Half of My Heart: Baekhyun

Sub Title          : Bus Stop

Author             : Inhi_Park & Kim Mus2

Main Casts      : Byun Baekhyun &Min Saera

Genre              : Romance, School life

Rating             : General

Summary         :“Mengawali hari dengan menatap wajah indahmu memberiku kekuatan untuk menjalani sisa hariku”

(Baekhyun’s side)

Aku menggeliat pelan, meregangkan semua otot saat sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui sela-sela gordyn biru kamar tidurku. Perlahan ku buka mata, kuhirup udara pagi sebanyak-banyaknya. Hah… Pagi yang damai… gumamku dalam hati.

Setelah kurasa cukup menikmati pagi yang damai itu, aku bergegas bangkit menuju kamar mandi. Setelah sekitar 20 menit menghabiskan waktu disana dengan hampir 10 lagu dengan judul berbeda yang sukses kunyanyikan, aku segera menuju  spot favoritku di kamar ini. Masih dengan selembar handuk putih yang membelit pinggang, aku berdiri tepat di depan sebuah cermin besar yang menempel di salah satu dinding kamar.Inilah spot terbaik di kamarku.

“Byun Baekhyun… Kau tampan… Seperti biasanya…” Kataku sambil meletakkan ibu jari dan telunjuk di dagu dan beberapa kali menggerakkan wajahku ke kiri dan ke kanan. Tanganku bergerak membetulkan tatanan rambutku yang masih setengah basah. “Ah… pantas saja banyak siswi yang menggilaiku.” Kataku lagi. “Baiklah cukup untuk hari ini, aku harus segera ke sekolah untuk menemui penggemar-penggemarku.” Ujarku sambil berbalik menuju lemari.

Sesaat langkahku terhenti saat aku mengingat kejadian kemarin. “Aaaarrgghhh… Luhan hyuuuung…” Teriakku frustasi.

(Flashback)

“Baekhyun-ah…” Sapa seorang pria di dari balik pintu kamar tidurku.

“Ah… hyung? Mana motorku?” Tanyaku pada Luhan hyung, kakak kelas yang bertugas memberi bimbingan pelajaran yang paling ku benci, Fisika.

“Itu… Emh… ada di depan.” Suaranya terdengar pelan.

“Oh… Sudah kau parkirkan? Ya sudah…”

“Tapi…” Aku menatapnya. Ekspresinya berubah.

Aku mengikuti langkah Luhan hyung menuju halaman rumah tempat motor sport hitamku terparkir. “Omona… Ya! Hyung, kau apakan motorku?” Betapa terkejutnya aku melihat kondisi motorku yang tidak utuh lagi. Kaca spion kanannya pecah. Bodynya baret, banyak goresan-goresan yang cukup dalam. “Hyuuung…” Rengekku.

“Mian Baekhyun-ah… Aku tidak sengaja merusaknya. Saat aku mau mengantarkannya kesini, adikku tiba-tiba iseng ingin berpose dengan motormu. Saat aku akan mengambil fotonya, tiba-tiba dia terjungkal dan membuat motormu tersungkur.” Aku melongo mendengar penjelasannya. Hah… Malang nian nasibmu motorku tersayang.

(Flasback ends)

Akibat rusaknya motorku ternyata sangat fatal. Kau tahu, aku terpaksa harus naik bis sekarang. Aku mengetuk-ngetukkan ujung sepatu kets favoritku ke lantai halte bis yang berwarna abu-abu tua mengikuti melodi yang mengalun melalui headphone hitam yang bertengger di kepalaku. Punggungku menyandar pada dinding kaca pembatas halte yang hanya berukuran 5 meter ini. Beberapa orang terlihat sedang duduk, ada yang menunggu sambil membaca koran, ada juga yang sibuk melahap sandwich yang mungkin tidak sempat ia makan di rumahnya tadi.

Di ujung bangku halte aku melihat seorang gadis yang terlihat sibuk dengan headphonenya. Aku tersenyum karena yang kami lakukan nyaris sama persis. Mendengarkan musik sambil menghentakkan kaki mengikuti irama. Dari pakaian yang dikenakan, aku yakin dia juga seorang pelajar, hanya saja aku tidak tahu dari sekolah mana mengingat jaket besar yang ia pakai. Penampilannya terlihat lain dari pelajar wanita umumnya. Gadis ini terlihat sangat tomboy.

<><><>

Mataku menjelajahi pemandangan pagi yang terasa asing bagiku. Sejak kecil, aku terbiasa diantar oleh Kang ahjussi, supir keluargaku, kemanapun aku pergi. Termasuk ke sekolah. Saat masuk tingkat pertama high school Appa memberikanku motor, jadi selama ini aku tidak pernah punya kesempatan untuk merasakan situasi pagi yang seperti ini. Aku tidak pernah tahu rasanya memilih rute yang tepat agar bisa sampai ke tempat tujuan, lalu menunggu bis yang ternyata bukan hanya aku saja peminatnya, sehingga harus mengantri dan aku juga baru tahu rasanya berdesakan dengan orang-orang yang tidak ku kenal seperti sekarang ini.

Tanganku masih bergelantungan di ring besi yang sengaja di pasang diatap bis demi membuat penumpang yang kurang beruntung karena harus berdiri sepertiku tetap bisa menjaga keseimbangan. Laju bis semakin pelan saat bis ini tiba di pemberhentian yang selanjutnya.

Bukan… bukan disini… aku baru harus turun di pemberhentian tiga, itu artinya masih harus menunggu dua lagi. Dengan susah payah aku mengingat-ingat rute yang benar agar aku tidak tersesat.

Saat pintu bis perlahan tertutup dan bis ini mulai bergerak lagi. Seorang nenek tua melangkah masuk. Aku merasa simpati karena pada kenyataannya beliau terpaksa harus berdiri karena semua kursi sudah penuh. Nenek tua itu berdiri tepat di depanku. Aigo… apa namja-namja itu tidak bisa melihat kalau disini ada nenek tua yang sedang berdiri. Apa tidak ada seorang pun yang mau merelakan kenyamanan tempat duduknya untuk orang tua ini? Cih… mengerikan. Batinku.

Baru saja aku selesai menggerutu mengenai mental para namja yang asyik-asyiknya duduk sementara ada orang yang lebih berhak, seorang gadis berjaket putih dan topi hitam tiba-tiba berdiri dan berjalan kearahku. Itu gadis yang kulihat di halte bis tadi.

“Halmonie, mari duduk.” Katanya sambil mengambil lengan nenek tua dihadapanku itu.

“Tidak usah nak… kau duduk saja.” Jawab nenek tua itu.

“Tidak apa-apa, lagipula sebentar lagi aku sampai.” Senyumnya merekah saat ia menuntun sang nenek ke tempat duduknya semula.

Setelah menempatkan nenek itu di tempat duduknya, gadis itu mengambil alih tempat nenek tadi berdiri. Ya, tepat di depanku.

Dari tempatku berdiri aku mengamati punggung gadis yang tingginya hampir sejajar dengan mataku. Gadis ini terlihat tidak seperti gadis sekolah pada umumnya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia manis, hanya saja jaket longgar, topi dan jaket hoodie yang dia kenakan membuatnya terkesan tomboy. Padahal sekilas tadi bisa kulihat rambut hitam panjang dan bergelombang yang cukup bagus yang dia sembunyikan di balik topi dan hoodienya itu. Dan saat dia bicara dengan nenek itu, aku juga bisa melihat mata besarnya yang indah.

Cukup lama aku memperhatikan gadis yang sedang berdiri di depanku ini sampai tak terasa bis berhenti dan gadis itu bergerak turun. Setelah sedikit celingukan karena benar-benar bingung dengan rute yang sedang ku tempuh ini, aku pun ikut turun di halte tempat gadis itu turun tadi.

Gadis itu melangkah pergi menjauh dari halte lalu memasuki gerbang besar bertuliskan “Gangnam High School”. Oh… jadi dia siswi Gangnam. Apa? Gangnam? Itu kan lebih jauh dari sekolahku. Berarti aku telah melewatkan halte dimana aku seharusnya turun. Oh my God…

Aku berlari ke seberang jalan lalu menunggu bis yang bisa membawaku kembali ke tempatku yang seharusnya.

<><><>

“Anyeonghaseo sonsaengnim… Maaf saya terlambat.” Kataku setelah mengetuk pintu dan mendapati Kim sonsaengnim sedang mengajar di dalam kelas.

“Byun Baekhyun. Karena ini pertama kalinya kau terlambat, jadi kau boleh masuk.” Katanya dengan suara tegas.

“Ya, tumben kau terlambat. Telat bangun, huh?” D.O, teman sebangkuku terlihat heran dengan kondisiku pagi ini.

“Aniya… Hanya saja… Ah nanti saja ku ceritakan.” Jawabku singkat.

<><><>

Sepertinya keberuntungan belum berpihak padaku. Semalam pekerja bengkel menelpon dan katanya mereka memerlukan waktu kurang lebih 1 minggu untuk membuat motorku kembali seperti semula. Dan itu artinya, selama 1 minggu ini aku berangkat ke sekolah dengan bis. Arrgghhh… membayangkannya saja sudah membuatku malas. Harus menunggu bisnya datang, lalu mengantri, belum lagi kalau penumpangnya sedang banyak, aku terpaksa harus bergelantungan seperti monyet… huhh…

Hari ini penumpang tidak terlalu banyak. Meski awalnya aku harus berdiri, di pemberhentian selanjutnya seorang wanita paruh baya turun dan aku bisa mengambil tempat duduknya semula.

Gadis yang ku temui kemarin duduk dua bangku di depanku. Dan dari tempatku sekarang, aku bisa melihat dia disana. Meski harus menempelkan kepala ke jendela agar bisa melewati kepala orang-orang supaya bisa melihatnya, tapi aku bisa melihat rabutnya yang kali ini di gerai tanpa ditutupi topi maupun hoodie. Dan dengan begini ia terlihat lebih manis.

Saat bis berhenti di pemberhentian ketiga, aku melihat beberapa siswa yang mengenakan seragam sepertiku berlalu lalang disana. Seharusnya saat ini aku bangun dari dudukku lalu turun, tapi entah kenapa rasanya aku masih betah disini.

Dan ketika bis mulai bergerak, aku hanya bisa menatap nanar ke arah pemberhentian yang kulewati. Hey, gadis berrambut panjang dan bermata besar, ini salahmu. Karenamu aku melewati sekolahku begitu saja. Kataku dalam hati.

<><><>

Sepertinya aku mulai terbiasa dengan situasi pagi seperti ini. bergelantungan di bis sambil berdesak-desakan sudah bukan masalah buatku. Tapi yang membuatku tidak tenang adalah gadis itu berdiri sangat jauh dariku sekarang. Ia berdiri jauh di depan, sedangkan aku terpojok di bagian belakang.

Meski begitu aku masih sedikit beruntung karena dia masih tetap berada dalam jarak pandangku. Walau ketika bis berbelok dan para penumpang ikut bergeser dari posisi semua, terkadang aku kelabakan untuk menemukan kembali sosoknya. Aku tidak mau dia sampai terlepas dari pengawasanku. Kan kalau ada yang berniat jahat padanya aku bisa segera tahu.

Setibanya di halte di dekat Gangnam high school, ia beranjak dari tempatnya. Dan saat bis menepi, gadis itu pun melangkah turun. Dan saat itu juga lah aku ikut turun lalu memandanginya memasuki gerbang sekolah. Setelah sosoknya tak lagi nampak, aku tersenyum lalu menyebrang dan menunggu bis-ku. Hah, kenapa aku malah sangat menikmati kegiatan konyol ini. Kau tahu, hari ini aku kembali melewatkan halte bis tempat aku seharusnya turun. Dan kali ini bukan karena tidak sengaja, melainkan 100% karena aku memang ingin lebih lama memandangi gadis itu. Hahaha… gila bukan…

<><><>

“Hey, hari ini kau terlambat lagi?” Tegur D.O.

“Ehehe… iya.” Jawabku sambil cengengesan.

“Ya! Bukannya motormu yang kurusak waktu itu sudah selesai di perbaiki? Kenapa kau tidak mengendarainya lagi? Malah naik bis, kau jadi sering terlambat kan…” Ujar Sehun.

“Emh… Iya. Tapi sekarang aku lebih suka naik bis saja.” Jawabku. Memang benar, motorku sudah selesai di perbaiki, tapi sekarang naik bis terasa lebih menyenangkan bagiku. Tentu saja karena kehadiran gadis itu.

<><><>

Seperti beberapa hari sebelumnya, hari ini penumpang bis tidak terlalu ramai sehingga aku mendapat tempat untuk duduk. Tempat dudukku saat ini berada tepat di belakang supir sementara gadis itu duduk hampir 3 bangku di belakangku.

Aku mendengus kesal karena merasa bosan tidak ada pemandangan yang menarik dari posisiku sekarang. Iseng, mataku memperhatikan setiap sudut yang terjangkau oleh pandanganku. Dan saat melihat kaca spion yang terletak di bagian depan bis, di atas kepala pak supir, senyum lebar mengembang dari bibirku.

Dari kaca spion itu aku melihat pantulan seorang gadis yang sedang asyik mendengarkan lagu melalui headset di telinganya. Itu gadis cantik yang menjadi salah satu alasan aku betah berangkat sekolah dengan bis setiap pagi.

Ia terlihat sedang menatap jalanan melalui jendela di sebelah kirinya. Wajahnya terlihat tenang, tidak tampak sedang memikirkan apapun. Mungkin ia hanya sedang melamun atau apa aku tak tahu. Setelah puas mengamati wajahnya, pandanganku bergerak turun ke dadanya. Tunggu! Jangan berpikiran yang macam-macam! Aku hanya ingin melihat name tag-nya saja. Serius!!!

Mataku menyipit. Karena jaraknya yang cukup jauh dan karena melihat dari pantulan kaca, tulisan di name tag-nya sedikit sulit dibaca. Selain kecil, juga terbalik. ‘Min… Sae… Ra…’ ejaku. Ya, namanya Min Saera. Nama yang cantik. Persis seperti orangnya… hehe…

<><><>

Sepertinya hari ini dewi fortuna sedang benar-benar bersamaku. Kau tahu, pagi ini aku hampir ketinggalan bis. Saat aku tiba di halte, bis yang biasa ku naiki sudah mulai bergerak maju. Terpaksa aku berlari menghentikannya. Saat aku berhasil memasuki bis, mataku menjelajahi semua tempat duduk dan ternyata ada satu yang tersisa. Tapi sejenak langkahku terhenti saat tahu kalau bangku kosong itu tepat di samping gadis yang akhirnya ku tahu bernama Min Saera itu.

Sambil terus mengatur nafas yang masih memburu, aku menghampiri bangku kosong itu lalu menempatinya. Gadis itu tidak terlihat terusik sama sekali dengan kehadiranku.

Ia masih saja asyik menatap keluar jendela. Padahal aku disini duduk dengan sangat tidak tenang karena jantungku berdegup sangat kencang. Saking kencangnya, aku sampai taku janga-jangan suaranya terdengar oleh orang yang duduk di belakangku.

Seperti hari-hari sebelumnya, aku kembali melewati pemberhentianku yang seharusnya dan mengikutinya turun di pemberhentian bis dekat sekolah Gangnam.

Bis kembali melaju setelah menurunkan beberapa penumpang termasuk aku dan Saera di pemberhentian Gangnam. Tanpa menunggu lama, gadis itu melangkah pergi memasuki gerbang sekolahnya. Setelah beberapa langkah ia berjalan, aku melihat sesuatu yang berkilau terjatuh darinya. Ketika akan ku kembalikan, gadis itu sudah tak nampak lagi.

Kalung dengan liontin bintang itu kini ada di tanganku. Ini kalung milik Saera yang terjatuh. Biar ku kembalikan besok saja. Siapa tahu bisa sekalian mengenalnya… kekeke~

<><><>

Aku menghampiri seorang gadis yang kebetulan bangku di sebelahnya kosong. “Maaf, kau menjatuhkan ini kemarin.” Kataku sambil menyodorkan kalung yang kemarin ia jatuhkan.

“Hah, oh nde. Gamsahabnida.” Jawabnya singkat. Setelah mengambil kalung itu dan tersenyum simpul, ia kembali memfokuskan pandangannya keluar jendela.

“Sepertinya benda itu sangat berarti untukmu.” Kataku.

Gadis itu melirikku sekilas dan tersenyum.

“Pemberian pacarmu ya?” Tanyaku sok tahu.

Senyum diwajahnya memudar berganti dengan tatapan tidak suka. Got it! Jeritku dalam hati

“Ya, aku mengerti. Hadiah dari pacar pasti sangat penting, jadi tidak boleh hilang.” Tambahku. Senang rasanya sudah mendapat perhatiannya meski dengan membuatnya terganggu seperti ini.

“Ini bukan dari pacar.” Katanya pelan.

“Ah… tidak usah malu. Mengaku saja… itu dari pacarmu kan?”

“Mengaku apa. Ini memang bukan dari pacarku.” Suaranya meninggi. Sepertinya ia sudah sangat kesal sekarang.

“Mengaku saja.. tidak apa-apa ko.” Ledekku.

“Bukan. Ini pemberian ibuku tahu.”

“Aah… ibumu apa ibumu…?”

“Ibuku! Aish… Kau ini.” Dia menatapku kesal. “Ish! Lagipula kau siapa mau tahu urusanku?” Tambahnya.

“Oh iya, aku lupa kalau kita belum berkenalan. Aku Baekhyun. Byun Baekhyun.” Aku mengambil lengannya paksa lalu menjabatnya erat. “Senang berteman denganmu, emh… Min Saera.” Kataku sambil melihat name tag-nya.

“Ya! Dasar namja pervert!” Jeritnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Ani… Ani… aku hanya melihat name tag-nya, itu saja…” Belaku sambil mengibas-ibsakan tanganku. “Sungguh, aku hanya membaca namanya saja. Aku tidak berbuat macam-macam.” Tambahku saat menyadari tatapan tajam dari orang-orang seisi bis ini.

Saat ku alihkan pandanganku pada gadis yang duduk disampingku, ia terlihat sedang menahan tawa.

<><><>

“Hai, kita bertemu lagi.” Kataku saat mendapatinya sedang berdiri di pinggir trotor pemberhentian bis yang biasanya.

Gadis itu hanya mendelik kearahku sekilas lalu kembali fokus dengan aktifitasnya.

Saat bis yang akan mengantar kami ke sekolah merapat ke dekat tempat kami berdiri, kami segera bersiap mencari tempat didalam sana. Dalam waktu sekejap saja beberapa bangku yang asalnya kosong kini terisi penuh menyisakan sepasang bangku di bagian belakang.

Aku mengambil tempat di samping jendela sementara ia malah berdiri mematung di sampingku. “Semua bangku sudah penuh, kau tidak punya pilihan lain. Ayo duduk.” Lanjutku sambil menarik lengannya.

Sepanjang perjalanan aku berceloteh panjang lebar padanya, padahal aku tahu kalau dia tidak memperhatikanku sedikitpun.

“Kau siswi Gangnam ya? Kelas berapa?” Tanyaku awalnya. “Hey, kau suka fisika tidak? Kalau aku sangat tidak suka. Kau tahu kenapa? aku tidak suka karena…” Aku terus berbicara meski ia terlihat tidak sedikitpun mendengarkan ocehanku.

Tiba-tiba gadis yang duduk disebelahku menolehkan pandangannya padaku. “Tck, kau ini benar-benar keras kepala ya…” Katanya.

“Ehehehe…” Aku hanya bisa tertawa konyol mendengar komentarnya.

<><><>

Sejak hari itu, setiap pagi kulalui dengan bersenda gurau bersamanya, memandang binar matanya saat ia bercerita, menatap manis wajahnya saat ia tersenyum, memperhatikan cerianya saat ia tertawa.

Bersamanya di setiap pagi saat aku akan memulai hariku, rasanya seperti mengisi baterai dalam diriku sehingga aku sanggup melewati kegiatan sepanjang hari.

<><><>

Sudah kuputuskan, hari ini aku akan menyatakan perasaan yang kurasakan padanya sejak pertama kali melihatnya. Aku akan bilang kalau aku menyukainya lalu memintanya menjadi pacarku. Ya! Akan kulakukan, tekadku.

Aku sudah menyiapkan semua yang kubutuhkan untuk menjalankan rencana yang sudah ku pikirkan semalaman. Dan sekarang saatnya…

(Author’s side)

Sebuah bis merapat tepat di depan seorang gadis yang sedang berdiri di pemberhentian bis di dekat sekolahnya seorang diri. Saat itu hari sudah mulai gelap. Karena harus latihan basket, jadilah gadis yang bernama Min Saera itu baru bisa pulang selarut ini.

Saat pintu bis terbuka, dengan ragu-ragu dia mendekat lalu berkata pada sang supir, “Ahjussi, apa bis ini menuju Mapo?”

“Nde agassi.”

Setelah mendengar jawaban dari suppir, Saera pun melangkah masuk. Di dalam bis ia bisa melihat beberapa orang penumpang yang semuanya namja. Dan demi keamanan ia memilih untuk duduk tepat di belakang kursi pengemudi.

Sudah lebih hampir 20 menit perjalanan, tapi bis itu belum juga sampai di tempat tujuan Saera. “Hmmm… maaf ahjussi, apa benar bis ini menuju ke Mapo?”

“Benar agassi, hanya mengambil jalan yang agak berbeda.”

“Emh… baiklah.”

(Baekhyun’s side)

Kalau tidak salah perhitungan, maka mereka akan tiba sekitar 5 menit lagi, kataku dalam hati. Aku sudah mulai menjalankan rencanaku sejak tadi siang. Aku sudah menyewa sebuah bis untuk menjemput Saera dan meminta Kang ahjussi untuk mengendarainya. Aku juga sudah meminta beberapa teman sekolahku, termasuk D.O dan Sehun untuk berpura-pura menjadi penumpang demi menghindari kecurigaan dari Saera. Dan yang terakhir, aku sudah mempersiapkan kejutan untuknya di tempatku berada saat ini.

Dan tepat seperti perhitunganku. Tidak lebih dari lima menit, sebuah bis mendekat ke gerbang taman tempat aku berdiri.

“Ahjussi… Ahjussi… ini bukan daerah tempat tinggalku! Ahjussi…!!!” Terdengar suara gadis berteriak-teriak karena tiba-tiba ia di turunkan dari bis. Itu bagian dari rencanaku… kekeke~ Mianhae Min Saera…

“Hai… Min Saera…” Sapaku.

“Baek… Hyun…?” Tanyanya ragu. Mungkin merasa heran aku berada di tempat yang cukup sepi sendirian seperti ini.

Aku tersenyum saat ia menghampiriku dengan senyum manis tersungging di bibirnya. “Kau sedang apa disini?” Tanyanya. “Apa kau juga diculik oleh supir bis yang aneh itu?” Tanyanya lagi.

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab sepatah katapun.

“Ya, kau baik-baik saja?” Tanyanya setelah tidak mendapat respon apapun dariku. Ia menempelkan punggung tangannya tepat di keningku. “Kau tidak demam. Tapi kenapa tiba-tiba kau jadi pendiam begini?” Selorohnya.

“Saera-ya?” Tanyaku.

“Emh…?” Ia menatapku.

Aku menangkap tangan kanannya dan menuntunnya memasuki taman. Meski heran karena gadis itu bertanya apalagi melawan, tapi aku senang karena ini akan mempermudahku.

Aku membawanya ke tengah taman yang hanya di sinari lampu remang-remang. Setelah menempatkannya di satu titik, aku melepaskan lengannya lalu bergerak mundur beberapa langkah. Aku tersenyum kearahnya. Selang sedetik kemudian suasana menjadi terang benderang dengan lampu warna-warni yang terpasang di setiap sudut taman.

Ia menutup mulut dengan tangan kirinya. “Baekhyun-ah…”

“Saera-ya, thanks for coloring my day…” Ucapku.

Dan tepat setelah itu, sebuah lampion besar berbentuk hati mengapung dari balik pohon yang dililiti lampu-lampu berwarna-warni.

“Would you be the part of my day ang make it more colorful?” Tanyaku.

“Baekhyun-ah…”

“I’m serious. I love you Min Saera…” Kataku kemudian.

Ia tersenyum. “I’ll be glad if I can be the part of you.” Jawabnya yang disusul dengan rangkulan yang ku dapat dari gadis bertubuh mungil itu.

~END~

Author’s talk:

First of all… Author mau minta maaf sama para Baconista (?) untuk cerita yang amat sangat ga jelas ini. Maaf banget banget banget kalo feel-nya kurang dapet… L

Dan buat ending part ini author terinspirasi dari SHINee waktu jd guest star di acara ‘taxi’ lho… kkk~

Setelah ini akan hadir versi pamungkas yang mungkin udah ditunggu-tunggu… Horeee… #riweuh sendiri

Okee.. seperti biasanya yaa, abis baca ngapain??? Tinggalin jejak! Betul sekali… ayo.. ayo.. mari di komen… n_n

Salam Authors

108 pemikiran pada “Half of My Heart: Baekhyun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s