Love at School (Chapter 2)

Author             : @Tanti_ChoQorry

Main cast         : Xi Luhan, Kai, Oh Sehun. Song Jiyoo (OC), Choi MoonHee (OC), Han HyeRi(OC).

Genre              : School life, romance, friendship, AU

Length             : Chaptered….

Disclaimer       : story, plot and Song Jiyoo belong to me. Kai, Sehun and Luhan belong to god and herself. Pleash don’t bash my story, this story just my imagination. Plagiator not allowed !!

Jiyoo menutup telinganya yang sedikit berdesing mendengar ucapan-ucapan kasar yang terlontar dari mulut kedua orang tuanya. Ia tak tahan sungguh ia ingin menulikan telinganya untuk sementara, setidaknya ia tidak harus mendengar ucapan-ucapan tidak pantas itu keluar dari kedua orang tuanya.

“Kau Lihat !! Ibu Macam apa kau yang teganya menelantarkan anak sendiri demi melayani pria busuk seperti pria itu!!”teriakan ayah jiyoo menggaung di rumah besar itu.

“Cish. Apa kau bilang? Kau….”

BRAKK

Jiyoo membating gelas yang ada di hadapannya hingga gelas itu pecah dan tercecer di lantai marmer mengkilap rumah itu.

“Berhenti berteriak kubilang !!” jiyoo berbicara dengan datar, diluar dia tampak tidak mengeluarkan emosi apapun dan terlihat tak peduli, tapi ayahnya tahu kalau putrinya sedang tertekan saat ini.

“Kau !! kalau kau muak tinggal bersama kami dan tidak ingin berada di rumah ini, sebaiknya kau pergi saja!” jiyoo menatap tajam ibunya yang hanya terpaku mendengar ucapan anak semata wayangnya itu.

“Yoo~ Eomma minta ma….”

“appa ! lusa aku sudah masuk asrama sekolah. Sepertinya kita akan lebih jarang lagi bertemu. Jaga dirimu baik-baik,” ucap Jiyoo memotong ucapan ibunya dan berlalu dari hadapan keduanya.

Tess…tess

Airmata itu meleleh begitu saja saat belum 5 langkah jiyoo melangkah meninggalkan rumah megah nya itu.

Ia tidak habis pikir dengan ibunya. Kenapa bisa ia selalu menyalahkan suaminya yang notabene ayah Jiyoo padahal sudah jelas kalau dia sendiri yang menghancurkan rumah tangga keluarganya dengan pergi berselingkuh dengan pria lain.

Jiyoo bahkan berpikir kalau ia yang berada di posisi ayahnya, gadis itu mungkin akan menyeret ibunya keluar dari rumah ini. Terlalu menyedihkan mendapati orang yang melahirkanmulah yang membuat hidupmu hancur.

Jiyoo memilih berjalan menyusuri taman kota, salju sedang turun saat ini dan Jiyoo hanya memakai baju tipis yang melekat di tubuhnya.

Kaki jenjang itu melangkah menuju sebuah bangku yang terletak di bawah sebuah pohon maple besar hingga alas duduk bangku itu tidak tertutupi salju dan memungkinkan Jiyoo untuk duduk disana tanpa perlu repot membersihkan salju terlebih dulu.

Matanya kembali berair setelah ia melihat pemandangan yang begitu indah jika dilihat dalam keadaan biasa, tapi di matanya pemandangan seorang ibu dan ayah yang sedang menggandeng anaknya di tengah salju dimana sang ayah memayungi ketiganya itu bagaikan cambuk yang menyakiti hatinya. Terlalu menyakitkan.

“Ada apa denganku? Kenapa aku sering sekali menangis akhir-akhir ini.” Gumam Jiyoo dan terkekeh miris saat mendapati dirinya yang begitu menyedihkan.

“Kalau Jong In melihatku, mungkin ia akan tertawa terbahak-bahak dan akan mengejekku habis-habisan. Bangun Song Jiyoo ~ ini bukan dirimu. Jangan pernah keluarkan lagi cairan sial itu dari matamu begitu saja!” ucapnya lebih pada dirinya sendiri.

“Kau menangis?” jiyoo mendongakan kepalanya saat tiba-tiba ia mendengar suara tenor seseorang tertangkap oleh indra pendengarannya.

Mata keduanya bertemu lagi, jiyoo merasa ada yang aneh dengannya saat melihat sepasang mata sipit itu sedang menatapnya teduh diiringi senyuman manisnya yang tertuju padanya. Mata itu seakan familiar bagi Jiyoo~

“Apa kau menangis?” ulang pria itu sambil menarik dagu Jiyoo dengan santainya membuat jiyoo membelalakan matanya lebar dengan prilaku abnormal yang dilakukan pria dihadapannya.

“Apa yang kau lakukan ! lepas!” Jiyoo menepis tangan pria yang sedang menyentuh dagunya itu. pria itu hanya tersenyum jenaka pada Jiyoo, membuat gadis itu sejenak tertegun melihat lengukangan indah dari bibir tipis itu.

“aku pernah melihat ekspresi marah, sombong, menyebalkan dan tawa mengejek darimu yang ditujukan untuk orang lain. Tapi aku baru kali ini melihatmu mengeluarkan air mata. Aku tahu kau cantik saat sedang menangis, tapi kau akan terlihat semakin cantik saat sedang tersenyum kurasa. Aku memang belum melihatnya, tapi kupastikan kau akan sangaaat lebih cantik.” Ucap pria itu dalam satu tarikan napas yang membuat Jiyoo terdiam dan entah kenapa malah menyimak ucapan pria yang tidak di kenalnya itu.

Mata jiyoo semakin melebar saat pria itu melepas jaket tebal yang dipakainya dan menyampirkannya ke bahu Jiyoo, tidak hanya itu, jiyoo semakin melongo parah saat tiba-tiba pria itu mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi Jiyoo cepat.

“Aku pergi. Anyeong…..”

Pria itu meninggalkan Jiyoo yang sedang mematung di tempatnya sambil memegang pipinya yang terasa menghangat, ia bahkan masih bisa merasakan lembutnya bibir pria itu dipipinya. Tapi sepersekian detik kemudian ia tersadar..

“YA!! NEO ! BERANINYA KAU MENCIUMKU !!”

“Hei.. kau yang di kelas 3-II kan?” ucap moonhee saat mendapati ada siswi lain yang sudah duluan sampai di kamar barunya di asrama sekolah.

“Ne.. ah. Kau fotographer yang bertugas mengisi cover majalah mingguan sekolah kan? Aku sering melihatmu keluar masuk ruang jurnal~” jawab gadis itu sambil menghentikan aktivitasnya membereskan pakainnya ke dalam lemari.

“Ah.. senang sekali bisa menjadi roomatemu. Choneun Choi MoonHee imnida. Neo ireumi mwoeyo?”

Moonhee mengulurkan tangannya kearah Hyeri yang disambut semangat oleh Hyeri “Han Hyeri imnida. Bangapseumnida,” hyeri tersenyum. Ia senang karena bisa mendapatkan roommate yang terlihat menyenangkan dan friendly seperti moonhee.

“Ada 3 ranjang. Aku belum menentukan akan tidur dimana karena kita harus berunding dengan satu siswi lainnya. Sepertinya ia akan terlambat datang, menurutmu gadis seperti apa yang akan jadi roommate kita nanti?” ucap Hyeri dan membuat moonhee mengedikan bahunya ringan pertanda ia juga tidak tahu.

“Kuharap bukan seseorang yang menyebalkan dan…”

Brakkk..

Pintu itu terbuka dan menampakan seorang gadis berambut pendek sebahu sedang sedikit kesusahan menarik kopernya, bahkan sepertinya saat membuka pintu itupun gadis itu menggunakan kakinya untuk melakukannya.

Moonhee dan Hyeri membelalakan matanya lebar, tak menyangka teman roomatenya adalah gadis yang paling berpengaruh di sekolahnya. Song Jiyoo.

“Bisa bantu aku?” nada dingin itu menyeruak begitu saja membuyarkan keterkejutan kedua gadis itu.

Dengan cekatan Hyeri langsung mendekati Jiyoo dan membantu membawakan sebuah koper milik Jiyoo. Sedangkan MoonHee langsung mengambil sebuah tas yang tersampir di bahu Jiyoo.

“Gomawo…” ucap Jiyoo singkat.

“Err~ karena kau sudah datang. Sebaiknya kita mulai tentukan pembagian tempat tidur,” usul moonhee yang disusul oleh anggukan Hyeri.

“Aku ingin tidur disini!” ucap Jiyoo lalu bergegas pergi ke sebuah ranjang tunggal yang ada di kamar itu.

Moonhee sedikit mendesah pelan, padahal itu ranjang incarannya. Tapi tak apalah, berhubung Song Jiyoo yang memintanya, ia tidak akan berani melawan ataupun menyanggah ucapannya.

“Kalau begitu aku disini,” Hyeri langsung menduduki ranjang tingkat dua yang berada dibawah.

Moonhee mendesah lebih berat sekarang, itu ranjang kedua incarannya, tapi ia kalah cepat dan akhirnya harus pasrah tidur di ranjang susun yang berada diatas.

“Baiklah. Semoga kita bisa menjadi roommate yang rukun,” ucap MoonHee sambil mengepalkan tangannya dan mengacungkannya di depan wajahnya.

“Ne…” Hyeri mengikuti apa yang MoonHee lakukan.

Keduanya lalu melirik Jiyoo yang sudah tiduran di ranjangnya, jiyoo yang merasa di perhatikan seperti itu mendesah lalu ikut mengacungkan tangannya lemah “Ne.. …”.

Jiyoo berlari dengan tergesa di lorong sekolahnya. Ini memang bukan jam sekolah, tentu saja. Ini sudah jam 7 malam, sekolah mana yang mengadakan pembelajaran di jam segitu.

Gadis itu menggebrak pintu kelasnya dan segera berlari ke meja yang selalu ia tempati itu. jiyoo mengelus dadanya lega saat ia mendapati Ipodnya ternyata memang tertinggal di laci mejanya.

Kalau kalian bertanya kenapa seorang anak gadis kaya seperti Song Jiyoo rela berlarian di malam hari seperti ini di gedung sekolah yang tidak terlalu terang hanya untuk menemukan kembali Ipodnya yang tertinggal padahal ia bisa membeli Ipod baru yang lebih canggih dan bagus dengan kekayaannya. Jawabannya adalah karena Ipod merah itu adalah Ipod pemberian dari Kai~ Kim Jong In. sahabat sehidupnya.

Jiyoo keluar dari kelasnya dengan santai, tidak setergesa tadi. kepalanya menengok ke kiri-kanan, melihat kondisi sekolahnya yang ternyata sangat mengerikan di malam hari begini.

Brakkk

“KYAAAA!!!” Jiyoo menutup matanya refleks saat ia mendengar sebuah suara yang mengagetkannya itu.

“Siapa itu?!” ucap Jiyoo pelan sambil perlahan membalikan tubuhnya masih dengan mata yang tertutup.

Tak tahan dengan keadaannya yang menutup mata, perlahan Jiyoo membuka matanya setengah-setengah dan pemandangan yang ia lihat adalah…

“Hai… kenapa kau ada disini malam-malam begini,” ucap seorang pria yang membuat Jiyoo membuka matanya sepenuhnya. Jiyoo mendelik tajam pada pria itu sambil mendesis.

“Kau yang mengagetkanku tadi? CIh…. Berani sekali kau!” ujar Jiyoo dan maju mendekati pria yang masih bertahan di tempatnya itu.

“Oh tadi buku milikku terjatuh. Maaf untuk itu dan Heiiii.. bukankah kau Song Jiyoo?” mata pria itu berbinar-binar senang saat menyadari kalau gadis di depannya ini adalah Song Jiyoo, gadis yang beberapa hari ini terus berjalan-jalan di mimpinya.

“Siapa kau? Kenapa kau bisa….YA!! Kau bukankah kau pria  kurang ajar yang waktu itu mencium……Hmmppp,”

Teriakan dan makian itu tertahan seketika saat bibir pria itu menempel di bibir tipis Jiyoo mendadak membuat gadis itu lupa bagaimana caranya bernafas dan melawan untuk beberapa saat.

Pria itu melepaskan pertautannya lalu menyingkirkan helaian rambut yang terjuntai menutupi kening Jiyoo.

“Jangan berteriak lagi Oke…”

Pria itu dengan santainya berlari pelan dari tempat itu, meninggalkan Jiyoo sendiri dengan kebingungan dan keterkejutan yang melandanya saat ini.

“A-apa yang pria itu lakukan? I-ini yang kedua kalinya,”

_EXO_

Luhan menyimpan buku tebal berlabel Physics is a friend itu di deretan bukunya yang terjajar rapi di sebuah rak kecil di samping ranjangnya.

Bibirnya tak henti mengulas senyum mengingat apa yang baru saja ia lakukan pada gadis itu—Song Jiyoo—sebelumnya Luhan tidak pernah berpikir akan melakukan hal se nekad dan se tidak tahu malu seperti itu pada seorang gadis terlebih gadis ini adalah gadis yang cukup berpengaruh di sekolah tempat ia menuntut ilmu.

Tapi apa yang bisa Luhan lakukan? Pria itu selalu tidak bisa menahan dirinya jika sudah berhadapan dengan Jiyoo, terlebih saat menatap mata datar itu. luhan amat sangat yakin kalau ia benar-benar jatuh hati pada gadis itu.

“Aku sudah gila karena melakukan hal itu padanya tadi~” gumam Luhan sambil terkekeh pelan membuat seseorang yang sedang tiduran di ranjangnya merasa sedikit terganggu dengan gumaman Luhan.

“Memang hal gila apa yang kau lakukan Luhan-ssi?” pria yang tadi tertidur di sebrang ranjang Luhan sekarang mengubah posisinya menjadi terduduk di tepi ranjangnya, menatap salah satu roomatenya dengan penasaran.

“Ah Sehun-ssi kau mendengar gumamanku? Maaf mengganggu tidurmu,” Luhan tersenyum kecil pada Sehun yang hanya dibalas anggukan oleh Sehun.

“Jadi hal gila apa yang baru saja kau lakukan?” Sehun bertanya ulang membuat Luhan sedikit ragu apakah akan menceritakannya pada Sehun atau menyimpannya sendiri.

“Mencium seorang gadis~” Luhan menjawab sambil membereskan buku-bukunya yang sebenarnya sudah rapi, hanya saja :Luhan ingin sedikit mengalihkan rasa gugupnya saat menjawab pertanyaan Sehun.

“Siapa gadis itu? pacarmu?” Sehun mendekati ranjang Luhan, mendadak penasaran dengan gadis yang dicium Luhan.

Sehun sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan. Sebelumnya ia bahkan tidak pernah mau repot-repot mendengar urusan pribadi orang lain, tapi saat ia melihat Luhan, Sehun merasa hal yang ada pada diri pria yang umurnya lebih tua darinya itu selalu membuatnya tertarik.

“Dia~……”

Brakk ….

Pintu terbuka dan menampakan seorang pria yang terlihat terengah sambil membawa Helm motornya berjalan masuk ke ruangan itu dan langsung berbaring di ranjang yang tadi ditiduri Sehun.

“Kai~ah jadi kau sekamar denganku juga?” Tanya Sehun saat melihat teman sekelasnya sewaktu tingkat 2 menjadi roomatenya.

Kai kembali bangkit dan duduk disamping Sehun lalu mengangguk pelan. Terlihat sekali kalau pria itu sedang kelelahan.

“Hemm…”

Lalu mata Kai melirik kearah Luhan yang balik menatap Kai dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Siapa namamu? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya,” ucap Kai.

Luhan mengubah ekspresinya yang tadi sedikit terkejut dengan sebuah senyuman manis khas Luhan.

“Xi Luhan imnida. Aku siswa baru pindahan dari China,” jawab Luhan sambil mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Kai.

“Hmm Kai imnida~”

_EXO_

HyeRi mematung di tempatnya saat melihat sesosok pria sedang menari dengan lincahnya di lantai kayu mengkilap dengan dua sisi dinding yang tutupi oleh cermin besar.

Jantungnya kembali berdegup kencang saat menyadari kalau pria itu balik menatapnya dari pantulan cermin itu dan membuat pria itu menghentikan aktivitas menarinya.

“Anyeong haseyo Kai~ssi. Song Hyeri imnida, kepala sekolah menuliskan namaku di daftar orang yang paling lemah dalam kelas dance dan menjadikanmu sebagai tutorku, jadi….”

“Neo…! Bukankah kau gadis papan pengumuman?” Kai melesat cepat dan berdiri di depan Hyeri sambil menunjuk wajah gadis itu dengan telunjuknya.

Hyeri berjengit ketakutan saat Kai menatapnya dengan pandangan berkilat-kilat. Doanya agar Kai tidak mengingat kejadian itu ternyata tidak di kabulkan Tuhan. Dan lihatlah…. Kai bahkan memberikan nama panggilan aneh untuknya. Gadis papan pengumuman?

“A—untuk yang waktu itu a-aku minta maaf Kai-ssi. Sungguh aku tak bemaksud mengatkan hal tidak sopan seperti itu padamu,”

“Aiissshh sudahlah gadis papan pengumuman. Jadi kau yang akan kuajari dance? Dilihat dari posturmu kau sepertinya memang tidak memiliki bakat dance sama sekali,” ejek Kai sambil menatap Hyeri dari atas ke bawah.

Dalam hati Hyeri merutuk apa yang dikatakan dan dilakukan Kai padanya. Oke Hyeri akui ia memang menyukai pria bad boy itu, tapi untuk diremehkan seperti itu. hyeri tidak akan pernah terima.

“Jangan bawa-bawa postur tubuh Kai-ssi. Aku kesini ingin memintamu untuk mengajariku dance, bukan untuk dijadikan bahan ejekanmu,”

“Tch~ baiklah kita lihat semampu apa kau menguasai gerakan dasar dalam dance,”

Lalu Kai berjalan kearah sebuah computer yang terletak di pojok ruangan, mengatur lagu dalam playlist nya dan setelah itu terdengarlah alunan music hiphop menggaung di ruangan kedap suara itu.

_EXO_

Moonhee mentap sedih pada deretan alat-alat music yang ada di hadapannya. Dari semua alat music yang ada disana, Moonhee hanya bisa memainkan harmonica saja, padahal untuk lulus ujian praktek, setiap siswa diwajibkan menguasai 3 alat music.

Pantas saja kepala sekolah memasukanku ke privat alat music, pikir MoonHee.

Mata Moonhee menatap kearah seorang pria yang sedang memainkan stik drum dan duduk di sebuah kursi menghadap langsung benda berbunyi berisik itu—drum

“Emm Sehun-ssi, menurutmu alat  music mana yang sekiranya mudah untuk dimainkan?” Tanya MoonHee.

“Semuanya mudah untuk dimainkan,” jawab Sehun tanpa melihat moonhee sedikitpun membuat gadis itu megnerucutkan bibirnya sebal.

Tentu saja mudah di mainkan oleh Oh Sehun, tapi tidak untuknya. Moonhee tertarik pada harmonica saja karena kagum melihat Super Junior Kyuhyun yang memainkannya saat SuperShow 4 jadi ia merasa akan sangat keren jika ia juga bisa mengikutinya.

“Cepatlah pilih alat music apa yang ingin kau mainkan? Aku bukan orang pengangguran yang bisa kapan saja mengajarimu meskipun kepala sekolah sekalipun yang menyuruhku,” Sehun berkata dingin dan tanpa memandang Moonhee—lagi.

“Baiklah… violin dan piano saja.” Putus MoonHee sambil berjalan kearah tempat yang memajang Violin warna hitam.

“Baiklah… tapi aku tidak yakin kau bisa menguasainya melihat dengan kemampuan otak kiri kananmu yang tidak seimbang,”

Detik itu juga, untuk pertama kalinya MoonHee merasa sangat ingin menendang ulzzang yang disukainya itu ke sungai Han.

_EXO_

Jiyoo mengetuk-ngetukan pensilnya di atas meja perpustakaan. Hanya dia sendiri disini ditemani tumpukan buku di sekelilingnya dan suara ketukan yang ia ciptakan dari tubrukan antar pensil dan mejanya.

Sungguh jika bukan karena tawaran ayahnya yang mengharuskannya masuk ke 10 besar pemegang nilai tertinggi di ujian Negara, Jiyoo tidak mau melakukan ini. Diajari oleh seorang yang seangkatan dengannya terlebih oleh orang yang belum dikenalnya.

Tapi mau bagaimana lagi? Jiyoo mau tak mau harus melakukannya karena kemampuannya dalam pelajaran fisika sangatlah minim. Berbanding terbalik dengan kemampuannya di pelajaran lainnya yang bertarap hampir sempurna.

“Maaf menunggu lama Jiyoo-ssi,”

Suara lembut itu berdesing melewati telinga Jiyoo membuat gadis itu merinding mendengarnya.

Dan saat ia berbalik, saat itu jugalah Jiyoo merasa menjadi orang paling sial di dunia.

_TBC_

Eottheo? Membosankan-kah? Pembagiannya dari tiga main castnya sudah merata belum?

Oke…

Gomapseumnida….

Dimohon saran dan kritiknya yang membangun demi kelangsungan hidup ff ini.

Coment like oxygen to me…

 

Iklan

46 pemikiran pada “Love at School (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan ke Anvyny Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s