Half of My Heart: Luhan

Sub Title         : Dynamite Girl

Author            : Kim_Mus2 & Inhi_Park

Main Casts      : Xi Luhan & Lee Myung Hee

Other Casts    : Sehun  & Chaerin (see HMH Versi Sehun)

Length             : Series

Genre              : Romance, Comedy, School Life

Rating             : PG-15

Summary        :

Hidupku tak lagi damai karenamu. Namun karenamu hidupku tak pernah sedamai ini.

(Luhan’s Side)

Tak terasa, sudah kenaikan kelas lagi rupanya. Kini aku akan menjadi siswa paling senior di sekolah ini.  Dari dulu hidupku biasa – biasa saja, semua urusan selalu berjalan dengan normal, hampir tak pernah ada masalah. Mungkin, itulah sebabnya aku tak menyadari betapa cepatnya waktu bergulir.

Seperti biasa, di hari kenaikan kelas seperti ini semua siswa pasti berkumpul di depan papan pengumuman. Semuanya penasaran ingin melihat peringkat mereka setelah belajar selama satu semester. Membosankan, aku kurang peduli dengan urusan seperti itu.

Ku langkahkan kakiku menuju papan pengumuman itu. Kalau saja dongsaeng tercintaku, Sehun, tidak merayuku dengan aegyonya, mana mungkin aku mau repot-repot berdesakan hanya demi melihat urutan peringkat itu.

“Luhanie Hyung, lihat… lihat… kita sama-sama juara 1, kita memang saudara yang jenius ya hehehe” ujar Sehun dengan semangat sambil terus memenggerak-gerakan lengan kiriku ke depan dan belakang seperti anak kecil minta dibelikan permen.

“Ah ne… Sehun-aah, chukae” ujarku santai sambil merangkul bahunya.

“Gomawoo hyung, hyung juga daebakk selalu juara satu di angkatan hyung, I’m proud of you hyung! Saranghae… hehe^^”

“Aiigoo… jeongmal kyeopta ^^ nado saranghae nae dongsaeng”

Dongsaengku memang manis. Meskipun jarak umur kami cuma 1 tahun dan bahkan dia sudah punya yeojachingu duluan, tak tahu kenapa Sehun tetap menjadi adik kecil yang manis dimataku. Aku pun benar-benar gemas dan langsung mencubit pipinya. Beginilah kami, kakak adik yang saling menyayangi.

(Author’s Side)

Dari kejauhan, tampak seorang yeoja sedang berlari dengan kecepatan tinggi sambil membawa setumpuk file di pangkuan tangannya.

“Selamat pagi ibu ketua osis!” semua siswa menyapa seperti itu pada seorang yeoja yang konon adalah seorang ketua osis itu dan dia menjawab dengan terburu-buru tapi tetap menunjukkan senyuman terbaiknya.

“Pagi… pagi… pagi… pagi  semuanya….. semangat pagi!!!” sapa sang yeoja kepada semua teman yang menyapanya.

“Wooyyy Lee Myung Hee, palli! Urutan peringkatnya sudah dipajang!” teriak seorang yeoja di dekat papan pengumuman.

“Ah ne… chankanman Chaerin-aah!!!” balas Myung Hee sambil terus berlari ke arah sahabatnya.

Melihat Myung Hee yang berlari bagaikan kuda yang keluar dari kandangnya, semua siswa yang sedang mengerubungi papan pengumuman langsung menyingkir untuk menyelamatkan diri, tapi tidak dengan Luhan dan Sehun. Kedua namja tampan bersaudara itu malah terus saja asyik bercanda dan sesekali mencubit pipi satu sama lain.

“Awas!!! Awass!!! Remku blong!!!“ teriak Myung Hee yang sudah tak bisa mengontrol kecepatan larinya itu.

Dengan sigap, Chaerin menarik tubuh Sehun, namjachingunya, agar tidak tertubruk Myung Hee.

Bruuukkkkk

Sang dongsaeng berhasil diselamatkan yeojachingunya, tapi sang hyung kini tengah mendaratkan tubuhnya di lantai dengan tambahan beban di punggungnya. Apakah beban itu? Tentu saja itu adalah tubuh Myung Hee dan file-file yang ia bawa.

“Hyung!!! Gwaenchanayo?” Sehun benar-benar khawatir dengan keadaan hyungnya yang nampaknya setengah sadar pasca kejadian mengenaskan itu.

“Jeosonghamnida… jeosonghamnida…“ ujar Myung Hee panik sambil masih dalam posisi telungkup menindih tubuh Luhan.

“Chaerin-aah cepat bantu temanmu berdiri, kasihan hyungku!” perintah Sehun pada yeojachingunya.

“Nde… cepat bangun Myung Hee! Aiisshh… kau ini selalu menyusahkan orang lain,” omel Chaerin sambil berusaha mengangkat badan Myung Hee.

Setelah Sehun membantunya bangun, Luhan diam seribu bahasa. Baru kali ini dia mendapatkan hantaman yang begitu besar setelah menjalani 17 tahun hidupnya. Luhan melemparkan padangannya ke arah yeoja yang menabraknya itu dan menatapnya dengan tatapan membunuh. Dia sama sekali tidak memperdulikan Sehun yang sedang sibuk membersihkan debu-debu yang menempel di baju seragamnya, akibat terjatuh tadi. Sepertinya, kini Myung Hee telah berhasil membangunkan singa kecil yang sudah lama tertidur.

Melihat tatapan Luhan yang seperti itu, bukannya merasa takut, bersalah, salah tingkah atau setidaknya berbasa-basi untuk meminta maaf, Myung Hee malah terlena dengan dunia khayalnya.

(Myung Hee’s Side)

Omonaa… namja ini… jeongmal kyeopta… aniya he is a handsome man… aniya he is a cute and beautiful prince, kyaaaa… dag did dug serrr banget jantungku ini huaa…. Jangan bilang kalau ini cinta pada pandangan pertama. Ya ampun – ya ampun Le Myung Hee… demi apa dong? Hari ini kamu beruntung banget, umma… appa… anak gadismu ini sudah terkena panah asmara. Ini udah klimaks banget sob, target locked on! Uuu yeaaahh  \\(^O^)// ayo lancarkan serangan pertama!!!

“Jeosonghamnida oppa, jeongmal jeosonghamnida…”ujarku sambil menunjukkan puppy eyes andalanku dan menggenggam kedua tangannya. OMG! Wajahnya memerah, imut sekali. Sekarang ini, pengen banget rasanya aku gali-gali tanah, loncat ke laut, jingkrak-jingkrak di atas pohon, aahhh pokonya cacing, semut, ulet, plankton, sama paus musti tahu. Aahhh pokonya semua binatang musti tahu kalau aku lagi jatuh cinta!!!#kenapa musti binatang aja yang tahu (?) -_-“

(Luhan’s Side)

“Lepaskan tanganmu, jangan sentuh aku” ucapku dingin.

Sebenarnya apa yang ada di otak yeoja ini? Aku sedang kesal padanya, tapi dia malah senyum-senyum sendiri. Benar-benar yeoja aneh. Aku harus segera menjauhinya, aura kesialan di sekitarnya terlalu besar. Bisa-bisa nanti aku terkena kesialannya.

“Sehun-aah ayo kita pergi dari sini!” ajakku pada Sehun, mencoba pergi sejauh mungkin dari yeoja itu.

“Hmmm…Mianhae hyung! Aku dan Chaerin harus menghadap kepala sekolah untuk pengarahan lomba science tingkat Asia minggu depan. Dulu hyung juga pernah menjuarainya kan? Aku juga mau hyung, doakan aku ya.”

“Keurrae… tapi nanti siang kita bisa pulang bersama kan?” tanyaku mencoba memastikan apakah adikku ini masih setia padaku.

“Jeongmal mianhae hyung! Aku sudah janji pada Chaerin untuk mengantarnya ke toko buku.” Lagi-lagi dongsaengku ini menolak ajakanku. Hari ini aku benar-benar sial, ini semua gara-gara yeoja aneh itu.

“Baiklah, Sehun, Chaerin, selamat bersenang-senang ya. Kalian tak usah mengkhawatirkanku. Annyeong!” Aku pun pergi meninggalkan mereka dan sepertinya aku lupa mengucapkan selamat tinggal pada yeoja yang menabrakku itu. Ah sudahlah, lupakan! Anggap saja ini hukuman untuknya.

“Oppa! Chankanman oppa!”

Suara siapa itu? Saat aku menoleh ke belakang, ternyata yeoja yang menabrakku itu terus membuntutiku. Sudah kupercepat langkahku, tapi aku kalah cepat. Sekarang dia sudah berada disampingku.

“Oppa, joneun Lee Myung Hee imnida, siapa nama oppa? Oppa hyungnya Sehun ya? Oppa sakit di sebelah mana? Biar aku obati nanti!” Yeoja itu dengan percaya diri memperkenalkan dirinya dan terus menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan. Tapi aku memilih terus berjalan cepat dan mengacuhkannya, aku tak mau berurusan lagi dengan yeoja ini.

“Oppa! Oppa! Siapa namamu? Ayolah oppa, beritahu aku! Aku ini ketua ekskul jurnalis, aku ingin menulis artikel tentangmu di majalah sekolah. Oppa kan selalu jadi juara kelas dan menjuarai berbagai perlombaan. Ayolah oppa, mau ya… jebal oppa jebal” suara yeoja itu lama-lama membuatku pusing. Suaranya sudah seperti suara lebah, telingaku rasanya mau pecah karena dengungannya.

“Ya!!! Bisa gak kamu berhenti mengikutiku, huh?!!!” kini kesabaranku sudah benar-benar habis!

Bruukk…

“Awww…appo!”

Ya Tuhan! Demi apa? Yeoja ini sekarang kembali terjatuh di lantai dengan posisi telungkup.

“Kamu ini apa-apaan sih? ayo kubantu kau bangun!” Saat ku tarik tangannya untuk membantunya bangun, rupanya telapak tangannya lecet.

“Oppa… jebal… mau ya aku wawancara, please!!!” rengek yeoja itu tanpa memperdulikan luka di tangannya.

“Sekarang, ikut aku dulu!” Ku tarik yeoja itu menuju ruang UKS tanpa memperdulikan ocehannya.

Di UKS

“Awww….aww….pelan-pelan oppa! Perih banget!”

“Diam! Kalau kau terus bergerak, akan terasa semakin sakit!”

Benar-benar menyebalkan! Yeoja ini terus saja merepotkanku. Anggota PMR pada kemana sih? Terpaksa aku harus mengobatinya.

“Jadi, otte oppa? Mau kan aku wawancara? Jebal.” Lagi-lagi dia menanyakan hal yang sama sambil terus tersenyum tak jelas.

“Hmmm… kau keras kepala sekali! Siapa namamu tadi?”

“Lee Myung Hee imnida, hmmm… oppa… ”

“Luhan, joneun Xi Luhan”

(Myung Hee’s Side)

Ya Tuhan…anugerahmu terlalu besar untuk hambamu ini…kyaaaaa….^o^ senangnya… Luhan oppa mengobati lukaku, mengobrol denganku, dan yang terpenting, saat ini wajah imut nan rupawan miliknya itu cuma akulah yang bisa memandanginya. Seandainya saja aku bisa memiliki Luhan oppa selamanya, aku akan menyimpannya di dalam lemari kaca supaya tetap awet tidak terkena debu sedikitpun dan lebih mudah kupandangi setiap hari tentunya hahahaha. Baiklah, aku harus terus melancarkan serangan kalau ingin berhasil mendapatkannya. Fighting!!!

“Ah ne… Luhan oppa jeongmal gomawoo kau sudah mengobatiku. Lalu bagaimana dengan wawancaranya?” Tanyaku penuh semangat, sambil terus menikmati kesempurnaan namja ciptaan Tuhan, yang kini berada tepat di depan mataku ini. Rasa sakit di tanganku juga makin lama makin tak terasa. Keindahan Luhan oppa benar-benar sudah menyihirku.

“Baiklah, aku bersedia. Tiga hari dari sekarang temui aku di Eternal Love café sepulang sekolah, kau tahu tempatnya?”

Gotcha! Luhan oppa, kau sudah hampir masuk ke dalam jala cintaku, bersiaplah! hahaha.

“Ne…oppa! Sampai jumpa disana kalau begitu” jawabku penuh semangat

“Ayo kita ke kelas sekarang!”

“Ne…”

<3<3<3

(Author’s Side)

Day 1 (Setelah pertemuan pertama)

Waktu makan siang sudah tiba, semua siswa pergi menuju kantin untuk memenuhi tuntutan cacing yang sedang konser di dalam perutnya masing-masing. Seperti siswa lainnya, Luhan pun pergi kesana dan memesan Mie Bakso kesukaannya. Saat Luhan sudah akan sampai di meja dan siap untuk menyantap semangkuk Mie Bakso yang ada di tangannya, tiba-tiba seorang yeoja berlari ke arahnya.

“Oppa… Luhan oppa… Annyeong!”

Buukkk!!!! Prang!!!

Semua isi mangkuk yang beberapa menit lalu ada di tangan Luhan kini sudah menghiasi wajah indahnya. Mie berwarna kuning bergelantungan di rambut Luhan dan butiran-butiran Bakso bertengger di kepalanya bagaikan jejeran telur burung yang sedang berada di sarangnya. Sementara itu, mangkuknya kini sudah berfungsi seperti topi yang dengan manisnya menutup kepala kecil milik sang yeoja.

“Yaaa!!! Le Myung Hee!!! Neo Micheosseo?!!!” bentak Luhan pada yeoja yang berdiri di hadapannya itu.

“Oppa mianhae… jeongmal mianhae…” ujar Myung Hee sambil terus membungkuk di hadapan Luhan.

“Sudahlah, aku mau ke toilet dulu!” Luhan pun berlalu melewati Myung Hee yang kini hanya bisa mematung di tempat sambil melihat punggung Luhan yang semakin menjauh darinya.

(Authors’ Side)

“Myung Hee, pabo! Pabo! Pabo! Kapan kau bisa pintar huh?! Bisa-bisanya aku membuat Luhan oppa marah. Otthoke? Jangan-jangan Luhan oppa tak mau bertemu aku lagi. Dia pasti sangat membenciku. Perjuangan cintaku akan berakhir, andwaee! Otthoke?” Myung Hee terus menggerutu sambil melakukan gerakan-gerakan tangan yang tak jelas saat berjalan menuju kelasnya.

“Meong… meong… meong…”

Ya Tuhan, kucing itu sepertinya tak bisa turun dari pohon, kakinya terluka. Aku harus menolongnya, tapi aku musti memanjat pohon. Bagaimana ini? Aku kan pake rok, pasti susah memanjatnya. Ah sudahlah, akan kucoba saja, pasti bisa!

Sekarang Myung Hee sudah berhasil berada di atas pohon dan menggendong sang kucing yang kakinya sudah diikat oleh sapu tangan miliknya untuk menghentikan pendarahan di kakinya itu. Satu hal yang menjadi masalah sekarang ini adalah namja yang sedang bersandar di bawah pohon sambil memasang headset dan membaca buku detektif kesukaannya dengan damai. Myung Hee tak mungkin loncat dari pohon itu sekarang, karena namja itu adalah Xi Luhan, orang yang paling tidak ingin melihat dirinya saat ini.

Krekettt… krekettt… Dahan yang sedang diinjak Myung Hee menimbulkan suara yang cukup nyaring.

(Myung Hee’s Side)

Ya Tuhan… apa pula ini? kenapa tiba-tiba dahannya bunyi? Aku gak boleh jatuh sekarang, please dahan yang baik please… jangan patah sekarang! Di bawah ada Luhan oppa, dia pasti akan lebih marah lagi kalau melihatku. Omaigot…omaigot…aku ga tahu lagi sekarang musti gimana, kucing yang manis, kamu ada ide gak? Aaah pabo! Ini kucing pasti ga tahu apa-apa.

Krekeettt….Krekeett….

Bruukkk!!!

“Aaahh!!! mianhae oppa… mianhaee…!!!” Myung Hee terus berteriak sambil memeluk erat kucing yang ada di gendongannya dan menutup kedua matanya tanpa sadar sedang dalam posisi apa dia sekarang ini, pasca jatuh dari pohon.

“Lee Myung Hee?!!! Apa lagi yang sedang kau lakukan huh?!” bentak Luhan.

Myung Hee membuka matanya perlahan dan sekarang dia sadar kalau dia sedang duduk di pangkuan Luhan.

“Aaaahhh!!! Oppa mianhae… mianhae…pasti oppa tidak ingin melihatku sekarang kan? Aku mau kabur saja!!!”

Myung Hee lari dengan secepat kilat menjauhi Luhan. Saking paniknya, Myung Hee pun meninggalkan kucing yang ditolongnya tadi di pangkuan Luhan.

(Author’s Side)

“Hey kucing! Kenapa kamu jatuh dari pohon bersama yeoja itu, huh? Ya ampun, sepertinya aku mulai gila bertanya pada kucing seperti ini.” Luhan menggerutu sendiri.

Saat Luhan mengamati tubuh sang kucing dan menemukan sapu tangan yang terikat di kakinya, akhirnya dia tahu kalau Myung Hee sudah menolong kucing itu.

“Hmmm… ternyata yeoja itu ada gunanya juga.” Tanpa sadar, senyuman pun mengembang di bibir Luhan.

<3<3<3

Day 2

Hari ini, Myung Hee disibukkan dengan kegiatan OSIS-nya karena sebentar lagi akan diadakan lomba olahraga antar SMA dan kebetulan tahun ini sekolah Myung Hee-lah yang jadi tua rumahnya. Sebagai ketua OSIS, tentunya sekarang dia harus berkonsentrasi pada acara itu, memikirkan teknis acara, kepanitiaan, pencarian dana, sponsor dan masih banyak urusan lainnya. Terlebih lagi, karena dia merangkap sebagai ketua jurnalis, urusan publikasi acara ke radio-radio terkenal macam Sukira, ShimshimTapa, Hong Jin Kyung’s 2PM Radio, YoungStreet, Arirang Radio dan lain-lain juga menjadi tanggung jawabnya dan tentunya semua kegiatan itu cukup menguras tenaga.

Saking sibuknya membuat perencanaan untuk acara olahraga itu sampai larut malam, mata Myung Hee terasa berkunang-kunang. Di kelas sekalipun dia tak dapat berkonsentrasi untuk memperhatikan penjelasan gurunya. Untung saja para guru mengadakan rapat hari ini, jadi Myung Hee bisa sedikit beristirahat untuk menghilangkan rasa kantuk dan pusing yang menerpanya sekarang ini.

Saat Myung Hee berjalan gontai menuju UKS untuk sekedar tidur disana, ia melihat sesosok namja yang sering membuatnya tersenyum sendiri akhir-akhir ini, berjalan ke arahnya. Tapi karena sama sekali tak ada tenaga untuk menyapanya, Myung Hee hanya bisa tersenyum tipis. Semakin namja itu mendekat, semakin menurun tenaga Myung Hee dan akhirnya….

Bruukkkkk….

“Awww!!! Oppaa!!! Oppaa!!!Oppaa!!!” Para gadis berteriak histeris melihat kejadian ini dan mereka semua berhamburan keluar kelas seolah tidak ingin melewatkan kejadian langka tersebut.

Myung Hee terkulai lemah di lantai, sementara Luhan sibuk menaikkan celananya yang melorot akibat ditarik oleh Myung Hee yang terjatuh. Untung saja Luhan memakai celana boxer, kalau tidak, semua yeoja bisa mimisan stadium empat.

“Yaaa!!! Lee Myung Hee!!! Aku membencimu, enyah dari hadapanku selamanya!!!” Luhan berteriak pada Myung Hee mencoba meluapkan semua kekesalannya sebelum akhirnya lari sekencang mungkin meninggalkannya yang terkulai lemas di tengah kerumunan para yeoja yang tadi menonton.

Day 3

7 p.m At Luhan’s Home

Hari ini sebenarnya adalah hari yang dijanjikan Luhan untuk bertemu dengan Myung Hee untuk wawancara di café milik Kris. Tapi, karena insiden kemarin, Luhan mengurungkan niatnya untuk pergi.

“Hyung! Tidak pergi kemana-mana?” Tanya Sehun

“Ne…aku sedang malas. Akhir-akhir ini hidupku jadi sial sekali” jawab Luhan sekenanya.

“Waaahhh… itu baru keren hyung! Aku jarang sekali melihat hyung punya masalah. Hidup tuh ga asyik kalau ga ada masalah hyung, serasa sayur kurang garam gitu” jelas Sehun panjang lebar.

“Aaah terserah kau saja, aku malas mendengar ocehanmu! Pergi sana!” usir Luhan pada adiknya.

“Ya… ya… ya… hyung! kau jahat sekali padaku!” protes Sehun.

“Mianhae… suasana hatiku sedang buruk hun!”

“Aha! Kalau hyung mau aku maafkan, ayo traktir aku makan di cafénya Kris hyung sekarang. Kajja hyung!” rengek Sehun pada hyungnya.

“Ne… ne… kajja!”

At Kris’ Café

“Luhan… Kau kemana saja? Kenapa baru datang sekarang, huh?” Kris mengoceh sambil berlari ke arah Luhan yang baru akan memasuki café, masih dengan mengenakan apron bermotif bunga mataharinya.

“Mwooragoo? Aku tidak bilang akan datang kan?” Tanya Luhan heran.

“Tadi seorang yeoja menunggumu dari jam 2 siang disini. Dia demam tinggi, tapi dia tetap menunggumu, karena katanya kau sudah janji akan datang” papar Kris panjang lebar.

“Jinjjayoo? Siapa nama gadis itu? Dimana dia sekarang?” Tanya Luhan menjadi sedikit panik.

“Kalau tidak salah namanya adalah Lee Myung Hee. Dia baru saja pulang, tadi dia pingsan disini dan seorang namja datang menjemputnya, sepertinya oppanya tapi entahlah. Kalau kau mau menyusulnya, sepertinya mereka belum terlalu jauh, mereka memakai mobil berwarna merah yang diparkir di depan toko bunga sebelah caféku ini.” lagi-lagi Kris menjelaskan dengan sangat detail.

“Aku pergi dulu ya Kris, Hun!!!” Luhan langsung berlari keluar dengan tergesa-gesa mencoba mengejar mobil Myung Hee, tapi gagal. Sebenarnya bukan karena tidak sempat mengejar, tapi karena Luhan melihat seorang namja yang memang tampan dan imut membopong Myung Hee masuk ke dalam mobil. Melihat kejadian itu, Luhan hanya bisa berdiri kaku sambil menatap mobil Myung Hee yang berjalan meninggalkan tempat itu.

<3<3<3

Lunch Time at School

(Luhan’s Side)

Myung Hee, kau kemana? Apa kau baik-baik saja? Kau sakit apa? Aku tak tahu kalau kau akan menungguku selama itu di café. Kenapa aku jadi galau begini? Pasti sudah ada yang salah dengan otakku.

“Sehunie…” kupanggil dongsaengku tercinta yang sedang mengobrol dengan yeojachingunya di depan kelas.

“Waeyo hyung?” akhirnya dongsaengku berjalan menghampiriku.

“Emmhh… aku cuma mau tanya, apa Myung Hee ada di kelasnya?”

Aaah pabo! Kenapa aku malah menanyakan ini? pasti Sehun berfikir yang tidak-tidak.

“Ah yee… Myung Hee hari ini tidak masuk hyung! Berarti sekarang dia sudah sakit selama 3 hari hyung. Apa hyung mau menjenguknya? Kalau mau, nanti kita bisa minta diantar Chaerin, hyung!” ujar Sehun seperti sudah bisa membaca pikiranku.

“Aniya…gwaenchanayo, aku cuma tanya saeng, gomawoo, annyeong!” Entah sejak kapan aku begitu canggung berbicara dengan dongsaengku sendiri dan bahkan otakku sepertinya tidak bekerja dengan normal. Semua kata-kata yang aku ucapkan tidak sesuai dengan yang aku inginkan.

<3<3<3

(Author’s Side)

“Yeoboseyo…” Chaerin mencoba menelpon Myung Hee yang sudah hampir dua hari tidak masuk sekolah.

“Ohok..ohok.. Chaerin-aah anyeong…hatchiiiiii!!!! Mianhae Chaerin” jawab Myung Hee di seberang telepon dengan suara yang memprihatinkan.

“Gwaenchanayo Myung Hee-aah… apa kau sudah sedikit baikan? Cepatlah datang ke sekolah, ada masalah besar!” Chaerin mencoba menggunakan nada suara yang sedikit panik.

“Mwoo?? Beritahu aku, ada apa?” Tanya Myung Hee penasaran.

“Tadi aku dengar gossip kalau Hyuna akan menyatakan cintanya pada Luhan oppa besok.”

“Jinjja???Aaah otthoke?? Aku tak mau Luhan oppa direbut yeoja lain Chaerin!!!.” Myung Hee sejenak lupa dengan penyakitnya dan secara otomatis galau mendengar berita dari temannya itu.

“Kalau kau tak ingin kehilangan Luhan Oppa, kau harus masuk sekolah besok dan nyatakan cintamu sebelum Hyuna melakukannya Myung Hee, Arra?!” Chaerin mencoba memberi saran pada sahabatnya itu.

“ Arasseo!!Ohok… ohok… gomawoo Chaerin-ah” jawab Myung He sambil terbatuk-batuk.

“Good… good… Myung Hee-aah, Fighting!!!”

“Ne… Fightccchiiiing!!!!! Haha mianhae aku malah bersin lagi”

“Kalau mau bersin, bersin dulu sana! Jangan di telepon dong, telingaku sakit tahu!” protes Chaerin.

Next Day, (Jam istirahat pertama)

Karena akhir-akhir ini hidupnya serasa hampa, saking galaunya menata pikiran dan hatinya yang selalu dipenuhi rasa bersalah pada Myung Hee, Luhan sering berjalan tanpa arah dan melamun di sekolah. Kebetulan, hari ini Luhan berjalan ke arah lapangan basket dimana teman-temannya yang lain sedang sibuk bermain disana.

(Luhan’s Side)

Aku benar-benar namja pengecut, namja pabo, tak berguna! Saat dia ada, aku malah sering membentaknya, bahkan aku sudah membuatnya sakit karena kepaboanku. Aku ini nappeun namja! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sepertinya, dia juga tidak membutuhkanku. Namja itu lebih baik dariku, aku harus melupakannya. Kenapa rasa ini datangnya terlambat ya Tuhan? Bila dia memang tidak ditakdirkan untukku, izinkan aku untuk meminta maaf padanya.

Ada apa ini? Kenapa semua orang melihat ke arahku? Ah bukan, sepertinya mereka melihat orang yang ada di belakangku.

“LUHAN OPPAA…. SARANGHAEYOO!!! JEONGMAL SARANGHAEYOO!!! NAE NAMJACHINGUGADOEEO JULLAE???!!!” teriak seorang yeoja yang memakai masker dan baju hangat tebal di belakangku.

Saat aku berbalik untuk melihat yeoja itu, semua orang yang ada di pinggir lapangan basket menyorakiku sambil bertepuk tangan dengan semangat.

“TE… RI… MA… TE… RI… MA… TE… RI… MA…TE… RI… MA… TE… RI… MA… TE… RI… MA…”

Anggota cheerleader yang entah sejak kapan sampai di lapangan pun ikut memeriahkan suasana sambil melakukan atraksi dengan pompom dan rok mininya.

“XI… LU… HAN… LEE… MYUNG… HEE…  XI… LU… HAN… LEE… MYUNG… HEE…”

“ JA… DI… AN…”

“Give me “J” Give me “A” Give me“D” Give me “I” Give me “A” Give me “N”, JA… DI… AN, Yuhhhhuuuuuuu……”

“Acciikiciiiwwwww….. Prikitiiiiwwwwww…..”

“Ecieeeeee…. Luhan…. Myung Hee………  Suitsuiiinggggg……..”

Aaaiiisssshhhh….. Apa-apaan sih orang-orang itu? Berisik sekali!

Aku tak peduli dengan sorakan orang di pinggir lapangan. Satu-satunya yang menyita perhatianku adalah yeoja yang sudah dengan lancang dan tak tahu malu menyatakan cintanya padaku itu.

Semakin lama kuperhatikan sosok yeoja itu, akhirnya aku sadar, dialah orang yang membuat pikiranku kacau akhir-akhir ini. Sosok yeoja yang tak mungkin aku lupakan kehadirannya. Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik tangan yeoja di hadapanku yang sudah kukenali identitasnya itu dan langsung mengajaknya pergi dari kerumunan orang-orang konyol ini menuju ke atap sekolah.

(Author’s Side)

Sesampainya di atap sekolah

“Yaaaa!!! Neo micheosseo?!! Kenapa kamu teriak-teriak di depan banyak orang huh?! Kau ini selalu membuatku pusing tahu!!!” bentak Luhan pada Myung Hee.

Myung Hee langsung membuka masker yang menutupi hidung dan mulutnya dan langsung angkat bicara. “Aku tak mau kehilangan Luhan oppa! Aku tak mau Hyuna menyatakan cintanya duluan pada oppa!”

“Mwooo? Hyuna? Nugu? Aku tak mencintai yeoja lain selainmu, Arrasseo!!!” Luhan kembali membentak.

Belum sempat Myung Hee mengkonfirmasi pernyataan Luhan, tubuhnya sudah ditarik dan berada sepenuhnya dalam kuasa Luhan.

~Chuuuuuuuuuuuuuuu~

Luhan mencium bibir Myung Hee lammmmaaaaaaaaaaaaaaa…….

Saat keduanya mulai merasa sesak saking intensnya ber-ehem ria, keduanya mulai melepaskan sentuhan bibirnya dan…

“Hatcchiiii!!!! Hatchiiiii!!!” Kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu bersin hampir berbarengan.

“Yaaa! Ini salahmu, Lee Myung Hee! Aku jadi tertular flu karenamu, kau harus bertanggung jawab!” protes Luhan sambil mengucek-ngucek hidungnya.

“Siapa suruh menciumku? bleehh….” Balas Myung Hee meledek.

“Ya sudah, aku sudah tanggung kena flu, ayo lanjutkan!” ajak Luhan dengan tatapan yang sedikit bernafsu.”

“Kyaaa….ternyata kau buas oppa, andwaaeeee!!!” Myung Hee berlari menghindari Luhan, tapi sayangnya Luhan yang lebih cepat dari Myung Hee bisa langsung menangkapnya.

“Dapat kau!” Luhan langsung menarik Myung Hee dan memeluknya dengan erat.

“Jangan melawan lagi! Aku tak akan membiarkan namja itu memilikimu, arra?!” lanjut Luhan sambil mendekatkan wajahnya pada milik Myung Hee.

“Namja? Namja yang mana oppa?” tanya Myung Hee kebingungan sambil berusaha mengontrol detak jantungnya yang makin tidak karuan karena sentuhan tangan Luhan yang melingkar di lehernya dan hembusan nafas Luhan yang terlalu dekat menghangatkan wajahnya.

“Errr…itu… namja yang mengantarmu pulang dari café.” Jawab Luhan ragu.

“Hahahahahaha… waktu itu oppa melihatku? Oppa cemburu ya? Iiihh oppa, jeongmal kyeopta!” Myung Hee tertawa puas, masih dalam pelukan Luhan.

“Yaa!!! Cepat katakan! Siapa namja itu?” Luhan terus mendesak Myung Hee.

“Ya ampun oppa… itu kan Taemin oppa, dia oppa kandungku. Masa oppa tak tahu? Oppaku kan namja populer di sekolah ini. Oppaku itu jago dance loh hehe” Jelas Myung Hee sedikit menyombongkan diri dengan reputasi oppanya.

“Jinjjayo? Kalau begitu, sekarang kau milikku.  Ayo kita lanjutkan aktivitas kita! Kau harus terbiasa dengan ini, karena kau yeoja pertama dan terakhir yang aku izinkan untuk mengganggu hidupku.”

“Oppa….” rengek Myung Hee yang sedikit kesal tapi senang dengan kata-kata Luhan yang kini sudah mengakui Myung Hee sebagai yeojachingunya.

Saat Luhan akan meraih bibir Myung Hee…

“Hatchiii!!” keduanya lagi-lagi bersin secara bersamaan.

Karena hawa dingin yang menyelimuti udara, keduanya menggigil dan pingsan bersama di atap sekolah, masih dalam posisi berpelukan tentunya. Untunglah sang dongsaeng, Sehun dan Chaerin menyusul ke atap dan langsung meminta bantuan PMR untuk membawa keduanya ke UKS.

KKEUTT

Bacot Author:

Uuu yeaaahhhh!!! Horeeee…Horeee…. Horeeeee…..Nyampe juga ke versi Luhan, versi HMH pamungkas (?)

Senangnya….. :D:D:D:D

Luhan…Oh…Luhan… kenapa kamu nyium si Myung Hee sih? Jadi sakit deh…

Harusnya cium author aja, author kan sehat sentosa wkwkwwk

Happy RCL ya chingudeul… 😀

Haaaa….. pengen dicium Luhan….yang lamaaaaa…….kekekek :D# woooyyy udah dong diem! Bacot mulu nih…

124 pemikiran pada “Half of My Heart: Luhan

  1. ya ampun myung hee cwe keren nih, masa dy gk nembak luhan..
    ahaha..
    koplak dah, pake cheerleaders lagi…
    keren thor..
    ahahaha…
    endingnya jg koplak flu n pingsan barengan…
    😀 😀 😀 ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s