For You (Chapter 10)

Author: Nisha_gaem407

Main Cast: Baekhyun & Chanyeol

Genre: Romance/Friendship/School Life/Family

Hyerin tak bisa menahan dirinya untuk menggerutu kesal. Kesal karena gurunya menyuruhnya untuk mengangkat buku-buku tebal yang berjumlah sepuluh itu sendirian.

“Cih! Dasar tak punya hati! Semestinya ini pekerjaan lelaki.” Bukannya tak ikhlas, tapi ia tak terima seorang gadis sepertinya disuruh untuk membawa buku tebal sebanyak itu. Maksudnya, masih banyak murid lelaki bukan di sekolah ini? Tapi kenapa harus dirinya yang lewat saat itu yang malah mendapatkan tugas berat ini. Ya ya, berat memang baginya yang memiliki tubuh kecil dan pendek, membuat pandangannya sedikit terhalangi oleh buku-buku tebal itu.

Perpustakaan –tempat tujuannya masih sedikit jauh dan sesekali ia harus berhenti untuk memperbaiki letak buku-buku itu agar tak jatuh.

BRAK!

Ingin rasanya Hyerin berteriak karena buku-buku yang sudah susah payah dibawanya dengan hati-hati sekarang malah terjatuh berhamburan karena ulah seseorang yang menabraknya. Tentu saja plus dengan dirinya yang juga ikut jatuh terduduk.

Tapi sepertinya niat Hyerin untuk memaki orang yang menabraknya itu hilang karena melihat tangan orang itu yang terulur padanya –bermaksud membantunya berdiri. Ia mendongak, melihat siapa sang penabrak dan mendapati senyuman manis khas Park Chanyeol tertuju padanya.

“Mian Hyerin-ah… Aku sedang terburu-buru.” Hyerin hanya mengangguk sekenanya sambil membersihkan bagian belakang roknya yang sedikit kotor.

“Biar kubantu.” Chanyeol yang melihat Hyerin mulai berjongkok memunguti buku-buku yang dibawa oleh gadis itu ikut membantu. Bagaimanapun juga itu memang kesalahannya. Berkali-kali Hyerin mengatakan tak apa, tapi Chanyeol tetap bersi keras, sampai tangan mereka berpas-pasan saat akan memungut buku yang sama.

Keduanya terdiam, gerakan cepat saat memungut buku kini terhenti begitu saja. Dua pasang mata obsidian itu saling bertatapan seolah ingin menelusuri apa saja yang terkandung di dalamnya.

Perlahan tangan Chanyeol terangkat ke arah wajah gadis di depannya.

“O-oppa..”

“Ada sesuatu di pipimu.” Awalnya Hyerin mengira Chanyeol akan membersihkan sesuatu yang menempel di pipinya dengan jari-jarinya yang sekarang telah menempel di pipinya. Tapi ternyata dugaannya salah besar, karena justru wajah lelaki malah semakin dekat dengannya.

Hyerin tak bisa menahan wajahnya yang telah memerah sekarang. Ia hanya berharap Chanyeol tak terlalu memperhatikannya.

Huf… Satu tiupan dari Chanyeol di pipinya kini bukan cuma hanya membuat wajahnya semakin memerah, tapi membuat jantungnya berpacu beberapa kali lebih cepat dari biasanya dan juga membuatnya merinding.

Beberapa detik setelah itu, tak ada yang bergerak sama sekali. Keduanya sama-sama masih tetap mempertahankan posisinya masing-masing.

Tanpa satu hal yang mereka sadari, jika dilihat dari sudut manapun,  semua orang mungkin akan mengira jika mereka sedang berciuman. Begitu pula yang terlihat dimata Baekhyun dan Jiyeon.

***

“Jiyeon-ah…” Hyerin memutar arah duduknya ke samping kanan, dimana tempat Jiyeon duduk. Ia benar-benar tak mengerti dengan soal matematika yang diberikan oleh gurunya. Dan alih-alih bertanya pada sang guru, ia lebih memilih untuk bertanya pada temannya yang satu itu.

Yeah, Jiyeon memang tak bisa diremehkan dalam hal ini. Tak sama seperti dirinya yang memang lemah dalam soal hitung menghitung. Ia lebih memilih mengerjakan lima ratus soal bahasa inggris dibandingkan dengan sepuluh soal matematika.

“Aku sedang sibuk Hyerin-ah. Bertanya saja pada Lee seonsaengnim.”

Sungguh Hyerin ingin bertanya pada dunia seandainya dunia memang bisa menjawab, apa yang terjadi dengan temannya yang satu ini. Walaupun belum sampai sebulan mereka berteman, tapi ia sangat mengetahui bagaimana sifat temannya itu.

Kemarin-kemarin jika dirinya bertanya sesuatu kepada Jiyeon, pasti Jiyeon akan langsung mengajarinya sampai ia mengerti benar, tapi sekarang? Sangat kontras bukan?!

Ya sudahlah… Mungkin ia memang sedang tak ingin diganggu.’ Mencoba menjadi teman yang baik dan pengertian, Hyerin sebisa mungkin menghilangkan pikiran-pikiran negatif dari otaknya saat ini dan mencoba untuk berpikir sebaliknya.

Tapi ternyata sifat acuh Jiyeon padanya terus berlanjut sampai saat waktu belajar telah usai. Memang Jiyeon masih terus bersamanya, tapi gadis itu hanya akan menjawab sekadarnya jika ia bertanya tentang sesuatu untuk memancing pembicaraan.

Mungkin besok tak akan begini.

Untuk kedua kalinya pada hari yang sama, Hyerin benar-benar mencoba memikirkan hal-hal positif apapun yang membuat temannya bersikap lain seperti ini kepadanya.

***

Sebenarnya Baekhyun sama sekali tak ada niatan untuk berlatih basket bersama teman-teman clubnya hari ini, tapi bagaimanapun juga ia kapten dari club basket sekolahnya ini dan ia harus mencoba bersikap profesional. Selain itu ia juga sudah terlalu banyak absen dari latihan karena kegiatan osis dan pentas seni.

Tapi apa yang terjadi?

Ia hanya menatap bola basket yang berada di tangannya dengan tatapan kosong. Bayangan Hyerin dan Chanyeol berciuman di koridor sepi tadi masih terus terbayang-bayang dalam kepalanya, bahkan sekeras apapun ia memikirkan hal lain dan mencoba melupakan kejadian itu.  “Baekhyun-ah!” Salah seorang temannya yang bernama Suho kini telah berdiri di sampingnya, menepuk pundaknya pelan, yang seketika membuat dirinya tersadar jika ia sedang berada di tengah lapangan.

“Ada apa denganmu? Kau tak fokus hari ini.”

Ya, benar. Ia memang sedang tak fokus.

“Maaf teman-teman, aku harus pulang.” Sekeras mungkin ia ingin bersikap profesional, tapi dengan memikirkan kejadian tadi memang membuat sebagian otaknya seperti melelah tak bisa memikirkan apa-apa lagi selain hal itu.

Tanpa berkata apapun lagi, Baekhyun segera menyambar tasnya yang berada di kursi panjang pada sisi lapangan dan berjalan meninggalkan teman-temannya yang saat ini telah memasang wajah heran.

Tentu saja heran, mereka tak pernah sekalipun melihat kapten mereka yang tak fokus seperti ini.

Disatu sisi Baekhyun merasa bersalah telah mengacaukan latihan mereka hari ini, tapi ia juga tak bisa memungkiri jika pikirannya sedang blank dan tak berada dalam kondisi yang memungkinkan jika melanjutkan latihannya.

Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke atap gedung perusahaan ayahnya, tempat yang selalu dikunjunginya untuk menenangkan diri. Jika bisa, ia akan pulang selarut mungkin agar tak bertemu dengan Hyerin yang mungkin akan menunggunya pulang seperti biasa.

***

TING TONG

Lagi-lagi jam besar yang berada di sudut ruang tengah apartemen milik Baekhyun berdentang untuk kesekian kalinya, yang menunjukkan waktu semakin menjelang larut malam.

11.00

Jarum pendek pada jam itu telah menunjuk pada angka sebelas, tapi tak ada tanda-tanda pintu depan apartemen akan terbuka dan akan masuk Baekhyun dengan senyumannya seperti biasa. Yah…setidaknya itulah yang diharapkan Hyerin yang sekarang menunggu Baekhyun yang belum pulang.

Tak bisa dipungkiri perasaan cemas melingkupi dirinya saat ini. Ia hanya bisa berharap Baekhyun dalam keadaan baik-baik saja dimanapun lelaki itu berada.

Sempat kebingungan tadi ia disekolah saat akan pulang dan ia tak melihat mobil putih milik Baekhyun terparkir lagi di parkiran sekolah. Jadilah terpaksa ia harus pulang dengan berjalan kaki, sendiri. Sendiri karena tak ada yang menemani, mengingat Jiyeon yang acuh padanya dan langsung saja pulang meninggalkannya sendiri.

“Hoam…”

Sudah beberapa kali memang jam itu berdentang dan sudah beberapa kali pula Hyerin menguap, pertanda ia telah mengantuk. Matanya juga sudah terasa berat.

Diliriknya sekali lagi jam itu, “Baiklah, lima menit lagi.” Ya, lima menit lagi dan jika saja Baekhyun belum juga muncul, ia menyerah. Ia tak sanggup jika harus tidur larut malam.

….

….

Sudah tepat lima menit, keadaan masih sama.

Akhirnya Hyerin memutuskan untuk meninggalkan secarik memo yang ditempelnya pada gagang pintu kamar Baekhyun agar lebih mudah terlihat. Setelah selesai, ia lalu segera beranjak menuju kamarnya dan segera tidur terlelap memasuki alam mimpinya.

Sepertinya dewi fortuna berpihak pada Baekhyun dan tidak pada Hyerin, terbukti dengan Baekhyun yang datang tepat sepuluh menit Hyerin telah memasuki dunia mimpinya.

Bersyukur dalam hati Baekhyun begitu memasuki apartemennya dan tak mendapati Hyerin menunggunya. Setidaknya pikiran-pikiran tentang kejadian itu tak akan bertambah liar dengan tidak melihat Hyerin di sekitarnya.

Haruskah ia mencari cara agar tak bertemu dengan gadis itu esok nanti? Apakah dirinya sanggup?

Baru saja ia akan membuka pintu kamarnya dan menemukan secarik kertas tertempel pada gagang pintu. Ia sudah bisa menebak siapa yang menulis diatas kertas memo itu.

‘Bayi… Kalau kau lapar, panaskan saja makanan yang ada di meja makan.’

‘Maaf aku tak menunggumu pulang.’

Baekhyun mengakui ada sedikit perasaan senang yang membuncah dalam hatinya. Setidaknya ia tahu Hyerin memperhatikannya. Tapi sayang, rasa egoisnya tentang kejadian itu masih lebih besar beberapa kali lipat menutupi perasaan senangnya.

Sepertinya ia tak akan bisa menjawab dua pertanyaan diatas secara langsung. Dirinya sudah terlalu buta akan hal itu.

***

Waktu belum menunjukkan pukul 06.00 pagi dan Hyerin sudah terbalut rapi dalam seragam sekolahnya. Ia sengaja bangun lebih cepat karena membuat sarapan untuknya dan Baekhyun memerlukan waktu sampai tiga puluh menit. Tak mungkin bukan jika mereka terus saja memakan makanan instant yang notabene memang tak baik untuk kesehatan.

Awalnya wajahnya ceria, tapi setelah melihat makanan yang tadi malam sengaja ia masakkan untuk Baekhyun tak tersentuh sama sekali membuat wajahnya murung.

Aneh. Tak biasanya Baekhyun seperti ini.

Selama ia tinggal bersama dengan Baekhyun, lelaki itu selalu saja memakan apapun yang dimasakkan olehnya. Tak perduli jika makanan yang dimasak gosong, keasinan, atau apapun itu. Dan yang membuatnya lebih heran lagi, ia tahu, Baekhyun akan tetap memakan makanan yang ia masakkan seberapa kenyangpun ia setelah makan di tempat lain.

Dengan satu desahan berat, ‘Ya sudahlah… Mungkin ia memang lelah dan langsung beristirahat.

Beberapa menit berkutat di dalam dapur, akhirnya Hyerin telah selesai menyiapkan sarapan untuknya dan Baekhyun.

“Bayi…sarapan sudah siap.” Sedikit berteriak Hyerin memanggil Baekhyun agar suaranya di dengar.

“Bayi, kau tak mau sarapan huh?” Sudah berkali-kali ia memanggil, dan sudah berkali-kali pula ia merasa seperti diabaikan karena tak ada satupun jawaban yang diberikan, yang mengharuskannya berdiri di depan pintu kamar Baekhyun karena mungkin saja Baekhyun tak mendengar panggilannya.

“Bayi?!” Tak juga mendapat jawaban, akhirnya Hyerin berinisiatif untuk mencoba membuka pintu kamar Baekhyun yang beruntung baginya karena kamar itu tak terkunci.

Ia mengira akan mendapatkan Baekhyun yang masih tertidur di tempat tidur dengan imutnya, tapi ternyata tempat tidur yang berbalutkan seprai putih itu telah kosong dan rapi. Ia melirik ke arah kamar mandi, sepertinya juga tak terdengar ada tanda-tanda orang di dalamnya.

“Ia sudah pergi?” Sempat hal itu membuat Hyerin mengerutkan dahi heran. Tak pernah Baekhyun meninggalkannya dan pergi lebih dahulu ke sekolah seperti ini.

“Ya sudahlah.”

Akhirnya Hyerin memutuskan untuk sarapan seorang diri –tak seperti biasa yang selalu ada Baekhyun duduk makan bersamanya.

***

Hari demi hari berlalu dan sudah seminggu tepat Baekhyun mengabaikan Hyerin. Hyerin sungguh keheranan mengapa Baekhyun menjadi dingin kembali, bahkan lebih parah karena mengabaikannya.
Gadis itu tentu saja menyadarinya. Baekhyun akan selalu pergi ke sekolah lebih cepat dari biasanya dan akan selalu pulang larut malam ketika dirinya sudah tertidur.

Hyerin mengerti pentas seni sudah semakin dekat –tinggal sebulan lebih lagi, tapi itu bukan berarti mereka tak bisa bertegur sapa bukan?!

Ia tak mengingat jika dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal sehingga Baekhyun bersikap seperti itu.

Baekhyun terlihat seperti memang sengaja menjauhinya. Bahkan semua urusan pentas seni Baekhyun yang akan pergi menangani dan mengambil alih, walaupun sudah ada yang mengurusnya.
Beruntung ada Jiyeon yang menjadi salah satu panitia pensi yang selalu memberitahunya tentang apa yang dilakukan oleh Baekhyun, tentu saja dengan ia yang bertanya lebih dahulu.

Dan tentang Jiyeon, bersyukur temannya itu tak bersikap aneh lagi padanya. Mungkin memang benar dugaan Hyerin, saat itu Jiyeon lagi dalam keadaan mood yang buruk.

Sejujurnya, Hyerin sedikit mengkhawatirkan Baekhyun saat ini. Dimatanya, pola hidup Baekhyun selama seminggu ini terlihat tak normal. Ia tak tahu apakah Baekhyun diluar sana sudah makan atau tidak, karena makanan yang dimasakkan olehnya selalu tak tersentuh.

Selalu ia mencuri-curi pandang atau melihat Baekhyun dari kejauhan karena mereka tak pernah bertemu walaupun tinggal di apartemen yang sama. Bisa Hyerin lihat ada lingkaran hitam disekitar matanya, yang gadis itu yakini kalau Baekhyun memang sedikit kelelahan dan butuh tidur yang cukup.

“Hyerin-ah…”

Hyerin menoleh kaget begitu pundaknya disentuh pelan oleh seseorang dan mendapati Jiyeon telah duduk tepat disampingnya.
Alih-alih bertanya ada apa Jiyeon memanggilnya, Hyerin hanya tersenyum kecil.

Keheningan sempat menyelimuti mereka beberapa saat, membuat taman belakang sekolah yang sepi –dimana tempat mereka berada sekarang kini seperti tak ada tanda-tanda kehidupan, padahal ada mereka berdua disana. Ya, waktu istirahat seperti sekarang ini dimana semua siswa memang lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kantin sekolah.

“Hyerin-ah…” Akhirnya Jiyeon menyahut, memanggil Hyerin kembali.

“Ada apa?”

“Aku ingin bertanya… Bolehkah?”

“Tentu saja Yeon-ah.”

Jiyeon menarik nafas panjang sejenak sebelum masuk pada inti pembicaraannya, “Kau dan um… Chanyeol oppa pacaran?”

WHAT?!” Hyerin spontan berdiri dari tempat duduknya dan menatap Jiyeon dengan pandangan penuh tanya. Apa maksudnya? Ia tak mengerti.

“A-aku dan Baekhyun sunbae melihatmu berciuman dengannya.”

Lama Hyerin terdiam tak membalas. Pikirannya melayang pada kejadian seminggu yang lalu.
Satu persatu puzzle yang terpisah sekarang coba ia hubungkan. Mulai dari kejadian itu sendiri, sikap Jiyeon yang mengabaikannya pada waktu itu, dan sikap Baekhyun yang aneh. Apakah semuanya karena itu?

***

Jiyeon merasa begitu lega setelah mendengar penjelasan dari Hyerin. Semuanya telah diceritakan Hyerin padanya.

Mungkin sekarang perasaan lega bisa menyelimuti hatinya, tapi bagaimana dengan Baekhyun?! Jangan kira ia tak menyadari apa yang membuat Hyerin murung akhir-akhir ini. Dan ia yakin itu semua karena kesalah pahaman yang Baekhyun belum ketahui.

Ia tahu Baekhyun menyukai Hyerin. Semua bisa terlihat jelas dari pandangan mata kakak kelasnya itu ketika melihat insiden yang tak disengaja seminggu yang lalu. Sempat diliriknya Baekhyun saat itu, dan yang bisa ia cerna dari arti pandangannya adalah… kecemburuan dan kesakitan?!

Ya, kecemburuan dan kesakitan yang mungkin melebihi dari yang ia ketahui.

Jiyeon menoleh pada Hyerin yang berjalan diam di sampingnya. Sebenarnya ia ingin membuka pembicaraan untuk menutupi keheningan di antara mereka, tapi ekspresi pada wajah Hyerin seperti mengatakan bahwa ia tak ingin bicara saat ini. Jadilah Jiyeon sekarang ikut diam, dengan sesekali berdehem, berharap Hyerin akan membuka lebih dahulu pembicaraan. Tapi ternyata tidak sesuai yang diharapkannya. Semuanya sia-sia saja.

Selang beberapa menit mereka berjalan, samar-samar terdengar suaru ribut yang tak jelas.

Awalnya Jiyeon tak terlalu ambil pusing, tapi begitu matanya menangkap dimana hampir semua siswa siswi berkumpul di lapangan seperti sedang mengelilingi sesuatu. Ia mengernyitkan mata, ingin melihat lebih jelas ada apa.

Begitu kagetnya ia setelah melihat dari celah yang ada, siapa yang menjadi sumber dari semuanya.

“Hyerin-ah…”

“Ada apa Jiyeon-ah?” Hyerin hanya menoleh lemas pada Jiyeon. Sungguh ia benar-benar tak mempunyai mood berbicara saat ini.

“I-itu…Lihat itu!”

Hampir sama seperti Jiyeon, matanya juga membelalak kaget melihat apa yang terjadi dan siapa dalangnya.

Jika saja Jiyeon tak menariknya mendekat, ia mungkin masih diam. Dirinya terlalu kaget dengan semuanya.

Chanyeol dan Baekhyun berkelahi?

Ada masalah apa sebenarnya?

Baginya dunia sekarang benar-benar membingungkan.

Hyerin sungguh tak menyangka melihat Baekhyun yang seperti ini. Sungguh sangat berbeda. Kemana Baekhyun yang dulu? Baekhyun yang bersikap seperti bayi yang manja? Baekhyun yang selalu tersenyum dan ramah pada setiap orang?

Baekhyun yang ada di depannya bukanlah Baekhyun yang sebenarnya. Baekhyun tak akan memukuli seseorang sampai membabi buta seperti ini. Bahkan tak bisa dihentikan walaupun beberapa orang siswa telah menahannya.

“LEPASKAN AKU!”

BUGH

“BYUN BAEKHYUN! HENTIKAN!” Tanpa pikir panjang Hyerin mendekati keduanya. Lebih tepatnya berusaha menghentikan Baekhyun yang membabi buta memukuli Chanyeol yang herannya tak membalas sama sekali.

Jiyeon berusaha menarik tangan Hyerin agar gadis itu tak mendekat. Bukannya tak ingin perkelahian ini terus terjadi, tapi ia hanya tak mau terjadi sesuatu pada Hyerin.

Terlambat…..

Telah terlambat….

Pukulan yang akan didaratkan Baekhyun pada wajah Chanyeol malah mengenai wajah Hyerin.

Hyerin seketika merasakan dunianya berputar. Sempat didengarnya suara orang-orang memanggilnya namanya, sebelum semuanya gelap.

Sedangkan Baekhyun? Tubuhnya bergetar hebat melihat Hyerin yang telah jatuh pingsan akibat ulahnya sendiri. Kepalannya yang mengenai wajah Hyerin kini terhenti tepat di udara.

Beberapa detik semuanya masih diam, sampai dirinya tersadar Chanyeol telah menggendong Hyerin menuju arah kanan lapangan –membawanya ke klinik sekolah diikuti oleh Jiyeon.

Dengan satu tarikan nafas dalam, Baekhyun pergi meninggalkan kerumunan yang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Berjalan menuju kelasnya yang hanya berisikan beberapa orang. Ia yakin sebagian masih berada di lapangan, dimana baru saja ia membuat kekacauan.
Baekhyun kemudian mengambil tasnya yang berada di atas meja, lalu berjalan keluar kelas tanpa sepatah katapun.

Ia tak perduli jika semua menganggapnya kejam.

Ia tak perduli jika semua menganggapnya pengecut.

Yang ia butuhkan sekarang, sekali lagi hanyalah menenangkan diri.

To Be Continue

__________________________________________

Huwe… Maafkan author nggak jelas ini kalo ceritanya makin gaje =___=”

Ini awal supaya konfliknya satu persatu terkuak~~ #PLAK

Oh iya, gimanakah? Udah panjang? Ini udah author tambahin 700 kata lebih dari biasanya -__-“

Hehehehe…

Akhir kata…
.
.
Comment = Love

Iklan

74 pemikiran pada “For You (Chapter 10)

  1. mmm… ia udh lumayan lbih panjang ch ini, ,
    makasih… 🙂
    aduh ada apa itu ? knp Baek mukulin Yeol ?
    G tahan nahan cemburu ?
    atau kesel n emosi d masa lalu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s