One Way to You (Chapter 2)

Author : Firstrianisa (@oishiionew)

Main Cast : Song Hyein, Kris, Park Chanyeol

Genre : Romance –I don’t know-

Length : Chaptered .

Happy Reading Guys, hope you like it J

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

 

Aku meregangkan dan memutar kepalaku, ah pegal sekali rasanya. Bahkan aku bisa mendengar suara gemeretak dari leherku. Sambil memukul tengkuk leherku pelan, aku melangkah menuju rumahku.

“kau pulang larut sekali”

“HWA!” kataku setengah berteriak. Ternyata itu Kris, apa ia menungguku?.

Ia menyunggingkan senyumnya tanpa mengubah posisinya saat ini, bersandar di mobilnya yang ia parkir di depan pagar rumahku.

“aku mengagetkanmu?”

“tentu saja, kenapa kau kesini tanpa memberitahuku?. Aku kan bisa minta izin bos untuk pulang awal.” Protesku. Aku menghampirinya dan ikut bersender di mobil.

“kau tidak suka aku kesini?” tanyanya sambil mengusap kepalaku dan mengacak rambutku.

“bukan begitu. Kalau kau memberitahuku kau akan kesini, aku kan bisa mempersiapkan diri untuk terlihat cantik di depanmu. Hari ini aku jelek sekali” Aku cemberut lalu merapikan rambutku dan membasuh keringat yang bertengger di dahi. “tenang saja, aku sudah biasa melihatmu dalam keadaan Jelek.” Candanya. Aku memelototinya. Ia tersenyum lagi.

“ ayo ikut aku.” Kris menarik tanganku masuk ke mobil.

“eh, mau kemana? Aku sedang tidak ingin pergi Kris, aku harus menyelesaikan laporanku.” Sepertinya ia tidak mendengarkan penolakanku.

*****

Ini sudah jam setengah duabelas malam. Kris mengajakku ke kedai makanan.

“kau memaksaku untuk ikut denganmu hanya untuk menemanimu makan malam Kris?” aku melirik sinis padanya.

Ia mendesah pelan lalu menatapku, kali ini ia menampakkan ekspresi sedih. Sepertinya aku salah bicara. “kau benar-benar lupa ya?” Katanya.

Sebenarnya aku melupakan apa? Dari kemarin sepertinya ia membahas masalah ini terus. Ia menarikku masuk ke dalam kedai. Kris mengambil tempat duduk yang biasa kami tempati. Tempat duduk yang berada di sisi sudut kedai kecil ini. Aku jadi ingat, kedai ini adalah tempat pertama kali aku dan Kris bertemu. Saat itu aku masih menjadi seorang mahasiswa baru dan Kris yang merupakan seniorku di Kampus.

Kris memesan dua mangkuk ramen spesial kepada pelayan.

Ia menopang dagunya sambil menatapku. Aku jadi penasaran. “sebenarnya aku melupakan apa? Tanyaku.

“ck, baiklah. Sepertinya kau benar-benar lupa ini hari apa?” Kris mengambil sesuatu di tasnya. Sebuah kotak dan ia menyerahkan padaku. Ini apa? Aku kan tidak sedang berulang tahun. Aku membuka kotak berwarna hijau dengan pita di sisi kanannya. Ternyata kamera lomo seri Dianamini yang sudah lama aku idamkan.

Saat aku melihat notes di dalamnya. “Happy 3th years anniversary.”

Ah tidak!. Aku benar-benar lupa kalau hari ini adalah perayaan tiga tahun hubunganku dengan Kris.

“ya tuhan, kris…” aku memegang kamera itu sambil menahan tangis, aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. “aku benar-benar lupa. Maaf….” ah dasar mata ini, kenapa tidak bisa tahan dulu untuk mengeluarkan air mata. Aku malu kalau menangis seperti ini di depan Kris.

“tidak apa-apa, aku tau kau sedang sibuk-sibuknya menjalani pekerjaanmu sebagai wartawan.”

Aku jadi menyesal. Kenapa aku bisa melupakan hari ini. ini sudah tahun ketiga kami menjalani hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Walaupun harus menjalani hubungan jarak jauh karena Kris harus melanjutkan sekolahnya di Taiwan, tapi untungnya kami bisa menjalani hubungan sampai sejauh ini. Padahal Kris sudah menyempatkan waktunya kembali ke sini untuk merayakan hari ini denganku. Kenapa aku bisa lupa.

*****

Kris hanya diam sedari tadi di kedai ramen sampai saat ini ia mengantarku pulang. Aku tahu ia pasti marah padaku. Ia akan seperti itu saat ia marah padaku, lebih banyak diam

“sudah sampai” katanya tersenyum. ah Kris, kalau kau tersenyum seperti itu aku malah jadi ingin menangis.

“Maaf” aku memeluknya lama sebelum aku turun dari mobil.

Ia melepas pelukanku. “tidak apa-apa, sudah turun sana!. Ini sudah malam, kau harus bangun pagi besok”

Rasanya kakiku enggan untuk beranjak dari tempat ini. Rasanya besok ingin bolos dari pekerjaanku saja dan menghabiskan waktu seharian dengannya untuk menebus kesalahanku.

“aku masuk ke dalam ya” kataku lemas, aku merasa tidak enak pada Kris.

“oke, bye! Besok pagi aku telepon ya, aku harus memastikan kau bisa bangun pagi atau tidak kalau tidur selarut ini” ia mencubit pipiku. Ah Kris, kau memang baik. Saat seperti ini saja masih bisa bercanda padaku. Sayang aku tidak bisa memasang wajah tersenyum padamu karena rasa bersalah ini.

*****

Hari ini aku putuskan meminta izin bosku untuk membatalkan jadwalku mencari berita dan meminta temanku untuk menggantikanku. Aku terpaksa bohong dengan mengatakan kalau adikku masuk rumah sakit. Hallo Kai, Maaf pinjam namamu dulu ya untuk keadaan darurat ini.

Aku harus menebus kesalahanku. Hari ini aku menghabiskan waktu untuk mencari hadiah untuk Kris. Sudah dua jam berkeliling di pusat perbelanjaan ini namun aku belum menemukan hadiah yang tepat untuk Kris.

Aku berhenti di depan toko jam tangan. Sepertinya jam tangan boleh juga. Aku menyusuri toko ini satu persatu. Melihat jam mana yang paling bagus untuk Kris.

Aha, aku menemukannya!.  Jam tangan berwana silver dengan bingkai bulat. Yang membuatnya terlihat elegan bertengger di meja kaca bening. Pelayan di depanku mengambil jam tangan pilihanku. Ah hebat sekali pelayan ini, tanpa diminta ia sudah tahu aku memilih jam tangan yang mana

Namun dugaanku salah. Kupikir pelayan itu akan memberikan jam itu padaku, ternyat ia memberikannya pada orang di sampingku. Aku memandangi tangan orang yang sedang mencoba jam tangan itu, pasti akan bagus sekali kalau jam itu dipakai Kris.

“Kau?”

Aku tersadar dari lamunanku. Oh tidak, itu kan orang yang waktu itu. Ah aku lupa namanya. Aku hanya ingat kalau ia bermarga Park.

“sepertinya kita benar-benar berjodoh” katanya sambil tertawa menunjukan deretan giginya yang putih.

“sepertinya begitu ya.” Ujarku basa-basi sambil memaksakan bibirku untuk tersenyum.

“mm..kau mau membeli ini?” tanya mr.Park sambil menunjukan padaku jam tangan yang sudha menempel di tangannya.

‘iya, ah maksudku tidak!” kataku cepat. Ah benar-benar, kenapa aku tiba-tiba gugup.

“kalau begitu ini kau beli saja, aku bisa memilih yang lain.” Tawarnya.

“benarkah?” ia menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum.

“terimakasih mm….Cha..” aku berusaha mengingat namanya.

“Chanyeol”

“Ah iya, terimakasih Chanyeol-ssi” aku membungkukkan badan.

******

Pelayan toko jam itu menyerahkan jam yang sudah dikemas dengan cantik padaku. Ah, lega rasanya. Aku harus cepat bertemu Kris dan meminta maaf padanya. Tapi sebelum itu, harus berterimakasih pada pria di sebelahku ini.

“mm..Chanyeol-ssi.”

“ya”

“Aku harus berterimakasih padamu. Kau sudah mau mengalah padaku. Ternyata ini edisi terbatas dan hanya tinggal satu di tempat ini.” aku menggoyang-goyangkan paper bag yang ada di tangan kananku.

Ia mengangguk, “jadi, aku sudah dua kali menolongmu kan?” ia menggosokkan telapak tangannya sambil terlihat berpikir. “apa tidak ada imbalan untukku?”

“imbalan?”

“yap, imbalan. Aku bahkan belum tahu namamu.” Katanya cemberut, tangannya terlipat di depan dadanya.

“oh, maaf aku lupa memperkenalkan diri, aku Song Hyein” aku mengulurkan tanganku padanya. Ia membalasanya.

“Hyein-ah, bagaimana kalau es krim?”

“maaf?” kataku tak mengerti, sepertinya orang ini senang sekali berbicara dengan gaya yang spontan.

“bagaimana kalau kau mentraktirku makan es krim sebagai ucapan terimakasihmu.”

Ah, kukira apa. Ternyata ia ingin kutraktir eskrim. Tapi untung saja ia hanya meminta itu, bukan yang lain. Aku melirik jendela toko jam yang berkaca transparan ini, di luar  memang sedang panas sekali. “Eskrim sepertinya boleh juga” kataku menimbang permintaan Chanyeol.

*****

Ternyata Park Chanyeol ini tidak buruk juga, selera humornya pun bagus. Sedikit banyak aku sudah mengetahui dia ini siapa. Ternyata dia seorang editor dan fotografer. Pantas saja aku selalu menganggapnya keren-aku selalu berpikir kalau fotografer itu lebih keren dibanding modelnya-.

“kau juga suka fotografi?” tanyanya.

“yah, seperti itulah. Tapi hanya suka, tidak menekuninya sepertimu. Aku malah sedang tertarik dengan kamera lomo.”

Ia mengangguk sambil menopang dagunya dengan kedua tangan yang ia kepalkan untuk penyangga.

“mm, kalau aku boleh tahu. Sebenarnya jam tangan itu untuk siapa?” ia melirik paper bag yang kuletakkan di samping kursiku, matanya terlihat usil saat bertanya tapi anehnya aku tidak merasa keberatan padahal aku bukan tipe orang yang mudah bergaul dan pasti sudah pergi dari jauh dari tadi kalau berada dekat dengan orang seperti Chanyeol.

Aku menceritakan tentang Kris, dan kejadian kemarin saat aku melupakan hari “jadian” aku dengan Kris. Aku juga bercerita saat aku pertama kali bertemu dengan Kris dan saat ia menyatakan perasaannya padaku. Ia menyimak ceritaku dengan seksama. Hari ini sungguh aneh sekali. Aku bisa langsung akrab dengannya padahal baru hari ini aku resmi berkenalan dengannya. Selain itu, aku juga tidak pernah menceritakan soal hubunganku pada orang lain.

“beruntung sekali kekasihmu bisa memilikimu.” Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada kursi dan melipat kedua tangannya.

“tidak, aku-lah yang beruntung. Kris itu lelaki paling baik yang pernah aku temui. Aku saja heran kenapa ia bisa mau denganku.” Aku memainkan sisa krim yang tertempel pada gelas eskrimku. “eh, bagaimana denganmu?” kataku dengan pandangan menyelidik.

“aku?” tanyanya sambil menunjuk hidungnya.

“iya, kau! Aku kan sudah bercerita tentang kekasihku, sekarang ganti kau yang bercerita tentang kekasihmu.”

“tidak ada” ia menggeleng. Aku tidak percaya, untuk ukuran orang setampan ini mana mungkin ia tidak memiliki kekasih. Kecuali kalau dia gay. “aku benar-benar tidak punya kekasih” katnya lagi, ia bisa membaca pertanyaanku hanya dari melihat raut wajahku.

“bagaimana kalau kau saja yang jadi kekasihku?” tanyanya tiba-tiba. Aku tersedak oksigen yang sedang kuhirup. Apa barusan yang dia katakan?. “bagaimana kalau aku merebutmu dari kekasihmu yang bernama Kris itu, dan menjadikan kau kekasihku.” Ujarnya tanpa merasa berdosa sambil mengembangkan senyum yang sepertinya khas miliknya.

Aku memelototinya. “Kau ini gila ya?”

-to be continued-

 

Halo.. ini chapter dua. Senang banget liat komentar yang baca. Aku pikir gak bakal ada yang tertarik sama ceritanya. Ayo, silahkan dikomentarin lagi, kalau ada kritik juga boleh dikasih ke aku biar ceritanya lebih baik J

 

 

9 pemikiran pada “One Way to You (Chapter 2)

  1. Yak! Yak! Hyein direbutin..
    Chingu.. Hyein buat chanyeol aja dch.. Tpi putusnya baik2 aja.. Trus aku jadi pengganti hyein bagi kris dch..#PLAKK DUAGH BUGH#
    hehe.. Becanda kq, chingu.. Tapi kalo dianggap usulan aku lebih berterimakasih.. Hehe..
    Next chingu..

  2. yeolli~ah,aku gimana ?? tega banget sih ninggalin aku gitu aja !!!! #ngarep !!!
    kyyyaaaaaa,,daebak thorrrrrr !!!!
    lanjut !!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s