Turn Back (Chapter 4)

Author : xoxo_baekhun

Cast’s :

EXO K’s – Byun BaekHyun

Shin HeeRa

Jung MiRae

Other Cast’s : Find it! Kekeke~

Genre : Romance, Marriage Life

Length: Series

***

-HeeRa POV-

“Uljjima” Ucapnya lirih

“Kajjima” Ucapku dengan sangat pelan

“Aku takkan meninggalkanmu. Saranghae”

“Nado saranghae”

-BaekHyun POV-

“Nado saranghae” Ucapnya sangat pelan sambil tetap memelukku erat

Aku boleh bernafas lega saat ini. Ya, setidaknya ia sudah tak marah lagi padaku.

“Baekhyun-ah” Panggilnya disela-sela pelukan hangat kami

“Ne?” Tanyaku lalu melepas pelukannya dan memegang pipinya dengan kedua tanganku, lalu menatap kedua bola matanya

“Aku tak suka dia ada disini!”

“Maksudmu MiRae?” Tanyaku pelan, berusaha menenangkannya

“Ne”

Aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya tersenyum memandang wajahnya, sambil sesekali mengelus pipi mulusnya.

“Kau tidak mau mengusirnya?” Tanyanya lagi serius, lalu melepaskan kedua tanganku dari pipinya

“Ani, bukan begitu. Aku hanya tidak bisa mengusirnya” Jelasku apa adanya

Ya, aku memang tak bisa mengusir seseorang, apalagi dia adalah MiRae, yang notabenenya adalah mantan kekasihku. Aku terlalu merasa tidak enak hati jika menyakiti hatinya lagi. Meskipun kini sudah ada HeeRa disampingku, entah mengapa aku tidak bisa mengusir MiRae begitu saja. Ia sudah berkorban banyak untukku, maka aku tak bisa mengecewakannya begitu saja.

“Mwo?” Tanya HeeRa kaget lalu sedikit mendorong bahuku

“WAE?!” Tanyanya marah

“Apa kau lebih senang jika wanita yang itu ada disisimu, hah?” Lanjutnya

“Aniyo!”

“Lalu kenapa kau tidak mau mengusirnya?!” Tanyanya lagi. Kini wajahnya sudah sangat marah

Aku berusaha menarik tubuhnya lagi, tapi percuma, karena kali ini HeeRa langsung mendorong kuat tubuhku.

“Apa kau mau aku pergi?” Tanyanya lirih

Aku langsung tersentak mendengar pertanyaannya. Hei, belum 10 menit kami berbaikan, tapi sekarang, kami malah bertengkar lagi.

“Jangan suka bicara sembarangan, HeeRa-ya. Kau tahu, aku tidak suka hal itu”

“Kalau kau tidak mau aku pergi, suruh wanita itu yang pergi!”

Aku hanya diam tak membalas perkataannya lagi. Aku sudah cukup lelah bertengkar dengannya. Aku memang salah, aku adalah seorang pecundang. Aku yang tak berani mengutarakan isi hatiku yang sebenarnya pada MiRae.

Kehidupan MiRae bisa dibilang berantakan, Orangtua nya tak pernah ada di rumah. Mereka terlalu sibuk mengurus kehidupan masing-masing, hingga tak sempat mengurus putrid semata wayang mereka sendiri.

Aku, sebagai orang terdekat MiRae saat ini tentu tidak bisa begitu saja mengusirnya. Aku sudah cukup tahu MiRae luar-dalam. Dia tipe wanita yang akan melakukan segala hal demi mendapatkan semua yang ia mau, termasuk jika hal itu menyakiti dirinya sendiri.

 

Hari demi hari, minggu demi minggu, hanya rutinitas seperti ini yang kulakukan jika sedang berada di apartemen. Ketika baru bangun tidur, yang kulihat terlebih dahulu adalah punggung HeeRa. Ya, ia memang sengaja memunggungiku sepanjang malam. Dan ketika aku ingin berangkat bekerja, yang kulihat adalah senyuman MiRae, bukan HeeRa. Dan begitu pula ketika malam hari aku baru pulang bekerja, jika tidak bertengkar dengan HeeRa, pasti HeeRa sudah tidur terlebih dahulu tanpa menyapaku.

 

-HeeRa POV-

‘Aku sudah tidak kuat lagi!’ Seruku dalam hati

“Lebih baik kita bercerai” Ucapku ketika melihatnya sedang menarik selimutnya

Ia tampak sedikit kaget, lalu membatalkan niatnya, dan duduk sehingga kini kami sudah berhadapan satu sama lain.

“Apa maksudmu?” Tanyanya menatapku

“Aku mau kita bercerai” Jelasku

“Aku tidak mau”

“Aku mau!” Bentakku

Kini BaekHyun tengah menarik tubuhku lalu menaruh wajahku di dadanya. Ia mencium singkat puncak kepalaku. Aku langsung berusaha mendorong tubuhnya, namun gagal. Tangannya terlalu kuat menahan tubuhku.

“Kuberitahu padamu. Perceraian bukan merupakan jalan keluar yang terbaik bagi sebuah pernikahan. Apalagi, kita termasuk dalam kategori pengantin baru. Jangan suka mengucapkan hal-hal yang tidak-tidak, HeeRa-ya”

“Apa ada seorang istri diluar sana yang rela membiarkan suaminya membagi hatinya dengan wanita lain?”

“Adakah seorang istri yang rela tinggal satu atap dengan mantan kekasih suaminya? Yang ternyata sampai saat ini masih menyimpan rasa terhadap suaminya?” Sambungku sedikit terisak

Aku sudah tidak sanggup menahan air mataku. Namun, aku tidak mau terlihat lemah di depan BaekHyun. Dengan segera kuhapus air mata yang membasahi pipiku.

“Apa kau mau aku menyakiti orang lain?” Tanyanya pelan

“Apa kau mau aku mengusirnya, lalu keesokan harinya ia sudah tak bernyawa?” Sambungnya lagi

“Apa maksudmu?” Tanyaku

“Umur MiRae memang sudah bisa dikategorikan kedalam umur dewasa, tapi tidak dengan kelakuannya, HeeRa-ya. Asal kau tahu, aku sudah pernah mencoba menyuruhnya pulang, tapi kau tahu apa yang ia katakan?”

BaekHyun menggantungkan kalimatnya, lalu menghela napas panjang.

“Ia tetap memaksa ingin tetap disini, HeeRa-ya. Aku tidak tega jika harus mengusirnya terus. Bagaimana pun aku orang yang paling dekat dengannya saat ini”

Aku diam tak menjawab pernyataannya. Otakku sibuk mencerna tiap kata yang keluar dari bibir BaekHyun. ‘Apa wanita itu sudah gila?’ Batinku

“Kau tetap harus memilih diantara kami, BaekHyun-ah. Aku tidak mau hidup selamanya, ditempat ini bersama dengan wanita itu. Aku tidak peduli apa yang akan dia lakukan”

“HeeRa-ya. Kau jangan seperti ini”

“Sudahlah. Besok aku akan pulang kerumah orangtuaku. Aku akan segera menguru perceraian kita!” Ucapku lalu membaringkan tubuhku dikasur, lalu memunggunginya lagi.

Bisa kudengar BaekHyun menghela napas panjang frustasi. Ia terdengar berdecak tak jelas. Sedari tadi, bisa kurasakan tidurnya sangat tidak nyenyak. Ia memutar-mutar tubuhnya tak karuan.

***

-MiRae POV-

“Ya, Shin HeeRa! Kuminta, tolong jangan lakukan hal-hal seperti ini”

Suara BaekHyun Oppa terdengar sangat jelas sampai ke kamarku. Aku pun segera keluar.

Betapa senangnya aku ketika kulihat HeeRa sudah berpakaian rapih dan membawa 2 koper besar miliknya. Aku pun tersenyum tipis kearahnya.

‘Rupanya bukan hal yang sulit untuk mengusirnya’

“Kau senang, hah?” Tanya HeeRa ketika pandangan kami bertemu

“Ne?” Tanyaku pura-pura tak tahu

“HeeRa-ya, aku mohon jangan membuat keributan di pagi hari” Ucap BaekHyun Oppa, sambil berusaha menahan tangan HeeRa agar tidak pergi

“Kau senang kan aku akhirnya menyerah dan pergi meninggalkanmu dengan BaekHyun disini? Kau senang kan, saat ini kau sudah bisa dengan leluasa memiliki BaekHyun?” Tanya HeeRa dengan nada yang cukup keras

‘Ternyata wanita ini cukup berani juga’ Pikirku

“Apa yang kau bicarakan, Shin HeeRa?!!” Kini BaekHyun Oppa membalas ucapannya sambil membentak

“Sudahlah, akan percuma saja menjelaskan ini semua pada orang-orang seperti kalian!”

“Minggir! Aku ingin pulang!” Bentaknya lagi

“Kau mau pulang kemana, HeeRa-ssi? Ini rumahmu” Ucapku pelan

Ia terlihat melihat kearahku sebentar lalu tersenyum sinis

“Aku takkan mau tinggal disini bersamamu, Jung MiRae-ssi”

“HeeRa!” Bentak BaekHyun Oppa

“Wae?!”

“Sudahlah, aku sudah muak melihatmu” Ucapnya lagi, lalu meninggalkan aku dan BaekHyun Oppa

BaekHyun Oppa tampak sangat gundah dan sedih. Kurasa air matanya akan segera keluar.

***

 

-HeeRa POV-

Hari ini aku tidak benar-benar memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuaku. Aku belum sanggup memberitahu mereka mengenai permasalahanku. Maka dari itu, aku memilih untuk tinggal di apartemen Hyemi yang berjarak cukup dekat dari pusat kota.

Beruntungnya aku memiliki sahabat seperti Hyemi. Ia tidak keberatan menampungku dalam beberapa hari kedepan.

“HeeRa-ya, kau yakin tidak mau makan?”

“Aniyo. Aku sedang berdiet. Kau tahu, entah kenapa perutku mulai membuncit. Sepertinya aku makan terlalu banyak akhir-akhir ini”

Ya, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku akhir-akhir ini. Perasaan aku makan seperti biasa, tapi kenapa perutku malah menjadi buncit?

“Aigoo.. Kau ini. Kalau begitu, aku makan saja sendiri”

Kurasakan tiba-tiba pandanganku buyar. Entah kenapa, kepalaku rasanya berat sekali. Aku berusaha menahan diriku agar tidak jatuh, tapi gagal.

“Arrghh” Teriakku sambil terus memegangi kepalaku

Hyemi, yang sedaritadi sedang menikmati makan malamnya langsung kaget dan berlari kearahku.

“Ya! HeeRa-ya, neo gweanchanna?” Tanya Hyemi menaruh kepalaku diatas pangkuannya

“Ah! Mollaseo. Kepalaku pusing sekali, HyeMi-ya” Jawabku terbata-bata

“Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Kajja” Ajak Hyemi sembari membantuku berdiri

***

-BaekHyun POV-

Aku dan MiRae langsung menuju rumah sakit ketika Appa HeeRa mengabariku bahwa HeeRa masuk rumah sakit. Sebenarnya aku tidak mau mengajak MiRae. Aku takut keadaan HeeRa akan semakin buruk jika bertemu dengan MiRae, tapi MiRae terus saja memaksaku hinga akhirnya aku meng’iya’kan permintaannya.

*At Hospital*

Aku langsung menuju ruangan VVIP nomor 2309 setelah bertanya pada suster bagian informasi. Aku merasa takut, sekaligus khawatir ketika mata Eomma HeeRa menatapku lalu memandang MiRae.

“BaekHyun-ah, ppali! Cepat kemari” Panggil Appa HeeRa sambil melambai kecil kearahku

Aku hanya memasang senyum terbaikku, lalu berjalan cepat kearah mereka. Sedangkan MiRae hanya mengekor dibelakangku.

Di depan ruangan, sudah ada Appa, Eomma, dan SeeRa, adik HeeRa. Serta satu wanita dengan rambut sebahu yang tampak taka sing bagiku, tapi.. aku lupa.

“Annyeong hasseyo, Aboji, Omonim, SeeRa-ya” Sapaku sambil membukuk sopan dan tersenyum

Mereka pun membalas sapaanku dan tersenyum.

“Annyeong hasseyo, sajangnim” Sapa wanita yang ada disebelah mertuaku

“Ne?” Tanyaku kaget dan bingung

“Ne, sajangnim. Aku salah satu karyawan di perusahaanmu, sekaligus sahabat HeeRa. Annyeong hasseyo” Jelasnya lalu membukuk sopan

“Ah, ye. Annyeong hasseyo” Balasku

“Ah! BaekHyun-ah, siapa wanita ini?” Tanya Omonim sambil melihat kearah MiRae

“MiRae Imnida. Jung MiRae” Jawab MiRae lalu membungkuk hormat

“Nae chingu?” Tanya Omonim lagi, tapi kali ini sambil menatapku

“Ne” Jawabku

Kami pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan dimana HeeRa berada. Wajah HeeRa terlihat sangat pucat. Ia menutup matanya, karena ia memang sedang tidur.

‘Apakah aku menyakitimu terlalu dalam, HeeRa-ya?’ Tanyaku dalam hati

“Maaf, boleh kutahu siapa suami dari pasien yang bernama Shin HeeRa?” Tanya dokter ketika masuk ke dalam ruangan

“Ne! Aku” Jawabku

“Oh. Cukkhaeyo. Istri anda kini tengah mengandung” Jelas dokter yang membuat semua orang di ruangan ini, termasuk diriku kaget bukan main

“Ne?” Tanyaku tak mengerti

“Ne, Tuan. Usia kandungan istri anda baru sekitar 2 minggu. Usia dimana para wanita biasa sangat sensitive. Sebaiknya, jangan berikan tekanan terlebih dahulu kepadanya, karena kurasa tubuhnya sangat lemah. Oh ya, kau juga harus memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsi oleh istrimu, agar baik untuk bayimu” Jelas dokter lalu tersenyum

“Ah, ye. Kamsahamnida” Ucapku

“Ne, baiklah. Aku keluar dulu. Kalau butuh apa-apa, tinggal panggil suster saja. Annyeong” Ucap dokter lalu pergi meninggalkan ruangan ini.

‘Hamil? HeeRa sedang hamil? Anakku? Aku? Akan menjadi seorang ayah?’  Tanyaku terus menerus dalam hati

“BaekHyun-ah, cukkhaeyo. Tak kusangka kau akan memberikan kami cucu secepat ini” Ucap Aboji lalu memelukku singkat

“Ne, BaekHyun-ah. Jinjja gomawoyo. Cukkhaeyo” Kini giliran Omonim yang memelukku

“Ne, Oppa. Cukkhaeyo!” Seru SeeRa bersemangat dari sebelah kasur tempat HeeRa tidur

“Ah, ye” Jawabku bingung

 

-MiRae POV-

MWO? Jadi selama ini usahaku untuk merebut BaekHyun Oppa percuma saja?! Jadi ternyata Oppa sudah ‘melakukannya’ dengan wanita itu. Dulu, ia pernah berjanji hanya akan melakukan itu denganku suatu saat nanti. Tapi apa buktinya?! Ia berbohong! Nappeun namja!

“Oppa…” Panggilku pelan, sangat pelan karena aku ingin sekali menangis saat ini

“MiRae-ssi. Lebih baik kita berbicara diluar. Kajja” Ajak sahabat MiRae lalu menarik pelan tanganku

Aku hanya mengikutinya, lalu kami berdua duduk di sofa tepat di luar ruangan.

Aku langsung menangis seketika. Tak kupedulikan sorotan mata sahabat HeeRa ini yang terlihat iba melihatku.

“Kau harus berusaha merelakan BaekHyun-ssi” Ucapnya di sela-sela isakanku

“Kau harus tahu, sekeras apapun kau berusaha memisahkan mereka, maka semakin sakit pula perasaan di dalam hatimu” Sambungnya lagi

“Tapi aku sangat mencintainya. Aku tak bisa hid—“

“Kalau kau benar-benar mencintainya, kau harus berusaha merelakannya bahagia bersama wanita yang ia cintai” Potongnya

‘Benar juga’ Batinku

“Mencintai bukan berarti harus memiliki, MiRae-ssi” Sambungnya lagi

“Aku harap kau bisa mengerti. Aku ingin kau menghargai privasi BaekHyun-ssi. Ia tak mungkin hidup bersama istrinya dan juga dirimu” Ucapnya lagi lalu mengusap pelan bahuku

‘Apa aku harus menyerah saat ini? Yang dikatakan wanita ini ada benarnya juga. Aku mulai sadar, sifatku sudah sangat kekanak-kanakan’ Batinku lalu menghapus air mata dipipiku.

***

-HeeRa POV-

Aku sudah mendengar berita mengenai kehamilanku dari Eomma ku. Ia tampak senang dan bahagia akan segera menimang cucu. Sedangkan aku? Aku merasa sangat takjub dan tak percaya.

“Annyeong hasseyo” Sapa BaekHyun ketika masuk ke dalam ruangan ini lalu tersenyum

Eomma ku langsung membalas senyumannya, sedangkan aku memilih untuk memalingkan tatapanku agar tak melihat wajahnya.

“Kau sudah datang rupanya. Kebetulan, Eomma sudah mau pulang karena ada urusan. Tolong kau jaga HeeRa baik-baik ya. Oh ya, kata dokter, siang ini HeeRa sudah bisa pulang. Kau jaga dia dan bayinya baik-baik ya” Ucap Eommaku

“Ne, omonim. Kau bisa mempercayaiku”

‘Mempercayainya? Cih!’ Batinku

“Ne, kalau begitu, Eomma pulang dulu ya. Annyeong HeeRa-ya, BaekHyun-ah”

“Ne” Jawabku pelan

“Hati-hati dijalan Omonim” Seru BaekHyun ketika Eomma ku sudah berada di depan pintu dan tersenyum sangat manis

Setelah Eomma ku pergi, kini kami hanya berdiam diri. Tak ada suara lain, kecuali suara penghangat ruangan yang berada tak jauh dari kasurku.

“Kau sudah sehat?” Tanyanya

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan memilih untuk tetap membuang pandanganku dari arahnya.

“Kau sudah makan?” Tanyanya lagi

Aku kembali tak menjawab pertanyaannya. BaekHyun menghela napas panjang lalu duduk dipinggir kasurku. Ia pun mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya kuat.

“Makanlah yang banyak. Aku tak mau anak kita sakit” Ucapnya pelan

“Kau pergi saja sana! Urus MiRae mu itu! Aku bisa mengurus anak ini sendiri tanpa bantuanmu” Ucapku keras lalu melepaskan genggaman tangannya

“MiRae sudah pergi”

‘Ne???!’ Batinku

“Kemarin ia langsung pergi setelah melihatmu di rumah sakit. Ia menyesali segala perbuatannya dan juga menitipkan salam untukmu serta bayi kita”

“Aku tak mau kau menjaga anak kita sendiri. Aku mau ia juga merasakan kasih sayang dari Appa nya” Sambungnya lalu tersenyum dan mencium keningku

“Maafkan aku, HeeRa-ya. Aku adalah pria paling bodoh di dunia ini. Aku benar-benar tidak bisa mengambil keputusan dengan tegas. Aku benar-benar minta maaf padamu. Tolong, jangan tinggalkan aku. Aku takkan mampu hidup tanpamu” Ucapnya lagi pelan, tapi kali ini suaranya terdengar bergetar

Ku naikan kepalaku agar dapat melihat wajahnya. BaekHyun ternyata sedang menangis. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya menangis. Tiba-tiba aku juga ikut menangis karena melihatnya menangis.

“Bae..Baek. Hyun-ah” Ucapku sambil terisak

“Kajjimayo. Jebal” Ucapnya, yang kini bisa mengendalikan isakannya

“Ne. Jeongmal mianheyo. Aku terlalu kekanak-kanakan”

“Nadoyo” Ucapnya lalu menghapus air mata dipipiku dan mencium kedua pipiku lama

“Bogoshipoo” Ucapnya manja yang membuatku langsung tersenyum

“Nadoyo” Jawabku lalu meletakkan tanganku dipinggangnya

“Apa anak Appa tidak merindukan Appa?” Tanyanya menggoda lalu tangannya menyentuh perutku

“Ya! Geli” Teriakku ketika BaekHyun malah asik menggelitik pelan perutku

“Hahahahaha”

***

-BaekHyun POV-

Setelah mengambil seluruh barang-barang HeeRa di rumah sahabatnya, akhirnya kami pulang ke apartemen kami. Dengan suasana yang masih hangat, aku terus menggenggam erat tangannya.

“Kau mau punya anak perempuan atau laki-laki?” Tanya HeeRa tiba-tiba sambil bergelayut manja di dadaku

“Hmm. Tidak masalah apa jenis kelaminnya. Asalkan yang penting, kalau bayinya perempuan, ia harus jadi perempuan yang cantik seperti Eommanya. Dan kalau laki—“

“Dan kalau laki-laki, ia tidak boleh sebodoh Appanya” Potong SeeRa yang membuatku cemberut

Ia hanya tertawa puas. Sambil terus memelukku erat.

“Kalau bayinya laki-laki, akan kuberi nama Byun… Byun….. Byun…BaekHee?” Tanyaku

“Nama apa itu? Terlalu kampungan. Aku tidak mau nama yang digabung-gabungkan seperti itu. Lagi pula seperti nama anjing saja!” Tolaknnya mentah-mentah

“Ne, ne. Terserah apa mau mu saja, Tuan putri” Ucapku pasrah

“BaekHyun-ah..” Panggilnya tiba-tiba

“Hmm?”

“Sepertinya anak kita mau sesuatu”

“Jinjja? Apa itu?” Tanyaku langsung melepas pelukannya dan menatapnya serius

“Poppo” Ucapnya manja yang berhasil membuatku tertawa terbahak-bahak

Kulihat pipinya merona seketika,lalu menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.

“Ya, ya, ya! Yasudah kalau tidak mau. Ini kan keinginan anakmu!”

“Ne, arraseoyo” Ucapku lalu meminggirkan kedua tangannya yang menutupi wajahnya

*CHU*

 

 END

****

YEAYY FINISH~ Aduh, gimana para readers? Ga jelaskan endingnya? Ga memuaskan kah ceritanya? Kalo aku bikin sequel pada setuju gak, readers? :p

Oya, akhir kata, makasih buat para readers yg udh setia baca dari chapter 1, jeongmal jeongmal kamasahamnida, yeorobun. Annyeong *bow* :’)

Iklan

44 pemikiran pada “Turn Back (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s