MAMA (Chapter 2)

MAMA – A Crazy Little Thing Called Love

 

   Title: A Crazy Little Thing Called Love

Genre :Romance

Author : Rimahyunki

Length : Chaptered, episode

Rating : G

Main Cast :

Kim Jongin (Kai)

Wu Yifan (Kris)

Xi Luhan

Kwon Richan


Supporting cast:

EXO

Geul Rinjung

Shin Heerin

 Summary:

“Kau menyukainya?”….. “Suka? Ya crazy~”….. “Kau boleh berkata tidak, tapi matamu mengungkapkan apa yang mulutmu tidak bisa katakan”

fanfic ini merupakan bagian dari ff My Angel My Attraction [MAMA] yang dibagi dua:

  • ·         A Crazy  Little Thing Called Love (Main cast: Kai, Kris, Luhan)
  • ·         A Creepy Little Thing Called Love (Main cast: Sehun, Lay Baekhyun)

MAMA 2ND EPISODE

Enjoy reading~~

●●●●●●

Kupacu mobilku di atas kecepatan rata-rata menembus jalanan kota Seoul di malam hari. Sambil memutar lagu coldplay yang terus mengalun di dalam mobil, pandanganku kuarahkan lurus ke depan.

Drrt.. Drrt..

Sebelah tanganku mengambil handphone yang kuletakkan di dasbor mobil.

1 new message.

From: Kkamjong

hyaa kau tidak menepati janji! Aku benci padamu.

Senyuman mengembang dari kedua sudut bibirku. Kuletakkan lagi handphone ke tempat semula masih terus memerhatikan jalanan.

Incheon Airport_

Bukk. Begitu turun dari mobil, aku langsung berjalan cepat menuju ruang tunggu kedatangan.

“Yeoja berambut lurus panjang, wajahnya imut memakai mantel dan topi merah” gumamku mencoba mengingat ciri-ciri yang disebutkan Hwang unnie

sambil terus memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

Ah iya! Kenapa tidak melihat foto yang dikirimkan Hwang unnie saja!

Aku langsung meraba-raba kantung celanaku.

“Lhoh handphone-ku dimana?”

Aish Jinjja! Pasti masih ada di dasbor mobil.

Aku hendak membalikkan badanku sebelum seseorang menabrakku cukup keras.

“Aigoo Mianhae” ucap seseorang yang bersuara imut.

“Gwenchana” balasku kemudian berlalu melewatinya. Tunggu dulu. Yeoja tadi? Berambut panjang, imut, bermantel dan bertopi merah…

“Shin Heerin.shi !”

Bingo. Ia berbalik. Senyuman merekah di wajahnya, yeoja itu berjalan kemudian membungkukkan badan sopan.

“Annyeonghasseo” sapanya ramah.

“Kwon Richan” ujarku mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan agak canggung sebelum akhirnya aku memintanya untuk segera pergi dari keramaian di bandara ini.

Selama berjalan menuju tempat parkir, kami hanya lebih banyak diam dan tersenyum satu sama lain.

Hanya ada suara jangkrik dan angin yang menjadi backsound. Krik krik. (⌣́_⌣̀)

Bukk. Ia duduk di sebelahku dengan diam tanpa banyak suara. Keponakan Sooman sajangnim ini benar-benar berbeda dengan pamannya.

“Kau benar-benar keponakan Sooman sajangnim?” tanyaku bodoh berusaha membuka pembicaraan.

“Ne..” jawabnya dengan suara yang jujur saja sangat imut. Sedikit mengherankan jika yeoja sepertinya ingin bergabung dengan SME yang terkenal hardcore.

“Tidak usah malu-malu begitu, santai saja jika denganku”

“Ne.. Richan.shi” jawabnya begitu formal.

“Kau lahir tahun?”

“Sembilan empat”

“Ah.. Kau bisa memanggilku unnie, I’m a year older”

Ia menganggukkan kepalanya mengerti. Aigoo, yeoja ini benar-benar imut sekali.

Kedua mataku kembali terfokus ke depan. Lagu yang mengalun dari radio membuat suasana hening yang tercipta menjadi sedikit ramai.

Tiba-tiba aku jadi teringat akan sesuatu. Atau mungkin lebih tepatnya seseorang. Kim Jongin, yah atau aku harus menyebutnya Kai sekarang ? Aish namja itu pasti akan marah padaku besok karena tidak melihat perform-nya sampai tuntas. Ayo Richan berpikir! Kira-kira apa yang akan membuatnya mau memaafkanku. Yah walaupun sebenarnya ini tak sepenuhnya kesalahanku.

“Unnie..”

Aku melirik Heerin sebentar kemudian kembali fokus, “Ne?”

“Sebenarnya aku gugup sekali, aku pikir tadi seorang bodyguard atau pria-pria menyeramkanlah  yang akan menjemputku. Tapi ternyata seorang yeoja yang cantik yang datang. Huh unnie sudah berapa tahun menjadi trainee? Apa rasanya berat? Jujur saja meskipun Sooman ahjussi adalah pamanku, aku masih merasa…”

Kedua mataku membelalak mendengar ucapan tanpa koma yang keluar dari mulut yeoja di sebelahku ini. Baru saja beberapa menit lalu aku menganggapnya yeoja yang pendiam dan pemalu, tapi kurasa aku akan mengubah presepsiku itu.

“Geulrin pasti senang sekali punya teman mengobrol sepertinya” ucapku pada diri sendiri.

. . . .

 

21.00 KST

“Kita akan tinggal disini?” tanya Heerin menunjukkan wajah polos begitu kami sampai di tempat parkir gedung apartemen.

Aku menganggukkan kepala, “Di lantai atas,” tambahku sambil menunjuk ke lantai atas.

Setelah turun dari mobil, aku membantu Heerin menurunkan barang-barang yang ia bawa. Sebenarnya yeoja ini membawa apa saja sampai koper-kopernya jumbo dan super berat seperti ini.

Setelah berhasil menurunkan semua koper, kami berduapun berjalan menuju tangga yang terletak tidak terlalu jauh. Aku berjalan sedikit lebih di depan Heerin.

Saat hendak mencapai tangga, seorang yeoja berambut sepundak terlihat sedang berjalan terburu-buru. Ia menutupi wajahnya seperti orang baru saja menangis. Aneh sekali. Aku yakin jika yeoja itu bukanlah penghuni salah satu apartmen disini. Entahlah siapa yeoja bertinggi semampai itu. Tapi sudahlah, bukan urusanku juga.

“Unnie, bisakah kau membantukuu?”

Aku memalingkan wajahku ke arah Heerin yang sedang kesulitan menaikkan barang-barangnya. Aigo hampir saja aku lupa.

. . .

Klek.

Kuberikan isyarat agar Heerin ikut masuk setelah aku membukakan pintu.

“Annyeonghasseo”

Geulrin langsung bangkit dari sofa. Ia seperti terperanjat kaget begitu mendengar suara pintu yang terbuka.

“Waeyo Geulrin.ah?” tanyaku bingung melihat raut muka Geulrin yang tidak biasanya.

Geulrin membulatkan matanya, ia seperti orang linglung mendengar pertanyaanku. Namun ia tiba-tiba menggelengkan kepalanya, “Aniyo.. Eh siapa dia?”

Aku membalikan badanku kemudian menepuk keningku sendiri.

“Seperti yang pernah kuceritakan padamu, ternyata ia akan tinggal bersama kita” balasku sambil menyunggingkan senyuman.

“Shin Heerin imnida”

Kutinggalkan mereka berdua yang masih sibuk berkenalan. Aku hendak melangkahkan kaki menuju dapur, sebelum mataku menangkap sesuatu.

Sebuah gelas bekas minuman di atas meja? Apakah ada tamu sebelum kami datang?

Aku melihat ke arah Geulrin yang sedang mengobrol dengan Heerin. Berani taruhan jika ia pasti tidak akan memberitahuku jika aku bertanya. Apalagi mengingat wajahnya tadi. Aku yakin ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

. . . . .

 

Kai poV_

Suara teriakan dan gemuruh dari fans yang menggema begitu keras setelah penampilan kami, membuatku melemparkan sebuah senyuman ke arah mereka.

Meskipun kami belum bisa memberikan penampilan yang terbaik, aku berharap semua orang yang telah menunggu debut exo bisa merasa terhibur.

Aku dan kelima member lain membungkukan badan kami kecil kemudian berlari   menuju backstage. Sehun merangkul pundakku dari belakang. Wajahnya terlihat begitu sumringah.

“Biar aku tebak, kau pasti sudah berbaikan dengan pacarmu itu kan?”

“Namanya Ara..”

“Ne ne, ara ara.. Kapan aku bisa sepertimu” ucapku sambil bergeleng.

Ia merapatkan rangkulannya hingga hampir mencekikku, “Gampang.. Kau tinggal bilang Richan.shi saranghamnida”

Aku melihatnya yang sedang tersenyum lebar.

Kujitak kepalanya, “Kau pikir bilang padanya itu gampang hah”

Sehun menyunggingkan evil-laughnya. Kami berdua dan keempat member yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan masuk ke dalam waiting room.

“Haah~” kurebahkan tubuhku di atas kursi. Kuedarkan mataku ke sekeliling, melihat semua aktivitas setiap member yang berbeda. Misalnya saja Chanyeol dan Baekhyun yang entah sedang melakukan permainan apa, lalu Kyungsoo ? Oh dimana dia ? Ah pasti ke kamar kecil lagi.

“Ne jagiyaa~”

Sudah dapat ditebak siapa orang dibalik percakapan mesra dengan pacarnya itu. Maknae Sehun.

Kudongakkan kepalaku ke atas, menatap langit-langit. Dan kau tau apa? Wajah itu muncul seketika saat aku memejamkan kedua mataku.

Kwon Richan. Aish, kau tau betapa bodohnya aku yang hanya bisa terus menjadi sahabatmu.

 

Can you heard it? My heart is telling you that I love you. But I can’t reveal it to anyone. Please I’m begging you to know it..

. . . .

 

Keesokan harinya, 06.00_KST

Richan poV_

“Aku berangkaat~” seru Geulrin keras kemudian menghilang di balik pintu. Heerin dan aku saling berpandangan heran melihat kelakuan yeoja yang terlihat begitu bersemangat untuk berlatih.

Geulrin memang seorang pekerja keras, apalagi ini adalah mimpi besarnya untuk menjadi seorang entertainer. Tapi entahlah, aku merasa sedikit khawatir dengan sikapnya itu.

“Geulrin unnie benar-benar rajin sekali” celetuk Heerin yang masih mengunyah sarapan paginya.

Aku beranjak dari meja makan seusai menghabiskan sarapanku.

“Cepat habiskanlah sarapanmu, kita akan menyusul Geulrin ke gedung SM”

Heerin terlihat bersemangat seusai mendengar ucapanku. Percaya atau tidak, pasti akan banyak yang membicarakan tentang kehadiran keponakan bos besar ini.

. . . . .

Kedua mata Baekhyun bergerak mengikuti Sehun yang berjalan mondar-mandir di depannya.

“Sehun.ah bisakah kau tidak mondar-mandir seperti ingus begitu hah?”

Sehun berhenti kemudian melihat ke arah hyung-nya itu seraya mengangkat sebelah alisnya bingung, “ingus?”

“Maju mundur, maju mundur…”

“Aish stop stop hyung! Aku tau semua yang keluar dari mulutmu pasti tidak bermutu” sergah maknae itu. Sebuah kalimat yang langsung menusuk tajam ke dada Baekhyun.

“Hyaa kau ini!”

Sehun terkekeh lalu balas berkata, “Makanya kau cari pacar sana”

Namja yang lebih akrab dengan panggilan Bacon itu hanya dapat menggaruk puncak kepalanya. Memang apa hubungannya? pikir Baekhyun bingung.

“Tapi setidaknya aku tidak akan memilih pacar yang usianya sama denganmu, pasti akan menyusahkanku saja” ucapnya ia tujukan pada diri sendiri. Namun Sehun bisa mendengar dengan jelas apa yang hyung-nya katakan barusan.

“Hati-hati dengan ucapanmu hyoong!” ujar namja itu kemudian menghilang menuju dapur.

Baekhyun memegang mulutnya sendiri.

hati-hati?untuk apa?kenapa?

“Bacon.ah!”

Chanyeol yang tiba-tiba muncul di belakang Baekhyun menepuk pundak namja itu keras, membuat Baekhyun terperanjat dari sofa. Namja tinggi itu duduk di sebelah Baekhyun lalu memindah-mindah channel tv dengan remote di tangannya.

“Wae??” tanya Chanyeol menyadari jika Baekhyun sedang melihatinya.

“Jangan melihatiku begitu, aku masih normal” tambahnya seraya menjauhkan kepala Baekhyun dengan satu tangannya.

Baekhyun balas mendorong kepala Chanyeol, “Kau pikir aku tidak normal hah?”

Chanyeol terkekeh, “Lalu kenapa kau melihatiku begitu?”

“Kau kan pernah pacaran, bagaimana rasanya hah?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Baekhyun. Raut muka ceria Chanyeol langsung berubah 180derajat begitu mendengar ucapan Baekhyun. Ia memalingkan wajahnya kembali ke layar tv, tanpa berkata apapun.

“Hya Chanyeol.ah”

Chanyeol melirik sekilas ke arah namja di sebelahnya lalu kembali melihat ke arah tv.

Dihembuskannya napas panjang hingga akhirnya mulai angkat bicara, “Jangan tanyakan soal itu. Aku tidak mau mengingatnya”

Mendengar jawaban Chanyeol, Baekhyun langsung diam. Ia bisa mengerti sesuatu dari ekspresi dan ucapan sahabat se-line-nya itu.  Yah, pasti bukan sebuah kenangan yang patut untuk diingat.

. . . .

 

Richan poV_

Aku merapatkan tali sepatu cats-ku sebelum menyusul Heerin yang sudah terlebih dulu berjalan menuruni tangga. Ah jjangkaman ! Aku jadi teringat sesuatu.

“Heerin.ah!” seruku memanggil yeoja berambut cokelat itu.

“Ne?” tanyanya saat aku sudah berjalan menyamainya.

Kunaikkan sebelah alisku sembari menyunggingkan senyuman, “Kau tau exo kan?”

“Tentu saja, aku sangat mengagumi mereka” ujarnya membuatku menganggukkan kepala.

“Baguslah. Aku akan mengajakmu bertemu mereka” kataku singkat. Sebenarnya aku bukan ingin mengajak Heerin bertemu mereka, lebih tepatnya aku mengajaknya untuk menemaniku menyelesaikan urusanku dengan salah satu member exo, Kim Jongin.

Namja itu benar-benar menyebalkan sekali. Tidak membalas pesanku, tidak mengangkat teleponku. Aish sepertinya ia benar-benar marah.

. . .

Heerin terus melihatiku ketika mengatakan bahwa kami telah berada di depan pintu dorm member exo-k. Selama perjalanan kemari yang tidak membutuhkan waktu lama, ia terus saja menanyaiku segala yang kuketahui tentang keenam namja yang menurutnya mengagumkan itu.

Kutekan bel pintu, menunggu seseorang untuk membukakannya.

“Eh annyeong Richan.shi” ucap seorang namja dengan kedua mata bulatnya. Ia menyambut kedatanganku dengan sebuah senyuman dan sebuah sutil di tangannya. Siapa lagi jika bukan Do Kyungsoo.

Namja berwajah imut itu memandangiku, kedua mata besarnya seperti memberi isyarat ‘siapa yeoja itu’

“Ah ne, perkenalkan temanku.. Dia anak baru” gurauku sambil mengedipkan mata pada Heerin.

Tiba-tiba Kyungsoo langsung menjulurkan telapak tangannya cepat, “Annyeonghasseo, Do Kyungsoo imnida,” ucapnya mirip dengan seorang tentara yang sedang memperkenalkan dirinya.

“Nne.. Shin Heerin imnida” balas Heerin kaku seraya menjabat tangan Kyungsoo. Aku melihati mereka berdua beberapa lama kemudian berdehem keras karena keduanya tak kunjung melepaskan jabatan tangan mereka.

“Ehem.. Kau tau jika ia adalah keponakan bos besar?”

Kyungsoo membulatkan matanya yang super besar itu ke arahku kemudian melirik Heerin sebentar.

“Aigoo mianhamnida” ujar namja itu langsung melepaskan tangannya yang semula menggenggam tangan Heerin. Kyungsoo membungkukkan badannya hampir sembilan puluh derajat. Melihatnya yang salah tingkah membuatku hampir saja tertawa sebelum dapat kutahan.

“Masuklah.. Kau mencari Jongin?” tanya Kyungsoo yang kujawab dengan anggukan kecil.

“Ia masih di tempat tidur, seperti biasa tidak ada yang bisa membangunkan tukang tidur itu bahkan manajer hyung”

Aku langsung menunjuk ke arah pintu kamar Jongin. Memberi isyarat pada Kyungsoo untuk mengijinkanku masuk kesana. Sebenarnya tidak usah minta ijin pun, aku sudah terbiasa masuk kesana.

“Ne ne”

Begitu mendapat lampu hijau dari Kyungsoo, aku langsung melepaskan sepatuku dan berlari menghambur menuju kamar.

Tanpa melupakan Heerin, aku berkata pada Kyungsoo, “Jaga keponakan bos baik-baik yaa”

Klek. Kubuka pintu kamar Jongin yang tidak terkunci. Tidak ada yang berubah, kamar ini selalu bersih dan tertata begitu rapi kecuali satu hal,

Tempat tidur Jongin.

Aku berjalan mendekati namja yang matanya masih terpejam itu. Begitu sampai di tempat tidurnya, aku naik perlahan ke atas.

Kugelengkan kepalaku melihat namja itu.

“Jongin.ah bangun!” seruku namun tidak mendapat  respon apapun. Aku mendesah. Kutarik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

Berhasil. Namja itu bergerak dan menggumam tak jelas.

“Umma yaa~ aku masih ngantuk” gumamnya masih tidak mau membuka mata. Ia pasti mengira jika aku teman sekamarnya.

Aku melempar selimut yang berusaha ditariknya ke lantai.

“Bangunlah! Ada Ham Yeseul di sebelahmu” bisikku tepat di telinganya. Kita lihat bagaimana reaksinya.

1..2..3 !

Kedua matanya langsung terbuka walaupun sedikit. Ia tiba-tiba merentangkan kedua tangannya ke arahku.

“Yeseul.ah saranghae~”

“Hyaa Jongin.ah! Jangan macam-macam” ucapku khawatir ketika namja itu bergerak makin mendekatiku. Spontan aku bergerak kian mundur hingga..

Bukk. Bukk.

Aku dan Kai terjatuh dari tempat tidur. Aigoo! Kuusap kepalaku berusaha bangkit dari posisiku yang tertidur di atas lantai. Kulihat sekilas ke arah Jongin yang juga sedang memegangi kepalanya kesakitan.

“Hyaa Richan.ah apa yang kau lakukan?” tukasnya menyalahkanku.

“Aish kau itu!”

Setelah kami berdiri, ia balik melihatku tajam.

“Untuk apa kau kesini?” tanyanya sinis.

“Aku minta maaf tidak bisa melihatmu sampai selesai..”

“Lalu?” selanya memotong ucapanku yang belum selesai.

“Kau boleh minta apa saja asal kau tidak marah lagi” balasku tanpa berbasa-basi. Sebenarnya aku sendiri tak tau apa yang kulakukan. Kenapa aku sangat peduli sekali jika namja itu marah   padaku, kenapa juga aku tak mau ia marah padaku. Entahlah.

Kai berjalan mendekatiku dengan langkah sempoyongan layaknya orang baru bangun tidur.

Namja itu melihatiku, memandangiku dengan tatapan yang jujur saja tak kusukai. Pervert ? Yah mungkin seperti itulah caranya melihatku sekarang. Seolah-olah matanya berbicara, “Aku minta kau jadi pacarku”

Ah berpikir apa aku barusan? Itu adalah hal paling mustahil di dunia ini.

“Berhenti melihatiku seperti itu” sergahku langsung menjauhkan mukanya yang masih kusut.

“Kau ini tidak niat minta maaf ya?”

“Arasseo.. Arasseo cepat katakan apa permintaanmu”

Ia meletakkan telunjuknya di dagu seperti sedang berpikir. Aku harap ia tidak meminta yang macam-macam. Awas saja jika iya.

“Aku tidak bisa berpikir sekarang, kapan-kapan saja. Jadi kau berhutang satu permintaan padaku” ucapnya begitu sumringah. Namja ini senang sekali jika aku punya hutang padanya.

“Ne ne ne” jawabku hanya bisa menganggukkan kepalaku pasrah. Akupun berjalan menuju pintu bermaksud untuk segera keluar kamar, namun sebelum aku menarik gagang pintunya, Jongin mencegahku. Namja itu memegangi pergelangan tanganku sambil berkata, “Aku sudah memikirkan apa permintaanku”

Entah kenapa saat ia mengucapkan satu kalimat itu, jantungku langsung berdebar tak karuan. Jujur saja aku takut dengan caranya memandangku sekarang.

. . .

Kai poV_

“Aku tidak bisa berpikir sekarang, kapan-kapan saja. Jadi kau berhutang satu permintaan padaku” ucapku menunjukkan wajah senang. Tidak, sebenarnya bukan karena aku tidak dapat berpikir. Terlalu banyak hal yang ingin kuminta darinya. Salah satunya adalah permintaan agar ia mau memberikan kesempatan padaku untuk membuatnya menyukaiku bukan sebagai seorang sahabat tetapi sebagai seorang pria.

“Ne ne ne” jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berjalan menuju pintu,  dan entah kenapa aku ingin mencegahnya keluar. Kupegang tangannya yang hendak menarik gagang pintu.

Sekarang kami saling berpandangan, ia melihatiku bingung.

“Aku sudah memikirkan apa permintaanku” ucapku tak melepas sedikitpun tatapanku pada wajahnya. Mungkin ini sedikit gila, tapi badanku bergerak begitu saja, semakin membungkuk dan semakin mendekatinya. Satu hal yang kutakutkan adalah jika ia tiba-tiba menjauhkan tubuhnya dariku.

Jebrakk. Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan sialnya, daun pintunya mengenai pundakku.

“Aduhh!” keluhku spontan langsung bergerak menjauh dari Richan.

“Aigo Jongin mianhae! Aku tidak tau kau ada di depan pintu”

Kulirik Chanyeol hyung tajam. Ia hanya terkekeh tanpa merasa bersalah.

“Kurasa aku harus pergi sekarang” potong Richan kemudian menghambur keluar sebelum sempat kulihat ekspresinya. Sekali lagi dan untuk yang kesekian kalinya. Gagal.

. . . . . .

 

Beijing, 09.00 a.m, Kris poV_

Kumatikan mesin mobilku setibanya di depan sebuah restoran tradisional yang cukup terkenal di daerah ini.

Aku melirik sekilas ke arah cermin lalu segera turun dari mobil.

Klek. Seorang pelayan membungkukkan badannya ketika aku memasuki   restoran. Ia tersenyum ramah yang hanya kubalas dengan sebuah senyuman kecil.

Mataku langsung mencari keberadaan seseorang yang mungkin telah lama menungguku.

Ah itu dia! Aku langsung berjalan menuju ke sebuah meja dimana seorang wanita yang sangat kurindukan sudah menungguku.

“Mama..”

“Wufan.ah”

Sebuah pelukan hangat langsung diberikannya menyambut kedatanganku. Ah aku sangat merindukan ibu tercintaku ini.

“Kau makin kurus saja sayang, apa kau tidak makan teratur?” tanyanya seraya memegangi wajahku.

“Aku baik-baik saja ma.. Aku makan teratur”

Beliau melihatku dengan dua mata indahnya seperti tak percaya dengan ucapanku barusan. Setelah kami berdua duduk, ia menyuruhku untuk segera memakan hidangan yang telah dipesannya.

“Wufan.ah apa kau tidak berpikir untuk segera mencari pacar?”

“Uhuk uhuk” Aku langsung tersendak mendengar pertanyaan ibuku itu. Kutepuk-tepuk sendiri dadaku sambil terus meminum air putih.

Setelah reda, aku kembali kelihat ke arahnya.

Senyuman mengembang di wajahnya, seperti sedang membaca pikiranku ia berkata, “Kau sudah menemukannya ya?”

Kubulatkan kedua mataku ke arahnya, sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulut.

Aku menggelengkan kepalaku, “Belum ma.. Aku masih ingin fokus bekerja”

Entah kenapa tiba-tiba mataku tertuju pada gelang hitam yang sedang kupakai. Dan wajah yeoja itu langsung terlintas di benakku. Aish apa yang kupikirkan? Berhenti memikirkan hal tidak penting seperti ini Wu Yifan.

 

(flashback)

“Aku kembali ke ruang tunggu dulu” ucapku pada Tao dan Jongdae yang sedang menghabiskan sarapannya. Mereka menganggukkan kepala tanpa banyak berbicara.

Aku keluar dari kantin untuk kembali ke ruang tunggu bandara.

Kukeluarkan handphone dari kantung celanaku, tanganku menggulirkan layarnya hingga masuk ke menu kontak. Entahlah apa yang sedang kulakukan, aku terus saja melihat daftar nama dalam kontak hingga berhenti di sebuah nama.

Yeoja ini? Yah, aku tidak akan melihatnya cukup lama di China nanti.

Hey tunggu dulu! Memangnya kenapa jika tidak melihatnya? Bukan sebuah kerugian juga kan?

Kumasukkan lagi benda tipis itu ke dalam saku celanaku.

Bukk.

Seseorang menabrakku, membuatku langsung menoleh ke arahnya. Ternyata seorang yeoja. Namun yang membuatku sedikit terkesiap adalah yeoja di depanku ini adalah yeoja yang… baru saja aku pikirkan beberapa detik lalu.

Kwon Richan? Bagaimana ia bisa ada disini?

Kami hanya diam tanpa menyapa satu sama lain untuk beberapa lama. Kedua matanya melihatiku dingin, tanpa ekspresi.

Aish dasar yeoja dingin.

“Richan.aah kajjaaa” teriak seseorang membuat yeoja itu membungkukkan badannya kecil sekaligus memberi salam perpisahan.

Aku baru akan melangkahkan kakiku ke depan sebelum sesuatu seperti menyangkut di bajuku.

Ternyata sebuah gelang yang dikenakan Richan.

Aku hanya diam di tempatku berdiri, menunggunya segera melepaskan benda itu dari bajuku. Lagipula salahnya sendiri kenapa memakai gelang banyak sekali.

Begitu ia berhasil melepaskannya, mata kami kembali terpaut beberapa detik   sampai kami saling memalingkan wajah.

Baru saja aku akan kembali melangkah, cincin exo yang kukenakan balik menyangkut di jaket rajutan yang ia kenakan. Aish ada apa sebenarnya ini?

Richan melihatku dingin, dua matanya seperti menyuruhku untuk segera melepaskan benda itu.

“Annyeong” ucapnya begitu aku selesai melepaskan ikatan diantara kami. Haish bicara apa aku barusan.

Ia berlari menghampiri Geulrin yang sudah menunggunya. Meninggalkanku begitu saja tanpa berkata apapun. Ah selain ‘annyeong’

Ting. Terdengar bunyi yang agak aneh. Aku seperti menginjak sesuatu.

Sebuah gelang? Bukankah gelang ini miliknya?

Kuambil benda bewarna hitam itu, ketika aku berbalik, ia dan Geulrin sudah menghilang.

(..)

 

“Kau sedang memikirkan apa Wufan?”

“Hmm?” tanyaku balik seperti baru sadar dari lamunanku.

“Bukan, bukan apa-apa” jawabku seraya menyunggingkan sebuah senyuman. Sebenarnya ada apa denganku? Hah entahlah.

Mama tiba-tiba meraih handphone-ku yang kuletakkan di meja. Ia mengutiknya sebentar kemudian menunjukkannya padaku.

“Aku tau kau sedang merindukannya, sekarang lebih baik kau telepon dia.. Setidaknya mendengar suaranya akan sangat melegakan”

Dahiku berkerut. Butuh beberapa lama hingga aku mengerti ucapan ibuku itu. Perlahan tapi pasti tanganku meraih benda yang dipegangnya. Apakah aku benar-benar akan meneleponnya?

. . . .

 

Seoul, Richan poV_

Aku membungkukkan badanku begitu melihat dua sunbae yang berjalan melewatiku.  Dua  orang namja tampan yang memiliki banyak penggemar diluar sana, Kim Jonghyun dan Choi Minho.

“Ah kau Richan ya?” tanyanya tiba-tiba membuatku kaget.

“Ne.. Waeyo?”

Ia menggelengkan kepalanya sambil terkekeh bersama Minho oppa, “Ani.. namamu mengingatkanku pada seseorang”

Aku hanya mengerutkan dahiku sementara dua namja itu tertawa kemudian berlalu meninggalkanku. Aneh sekali.

Kedua mataku masih terus melihat ke arah Geulrin yang terlihat sedang tertawa lepas bersama Sehun. Aku tidak pernah melihatnya tertawa seperti itu selain bersama Yixing oppa.

“Mereka pacaran?” tanya Heerin yang tiba-tiba berdiri di sampingku. Aku hanya mengangkat pundak, “Setauku Sehun sudah punya pacar”

Heerin menganggukkan kepalanya mengerti. Kami berdua memiliki cara pandang yang sama ke arah Sehun.

DRRT.. DRRT..

Getaran ponsel dalam saku celanaku membuatku langsung meraih benda kecil itu.

Sederet nomor tanpa nama membuatku sedikit bingung.

Titt. “Yobosseyo…”

Aku tak mendengar satupun suara balasan.  Aku berkata “Halo” sekali lagi, namun masih juga belum terdengar suara dari seberang telepon.

Tutt tutt.. Sambungan teleponnya tiba-tiba mati.

“Aneh sekali”

“Nugu?”

“Aku juga tidak tau nomor siapa..”

“Penggemar misterius?” ucap Heerin menunjukkan muka “:O” membuatku tertawa.

“Ah ne, bisakah kau memanggilkan Baekhyun oppa.. Hwang unnie menyuruhku memanggilnya tadi”

Tanpa banyak membantah, yeoja itu langsung berjalan ke sebuah ruangan yang kutunjukkan.

Kini perhatianku kembali tertuju pada handphone-ku. Aku memutar-mutar benda itu, mencoba mengingat siapa pemilik nomor yang sepertinya aku tau.

Ini seperti nomor Kris. Ah tapi tidak mungkin, untuk apa namja itu meneleponku? Berani taruhan, ingat siapa namaku pasti tidak. Pasti hanya orang iseng atau salah sambung.

“Telepon dari siapa?”

Jongin tiba-tiba sudah berada di sebelahku. Ia melihatku dengan wajahnya yang menyebalkan, wajah yang membuat semua orang ingin memukulnya.

“Mollayo~ mungkin penggemar rahasia” gurauku tak membuatnya tertawa. Ia justru melihatiku seperti taksuka dengan ucapanku barusan.

“Wae? Ada yang salah?”

“Aku masih punya satu permintaan kan?” tanyanya mengalihkan topik. Aku menganggukkan kepala mengiyakan.

“Kau harus menjadi asistenku seharian ini”  ucapnya membuatku tak mengerti. Kutautkan kedua alisku bingung.

“Ya asisten.. Kau harus menemaniku kemanapun, lalu saat aku latihan kau harus menyiapkan minum untukku, mengelap keringatku dan sejenisnya lah..”

Kuputar bola mataku begitu Kai menyelesaikan perkataannya. Aish menurutku itu bukan asisten, mungkin lebih tepatnya seorang pembantu pribadi.

. . .

 

Kai poV_

Aku terus memperhatikan Richan yang masih sibuk dengan buku di tangannya. Ia terlihat begitu serius sampai tidak menyadari jika aku sudah memperhatikannya cukup lama.

Mungkin aku adalah orang yang paling bodoh sedunia. Mengagumi tanpa dicintai.

Tiba-tiba ia mengalihkan perhatiannya dari buku, yeoja yang sudah menjadi temanku selama hampir tiga tahun itu melihatku. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku.

Aku baru menyadari jika ia membawa handuk kecil saat kami berdekatan. Richan mengelap seluruh keringat yang mengucur di wajahku mulai dari kening, hidung hingga pipiku. Sementara itu aku hanya bisa memandangi wajahnya, tanpa sedikitpun berkedip.

Ia menyunggingkan senyuman ke arahku, senyuman yang jujur saja bisa membuatku gila. Apalagi ketika garis matanya melengkung saat tersenyum.

Tidak ada satupun alasan bagiku untuk tidak menyukainya.

. . .

21.00_KST

“Gadis itu masih menunggumu diluar” ujar Suho hyung sembari menepuk-nepuk pundakku. Ia tersenyum menunjukkan ketampanannya, “Padahal aku sudah bilang jika giliranmu adalah yang paling lama”

Ucapan Suho hyung membuatku kaget. Apa gadis yang ia maksud adalah Richan? Aish yeoja itu keras kepala sekali. Aku juga sudah bilang padanya jika tes kesehatanku akan memakan waktu paling lama.

Bingo! Suho hyung benar. Richan masih duduk dengan tenang di kursi ruang tunggu. Aku berjalan mendekatinya bermaksud memarahinya karena sudah bersikap keras kepala, namun niatanku itu terurung saat melihatnya tertidur.

Aku tersenyum kemudian berjongkok melihatnya. Dasar yeoja bodoh.

Aku hendak membangunkannya, tapi sekali lagi kuurungkan niatku. Melihatnya tertidur seperti ini membuatku tak tega.

Kuputuskan untuk berjongkok, dengan hati-hati aku memindahkan tangannya untuk melingkar di pundakku. Aku mengangkat tubuhnya yang sekarang berada di punggungku secara perlahan, tak ingin membangunkannya.

Perlahan tapi pasti aku mulai berjalan. Hembusan nafasnya terdengar begitu jelas di telingaku, kepalanya yang berada di atas pundakku membuatku bisa melihat wajahnya dari dekat. Ia tidur begitu pulas, seperti seorang putri yang sedang bermimpi indah dan aku harap aku adalah pangeran dalam mimpinya, meskipun aku tau siapa yang sedang menempati posisi itu sekarang. Luhan hyung. Aku benar-benar iri padamu.

. . . .

 

Beijing, Luhan poV_

“Kau akan kembali ke Korea lagi?” tanyanya menunjukkan wajah tidak suka.

“Hmm..” jawabku hanya mendehem. Kami berdua  kemudian hanya diam. Suasana hening yang tercipta membuat kami tak banyak bicara.

“Kapan?” tanyanya lagi. Tak satupun senyuman terlihat dari wajahnya sejak kami pergi bersama.

“Minggu depan” jawabku masih menundukkan kepala. Kumainkan boneka stitch yang ia berikan, masih tak sanggup menatap wajahnya yang terlihat tidak bahagia.

Mendadak ia beranjak dari tempat duduknya. Kudongakkan kepalaku melihatnya, ia menatapku dengan pandangan yang sangat tak sukai.

“Aku sudah tidak tahan, aku ingin kita putus”

Aku terkesiap dan langsung bangkit dari kursi.

“Maaf Luhan, sepertinya kita tidak bisa bersama lagi.. Aku lelah menunggumu, aku rasa ini memang yang terbaik”

. . .

“HYAA KIM JONGIN! Apa yang kau lakukan pada Richan??”

“SSST….” sergahku menyuruh Geulrin untuk mengecilkan suaranya. Bukannya membukakan pintu dan menyuruhku masuk, yeoja ini malah menuduhku macam-macam.

Begitu Geulrin membukakan pintu, aku langsung berjalan menuju kamar Richan.

Kuturunkan ia perlahan di atas tempat tidur.

“Aigoo” keluhku sambil memutar-mutar tubuhku yang pegal. Kretek kretek. Semoga saja tulangku tidak patah.

“Sebaiknya kau segera katakan padanya tentang perasaanmu itu” ujar Geulrin noona  yang entah sejak kapan sudah berada di belakangku. Ia menunjukkan smirk-nya padaku yang hanya bisa diam.

“Aku tau itu tidak mudah, tapi cepatlah sebelum ada yang merebutnya darimu”

. . . . .

 

Mei 2012, Incheon Airport. Kris poV_

Kupijat pundak Luhan pelan seraya menyodorkan kantung plastik ke arahnya. Wajahnya terlihat begitu pucat semenjak ia berada di pesawat dan aku yakin seratus persen jika namja ini pasti akan muntah sebentar lagi.

1..2..3.. “Hhueek”

Lay membantuku memijat pundak Luhan, sementara Xiumin membawakan barang-barangnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya karena mau tidak mau kami harus sering melakukan perjalanan menggunakan pesawat.

“Kau seperti ini bukan karena habis putus dengan pacarmu kan?” tanya Yixing dengan volume suara yang dapat kudengar jelas.  Kulihat Luhan hanya tersenyum kecil membalas ucapan Yixing.

“Itu bagus, kan? Kau jadi bisa fokus” sahut Jongdae yang kusambut dengan anggukan setuju. Lagi-lagi Luhan hanya tersenyum kecil. Memang tak begitu jelas raut kesedihan di mukanya, namun aku tau pasti ini tak mudah untuknya. Apalagi kami baru saja kembali ke China.

EXO-M Dorm, 18.00_KST

Klek. Wajah Tao menyambutku begitu aku membuka pintu kamar mandi, membuatku hampir saja jantungan.  Ia melihatiku dengan tatapan yang sudah sangat aku hapal.

Aku berjalan melewatinya, tidak menggubris maknae yang masih mengikutiku itu. Bahkan saat aku sedang mengoleskan krim malam di wajahku, ia belum mau juga menjauhiku.

“Ge..” rajuknya saat aku masih meratakan krim tipis ke seluruh mukaku.

“Aigoo Hwang zitao, ada apa?” sergahku akhirnya pasrah. Kupalingkan wajahku dari cermin kemudian melihatnya.

“Aku ingin kau membelikanku mie instan”

Kuputar bola mataku kemudian berbalik melihat ke arah cermin, “Bukankah kita sudah punya?”

“Semua persediaan sudah dihabiskan Yixing dan Minseok hyung”  tambahnya yang hanya kubalas dengan deheman.

“Ayoolaaah~ Hyung mau aku melakukan aegyo supaya….”

“Aigoo baiklah baiklah, aku belikan sekarang” sergahku memotong perkataannya. Aish maknae yang satu ini memang paling bisa membuatku menyerah. Kutaruh krim itu di kaca wastafel kemudian bergegas memakai pakaianku.

Semua orang melihatiku ketika aku berdiri di ruang tengah.

“Wae?” tanyaku langsung dijawab oleh gelengan kompak dari Chenchen dan Yixing.

“Ada yang ,melihat rubikku?”

Luhan tiba-tiba keluar dari kamar dengan wajah kebingungannya. Aku melirik ke arah Yixing yang pura-pura sibuk dengan laptopnya,. Pasti namja itulah orang dibalik hilangnya rubik Luhan untuk yang kedua kalinya dalam minggu ini.

“Ah kebetulan, temani aku ke supermarket depan”

“Tapi Wufan.ah…”

Aku tak menghiraukan elakkan Luhan, langsung saja kutarik tangannya menuju keluar pintu.

Klek.

Seseorang sudah berdiri di depan pintu dorm kami, ia seperti hendak menekan bel sebelum aku sudah berhasil membukanya. Ia melihatku dengan matanya yang membulat terkejut, tak lama kemudian yeoja di depanku ini seperti sedang menahan tawanya. Apa ia mentertawakanku?

“Ah Luhan oppa, aku hanya ingin memberikan ini.. Sebuah kiriman saat kalian sedang ada di China”

“Ah gomawo Richan.ah”

Richan melihatku sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. Kentara sekali jika ia sedang menahan tawa dengan menutupi mulutnya.

Mataku mengikuti yeoja yang kini menuruni anak tangga itu. Sampai ia menghilang, au balik bertanya pada Luhan.

“Ada yang salah?”

Luhan hanya tertawa kecil sambil meletakkan kotaknya ke atas lantai.

“Tidak, hanya wajahmu…”

Reflek aku langsung memegangi wajahku yang masih setengah basah . Oh God!!

. . .

“Kau kenapa tidak memberitahuku hah?” tanyaku kesal dalam perjalanan kami menuju supermarket yang  berada tidak jauh.

“Kau yang tiba-tiba menarikku…”

Hassh. Aku berjalan cepat mendahului Luhan masuk ke dalam mini market 24jam yang terlihat tidak terlalu ramai. Luhan mengambil keranjangnya kemudian berlari ke arahku. Ia mengingatkanku untuk membeli beberapa bahan makanan di dorm yang sudah habis. Kamipun berjalan menuju tempat bahan-bahan makanan segar berada.

Beberapa yeoja yang melihat kami berdua tersenyum dan membungkukkan matanya, bahkan aku sempat mendengar ada yang meneriakki nama kami.

“Aku kesana dulu”

“Baiklah, aku akan membeli telur..” ucapku kemudian berjalan ke barat sementara Luhan ke arah sebaliknya.

Tanganku menjulur , hendak meraih sebuah kotak yang berisi satu lusin telur. Namun seseorang juga sedang memegangi kotak telur yang kuincar.

Kami langsung melirik satu sama lain.

Yeoja ini? Lagi? Kenapa sepertinya yeoja bernama Kwon Richan itu selalu berada dimanapun aku pergi?

Ia melihatiku dengan tatapan dinginnya dan wajah tanpa ekspresi.  Belum ada satupun dari tangan kami berdua yang mau melepaskan kotak telur itu, dan tidak ada satupun diantara kami yang mengucapkan sepatah kata. Hanya diam dan balas saling melirik.

Baiklah, kurasa aku yang harus mulai melepaskannya duluan.  Tidak mungkin kami diam lama seperti ini. Kulepaskan tanganku dan

Prakk! Ia juga melepaskan tangannya bersamaan denganku. Astaga.

“Maaf tuan, nona kalian harus mengganti telur yang kalian pecahkan itu” ucap seorang pelayan membuatku mendesah panjang.

. . .

“Wae?” tanyaku pada Luhan yang terus melihatiku. Begitu membayar semua barang belanjaan plus telur tadi, kami langsung berjalan keluar minimarket.

“Kau menyukainya ya?”

Aku langsung membulatkan mataku ke arah Luhan. Menyukainya? Richan?

“Suka? Ya Crazy~”balasku menyunggingkan sebuah smirk.

“Kau boleh berkata tidak, tapi matamu mengungkapkan apa yang mulutmu tidak bisa katakan”

Aku langsung terdiam begitu mendengar ucapan Luhan barusan. Aku ingin membantahnya tapi entahlah aku tidak bisa. Atau yang diucapkan Luhan memang benar?

Ah sudahlah. Untuk apa juga aku memikirkan hal itu.

“Wufan.ah kau duluan saja, aku baru teringat sesuatu” tukas Luhan tiba-tiba berlari kembali ke aah minimarket dengan belanjaan yang masih dibawanya. Aku hanya menaikkan pundakku tanpa sempat menjawab salamnya.

Aku kembali melangkahkan kakiku menuju dorm. Udara yang cukup dingin membuatu langsung menaikkan tudung jaket lalu memasukkan kedua tanganku ke dalam kantung celana.  Sekeras apapun aku berusaha mengalihkan perhatianku,  ucapan Luhan tadi masih melekat di otakku.

Mataku kembali memandang lurus ke depan, begitu melihat Richan aku langsung menghentikan langkahku. Aku juga tak tau apa yang kulakukan, tapi tubuhku malah berjalan mengikutinya.

Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika melihat seorang anak kecil yang sedang terduduk di pinggir jalan. Meskipun aku menjaga jarak dengannya, kedua telingaku masih cukup baik untuk mendengar apa yang Richan katakan pada anak perempuan itu.

“Kau sedang apa gadis cantik?”

“Aku kesal dengan ummaku. Aku membencinya!! Ia menyebalkan.. kau tau unnie? Masa’ ia melarangku untuk membeli makanan yang sangat kusukai. Aku tidak mau lagi melihatnya”

“Ssshh.. kau tidak boleh berkata seperti itu.. Ummamu pasti punya alasan kenapa kau tidak boleh membelinya”

“Tapi unnie…”

Richan menunjukkan sebuah senyuman ke arah anak itu kemudian melanjutkan kata-katanya, “Kau tau satu hal yang paling aku sesali di dunia ini?”

“Dulu saat masih kecil, aku juga sepertimu.. Suatu malam aku marah pada ummaku dan aku kabur dari rumah. Aku sebal sekali padanya karena ia tak mau membelikanku boneka yang kuminta. Kau tau tidak? Setelah satu jam berada diluar, ayahku akhirnya menemukanku. Ia menangis kemudian memelukku. Ia membawaku pulang dan ….. ”

Richan  menundukkan kepalanya sebentar lalu kembali melanjutkan ucapannya, “Aku benar-benar tidak bisa melihat ibuku lagi.. Kata-kata yang baru saja kau ucapkan tadi itu terjadi padaku. Aku tidak menyangka jika omelannya padaku adalah omelannya untuk yang terakhir. Saat itu dan sampai sekarang aku menyadari betapa berharganya seorang umma yang walaupun ia sangat cerewet, sebenarnya ia sangat mencintai kita”

“Unnie”

“Cepat pulang sayang, aku yakin umma-mu sedang mengkhawatirkanmu”

Gadis kecil itu berdiri kemudian mencium pipi Richan. Ia berlari sambil melambaikan tangannya. Kedua mataku tidak bisa terlepas dari Richan yang kini mulai berdiri. Gerakan tubuhnya terlihat begitu berat, ia mendongakkan kepalanya sambil berjalan. Ia pasti sedang menahan air yang sudah menumpuk di kelopak matanya.  Aku terus memperhatikannya, langkahnya semakin tak karuan.

“ Hey awas!” teriakku ketika Richan berjalan semakin ke tengah tanpa menyadari sebuah mobil yang sedang melintas.

Aku berlari ke arahnya, semua anggota badanku seperti bergerak tanpa perintah. Tubuhku langsung berbalik melindunginya dari mobil yang hampir menyerempetnya.

Ia melihatku dengan kedua mata yang penuh air mata, “Aigoo kau baik-baik saja? Tanganmu tadi terkena mobil itu..”

Aku diam di tempatku berdiri , masih terus melihat ke wajahnya dan kedua mata beningnya yang mulai sembab. Tanganku bergerak mendekati wajahnya, ibu jariku mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

Richan memandangiku bingung, begitupun aku. Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Seluruh tubuhku seperti sedang mengikuti apa yang kurasakan. Tangan kananku merentang, aku menarik tubuh Richan ke dalam pelukanku perlahan.

Baiklah ini konyol, tapi aku justru mempererat pelukanku padanya.  Aku memeluknya seakan tak ingin melihatnya terluka. Dan saat ini juga, aku ingin agar ia selalu berada dalam pelukanku agar aku bisa menjaganya, melindunginya. Kepalanya yang berada tepat dibawah daguku membuatku dapat mencium wangi rambutnya, perlahan aku menundukkan wajahku membiarkan bibirku menyentuh puncak kepalanya.

Kau boleh berkata tidak, tapi matamu mengungkapkan apa yang mulutmu tidak bisa katakan.

. . . . . . To be continue . . . . . .

 

 

 

Gimana ceritanya? Pasti semakin nggak jelas haha.

For information aja, ini ff terakhir sebelum aku HIATUS. Yep SNMPTN tinggal menghitung jari dan mau tak mau aku harus mengosongkan semua kegiatan kecuali belajar.

Author minta doa dari kalian yaaa~  Buat yang mau snmptn juga, semoga kita bisa sukses bareng 😀

Sekian deh dari saya. Sekali lagi mohon doanya yaa ^^

Nantikan MAMA – A Creepy Little Thing Called Love eps.2

(setelah hiatus pastinya)

Komentar sangat di apresiasi^^

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “MAMA (Chapter 2)

  1. wah keren !! DAEBAAK!!
    richan sama Kai atau Kris nanti?? -___-
    uwaa author menyebalkan –v(?) karena telah membuat reader penasaran dan SANGAAT SUKAAAAA FF ini !!
    next chap aku tunggu ya ,jgn lama-lama hehehe 😀
    dan sukses buat SNMPTN ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s