Helping Kai (Chapter 2)

Author :  Vhanee_elf (@MilkySehun) << author ganti uname twitter =D
Genre : Romance
Rating : Teen
Length : Multichapter
Cast : Kim Jong In (Kai) , Cho Hye Rim (OC/YOU) , Other Cast

Miss Typo!!

__

Bagaimana perasaanmu jika disuruh menjalani dua pilihan yang tidak bisa kau sanggupi?!

Mencintai orang yang tidak kusuka dan melupakan orang yang aku cintai?!

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk tidak menjalani keduanya.

Kehidupanku sekarang.. sudah lebih dari cukup.

Kim Jong In

__

Kai memandangi tangan kirinya yang terbalut perban putih yang terlilit tidak terlalu rapi. Dipegangnya perban tersebut dengan tangan satunya, seharusnya Ia tidak perlu semarah itu beberapa hari yang lalu sehingga membuat seisi sekolah membicarakannya sekarang. Terlebih lagi, beberapa desas desus mengatakan bahwa Park In Jung, kekasihnya akan dimutasi dari sekolahnya karena kasus ini. Semua salah Kai. Seandainya dia tetap merahasiakan hubungannya dengan gurunya itu hingga beberapa tahun lagi, mungkin semuanya tidak akan terjadi.

“Kai-ah~ kenapa belum pulang?!” tegur Hye Rim diambang pintu kelasnya membuat Kai tersadar dari lamunanya. Sontak Kai mengalihkan pandangannya kearah lapangan kosong melalui jendela yang beraada tepat disampingnya. Tapi tidak. Lapangan besar itu tidak kosong. Tanpa sengaja Ia melihat In Jung songsaenim sedang berjalan dengan lemah entah kearah mana. Tatapan Kai membesar. Ia sedikit memicingkan matanya agar bisa melihat jelas sosok kekasihnya itu.

“mau pulang bersama?!” suara Hye Rim kembali membuat Kai tersadar. Kai segera berdiri dari duduknya dan menggandeng tasnya sebelum Hye Rim melangkah mendekatinya. Takut kalau kalau Hye Rim mendapati obyek pemandangan Kai tadi adalah In Jung songsaenim.

“kau mau?!” tanya Hye Rim antusias ketika melihat Kai yang berjalan menuju arahnya. Tapi Kai melah menabraknya dan tetap berjalan tanpa memperdulikan Hye Rim.

“hh~ anni” gumam Kai kecil sambil berjalan dikoridor sekolah yang sudah sepi.

“mm? Waeyeo?! Rumah kita searah kan?! Kita naik Bis bersama, ottae?!” tawar Hye Rim yang kini sudah berjalan sejajar dengan Kai. Tinggi Hye Rim yang tidak seberapa membuatnya harus mengadahkan kepalanya untuk melihat Kai.

“aku mau pulang jalan kaki” sahut Kai singkat.

“mau kutemani?!” tanya Hye Rim tidak putus asa. Baginya, berjalan kaki adalah pilihan yang tepat karena itu akan membuat waktunya bersama Kai akan lebih lama. Berarti mereka bisa membicarakan lebih banyak hal bukan?!

“tidak perlu” sahut Kai ketus dan malah berjalan lebih cepat agar Hye Rim tertinggal dibelakangnya. Tapi bukan Hye Rim namanya kalau menyerah begitu saja. Penolakan Kai atas ajakannya tidak berarti dia harus pulang sendiri dan menaiki bis sambil bergalau ria.

Hye Rim tetap mengikuti langkah Kai yang cepat. Sesekali Ia harus berlari mengejar Kai yang berjalan begitu cepat. Kai tidak memperdulikan keberadaan Hye Rim disebelahnya. Dia hanya sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Hye Rim. Diikuto oleh Hye Rim kemanapun Ia pergi adalah hal yang biasa. Jelas saja, Hye Rim adalah pengagum setianya sekaligus teman dekatnya.

Ditempat penyebrangan, Hye Rim memperkecil jaraknya dengan Kai yang berada didepannya. Ia memegang tas Kai pelan dan berjalan dengan mata yang tertutup ketika lampu hijau untuk pejalan kaki menyala terang. Sesekali Ia tanpa sengaja menginjak belakang kaki Kai dan itu membuat Kai risih. Kai Ingin segera menghentikan langkahnya dan memarahi Hye Rim saat itu juga namun keadaan tidak memungkinkan. Mereka sedang ditengah jalan. Lebih baik dirinya sampai disebrang jalan dulu baru memarahi Hye Rim.

“waegeurae?!” tanya Kai ketika mereka sampai disebrang jalan sambil menghempaskan tangan Hye Rim dari tasnya dan berbalik kearah Hye Rim. Hye Rim terkejut dan sontak dirinya sedikit tersungkur kebelakang.

“anni.. keunnyang..” jawab Hye Rim terputus. Ekspresinya solah sedang memikirkan sesuatu. Apa Kai lupa? Pikir Hye Rim.

“aku takut menyebrang” ujar Hye Rim pelan sambil tertunduk. Tentu saja Kai ingat. Itu adalah pertemuan pertama mereka sejak pertama masuk SMA. Dirinya ingat betul bagaimana ekspresi wajah Hye Rim yang ketakutan menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki dipinggir jalan. Waktu itu matahari sore sudah hampir tenggelam. Tapi Hye Rim tidak juga melangkahkan kakinya untuk menyebrangi jalan semenjak 2 jam yang lalu ketika dirinya baru pulang sekolah. Untung saja, hari itu kai memutuskan untuk pulang berjalan kaki setelah dirinya selesai berlatih basket sepulang sekolah. Jika tidak? Mungkin sampai malam pun dirinya tak akan pulang.

“pabo!” kata Kai sambil menjitak pelan kepala Hye Rim dan segera kembali berjalan melanjutkan perjalanan pulangnya. Dia tak habis pikir. Bagaimana bisa yeoja itu belum tahu menyebrang diusianya yang sekarang?

__

Kai memegang ujung matanya yang memar dan sedikit berdarah. Dia meringis kesatikan ketika mengangkat tangannya untuk memegang luka diujung matanya karena luka lecet yang lumayan besar disikunya. Kai berusaha membersihkan luka lecet disikunya dengan jemari nya sendiri tetapi hanya rasa sakit yang dirasakannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk diam saja ditempat duduknya sekarang. Tidak banyak gerakan gerakan yang dibuatnya karena seluruh tubuhnya terasa sakit. Apalagi di bagian punggungnya. Masih terasa bekas tendangan beberapa orang preman tadi di punggungnya.

“hhhhh~” kai bernapas berat sambil menatap langit malam dari tempat duduknya sekarang. Ditengah lapangan basket umum yang biasa digunakan untuk para pemuda-pemudi sekitar untuk berolahraga. Pandangannya menjadi sedikit kabur akibat memar diujung mata kirinya. Saat ini, dia sedang memikirkan masalah hubungannya dengan songsaenimnya itu. Sebelum bertengkar dengan preman di pinggir jalan tadi, Kai sempat bertengkar dulu dengan orang tuanya mengenai hubungan terlarangnya ini. Terlarang?! Apanya yang terlarang?! Mereka sama sama saling mencintai dan masing masing tidak mempunyai kekasih lain maupun sudah menikah. Satu satunya halangan adalah usia mereka yang terpaut jauh. Dan itu bukanlah suatu masalah bagi Kai.

“Kai!!” suara nyaring Hye Rim terdengar ditelinga Kai membuatnya kembali tersadar dari lamunannya. Dapat dia dengar suara pintu berkawat jarang yang dibuka Hye Rim dengan kasar juga suara langkah kaki Hye Rim yang berlari kearahnya.

“ya, sudah lama kau tidak kesini dan kau malah datang saat tidak ada seorangpun yang bermain basket” ujar Hye Rim bersemangat sambil duduk melantai disebelah Kai. Hye Rim mengikuti arah pandangan Kai keatas langit. Sejenak Hye Rim terpesona dengan apa yang dipandanginya malam ini. Langit begitu terang karena bulan purnama sempurna sedang menampakkan dirinya sekarang. Ribuan bintang bertebaran seperti bubuk susu putih diatas meja hitam. Tapi menurut Hye Rim, memandangi namja disebelahnya ini pasti akan lebih menyenangkan.

“omo!! Matamu..” jerit Hye Rim terkejut ketika mendapati mata kiri Kai yang sedikit bengkat dan memar. Sontan Hye Rim mendekat kearah Kai dan memeprhatikan mata Kaia yang memar dengan seksama.

“kau berkelahi lagi? Dengan siapa?!” desak Hye Rim sambil menggoyang-goyangkan lengan Kai. Secara tidak sadar, dia membuat keadaan Kai makin memburuk.

“ssh.. ah!” desah Kai ketika merasa perih disikunya yang terkena tangan Hye Rim. Sontak Hye Rim melepaskan tangannya dari lengan Kai dan melihat keadaan siku kai yang lecet parah.

“omona! Mianhe.. lenganmu luka juga?!” ujar Hye Rim merasa bersalah.

“Yak!! Kenapa kau berkelahi lagi, huh? Lihat, lukamu yang itu saja belum sembuh” omel Hye Rim sambil mengeluarkan sesuatu dari tas gandengnya. Hye Rim memang tak heran lagi melihat Kai berkelahi. Dia sudah tahu itu adaah hobi Kai. Kai itu bagai preman tengik dimata Hye Rim. Setiap minggu, pasti ada saja luka baru diwajah atau tubuhnya.

“kau! Cerewet sekali” ujar Kai. Hye Rim tak menggubrisnya. Hanya sibuk mengeluarkan satu persatu peralatannya dan mulai menyusunya diatas lantai lapangan basket.

“ya, kau selalu membawa barang itu kemana mana?!” tanya Kai yang melihat Hye Rim sedang sibuk dengan perlatan P3k nya yang hampir lengkap.

“aku berencana mengganti perbanmu besok dan membelinya di toko barusan. Tapi malah bertemu denganmu disini dalam keadaan luka” sahut Hye Rim yang menunjukan bungkusan perban diatas lantai serta sebuah obat merah dan plester. Kai hanya mengangguk tanda Ia mengerti. Sudah seharusnya seorang teman begitukan? Pikir Kai.

“sini tanganmu. Aku akan mengobati yang ini dulu” kata Hye Rim sambil menggapai tangan Kai yang terbalut perban. Hye Rim melepas lilitan perban tersebut dengan pelan.

“sepertinya lukanya sudah kering. Tidak perlu diperban lagi” ujar Hye Rim ketika melihat keadaan luka di punggung tangan Kai sudah membaik. Hye Rim mengambil sebuah plester berwana kulit dan memsangnya disalah satu bekas luka ditangan kai. Kemudian Hye Rim mengambil plester kedua dan memasangnya tepat disebelah plester sebelumnya yang Ia pasang ditangan Kai.

“cha~ Kau berhutang 2 plester padaku” ujar Hye Rim menyudahi aktifitasnya.

Ia mengambil sebuah kapas dan menuangkan cairang berwarna kemerahan diatanya. Hye Rim kemudian beralih kelengan Kai yang terdapat begitu banyak lecet dibeberapa tempat. Dengan sangat pelan, Hye Rim mulai mengusapkan kapas tersebut keluka yang ada dilengan Kai.

“sssh~ bisa pelan pelan sedikit? Kau membuat lukanya semakin parah” kata Kai sambil menarik sedikit lengannya dari Hye Rim. Lukanya terasa begitu perih ketika terkena obat yang diberikan Hye Rim.

“kau diam saja, preman tengik!” sahut Hye Rim galak. 2 tahun lebih dia berteman dengan Kai, tentu Ia tahu betul cara membuat Kai diam. Sebut saja dirinya preman tengik sambil memasang wajah marah. Maka Kai akan diam.

Detik berikutnya mereka benar benar diam. Hye Rim tetap mengobati luka Kai dengan hati hati sementara Kai menahan rasa perihnya dalam diam.

“kenapa begitu banyak luka dilenganmu?! Seharusnya wajahmu yang babak belur..” komentar Hye Rim yang mendapati luka lecet dilengan kanan Kai lebih banyak daripada tangan kirinya. Entah bagaimana model Kai saat dihajar oleh orang lain, yang jelas lukanya sangat banyak. Untung hanya luka lecet.

“aku jenius, kau tahu” sahut Kai ketika Hye Rim selesai memberi obat diluka lecetnya. Sekarang Hye Rim mengambil kapas baru dan kembali menaruh obat merah diatas kapasnya.

“seperti ini.. jadi wajahku tetap aman” lanjut Kai sambil mempraktekkan bagaimana kedua tangannya melindungi wajahnya. Hye Rim terkekeh. Begitu rupanya cara Kai melindungi wajahnya? Pantas saja tangannya terdapat begitu banyak luka. Batin Hye Rim.

“ccih! Tapi tetap saja kena, benarkan?!” sahut Hye Rim sambil mencondongkan tubuhnya kearah Kai. Disapunya ujung mata kiri Kai dengan pelan. Sangat pelan agar Kai tidak merasa perih.

“auu” jeritan Kecil kai membuat Hye Rim menghentikan sapuan kapasnya. Dia menatap mata Kai yang hanya berjarak 10 centi dari wajahnya.

“appoyeo?!” tanya Hye Rim khawatir. Kai mengangguk sambil menutup matanya. Tidak sadar akan jarak wajahnya dan Hye Rim begitu dekat. Dengan cekatan Hye Rim mulai meniup ujung mata Kai. Memberi sensasi dingin dan sejuk tepat diluka memar Kai. Sedikit demi sedikit Kai mulai merasa rasa perih itu hilang dan Ia bisa membuka matanya secara perlahan.

Deg!

Jantung Kai berdetak begitu cepat mendapati wajah Hye Rim yang begitu dekat dengan matanya. Hye Rim tak menghentikan aktivitasnya. Ia tetap meniup mata kiri Kai secara lembut. Terlalu lembut hingga membuat Kai sempat terbawa suasana memandangi wajah serius Hye Rim.

“kau tiup yang ini saja. Ini lebih sakit” ujar Kai sambil memundurkan wajahnya beberapa centi kebelakang. Hye Rim berhenti menghempaskan napasnya kearah Kai. Ia mengangguk lalu mulai meniup siku yang disodorkan Kai dihadapannya.

“Uri songsaenim~” ucap Hye Rim disela sela kegiatannya meniup siku Kai. Kai menoleh pada Hye Rim dan memberi pandangan tidak suka.

“jangan bahas itu! Tiup saja luka ini, rasanya perih” potong Kai sambil menunjuk sikunya tadi.

“tapi aku ingin bertanya satu hal” sahut Hye Rim dan menjauhkan siku kai dari hadapannya. Kai hanya diam tak menjawab, seolah memeberi kesempatan pada Hye Rim untuk bertanya.

“apakah kau… tidak berniat melupakan In Jung songsaenim?!” tanya Hye Rim langsung. Kai memalingkan wajahnya dari tatapan Hye Rim lalu menggeleng.

“untuk apa?!” tanya Kai.

“kau harus segera melupakannya” sahut Hye Rim pelan. Lama Tidak ada jawaban dari Kai membuat Hye Rim mendesah berat.

“hubunganmu dengan songsaenim tidak akan pernah berhasil” lanjut Hye Rim. Kai tetap tak menjawab. Hanya sibuk melihat luka luka di sepanjang kedua lengannya.

“kau tahu, aku siap membantumu melupakan songsaenim” kata Hye Rim lagi sambil menepuk dadanya dua kali. Seolah Ia adalah yang paling hebat sekarang.

“kau?! Membantuku?! Tidak perlu” kata Kai ketus. Untuk apa? Pikir Kai. Bahkan hingga sekarang hubungan mereka masih baik baik saja. Mereka belum putus. Setidaknya, In Jung belum mengatakan hal itu pada Kai.

“tsk! Jangan bilang seperti itu. Suatu saat pasti kau akan membutuhkan bantuanku” sahut Hye Rim sambil mulai merapikan barang barangnya yang digunakan untuk mengobati Kai tadi. Setelah selesai Ia segera berdiri dan beranjak meninggalkan Kai yang masih setia duduk ditengah lapangan basket itu.

Kai memandangi kepergian Hye Rim yang tanpa pamit itu. Sepertinya ada sesuatu yang kurang ketika Hye Rim pergi meninggalkannya. Seharusnya, Hye Rim lebih memaksa Kai untuk menerima tawarannya tadi. Dengan begitu mungkin Kai mau menerimanya. membantunya melupakan In Jung.

__

Kita akhiri saja hubungan kita.
Sepertinya aku sudah tidak sanggup menjalani semuanya.
1 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Dan kurasa kita sama sama butuh waktu untuk saling melupakan.
Kau tahu, seorang haksaeng bernama Cho Hye Rim sangatlah imut dan menyenangkan.
Aku rasa dia adalah pengganti yang tepat untukmu.
Jaga dirimu baik baik, Kai-ah~
Dan jangan panggil aku Noona lagi. Panggil aku songsaenim, Arasso?!

_

Berulang kali kai membaca pesan singkat dari In Jung di ponselnya. Pesan terakhir dari In Jung untuknya. Berulang kali pula Kai mendesah berat. Kemarin, setelah beberapa hari tidak berkomunikasi, tiba tiba In Jung mengirim pesan singkat untuknya. Pesan singkat yang saat ini sedang dibaca Kai berulang ulang. Beberapa kali kai mengetik pesan ‘Aku tidak ingin putus’ kepada In Jung tetapi niatnya ia urungkan. Sepertinya In Jung sudah membuat keputusan yang bulat. BahkanBagaimana Ia bisa menerima Hye Rim sebagai pengganti In Jung?! Sementara Kai, tidak pernah sekalipun merasa nyaman disamping Hye Rim meski hanya sedetik.

Kai mengeluarkan 2 carik kertas dari saku celana sekolahnya. Dipandanginya dua tiket masuk menuju Gwachon S Land (salah satu tempat kunjungan wisata seperti Disney Land). Minggu lalu sebelum kejadian yang menggemparkan sekolahnya itu, Ia dan kekasihnya In Jung berencana jalan jalan seharian penuh pada hari minggu besok. Merayakan setahun hubungan mereka. Tapi sepertinya perayaan itu tidak pernah akan terjadi. Dan tiket yang dibelinya sudah pasti akan sia sia.

“Kim Jong In~” suara bisikan yeoja membuat Kai buru buru menyimpan ponselnya kedalam Jas sekolahnya. Itu suara Hye Rim. Tentu saja Kai mengetahuinya meski yeoja itu berusaha mengubah suaranya menjadi menyeramkan atau sebaliknya.

“Kim Jong In haksaeng.. apa yang sedang kau pegang?!” tanya Hye Rim yang tiba tba saja muncul dari balik bahu Kai. Sementara Kai hanya diam merasa canggung dengan pertanyaan Hye Rim.

Hye Rim berusaha melihat kertas apa yang sedang dipegang Kai sekarang. Wajahnya sedikit menunduk untuk menjangkau tangan kai yang sedang memegang kertas kecil tersebut.

“untukmu” ujar Kai akhirnya. Bodoh, pikir Kai. Apa yang dia lakukan?! Memberi tiket tersebut begitu saja pada Hye Rim?! Kim Jong In kau sungguh bodoh.

“untukku?!” tanya Hye Rim sambil mengambil paksa dua lembar kertas tersebut dari tangan Kai sebelum Kai sempat menahan lebih kuat ditangannya.

“ini tiket untuk besok ya?!” ujar Hye Rim ketika melihat tanggal tiket tersebut. Kai mengangguk singkat sementara senyuman Hye Rim makin berkembang.

“heheh… jongmal gomawoyeo Kai-a~” lanjut Hye Rim dengan riang.

“tapi.. aku harus pergi dengan siapa?!” tanya Hye Rim lagi. Bukan nada bertanya kepada Kai, tapi lebih kepada diri sendiri.

“haruskah aku mengajak Ji Eun?! Ga In?! Atau Sehun?!” ujar Hye Rim lagi. Sontak kai melihat kearah Hye Rim dan menunjuk salah satu tiket ditangan Hye Rim.

“ya! Yang itu punyaku!” kata Kai ketus.

“mwo?! Lalu kenapa kau berikan padaku. Ini ambil” tanya Hye Rim bingung. Ia menyerahkan salah satu tiket tersebut kepada Kai. Namun Kai menggelengkan kepalanya.

“tidak.” Kata Kai singkat lalu mulai berjalan menuju sekolahnya. Sedari tadi, mereka hanya berdiri dipinggir jalan, 200 meter jauhnya dari gerbang sekolah mereka.

“ng?!”  gumam Hye Rim bingung sambil mengkerutkan dahinya. Dia mengikuti langkah Kai dari belakang.

“tidak sekarang. Besok aku akan mengambilnya didepan gerbang Gwachon jam 3 sore” ujar Kai tanpa sedikitpun menoleh kebelakang, kearah Hye Rim. Sedikit membutuhkan waktu bagi Hye Rim untuk mencerna perkataan Kai barusa. Ia menyusul langkah Kai hingga sekarang merek berjalan bersisi-an.

“Kita pergi bersama?!” tanya Hye Rim ragu. Kai sedikit mendesah lalu memutar bola matanya dengan kesal. Sedetik kemudian Kai mengangguk pasrah.

“ini kencan?!” tanya Hye Rim antusias membuat Kai kehabisan kata kata.

“Kai-ah~ kau mengajakku kencan?!” ulang Hye Rim lagi. Kai yang terlanjur kesal dengan sikap Hye Rim sekarang hanya diam dan terus melangkah. Setiap detik langkahnya makin besar meninggalkan Hye Rim yang sedang kegirangan dibelakangnya. Dia berpikir bahwa kai memang benar benar mengajaknya berkencan karena Kai tidak menggelengkan kepalanya sama sekali.

“gyaaa~~~”

__

The Next Day

Kai berjalan sambil menendang bebatuan kecil yang menghalangi langkahnya. Sore ini.. seharusnya menjadi sore paling menyenangkan baginya. Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Ia merasa bersalah karena memberikan Hye Rim sebuah tiket masuk ke Gwachon S Land dan mengajaknya berjalan bersama. Seharusnya Ia membuat janji dengan In Jung. Seharusnya.

“Kai-ah~” suara Hye Rim membuat Kai berhenti melangkah. Kai melihat kesekelilingnya untuk sesaat. Rupanya, karena keasikan melamun, Kai hampir saja melewati gerbang Gwachon S Land jika saja Hye Rim tidak menegurnya.

“wasseo?!” tanya Kai berbasa basi. Tentu saja Hye Rim sudah datang. Ini sudah hampir jam 4 sore. Kai terlambat hapir satu jam lamannya.

“mm~ Kau tidak boleh datang terlambat dikencan pertamamu kan?!” sahut Hye Rim sambil mengangguk sekali. Senyuman jahil khas seorang Hye Rim terpampang jelas diwajahnya.

“kencan?!” ulang Kai. Sekali lagi Hye Rim mengangguk masih dengan senyuman khas diwajahnya.

“hh~ aku tidak bilang kita akan kencan” kata Kai.

“tapi kau tidak menggeleng ketika kutanya kemarin. Itu artinya kau memang berniat mengajakku kencan kan?!” sahut Hye Rim dengan wajah ingin berdebatnya.

“hh! Terserah kau saja. Cepat masuk!” kata Kai tak ingin menanggapi perkataan Hye Rm. Biar saja Hye Rim ebrpikiran seperti itu. Toh, tidak ada ruginya buat Ku. Batin Kai.

“Ne! Kau begitu semangat~” sahut Hye Rim. Ia mengeluarkan 2 lembar tiket masuk yang diberikan Kai kemarin. Kemudian mereka berjalan berirngan menuju pintu gerbang dimana penjaganya sudah siap memerksa tiket mereka.

Hari ini bukanlah pertama kali mereka berjalan bersama. Sudah sering mereka berdua mengunjungi tempat tempat seperti ini. Terlalu sering, sampai sampai mereka sendiri lupa tempat apa saja yang sudah mereka kunjungi. Bahkan disaat Kai sudah menjalin hubungan khusus dengan gurunya itu, mereka berdua masih sering jalan bersama. Kai memang pintar menyembunyikan hubungan mereka. Sampai sampai Hye Rim yang sangat dekat dengan Kai pun baru mengetahui hubungan terlarang itu setelah hampir 10 bulan kai dan gurunya berpacaran.

“untuk apa datang kesini kalau hanya melihat lihat. Hanya mendatangi stand kecil dengan permainan tidak bermutu dan memenangkan boneka kecil ini. Kau tidak seru!” omel Hye Rim yang kesal dengan sikap Kai. Hampir semua permainan seru yang dinginkannya ditolak mentah mentah oleh Kai. Kai hanya menyangupi jika Hye Rim meminta permainan kecil seperti melempar balon balon air kearah badut atau memukul tikus tikus kecil yang muncul dipermukaan kayu dan mendapat sebuah boneka panda kecil yang tergantung manis di tas gandeng Hye Rim sekarang.

“lalu kau mau apa?!” tanya Kai pasrah.

“seharusnya kita menaiki wahana-wahana seru itu~” jawab Hye Rim sambil menunjuk wahana viking dan roller coaster yang berdekatan. Spontan Kai menggeleng. Yang benar saja?! Sejak kapan dirinya berani menaiki wahana yang begitu menantang?!

“andwe. Aku tidak suka” sahut Kai tegas. Untuk malam ini, mungkin kata-kata ini yang paling sering disebut Kai ketika Hye Rim mengajaknya untuk menaiki wahana-wahana yang ditakutinya.

“hhuuftt~ bilang saja kau takut! Aku tidak akan memaksa jika kau takut.” umpat Hye Rim sambil berjalan cepat meninggalkan Kai. Sementara kai tidak membalas perkataan Hye Rim karena memang betul apa yang dikatakan Hye Rim.

Mereka kembali berjalan bersama menyusuri beberapa stand kecil yang menjual berbagai macam pernak pernik. Mata Hye Rim membulat sempurna ketika melihat beberapa benda couple yang dijual disalah satu stand bernuansa pink.

“chamkan! Tunggu sebentar” kata Hye Rim yang tiba tiba berhenti kemudian memasuki area bernuansa pink tersebut. Kai menuruti perkataan Hye Rim dan menunggu Hye Rim dari luar stand, beberapa langkah daripintu masuknya.

“ajjhumonim, yang ini harganya berapa?!” tanya Hye Rim sambil berjongkok didepan box yang terdapat begitu banyak bando bando lucu.

“5000 won sepasang. Yang ini untuk yeoja, dan yang ini untuk namja” sahut sang penjual ramah. Hye Rim mengangguk dan mulai memilih bando bando lucu yang tersedia disitu. Sementara Kai sekarang sedang melihat kearah kanan. Tanpa sengaja dia melihat sosok kekasihnya disana. Tidak. Lebih tepatnya mantan kekasihnya. In Jung. Tanpa memperdulikan Hye Rim yang sedang asik dengan pilihannya, Kai secara naluriah mengikuti arah pandangannya. Ia berjalan perlahan menjauhi Hye Rim disana. Mungkinkah In Jung Noona sengaja datang kesini karena memang dirinya dan In Jung sudah membuat janji sebelumnya?! Pikir Kai.

“woa~  ajhumonim, aku beli yang ini” ujar Hye Rim setelah memutuskan untuk mengambil dua bando bertelinga jerapah tetapi berbeda warna itu. Hye Rim segera membayarnya dan berniat memamerkan barang barunya pada Kai, memberi salah satu bando tersebut pada Kai. Tapi apa yang didapatnya adalah Kai tidak sedang bersama dirinya sekarang. Kai hilang.

“Kai-ah eodisseo?!” ujar Hye Rim sedikit nyaring sambil melihat kesekeliling namun tak mendapati sosok Kai disana. Dia mulai berjalan diantara orang orang dan mencari Kai. Siapa tahu Ia juga ingin membeli sesuatu? Batin Hye Rim.

“Kai-ah~” panggil Hye Rim sekali lagi. Namun nihil. Sepertinya Kai sudah meninggalkannya sendiri di taman ini. Hye Rim sedikit kesal karena dia harus menabrak rombongan orang beberapa kali karena tidak memperhatikan jalannya.

“Kim Jong In jangan bercanda”

______________________

CUT
______________________

Asdfghjklasdfghjkl@#$%^&*
Just gimmie some comments please =D

 

28 pemikiran pada “Helping Kai (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s