Helping Kai (Chapter 1)

Author :  Vhanee_elf (@AllRiseSapphlre)
Genre : Romance
Rating : Teen
Length : Multichapter
Cast : Kim Jong In (Kai) , Cho Hye Rim (OC/YOU) , Other Cast

Miss Typo!!

__

Ada yang bilang, kalau usia hanyalah sebuah angka.

Mungkin itulah kepercayaan bagi beberapa orang.

Termaksud Kai.

Tapi bagiku.. usia adalah segalanya.

Dan Kai, tidak pantas bersanding dengan seorang Ajjhuma yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengajar. Songsaenim.

Cho Hye Rim

__

Braak!!!

Kai meninju papan mading yang dihalangi oleh kaca bening dengan keras. Beberapa siswa dan siswi melihat aksi Kai sambil sesekali berbisik dengan kawannya. Napas Kai naik turun dengan cepat seiring dengan emosinya yang sudah menguak. Dia sudah tidak tahan dengan ocehan dan perintah para songsaenim nya yang menyuruhnya untuk segera memutuskan hubungannya dengan Park In Jung, kekasihnya.

“apa yang salah dengan hubunganku dengan dia?!” suara berat Kai bertanya pada seorang pria tua berpenampilan layaknya seorang guru. Dia adalah Kim Wongeum (kepala sekolah), kepala sekolah Seoul Art High School. Kim wongeum  mendesah berat. Sementara In Jung masih menangis sesegukan dipelukan temannya, sesama guru sejarah.

“aku tanya apa yang salah dengan hubunganku dan In Jung Noona?!” teriak Kai membuat seluruh guru yang ada disitu melihat kearahnya.

“Noona?! Noona katamu?! Dia itu gurumu Kim Jong In haksaeng! Kau harus tahu diri”  bentak Kim wongeum dengan suara paraunya. Kai menatap Kepala sekolahnya dengan tatapan berontaknya.

“aboji, dia yeojachingu ku!” suara Kai membahana diseluruh sudut sekolah seolah mempertegas bahwa Park In Jung, guru Sejarah kelas 3 adalah kekasihnya.

Plaak!!!

Sebuah tamparan keras mendarat mulus dipipi Kai. Sontak seluruh mata yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa terkejut dan tak berani berbuat apa apa. Kim wongeum menampar pipi Kai dengan keras sehingga meninggalkan bekas kemerahan disana. Sepertinya ini masalah keluarga yang melibatkan banyak orang disekolah.

In Jung mencoba berjalan kearah Kai bermaksud untuk melihat keadaan Kai yang berantakan. Saat ini, tangan kiri Kiri Kai berdarah karena tancapan serpihan kaca yang masih menempel ditangannya akibat aksinya memukul papan mading tadi. Ditambah, sebuah tamparan keras dipipinya dan itu membuat In Jung khawatir.

“Park In Jung songsaenim” tegur Kim wongeum sebelum In Jung benar benar mendekat kearah Kai. Kim memberi isyarat untuk guru guru yang ada disitu untuk membawa In Jung segera menjauh dari Kai.

“siapa saja, bawa Kim Jong In ke UKS” ucap Kim wongeum sebelum dia sendiri bergegas meninggalkan tempat nya berdiri sekarang. Namun dia mengurungkan niatnya ketika melihat begitu banyak siswanya yang sedang berdiri mengerumuni Kai sekarang. Kim wongeum mengedarkan pandangannya sebentar.

“semuanya bubar!” kata Kim wongeum. Otomastis semua siswa yang berada disitu segera membubarkan diri dan memilih untuk melanjutkan acara gosip mereka didalam kelas. Tapi tidak dengan Hye Rim. Mungkin hanya dialah satu satunya siswa yang bertahan ditempatnya sekarang sambil menatap Kai iba.

“Kai-ah!!” panggil Hye Rim ketika Kai mulai mengambil langkah untuk pergi. Entah kemana arah tujuannya sekarang yang jelas, Kai merasa sangat kacau. Dan pikirannya bertambah kacau lagi ketika mendengar suara Hye Rim, satu satunya yeoja disekolah yang secara terang terangan mengaku menyukainya.

“hya, mau kemana?! Tanganmu luka kau harus segera ke UKS” tanya Hye Rim sambil menyentuh pundak Kai sebentar. Mereasa tidak direspon oleh Kai, Hye Rim berusaha menarik lengan Kai tapi tidak selangkahpun Kai berhenti. Malah ia berjalan makin cepat membuat Hye Rim kewalahan mengikutinya.

“ya~ banyak pecahan kaca tertancap di tanganmu..” ucap Hye Rim kaget setelah melihat begitu banyak pecahan kaca yang tertancap di punggung tangan Kai. Begitu pula darah yang mengalir disela sela jari Kai. Membuat Hye Rim sedikit bergidik karena tidak bisa membayangkan betapa perihnya tangan Kai sekarang.

Hye Rim mengentikan langkahnya yang mengikuti Kai. Spontan Ia membalikan badannya dan berlari berlawanan arah dari langkah Kai. Dia segera berbelok ke kanan di ujung koridor sekolah dan berlari dengan kecepatan penuh menuju UKS. Tak dipedulikannya beberapa siswa yang ditabraknya dengan keras. Baginya, untuk sampai ke UKS secepat mungkin adalah yang terpenting sekarang.

Begitu sampai di UKS, dengan napas yang terengah-engah Hye Rim segera mengambil sebuah kotak berwarna putih yang terletak diatas meja. Kotak P3K. Dan dengan segera, Hye Rim kembali berlari keluar UKS berniat untuk mengejar Kai yang sama sekali tidak terlihat.

Hye Rim tahu harus kemana. Meski Ia tak pernah sekelas dengan Kai, tapi bisa dibilang dirinya termaksud orang yang dekat dengan Kai. Ia sangat tahu tempat favorit Kai disekolah ini. Bukan taman belakang atau kantin. Tetapi Aula besar yang dialihkan menjadi gedung olahraga.

Hye Rim mengelus dadanya yang naik turun dengan cepat akibat aksinya yang berlari kencang dari UKS menuju gedung olahraga ini. Dilihatnya Kai yang duduk di tengah tribun kosong. Wajah Kai terlihat begitu marah. Ini adalah kali pertama Hye Rim melihat ekspresi wajah Kai yang begitu menyeramkan semenjak dirinya mengenal Kai 2 tahun lalu.

Dulu, Kai adalah orang yang begitu ceria. Bisa dibilang sedikit berandalan karena hobinya adalah berkelahi dengan siapapun yang memandangnya sebagai anak dari kepala sekolah Seoul Art High School. Entah kenapa, Kai tidak suka jika ada yang mengungkit atau menyinggung hubungan anak-Ayah antara dirinya dan kepala sekolah mereka.

Hye Rim berjalan perlahan menaiki tangga dimana Kai duduk sambil memandang kosong kearah yang berlawanan dengan Hye Rim. Tanpa diperintah, Hye Rim duduk disebelah Kai dan langsung mengecek keadaan tangan Kai.

“omo.. igeo appoyeo?!” tanya Hye Rim ketika melihat keadaan tangan Kai yang bisa dibilang lumayan parah. Kai tidak merespon. Pandangannya tetap kosong. Sepertinya Kai membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya sekarang, karena itu Hye Rim tidak berkata apa apa lagi dan memilih untuk memulai mengobati tangan Kai.

“CHO HYE RIM!! Kau harus jadi ajjhuma dulu sebelum mendekati Kai!” suara seorang Namja terdengar mengejek Hye Rim ketika Hye Rim mulai memilih apa saja yang bisa Ia gunakan untuk mengobati tangan Kai. Selang beberapa detik terdengar suara tawa dari beberapa siswa. Hye Rim memandang kesekeliling ruangan. Tak ada seorang pun. Nampaknya hanya siswa iseng yang sedang mengintip mereka sekarang. Biarlah, pikir Hye Rim. Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengambil pusing ejekan teman temannya.

“biarku lihat sebentar” ujar Hye Rim saraya memegang kembali tangan Kai yang tadi sempat dilepasnya. Kai tak melawan. Selain dirinya sudah tidak punya tenaga untuk marah marah lagi, dia juga membutuhkan pengobatan segera. Tangannya mulai merasakan perih efek dari kemarahan besarnya tadi.

“rasanya pasti sakit. Kau harus tahan, arachi?!” kata Hye  Rim beberapa saat sebelum Ia benar benar mulai mengobati tangan Kai. Di cabutnya satu persatu pecahan kaca yang menancap ditangan kai menggunakan sebuah alat berbentuk penjepit kecil. Dengan teliti dan hati hati, Hye Rim mencabutnya perlahan. Setelah selesai, Ia membersihkan darah ditangan Kai dengan lembut menggunakan tisu. Sapuan tangan Hye Rim begitu lembut membuat Kai tak merasa sakit sedikitpun. Kemudian Hye Rim mulai melilitkan perban ditangan Kai setelah Ia selesai memberi obat berwarna kemerahan ditangan Kai.

“selesai” ujar Hye Rim ketika Ia merasa benar benar menyelesaikan tugasnya. Diperhatikan tangan Kai yang kini terlilit perban putih. Dia sedikit kecewa dengan hasil kerjanya karena ikatan perbannya tidak begitu rapi. Tapi, dia tidak bisa mengulang lagi kerjaannya, karena Ia yakin, Kai akan kembali marah jika dirinya meminta untuk membuka lagi perban ditangannya.

“setelah ini, kelas kita olahraga bersama” kata Hye Rim berbasa basi setelah mereka terdiam cukup lama.

“kau tidak akan bolos kan?!” lanjut Hye Rim sambil menyimpan peralatan yang digunakannya untuk mengobati tangan Kai tadi. Kai tetap diam tak mau berbicara. Hye Rim menatap Kai sebentar kemudian mendesah berat.

“ya~ bicaralah sesuatu padaku..” bujuk Hye Rim dengan nada manjanya. Berharap kai meresponnya meski hanya sebuah bentakan atau desahan kecil tapi percuma, Hye Rim seolah berbicara dengan patung lunak yang berwujud Kai.

__

A View Days Later

Hye Rim terduduk lemas dibangkunya dengan kepalanya yang tertunduk diatas meja. Tak ada yang dilihatnya, hanya bayangan gelap meja yang berjarak 1 centi dari matanya. Tak ada pemandangan yang menarik dikelasnya. Ketika Ia membuka matanya dan mengadahkan kepalanya, berbagai macam lemparan gulungan kertas terbang diatas kepalanya. Beberapa teman yeojanya yang berkumpul dibelakang kelas tertawa terbahak-bahak seolah hanya merekalah yang ada dikelas ini. Sementara ini didepan, beberapa siswa namja sedang berkumpul menonton sesuatu dari  Tab salah satu temannya. Terkadang mereka menggeleng kagum melihat tontonan mereka. Hye Rim mendesah. Entah kenapa dia merasa sangat tidak nyaman berada dikelasnya sendiri. Ia ingin keluar, tapi Ia yakin keadaan diluar akan lebih liar dari pada didalam kelasnya.

“Cho Hye Rim! Park In Jung Songsaenim memanggilmu” tiba tiba sebuah suara cempreng menyebut nama Hye Rim membuat seluruh siswa dikelasnya menengok kearahnya. Huh, tidak perlu bersikap seperti itu kenapa?! Gerutu Hye Rim dalam hati. Tanpa menjawab, Hye Rim segera berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kelas.

Hye Rim berjalan gontai dengan wajah cemberut tertampang diwajahnya.

“ya, dia tidak dikantor. Dia disana” tegur orang yang tadi memanggil Hye Rin. Spontan, Hye Rim yang sudah berjalan 3 langkah dari pintu kelasnya membalikkan badan dan kembali berjalan sesuai arah yang ditunjuk oleh siswi yang bahkan Hye Rim tak tahu namanya itu.

In Jung songsaenim. Untuk apa dia memanggilku?! Apa nilai ulangan sejarahku jelek kemarin?! Ujar Hye Rim dalam hati mengingat bahwa kemarin dia tidak konsen mengisi lembaran jawabannya karena terus memikirkan Kai. Semenjak insiden beberapa hari lalu, Kai berubah menjadi orang yang pendiam. Biasanya Kai akan memarahinya jika Ia mendekati Kai ketika jam makan siang, tapi beberapa hari ini tidak. Kai hanya diam dan sama sekali tidak memandang kearah Hye Rim. Bahkan Kai tak pernah mengunjungi lapangan basket dekat rumah Hye Rim beberapa malam ini.

“Park In Jung songsaenim~” tegur Hye Rim ketika mendapati guru berperawakan tinggi itu sedang berdiri di ujung koridor yang sepi sambil menyandarkan tangannya di pagar pembatas. Gurunya itu membalikkan badannya dan tersenyum manis kearah Hye Rim. Mau tak mau, Hye Rim ikut tersenyum mengikuti jejak songsaenimnya itu.

“Hye Rim-ah~” ucap In Jung Songsaenim kepada Hye Rim. Perlahan Hye Rim mendekati gurunya itu dan berdiri disebelahnya. Hye Rim melihat kebawah dan didapatinya Kai sedang duduk seorang diri disebuah kursi panjang dekat taman sekolah mereka. Hye Rim tersenyum kecut. Pantas saja In Jung songsaenim mengajaknya bertemu disini. Rupanya dia sedang asik mengawasi Kai.

“waeyo saem?! Kenapa saem memanggilku kesini?!” tanya Hye Rim ketika mereka berdiam diri untuk beberapa saat. Hye Rim mengalihkan pandangannya kearah In Jung songsaenim.

“bisakah aku meminta tolong padamu?” tanya In Jung sembari mengumbar senyum diwajahnya.

“ah, Ye saem.. kenapa tidak boleh?!” sahut Hye Rim. Pikirnya, pasti Ia akan disuruh untuk memeriksa lembar jawaban teman sekelasnya seperti waktu itu. Atau mencarikan bahan di internet untuk pelajaran selanjutnya?! Hye Rim bukanlah siswa bodoh dikelasnya, tapi Ia juga bukan siswa dengan prestasi baik disekolahnya. Hye Rim hanya salah satu siswi yang menjadi andalan bagi beberapa guru disekolahnya.

“keundae.. aku memintanya secara pribadi” ujar In Jung pelan memebuat Hye Rim sedikit bingung.

“Ye??” tanya Hye Rim bingung.

“setelah kejadian kemarin..” In Jung menggantungkan kata katanya. Pandangannya kembali melihat kearah Kai yang sedari tadi hanya duduk tenang dibawah sana.

“aku sudah memutuskan untuk berhenti berhubungan dengan Kai” lanjut In Jung.

“saem..” suara Hye Rim terdengar ragu untuk memotong pembicaraan In Jung. Akhirnya Ia memutuskan untuk kembali diam dan mendengar In Jung kembali bercerita.

“kami… berbeda 16 tahun. Itu adalah alasan mengapa semua orang menentang hubungan kami, termaksud ayahnya” jelas In Jung menjedan pembicaraannya. Hye Rim tertunduk. 16 tahun?! Benarkah perbedaannya sejauh itu? Tentu saja semua orang menentang, terlebih lagi mereka adalah seorang guru dan murid, batin Hye Rim.

“aku sudah memikirkan ini secara matang. Maukan kau membantuku Hye Rim-ah?!” tanya In Jung akhirnya. Hye Rim terdiam memikirkan apa yang harus dilakukannya?! Apa yang harus dilakukannya untuk membantu gurunya ini?! Membantu Kai dan gurunya ini kawin lari?! Ah~ Hye Rim sampai harus menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menenangkan pikirannya.

“a..apa yang harus aku lakukan?!” tanya Hye Rim. In Jung tersenyum ramah khas seorang guru.

“kau.. menyukai Kai kan?!” tanya In Jung songsaenim membuat mata Hye Rim terbelalak.

“Ye?!” suara Hye Rim hampir meledak  dan jantungnya berdetak cepat. Akankah… In Jung songsaenim menamparku seperti di Film film? Pikir Hye Rim.

“kau adalah siswi yang tahun lalu berteriak ‘saranghaeyeo Kim Jong In’ ketika Kai sedang bertanding basket kan?” tanya In Jung pada Hye Rim.

“hh? Saem..” Hye Rim tergagap tak tahu mesti menjawab apa.

“kau juga yang mengatakan cinta pada Kai lewat Papan pengumuman kan?!” pertanyaan kedua In Jung sukses membuat Hye Rim kelabakan. Sungguh, Hye Rim seperti ingin lari saja dari tempatnya berdiri sekarang.

“saem.. mianhe.. aku benar benar tidak tahu kalau saem dan Kai..” kata Hye Rim memelas sambil menyatukan kedua telapak tangannya seolah meminta maaf.

“gwenchanayeo~” potong In Jung. Kemudian beberapa saat mereka terdiam. In Jung kembali sibuk memandangi Kai sementara Hye Rim berdiri dengan gelisah disebelahnya sambil memainkan kuku kuku panjangnya, tanda Ia sedang takut atau gugup.

“maukah kau membuat Kai melupakanku?!” tanya In Jung suatu ketika. Hye Rim kembali terkejut dengan pertanyaan songsaenim nya itu dan menatap gurunya dengan tatapan ‘apa kau bilang?’

In Jung mengalihkan pandangannya dari Kai dan menatap Hye Rim.

“mm? otteokhae?!” tanya Hye Rim.

“aku yakin kau punya cara sendiri untuk menaklukan Kai” sahut In Jung sambil tersenyum kearah Hye Rim. Hye Rim menelan ludahnya. Jadi.. maksudnya, In Jung songsaenim menyuruhku untuk membuat Kai melupakannya dan membuat Kai menjadi milikku? Batin Hye Rim. Bisakah?!

“saem.. aku.. ragu…” ujar Hye Rim terbata. Bagaimana bisa?! Lihat saja, selama mengenal Kai, Hye Rim selalu menunjukan bahwa Ia menyukai Kai secara terang terangan. Mengatakan cintanya entah sudah berapa kali kepada Kai. Di antara teman temannya, siapa sih yang tidak mengetahui perasaan sayang Hye Rim kepada Kai?! Semuanya jelas. Hye Rim menyukai Kai. Berbagai macam cara dilakukannya agar Kai mau menerimanya tapi percuma. Kai tetap tidak memandangnya. Belakangan, setelah hubungan Kai dan gurunya terkuak, perlahan Hye Rim mulai menyerah. Sedikit demi sedikit dirinya berusaha untuk mengikhlaskan hubungan Kai dan melupakannya. Tapi sekarang..? semua berjalan tidak sesuai rencananya.

“jebal.. aku meminta tolong padamu bukan karena Kau murid ku atau karena aku gurumu..” ujar In Jung membuyarkan lamunan Hye Rim yang sedang berpikir. Sesaat Hye Rim ingin menggelengkan kepalanya dan menolak permohonan gurunya. Tapi..

“aku meminta tolong padamu sebagai seseorang yang sama sama menyayangi Kai” lanjut In Jung. Dengan matanya yang berkaca kaca menatap Hye Rim.

______________________

CUT
______________________

Gyaaaa…. apa yang harus author katakan?!
FF ini… sebenarnya untuk Uri magnae Sehun. Tapi… wajah Sehun terlalu polos untuk dijadikan namja pecinta ajjhuma #jadi Kai mukanya seperti pecinta ajjhuma gitu?! #plaak!! Dihajar warga se-blog.
terus.. bagaimana FF nya?! Alurnya kecepatan?! Jelek?! Membingungkan?! Typo?! Ggg bagus?! Lanjut atau stop?!
ayo dong comment =D

18 pemikiran pada “Helping Kai (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s