat Gadis bermata sipit itu tertawa bersama anak-anak kecil di sekitarnya.

Aku bisa melihat kebahagiaan dari mereka semua, terlebih dari gadis itu tadi. Ia terlihat sangat tulus saat menemani anak-anak itu bermain. Ia juga membantu menenangkan seorang anak yang menangis karena terjatuh saat main perosotan dengan teman-temannya yang lain. Saat mereka tertawa bersama, tawa gadis itu terlihat sangat polos, seolah ia juga bagian dari anak-anak yang masih belum memiliki beban. Ia terlihat sangat menikmati dunianya bersama anak-anak itu. Saat melihat semua itu, tanganku secara otomatis bergerak mengarahkan bidikan kameraku padanya. Gadis itu. Aku berhasil mendapatkan fotonya dari beberapa angle.

“ah… jam berapa ini?” tanyaku pada diri sendiri. Aku tersadar kalau aku sudah berada disini lama sekali. Saat ku lihat jam ternyata sudah hampir jam 5 sore. Aku harus segera pulang, pikirku.

Tapi saat kulihat gadis yang masih asyik bermain dengan anak-anak itu aku berpikir untuk duduk disini sedikit lebih lama. Namun sepertinya tidak bisa, aku benar-benar harus segera pulang. Masih ada tugas sekolah yang harus ku kerjakan.

<><><>

Hari ini matahari bersinar lebih terang dibanding kemarin. Ku putuskan untuk kembali ke taman itu lagi, berharap aku akan bertemu sosok yang mengganggu tidurku semalam.

Ahaha… Kau percaya tidak, semalam aku memimpikan gadis yang ku temui sedang bermain dengan anak-anak di taman kemarin sore. Aku juga tidak tahu kenapa, mungkin karena sebelum tidur aku terlalu asyik memandangi foto-fotonya yang ku ambil diam-diam… hehe…

Dan ya, aku menemukannya disana. Gadis berambut panjang itu sedang seperti biasa, terlihat sedang tertawa bersama anak-anak yang juga ku temui disini kemarin. Dan juga seperti yang kulakukan kemarin, aku berdiri di bawah pohon, mengamati mereka dan diam-diam mengambil beberapa foto. Dan lagi, tentu saja gadis itu yang menjadi objek utamanya.

<><><>

Keesokan harinya aku kembali ke taman itu. Kehadiran gadis itu membuatku merasa ada yang kurang jika tidak menyempatkan waktu datang kesini untuk sekedar melihatnya dan mengamatinya meski hanya dari kejauahn.

Tapi siang ini sedikit berbeda, aku tidak melihat gadis itu disini padahal biasanya jam segini dia sudah ada dan sedang bermain dengan anak-anak itu. Aku menghampiri seorang anak yang sedang bermain boneka di bangku yang biasa menjadi tempat gadis berambut panjang itu duduk.

“Anyeong, boleh aku duduk disini?” tanyaku hati-hati khawatir dia ketakutan melihatku.

Dia menjawab dengan anggukan pelan.

“Aku D.O, namamu siapa?”

“Namaku Soojeong. Ahjussi mau apa?”

“Ah, panggil saja aku D.O Oppa.” Aku kaget mendengar dia memanggilku ahjussi. Aku kan tidak setua itu, aku menggerutu dalam hati. “emh… aku sering melihatmu bermain disini. Aku mau tanya, apa kamu lihat kakak yang biasa bermain bersama kalian?” tanyaku.

Dia mengangguk. “Ahra eoni, tadi dia kesini. Dia memberikan ini padaku dan teman-temanku.” Katanya sambil mengacungkan permen di tangan kanannya. “tapi dia sudah pulang sekarang.” Tambahnya.

“Oh.. baiklah, gomawo…” kataku sambil beranjak pergi.

Ternyata dia datang tapi tidak lama. Sedikit sedih tidak bisa bertemu dengannya hari ini, tapi aku juga senang bisa mengetahui namanya. Ahra, nama yang bagus, batinku. Ya, meski baru sekedar tahu namanya, tapi aku sudah cukup senang. Sangat senang malah.

<><><>

Aku melihatnya terduduk di taman. Tidak seperti biasanya yang dia selalu bersama kerumunan anak-anak kecil, saat ini ia hanya sendirian. Aku melangkah mendekatinya. Saat menyadari aku berdiri tepat di hadapannya, ia menatapku lalu tersenyum. Senyumnya manis sekali.

Ku beranikan diri duduk di sampingnya lalu mengulurkan tangan kananku. “D.O imnida.” Kataku.

Ia menatap tanganku lalu menyambutnya dan menjabatnya dengan tangan kecilnya. “D.O?” Aneh, bukannya menjawab dengan menyebutkan namanya, dia malah menegaskan lagi namaku.

“Ne, aku D.O. Namamu siapa?”

“D.O…?”

Aku benar-benar tidak mengerti.

“D.O…~”

Suaranya berubah keras dan tiba-tiba aku merasa tubuhku di guncang-guncangkan. Ternyata aku hanya bermimpi.

“D.O-ya, bangun… Park sonsaengnim sudah datang.” Kata Baekhyun, teman sebangkuku.

Wali kelas kami, Park sonsaengnim, masuk ke kelas dengan diikuti seorang namja. Sepertinya siswa baru.

Saat namja yang sekilas ku dengar bernama Sehun itu memperkenalkan diri, konsentrasiku benar-benar sedang tidak ada disana. Aku teringat mimpiku barusan. Ini pertama kalinya aku tertidur di kelas. Mungkin itu karena semalam aku memang tidak bisa memejamkan mata. Setelah beberapa hari lalu aku memimpikannya, semalam justru aku terus teringat padanya sampai tidak bisa tidur.

Semalam memang sempat terlintas di kepalaku untuk berkenalan dengan gadis itu, tapi aku tak menyangka sampai terbawa mimpi seperti ini. Aku memang sangat ingin bisa mengenalnya, hanya saja sepertinya itu terlalu sulit untuk orang sepertiku. Aku tidak berani. Tidak peduli kau mengataiku penakut, pengecut atau pecundang sekalipun. Karena inilah aku, aku tidak punya keberanian sebesar itu untuk mendekatinya. Biar tetap seperti ini saja. Bisa mengawasinya, melihat senyumnya dan menatap wajah cerianya dari jauh saja aku sudah sangat senang.

<><><>

Hari yang melelahkan. Setelah semalaman tidak tidur, seharian belajar di sekolah, sore hari masih harus mengikuti perkumpulan klub vocal. Ya, selain fotografi, hobiku yang lainnya adalah menyanyi. Karena itulah, saat ini aku sedang terduduk sendirian menatap jalanan kota Seoul di sore hari dari bis yang akan mengantarku ke rumah.

Oh iya… fotografi. Aku jadi ingat soal lomba foto yang akan diadakan di sekolah kurang dari 2 minggu lagi itu. Aku sudah terlanjur mengisi formulir dan mengumpulkannya, tapi samapai detik ini aku masih belum menentukan foto yang akan aku ikutsertakan. Kalau boleh jujur, setelah bertemu Ahra dan anak-anak itu aku hampir tidak pernah ingat tujuanku berburu foto. Yang ku lakukan belakangan ini hanya mengamati mereka dan sesekali mengambil fotonya diam-diam.

Saat sedang asyik dengan pikiranku mengenai aktifitas stalkingku belakangan ini, mataku menangkap sesuatu yang menarik perhatianku saat melewati sebuah sudut jalanan yang tidak terlalu ramai. Disana aku melihat beberapa orang anak sedang berjalan, dan diantara mereka ada seorang gadis yang ku yakini betul gadis itu Ahra dan juga anak-anak yang ku temui di taman.

Dengan tergesa-gesa aku berjalan cepat ke arah supir bis. “Ahjussi, bisa tolong hentikan bisnya? Aku mau turun disini saja?” kataku.

“Tidak bisa nak, kau baru boleh turun di pemberhentian selanjutnya. Aku tidak bisa menghentikan bis di sembarang tempat.”

“Aku mohon ahjussi… aku benar-benar harus turun disini.”

Setelah berkali-kali meyakinkannya kalau ini aku sungguh harus turun saat itu juga, akhirnya bis ini pun berhenti. Dan setelah mengucapkan terimakasih dan memberi hotmat berkali-kali, aku membalikkan badan dan berlari ke tempat aku melihat gadis itu tadi.

Setelah cukup jauh berlari akhirnya aku menemukan mereka. Saat ini mereka sedang berjalan memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup besar. Di depan pagar rumah yang berwarna putih itu aku melihat sebuah papan bertuliskan “Mokyo Orphanage”. Sebuah panti asuhan. Itu artinya anak-anak itu…

Belum sempat aku berpikir terlalu jauh, dari dalam rumah aku melihat seseorang keluar dengan diantar beberapa orang anak dan seorang wanita yang cukup berumur. Setelah melambaikan tangan, orang itu pergi meninggalkan rumah tadi. Ia berjalan ke arahku yang membuatku secara otomatis bersembunyi di balik sebuah tiang yang cukup besar. Dan kau tahu? Dia Ahra. Sepertinya dia mengantarkan anak-anak itu pulang ke panti asuhan setelah bermain di taman seperti biasanya. Mungkin.

<><><>

Seperti beberapa hari sebelumnya, di jam yang sama aku berjalan menuju sebuah taman yang rutin ku kunjungi untuk tujuan yang sama. Mengagumi kebaikan dan kecantikan seorang gadis yang berhasil membuyarkan konsentrasiku dari dunia fotografi.

Kulangkahkan kaki perlahan memasuki area taman yang ternyata sepi. Tak terlihat ada anak-anak yang sedang bermain seperti biasanya. Mungkin mereka tak kemari hari ini, pikirku. Maka dari itu aku putuskan untuk mencari mereka ke panti asuhan dimana kemarin ku lihat mereka pulang ke tempat itu.

Dan benar saja, mereka ada disana. Di taman hijau yang cukup luas, mereka terlihat sedang bermain kejar-kejaran. Dan satu yang membuat senyumku mengembang, Ahra juga ada disana. Di saat seperti inilah aku sangat bersyukur karena tidak pernah lupa untuk membawa SLR kesayanganku. Benar, kali ini pun bidikan kameraku berhasil mengabadikan moment keceriaan mereka. Dan seperti biasa, objek utamanya siapa lagi kalau bukan Ahra.

Saat sedang asyik dengan kameraku, seseorang tiba-tiba menarik ujung T-shirt yang ku kenakan. Seorang anak laki-laki terlihat sedang tersenyum memandangiku.

“Hyung… aku juga mau difoto…” Rengeknya.

Aku yang masih terkaget-kaget tanpa pikir panjang mengiyakan kemauan bocah laki-laki yang mungkin baru berumur 6 tahun itu. “Ah, nde…” Kataku terbata-bata.

“Benar hyung…?” Matanya terlihat berbinar. Tapi bukannya berpose, bocah itu malah berlari kearah taman tempat anak-anak yang lain berkumpul. “Teman-teman… aku mau di foto lho… kalian mau ikut tidak” Teriaknya pada teman-temannya.

Tidak sampai 5 detik, kerumunan anak di tengah taman itu kini berpindah ke hadapanku yang berdiri di pinggir. Anak-anak itu merengek minta di foto juga.

“Ah nde, hyung akan memotret kalian. Tapi coba berbaris yang rapi yaa…” Kataku canggung.

“Noona… ayo sini, ikut di foto juga yaa…” Suara cempreng seorang gadis cilik mengagetkanku. Saat aku melirik ke arah suara itu berasal, seorang gadis yang wajahnya sudah sangat melekat di kepalaku sedang berdiri sambil memasang tampang heran.

Setelah sedikit basa-basi, kami memulai sesi pemotretan (?). Mereka melakukan banyak pose lucu yang membuatku menahan tawa saat akan mengambil gambarnya. Dan Ahra, ia tampak mempesona dengan semua ekspresi yang ia tunjukan.

<><><>

Setelah hari itu, hampir setiap hari aku mengunjungi panti dengan membawa makanan untuk anak-anak itu dan juga SLR kesayanganku untuk mengabadikan setiap moment kebersamaan kami. Aku tidak menyangka kalau mereka akan menyambutku dengan baik. Mereka tidak canggung untuk bermain bersamaku. Begitu juga Ahra, kami mulai dekat. Meski jujur saja, setiap dekat dengannya aku masih sering salah tingkah.

<><><>

Senyum ini tak pernah pudar dari bibirku setiap kali aku memandangi semua hasil bidikan lensa kameraku.

“Kau sudah menentukan foto yang akan kau ikutsertakan dalam perlombaan?” Baekhyun dan teman baruku, Sehun, menghampiriku yang sedang asyik dengan kameraku.

“Emh… Belum. Dan sepertinya aku batal mengikuti lomba itu.” Kataku.

“Lho? Kenapa? Apa karena kau belum mendapatkan foto yang bagus yang sesuai dengan temanya? Emh… Apa itu???” Tanya Baehyun.

“The Real Beauty.” Sahut Sehun.

“Ah ya, ‘The Real Beauty’, Apa benar karena itu?”Tanya Baekhyun lagi.

Kali ini aku tidak menghiraukan pertanyaannya. Aku hanya tersenyum sambil berkata dalam hati, ‘bukan begitu teman,justru karena aku sudah menemukan foto terbaik yang pernah aku dapatkan. Dan ‘The Real Beauty’ itu, aku benar-benar sudah menemukannya.’

<><><>

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Acara digelar dengan begitu meriah. Semua penghuni sekolah mengambil bagian untuk memeriahkan acara dari mulai panggung hiburan, bazaar makanan, juga pergelaran karya seni.

Acara semakin meriah karena pengunjungnya bukan hanya dari sekolah ini saja, tapi juga beberapa sekolah tetangga yang sengaja di undang ke acara tahunan kami ini.

Demi menghindari keramaian, aku berjalan mengelilingi aula tempat pameran foto yang di lombakan di gelar. Mataku menelusuri setiap foto yang tersusun rapi di dinding putih itu. Harusnya hasil karyaku ada di salah satu barisan foto-foto ini, namun aku tak menyesal, karena dengan begini hanya aku yang bisa menikmati ‘the real beauty’ yang sebenarnya.

Langkahku tiba-tiba terhenti saat aku mendapati sebuah foto yang rasanya tidak asing buatku. Foto berukuran 25×15 cm itu menunjukan sebuah situasi dimana terlihat beberapa orang anak yang sedang bermain di taman yang hijau. Diantara mereka juga ada seorang gadis. Mereka tertawa bersama sambil saling berpegangan tangan dan membuat lingkaran. Aku kenal orang-orang di foto itu. Itu Ahra dan anak-anak yang tinggal di panti. Dan aku juga mengenal foto itu. Itu hasil jepretan kameraku.

Disaat yang bersamaan, ternyata seorang siswi dari sekolah Gangnam juga sedang memperhatikan foto itu. Aku penasaran dengan orang yang tertarik dengan hasil karyaku. Tapi betapa terkejutnya aku saat menyadari siapa yang sedang berdiri di sampingku itu. “A… Ahra…?”

“D.O-ya… kau di panggil untuk naik ke atas panggung. Hasil fotomu menang di lomba foto tahun ini… ayo cepat…” Dengan mata yang masih tertancap pada gadis yang sedang mematung di depan fotoku, aku mengikuti langkah Baekhyun dan Sehun yang menyeretku naik ke atas panggung.

Ya, hasil fotoku memenangkan lomba kali ini. Setelah turun dari panggung, Baekhyun dan Sehun menyambutku dengan senyuman lebar.

“Ehehe… Mian D.O-ya… itu ide Sehun untuk mencuri fotomu dan memasukkannya ke perlombaan…” Jelas Baekhyun.

“Heuuu… Maaf chingu, tapi yang penting kau menang kan…” Tambah Sehun.

Mereka terus mengoceh sementara konsentrasiku masih tertinggal di aula sana, tempat baru saja aku melihat Ahra dengan seragam yang dikenakannya. Dari kejauhan aku melihat siluet orang yang baru saja ku pikirkan. Ahra.

Tanpa mempedulikan protes dari kedua kawanku, aku berlari mengejar gadis itu.

<><><>

“Emh… Aku tidak tahu kalau kau mengambil foto-foto waktu itu untuk di sertakan dalam perlombaan itu.” Katanya memecah keheningan diantara kami.

Saat ini kami sedang duduk di bangku taman belakang gedung sekolah yang nampak sepi karena hampir semua penghuni sekolah sedang sibuk di aula. Jadi kami benar-benar hanya berdua disini.

“Eung… memang bukan. Maksudku, awalnya memang iya. Tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak menyertakannya. Tapi temanku diam-diam mengirimkan salah satunya. Emh… Ku harap kau tidak marah padaku.” Kataku tertunduk.

Dia tidak menjawab. Matanya sibuk menatap ujung sepatunya yang memainkan rumput.

“Kau marah?” Tanyaku.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

“Lalu?” Tanyaku lagi.

“Tidak apa-apa. Tapi kalau boleh tahu, alasanmu waktu itu mengambil fotoku dan anak-anak itu apa?” Ia menoleh kearahku. Matanya menatapku lembut.

“Eung… Aku… Sebenarnya, aku suka melihat tawamu saat kau bermain dengan anak-anak itu di taman dulu.” Kepalaku semakin tertunduk.

“Di taman? Seingatku kami terakhir kali ke taman hampir 2 minggu yang lalu, tapi kan kita…” Kata-katanya terputus saat menyadari ada yang janggal.

“Ehehe… Sebenarnya aku memperhatikanmu sudah cukup lama. Hanya saja waktu itu aku kurang beruntung sampai-sampai bocah laki-laki itu memergokiku sedang memotret kalian. Atau… Sebenarnya aku beruntung karena hal itu membuatku bisa sedikit mengenalmu.” Kataku terus terang.

Ia hanya tersenyum simpul.

“Kenapa hanya tersenyum begitu? Kau kira aku bercanda. Aku serius. Aku sangat senang bisa duduk berdua denganmu seperti ini.” Ku beranikan diri untuk balik menatapnya yang kini sedang tersenyum padaku. “Dulu, saat pertama kali melihatmu di taman waktu itu, dan saat aku diam-diam mengambil fotomu, aku merasa kalau selamanya aku hanya bisa seperti itu. Diam-diam, dari kejauhan memperhatikanmu. Mengagumi kebaikanmu pada anak-anak itu.”

Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan sambil menatap langit. “Tapi sekarang…” Ku tegakkan badan dan menatap lurus ke dalam manik matanya. “Yang dulu ku kira hanya sekedar mimpi, semuanya jadi nyata. Aku bisa melihat senyummu dari jarak sedekat ini. Aku bisa merasakan sendiri ketulusanmu menyayangi anak-anak itu seperti saat kita bermain dengan mereka di panti asuhan waktu itu.”

“Dan itu juga yang membuat aku jatuh cinta padamu.” Kataku yang sontak membuatnya membulatkan mata tak percaya.

Aku tersenyum tipis. “Aku serius… Aku jatuh cinta padamu. Saranghae Jung Ahra.”

Ia mengangguk pelan. “Nado… saranghae…”

~END~

Author’s talk:

First of all… author persembahkan FF kali ini buat para reader yg diseries HMH yg di-main author-in sm aku (Inhi_Park) pada protes karena ceritanya kependekan… Nah, di Versi abang D.O-ku tersayang ini author panjangin deh tuh ceritanya… Apa? Masih ada yg protes??? Innalillahi… #author nangisdi pelukan Kai… hehe

Alright…Ini udah versi ke-9 yaa? Berarti tinggal 3 lagi yaa??

Hehe… buat yg BIAS-nya blm keluar juga, mohon sabar yaa… mungkin mereka di takdirkan untuk jadi final blow di FF series ini, jadi jgn pada kabur dulu yaa… n_n

Dan buat yg udah ngikutin FF ini dari mulai teaser sampe sekarang, author ga punya kata-kata lain selain makasih yg sebanyak-banyak-banyaknya…

Oh iya… karena kemaren author Kim udah promosiin twitter’y, sekarang giliran saya ya… buat yg mau kenalan lebih jauh (kl ada yg mau), silakan di follow @Inhi_Park… mari menjalin silaturahim… hehe

Dan satu lagi… di tunggu comment-nya…

Salam Authors n_n

63 pemikiran pada “Half of My Heart: D.O

  1. Thor, ini mah harus bilang WAW!
    Apalagi bias aku kan ♥Do Kyung Soo

    Coba aja kalo ahra itu aku :3 *mimpi kalee
    Tetep semangat yaa thor buat ff lainnya (ง’̀⌣’́)ง

Tinggalkan Balasan ke Kim Seo Ra Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s