Only You (Chapter 3)

Author             :@Tanti_ChoQorry

Main cast         : Kai (Kim Jong In EXO) as herself.

Song Jiyoo as YOU..

Genre              : AU, Romance, friendship, love story.

Length             : continued..

Disclaimer       : Plot, Song Jiyoo and the story is Mine, Kai belongs to God and Himself.

~~~Happy read~~~

Jiyoo menendang-nendang salju yang berada di hadapannya dengan sedikit bosan. Sudah sekitar setengah jam ia menunggu Kai di depan gerbang kampus, tapi sampai selama ini Kai belum juga menampakan batang hidungnya di depan Jiyoo membuat gadis itu sedikit kesal karenanya.

Hubungan keduanya belum membaik setelah insiden ‘Library Kiss’ itu dan entah kenapa tiba-tiba Kai menyuruhnya untuk menunggunya dan mengabaikan kenyataan kalau keduanya pasti akan terjebak dalam suasana canggung lagi.

“Kkamjong kau menyebalkan !” gerutu Jiyoo sambil mengeratkan jaket tebalnya mencoba memperhangat dirinya lagi.

Mata gadis itu mendadak tertarik saat ia melihat dua orang pria dan wanita sedang berjalan bergandengan di tengah turun salju seperti ini, romantic sekali. Pikir Jiyoo.

Ayolah, jiyoo memang bukan tipe gadis melankolis yang suka dengan hal-hal romantic seperti itu, tapi setidaknya ia suka saat melihat ekspresi-ekspresi bahagia yang terlukis di wajah sejoli-sejoli itu.

“Untuk apa kau memperhatikan orang-orang itu!” suara dengan nada bass itu mengejutkan syaraf-syarafnya sehingga memaksa Jiyoo untuk melepaskan tatapannya dari sejoli itu dan membalikan tubuhnya menatap si pemilik suara.

“Ah~ sejak kapan kau sudah ada disini Kai~ssi,” ucap Jiyoo masih tidak bisa menghilangkan nada canggung dari suaranya.

“belum lama, tapi aku sempat melihat wajah bodohmu melihat kedua orang itu!” balas Kai ketus yang membuat Jiyoo mendengus sebal.

“Baiklah~ aku sedang malas berdebat. Jadi untuk apa kau menyuruhku menunggumu Kai~ssi?”

Kai terlihat tertegun sejenak namun tak lama dan langsung menatap Jiyoo dengan tatapan datar lagi, “Nenek menyuruhku untuk membawamu ke pesta perayaan ulang tahun perusahaan,”

“Lalu?”

Kai memutar bola matanya sebal saat mendengar respon gadis di hadapannya itu, “Aku harus membawamu ke salon setidaknya untuk memperbaiki dirimu dan tidak membuat malu diriku di depan semua rekan kerja nenek dan yang lainnya,”

Jiyoo merasa sakit hati kai mengucapkan hal itu padanya. Apa dia bilang? Memperbaiki diri sehingga tidak membuat malu dirinya? Cish.. jiyoo mendegus dalam hati.

“Kajja !!” Kai menarik tangan Jiyoo memasuki mobil merahnya.

Dengan berat hati, Jiyoo membiarkan tangan mungilnya ditarik oleh tangan Kai menuju mobilnya. Tak lama dan mobil itu langsung melesat memecah jalan raya.

_ _EXO_ _

Jiyoo mematut dirinya di cermin saat pelayan salon yang jenis kelaminnya Jiyoo pertanyakan karena dari luar sangat manly tapi saat sudah mulai bicara dan beraksi dengan alat make up orang itu amat sangat girly.

“Kapan terakhir kali aku berdandan seperti ini?” gumamnya dan merapikan sedikit bagian bawah dressnya.

“Apa yang kau lakukan di dalam sebenarnya? Kenapa lama sekali sih !” Jiyoo berjengit mendengar teriakan di balik tirai yang menghalanginya dengan Kai.

“Cish.. sejak kapan Kai berubah menjadi pria pembentak dan suka berteriak-teriak. Menyebalkan,” gerutunya dan membuka tirai itu dengan wajah ditekuk dan ditundukan.

“Aku sudah selesai. Apa penampilanku sekarang sudah cukup layak dan tidak akan mempermalukanmu di pesta nanti?” ucap Jiyoo bersamaan dengan kepalanya yang mendongak.

Jiyoo terhenyak melihat pemandangan Kai di depannya. Pria itu berbalut jas formal dengan sebuah dasi terpasang rapi di lehernya, poninya yang biasa ia juntai menutupi keningnya sekarang dinaikan sehingga memerlihatkan keningnya yang indah. Woah.. mempesona, pikir Jiyoo.

Kai Nampak tertegun sejenak saat melihat Jiyoo keluar dari ruang riasnya. Pria itu sudah mewanti-wanti untuk menenangkan dirinya jika melihat gadis itu dengan tampilan bebeda. Dan Kai benar~ ia melihat Jiyoo yang tak biasanya.

Tubuh kurus tapi tinggi itu dibalut sebuah mini dress pink sepaha yang memperlihatkan punggungnya.

“Tidak seburuk sebelumnya,” komentar Kai yang disambut dengan delikan dari Jiyoo.

 

 

Sepanjang pesta, Jiyoo hanya melamun dan menatap kosong gelas lime ditangannya. Pesta ini amat sangat meriah sebenarnya, tapi sangat membosankan bagi Jiyoo. Karena apa? Kim Jong In atau biasa dipanggil Kai itu meninggalkannya sendirian di tempat asing yang Jiyoo sendiri yakin kalau ia tidak mengenal orang-orang berkelas itu.

Pria itu malah sedang asik mengobrol dengan beberapa orang yang sepertinya seumuran dengannya di sudut ruangan. “Kalau tahu aku akan sendiri disini, sebaiknya aku berpura-pura ada pekerjaan saja tadi,” desis Jiyoo sambil meneguk lime nya yang asam.

Jiyoo memberanikan dirinya untuk keluar dari gedung pesta itu, gadis itu berjalan sendiri dan dengan sedikit terseok kearah taman yang tersedia disana.

Ia menatap heels 9cm yang membalut kakinya dengan indah. Yeah… indah, tapi tidak cukup untuk membuatnya nyaman berjalan dengan menggunakannya.

Gadis itu mendudukan dirinya di sebuah kursi yang berada tepat di depan sebuah kolam renang, saat ia merasa kakinya sudah tak sanggup berjalan lagi jika menggunakan heels sialan itu.

Sepatu pink itu dilepas paksa oleh Jiyoo dan Jiyoo mendesah pelan saat melihat kakinya sendiri yang sedikit bengkak karena terlalu lama berdiri dengan heels setinggi itu.

“Haa…..h sepertinya aku harus sekolah kepribadian lain kali,” gumamnya.

Angin musim dingin itu menerpa tubuh Jiyoo dengan mudahnya, membuat si pemilik tubuh sedikit menggigil karenanya. Terang saja begitu, Jiyoo berada di tempat terbuka dengan pakaian yang tak kalah terbuka di musim dingin seperti ini.

Jiyoo menegakan bahunya saat ia merasa ada sesuatu tersampir di tubuhnya. Refleks ia menoleh mencari tahu apa yang terjadi, tapi yang ia temukan adalah Kai yang sedang berjongkok di depannya.

“Apa yang kau lakukan Kai-ssi?” ucap Jiyoo saat Kai menarik kakinya perlahan.

Jiyoo membulatkan matanya melihat apa yang dilakukan si pria dingin yang selalu berhasil membuatnya terpesona itu kepadanya. Kai memasangkan sepatu yang tadi sempat di lepas Jiyoo.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu bodoh! Apa yang kau lakukan disini? Di tengah musim dingin dengan pakaian minim seperti itu!” balas Kai setelah selesai memasangkan sepatu pink itu di kaki Jiyoo.

“Kau yang membuatku memakainya ingat! Lagipula bukan urusanmu juga aku berada dimana. Bukan begitu Kai~ssi,” Kai mendesah berat mendengar ucapan Jiyoo.

Gadis itu terlihat berbeda di mata Kai sekarang, entah apa. Tapi Jiyoo-nya yang dulu tidak pernah terlihat sedatar ini.

Oke.. Kai akui kalau yang banyak berubah disini adalah dirinya, tapi ia punya alasan untuk melakukan hal itu. ia terlalu pengecut lebih tepatnya.

“Sudahlah. Ayo pulang !” Kai kembali menarik lengan Jiyoo hingga gadis itu bangkit dari duduknya dan mengikuti kemana Kai membawanya pergi.

Jas yang tadi hanya tersampir di tubuh Jiyoo sekarang sudah terpasang dengan rapi membalut tubuhnya membuatnya tak lagi kedinginan seperti tadi.

“Terimakasih untuk jasnya,” ucap Jiyoo saat baru saja menaiki mobil.

Kai bergeming, ia seolah sibuk mencari sesuatu dari saku celananya setelah menemukan kunci mobilnya Kai mengangguk tanpa menoleh.

“emmm… Kai~ssi. Kapan kekasihmu kembali dari luar negri?”

Kai terkejut bukan main mendengar ucapan Jiyoo, tapi ia dengan cepat mengendalikan diri dan kembali fokus pada jalan raya di depannya.

“Kenapa menanyakan hal itu? kau sudah tak sanggup menjalani semuanya?”

“Annie keunyang… aku hanya tak ingin memberikan harapan kosong lagi pada haelmoni,”

“Dia akan mengerti seiring berjalannya waktu,”

Jiyoo tertegun mendengar ucapan Kai yang terkesan santai itu. bagaimana bisa itu terlihat begitu tak terbebani dengan kebohongan yang dibuatnya sendiri. Jiyoo tidak habis pikir melihat sikap Kai seperti itu.

_EXO_

 

Jiyoo menyeka keringat yang muncul di dahinya. Gadis itu baru saja berlari dari lantai 4 gedung fakultasnya menuju lantai dasar. Dosen yang menyuruhnya mentranslate modul itu memberitahunya jika jiyoo harus segera menyerahkan modul itu secepatnya dan sialnya saat itu Jiyoo baru saja selesai mengikuti kelas Kalkulus yang ruangannya di lantai 4.

“Kang Saem memang sepertinya berencana membuatku mati terkena struck. Huh !” gadis itu menandak-nandakan kakinya lalu keluar melewati pintu kaca di depannya.

Kakinya melangkah berat seberat pikirannya yang banyak terkuras akhir-akhir ini. Masalah tugas-tugasnya menjelang UAS, tugas tambahan dari dosen dan yang paling dominan menguras pikirannya adalah masalah hubungannya dengan Kai.

Jiyoo pov

Nenek Kim semakin gencar menyuruhku dan Kai agar segera bertunangan. Haa…h eottokhae?

Aku masih sadar sepenuhnya kalau hubunganku dengan Jong In hanya sebatas perjanjian balas budi saja, tapi tak bisa kupungkiri kalau rasa cintaku padanya tak pernah berubah meskipun hampir 5 tahun berlalu semenjak aku mengukuhkan diriku mencintai seorang Kim Jong In.

Kuputuskan untuk duduk di bawah bangku di taman fakultas Bisnis management, kebetulan itu adalah fakultas Kai. Mataku menoleh kesekeliling taman ini. Banyak sekali orang yang sedang menghabiskan waktu siangnya di taman asri ini, banyak yang duduk di rerumuputan sambil membaca buku maupun yang sekedar makan dan berteduh di bawah pohon sepertiku.

Sekelebat kulihat bayangan Kai melintas tak jauh dari tempatku, jaket biru tuanya. Itu yang membuatku merasa orang itu adalah Kai.

Aku berdiri dari dudukku hanya untuk sekedar memastikan penglihatanku saja dan setelahnya aku merasa sangat menyesal melakukannya. Tch ~ takdir macam apa yang membuatku melihat pemandangan menyedihkan ini lagi.

Kai sedang berpelukan dengan seorang gadis. Tanpa melihat lebih dekatpun aku sudah tahu siapa gadis yang dipeluk Kai. Kim Sheina. Kekasih Kai yang sekolah di luar negri.

Sekuat tenaga kutahan air mata yang mulai mendesak keluar dari kelenjarnya. Tidak boleh !! aku. Tidak. Boleh. Menangis.

Tapi sulit! Sulit jika kalian berada di posisiku saat ini. Aku …entah kenapa aku benci melihat senyuman itu. Kai tersenyum lembut pada Kim Sheina. Gadis mungil yang berbalut dress berwarna peach itu.

Haaahh… sepertinya tugasku sudah selesai. Sheina sudah kembali ke Korea dan Kai akan secepatnya mengenalkannya pada Keluarganya dan juga Haelmoni.

Entah apa yang harus ku katakan pada haelmoni. Dia pasti sangat kecewa padaku.

Kulangkahkan kakiku menjauh dari tempat itu, sekedar antisipasi diriku sendiri agar tak terlihat bodoh disana dengan memasang tampang menyedihkan.

 

_EXO_

Jiyoo menghempaskan tubuhnya di sofa satu-satunya yang ada di apartemen milikinya. Matanya menutup tapi keningnya berkerut seakan menandakan kalau gadis itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

Aroma lemon menyeruak memasuki rongga hidungnya saat ia menyalakan pendingin ruangan. Jiyoo kembali terduduk, ia melihat ke sekeliling ruangan dan tersenyum tipis.

“Sudah sebulan aku meninggalkan tempat ini,” gumamnya lalu mulai bangkit dan hendak pergi ke dapur tapi deringan ponselnya membuatnya membatalkan niat awalnya.

Jiyoo mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, terlihat caller ID bertuliskan nama Kkamjong disana.

Jiyoo mendesah berat setelah akhirnya menerima panggilan dari orang yang sedang ingin ia hindari itu.

“Yeobseyo…” ucapnya lemah.

“ _ _”

“Aku sedang sibuk Kai-ssi, sepertinya lain kali saja,”

“__”

“Maaf, tapi aku bukan budakmu yang bisa seenaknya kau perintah dan kau atur Kai-ssi. Kututup ya, aku sedang amat sangat sibuk,”

Jiyoo mendesah lagi untuk kesekian kalinya dalam hari ini.  Kai membuat hidupnya menjadi tak karuan seperti ini. Ia merasa terombang-ambing di tengah perasaannya terhadap Kai.

Jiyoo POV

Sudah sekitar tiga hari aku pergi dari rumah Kai dan haelmoni, yeah.. aku memang belum membawa kembali barang-barang dan pakaianku yang masih disana, setidaknya di apartemenku aku masih punya beberapa yang bisa kupakai.

Menghindar?

Aku mengaku kalau aku sedang dalam usaha menghindari Kai, rasanya terlalu sesak jika melihatnya dari jarak dekat. Dan sudah 3 hari ini aku memutuskan untuk kembali bekerja di café milik temanku sebagai seorang pelayan.

Hari ini cafenya tidak terlalu ramai. Mungkin karena ini sudah sore dan salju juga turun cukup lebat di seoul. Sepertinya orang-orang lebih senang menghabiskan waktunya dengan berselimut tebal di rumah masing-masing daripada berkeliaran di luar rumah dalam musim dingin seperti ini.

Kringg…

Bel di pintu masuk berbunyi nyaring, memecah lamunanku.

“Anyeong haseyo… selamat datang di Bugs Café..” aku membungkuk selayaknya seorang pelayan.

“Omo !! Jiyoo-ssi! Bukankah kau Song Jiyoo?” aku menghentikan tanganku yang hendak merapikan buku menu di sebuah meja saat mendengar sebuah suara yang lembut menyebut-nyebut namaku, suara yang pernah kudengar tapi entah siapa pemiliknya.

Aku menoleh dan menemukan dua orang manusia berbeda jenis sedang menatapku. Seorang wanita berambut panjang dengan pakaian hangat berbulunya sedang tersenyum manis padaku dan seorang pria yang berdiri di sampingnya tengah menatap tajam kepadaku, membuat jatungku nyaris lepas dari tempatnya dan terjatuh ke lantai saat matanya dengan terang-terangan menatap tajam mataku.

Aku membungkuk lagi, “Ye.. anyeonghaseyo. Sheina-ssi, Kai-ssi,”

Kaki mungil yang dibalut heels itu berlari kearahku dan memeluk tubuhku yang mendadak terasa menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Wae? Kenapa gadis itu memelukku? Tidakkah saat ia melakukannya itu membuatku terluka.

“Oraemanida Jiyoo-ssi. Kau semakin cantik saja,” pujinya dengan raut muka berseri-seri dan aku hanya melemparkan senyum tipis padanya.

“Anjaseyo..(silakan duduk),” aku menunjuk salah satu meja terdekat dari tempat kami. Sheina langsung duduk dan dengan isyarat tangannya ia menyuruh Kai untuk duduk juga.

Kai menurut saja. Pria itu sepertinya sangat mencintai gadisnya hingga rela melakukan apapun demi Sheina.

“Jiyoo-ssi kau juga duduk bersama kami ya. aku ingin bercerita banyak padamu dan bertanya tentang kelakuan anak ini,” ucapnya sambil menyenggol lengan Kai, tapi Kai hanya berekspresi datar dan tatapan itu…. tetap terarah tajam padaku.

“jeongseohamnida Sheina-ssi, tapi aku harus bekerja,”

Wajah gadis itu terlihat merengut dan menampakkan ekspressi manjanya. “Ayolah Jiyoo-ssi. Kai bercerita banyak tentangmu. Aku ingin mendengar langsung darimu juga!”

“Keundae….”

“Turuti saja ucapannya!!” Aku dan kim sheina menoleh pada pemilik suara berat itu. kata pertama yang keluar dari mulutnya setelah ia menginjakan kakinya di café ini.

Aku menurut dan duduk tepat di depan Sheina. Gadis itu kembali memasang wajah ceria yang menggemaskan. Huh. Terlalu banyak ekspresi bagus dari gadis ini, pantas saja Kai sangat mencintainya.

“Kudengar kau dan Jong In sudah…..”

“Animida… sudah berakhir. Soal perjanjian menyangkut haelmoni dan status pura-pura kami, itu sudah berakhir mengingat kau sudah kembali ke Korea Sheina-ssi. Jadi kau tidak perlu khawatir. Kurasa Kai akan segera jujur pada haelmoni dan mengenalkanmu pada beliau,” potongku cepat. Aku tidak mau Sheina mengansumsikan terlebih dahulu, jadi aku yang memulainya.

Kulihat wajah Kai mengeras. Wae Kai-ah? Bukankah harusnya kau senang karena kekasihmu kembali dan kau bisa lepas dari gadis merepotkan sepertiku? Tapi kenapa ekspresimu seperti itu? wae?

“Maksudmu kau dan Jong In…” Sheina menggantungkan ucapannya.

“Ah.. Mianhaeyo Kai-ssi, Sheina-ssi. Manager sudah melihatku dari sana, sepertinya aku harus kembali bekerja!”

Aku izin pamit dari meja itu dan berjalan cepat sambil menahan air mata yang hendak meluncur bebas dari mataku. Rasanya sakiiiiit sekali….

“Henry-a bisakah aku pulang lebih cepat?” mohonku pada Henry yang sekaligus manager di café ini.

Henry mengangguk, seakan mengerti kalau moodku sedang buruk sekarang. “Ne.. hati-hatilah di jalan,” pesannya.

 

_EXO_

“Neon babo namjaya Kai-gun!! Kau belum menceritakan yang sebenarnya pada Jiyoo?”Sheina berteriak gemas pada Kai yang hanya duduk diam dibalik kemudi.

Kai mendesah berat, ia sadar kalau ia adalah manusia paling pengecut di muka bumi ini.

“Aku.. tidak tahu harus mulai darimana mengatakannya Noona,”

“Aishhh.. tidak tahu dari mana mulainya? Biar kuberitahu Jong in-ah. Pertama. Kau bilang padanya kalau kita sudah putus bertahun-tahun lalu tepatnya seminggu setelah jiyoo keluar dari rumahmu. Kedua. Bilang padanya kalau rasa cintamu padaku hanya sebatas rasa cinta seorang junior pada sunbaenya. Bukankah itu yang sebenarnya terjadi? Lalu ketiga…” Sheina menghela nafasnya sebelum melanjutkannya, “Katakan padanya kalau kau mencintainya. Amat sangat mencintainya JongIn-a…”

Kai menghentikan mobilnya saat mereka sudah sampai di depan rumah milik Sheina. Gadis itu belum keluar dari mobilnya dan menunggu balasan kata-kata Kai.

“A-aku takut ia menolakku !!” Kai tertunduk. Membuat Sheina mendesah pelan. Selamanya Kim Jong In tampak seperti anak-anak di matanya.

_EXO_

Jiyoo pov

Entah kenapa aku bersikap bodoh seperti sekarang. menangis di balik selimut seperti seorang remaja yang baru saja diputuskan pacarnya.

Harus bagaimana sikapku nantinya pada Kai? Aku bahkan masih ingat raut keras dan tatapan tajamnya yang ia lontarkan padaku sore tadi, benar-benar membuatku sakit.

Lalu bagaimana dengan haelmoni? Aku tidak sanggup melihatnya menelan kekecewaan karena perbuatanku yang membohonginya. Harus bagaimana aku Tuhaaan?

Klekk

Terdengar suara pintu kamarku terbuka. Siapa? Siapa yang masuk ke apartemenku tanpa izin? Apakah pencuri?

Aku segera menghapus air mataku dan bangkit seraya menyibakan selimutku. Baru saja aku ingin berteriak, seseorang telah jatuh menimpa tubuhku.

Mwo? Bagaimana ia bisa….

“Jiyoo-a…”

 

Author POv

 

“Jiyoo-a…” Kai dengan keadaannya yang mabuk menindih tubuh Jiyoo membuat gadis itu terkejut setengah mati karenanya.

“Kai? Kenapa kau disini? Bagaimana kau bisa masuk? Dan…. Kau mabuk?” ujar jiyoo beruntun dan mengasumsikan bahwa Kai mabuk setelah gadis itu mencium aroma alcohol dari mulut Kai.

“Jiyoo-a… kenapa kau pergi? Kenapa meninggalkanku waktu itu? wae?!” Kai bergumam tidak jelas diatas tubuh Jiyoo, wajahnya menghadap telinga Jiyoo hingga gadis itu bisa merasakan hembusan berat nafas Kai.

“Kai-a….kenapa kau seperti ini?” Ucap Jiyoo hendak membalikan tubuh Kai agar ia bisa bebas bergerak dan tidak tertindih seperti ini.

Tapi kai menahannya, menindih tubuhnya semakin rapat, membuat Jiyoo semakin kesulitan bergerak. “Kau yang membuatku seperti ini Song Jiyoo!! KAU!!” teriak Kai tepat di wajah Jiyoo yang hanya terpaut tidak lebih dari 5 cm saja dari wajahnya.

“Kai tolong menyingkir darti tubuhku!!” Jiyoo meronta sambil mendorong dada Kai, tapi Kai menahan tangan Jiyoo, menguncinya dengan satu tangan milik Kai.

“Kenapa? Kau membenciku? Kenapa menyuruhku menyingkir huh!!” Kai mengelus pipi Jiyoo dengan tangannya yang bebas, membuat Jiyoo sedikit terbuai diperlakukan begitu.

“Karena aku menyukaimu Kim Jong In !! Aku benci dengan kenyataan jika aku menyukaimu!! Dan aku benci dengan kenyataan jika kau bukan milik….hmmmpp  !!”

Bibir Kai bergerak cepat membungkam bibir Jiyoo, matanya terpejam, tetapi bibirnya bergerak liar di atas bibir Jiyoo.

Jiyoo meronta meminta Kai melepas ciumannya, meskipun hati kecilnya menginginkannya berada dalam posisi ini lebih lama. Kai tidak menggubris rontaan Jiyoo, ia makin merapatkan tubuhnya pada tubuh Jiyoo, semakin mempersempit jarak diantara mereka.

“Hmmpp.K-ai Ku-Mohon….”jiyoo menangis. Kai menciumnya hanya karena pria itu mabuk dan dalam keadaan tidak sadar. Bukan karena pria itu mencintainya.

Lagi~ kai masih tidak menggubris, sampai pria itu merasakan ada sebuah cairan yang membasahi pipinya. Ia merasaka air mata Jiyoo menempel di pipinya. Kai melepas pertautan sepihaknya itu.

“Kumohon hentikan Kai!! Kenapa kau selalu membuatku berharap lebih banyak lagi padamu? Wae?” Kai terdiam, mendadak rasa pusing dan pengaruh alcohol sedikit-sedikit menghilang dan membuatnya menjadi sadar dengan apa yang ia lakukan.

“Memang harapan apa yang selalu kuberikan padamu Yoo?” Kai menatap dalam mata Jiyoo, membuat gadis itu lagi-lagi terperangkap dalam tatapannya.

Jiyoo tak membalas ucapan Kai, seakan sadar kalau Kai sudah mulai tidak terpengaruh lagi oleh alcohol. Dan tidak berani mengatakah hal yang ingin ia ucapkan lagi.

Kai mengusap air mata yang membasahi pipi Jiyoo dan merengkuh leher gadis itu, kembali memulai pertautannya lagi. Kali ini dalam keadaan yang lebih sadar dari sebelumnya.

“Kai kau mabuk!! Berhenti mempermainkanku !!” jiyoo mendorong dada Kai dan berteriak pada pria itu.

“Aku sadar Yoo~ aku sudah tidak mabuk lagi!! Aku ingat dan amat sangat sadar dengan apa yang aku lakukan !!” bentak Kai dan bangkit dari posisinya yang tadi menghimpit tubuh Jiyoo.

Kai duduk di pinggir ranjang jiyoo, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Nafasnya terdengar berat dan frustasi. Sedangkan Jiyoo? Gadis itu terduduk dengan posisi punggung bersandar pada kepala ranjangnya, membenamkan kepalanya di atas lututnya yang menekuk.

“Kau selalu seperti ini Jong In~a, tidakkah kau tahu kalau Sheina eonni akan sakit hati jika kau terus-terusan memperlakukanku seperti tadi?“

“Kenapa kau memikirkan perasaan orang lain Jiyoo~a? wae? Kenapa kau tidak mempedulikan perasaanmu sendiri dan juga…… aku,” balas Kai, menoleh dan menatap tajam gadis yang masih membenamkan kepalanya di atas lututnya itu.

“Karena memang seharusnya seperti itu. aku tidak mau menyakitinya, dia kekasihmu Kai ingat itu!! aku juga seorang wanita, aku tahu bagaimana rasanya…..”

Kai menarik tubuh mungil itu ke dalam rengkuhannya, memeluknya erat. Membuat Jiyoo menahan ucapannya di tenggorokan, tak sampai terucap.

“Justru karena Sheina aku bisa jujur pada diriku sendiri Jiyoo-a. dia membuatku sadar jika hanya kau yang aku sayangi, hanya kau .. tidak ada yang lain. Ingat itu!!”

“Jong In~a…lalu bagaimana dengan Sheina-ssi, dia….”

“Sheina Noona. Aku sudah putus dengannya bertahun-tahun lalu bodoh!! Tepatnya seminggu setelah kau meninggalkan rumah waktu itu! kau tidak tahu betapa tersiksanya aku menyadari kau tidak lagi hidup lagi diatap yang sama denganku. Kau tidak tahu betapa seringnya aku berharap bahwa aku mendengar lagi teriakanmu yang menjengkelkan di pagi hari saat kau membangunkanku huh! Aku hampir gila menyadari kalau kau sudah menghilang dari jangkauanku waktu itu!!” Kai mengeratkan pelukannya di pinggang Jiyoo, kali ini gadis itu membalas pelukannya dengan mengalungkan lengannya di leher Kai.

“Lalu kenapa kau tidak bilang huh!” Jiyoo memukul pelan punggung Kai, “Kenapa kau tidak pernah mencariku atau memintaku kembali dan berada di sisimu selama ini?” lanjut Jiyoo.

“Kau pikir aku rela mengorbankan harga diriku eh? Aku malu mengatakannya langsung padamu. Jadi aku menggunakan haelmoni untuk membantuku membawamu kembali ke rumah,”

Jiyoo melepas pelukan Kai sepihak, membuat pria itu menautkan alisnya heran saat melihat Jiyoo mendeliknya tajam. “Wae?” Tanya Kai.

“Jadi selama ini kau berbohong? Haelmoni juga?!” geramnya sambil memukul tubuh Kai dengan bantal yang di raihnya.

Kai menahan bantal itu dan mendorong Jiyoo hingga terbaring di ranjangnya, Kai memposisikan dirinya di atas tubuh Jiyoo dengan membuat tangannya sebagai penopang tubuhnya.

“ya!! menjauh dariku aku memben…hmm..”

Kai melumat bibir gadis itu singkat, membuatnya berhenti berucap. “Dengarkan aku dulu oke!”

Jiyoo hanya mengangguk sambil memalingkan wajahnya, enggan bertatapan dengan mata Kai langsung. Hal itu membuatnya gugup.

“Haelmoni sakit karena kelakuanku itu benar. Ia menyuruhku mengenalkan yeojachinguku padanya. Padahal saat itu aku sama sekali tidak berniat menjalin sebuah hubungan dengan siapapun dan ia berniat menjodohkanku dengan seseorang yang tidak ia katakana padaku siapa orangnya. Saat itu aku kalut sampai saat aku kembali bertemu dengannmu di lobi fakultasku.”

Kai menarik nafasnya pelan sebelum melanjutkan kembali ucapannya. “setelah bertemu denganmu lagi, aku langsung mengatakan pada Haelmoni kalau aku menemukanmu dan saat itu munculah ide gila haelmoni untuk berpura-pura sakit lagi dan dimulailah sandiwara itu,” jelas Kai tidak begitu detail, karena ia yakin cerita selanjutnya sudah bisa Jiyoo mengerti.

“Nappeun !! kau menyebalkan JongIn~ah aku membencimu!!” jiyoo memukul-mukul dada Kai yang berada di atasnya sambil mendorong tubuhnya agar menjauh dari dirinya.

Chu…

Kai mencium lagi bibir Jiyoo membuat gerakan tangan jiyoo yang sedang memukul dada Kai terhenti.

Tangan Kai mengelus pipi gadis itu, merasakan betapa mulusnya pipi gadis kecil yang dulu selalu bersama dengannya itu. bibirnya menekan lebih kuat bibir Jiyoo, membuat passion dalam diri Jiyoo bangkit dan tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher pria itu, memperdalam pertautan yang entah sudah kesekian kalinya mereka lakukan mala mini.

Ciuma Kai beralih ke leher Jiyoo, membuat gadis itu tergelitik dan menggerak-gerakan kakinya tidak nyaman. Tangan Kai berusaha melepas kancing Jiyoo, tapi gadis itu lebih cepat menahan tangan Kai lalu melepaskan ciumannya yang mulai panas dengan posisi yang ‘rawan’ bagi keduanya.

“Aku bahkan belum resmi menjadi milikmu Kai !!” gadis itu bangkit dari baringannya begitu juga Kai. Mereka berdua terduduk di pinggir ranjang.

“Aku bahkan tak butuh jawabanmu Yoo~ karena itu sudah hal yang pasti kan!” Kai mengerling nakal dengan ekspresi seduktif pada Jiyoo, membuat gadis itu bergidik membayangkan Jong In nya yang dulu sangat imut itu kini bahkan bisa bersikap seseduktif itu padanya.

“Dasar mesum !!”

“Mwoya !! kau kan menikmatinya juga tadi !!” balas Kai.

“Tapi Kau yang memulainya!!”

“Lalu kenapa Kau mau?! Dasar wanita !!”

“Apa kau bilang!! Kau mengejekku? Huh!”

“Yak !! berhenti memukulku dengan bantal atau aku akan menidurimu mala mini juga Song Jiyoo !!”

“YAKKK!!!!”

 

_End Of The Story_

 

Fiuuuuhhh…. Mianhae kalo gaje banget endingnya. Mana updatenya lama lagi… hahaha.

Tadinya aku mau buat konflik yang lebih panjang dari ini, tapi difikir-fikir lagi, tanggungan ff series saya lagi numpuk, jadi Only You nya aku KKeuuutt sampe sini.

Hohoho maaf ya jika abal banget.

Oh… baca juga ya ff aku yang careless and mindless sama yang love at school…          *promo lagi on going tuh..!!

Oke segitu ya chit-chat dari saya. Maaf juga atas adegan PG dan juga saya yang nistai Kai di ff ini.

*bowBarengHunHanKai

Iklan

45 pemikiran pada “Only You (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s