A Reason to Stay (Chapter 3)

Author : ohyeahNP

Genre : Angst, Romance

Rating : PG 13

Main Cast : – Kim Jong In a.k.a Kai

– Jung Minhee (OC)

Support cast find by yourself.

Disclaimer : I only own the story and OC, not the cast. This story is 100% original from my idea. Kalau ada kesamaan alur dan unsur cerita mohon dimaafkan karena saya tidak tahu menahu ^^

Happy reading all~

——————————————————————————————————————————————

Darah dalam tubuh Minhee berdesir. Ia masih tercengang dengan fakta yang Eommanya katakan beberapa detik yang lalu. Nafasnya sedikit tercekat. Ia tidak yakin bila Eomma nya berbohong. Kalau berbohong kenapa sampai memesankan tiket segala? Dari jauh-jauh hari lagi.

“Kau tahu Minhee…Appa…dan Eomma akan bercerai secara resmi beberapa hari lagi. Dan Eomma memutuskan agar kau ikut Eomma saja pindah ke Jepang”.

Bercerai? Ah..aku tahu cepat atau lambat mereka akan bercerai. Tapi..haruskah secepat ini? Aku belum siap…

“EOMMA TIDAK PERNAH MEMBICARAKAN ITU PADAKU !!”, pekik Minhee dengan nada membentak. Perasaannya meluap-luap, campuran marah, kesal, menyesal, dan bersalah.

Minhee terbaring lemas di tempat tidurnya. Detak jantungnya mulai tidak teratur karena shock oleh berita tersebut. Dalam hati ia kesal sekesal kesalnya karena tak satu orang pun yang memberitahunya tentang ini.

“Minhee….Eomma benar benar minta maaf padamu. Eomma tahu selama ini kau merasa tertekan dengan keadaan di rumah. Tapi Eomma mohon, tak ada jalan lain lagi. Eomma lelah, tiap hari selalu bertengkar dengan Appa, belum lagi Eomma harus bekerja, mengurus kamu juga, melakukan pekerjaan rumah tangga. Eomma mohon mengertilah beban yang Eomma tanggung sekarang, Minhee. Kita harus memulai hidup baru”.

“Tapi bagaimana dengan sekolahku? Kenapa mendadak seperti ini? Dan apa Eomma tahu bagaimana rasanya punya keluarga yang berantakan seperti ini?!”, pekik Minhee untuk kedua kalinya. “Kenapa semua harus berimbas ke aku?”. Di acak acaknya rambutnya frustasi sambil menggigit bibir bawahnya. Tidak disangkanya akan secepat ini hal ini terjadi.  Tidak mungkin….

“Eomma sudah mengatur semuanya. Klien Eomma di Jepang bersedia membantu kita. Seharusnya kau bersyukur Minhee, masih ada yang mau membantu kita sementara Eomma mencari pekerjaan sampingan”, jelas Eommanya dengan suara melemah. “Dan soal perpisahan. Itu juga lah yang Eomma rasakan terhadap Appa mu. Coba kamu bayangkan begini. Mencintai seseorang selama dua puluh tahun dan membina hubungan rumah tangga dengannya kemudian dikaruniai seorang anak, dan tiba tiba kamu harus meninggalkannya karena ia tidak mencintaimu lagi, apa itu menyenangkan? Apa itu bisa membuatmu senang? Tidak kan?”.

Minhee terdiam mendengar penjelasan Eomma nya. Antara haru, kesal, dan menyesal, batinnya sedang bergolak kini. Ia sadar selama ini beban yang Eomma nya tanggung itu berat, dan dalam kurun waktu kurang lebih seminggu lagi Eomma nya tidak lagi bermarga Jung, dan resmi menjadi single parent. Ditariknya kembali semua pekikan pekikan yang ia layangkan pada Eommanya. Kini ia menyesal. Sungguh menyesal telah membentak Eomma nya. Bagaimana pun beliau adalah Eomma nya sendiri.

“M…maafkan aku Eomma”, akhirnya kata kata itu meluncur dari mulutnya.

“Itu bukan salahmu”, ujar Eommanya. “Eomma juga minta maaf belakangan ini jarang memperhatikanmu. Kau sudah tahu kan bagaimana kehidupan Eomma selama setahun ini?”.

“N..ne”, jawabnya singkat.

“Sebenarnya…Eomma tidak ingin semua ini terjadi—“

“Aku juga tidak ingin”.

“—tapi Eomma yakin dibalik ini ada sesuatu yang lebih baik yang menunggu kita. Semua masalah itu terjadi karena ada alasan. Yang jadi masalahnya kadang kita tidak sabar menunggu alasan dan balasan yang lebih baik dari itu, sehingga kita terjebak sendiri dalam masalah kita. Itu yang sangat Eomma hindari, Minhee. Eomma tidak ingin berlarut larut dalam masalah. Karena itulah, ketika Appa mu mengajukan surat cerai Eomma sadar bahwa jalan Eomma tidak di sini lagi. Eomma harus pindah ke jalan lain. Araseo?”.

Air mata Minhee mulai mengalir mendengar perkataan Eommanya. Ia tidak menyangka Eommanya memiliki personality yang benar benar di luar yang ia kira. Selama ini ia hanya acuh tak acuh saja dengan keadaan Eommanya. Mengingat hal itu Minhee merasa menjadi anak tidak tahu terimakasih. Ia pun beringsut di kasurnya sambil menutup wajahnya dengan tangan kirinya.

“Aku..mengerti Eomma”.

“Maafkan Eomma, Minhee. Eomma belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu”.

“Aku bersyukur sekali punya ibu seperti Eomma. Ibu terbaik di seluruh dunia”, ujar Minhee seraya menggigit bibir bawahnya. Air matanya masih terus mengalir.

“Minhee…”.

“Ne”.

“Baik-baik di rumah, dan jangan lupa tentang kepindahan kita. Tanggal 25 Juni kita meninggalkan Seoul, arraseo?”.

25 Juni? Tepat sehari sesudah ulangtahunnya. Minhee hanya menghela nafas.

“Aku tidak akan lupa”, kata Minhee. “Sampai jumpa Eomma”.

Minhee memutuskan sambungan telfon dan menghela nafas, berusaha mengontrol tangisnya. Ia mengusap air mata yang masih terdapat di pipinya dan berusaha tersenyum.

Memulai hidup baru…jauh lebih baik daripada aku tersiksa secara tidak langsung disini..

Tapi, keyakinannya mulai goyah ketika melihat wallpaper ponselnya.

“K..kai….”.

Minhee menatap potret dirinya dengan Kai di ponselnya. Foto yang di ambil dua hari yang lalu ini adalah foto mereka yang entah keberapa yang Minhee abadikan sejak pertemuan mereka tiga bulan yang lalu. Mengingat hal ini pertahanan diri Minhee mulai hancur di hantam oleh perasaannya sendiri. Perasaannya yang membingungkan dirinya sendiri. Ia tak ingin perasaan ini menguasai dirinya namun apadaya, ia tak bisa mengontrolnya begitu jauh.

“Kenapa perasaanku harus jatuh padamu, Kai?”.

~***~

Pintu rumah itu terbuka diiringi dengan munculnya sosok Kai di ambang pintu. Setelah ia masuk ke rumahnya, di tutupnya pintu rumah itu dan sosok kedua orangtuanya langsung memandang Kai dari ruang tengah.

“Masih sanggup menjadi trainee?”, tanya Appa nya dengan nada sedikit lain. Kai menelan ludahnya. Apalagi ini. Pikirnya.

Kemudian Kai berjalan melewati ruang tengah dan berniat untuk pergi menuju kamarnya, namun Eomma nya menyerahkan sebuah surat ke hadapan Kai.

“Apa ini?”, tanya Kai. Namun Eomma nya tidak menjawab. Lantas di bukanya amplop surat itu dan terkejut melihat logo sekolahnya di kepala surat. Di bacanya surat sepanjang dua halaman itu dengan saksama, karena tidak biasanya sekolah mengirimkan surat secara langsung begini ke rumahnya.

Nafas nya tertahan ketika ia membaca isi surat itu.

“Penurunan prestasi belajar?”, ujar Kai. Surat yang ditulis wali kelasnya itu menyatakan selama satu semester ini nilai Kai mengalami penurunan yang drastis, yang melemparnya jauh ke rangking terakhir. Sehubungan dengan hal itu, ia harus melengkapi semua tugasnya yang tidak dikerjakan selama semester ini. Hal ini perlu dipertanyakan karena biasanya nilai nya cenderung bagus, selalu menempati peringkat sepuluh besar. Dipandangnya kedua orangtuanya takut takut dan dilipatnya surat itu kembali.

“Tidak membuat tugas. Membolos beberapa kali. Nilai ulangan anjlok. Sama sekali tidak diharapkan”, ujar Eomma nya datar. Meski begitu Kai benar benar tau kalau Eomma kecewa dengannya. “Apa-apaan itu?”.

“Jongin…ini sudah tahun ketiga kau menjadi trainee, tapi baru semester ini prestasimu benar benar mengecewakan”. Appa nya menggeleng-gelengkan kepala. “Kau boleh mengejar mimpimu. Tapi jangan pernah sekali-kali melupakan sekolah. Apalagi sampai ada surat pemberitahuan begitu”.

“M..maaf, Eomma, Appa”, gumam Kai sambil menunduk. Ia paling takut bila berhadapan dengan orangtuanya. Sebisa mungkin ia selalu menuruti kata-kata orangtuanya karena mereka berdua lah yang paling ia takuti di dunia ini. Namun kali ini…Kai harus mengakui kalau ia mengecewakan kedua orangtuanya.

Eomma nya menghela nafas dan mengelus rambut putra satu-satunnya itu dengan lembut. “Eomma tidak mau tahu, pokoknya kerjakan semua tugas itu, perbaiki lagi nilaimu. Tidak ada tapi-tapian. Itu sudah menjadi kewajibanmu. Jadikanlah kedua kakakmu sebagai panutan…”.

Kai mengangguk-angguk. Tak berani ia memandang sorot mata kecewa dari Eomma nya. “Arraseo, akan ku kerjakan tugas-tugas itu secepatnya”, ujar Kai pelan.

“Yasudah, Eomma mengerti kau lelah. Tapi jangan lupa dengan kewajibanmu”.

“N..ne”, jawab Kai. “Aku..permisi dulu”.

Ia pun berjalan menaiki tangga dengan tergesa gesa. Eomma dan Appa nya hanya bisa saling pandang dan menghela nafas melihat kelakuan putra mereka satu-satunya itu.

Di kamarnya, Kai segera menghempaskan tas nya ke tempat tidur dan melirik jam. Sudah jam setengah sepuluh malam, sebenarnya waktu yang tepat untuk beristirahat. Namun ia merasa tidak punya cukup waktu lagi bahkan untuk bernafas. Di lepasnya jaket dan topinya, kemudian ia duduk di tepian tempat tidur. Di bacanya lagi surat itu dan melihat daftar tugas yang belum ia kerjakan dan harus ia kumpulkan sebelum hari pelengkapan nilai. Ia merasa lemas ketika melihat daftar sepanjang itu. Di setiap mata pelajaran ada setidaknya dua tugas yang belum ia kerjakan.

Di liriknya kalender meja yang tersampir rapi di atas meja belajarnya. 8 Juni. Berarti ia punya waktu sampai tanggal 16 Juni yang merupakan hari terakhir pelengkapan nilai. Dan tanggal penerimaan rapor adalah 24 Juni. Ini berarti waktunya benar benar singkat sekarang.

“24 Juni?”, gumamnya. Di kalendernya, tanggal itu dilingkari oleh spidol merah. Di bacanya tulisan tulisan yang ada di kalendernya itu dan seketika ia memukul kepalanya sendiri dengan kepalan tangannya.

“Ulang tahun Minhee….”, ujarnya. Di letakkannya kembali kalendernya di atas meja, kemudian ia duduk di atas bangku di dekat meja belajarnya. Ia belum memikirkan kado apa yang akan ia berikan pada Minhee. Padahal ulangtahunnya tinggal beberapa minggu lagi. Kai benar benar tidak ingin mengecewakan Minhee, ia bertekad untuk memberikan sebuah hadiah yang bisa membuat gadis pendiam itu berbinar binar. Dan ketika itulah ia baru sadar dalam dua minggu kedepan ia akan menjalani minggu tersibuk dalam bulan ini. Jadwal latihan ditingkatkan sehubungan dengan liburan kenaikan kelas, yang berarti tidak ada kegiatan sekolah.

“Argh, bagaimana ini?!”, kata Kai frustasi. Di gigitnya bibir bawahnya tanda ia gugup.

Memutuskan untuk memikirkan itu nanti saja, Kai segera mengambil buku-buku pelajarannya, dan ia memulai semuanya dari pelajaran matematika karena menurutnya itu yang paling mudah. Di lihatnya surat itu, dan ternyata benar, ada tiga tugas matematika yang belum dikerjakannya.

Baru setengah jam bekerja, benda kecil di atas meja itu tiba-tiba bergetar keras, membuat sang pemilik tersadar dari pekerjaannya dan melihat ke arah meja itu. Di hempaskannya pensil yang sedari tadi ia pegang, kemudian di ambilnya ponsel flip itu dengan kasar. Di lihatnya orang yang menelfon ke ponselnya dan ia membiarkan nafas beratnya meluncur.

“Maaf, tapi aku tidak punya waktu lagi. Bahkan untuk diriku sendiri”, gumam Kai sambil memandang layar ponselnya sampai si penelfon memutuskan hubungan. Kemudian dimatikannya ponselnya, dan melemparnya kembali ke meja. Di tekuninya lagi soal di hadapannya, memaksa otaknya bekerja. Kepalanya sudah pusing mengingat kemarin malam dan beberapa hari berturut turut sebelumnya ia hanya tidur selama tak lebih dari lima jam. Namun, Kai memaksakan dirinya untuk bekerja lebih keras demi menebus ketertinggalan prestasinya.

~***~

Minhee memandang layar ponselnya dengan tatapan kosong. Nomor hp Kai terpampang disana namun tak lagi ia berniat menelfon Kai. Untuk apalagi, ponselnya sudah mati. Ia menghela nafas dan menaruh ponselnya di balik bantal. Ia sangat ingin berbicara pada Kai dan memberitahunya tentang kepindahannya seminggu lagi, namun….

Mungkin dia sudah tidur… gumam Minhee sambil melirik jam. Masih jam sepuluh lewat. Tidak biasanya. Yang Minhee tahu Kai biasanya baru tidur lewat tengah malam. Namun Minhee menyerah, ia memilih berpikir positif saja—mungkin Kai sedang sibuk atau dia sedang tidak mau diganggu. Hidup sebagai seorang trainee dan seorang pelajar pasti melelahkan.

Dengan rasa yang masih mengganjal, Minhee memejamkan matanya dan berharap ia bisa tidur nyenyak sedangkan banyak masalah yang berputar putar di kepalanya.

~***~

15th June 2010. 09:54 KST.

Masih juga dipandanginya ponsel touch screen itu, berharap tiba tiba ponsel itu bergetar karena ada pesan atau panggilan masuk. Namun nihil. Seminggu sudah Minhee berusaha menghubungi Kai namun tak ada satupun pesannya yang dibalas, tak ada satupun telfonnya yang di angkat. Kali ini Minhee tidak bisa membohongi dirinya lagi, ia benar benar ingin berbicara dengan Kai dan merindukan suara Kai yang khas.

“Ponselmu tidak akan berubah sampai kapanpun kau memandanginya”.

Minhee menoleh ke sumber suara dan mendapati Soorin berdiri di ambang pintu kelas, tak jauh dari kursi aluminium tempat ia duduk sekarang. Ia pun memasukkan ponsel itu ke saku bajunya, sambil memandangi Soorin yang berjalan ke arahnya.

“Sudahlah, mungkin dia sibuk”, ujar Soorin. Gadis itu duduk di sebalah Minhee yang masih jelas terlihat kecewa.

Minhee hanya mengangguk-angguk. “Tapi..masa dia tidak pernah mengangkat telfon ku? Sesibuk itu kah dia?”.

“Mungkin saja kan? Kau tahu sendirilah, jadi trainee di SM itu tidak mudah. Melelahkan, malah jam latihannya terkesan tidak manusiawi”, jelas Soorin. Dipandangnya aula besar di depannya yang sudah ramai dimasuki oleh murid murid dan juga para orangtuanya. Hari ini hari penerimaan rapor jadi sekolah lebih ramai dari biasanya.

“Atau mungkin aku pernah berbuat salah dengannya?”, tanya Minhee pada dirinya sendiri. Soorin mengangkat bahunya.

“Ku rasa kau lah yang tahu”, balas Soorin. Minhee cuma bisa menghela nafasnya. Ia sendiri tidak tahu, seingatnya ia tidak pernah berbuat sesuatu yang fatal yang bisa mengakibatkan Kai marah.

Soorin memandang sahabat yang duduk di sebelahnya ini. Ia bisa membaca isi hati Minhee dari raut muka nya kini. Sorot mata Minhee yang kosong hanya tertuju pada lantai keramik abu abu di bawah kakinya, sudut sudut bibirnya menurun lebih rendah dari biasanya, dan bahunya yang biasanya tegap ikut menurun. Di tepuknya bahu Minhee beberapa kali menyebabkan rambut yang menutup sisi wajah Minhee tersibak. Minhee mendongkak dan mendapati Soorin tersenyum padanya.

“Ayolah, jangan frustasi begitu, Jung Minhee. Kita bisa cari tahu dimana rumah Kai, biar kita bisa mengunjunginya. Siapa tahu dia ada di rumah saat kita ke sana kan?”.

Minhee membulatkan matanya saat mendengar kata kata yang meluncur dari bibir tipis Soorin. “Yakin? Kemana kita akan mencari tahu?”.

“Hmm…”, gumam Soorin. “Kita punya Sehun, kau ingat?”.

Ah, ya, Minhee baru ingat kalau namja itu juga trainee yang merupakan teman Kai. Siapa tahu dia tahu dimana rumah Kai?

Secercah harapan muncul di hati Minhee. Akhirnya, akhirnya, akhirnya. Ia bisa menemui Kai. Seulas senyum kecil pun terbit di wajahnya.

“Ide bagus, Han Soorin”, puji Minhee. “Bisakah kita mencari tahu hari ini juga?”.

Soorin mengerucutkan bibirnya. “Entahlah. Hari ini hari Rabu. Mungkin jadwal latihan mereka padat. Kita bisa menelfonnya nanti malam”.

“Kita?”.

“Baiklah, kau yang menelfon Sehun”.

Minhee mengangguk semangat. “Oke, berikan nomornya padaku. Akan ku interogasi dia nanti malam”.

Soorin mengulurkan tangannya. “Berikan ponselmu padaku. Biar ku simpan nomornya”.

Dengan cepat Minhee merogoh saku bajunya dan menyerahkan ponsel touch screen itu pada Soorin. Jari jari Soorin pun menekan beberapa angka secara cepat kemudian menyimpannya di phonebook ponsel Minhee. Anak ini benar benar hafal dengan nomor Sehun..

“Ini. Biasanya dia baru sampai di rumah jam 9 sampai jam 10 malam”, jelas Soorin sambil menyodorkan kembali ponsel warna hitam itu kepada pemiliknya. Minhee mengerutkan keningnya heran. Anak ini benar benar tahu aktivitas Sehun..hafal nomor ponselnya juga….

“Kau tahu darimana?”, tanya Minhee.

“Tahu dari Sehun lah”, jawab Soorin santai. Minhee memandang sahabatnya itu dengan satu alis yang menaik, tanda ia curiga.

“Kau…punya hubungan apa dengan Sehun?”.

Soorin menunduk dan tertawa kecil. “Ani…kami hanya berteman kok”.

Minhee menatap Soorin dengan tatapan ingin menginterogasi. Soorin yang menyadarinya, langsung membelalakkan matanya bingung. “Apa? Mau bilang aku punya hubungan lain dengan Sehun? Kau sendiri kenapa begitu frustasi saat Kai tidak mengangkat telfon mu selama seminggu ini? Kenapa kau menyambut ide ku untuk mencaritahu rumah Kai dengan semangat? Kenapa? Pasti….”.

“Pasti apa?”, tanya Minhee balas menantang.

“Kau suka padanya kan? Mengakulah ! Saat aku melihatmu berbicara dengan Kai di halte waktu itu kau terlihat gugup sekali, tahu?”, serang Soorin langsung.

Minhee menelan ludahnya. Suka dengan Kai? Aku? Tidak usah ditanya lagi. Jawabannya pasti iya. batinnya.

“Tuh kan, kau cuma diam. Berarti memang iya”, ujar Soorin lagi, berusaha menggoda Minhee dengan senyumannya yang aneh.

“Lalu kalau iya memangnya kenapa?”, kata Minhee, tidak berniat mendebat Soorin lagi. Ia tahu Soorin akan mendesaknya terus menerus, setelah ia mengaku pasti Soorin baru diam. Soorin langsung tersenyum lebar mendengar pengakuan Minhee.

“Hahahahah, perkiraanku benar!”. Soorin tertawa saat mengatakan kalimat tadi, sedangkan Minhee hanya merengut saat rahasianya diketahui oleh Soorin.

Huh, puaskah kau Han Soorin, menertawakanku?!

“Hey, jangan merengut begitu. Biasa saja. Aku cuma tidak menyangka kau bisa suka dengan Kai, itu saja”, ujar Soorin sambil menyikut pinggang Minhee. Minhee memutar mutar bola matanya ke segala arah.

“Aku sendiri juga tidak menyangka kenapa aku bisa suka dengannya”, kata Minhee. “Sudahlah, jangan bicarakan itu, sebentar lagi juara juara dari tiap kelas akan diumumkan di aula”.

Minhee pun berdiri, yang langsung diikuti Soorin. Di rangkulnya Minhee yang sedikit lebih pendek darinya dan tersenyum. Mereka berjalan menyusuri koridor yang sedikit ramai.

“Aku sebenarnya belum puas mendengar jawabanmu”, ujar Soorin. Minhee hanya mendengus mendengar kata kata gadis berhidung mancung yang kini sedang merangkulnya.

“Lebih baik kita memikirkan siapa yang akan menguasai rangking tiga besar di kelas kita”, kata Minhee. Mereka pun berbelok ke kiri untuk masuk ke dalam aula dan mendengar pengumuman dari guru mereka.

~***~

15th June 2010. 23.13 KST.

Minhee merasa sangat lelah secara fisik dan perasaannya makin campur aduk setelah mendapat fakta baru dari berbicara dengan Sehun di telefon. Seperti saran Soorin, ia menelfon Sehun jam setengah sebelas malam. Awalnya Minhee hanya ingin menanyakan kabar Kai, namun berlanjut jadi obrolan panjang lebar selama setengah jam.

Ia lelah secara fisik karena beberapa hari ini ia tetap terjaga di tengah malam, hingga waktu tidurnya paling banyak hanya empat jam sehari. Minhee kira ia tidak mengantuk karena logis saja, bagaimana kau bisa tidur sementara otakmu masih dikelilingi oleh berbagai macam pikiran—baik positif maupun negatif—dan juga berbagai macam perasaan? Minhee menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena tiba-tiba kepalanya terasa sakit.

Dan kini, perasaannya makin bergolak karena mengetahui alasan Kai tidak mengangkat telfonnya sejak minggu lalu. Sibuk mengerjakan tugas yang benar benar menumpuk demi memperbaiki prestasinya yang benar benar anjlok, kemudian dilanjutkan dengan jadwal latihan yang semakin padat dengan jam yang ditambah, begitu yang Minhee simpulkan. Ia tidak menyangka sekaligus kasihan membayangkan Kai harus melakukan kegiatan sebanyak itu. Apa dia bahkan punya waktu untuk bernafas dan tidur? pikir Minhee.

Tiba-tiba Minhee mendapatkan sebuah ide dan ia segera menyambar ponselnya yang terletak tak jauh dari jangkauannya, kemudian jari-jarinya menekan huruf-huruf yang tertera di layar dengan cepat.

To : Sehun

Jebal, kirimkan aku alamat rumah Kai. Sekarang! Cepat!

Message sent.

Beberapa saat kemudian ponsel Minhee bergetar. Ada pesan masuk.

From : Sehun

Kau mau mengunjungi rumahnya? Hmm….

Di helanya nafas berat, kemudian Minhee mengetikkan balasan pesan tersebut.

To : Sehun

Iya, iya, cepatlah, jangan berbasa-basi Oh Sehun…..!

Beberapa menit setelah pesan Minhee terkirim, Sehun membalasnya dengan memberikan alamat rumah Kai selengkap-lengkapnya. Senyuman puas terukir di wajah Minhee. Ia sudah mendapat solusi masalahnya…namun tak tahu kapan harus menjalankannya.

24th June 2010. 15.20 KST.

“Kali ini saja, aku bakal mentraktirmu”, kata Minhee.

“Hahaha, dasar anak tujuh belas tahun”, ujar Soorin sambil menjulurkan lidahnya.

“Begitukah caramu mengucapkan selamat ulangtahun padaku?”, kata Minhee sedikit jengkel.

“Ani…aku cuma merasa awkward kalau aku mengucapkan selamat ulangtahun secara langsung begitu…”.

Minhee menghela nafas beratnya. “Terserahmu sajalah, Han Soorin”.

Bersamaan dengan itu, orderan mereka pun datang. Soorin langsung meminum softdrink nya, sementara Minhee mencomot sepotong pizza yang paling banyak toppingnya. Di makannya pizza itu sambil menyiapkan pengakuannya pada Soorin.

“Soorin…”.

“Ne?”.

“Jangan kaget ya kalau aku bilang….”.

“Kau baru divonis penyakit mematikan?”.

“Semacam itu….tapi lebih parah lagi”. Minhee mengambil sebuah macaroni yang terjatuh dari atas roti pizza dan memasukkannya ke dalam mulutnya. “Aku akan pindah ke Jepang”.

Soorin nyaris menyemburkan soft drink di dalam mulutnya ketika Minhee mengucapkan kata kata itu. Dipandanginya Minhee lekat-lekat, meminta penjelasan. Namun anak itu masih saja mengunyah pizza dengan santainya.

“Jangan bercanda, Jung Minhee”.

“Aku serius. Aku akan pindah tanggal 25”.

“Tanggal 25?!”, pekik Soorin, membuat beberapa orang pengunjung restoran pizza ini memandang ke arah mereka. Soorin mengabaikan hal itu. Ditatapnya kembali Minhee yang kini meminum orange juice nya dengan sedotan. “Besok?! Kau gila? Sejak kapan kau bisa bercanda sejauh ini?!”.

“Ck. Kalau tidak percaya….kau bisa ke kantor Eomma ku sekarang. Tanya padanya, apa betul besok kami akan pindah. Sekalian, kau bisa meminta untuk memperlihatkan tiket pesawat kami untuk besok”, tutur Minhee. Soorin tidak menemukan gurat kebohongan di mata Minhee. Ia menghela nafas, tak ada pilihan lain selain mempercayai ucapan Minhee.

“Kenapa mendadak begini, Minhee? Kau tidak memberitahunya padaku…”, ujar Soorin lirih.

“M..maaf, Soorin..tapi…”. Minhee terdiam lagi. “Kau tahu..? Orangtuaku sudah bercerai. Dan Appa beserta wanita lain itu akan menempati rumah kami. Jadi Eomma lagi lagi mengalah….dengan pindah ke Jepang, ke tempat kliennya yang ada disana…”.

Soorin lagi lagi dibuat terhenyak dengan ucapan Minhee. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu berbicara, “Ah, maaf….kau pasti masih sedih sekarang..”.

“A..aniyo, aku…”. Tak sanggup berbicara lagi, Minhee lebih memilih memakan pizza di hadapannya dengan cepat.

“Gwaenchana, Minhee, apapun yang terjadi kini, berarti itu adalah yang terbaik”, kata Soorin. Minhee hanya mengangguk-angguk setuju.

Tiba-tiba Minhee teringat akan sesuatu yang langsung menyadarkan otaknya, membuatnya menahan nafas selama beberapa detik. Bukan sesuatu tepatnya…tapi seseorang.

Namun ia memilih melanjutkan makannya dan membicarakannya nanti saja.

“Soorin, kurasa setelah ini kita harus pergi ke suatu tempat….”.

~***~

“Annyeong….kalian mencari siapa?”, sapa seorang wanita berusia setidaknya lima puluh tahun itu saat membuka pintu rumahnya.

“Joneun…Minhee imnida, dan dia Han Soorin. Kami…teman Kai dan ingin…”.

“Kai?”.

“Maksudnya Jongin”, ujar Soorin sebelum Minhee membuka mulut lagi. “Apa Jongin ada di rumah?”.

“Masuklah dulu”, kata wanita yang Minhee duga adalah Eomma nya Kai tersebut. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumahnya, tepatnya ke ruang tamunya, dengan suasana yang awkward. Lalu beliau berbicara lagi setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.

“Sebenarnya Jongin sedang sakit sekarang. Tapi kalian bisa menjenguknya, kebetulan teman sekelasnya, Sehun, sedang menjenguknya juga”.

“Ne? Sakit apa?”, tanya Minhee langsung.

“Dua hari ini ia demam karena kelelahan. Ya…sebagai seorang trainee mau tak mau tenaga nya terkuras terus tiap hari”, jelas Eomma nya kemudian menghela nafas. “Kalian bisa menemuinya di kamarnya di lantai dua”.

Minhee dan Soorin berpandangan kemudian mereka tersenyum. “Kamsahamnida, ahjumma”, ujar Minhee sebelum ia berdiri bersama Soorin. Mereka berjalan menyusuri tangga rumah milik keluarga Kim itu dengan harap-harap cemas. Minhee sedari tadi merasa gugup, entah kenapa. Padahal ia sudah biasa bertemu dengan Kai.

Sesampainya di depan pintu kamar Kai yang dibiarkan seperempat terbuka, Minhee menarik nafas dan mendorong pintu tersebut sampai sepenuhnya terbuka. Soorin berdiri di belakang Minhee yang kini tengah berdiri mematung.

“Minhee?”.

Gadis itu tersenyum samar. Di lihatnya Kai dan Sehun sedang duduk di tepi tempat tidur Kai. Tatapan mata Kai lesu, tidak memancarkan semangat seperti yang biasa Minhee lihat. Namun Kai tetap tersenyum saat melihat Minhee di ambang pintu. Ia pun berjalan ke arah Kai seraya menenangkan debaran jantungnya yang tidak teratur.

“Kau tidak terlihat baik-baik saja”, ujar Minhee bersamaan ketika ia duduk di sebelah kiri Kai. Di tempelkannya punggung tangannya ke kening Kai. “Aigoo, panas sekali ! Kau sudah minum obat?”.

“B..baru tadi siang”, jawabnya lemah. Minhee mengangguk-angguk. Sementara itu Sehun bangkit dan membisikkan sesuatu ke Soorin yang kini sedang bersandar di dinding dekat pintu kamar Kai. Soorin pun mengangguk dan mereka berdua meninggalkan kamar Kai.

“Hey tunggu ! Kalian mau kemana?!”, seru Minhee ketika pintu kamar Kai sedang ditutup oleh Sehun. Namun seruannya itu hanya digubris dengan pintu yang sedikit terbanting dan tertutup. Minhee menghela nafas.

“Hm..Minhee…”.

“Y-ya?”. Jujur saja ia benar benar gugup sekarang, hingga ia terbata bata saat menjawab panggilan Kai.

“Maaf kalau beberapa minggu ini aku tidak mengangkat telfonmu…aku sangat sibuk dengan tugas sekolahku, juga dengan kegiatan latihan yang semakin ditambah jam nya beberapa hari ini”, jelasnya, kemudian ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Minhee mengambil kesimpulan kalau Kai yang berada di hadapannya kini merasa bersalah.

“Tidak apa-apa, aku mengerti. Seharusnya aku yang minta maaf karena aku mengganggumu”. Minhee terpaksa berbohong. Dalam hati ia sudah menjerit karena benar benar rindu dengan sosok seorang Kai, namun melihat Kai yang merasa bersalah seperti itu ia malah mengutarakan hal yang terbalik dengan kondisi hatinya.

“Kurasa…aku ingat sesuatu”. Seulas senyuman muncul di wajah Kai saat ia mengatakan hal ini. “Selamat ulangtahun, Minhee”.

Deg. Nafas nya seperti tercekat ketika mendengar kata Kai barusan. Kai mengingat ulangtahunnya….Minhee bahkan tidak menyangka Kai akan mengucapkan selamat ulangtahun padanya. Minhee pun speechless.

“Maaf kalau aku belum bisa memberi hadiah secara nyata padamu. Aku janji, suatu saat aku akan memberi apa yang kau mau. Tapi saat ini…aku hanya bisa memberikan doa ku sebagai hadiah ulangtahunmu”, katanya, lalu ia tersenyum sambil mengusap usap punggung Minhee.

Minhee menggigit bibir bawahnya. Inilah hari terakhirnya bertemu dengan Kai. Sebenarnya ia begitu ingin menghabiskan waktu seharian dengan Kai sebagai hadiah ulangtahunnya tapi…..

“Maaf…aku benar benar minta maaf….”, ujar Kai lagi. Nada penyesalan tergambar jelas dari ucapannya.

Setitik air mata mulai muncul di sudut mata Minhee, namun segera ditundukkannya kepalanya dan mengusap air mata itu agar tidak meluncur lebih jauh. “A..ani, tidak apa-apa. Kau tidak harus memberiku hadiah, cukup ucapan selamat ulangtahun dan doa darimu saja sudah cukup”, katanya dengan suara yang bergetar.

“Kenapa kau menangis?”, tanya Kai lemah. Ia benar benar bingung dengan keadaan Minhee kini.

Tanpa disangka-sangkanya, Minhee memeluk dirinya dengan erat, hingga tak ada jarak di antara tubuh mereka. Kai yang semakin dibuat bingung dengan perlakuan Minhee memilih tidak berkata apa-apa.

Minhee terus menggigit bibir bawahnya agar isakannya tidak keluar. Ia tidak ingin pergi, ia ingin selalu ada di sisi Kai sampai kapanpun ia bisa. Ia ingin seperti ini terus karena berada dalam pelukan Kai saja sudah bisa membuat dirinya senang. Namun apadaya…..tak semua yang diinginkannya bisa terwujud…

“Aku akan pergi. Mungkin aku tak akan kembali lagi”, jawab Minhee pelan. Ia benar benar  ingin menangis sekarang, namun ia masih kuat menahannya.

“Kemana? Dan kenapa?”.

Dilepaskannya pelukannya kepada Kai, kemudian sambil menunduk Minhee bercerita panjang lebar tentang perpisahan orangtuanya dan kepindahannya ke Jepang. Minhee pikir tak ada gunanya ia menyembunyikan ini semua dari Kai. Kai sontak terkejut ketika mengetahui besok adalah hari kepindahannya.

“Jangan bercanda. Besok kau akan pindah? Dan baru memberi tahu sekarang?!”, kata Kai menanggapi.

“Kau pikir aku sedang bercanda?!”, seru Minhee. Ia balas menatap Kai yang kini tengah melayangkan pandangan tajam ke arahnya.

“Kurasa itu saja yang harus ku bicarakan”, ujar nya. Ia pun berdiri dan berusaha berjalan menuju pintu, namun namja itu ikut berdiri, lalu menahannya dengan mencengkram lengan Minhee kuat. Di tatapnya kedua mata Minhee yang sudah mulai berkaca-kaca.

“Saranghae. Aku mencintaimu Jung Minhee”, bisik Kai tepat di depan telinga Minhee.

Seketika tubuh Minhee membeku. Rasanya seluruh oksigen ditarik keluar dari paru-parunya hingga nafasnya tercekat, hanya karena kata itu. Tak berani ia menengadah untuk menatap mata orang yang barusan mengatakan kata tersebut.

“Berjanjilah..untuk selalu mengingatku”, ucapnya lembut. Lagi lagi Minhee hanya mengangguk. Ia berkali kali bertanya pada dirinya, apakah ini mimpi atau bukan.

Namun jawabannya satu, ini adalah kenyataan.

“Jaga dirimu baik-baik disana”, kata Kai singkat. “Jadilah orang yang bisa membahagiakan orang orang di sekitarmu, dan jangan pernah mengecewakan mereka. Jangan pernah lupa pada apa yang pernah kau lakukan disini….”.

Minhee terdiam beberapa saat kemudian ia mengangguk. “Aku janji, pegang janjiku itu. Sebelum aku pergi boleh aku berbicara dulu?”, ujar Minhee pelan. Kai hanya mengangguk.

“Aku juga mencintaimu”, kata Minhee, masih dengan volume suara yang kecil.

Giliran Kai yang merasa tubuhnya membeku. Namun Minhee tetap melanjutkan kata-katanya.

“Kau tahu? Saat Eomma ku memberitahuku kalau kami akan pindah, kau lah yang pertama kali ku ingat. Saat itu aku baru sadar kalau perasaanku padamu bukan main-main. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan menghabiskan hari-hari terakhirku di Seoul denganmu waktu itu, karena aku sadar kau salah satu orang yang berharga dalam hidupku. Dan kini, di waktu ku yang hampir habis ini, aku baru tahu kalau kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku merasa semakin berat untuk meninggalkan kota ini…kau tahu, itu semua karenamu. Karena segala hal tentangmu itu tidak mudah untuk dilupakan…..Kalau aku bisa memilih untuk tetap tinggal disini, aku akan memilihnya. Tapi aku tidak bisa…tidak bisa…”.

Tangisannya tak dapat di bendung lagi. Minhee berkali kali mengusap air matanya dengan punggung tangannya seakan dengan begitu air matanya bisa berhenti mengalir, tapi tidak. Hatinya membangkang, membuat air matanya malah mengalir semakin deras.

“Sisi baiknya, aku merasa beruntung bisa dipertemukan denganmu”, kata Minhee. “Meski waktu pertemuan kita singkat, aku tetap saja merasa beruntung. Orang yang berhati benar benar tulus sepertimu jarang ada di dunia ini”. Minhee berusaha mengembangkan senyumannya meskipun sulit. Hatinya telah remuk. Sakit. “Terimakasih sudah membuatku merasa berharga”.

Kai hanya terdiam dan matanya tertuju pada lantai di bawahnya. Ia ingin terus mendampingi Minhee…memberinya semangat setiap ia terjatuh…menjadi alasan di balik senyumannya…dan tentu saja, ia ingin terus mencintai gadis ini. Namun kini Minhee harus pergi darinya.

Ditariknya Minhee mendekat ke arah dirinya, dan sejurus kemudian didaratkannya ciuman di puncak kepala Minhee. Tentu saja Minhee kaget bukan main dengan perbuatan Kai barusan. Wajahnya mulai memanas.

“Kau hanya pergi untuk sementara kan? Bukan selamanya? Pasti ada kemungkinan kita bertemu lagi. Jangan khawatir. Kau bisa mempercayaiku”, ujar Kai sambil menggenggam kedua tangan Minhee erat. “Berdoa saja, mudah mudahan suatu saat kalau memang sudah jalannya….kita pasti bertemu lagi. Aku juga berat untuk membiarkanmu pergi…..karena aku punya alasan yang sama denganmu. Tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak”, jelasnya lagi. Kai berusaha menutupi rasa sakit yang kian menjalar di hatinya dengan berusaha tersenyum. Ia tidak ingin melihat Minhee lebih sedih lagi.

“Kai…”.

“Hm?”.

“Jangan ingat aku dengan pikiranmu. Ingatlah aku dengan hatimu”, kata Minhee lirih. “Kau bisa saja hilang ingatan, tapi kalau aku tersimpan di hatimu kau tak akan lupa”.

Kai lagi lagi tersenyum. “Aku janji untuk melakukan hal itu. Dan kau harus menaruh kepercayaanmu padaku…agar aku bisa menjaga janjiku. Jangan kecewakan aku, arra?”.

“Aku tidak akan mengecewakanmu”.

Perlahan Minhee melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kai yang hangat. Minhee pun beranjak dari tempatnya sekarang dan membuka kenop pintu. Saat tangannya sudah menggenggam kenop pintu, ia menoleh ke belakang. Melihat Kai untuk terakhir kalinya.

“Annyeong…aku pergi dulu”.

Di bukanya pintu kamar itu dan ia segera melangkah keluar. Saat ia berbalik untuk menutup pintu, ia melambaikan tangannya pada Kai sambil tersenyum. Namja itu membalas lambaian tangannya dan tersenyum tak kalah manisnya. Namun Minhee bisa melihat mata milik namja yang ia cintai itu mulai berkaca-kaca.

Tanpa terasa bulir air mata membasahi pipinya, namun secepat mungkin Minhee menghapusnya agar tidak ada yang curiga.

Hidup baru menantiku…Selamat tinggal Seoul, kota kenangan.

~***~

Minhee mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru bandara dari dalam restoran tempat ia makan sekarang.  Ia memilih duduk di sebelah dinding kaca restoran agar ia bisa mencari sosok yang telah berjanji untuk datang sekarang. Seraya memakan pancake nya, Minhee melihat ke arah jam. Sudah jam 10 dan ia baru sempat sarapan sekarang. Di liriknya Eomma nya yang sedang menelfon kliennya di Jepang, memberitahu kalau pesawat yang mereka naiki baru berangkat jam setengah dua belas lewat.

Tiba tiba ponsel Minhee bergetar, dan secepat kilat diambilnya benda itu dari saku celana jeans nya. Segera di angkat nya telfon dari Soorin itu.

“Yeoboss—“

“Kau dimana?”.

“Aku….”, ujar Minhee sambil melihat nama restoran ini. “Restoran Happy Lines. Terminal 3A”.

“Baiklah…tunggu aku sekitar tujuh menit lagi”.

Beep. Kemudian sambungan telfon diputuskan. Minhee menghabiskan pancakenya dengan dua kali memotong, kemudian meminum susu cokelat yang sudah mulai hilang kehangatannya dalam beberapa kali teguk.

“Eomma..aku akan menemui temanku dulu diluar”, kata Minhee sambil mengelap sisa minuman di sudut bibirnya.

“Pergilah, jangan lama-lama”, balas Eommanya. Minhee pun beranjak dari situ dan berjalan menuju pintu masuk restoran. Ia pun menunggu Soorin di samping escalator, sehingga kini ia berhadapan dengan dinding depan restoran.

“Sudah lama menunggu?”, sapa Soorin sambil menepuk pundak Minhee. Minhee menoleh dan mendapati sahabatnya itu sedang tersenyum ke arahnya. Dengan sweater putih serta topi baseball hitam, Soorin masih tampak cantik.

“Baru saja”, ujar Minhee.

“Maaf kemarin kami meninggalkan kalian berdua begitu saja. Kami ingin memberimu dan Kai privasi. Karena kami tahu kalau kau mencintai Kai…begitu pula dengannya”.

Minhee mengerutkan keningnya bingung.Rasanya ia tidak pernah cerita kalau Kai juga menyukainya.

“Kaget? Dia menceritakan itu pada Sehun. Sejak kau dan Kai bertemu, Sehun mengaku kalau Kai selalu membicarakanmu, dan Kai mengakui pada Sehun kalau dia menyukaimu”.

Minhee membulatkan bibirnya. “Oh begitu”, jawabnya singkat. Lagi-lagi ia teringat dengan Kai…dan nyaris saja ia menangis di depan Soorin.

“Oke tujuanku bukan ingin membuatmu menangis tapi…”. Soorin merogoh tas selempang kecilnya. Sebuah saputangan ungu kini berada di tangan kanannya, dan ia mengambil tangan Minhee kemudian meletakkan saputangan itu di tangan Minhee.

“Apa…maksudmu?”, tanya Minhee.

“Kau tahu kan itu benda apa?”, tanya Soorin sambil membenarkan letak topinya. Minhee mengangguk. Tentu saja Minhee tahu. Itu adalah benda kesayangan Soorin. Saputangan berwarna kesukaan Soorin itu diberikan oleh nenek Soorin—yang notabene adalah orang kesayangan Soorin—beberapa minggu sebelum neneknya meninggal, sekitar lima tahun yang lalu.

“Itu untukmu. Ambillah, aku ikhlas memberinya”.

“Kenapa? Inikan benda kesayanganmu!”, ujar Minhee.

“Supaya kau selalu ingat kalau aku pernah menjadi sahabatmu”, jelas Soorin. “Ada jahitan namaku di sudutnya. Kau pasti tidak akan lupa denganku”.

“Soorin…”. Minhee terenyuh dengan perbuatan Soorin. Di rangkulnya Soorin dan ia berkata, “Sekali sahabat, tak akan pernah jadi mantan sahabat. Kalau sekarang kau sahabatku, begitu pula sampai seterusnya. Arra?”.

Soorin perlahan mengangguk. Minhee segera memeluk sahabatnya itu dengan erat, mungkin untuk terakhir kalinya. “Jarak bukan masalah, Soorin. Kita tetap bisa bersahabat”.

Beberapa saat kemudian Soorin mulai terisak dan mengeratkan pelukannya pada Minhee. “Jung Minhee…baik-baik lah disana…jangan terlalu memendam perasaanmu, utarkanlah kalau memang mengganjal di hatimu. Itu akan membuatmu lebih baik, percayalah”.

Minhee merasakan matanya memanas, dan sesegera mungkin di hapusnya air matanya yang sudah sampai di ujung bulu mata nya. “Terimakasih, akan aku ingat itu. Kalau aku mengirim email padamu harus dibalas. Kau juga harus makan tiga kali sehari, bukan dua kali bahkan sekali”.

Soorin melepaskan pelukannya dari Minhee dan menghapus air matanya. “Aku tidak suka makan”, ujarnya. Minhee pun tersenyum dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.

“Memangnya Sehun mu itu mau melihat mu yang kurus kering begitu?”, canda Minhee. Wajah Soorin sedikit merona dan ia menundukkan kepalanya.

“Dia bukan Sehun ku !”, bantahnya. “Ah, ya, Sehun bilang dia ingin sekali bertemu denganmu untuk mengucapkan salam perpisahan…tapi dia lagi lagi sedang latihan”.

“Jinjja? Ah kalau begitu bilang padanya buat menghubungi aku nanti malam saja”, kata Minhee. Minhee melirik ke arah restoran Happy Lines yang dekat dengannya kini dan sosok Eommanya tampak sedang kerepotan membawa dua koper besar.

“Ah, maaf Soorin, aku harus pergi”, ujar Minhee. “Eomma ku sudah keluar dari restoran”.

“Ne. Selamat jalan Minhee. Hati-hati ya”.

Minhee hanya tersenyum membalas ucapan Soorin dan ia pun berjalan menjauhi Soorin. Soorin hanya terpaku menatap Minhee yang semakin jauh darinya, yang kini tengah membawa sebuah koper besar berwarna abu-abu tua. Minhee menoleh ke arah Soorin lagi dan ia melambaikan tangannya. Soorin membalasnya dengan tersenyum.

Sahabatnya telah pergi…tepatnya telah pindah, dan mungkin tak kembali….

~~TBC~~

Hai readers, masih ada kah yang menunggu ff ini?

Hahaha, maaf ya kelamaan ngelanjutinnya. Aku lagi berusaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik buat readers. Kalau ceritanya aneh, kepanjangan, atau segala macemnya, silakan kritik, aku gak larang kok ^^ Kritikan readers lah yg bikin aku semangat ngelanjutin FF ini.

So..tunggu apalagi (?) RCL nya ditunggu ya 🙂

Iklan

21 pemikiran pada “A Reason to Stay (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s