See You (Chapter 1)

Author : Hyohyo (Lee Hyora)

Genre : Romance , Hurt

Rating : PG 13

Main Cast :

Byun Baekhyun ( EXO )

Choi Minah ( OC )

Cho Jino ( S.M The Ballad )

 

Other Cast :

Son Naeun ( A.Pink)

Cho Kyuhyun ( Super Junior )

Choi Minji ( OC )

 

= Prolog =

“Hei. Jangan sedih seperti itu. Masih banyak yeoja lain di dunia ini. Iya kan? Andai saja keadaanku tidak seperti ini. Aku akan berusaha membuatmu bahagia dan membawamu keluar dari tempatmu berpijak. Bagaimana agar dia mengerti perasaanku sekarang? Hei. Lihatlah aku. Aku tahu mungkin aku tidak bisa melakukan apapun. Tapi aku ingin berada disampingnya. Ingin. Sangat ingin. Dan berdoa untuk kebahagiannya.”

= Chapter 1 =

Minah Pov

“Saengil chukha hamnida, saengil chukha hamnida, saranghaeyo uri minah. Saengil chukha hamnida” ujar eomma dan appa .

Hari ini begitu spesial, eomma dan appa dengan khusus menyanyikan lagu dan bertepuk tangan seraya merayakan hari dimana usiaku bertambah hari ini.

“Gomawo. Appa Eomma” ujarku sambil menghapus air mata yang tak tahan ingin menetes keluar. T

iap tahun selalu seperti ini. Merayakan ulang tahun di tempat berbau obat-obatan yang sudah tak asing bagiku.

“Minah. Ada telfon dari Eonnimu” ujar appa menyerahkan ponselnya padaku. “Eonni. Eodinayo? Saengil chukha hamnida Eonni.” Ujarku pada seorang yeoja diseberang sana. “Saengil chukha hamnida saeng. Eonni baru saja pulang sekolah. Sebentar lagi sampai kok.” Jawab yeoja itu. “Arraseo. Aku akan menunggu eonni.” Jawabku, setelah itu ia menutup telfonnya.

Hari ini usiaku sudah 17 tahun. Tepatnya juga bertambah 1tahun sudah aku terperangkap di dalam ruangan ini. Ruangan dimana tempatku menetap selama ini. Ruangan yang selalu berbau obat-obatan dan suntikan yang bergeletakan dimana mana. Andai saja Jantungku tak lemah sejak lahir aku pasti bisa merasakan kehidupan sekolah bersama anak-anak lainnya juga merayakan ulang tahun bersama mereka. Sayangnya itu hanya angan-angan saja, jantungku sangat lemah dan itu sangat berdampak pada kondisi tubuhku.

Appa dan Eomma selalu melarangku keluar rumah untuk bermain sejak dahulu. Alasannya mereka takut sakitku kambuh dan takut akan kehilanganku. Mereka juga sering mengechek kesehatanku tiap hari ke rumah sakit. Dan saat usiaku 5 tahun, dampak sakit itu sangat terasa hingga membuatku sempat koma tak sadarkan diri selama berminggu-minggu. Eomma sangat takut saat aku tak sadar. Untung tuhan masih berbaik hati padaku, aku dapat bertahan hingga sekarang. Akhirnya Appa memutuskan untuk merawat tetap aku di rumah sakit ini sejak saat itu. Kurasa penyakitku ini sangat parah. Asal kalian tahu saja ini sangatlah berat. Semua kurelakan. Masa kecilku dan juga masa sekolahku.

Beda halnya dengan kakak kembarku. Choi Minji kembaran yg berusia sama denganku. Hanya saja dia lebih tua 3 detik dariku. Dia sehat-sehat saja dan tak menderita penyakit apapun. Eonni selalu menceritakan dunia luar padaku, dia juga mengajariku pelajaran yang dipelajari anak seusia kami. Eonni sangat baik. Eonni juga selalu menemaniku di rumah sakit. Rumah sakit ini sudah menjadi rumah kedua bagiku. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku berada dikamarku sendiri. Arrgh, aku jadi rindu suasana rumahku.

‘tok tok’. Suara pintu ruangan rawatku diketuk. “Masuk saja.” jawabku. “Uwaa. Saengil Chukha hamnida uri yeongsaeng.” Teriak Minji eonni begitu masuk dan dia langsung memelukku. Aku pun membalas pelukannya. “Eonni juga. Saengil Chukae.” Ujarku padanya. Dia pun duduk di samping kasurku. “Tak terasa usiamu sudah 17 tahun. Wah wah yeongsaengku sudah besar nih.” Ujarnya menggodaku.

Eonni memang tipe anak yang ceria, karena itu banyak orang merasa nyaman disisinya. Termasuk aku.

“Minah. Minji. Ini hadiah untuk kalian berdua” ujar Eomma .

Kemudian eomma menyodorkan dua kado yang dengan bungkus berbeda kepada kami berdua.

“Gomawo Eomma Appa.” Ujar kami kompakan.

Kami berdua pun langsung membukanya.

“Uwaa Mp3 player. Gomawo” ujar Minji Eonni senang.

Kira kira hadiahku apa ya? Aku pun segera membukanya.

“Kamera? Bagus sekali. Kamsahamnida” ujarku senang saat melihat isi kado yang ada ditanganku. “Appa sengaja membelikan kado yang berbeda. Karena Minji sudah mempunyai Kamera. Sedangkan Minah sudah Mempunyai Mp3. Kalian berdua sama. Eomma yang mengusulkan agar warna kamera dan Mp3 nya sama. Hitam digital” jelas appa pada kami.

“Ne Gwenchana Appa. Kamera ini bagus sekali. Aku suka” jawabku sambil memerhatikan kamera baruku. “Kami pergi dulu. Perusahaan tak ada yang mengurusnya nanti” pamit appa. Eomma pun memeluk kami berdua bergiliran dan pergi.

“Eonni. Apa eonni tidak lelah menemaniku? Sejak dulu setelah pulang sekolah Eonni pasti langsung datang kesini.” Ujarku pada minji eonni yang sedang mengupas buah apel.

“Mwo? Aku tidak mungkin lelah. Kau itu yongsaengku satu-satunya minah. Sampai kapanpun aku tak akan lelah untuk menemanimu.” Jawab minji eonni. “Kamsahamnida Eonni. Aku senang eonni menemaniku selama ini. Kalau tidak ada eonni disini sepi.” Ujarku. “Kau tidak perlu berterima kasih. Ini memang tugasku sebagai kakak. Aaa..” ujar minji eonni lalu menyuapiku dengan potongan apel. “Gomawo” ujarku dan menerima suapan itu.

“Sudahlah. Jangan hanya berterima kasih terus. Dengar, Kita ini saudara dan juga kembar. Bukan hanya wajah saja yang sama. Kita berdua itu sama seutuhnya, tak ada bedanya. Kalau kau sakit, maka aku juga akan merasakannya. Kau adalah aku.” jelas minji Eonni padaku. “Nee Eonni. Nado” jawabku membalasnya. Aku sangat bersyukur mempunyai Eonni sepertinya.

“Tok tok” suara pintu kamarku, sepertinya ada seseorang.

“Nuguseo? Masuk saja.” Jawab Minji Eonni. “Annyeong haseyo. Sekarang waktunya Nona Choi Minah chek kesehatan” ujar seorang perawat masuk dan menghampiriku, semua perawat yang merawatku sudah mengenal kami berdua.

“Oh nee.” Jawabku. “Gwenchana? Kau bisa bangun minah?” ujar Minji Eonni membantuku turun dari tempat tidur. “Aku bisa kok. Eonni tunggu sebentar ne? aku tidak akan lama.” jawabku. “Nee. Choi Minah Fighting!” ujar eonni menyemangatiku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan pergi.

(***)

Ruang Kesehatan , Rumah Sakit.

“Tekanan darahmu normal, Detak jantung juga normal, aliran darah juga. Hari ini kau sehat-sehat saja. Sepertinya kau banyak beristirahat minah sshi, itu bagus. Jangan terlalu banyak gerak.” Ujar dokter cho padaku. “Nee Arraseo” jawabku.

Dokter cho sangat baik dan dia adalah direktur utama rumah sakit ini, dia yang selalu menangani masalah jantungku dari dulu. Dia juga sudah sangat mengenalku.

“Dokter Cho Kyuhyun. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.” Lapor seorang perawat. “Ini kan masih jam praktik. Nuguseo?” Tanya dokter.

“Ini aku. Cho Jino.” ujar seorang namja menyerobot masuk kedalam ruang praktik.

“Ah, maaf Dokter. Tuan muda seenaknya saja masuk. Padahal saya sudah bilang kalau Dokter sedang ada pasien.” Jelas perawat itu. “Sudahlah. Biarkan saja” jawab dokter. “Kalau begitu saya permisi” pamit sang perawat dan ia pergi.

Ah, aku mengerti sekarang. Memang pernah aku mendengar rumor bahwa dokter cho mempunyai 2 anak. satu anak laki-laki. Aku belum pernah melihatnya tapi kurasa Sepertinya namja ini adalah orangnya.

“Cho Jino. Apa kau tak lihat sekarang appa sedang ada pasien?” ujar dokter cho sinis. “Jeongmal Mianhae Appa. Tapi ada yang harus kubicarakan mengenai Universitas pilihanku” ujarnya lalu duduk pada bangku yang terletak disampingku .

“Itu masalah nanti. Sekarang appa sedang sibuk. Iya kan minah sshi?” Tanya dokter cho padaku. “Eh? Nee.” ujarku gelagapan.

Aku bingung akan menjawab apa kalau tiba-tiba ditanya seperti ini.

“Ah, mianhae. Aku tidak menyadari ada kau sejak tadi” ujarnya lalu setengah membungkuk dan kembali duduk. “Gwenchana. Dokter, apakah pemeriksaan kesehatanku sudah selesai?” tanyaku. “Nee minah sshi” jawab dokter cho.

“Ah, namamu minah ya? Jangan jangan kau Choi Minah kan? Appa sering menceritakanmu. Katanya kau itu hebat, walapun sakit tetap bisa tersenyum dan tidak pernah menunjukan rasa sakitmu. Kau hebat minah sshi. Aku salut padamu” jelas namja itu dengan polosnya. “Ya! Anak sialan! Jangan bicara ember seperti itu!” ujar dokter cho menenjul kepala namja itu.

“Aku kan hanya menyampaikannya dengan benar. Eomma kan selalu mengajariku berkata jujur” jawab namja itu lagi. “Jeongmal mianhae minah sshi. Anakku ini memang terkadang otaknya tidak stabil” ujar dokter cho padaku. “Aniyo, gwenchana. Terima kasih atas pujiannya. Aku senang sekali.” Jawabku. “Salam kenal, namaku cho Jino. Umur 19 tahun, senang berkenalan denganmu” ujarnya. “Ne, Choi Minah imnida. 17 tahun” jawabku.

“Wah, aku lebih tua darimu. Berarti aku adalah oppa” ujarnya. “Ya Cho jino, bukannya dirumah kau juga adalah oppa? Ku lupa pada adikmu” sindir dokter cho.”Aniyo. aku ingat kok, mana mungkin aku lupa pada Nara. Yongsaengku.” jawabnya. “Maaf. Aku permisi dulu.” Pamitku lalu keluar dari ruangan itu. “Ah, nee.” jawab dokter Cho.

(***)

Syukurlah hari ini kondisiku baik-baik saja. Aku pun segera membuka pintu ruangan ini dan melangkahkan kakiku keluar.

“Nona Choi minah. Apakah pemeriksaannya sudah selesai?” Tanya seorang perawat padaku. “Ah, nee. Sudah dan hasilnya baik.” jawabku. “Mari saya antar kembali ke kamar anda.” Ujarnya lalu menuntunku ke arah lift. Tak lama kemudian pintu lift pun terbuka dan kami pun masuk.

“Oh, Annyeong haseyo Nona Son” sapa perawat yang mengantarku pada seorang yeoja di dalam lift. “Ne Annyeong” balas yeoja itu .

Dia lalu melihat ke arahku dan tersenyum. Aku pun membalas senyumannya. Saat pintu lift berada di lantai 2 terbuka yeoja itu pamit pada kami, sedangkan aku masih harus ke lantai 3 tempat ruanganku berada.

“Maaf. Aku ingin bertanya. Yeoja tadi itu siapa?” tanyaku pada perawat disampingku. “Itu nona Son. Son Na eun, adik salah seorang kepala perawat disini. Dia sukarelawan yang mengurus para orang tua disini.” jelas sang perawat. “Aku tak pernah melihat yeoja itu. Aku harap kami bisa berteman” jawabku. “Dia orangnya ramah dan baik. Jarang jarang orang pergi ke lantai 3. Wajar saja anda tidak pernah melihatnya.” Jawab perawat itu. “Oh, arrraseo” jawabku. Pintu lift pun terbuka dan perawat itu mengantarkanku ke kamarku.

(***)

Setelah mengantarkanku kembali, perawat itu pamit. Aku pun kembali naik di tempat tidurku dan duduk menselunjurkan kakiku.

“Otteo? Baik-baik saja kan?” Tanya minji eonni padaku. “Nee. Aku sangat bersyukur.” Jawabku. “Minah, ini sudah sore. Sepertinya eonni harus pulang. Gwenchana?” Tanya eonni padaku. “Ne eonni. Aku sudah biasa kok” jawabku. “Eonni pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saja eonni” pamitnya. “Nee, hati-hati di jalan eonni” ujarku. Minji eonni pun pergi.

Sepertinya minji eonni punya kepentingan sendiri. Setiap sore eonni pasti  pulang. Kata eomma eonni mengikuti kursus belajar, mangkanya kalau sudah sore ia sudah harus pulang. Jujur saja. Aku sangat kesepian. Kalau minji eonni sudah pulang maka hingga malam nanti ruangan ini akan sepi dan aku sendiri. Appa dan Eomma selalu mengurus perusahaan.

Dan aku tidak mau mengganggu waktu minji eonni saat malam hari. Cukup sudah aku menyita waktunya di siang hari.

“Ah. Ini kan sudah sore. Dia pasti sudah datang” gumamku girang sendiri.

Kemudian aku mengalihkan pandangan mataku pada jendela yang berada dekat dengan tempat tidurku.

“Omo, dia sudah datang” gumamku sambil tersenyum sendiri.

Sudah lama aku memerhatikannya. Namja yang selalu datang pada sore hari itu, dia juga selalu bermain dengan pasien anak-anak di taman belakang.

Pertama kali aku melihatnya saat tidak sengaja memandang pemandangan taman belakang rumah sakit yang terlihat jelas dari jendela ini. Dia selalu mengajak pasien anak-anak bermain ditaman itu. Kupikir saat itu dia kakak dari salah seorang pasien. Tetapi hari-hari berikutnya dia terus datang dan bermain-main dengan anak-anak lainnya. Kurasa dia adalah sukarelawan yang menghibur anak-anak yang sakit. Orang yang baik hati.

Entah kenapa aku jadi selalu memerhatikannya. Dan selalu menunggu sore hari untuk melihatnya. Aku yakin dia adalah orang yang hangat, karena aku selalu melihatmu tertawa dan penuh semangat. Benar karena aku selalu melihatmu. Mungkin ini yang disebut ‘suka’. Karena aku suka padamu. Walaupun hanya bisa melihatmu. Tapi karena aku suka, tetap saja aku merasa senang.

“Ah, dia tertawa” gumamku.

Aku pun langsung mengambil kamera yang diberikan padaku tadi. Dan memotretnya dari kejauhan.

“Dengan begini aku dapat melihatmu setiap saat” gumamku senang saat berhasil memotretnya.

Enak sekali mereka. Aku juga ingin ikut bermain ditaman itu. Tapi appa dan eomma tidak memperbolehkanku keluar. “Andai saja boleh. Sekali saja aku ingin berbicara dengan mu dan ingin tahu siapa namamu” gumamku sedih.

Taman ini selalu ramai saat sore hari. Dimana para pasien berkumpul seperti keluarga. Aku iri sekali melihatnya. Gwenchana, aku harus sabar, tidak boleh seperti itu. Aku terus mengarahkan kameraku ke arah namja itu. Sesekali aku merekamnya dari jauh. Tingkahnya lucu sekali, pantas anak-anak sangat menyukainya.

(***)

Hari hariku selalu seperti ini. Paginya Appa dan Eomm berkunjung. Siangnya Eonni menemaniku. Sorenya aku memandangmu dari kejauhan dan merasa senang dengan  hal seperti itu. Malam harinya aku hanya bisa bermain sendiri seperti menonton televisi ataupun belajar dari buku-buku yang dibelikan eonni untukku. Hal-hal seperti itu selalu terulang tiap harinya. Seperti film yang ditayangkan berulang kali.

Hari ini pun, aku memandangmu. Lagi lagi kau bermain bersama anak-anak, tapi aku suka itu. Seperti biasa, aku selalu merekam tingkah lakumu dari sini. Mungkin, memori kameraku penuh dengan foto dan videomu. Hari ini, aku menyadari sesuatu. Karena selalu memperhatikannya, aku jadi mengerti. Perasaan sesungguhnya yang ia sembunyikan. Mungkin, ini hanya perasaanku saja. Tetapi aku yakin dengan hal yang kulihat. Namja itu selalu berada di taman ini, karena yang ditatapnya saat itu dengan ekspresi wajah yang hangat, adalah Son Na Eun.

(TBC)

 

Annyeonghaseo exotic *bow. Ini pertama kalinya FF author di post karena itu saya selaku author ingin berterimakasih sebanyak – banyaknya pada admin yang sudah mau mempostkan FF saya ini. Jujur saya sendiri grogi karena itu mohon kerja samanya 🙂 . Sekian dari saya sampai jumpa di chapter selanjutnya 🙂 .

Iklan

26 pemikiran pada “See You (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s