Annoying Miracle

Author: yoonee_chan

Main Cast: Lee Ji Eun (OC), Byun Baekhyun

Support Cast: Chanyeol, Sehun, D.O, Minho sonsaengnim, Nyonya Lee (eomma Ji Eun), Min Young sonsaengnim

Genre: Romance, Comedy (???)

Length: One Shoot

Rating: General

Author’s note: Annyeonghaseyo!!! *deep bow* Ini ff pertamaku lho. Mian banget kalo jelek, hancur, berantakan, dan mengenaskan. Ini adalah hasil karya tragis yang tercipta karena ke’mumet’an otak dari segala tetek bengek perkuliahan. Jadi jika ada readers yang merasakan mual-mual, sakit perut, ato sakit kepala, harap segera hubungi dukun terdekat. Inget comment yaa,, *nodongin golok* comment yang pedes, asem, manis, pahit, semua saya terima dengan lapang dada koq. So, please enjoy,, *bow bareng baekkie*

~mboem~

 __________________________________

Percayakah kamu pada keajaiban? Atau sebuah kebetulan yang tak terduga? Aku tak percaya itu semua sampai aku mengalaminya sendiri.

 

Malam ini langit terlihat begitu indah. Bulan sabit yang seolah tersenyum padaku ditemani kerlip bintang yang cemerlang, membuatku tak jemu memandangnya. Dari balkon rumahku ini rumah-rumah yang penuh dengan kerlap-kerlip lampu terlihat sangat cantik. Tapi ini sudah sangat larut, kurasa aku harus segera mencuci kakiku kemudian tidur.

~mboem~

“Lee Ji Eeeeeeeunnnnn……!!!” teriak seseorang dari lantai bawah seperti habis menelan mikrofon. Aku hanya menggeliat malas di tempat tidurku sembari membetulkan letak selimutku. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menaiki tangga. Brraakk… Kudengar suara pintu dibanting. Gawat, serangan monster datang, batinku.

“Hey, gadis pemalas! Sampai kapan kau mau tidur hah?” duch kenapa eomma ku yang satu-satunya di dunia ini suka sekali berteriak? Untung suaranya tidak membuat kaca rumah pada pecah.

“Hmmm, apa sich eomma??? Aku malas, ini khan Minggu,” aku bertanya sambil menutup kupingku, tetap dalam posisi meringkuk yang hangat.

“Astaga, bocah… Ini hari Senin, dan kalau lima belas menit lagi kamu belum bersiap, eomma yakin kamu bakal dijemur Minho sonsaengnim di bawah tiang bendera pagi ini,” katanya sambil menjitak kepalaku. Setelah mendengar nama Minho sonsaengnim, semua saraf di tubuhku menegang, kubuka selimutku dan menoleh kearah beker kodok hijau pemberian adikku. Minho sonsaengnim tuch wajahnya sebelas empat belas sama Minho SHINee, semua murid cewek naksir dia; tapi kejamnya minta ampun dech *mian flamers*. Guru BK satu itu sudah terkenal ke-seantero sekolah, terkenal atas kekejamannya. Teman sekelasku bahkan ada yang pernah disuruh membersihkan WC se-sekolahan, parah!

“Yaa ampuuuunn,,. kenapa eomma baru ngebangunin aku sekarang???!!!” tanyaku sewot.

“Siapa suruh tidurmu kayak orang mati gitu? Eomma udah dari tadi neriakin nama kamu, tapi kamu gak ngerespon!” sahut eommaku seraya berjalan keluar kamar.

Aku cepat-cepat menyambar handukku lalu mandi secepat kilat. Mematut diri di depan kaca pun tak sempat. Setelah aku selesai berdandan aku turun ke lantai bawah. “Daaah,, mamiku yang cerewet…” aku melambaikan tangan pada eommaku yang sedang sibuk di dapur, lalu menyambar roti yang ada di atas meja makan. Aku setengah berlari ke halte, tak peduli tatapan aneh orang-orang yang berlalu lalang di sekitarku.

~mboem~

Sial, aku terlambat sepuluh menit. Dan kau tahu apa yang kudapat? Pandangan membunuh Minho sonsaengnim, pidato panjang, lebar, dan tinggi dari kepsek, plus hukuman membersihkan halaman sekolah yang sukses membuat hariku terasa seperti di neraka. Untung bukan hanya aku saja, disebelahku kini sudah bercokol sesosok makhluk tuhan—yang nyaris sempurna *bukan yang paling seksi,,, emang lagunya Mulan*—yang juga sedang mendengar ocehan Minho sonsaengnim dengan tampang malas dan bosan. Wah, senangnya aku bisa berada sedekat ini dengan Byun Baekhyun. Astaga, astaga, astaga, aku rela terlambat dan dihukum setiap hari jika aku bisa bersamanya. Aku berteriak kegirangan dalam hati. Tak sadar aku tersenyum sendiri.

Setelah Minho sonsaengnim puas mengeluarkan isi hatinya, kami berdua langsung menuju TKP untuk menjalankan hukuman. Aku mengambil sapu lalu menyapu halaman dengan riangnya, sambil tebar pesona ke cowok yang selama ini aku suka. Bukannya terpesona tapi dia malah memasang muka super juteknya ke arahku.

“Hey kamu, kok bisa-bisanya sich kamu senyam-senyum gak jelas gitu padahal kita lagi dihukum begini? Kamu masih waras?” katanya dengan muka mengejek. Itu kata pertama yang pernah terucap dari bibirnya untukku. Tapi kenapa itu malah sangat menusuk hati? Sabar,,, kataku dalam hati.

“Hmmm, daripada marah-marah. Ntar kulitku cepet keriput lagi” jawabku asal. Aku berlalu dari hadapannya. Aku harap dia menahanku dan mengajak aku mengobrol lebih lama. Tapi pucuk dicinta ulam pun tak kunjung tiba, dia malah melengos pergi membersihkan area yang letaknya jauh dariku. Hancur sudah harapanku. Semua itu cuma mimpi Ji Eun, ngaca dulu sebelum bermimpi tentang pangeran sekolah itu. Ya, ku akui aku bukan gadis yang tergolong cantik, namun aku juga nggak jelek-jelek amat. Nilaiku pas-pasan tak terlalu pintar dan tak terlalu bodoh. Jadi wajar donk kalo aku bermimpi mendapatkan Baekhyun, meski cuma mimpi sich…

Setelah bel pergantian pelajaran aku kembali ke kelasku, kelas XI IPA 5 yang terletak dekat kantin dan juga kamar mandi—sangat strategis (??).

“Pagi sayang,,,” sapa D.O sahabatku.

“Huh, sayang sayang, kamu gak liat mukaku lagi kesel setengah mateng gini?” jawabku lalu menghempaskan diriku ke kursi di sebelahnya.

“Hey, hey, jangan marah-marah gitu donk. Harusnya kan kamu seneng bisa berduaan sama Baekhyun” D.O mengelus rambutku.

“Awalnya sich seneng, tapi sikapnya lebih dingin dari gunung es di kutub utara!”

“Selamat pagi anak-anak…” seru Min Young sonsaengnim tiba-tiba memasuki kelas. “Pagi sonsaengnim…” jawab kami serempak. “Baik pagi ini saya akan melanjutkan pelajaran minggu lalu tentang trigonometri. Buka buku kalian halaman 56,” terdengar suara nyaring dari tubuhnya yang kecil nan imut itu. Sayangnya, aku tak suka bab ini. Aku hanya membolak-balikkan bukuku malas. Trigonometri sukses membuat kepalaku berputar-putar. Entah materinya yang memang susah atau aku yang bodoh?  Aduh, kenapa waktu terasa lama sekali berlalu? Aku ingin cepat-cepat terbebas dari beban ini. Suasana di kelas begitu hening, hanya terdengar suara Min Young sonsaengnim yang berkicau merdu. Aku hanya memperhatikan bukuku tapi pikiranku melayang entah kemana.

Kriiiiiiiiiiinnnngggg…………. Bel panjang berbunyi. Murid-murid bersorak. Saatnya istirahat. Aku dan D.O segera membereskan buku lalu berjalan menuju kantin pemadam kelaparan.

Brukkkk…

“Ups, mianhaeyo” kataku sambil menunduk. Baru saja aku melangkahkan kaki ke kantin aku sudah membuat onar.

“Hey, kalo liat pake mata donk” bentak pemuda itu. Dimana-mana juga kalo jalan pake kaki, aku memutar bola mataku. Malas meladeninya.

“Ooohh, jadi kamu yang tadi pagi? Gak puas ngancurin mood-ku hari ini?” Dia berteriak lagi di depan mukaku. Sudah untung aku mau minta maaf. Pelan-pelan aku berusaha melihat muka orang yang tidak tahu diuntung ini. Oh my gosh! Ternyata dia Baekhyun. Mukaku langsung jadi semerah tomat.

“Aku khan sudah minta maaf,” kataku santai—berpura-pura santai sebenarnya, padahal jantungku sudah berdetak tidak karuan.

“Aaiishh jinjja,” dia mengayunkan tangannya seperti hendak memukulku, lalu pergi begitu saja. Dasar cowok aneh, kok bisa aku suka ama orang seganas dia, kalo berantem sama eommaku kayaknya seru tuch.

“Ji Eun, kamu mau makan ato bengong aja?” suara D.O membuyarkan lamunanku. Ternyata dia sudah duduk manis di salah satu meja di pojok kantin.

“Makan donk, perutku sudah berkoar-koar nich minta diisi,” sahutku lalu menghampirinya.

~mboem~

Siang ini matahari sedang tidak ingin main petak umpet, dia tersenyum dengan bangganya ke arahku. Aku berjalan dengan tertunduk lesu. Halte bis yang berjarak seratus meter dari sekolah, kini terasa seperti perjalanan mencari kitab suci. Jauh dan penuh rintangan (??). Andai saja rumah D.O searah dengan rumahku, pasti kami bisa mengobrol, untuk mengusir rasa sepi yang sekarang menyelimutiku. Bis yang kutunggu tak datang-datang juga. Orang-orang hanya berlalu lalang di depanku, terlihat sangat sibuk. Tapi aku hanya sendirian di sini. Mengapa halte ini sepi sekali ya? Aku menendang-nendang tiang yang ada di sebelahku. “Annyeong, yeoja aneh…” Baekhyun melambaikan tangan dari mobil sport silvernya yang melintas di depanku. Mentang-mentang kaya, dia jadi sombong. Aku punya rumah bejibun aja biasa aja kok. Rumah semut tapi bukan rumah beneran. Meskipun sedikit kaget dan deg-degan, tapi aku berlagak tak peduli. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah. Setelah dua jam menunggu, bis yang kutunggu akhirnya datang juga.

~mboem~

“Selamat siang…” teriakku saat masuk ke rumah.

“Siang gadis bandel…” jawab eommaku dari ruang tengah, tanpa menoleh ke arahku; matanya sibuk memelototi TV di depannya.

“Cepat ganti bajumu, lalu makan siang. Eomma sudah masak ayam goreng kesukaanmu,” eommaku berkata lagi ketika aku hendak naik tangga.

“Jinja? Waahh, eomma baik deh,” sahutku lalu berlari ke dapur. Eommaku hanya tersenyum simpul melihat kelakuanku, lalu kembali terpaku pada sinetron kesukaannya. Entah judulnya Cinta Fitri, Cinta Amira, ato Cinta Tanah Air, aku tak peduli. Aku melahap makananku dengan cepat, ayam goreng membuatku bersemangat kembali.

“Eomma, kalo D.O datang suruh dia masuk kamarku aja ya,” aku berkata pada eommaku sambil mencuci piring yang tadi kupakai.

“Ne, ne,” sahut eommaku tanpa teralihkan perhatiannya. Selesai mencuci piring aku mengambil tasku dan berjalan ke kamar. Aku melempar diriku ke kasur dan terbaring terlentang.

Tok, tok, tok. “Mbum, cepet buka pintunya” tak lama kemudian suara D.O terdengar. “Dazar Ipit, gak sabaran banget sich!” jawabku sambil mengganti pakaianku.

“Cepet bukain pintu, ato kudobrak nich?” Dia mengancam, walau ku tahu itu bukan ancaman serius. Mana berani dia ngerusakin pintu di rumahku ini. Bisa diomelin eomma tujuh turunan tuch dia.

“Iya, iya,,, bentar!” sahutku seraya memutar kenop pintu. Dia segera masuk dan menuju kasurku. Dia mengambil Bubu, boneka beruang hijau yang duduk manis di pojok tempat tidurku. Bubu adalah boneka favoritku, hadiah ultah dari appaku. Setiap kali D.O main ke rumah, dia selalu memainkan boneka itu. Jengkel juga kalo dicuekin terus, masa dia lebih sayang sama bonekaku daripada aku?

“Ayo kita mulai, kamu kesini mau buat tugas khan? Bukan sibuk main-main dengan Bubu?” sindirku sambil mengambil beberapa buku dari atas meja.

“Ya dech nona besar, yuk kita mulai” dia beranjak dari tempat tidurku tapi tetap menggendong Bubu.

~mboem~

Seharian ini tidak ada hal yang istimewa, eomma tetap membangunkanku sambil mengomel tadi pagi; adikku, Chanyeol, sempat-sempatnya menjewer telingaku sebelum berangkat sekolah—namdongsaengku itu memang aneh, masak hobinya ngejewer kuping orang. Itu sich bukan hobi, tapi iseng. Minho sonsaengnim dengan tatapan sedingin esnya; dan D.O sahabatku, dengan lawakannya yang kadang-kadang (sebenarnya hampir selalu) tidak penting. Dan sekarang, seperti biasa, aku sedang berada di halte menunggu bus yang akan mengangkutku ke rumah. Siang ini terasa lebih sepi dari biasanya, mungkin orang-orang sedang malas keluar karena cuaca sedikit mendung. Bahkan anak-anak yang biasanya suka berkeliaran di jalanan juga ikut tak menampakkan diri mereka. Saat aku asyik menendang-nendang kerikil yang tak berdosa, seorang nenek-nenek lewat dengan gerobaknya.

“Siang nak,” kata halmeoni itu menyapaku.

“Siang halmeoni,” balasku halus.

“Kamu tak ingin beli minuman ini?” kata halmeoni itu sambil menunjuk isi gerobaknya.

“Emang itu minuman apa?” aku bertanya karena minuman yang ada di gerobak halmeoni itu berwarna-warni dan dikemas dalam botol yang berbentuk unik. Mungkin ini minuman keluaran terbaru, pikirku.

“Minuman ini adalah minuman ajaib nak, jika kamu meminumnya sambil mengucapkan permohonan kamu, permohonanmu akan segera terwujud,” halmeoni itu menjelaskan dengan penuh keyakinan.

Aku ragu, minuman apaan tuch? Apa bener itu bisa ngabulin permohonan aku? Gak ada salahnya dicoba, siapa tahu berhasil. Tapi kalau minuman ini ada narkobanya atau beracun gimana? Bisa tepar donk aku. Pikirku berapa lama.

“Tenang nak, minuman ini aman kok. Tak ada efek sampingnya,” halmeoni itu berbicara seolah bisa membaca pikiranku.

Bagaikan terhipnotis, aku percaya begitu saja pada kata-kata sang nenek. “Baiklah,” kataku seraya mengangguk. Aku akhirnya membeli minuman yang berwarna ungu dengan tutup botol yang berbentuk bunga mawar. Setelah halmeoni itu berlalu, bus kuning yang biasa kutumpangi—dan biasanya ku panggil spongebob karena bentuknya yang kotak—datang. Aku naik sambil memegang erat botol minuman yang kubeli tadi.

~mboem~

Malam ini aku gelisah. Kulirik botol dengan cairan ungu di dalamnya yang berada di atas meja belajarku. Apa benar minuman ini bisa mengabulkan permohonanku? Kalau benar, aku mau buat permohonan apa ya? Punya banyak uang, rumah baru, mobil, boneka, pacar, nilai bagus, atau gak suka telat bangun lagi? Ah, aku terlalu banyak mikir, sepertinya aku punya permohonan bagus. Kuambil botol itu, kubuka tutupnya, lalu bersiap-siap meminumnya. “Semoga aku jadi gadis yang cantik, pintar, dan populer di sekolah, jadi Baekhyun bisa bertekuk lutut dihadapanku” aku bergumam lalu meminum habis minuman itu.

Dua menit,

lima menit,

setengah jam,

Sepertinya tidak ada reaksi apa-apa padaku. “Ah sudahlah, mungkin itu hanya promosi saja. Sebaiknya aku tidur” kataku pada diri sendiri.

Keesokan harinya aku terkejut mendengar dering bekerku sendiri. Tumben aku tidak bangun karena beker alamiku—eommaku. Aku mengusap mataku yang masih merem melek dan melipat rapi selimutku.

“Ji Eunn-aaaahh,,, banguuuuuuuuunnnnnn!!!!” suara eommaku membahana di seluruh rumah.

“Nneee eommaaaa,” jawabku tak kalah ributnya. Kudengar derap langkah kaki menuju kamarku. Kepala eomma dan Chanyeol melongok dari pintu. Mereka menatapku seolah aku adalah alien dari planet lain.

“Ka,, kkk,, ka,, kamu Ji Eun an,anakku?” kata eommaku terbata-bata.

“Ne eomma, masa anak tetangga sebelah” jawabku sambil menghampirinya.

“Kok tumben bangun jam segini? Ini baru teriakan yang pertama lho. Biasanya eomma mesti teriak berpuluh-puluh kali baru kamu bangun,” kata Chanyeol.

“Ah masa sich? Mungkin urat rajinku lagi keluar nich” jawabku sambil mengacak rambutnya.

“Tapi, kamu terlihat lebih cantik hari ini. Ini karena mataku yang sudah rabun, atau aku sedang bermimpi?” eommaku terlihat bingung.

Aku hanya menaikkan bahu, lalu melengos pergi meninggalkan mereka berdua yang serasa sedang melihat Miss Universe nyasar di rumah mereka. Aku menyambar handukku lalu beranjak ke kamar mandi. Saat aku melihat kearah cermin, aku tersentak kaget. Kenapa mukaku sedikit berubah ya? Aku jadi terlihat cantik, aku memuji diriku sendiri. Pipi tembemku berubah menjadi lebih tirus, hidungku menjadi sedikit lebih mancung, dan wajahku bersinar bagai sang surya menyinari dunia *lirik lagu kasih ibu yang nyasar*. Aku melonjak kegirangan, melompat ke kasurku dan melompat-lompat di sana. Eomma dan Chanyeol menatapku heran, lalu eommaku melempar sandalnya ke arahku. “Cepat mandi atau kau akan terlambat!” sifat bawelnya yang biasa kambuh lagi.

~mboem~

Memasuki gerbang sekolah, kulihat Ji Young-ssi—satpam sekolahku yang biasanya tega melihatku dianiaya Minho sonsaengnim dan semuanya gara-gara dia yang gak mau bukain pintu gerbang meski aku telat cuma 2 menit—berdiri dengan tegap di sebelah posnya. Aku melenggang di depannya, dia terlihat terkesima. Entah karena aku yang datang kepagian atau karena penampakan baruku. Tapi aku cuek, pura-pura tidak melihatnya. Beberapa cewek yang sepertinya hoobae-ku berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahku. Cowok-cowok yang sedang bermain di lapangan basket langsung berjalan ke pinggir lapangan waktu aku lewat. Mereka melihatku seakan aku mangsanya yang siap diterkam. Semua orang memperhatikanku sampai aku berjalan masuk ke kelasku.

“Hai D.O!” sapaku pada sahabatku.

“Eeiiittss, tunggu dulu. Sepertinya aku kenal kamu dech, kamu siapa? Kok aku kayak ngeliat artis nyasar gini?” tanyanya sambil memutar-mutar badanku.

“Aku Ji Eun. Emang kenapa sich? Kayak baru kenal aku kemarin sore aja,” jawabku santai. D.O menelitiku dari ujung kaki hingga ujung kaki lagi.

“Jongmal???? Tapi kamu sedikit berubah. Padahal kemarin sepertinya masih biasa aja.” Aku hanya mengangkat bahu, lalu aku duduk di kursi sebelahnya. Membiarkan dia mengarungi dunia fantasi liarnya.

“Ah kamu, itu cuma perasaan kamu aja dech.”

“Tuch liat anak-anak pada ngeliatin kamu. Mereka pikir kamu anak pindahan kali ya… Si Key ama Jonghyun *anak SHINee numpang ngeksis* ampe ngiler tuch” kata D.O.

“Ah sudahlah gak usah dibahas,” jawabku. Aku tak menyangka ternyata efek minuman itu telah bekerja. Orang-orang di sekolahku jadi gimana gitu ngeliat aku. Ciihhuuuuiii, sebentar lagi aku bakal jadi anak populer nich di sekolah.

Jam pelajaran dimulai, Sin Woo sonsaengnim memasuki kelas. Dia guru Bahasa Indonesia yang paling kusegani. Dia ramah, selalu tersenyum, dan menjelaskan pelajaran dengan baik sehingga para siswa mudah mengerti—kecuali yang kepalanya batu. Pertama kali dia melihatku dia menatapku beberapa saat kemudian dia bertanya apakah aku murid pindahan. Tapi kujelaskan padanya bahwa aku Ji Eun, murid kesayangannya.

Seharian ini aku sibuk meladeni pertanyaan yang sama, entah dari guru maupun dari murid-murid lain. Bahkan teman-teman sekelasku masih tak percaya bahwa aku tuch Ji Eun anak yang paling hobi telat di kelas, anak yang suka jahilin dan ngambilin bekal makan mereka.

Pulang sekolah aku berjalan dari kelasku menuju pintu gerbang yang letaknya lumayan jauh. On the way to the gerbang, aku layaknya Miss Indonesia, semua mata tertuju padaku. Banyak namja dari kelas lain yang mengajakku berkenalan. Bahkan ada beberapa hoobae yang ikut mengerubungiku. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya jadi artis. Ternyata seru, tapi agak melelahkan dan menyebalkan juga. Mereka mengantarku hingga sampai pintu gerbang. Tak hanya itu, beberapa orang bertengkar berebut mau mengantarku pulang. Yang lain hanya menonton, bahkan saling memanasi. Padahal sudah kubilang aku ingin pulang sendiri saja, tapi mereka tetap rebutan. Ya sudah aku hanya diam, daripada mukaku entar kena tonjok mending nontonin aja. Saat para namja itu sedang rebut-ribut, seseorang menarik tanganku keluar dari kerumunan. Ternyata Baekhyun. Mau apa sich namja ini? Aku sebenarnya sudah tak berniat lagi untuk tetap memujanya karena sikapnya yang dingin, sok, dan angkuh itu.

“Neo gwenchana?” tanyanya.

“Ah, oh, eh, itu,,,” aku terkejut mendengarnya. “Gwenchana. Sudah ya, aku mau pulang. Gomawo atas bantuanmu, annyeong.”

Saat aku akan beranjak pergi, dia menahanku. “Kalau kamu mau selamat, mending kamu ikut aku aja yeoja aneh,” katanya lalu menarik tanganku menuju mobilnya. What? Dia tau kalo ini tuch aku, dia mengenaliku secara langsung. Kok bisa? D.O aja perlu mastiin sendiri kalo aku tuch sahabatnya, tapi kok dia bisa ngenalin aku? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. Saat sampai di mobilnya, dia membukakan pintu untukku lalu masuk ke tempat pengemudi. Waktu aku duduk, dia terlihat tersenyum. Senyum manis yang dulu pertama dan terakhir kali aku lihat saat penerimaan siswa baru. Kini aku bisa melihat senyumnya lagi, aku benar-benar senang. Selama perjalanan kami hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku memasuki rumah dengan pikiran yang masih menggangguku, all about Baekhyun. Jdduukk!! “Awww,,” seruku sambil memegang kepalaku. Gara-gara Baekhyun aku jadi kejedot pintu dech. Aku masuk melewati ruang tamu. Di sana sudah ada Sehun, temen adikku yang suka nangkring di rumahku.

“Chanyeol eodiga?” tanyaku padanya. Bukannya menjawab yang kutanya malah bengong melihatku. Dia berjalan ke arahku lalu mencubit pipiku.

“Ini Ji Eun noona? Noona operasi pake plastik ya?” dia bertanya keheranan.

“Heh, jangan samain aku ama ember ato piring donk, pake plastik! Aku gak niat buang-buang duitku buat operasi plastik. Mending kutabung aja, jadi aku bisa jalan-jalan ke Korea lalu ketemu EXO-K idolaku” jawabku.

“Ngarep!!” katanya sambil memukul kepalaku lalu ngeloyor ke kamar adikku. Anak-anak jaman sekarang kok gag ada sopan santunnya sich sama orang yang lebih tua, yang satu suka jewerin kuping, yang satu lagi suka mukul kepala. Aku mengomel dalam hati sambil menaiki anak tangga menuju kamarku. Aku menghempaskan diriku sendiri ke kasur. Lalu perlahan-lahan mataku terpejam.

Aku terbangun jam enam sore. Itupun karena teriakan mahadahsyat eommaku. Aku menggeliat malas, lalu melompat dari tempat tidurku. Aku menuju cermin, mengecek apa obat itu masih ada pengaruhnya. Aku memegang wajahku, ternyata aku masih tetap cantik. Aku tersenyum lalu menari-nari gak jelas sambil tetap memandang bayanganku di cermin.

“Heeyy, yeoja gila. Cepat mandi dan makan malam!!” teriak Chanyeol dari depan pintu.

“Ne….!!” jawabku kesal.

Anak kecil itu kurang ajar banget sich, belum pernah keselek sandal jepitku dia. Aku berjalan malas ke kamar mandi. Habis mandi aku berpakaian lalu kembali memandangi diriku di cermin. Aku benar-benar cantik, pikirku dalam hati. Mendengar teriakan eommaku, aku langsung berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Di meja makan hidangan sudah siap, Chanyeol dan eommaku sudah duduk rapi. Sayangnya appaku masih ada kerjaan di luar kota, haaahh aku sangat merindukannya. Aku duduk di depan Chanyeol. Setelah mengucapkan doa, kami makan dengan tertib. Tak ada yang boleh bicara saat makan, itu adalah peraturan di rumah ini. Appaku yang membuatnya. Dia tak suka ada yang mengganggu kegiatan makan dengan suara-suara yang gak jelas. Emank pasar?

Hooooaaaaheeemm,,,,,, entah mengapa hari ini aku merasa capek sekali. Aku meninggalkan dongsaengku dan eommaku yang sedang nonton tv di ruang tamu. Aku berjalan ke kamar dengan langkah gontai. Sampai di kamar aku langsung merebahkan diriku dan beberapa menit kemudian aku sudah terlelap.

~mboem~

Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali, entah lagi kesambet setan ato peri cantik aku bisa bangun sepagi ini. Aku beranjak menuju cermin, ku lihat wajahku tetap cantik seperti kemarin. Andai saja wajah ini sudah kumiliki dari dulu mungkin aku sudah punya banyak pacar, pikirku iseng. Tapi, yang sekarang membayangi pikiranku adalah Baekhyun. Entah mengapa dia sekarang menjadi baik dan perhatian padaku. Apakah ini karena aku yang telah menjelma menjadi bidadari cantik dan populer di sekolah? Kalau begitu akan kubalas sikapnya yang kurang ajar padaku waktu itu. Hey, kenapa aku malah melamun tidak jelas, lebih baik sekarang aku mandi dan berdandan yang rapi. Jadi semua orang akan menatapiku sepanjang jalan. Hehehehehe. . .

Setibanya aku di depan gerbang sekolah, kulihat sosok Baekhyun yang berjalan beberapa meter di depanku. Melihatnya dari jarak sejauh ini pun tetap membuat jantungku berdetak keras dan tubuhku bergetar. Seandainya dia jadi milikku, betapa beruntungnya aku. Dukkk,,, “Awwww,,” aku mengaduh sambil memegang keningku. Kecerobohanku tak pernah sembuh. Pagi-pagi begini sudah kumat.

“Kamu nggak apa-apa?” kata orang itu.

Suara itu, ituuuu, itu suara BAEKHYUN!!! Ya ampuun, babo, babo, babo, kenapa aku harus kelihatan ceroboh di depan dia sich.

“Eeehh,, i, it,,, it,,, ituu…. Aku ngga apa-apa kok,” aku berlari sekencang-kencangnya menuju kelasku. Kuharap Baekhyun tak berpikir yang aneh-aneh tentangku.

~mboem~

Hari ini matahari bersinar dengan sangat terik, dengan malas kulangkahkan kakiku menuju ke halte bus tempat nongkrongku yang biasa. Ahh, seandainya dapat tumpangan gratis hari ini, betapa senang hatiku.

Ckiiiiiiitttttt,,,,, suara ban motor yang bergesekan ke aspal itu membuatku terkejut. Sontak kuangkat kepalaku yang sebelumnya menunduk untuk melihat siapa orang yang seolah-olah pamer motor dihadapanku.

“Annyeong Ji Eun…” sapa orang itu dengan cengiran lebar. Aigoo eomma,,, mimpi apa anakmu semalam, kenapa tiba-tiba ada pangeran turun dari motor sport siang-siang bolong begini.

“Kamu melamun ya?” lanjut orang itu karena aku tak kunjung menjawabnya. “Hmm, anu,,, itu,,,, eh ani Bakhyun-ah. Annyeong” jawabku gelagapan sambil menggaruk pipi kananku yang tak gatal sama sekali. “Yuk naik, daripada nunggu bus itu, mending ikut sama aku aja” ajak Baekhyun. Wow, perlu dicatat nich dalam sejarah. Untuk pertama kalinya seorang Baekhyun akan membonceng seorang wanita. Dan orang itu adalah aku, haahhh beruntung banget!!!! Setelah berpikir berapa lama, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Aku naik ke atas motornya dengan sangat hati-hati. Segera setelah aku naik, Baekhyun tancap gas hingga membuatku hampir terjungkal ke belakang. Karena terkejut, dengan sigap aku menarik ujung bajunya. Dia hanya menyeringai, dan langsung menarik tanganku dan menempatkannya di pinggangnya. “Kalau kau tak mau terjatuh, sebaiknya biarkan posisi tanganmu seperti ini” kata Baekhyun yang terdengar lebih seperti perintah. Ya sudah kunikmati saja kemesraan (??) ini. *kyaaa,, author ngiler*

~mboem~

“Ayo turun” sebuah suara membangunkanku dari khayalan indahku. Kulihat pemandangan di sekelilingku. Aku sekarang berada di tepi sungai dengan pohon-pohon yang daunnya mulai menguning di pinggirnya. Airnya begitu tenang dan jernih, terlihat kilau pantulan cahaya matahari di tengahnya.

“Ini dimana Baek? Kau tak membawaku pulang kerumahku?” tanyaku polos.

“Ini tempat yang kutemukan waktu kecil dulu. Tak sengaja waktu bepergian dengan ayahku aku nyasar ke tempat ini.” Aku tak menggubris jawabannya, aku malah meninggalkannya dan berjalan kearah pinggir sungai. Kucari tempat yang nyaman dan duduk di sana. Sepatu merah yang melekat di kakiku kulepaskan lalu kucelupkan kedua kakiku ke sungai. Air sungai itu terasa sangat segar, sampai-sampai aku lupa pada orang yang tertinggal di belakangku. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum dengan rasa bersalah. Dia menggeleng-gelengkan kepala lalu menghampiriku. Dia menyentil dahiku dan berkata, “dasar yeoja aneh.” Ku dorong bahunya dengan sikuku lalu kembali menikmati suasana yang membentang dihadapanku.

“Saranghae” ujarnya pelan. Lagi-lagi aku terkejut *nich orang hobinya terkejut aja dech*. Ku tatap matanya dan dia pun ikut menatapku. Kucari kesungguhan dalam matanya namun tak kutemukan setitik pun kebohongan yang terpancar.

“Apa yang kau bilang tadi?” dengan ragu aku bertanya.

“Saranghae Ji Eun-ah. Aku ingin kau jadi yeojachinguku, maukah kau?” dia menjawab dengan gaya cool khasnya sambil membenarkan poniku yang tertiup angin. Aku membatu. Lama kupandangi wajah tampannya, hingga akhirnya aku hanya bisa menganggukkan kepalaku malu lalu menunduk. Dia menatapku selama beberapa detik dan menghambur ke arahku. “Gomawo Ji Eun-ah” dia memelukku sangat erat. Beberapa menit kunikmati sensasi yang bergetar di seluruh tubuhku. Dia melepas pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku diam tak kuasa bergerak. Semakin lama wajahnya semakin dekat denganku. Bisa kurasakan desah napasnya yang menyapu wajahku. Beberapa millimeter lagi kami akan……….

Krrrrrrriiiiiiiiiiinnnnnnnggggggggg!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! suara itu memekakkan gendang telingaku. Dengan mata yang masih terpejam kuraba-raba meja di sebelah tempat tidurku mencari-cari kodok buluk jelek yang telah berani mengganggu mimpi indahku. Setelah berhasil mendapatkannya, kutekan kepalanya keras-keras melampiaskan kekesalanku. Aku menggeliat malas di tempat tidurku. Lalu ku buka selimut dan berjalan kearah cermin. Sambil menggosok-gosok mataku yang masih setengah merem, aku memperhatikan pantulanku di cermin. Satu detik, dua detik, aku hanya diam terpaku. Di detik ketiga aku merasa ada yang salah.

“Kkkyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!! teriakku mengguncang dunia.

“Ada apa sayang?!!” tanya eommaku yang melongokkan kepalanya ke dalam kamarku dengan ekspresi gawat. Ku toleh eommaku lalu menoleh lagi ke cermin.

“Kemana wajah indahku yang bersinar-sinar laksana bulan purnama yang terang benderang?” tanyaku pada eommaku. Kedua tanganku memegang wajahku, kupelototi cermin itu dengan tatapan tak percaya.

“Aiiissshhh anak ini, eomma kira ada maling yang mau mencuri pakaian dalammu. Ternyata ngelindur!!” jawab eommaku malas lalu melengus pergi. Oh tuhan, kenapa wajahku kembali ke bentuk semula gini? *quotation sebuah iklan, #abaikan* Aku berlari menuju ke pojok kamarku, kulihat kalender yang terpasang manis disana. Hari ini tanggal 13?? Bukankah seharusnya ini tanggal 17? Jadi semua hal indah yang kualami selama ini cuma mimpi???????

“Andwwaeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!” teriakku sekali lagi membelah ketenangan pagi makhluk-makhluk di bumi. “Beerrrrrrriiiiissssssiiiiikkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak eomma dan Chanyeol berbarengan.

~END~

Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,, *gag karakter gag author semuanya suka jejeritan*

Gimana??? Sudah merasakan gejala-gejala penyakit kronis?

Kalo udah cepet dhe hubungi petugas pemadam kebakaran *gag nyambung*

Maaph banget kalo ini epep tak layak konsumsi,,, *bow lagi bareng Baekkie* ^Baekkie: capek gue bow2 terus, loe ajja ndiri^

Walaw apapun yang terjadi, tapi aku mohon pencerahan dari readers yang baek hati berupa comment, kritik, saran, makanan, hadiah juga boleh sichh,,,, *dibacok readers*

Annyeong !!!!

20 pemikiran pada “Annoying Miracle

  1. Anyeonghaseyoo *bow*,aku reader baru disini
    ff nya daebak thor ^^
    beneran kocak , aku kira beneran jadian , mimpi toh?
    Keren banget idenya
    ditunggu ya karya lainnya ^^

  2. ampun dah…
    kirain beneran…
    ternyata mimpi poor ji eun*nepuk kaki ji eun(?)
    kalo beneran sneng banget tuh bisa boncengan sma baekhyun..
    ckck…
    ff nya keren kok halal(?)..
    jadi layak konsumsi
    dtunggu ff yg lain thor ^^

  3. aiiigggoooo ,,,, aku baru tau kalo ff q ini ternyata di publish ……… 🙂
    kirain ini ff udha di lempar jauh2 ke planet EXO (??) #geje #abaikan
    waaaaaccchhhhhh ,,,, neomu2 gamsahamnida yg udha mw sempet2nya baca dan comment ff q ini ,,,, hikkkzzzz ,, jd terharu … prrrrruuuuusssshhh ,, *ngelap ingus
    maaph gag bisa bales komen satu2 yaa ..
    yg jelas aku sangat menghargai apresiasi kalian ,,,, #tebar bias kecuali baek :p
    aaaiiiiccchh ,, luph U full lah .. kecup basah dari ku dan baekkie .. #readers kaburrr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s