Half of My Heart: Sehun

Sub Title          : Clues of Love

Author             : Inhi_Park & Kim Mus2

Main Casts      : Oh Sehun& Lee Chaerin

Genre              : Romance, School life

Rating             : General

Summary         : “Kau boleh mengatakan aku bodoh, aku menyebalkan atau apapun. Tapi tolong katakan kalau kau juga mencintaiku.”

(Sehun’s side)

Berkali-kali ku lihat jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan kiriku. Tepat pukul 7. Aku yakin kalau bel sekolah pasti sudah berbunyi, dan naasnya saat ini aku masih terkurung di dalam bis yang penuh sesak ini. Ish… Luhan hyung kenapa tidak membangunkanku sih… rutukku.

Aku Sehun, Oh Sehun. Aku siswa kelas 1 senior high school yang setengah tahun lagi akan jadi siswa kelas 2… hehe. Ini hari pertama aku masuk sekolah. Bukan berarti kalau sebelumnya aku tidak bersekolah, hanya saja beberapa waktu lalu aku tidak bersekolah disini. Aku baru saja pindah dari China. Ya, aku seorang korea yang sudah tinggal di China sejak kecil.

Saat bis berhenti, aku langsung mengambil langkah seribu menuju gerbang sekolah yang mungkin sudah ditutup. Namun sepertinya aku cukup beruntung hari ini. Dari kejauhan aku melihat gerbang masih terbuka lebar dan aku bisa sedikit menarik nafas setelah berlari dari halte bis tadi.

Tapi tunggu, oh tidak, dari jarak sekitar 300 meter aku melihat seseorang pria menghampiri pintu gerbang dan mulai menarik gerbang besar berwarna hitam itu. Kini celah yang terlihat semakin mengecil. Tiba-tiba seseorang dari belakang menarik lenganku sambil berlari. Aku hampir terjatuh saat orang itu terus menyeretku menuju gerbang yang memang sudah hampir tertutup.

Kami berhasil masuk melewati gerbang sebelum gerbangnya benar-benar tertutup. Aku mengatur nafas yang tersengal-sengal sambil membungkuk. Tangan kiriku memegangi lutut yang rasanya hampir mau lepas, sementara lenganku yang satunya masih berada di cengkraman orang yang ternyata seorang yeoja.

“Good Morning, Ahjussi!” gadis itu menyapa seorang pria yang tadi bertugas menutup gerbang sambil tersenyum.

“YA! Kau gila, apa yang kau pikirkan saat menarik tanganku tadi hah? Kau ini wanita tapi tingkahku seperti laki-laki.” Aku berteriak disela nafasku yang masih tersengal-sengal.

“Seharusnya kau berterima kasih, kalau tidak kau pasti tidak akan bisa melewati gerbang itu.” Gadis itu menjawab dengan ekspresi wajahnya yang jutek.

Seorang siswi dengan tumpukan kertas di tangannya datang dari arah berlawanan dan menyapanya gadis aneh itu. “Chaerin-ah, kau terlambat lagi?”

“Tidak. Tepat waktu seperti biasanya.” Jawabnya santai.

“Haha… tepat pada waktu gerbang hampir tertutup, iya kan?” kata siswi itu sambil menyenggol lengannya.

Dengan tanpa mengindahkan keberadaanku, kedua gadis itu pun melangkah pergi.

Sial… Benar-benar sial. Kenapa di pagi yang indah ini aku harus melihat tampang gadis sejutek itu sih…? Ah… Daripada mengingat-ingat kesialanku pagi ini, sepertinya lebih baik aku segera pergi menemui kepala sekolah dan melupakan kejadian tidak mengenakkan tadi.

<><><>

Aku keluar dari ruang kepala sekolah dengan secarik kertas di tanganku. Ini surat izin masuk kelas dari kepala sekolah. Dan akhirnya aku tahu kalau aku di tempatkan di kelas 2-2.

Aku bejalan menyusuri lorong-lorong ruang kelas sambil terus mengamati papan nama yang tergantung di pintu kelas. Akhirnya aku sampai di depan sebuah pintu berwarna hitam dengan papan kecil bertuliskan ‘kelas 2-2’ di atasnya.

Saat aku akan mengetuk pintu, seorang wanita berdiri disampingku. Dari pakaian yang dikenakannya, aku bisa menebak kalau beliau ini adalah guru yang sepertinya akan mengajar di kelas baruku ini.

“Kau siswa baru itu?” Tanyanya yang hanya ku jawab dengan anggukan kepala singkat. “Ayo silakan masuk.” Katanya ramah.

Guru yang terbilang masih muda itu mempersilakanku untuk memperkenalkan diri.

“Anyeonghaseo, Oh Sehun imnida. Saya pindahan dari China, nama mandarin saya Xi Sehun. Bangapseumida.”

Mataku menjelajahi seluruh isi ruangan yang di dominasi warna broken white ini. dan tepat seperti dugaanku, semua siswi di kelas ini nampak terpesona padaku.

Kemudian aku melangkahkan kaki menuju kursi kosong yang berada di baris ketiga dari belakang.Teman sebangkuku seorang namja dengan mata yang terlihat sangat tajam. Menyeramkan. Untung saja seorang namja yang duduk di depanku terlihat ramah. Ia menyapaku dan sedikit berbasa-basi sampai tiba-tiba…

“Byun Baekhyun… Kenalannya nanti saja. Sekarang tolong perhatikan pelajaranku saja.” Kata Park sonsaengnim, wali kelas kelas ini.

Namja bernama Baekhyun yang baru saja kena teguran itu cengengesan lalu kembali fokus ke pelajaran.

<><><>

Ramai, berisik dan gaduh. Begitulah, ternyata suasana kantin di semua negara sama saja. Saat ini kami –aku dan 2 teman baruku- sedang duduk di salah satu bangku kantin. Dan yang seperti ku katakan tadi, suasana disini sangat ramai dan berisik.

“Mau makan apa? Sebagai tanda pertemanan, kali ini aku yang traktir deh.” Kata Baekhyun, salah satu kawan baruku.

“Apa saja. Kalian pasti tahu makanan andalan disini, pesan kan satu untukku.” Kataku.

Tanpa banyak berkata lagi, Baekhyun berjalan kearah tempat pemesanan makanan.

“Itu Chaerin. Lee Chaerin. Siswi dari kelas sebelah.” Kata D.O yang sepertinya menyadari kalau saat ini mataku sedang fokus memandangi sosok seorang gadis yang baru saja melangkah masuk.

“Dia siswi yang sangat cerdas. Dia yang mewakili sekolah ini untuk mengikuti olimpiade science tingkat nasional tahun lalu dan berhasil memboyong pialanya kesini.” Tambah Baekhyun yang entah sejak kapan sudah duduk dengan manis di sampingku.

“Tapi ku sarankan kau jangan macam-macam padanya, dia itu pemegang sabuk hitam karate.” Kata D.O lagi.

“Ya, kenapa kau memandanginya seperti itu?” Tanya Baekhyun sambil menyenggol lenganku.

“Hah…? Aniyo, aku hanya heran apa benar dia gadis seperti itu? Soalnya tadi pagi aku melihatnya hampir datang terlambat.” Jawabku.

“Memang begitulah dia. Seisi sekolah juga tahu kalau dia itu tukang telat, kurang disiplin dan sedikit tidak patuh pada peraturan. Tapi coba kau lihat prestasinya, kau pasti tidak akan heran kenapa predikat siswa berprestasi bisa ia dapatkan.” Sahut Baekhyun.

Hmmm… gadis yang menarik… gumamku.

<><><>

Minggu depan sekolah akan mengadakan seleksi untuk peserta olimpiade science yang akan mewakili sekolah ke tingkat nasional. Dan seperti informasi yang ku dapat dari 2 kawanku, tahun lalu Chaerin adalah siswi yang terpilih sebagai perwakilan dari sekolah kami. Maka dari itu, aku juga harus ikut dan harus terpilih menjadi peserta tahun ini.

Dengan bantuan Luhan hyung, kakakku tercinta yang dengan sangat kejam mengajariku tentang Fisika setiap hari setiap malam, akhirnya aku berhasil terpilih. Dan kau tahu siapa partnerku? Yup, benar. Lee Chaerin.

Setelah terpilih, kami akan mendapat bimbingan dari Park sonsaengnim, wali kelasku yang juga merangkap guru Fisika paling ahli di sekolah ini. Sudah sekitar 2 minggu ini hampir setiap hari sepulang sekolah kami mendapat bimbingan. Dan di luar dugaanku karena ternyata ini amat sangat melelahkan.

Setiap hari bermain dengan angka dan rumus, dan baru bisa meninggalkan ‘ruang einstein’ ini setelah hari mulai gelap. Ruang einstein, mungkin kau sedikit merasa aneh dengan istilah itu. Ya, itulah nama yang diberikan oleh para siswa untuk ruangan yang khusus dipergunakan untuk belajar science, seperti halnya bimbingan fisika yang sedang ku jalani ini.

Bimbingan yang kami jalani ini memaksa kami untuk sering bersama di ruang yang sedikit menyeramkan ini. Dan kebersamaan kami inilah yang membuat sesuatu yang terasa aneh perlahan tumbuh. Aku selalu senang melihat ekspresi wajahnya ketika sedang serius menghadapi soal-soal yang rumit, juga ekspresi senangnya saat ia berhasil menemukan jawaban dari soal-soal tersebut.

Hari ini tepat satu bulan kami menjalani bimbingan dan Park sonsaengnim berrencana untuk memberikan soal untuk menguji perkembangan kami.

“Baiklah, ini 30 soal hitungan. Kerjakan baik-baik ya. Ku beri kalian waktu 90 menit.” Katanya sambil membagikan kertas putih berisi soal itu.

Setelah itu Park sonsaengnim meninggalkan kami yang sudah mulai sibuk dengan angka-angka. Sesekali aku melirik kearah Chaerin yang duduk berhadapan denganku itu. Wajahnya terlihat sangat lucu dengan eskpresi yang di tunjukan sekarang.

Lima menit lagi waktu 90 puluh menit kami habis. Kulihat dia sudah berhasil mengerjakan semuanya karena ia nampak sudah melepas pensil di tangannya, dan ia malah sedang santai menyender di kursinya sambil melipat tangan di depan dada.

Akhirnya Park sonsaengnim datang dan langsung mengambil tempat duduk di salah satu sisi meja yang berbentuk kotak ini. Dengan kepercayaan diri tinggi ia menyerahkan kertas yang berisi jawabanku padanya. Begitupun denganku.

Park sonsaengnim terlihat sedang memeriksa kertas jawaban kami dengan sangat teliti. Chaerin terlihat sangat percaya diri dengan hasil kerjanya. Bisa ku lihat dari ekpresi wajahnya yang tidak terlihat tegang sama sekali. Yaa… baiklah, aku tahu kalau dia memang jago fisika.

“Aah… Chaerin-ah, coba kau lihat ini.” Park sonsaengnim menunjukan lembar jawabannya. “penyakit cerobohmu belum sembuh juga ternyata. Lihat ini, kau salah menghitungnya. Seharusnya kau mengkalikan kedua angka ini, bukan menjumlahkannya.” Aku memperhatikan arah ujung pena Park sonsaengnim yang menunjukan kekeliruan yang ia buat. Chaerin tampak  mengerucutkan bibir saat menyadarinya. Dan lagi-lagi aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya.

“Apa kau senyum-senyum?” Bentaknya galak.

“Tidak. Hanya lucu saja. Ku kira kau benar-benar jago fisika.” Ujarku meremehkan.

“Mwo??? Berani-beraninya kau…”

Hari itu di tutup dengan pertengkaran antara aku dan Chaerin. Hahaha… senang sekali melihat wajahnya yang sedang mengamuk seperti tadi.

<><><>

It’s the day. Setelah hampir 2 bulan mendapat bimbingan intensif, hari ini adalah saatnya kami berlaga di medan juang (?). Olimpiade science tingkat nasional di selenggarakan di Seoul university.

Perlombaan di adakan dari jam 9 pagi sampai 12 siang. Saat meninggalkan ruang lomba rasanya kepalaku mau pecah. Diam-diam ku lirik Chaerin yang terduduk di bangku di sampingku.

“Kau terlihat sangat tegang.” Kataku.

“Emh…” Ia mengangguk. “Aku takut hasilnya tidak bagus.”

“Tenang saja. Kau sudah melakukan yang terbaik. Aku yakin hasilnya pasti memuaskan.” Kataku lembut sambil mengusap puncak kepalanya yang sukses membuatnya terbelalak. “Eung… Maksudku, kau memang harus berhasil. Pasti memalukan kalau juara tahun lalu sekarang harus kalah.” Tambahku sambil berjalan pergi meninggalkannya yang masih membatu.

Aku berjalan menuju toilet pria sambil terus menempelkan telapak tangan di dada. Ish… Oh Sehun! Apa yang kau lakuakn? Bagaimana kalau dia curiga???

Setelah pengumuman pemenang yang di laksanakan di aula Seoul University yang sangat megah ini, kami dan beberapa orang yang juga mewakili sekolah kami mengikuti olimpiade ini di bidang science lainya kembali ke sekolah dengan memboyong beberapa piala dan medali. Dan piala yang paling besar yang berhasil kami bawa pulang itu bertuliskan “Juara 1 Olimpiade Science Tingkat Nasional Bidang Fisika”. Benar sekali. Aku dan Chaerin menang.

<><><>

Bel istirahat baru saja berbunyi. Hampir seluruh siswa di kelas segera berhamburan menuju kantin, begitupun dengan aku dan dua kawanku. Di jalan menuju kantin aku melihat Chaerin berjalan ke arah perpustakaan. Dan dengan segera aku mengubah haluan dan berlari ke perpustakaan meninggalkan kawan-kawanku yang berteriak-teriak memanggilku.

Di perpustakaan aku melihat Chaerin menghampiri barisan rak buku yang menyimpan buku-buku non-fiksi. Aku mengikutinya diam-diam. Dan saat tangannya bergerak hendak mengambil sebuah buku, aku bergerak lebih cepat lalu mendapatkan buku yang ia maksud.

“Berikan buku itu.” Katanya saat tahu kalau aku yang mengambil buku yang ia mau.

“Shireo. Aku mendapatkannya duluan.” Jawabku.

“Tapi aku menemukannya duluan.”

“Tapi aku yang duluan mengambilnya, jadi buku ini milikku.”

“Kau ini namja bukan sih? Kenapa tidak mau mengalah pada yeoja?”

“Kenapa aku harus mengalah padamu hah?”

“Dasar kau… Aah…” Kata-katanya terhenti. Kini gadis itu malah meringis sambil memegangi perutnya.

“Tidak usah pura-pura kesakitan agar ku kasihani. Aku tetap tidak akan menyerahkan buku ini padamu.”

Ia tidak menghiraukan ejekanku barusan. Tangannya terlihat meremas bagian perutnya dan wajahnya mulai terlihat pucat.

“Ya… kau sakit betulan? Kenapa wajahmu pucat hah?”

Ia masih tidak menjawab. Sekarang ia malah berkeringat.

“Ya, Lee Chaerin…”

“Perutku sakit.” Katanya pelan.

“Kenapa? Apa kau lupa makan tadi pagi? Atau kau punya penyakit maag?”

Ia menggelengkan kepala. “Emh… tanggal berapa sekarang?”

“Kau ini bagaimana, sedang sakit malah menanyakan tanggal.”

“Jawab saja tanggal berapa sekarang?”

“Hmmm… Tanggal 14. Memangnya ada apa?”

“Arrgghh…”

“Kau kenapa? Kita ke ruang kesehatan ya…”

Aku menggandengnya dan membawanya ke ruang kesehatan.

“Bagaimana? Apa masih sakit?” Tanyaku. Sebelumnya aku sempat memberikan kompresan air hangat untuk perutnya.

“Sudah agak lebih baik.”

“Sebenarnya kau sakit apa?”

“Emh… itu.. aku… sakit bulanan.”

“Sakit bulanan?”

“Iya. Eung… Sehun-ah, aku mau minta tolong padamu. Kau mau kan?”

“Apa? Jangan minta tolong yang macam-macam!”

“Emh… Tolong… Tolong belikan aku roti Jepang.”

“Roti apa? Kau lapar atau sakit sih? Kita kan di Korea, mana ada roti Jepang disini? Aku musti ke Jepang dulu, huh?”

“Iiiiihhhh…masa ga tau sih, itu tuh yang warna putih, yang ada sayapnya.”

“Hahaha… mana ada roti yang ada sayapnya? Rotinya bisa terbang ya? Ya Tuhan, ini lucu banget! Selamat ya…udah berhasil ngelawak hahahaha.”

“Ya ampun deh, kamu punya TV gak sih di rumah? Apa perlu, aku sebut merek-mereknya? Baiklah, merek rotinya ada yang Laurier, Kotex, Charm Bodyfit, Softex, dan masih banyak lagi. Sekarang ini, roti herbal yang lagi populer. Kalau tidak salah, roti herbal itu mereknya Yejimiin Mild sama Miso. Kamu tahu ga?”

“Merek apa itu? Aku tak pernah dengar merek roti macam itu. Pasti bukan merek terkenal kan?”

“Aiisssh…ko bisa sesusah ini ya menjelaskan konsep roti pada orang yang katanya jenius? Heuu…”

“Yaa! Deskripsi rotimu itu tidak ilmiah, orang jenius seperti aku tidak mengerti bahasa alien yang kau gunakan.”

“Baiklah, sekarang akan aku jelaskan secara ilmiah. Kamu tahu istilah menstruasi? Setiap yeoja yang sudah memasuki masa pubertas akan mengalami peningkatan kadar hormon LH (luteinizing hormone) dan FSH (follicle-stimulating hormone) yang kemudian merangsang hormon seksualnya untuk mengalami yang namanya siklus menstruasi. Siklus ini terjadi setiap satu bulan dan hari ini adalah hari-H buatku. Jadi….”

“Stop! Maksudmu sekarang aku harus membeli pembalut buat kamu, begitu? Kau gila, bagaimana caranya aku membeli peralatan wanita seperti itu? Sudah ku bilang jangan minta tolong yang macam-macam padaku.”

“Ku mohon, ayolah… sudah ku bilang ini hari pertama, jadi aku tidak bawa persediannku. Ya… mau ya…”

“Aiissshh… jinjja! Tunggu disini!”

Aku bergegas keluar dari ruang kesehatan untuk mencarikan apa yang tadi dia minta. Aish… Kalau bukan Chaerin yang meminta, aku berani bersumpah tidak akan pernah melakukannya.

<><><>

Dari kejauhan aku mengamati Chaerin yang sedang berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Aku tersenyum saat melihat ekspresi wajahnya yang keheranan karena gerbang sekolah sudah di kunci padahal biasanya jika dia pulang latihan karate jam segini, gerbang masih bisa dibuka.

Apa kau juga heran? Tidak usah repot-repot menebak, biar aku ceritakan. Aku yang meminta penjaga sekolah untuk mengunci gerbang itu lebih cepat dari biasanya. Alasannya? Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan pada gadis itu.

 

(Chaerin’s side)

Dengan kesal ku langkahkan kaki kembali ke depan pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku sudah lelah mondar-mandir mencari penjaga sekolah, ke ruangannya, pantry sampai ke ruang guru, tapi tetap tidak kutemukan.

Sambil menghentakkan kaki kuat-kuat, aku memutuskan untuk menunggunya disini saja. Tapi tunggu, gulungan apa itu? Akumengambil sesuatu yang terselip di salah satu jeruji besi pintu gerbang. Sebuah gulungan kertas berwarna biru, warna kesukaanku.

‘Kau terlihat lucu dengan ekspresimu saat ini. Kalau saja dulu, di tempat ini, kau menunjukan ekspresi semanis ini, aku pasti akan langsung jatuh cinta padamu.’

Kau masih ingat ini ‘R.031.ENC e-XXIV’?

“R.031.ENC e-XXIV?”… “Ish… siapa sih orang iseng yang melakukan ini???” Jeritku sambil meremas kertas biru itu dan melemparkannya ke tanah.

Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatu ketsku ke tanah dengan mata yang tak lepas dari seonggok kertas yang tergeletak begitu saja di tanah. “Argh… baiklah…” Aku menyerah. Aku terlalu penasaran untuk hanya berdiam diri seperti ini.

Ku bungkukkan badan lalu ku pungut lagi kertas yang belum sampai 7 menit ku buang itu. R.031.ENC e-XXIV? Sepertinya kode sesuatu. Tapi apa ya? Dia tanya apa aku masih mengingat kode itu, berarti sebelumnya aku pernah menemukan kode seperti ini. Emh… dimana ya? Kira-kira benda apa yang biasa di labeli kode seperti ini? Mungkin barang yang cukup penting sehingga akan mudah dilacak jika hilang, atau benda yang banyak di cari orang sehingga di beri label agar mudah ditemukan. Itu artinya benda itu akan berada di tempat yang banyak di kunjungi orang.

Karena terlalu berkonsentrasi memikirkan kode aneh itu, aku tidak sadar kalau tali sepatu ketsku terlepas sehingga saat aku melangkah tali itu terinjak olehku sendiri yang otomatis membuatku tersungkur ke tanah sampai-sampai semua isi tasku berhamburan keluar. Dengan kesal ku punguti satu persatu buku, alat tulis dan benda penghuni tasku lainnya. Dan saat tanganku akan memasukkan novel yang ku pinjam dari perpustakaan kemarin, aku terkejut saat menyadari ada sesuatu disana.

“RES 839.3 COR t?” tanyaku pada diri sendiri. “Benar!” Seruku.

Tanpa membuang waktu lebih lama aku berlari menuju perpustakaan, tentu saja setelah ku ikatkan tali sepatuku dengan benar. Ya, perpustakaan. Kode itu adalah kode yang di tempelkan di setiap buku di perpustakaan. Berarti jawaban petunjuk tadi adalah buku dengan kode R.031.ENC e-XXIV.

Tiba di depan perpustakaan, aku segera masuk dan menuju ke arah rak-rak buku yang berbaris rapi. “R.031.ENC e-XXIV… kalau tidak salah ini kode buku non-fiksi.” Aku berjalan menuju rak buku di bagian kanan ruangan yang cukup besar ini.

Tanganku bergerak menyusuri setiap buku di rak. “Ini dia.” Pekikku saat aku menemukan buku tebal dengan kode R.031.ENC e-XXIV tertempel di depannya. “‘Albert Einstein’?” Ku baca judul buku yang dimaksud. Tidak ada yang aneh. Tapi tunggu, di cover belakang ada kertas biru yang sama seperti yang ku temukan tadi tertempel disana.

Kau sudah menemukannya ternyata… hehe

Baiklah kalau begitu, aku menunggumu… Temui aku disana…

“Ish… Apa lagi ini? Temui aku disana? Dimana? Di Albert Einstein?” Aku menggerutu sepanjang koridor. Aku segera meninggalkan perpustakaan setelah menemukan buku yang dimaksud si penulis petunjuk gila itu.

“Aigooo… Nan paboya. Kenapa aku mau-maunya sih mengikuti petunjuk di kertas itu? Aish…” Aku mengacak rambutku sendiri karena merasa konyol telah mengikuti petunjuk aneh yang tidak diketahui siapa penulisnya itu. “Dia pasti hanya orang iseng. Apa-apaan menyuruhku menemuinya di ruang Albert Einstein?” Langkahku terhenti saat teringat apa yang kukatakan barusan. “Ruang Albert Einstein? Ruang Einstein? Ruang bimbingan Fisika…” Seruku sambil kembali berlari. Aku bergerak menuju tangga ke lantai dua tempat ruang bimbingan Fisika atau ruang Einstein itu berada.

Saat tepat berada di depan pintu yang bercat putih itu aku mematung cukup lama. Entah kenapa rasanya jantungku berdegup kencang sekali. Bukan… bukan karena habis lari-larian. Tapi ini seriously tegang karena akan bertemu dengan orang gila yang iseng memberikan petunjuk aneh semacam ini.

Perlahan ku dorong pintu itu sampai terbuka lebar. Dan mataku juga ikut melebar saat di kaca jendela tertempel kertas bersar berwarna biru dengan tulisan yang juga besar-besar. Kau mau tahu tulisannya apa? Disana tertulis: “Would you be my girl?” dengan warna pink yang kontras.

Tapi yang membuatku semakin bertanya-tanya adalah disana tidak ada siapa-siapa. Dengan hati-hati aku bergerak mendekati tulisan yang tertempel di jendela itu. Dari jarakku sekarang, aku baru sadar ternyata di bawah tulisan tadi ada sebuah tanda panah yang menunjuk lurus kearah jendela yang terbuka di sebelah kertas besar atau mungkin bisa di sebut poster itu.

Dan saat aku berdiri tepat diambang jendela, tiba-tiba puluhan balon berwarna pink dan berbentuk hati beterbangan dari halaman belakang tepat melewati jendela yang ku tempati. Dan setelah puluhan balon itu terbang tinggi entah kemana, aku menutup mulut dengan punggung tangan kananku saat mendapati seorang namja sedang membawa poster bertuliskan “I Love You, Lee Chaerin” di bawah sana.

Masih dengan perasaan tidak percaya dengan apa yang tadi kualami, aku segera berlari menuju halaman belakang. Dan disana aku menemukannya. Dengan masih menggenggam poster tadi, ia tersenyum padaku.

“Sehun-ah…” Hanya itu yang bisa ku katakan saat ini. Selain karena nafasku yang masih terengah-engah, aku juga sedikit bingung harus berkata apa.

“I love you, Lee Chaerin.” Katanya.

“Hah???”

“I love you.” Katanya lagi.

“Huh, aku tidak akan tertipu Sehun-ah… Aku tahu kau pasti hanya sedang mengerjaiku. Iya kan?” Bantahku.

 

(Sehun’s side)

“Aniya. Aku serius. I love you, Lee Chaerin.” Kataku bersikeras.

Kali ini dia tak lagi membantah. Ia hanya menatapku dalam-dalam.

“Kau mungkin merasa kalau aku menyebalkan, menjengkelkan dan mengesalkan. Tapi asal kau tahu, satu-satunya alasanku melakukan itu semua adalah untuk menarik perhatianmu. Karena aku menyukaimu. Saranghae Lee Chaerin…”

Ia masih tetap tak bersuara.

“Ya! Chaerin-ah… kenapa kau hanya diam. Kau tidak dengar kataku barusan. Saranghae… Aku mencintaimu Lee Chaerin… I love you…” Kataku yang tidak sempat ku selesaikan karena tubuh mungil di hadapanku tiba-tiba menghambur kepelukanku.

Ia mengangguk keras. “Emh… I love you too, Sehun-ah…”

~END~

 

Author’s talk:

Emmhhh… Apa ya???

Author udah bingung mau bilang apa di part ‘author’s talk’ ini, soal’y perasaan udh segala macem di omongin di versi sebelumnya… hehe

Baiklah, dari pada bengong mending author ngucapin makasih lagi yaa buat para reader yang masih setia. Dan untuk kalian, “This is it… author persembahkan Sehun version yang juga lebih panjang dari FF author yg biasanya… hehe”

Yang udah baca silakan komen… di tunggu lho…

Salam Authors n_n

Iklan

98 pemikiran pada “Half of My Heart: Sehun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s