Lacrimoso (Chapter 3)

LACRIMOSO

Author                           : Keybummie

Cast                             : Kim Jong In  (Kai)

Kris  ( Wu Yi Fan)

Han Seung-Hee

Genre                           :  Romance  / Angst / Action

Anyeonghaseyoooo … !! ^o^ readers ,, makasih banget buat comment dan semangat yang kalian kasih ke author di 2 part sebelumnyaa .. itu bener bener nyemangatin author untuk mengiris iris perasaan kalian lewat fanfic ini . huahahahahaha !! *senyumevil* *dibakarreaders*

Tetep ditunggu commentnya yaa .. happy reading .. !! ^^

____________________________________________

Part 3

Han Seung-Hee kini duduk tenang sambil melipatkan tangannya dan memandang keluar jendela mobilku. Aku tahu dia tidak tenang, melainkan memikirkan seribu satu cara untuk keluar dari mobil ini tanpa cedera apapun. Aku sedikit terkejut ketika mendadak kedua matanya teralihkan padaku .

can you speak Korean ?” Dengan wajahnya yang penuh selidik, Seung-Hee bertanya padaku .Matanya sedikit menyipit, dan aku terkejut mendapati diriku senang melihat wajahnya yang berubah galak .

I spoke Korean to you a few minutes ago ” aku menjawab pertanyaannya . Kini mobilku sedang berbelok ke selatan ketika Seung-Hee kembali mengatakan sesuatu .

your korean isn’t so good. I know that you’re not coming from Korea “ Seung-Hee kembali menyipitkan matanya dan memandangku sadis .

Aku tertawa mendengar pernyataannya. Gadis pintar ,, itulah yang terlintas di pikiranku.

“Jangan tertawa ! aku tidak suka terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dengan penculikku .” Seung-Hee memukul keras lenganku, membuatku meringis menahan sakit.

“Menculik? Aku sedang menyelamatkanmu !” Kini aku sedikit berteriak padanya.

Aku tahu Seung-Hee tidak akan percaya ketika kukatakan aku sedang menyelamatkannya. Hanya orang gila yang akan percaya pada orang asing yang baru saja menggagalkan kepergiannya dengan alasan MENYELAMATKAN. Tapi ternyata aku salah, Seung-Hee tidak langsung menyangkal perkataanku, melainkan kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela.

“Aku tidak mau diselamatkan .”

Seung-Hee berkata pelan namun terdengar mantab. Membuatku kini mengalihkan pandanganku 100% padanya .

“Aku berharap kau akan membunuhku, bukan menyelamatkanku .”

Jantungku serasa jatuh mendengar perkataan Seung-Hee. Apa yang terjadi dengan gadis ini ?

“kau , berharap mati ?” Dengan perlahan aku bertanya padanya . Aku senang karena sedari tadi kami menggunakan bahasa inggris sebagai alat komunikasi, dengan begini aku tidak perlu berpikir 2 kali untuk menggunakan bahasa Korea. Seung-Hee benar, bahasa koreaku tidak terlalu bagus.

“Hidup sudah terlalu kejam padaku, aku mau meninggalkannya secepat mungkin”

Mobilku kini berhenti tepat dibawah lampu merah. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk melihat raut wajah Seung-Hee yang amat kontras dengan garis garis wajahnya. Garis-garis wajahnya menyatakan bahwa ia adalah gadis yang kuat, namun sorot matanya .. sorot matanya lelah , lelah menangis, lelah berjuang sendirian, atau apalah itu . Aku tidak tahu apa penyebabnya, namun perasaan melindungi muncul di dadaku.

“haaaah … betapa bodohnya aku, berbicara seperti ini pada lelaki asing kurang ajar yang sekarang sedang menculikku.” Seung-Hee tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya kearahku.

Aku tidak berkata apa apa melainkan menginjak pedal gas , dan kembali melaju dengan kecepatan sedang . Apa maksud perkataanya ? apakah ini ada hubungannya dengan ayahnya ? hatiku mendadak seperti teriris mengingat foto ayah Seung-Hee yang kulihat 2 minggu yang lalu di Canada . Foto seorang pria dengan darah di sekujur kepalanya .

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tidurlah kau terlihat capek” Aku kembali menggunakan nada suara beratku, khas Wu Yi Fan .

“Ketika aku tertidur, apa kau akan membunuhku ?” Seung-Hee agak sedikit memajukan tubuhnya ketika bertanya tentang suatu hal yang kembali membuat jantungku berdetak lebih kencang .

Aku tahu Seung-Hee menunggu jawabanku. Namun aku sengaja membiarkan keadaan hening selama beberapa menit, karena kini kepalaku penuh dengan berbagai pikiran yang berkecamuk, hingga sebaris kalimat meluncur dari bibirku, kalimat yang tak pernah aku duga sebelumnya .

“Tidak, aku akan melindungimu .”

L.A.C.R.I.M.O.S.O

            Name                            : Wu Yi Fan

Date of Birth                  : November 6th 1986

Nationality                     : Chinese – Canadian

Last place detected        : Seoul, South Korea

“Aku sedang membaca data laki-laki itu”

Suaraku yang berat bergaung memenuhi kamar apartemenku yang baru saja kusewa seminggu yang lalu . Kutatap layar laptopku yang menampilkan foto wajah seorang pria blasteran Cina-Kanada berwajah tirus lengkap dengan mata yang begitu tajam . Dadaku bergemuruh teringat kejadian 2 hari yang lalu. Pantas saja dia begitu lihai melarikan diri, ternyata dia sama sepertiku.

“Apakah dia memakai kode nama ? tidak mungkin jika dia memakai nama Yi Fan saat ini “ Aku kembali berbicara pada staff operator Philadhelphia melalu ponselku .

“Kris . He uses that name for this job , Agent-Kai  “ Kali ini staff pria , menjawab pertanyaanku.

Aku berjalan menjauhi deretan laptop lengkap dengan seperangkat alat penyadap yang tertata rapi di sebuah meja panjang dekat tempat tidurku , menuju sebuah jendela kaca besar yang langsung menyuguhiku dengan pemandangan kota Seoul .

“Apakah, dia juga sedang menelusuri identitas ku ?” Aku berkata pelan.

“Jika kau mau, kami akan segera memblokir semua identitasmu di internet, bahkan di sistem informasi kantor kami . Belum banyak informasi beredar tentang KAI .”

Aku tersenyum kecil .

“Tidak usah, biarkan saja dia tahu siapa aku . Dengan begitu, pertarungan ini akan semakin asyik .”

Bisa kubayangkan wajah menghina BaekHyun jika dia mendengar perkataanku barusan . Pria sombong, begitulah julukan nya untukku .

I got it . have a nice day , Agent Kai

KLIK !

Seperti yang sudah sudah, sambungan telefon itu terputus begitu saja . Meninggalkanku dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalaku .

Han Seung-Hee ,, gadis seperti apa kau ini sebenarnya ? 2 pembunuh terbaik sedang bersaing untuk mendapatkan nyawamu .. hatiku justru tertarik untuk mengenalmu lebih jauh , menemukan sisi dirimu yang membuat kau begitu terlihat istimewa .

Aku baru saja menempelkan cangkir kopi di bibirku, ketika radar alat penyadapku berbunyi nyaring. Buru buru kuletakkan cangkirku diatas meja, dan kuhampiri laptopku . Jantungku nyaris mencuat keluar ketika kudapati informasi yang mencengangkan di layar laptopku .

“AAARRRGGGHH .. !!”

Aku berteriak frustasi . Tanpa pikir panjang, kusambar jaket kulit dan kunci mobilku . INI TIDAK BOLEH TERJADI ! dalam 2 langkah panjang-panjang, aku meraih gagang pintu apartemenku, berlari secepat mungkin menuju basement tempat dimana mobilku terparkir, meninggalkan laptopku yang masih menyala dengan sebaris pesan singkat hasil penyadapan radar penyadapku.

Seoul Street kilometer 200 ,

12.30 KST

100 m arah timur laut, gedung kedua lantai tiga

Wu Yi Fan last plan detected

 

L.A.C.R.I.M.O.S.O

“Nona, saya sudah menghubungi pihak Japan Airlines dan koper koper anda yang terbawa ke Jepang akan segera dikembalikan dalam waktu 2 hari kedepan.”

Aku tetap memandang keluar jendela kamarku, mengacuhkan perkataan Tuan Lee. Wajahku masih dipenuhi oleh gurat gurat kemarahan . Marah, penasaran, sedih, semuanya berbaur menjadi satu.

“Dan sampai sekarang, anda masih belum menjelaskan kepada saya tentang apa yang terjadi 3 hari yang lalu nona, sehingga saya harus mengurus izin cuti kuliah anda selama 1 bulan di Tokyo University” Tuan Lee berkata tenang, menyadari ekspresi wajahku yang sudah siap membunuh .

Kupalingkan wajahku kearahnya .

“Berulang kali sudah kujelaskan, aku tidak tahu apa yang terjadi !seorang pria tidak dikenal tiba tiba menculikku dan mengantarkanku pulang ! kukira dia adalah orang suruhanmu.”

Aku menggigit bibir, dan hatiku mencelos ketika masih bisa kurasakan bibir laki laki aneh yang sudah menciumku 2 kali dalam kurun waktu setengah jam .

“Saya menunggu hingga anda siap bercerita Nona” Tuan Lee membungkuk kearahku lalu bersiap pergi ketika aku berkata singkat padanya .

“Aku ingin jalan jalan.”

Tuan Lee menghentikan langkahnya dan kembali menghadapku .

“Di jalan Seoul Street sedang ada parade ulang tahun Seoul yang ke-67 Nona . mungkin anda mau kesana ?”

Aku mengangguk. Keramaian mungkin akan sedikit menyembuhkan kebingungan yang bersarang di otakku .

“Segera saya siapkan mobil anda Nona .”

Tuan Lee membungkukan badanya lalu berjalan meninggalkanku yang kini kembali melemparkan pandanganku keluar jendela . Wajah laki laki itu kembali terlintas di ingatanku. Aku mengelus pelan pergelangan tanganku, dan masih bisa kurasakan cengkraman tangannya yang begitu kuat.

Begitu melindungiku …

Kugelengkan kepalaku kuat kuat, berusaha mengusir bayangan rambut pirang keemasan dan tubuh semampainya, karena aku tahu dialah yang menyebabkan aku harus cuti 1 bulan dari kuliahku agar tidak di drop out karena sudah membolos dari batas waktu yang ditentukan.

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

3 days before ..

Sebuah volvo silver berhenti dipinggir jalan tol yang menghubungkan Seoul-Jeollado—mobilku. Langit sudah gelap dan udara semakin dingin menusuk tulang. Aku mengeluarkan ponselku, menekan tombol dial 1 yang langsung menghubungkanku dengan Mr. Blanchett.

“Dia sudah bersamaku, Han Seung-Hee”

Aku berkata singkat sambil mengerling gadis cantik berambut pirang yang kini terlelap tidur di sebelahku. Aku memandangi wajahnya, dan kusadari ada air mata yang masih membekas di kedua ujung matanya .

“Aku menunggu penjelasanmu .” Nada suaraku terdengar tajam dan memaksa . Hening selama beberapa saat, hingga suara Mr.Blanchett kembali terdengar .

“Takeshi Kagiwara, salah satu pemilik perusahaan gabungan negara negara Asia juga menginginkan aset itu. Han Ki-Moon, dulunya juga tergabung dalam perusahaan itu, namun entah apa yang terjadi dia hengkang 20 tahun kemudian .Aku menduga, motivasi Takeshi untuk membunuh Seung-Hee juga didasari oleh rasa dendam. Karena sebelum Ki-Moon hengkang, sempat berhembus kabar bahwa dia terlibat dalam suatu masalah dengan Takeshi. Hengkangnya Han Ki-Moon membuat perusahaan itu terombang ambing selama 2 dekade, hingga kini mereka ingin membunuh Seung-Hee demi mendapatkan kembali aset aset perusahaan milik Han KiMoon”

Aku menghela nafas panjang mendengar penjelasan Mr.Blanchett .

“Kris, jika agen mereka yang berhasil membunuh Seung-Hee, tentu mereka bisa melenyapkan berbagai bukti pembunuhan dengan cermatnya, sehingga kematian Seung-Hee bisa direkayasa sebagai kecelakaan atau yang lainnya. Dengan begitu, mereka akan lebih cepat untuk membeli aset aset perusahaan Han Ki-Moon .Itulah sebabnya Han Seung-Hee hanya boleh mati ditanganmu.”

Tanganku terangkat memijit kepalaku. Rasa pusing tiba tiba menyergap setelah mendengar penjelasan Mr.Blanchett . bagaimana bisa serumit ini ?

“Aku mengerti. Akan kuantar dia pulang sekarang. Aku tidak mungkin membunuhnya sekarang, sama saja dengan bunuh diri .”

Aku berkata singkat sambil menyalakan mesin mobilku.

“Beberapa orang-orangku sudah memasang alat sadap di 14 titik di rumah Han Seung-Hee. Itu akan memudahkankmu untuk mendeteksi dimana dia berada . Good Luck, Kris .”

KLIK !

Sambungan itu terputus, kulemparkan ponselku ke jok belakang. Kakiku sudah bersiap menginjak pedal gas ketika kudengar sebuah suara lirih mengalun lembut disebelahku.

“Ayah ….”

Aku terpaku memandangi Han Seung-Hee yang sedang mengigau dalam tidurnya .

“Ayah aku mohon .. jangan pergi ..”

Aku semakin terkejut karena kini tangan Seung-Hee menemukan tanganku yang memang terletak tak jauh dari tangannya. Dia menarik jari telunjukku, seolah ingin menahanku agar tidak menjauh darinya. Kuangkat wajahku untuk menatap wajahnya yang kini agak sedikit tertutup oleh rambutnya yang lebat. Refleks, atau entah apa yang terjadi padaku, tanganku terangkat dan menyingkirkan rambutnya lalu menyelipkannya dibalik telinga Seung-Hee .

“Aku harus membunuhmu … “

Aku bergumam sendiri, perasaan aneh menyusup kedalam hatiku. Separuh hatiku berharap Seung-Hee mendengar perkataanku, namun separuh hatiku yang lain berontak, berharap Seung-Hee jangan mendengar perkataanku.

“Ayah .. aku dingin ..” Seung-Hee kembali mengigau.

Atas dasar naluri, atau atas dasar kegilaan yang bersarang di otakku, aku memajukan tubuhku dan merengkuh Seung-Hee dalam pelukanku. Aroma bergammot rambut Seung-Hee kembali menyapu hidungku, kupejamkan mataku rapat rapat .

“Han Seung-Hee ..”

Aku kembali bergumam sendiri dalam kegelapan malam di sekeliling kami.

“Aku harus membunuhmu …”

L.A.C.R.I.M.O.S.O

Seoul Street, km 200 11.00 KST

 

“Maaf Nona, sepertinya kita harus memakirkan mobil karena jalanan macet”

Supirku membalikkan badannya untuk memberitahuku bahwa sudah tidak ada celah lagi untuk mobilku berjalan. Aku melihat sekelilingku dan ternyata memang benar. Jalanan dipadati oleh orang orang yang ingin melihat parade keliling perayaan ulang tahun kota Seoul. Suara suara tabuhan marching band dan sorak sorai penduduk Korea bergaung menjadi satu, tempat ini benar benar ramai .

“Parkirkan saja mobilnya kalau begitu”

Aku berkata sambil terus mengedarkan pandanganku . Kini sebuah mobil parade hias bertemakan kota Seoul sedang melintas secara perlahan, diiringi oleh suara marching band dan teriakan teriakan orang orang .

Kini kulihat mobilku agak sedikit menepi, hingga terparkir rapi dibawah pohon rindang.Aku menempelkan wajahku di kaca jendela mobil, melihat deretan mobil mobil hias yang sedang berparade, memamerkan kreativitas mereka. Sebuah senyum terulas di bibirku,

“Pak, dulu Ayah sering mengajakku menonton acara tahunan ini. Setidaknya sampai 3 tahun yang lalu. Semenjak masuk universitas, aku sudah tidak bisa menonton acara ini.”

Tanpa sadar aku berbicara pada supirku. Kini kulihat gelagat canggung terpapar jelas diwajahnya. Seolah tidak menyangka bahwa aku akan berbicara tentang majikannya saat ini.

“Nona .. saya ..”

Perih kembali bersarang di hatiku. Kutengadahkan wajahku keatas, berusaha menghalau air mata yang ingin menyeruak keluar .Aku tahu tidak seharusnya aku menciptakan suasana canggung dengan supirku, karena dia pasti bingung untuk menanggapi omonganku.

“Aku ingin keluar, sebentar saja. Jangan ikuti aku, 1 jam lagi aku akan kembali ke mobil”

Segera saja kudorong pintu mobilku terbuka, melangkah keluar sambil merapatkan jaket ungu muda kesukaanku. Aku menggigil kedinginan dan menyesal karena menolak syal yang dibawakan Bibi Jung ketika akan berangkat tadi. Ini gila, jam baru menunjukkan pukul 11 pagi namun udara sudah sekejam ini. Kulangkahkan kakiku menuju kerumunan orang orang, membaur bersama mereka untuk melihat parade. Ketika kulangkahkan kakiku, aku tidak menyadari bahwa jauh diatas sana, 100 m arah selatan, sebuah teropong sedang mengawasi langkahku, tepat disebelahnya, sebuah senapan laras panjang tepat teracung kearahku, dan aku tetap tidak menyadarinya.

Seoul Street, km 200 , 11.00 KST

Disanalah dia ..  berjalan keluar sambil merapatkan jaketnya . Aku sedikit kecewa karena kini rambut cokelat bergelombangnya tidak terurai indah melainkan diangkat keatas membentuk sebuah gelungan rambut . Tubuhnya yang tidak begitu semampai terlihat kecil sekali dari tempatku berada sekarang .

La cible es visible , (target sudah terlihat) “

Aku berbicara pada headphone yang sudah terpasang rapi di telingaku. Kusiapkan telunjuk tangan kananku tepat di pelatuknya.

bonne chance (good luck) “

Sebuah senyuman kecil terkulum di bibirku . bonne chance ? mereka memberikan salam bagiku ketika akan membunuh seseorang ?

Deg !

Teropong yang terpasang di pistol membantuku untuk melihat Han Seung-Hee dari jarak yang amat dekat . Seung-Hee membalikkan tubuhnya dan sesuatu berdesir di hatiku ketika wajah putih mulusnya terlihat jelas di teropongku . Aku memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengatur detak jantungku yang tiba tiba saja berdetak tak teratur .

Sejak pagi tadi, ketika salah satu kamera pengintai yang terpasang di 14 titik di rumah Seung-Hee memberitahuku kemana dia akan pergi, rasa senang dan rasa sedih menyusup ke relung hatiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, karena kini keringat dingin mulai bercucuran di dahiku, dan baru kusadari bahwa tanganku gemetar .

“Yi Fan ayolah .. kau sudah pernah melakukan hal ini berulang kali ..”

Aku bergumam pada diriku sendiri, berusaha mengusir perasaan aneh yang menyerang diriku.

“Dia hanya gadis biasa … Yi Fan ayolah …”

Tidak ! dia bukan gadis biasa . Hatiku berontak melawan perkataan yang meluncur lewat mulutku. Detik jam di headphone-ku mengingatkan aku punya waktu 15 detik lg untuk meluncurkan peluru tepat ke jantung Han Seung-Hee , dan hatiku mencelos membayangkan tubuh kecil berbalut mantel ungu akan roboh dengan lubang didadanya .

7 .. 6 .. 5 .. 4 .. 3 ..

Telunjukku kini sudah separuh jalan menarik pelatuk. Dalam teropongku, Seung-Hee sedang berdiri sambil menepuk nepukkan kedua tangannya, larut dalam hiruk pikuk keramaian parade.

TIK !

15 detik telah berakhir, telunjukku kini sudah menarik sempurna pelatuk pistolku ketika sesosok tubuh tiba tiba menerobos memasuki area lingkaran dalam teropong pistol, area lingkaran yang beberapa detik yang lalu hanya terisi oleh tubuh Han Seung-Hee. Aku tahu sesuatu yang aneh sedang terjadi, namun aku sudah terlambat .. Sesosok tubuh itu kini ambruk di jalanan dengan Han Seung-Hee dalam dekapannya .

Jantungku berhenti .

Nafasku memburu tak teratur . Mataku membulat melihat peristiwa yang tidak aku duga sebelumnya . apakah Han Seung-Hee mati ?

“AAARRRGGHHH !!! “

Aku berteriak frustasi . siapa orang brengsek itu !! Buru buru kubereskan semua perangkat pistolku, memasukkan nya kedalam koper, lalu membawanya turun bersamaku yang kini melompati tangga tiga tiga sekaligus . aku harus memastikan apakah Seung-Hee mati atau tidak !

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

BBRRRUUUKKKK .. !!!!

Sebuah benda padat dengan dua lengan besar dan kekar tiba tiba menubruk tubuhku, dan detik berikutnya aku jatun terhempas ke jalanan. Debu jalanan masuk kedalam saluran pernapasanku, aspal menghantam keras kepalaku, sementara telingaku mendengar jeritan jeritan panik orang orang yang kejadian ini. Kepalaku terasa pusing dan aku yakin ada darah disana karena aku mencium bau anyir . perlu waktu lebih dari 1 menit bagiku untuk menyadari bahwa aku baru saja ditubruk orang dan kini kami berdua sedang sama sama sekarat di jalanan . Orang orang mulai mendekat, membantuku untuk berdiri . Kusingkirkan dua lengan yang sedang merangkul tubuhku, dan bangkit duduk untuk menetralkan kepalaku yang rasanya pusing bukan main. Suara mobil parade dan marching band sudah tidak terdengar lagi, karena kini semua pemainnya sedang menatap kearahku . Aku merasa semua orang yang ada disini sedang menatapku, namun ternyata aku salah. Mereka tidak menatapku, melainkan menatap seorang laki laki yang terbaring lemah tepat disampingku .

Laki-laki dengan darah mengucur deras dari bahunya .

“aakkkhhh !!” Aku terpekik kaget melihat darah sedikit demi sedikit mulai menggenangi aspal .

“Tuan ! tuan ! apakah kau baik baik saja ?!?!” refleks, aku menggenggam tangan laki laki itu, kubalikkan pelan tubuhnya, dan kulihat darah mengalir deras mengubah jaket kulit putihnya menjadi merah .

Tiba tiba saja, pusing di kepalaku lenyap , tergantikan oleh wajah ibuku ketika dia sekarat .. terjepit didalam mobil .. menyuruhku untuk bertahan hidup sementara tubuhnya penuh dengan darah .. persis seperti laki laki ini ..

“TUAN !! BERTAHANLAH !! PANGGILKAN AMBULANCE !! TOLONG PANGGILKAN AMBULANCE !!”Aku mulai menjerit jerit disela tangisku . Ya , aku menangis . entah mengapa namun kedua bola mataku sudah memuntahkan air mata .

Aku memeluk laki laki itu, menempatkan kepalanya didadaku, sementara orang orang di sekelilingku heboh mencari pertolongan .

“ hhhh … hhh … “

Mataku kini terpaku pada wajah laki laki itu ketika mendengar desah nafas beratnya . kuusap peluh yang membanjiri dahinya . Air mataku makin menderas . Kugelengkan kepalaku, berusaha mengusir bayangan ibuku yang sedang sekarat namun gagal.

“Tuan aku mohon bertahanlah … CEPAAATT !! TOLONG PANGGILKAN AMBULANCE !!! “ Aku kembali berteriak panik hingga tenggorokanku perih dibuatnya .

“Nona Seung-Hee !!”

Aku berbalik dan rasa bahagia membuncah di dadaku melihat supirku datang tergopoh gopoh dengan ponsel menempel di telinganya . Aku tahu dia sedang menghubungi Tuan Lee .

“BANTU AKU MEMBAWA PRIA INI KE MOBIL !! KITA KE RUMAH SAKIT SEKARANG !!”

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

Aku menggigit bibir . Mengepalkan tanganku . Memejamkan mataku rapat rapat . Namun semua usaha itu gagal untuk membantuku menahan rasa sakit . Bahuku tetap terasa panas dan nyeri .

SIAL !

Ada sesorang sedang menelusupkan tangannya ke tanganku, menautkan jari jarinya dengan jari tanganku yang terasa licin karena dipenuhi darah . Tangannya terasa hangat .. berbanding terbalik dengan tanganku yang dingin bukan main . Kubuka mataku dan kujumpai wajah putih mulus dengan rambut coklat berantakan sedang menangis sambil berbicara pada seseorang di depan kami .

“Tuan Lee , wajahnya memucat .. dia kehilangan banyak darah .. “

Perlu 20 detik bagiku untuk menyadari bahwa dia sedang membicarakanku. Detik ke 21, aku sadar bahwa aku sedang didalam mobil, sekarat .. dalam pelukan gadis ini .

Han Seung-Hee .

Aku tersenyum kecil ditengah ketidaksadaranku menyadari bahwa aku tidak terlambat . Agen Perancis itu tidak berhasil membunuh Seung-Hee . Usahaku tidak sia sia, berlari kurang lebih 2 km, menerobos kerumunan orang orang, hingga aku menemukannya disaat yang tepat. Menjaganya agar peluru itu tidak menyentuh kulitnya sedikitpun. Kurasakan tangan Seung-Hee semakin erat menggenggam tanganku. Dalam hati aku mengumpat pelan karena kini kepalaku mulai terasa pusing—salah satu tanda tanda ketika kau sudah kekurangan darah.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus selamat .”

Kata kata Seung-Hee terdengar kuat dan tegas, padahal air mata tetap mengalir deras dari kedua matanya. Sebuah pertanyaan menyergapku tiba tiba. Mengapa dia menangis ?

“Dia sudah menolongku !! jika tidak ada dia mungkin akulah yang akan bersimbah darah dan sekarat seperti ini !!”

Seung-Hee berteriak kencang karena lawan bicaranya tidak menanggapi perkataan sebelumnya.Aku berjuang keras untuk tetap membuka mataku, melihat garis garis wajahnya, ekspresinya, air matanya .. dan dalam kesekaratanku, aku menyadari satu hal.

Gadis ini cantik luar biasa . Tidak hanya cantik, dia tangguh.

“Saya mengerti, Nona”

Pria yang menjadi lawan bicara Seung-Hee akhirnya menyahut , walau pelan terdengar. Kurasakan tangan tangan Seung-Hee semakin mendekapkuku erat, menelusupkan kepalaku di dadanya, seolah itu bisa menghentikan darah yang mengalir deras dari bahuku. Hangat. Itulah perasaan yang kini menyergap dadaku. Menjadi seorang pembunuh yang sudah mengambil nyawa orang banyak, aku sudah lupa bagaimana rasa hangat itu . Aku mengerang pelan ketika sakit di bahuku makin menusuk. Dari rasa sakitnya, aku yakin peluru itu tidak bersarang didalam bahuku. Hanya merobeknya , dan justru luka robek itulah yang membuat darahku mengucur deras .

Kini aku mendengar isak tangisnya . Isak tangis Seung-Hee yang tertahan karena wajahnya tenggelam di puncak kepalaku .Hatiku tertohok mendengar isak tangisnya . mengapa aku harus tertohok ? bukan urusanku jika ia menangis ?

Perasaan yang paling kutakutkan mulai merayapi hatiku, dan anehnya perasaan itu membuatku panik sekaligus senang .

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

“ASTAGA !”

“PRIA ITU BERDARAH !!”

“PANGGIL AMBULANCE !! TOLONG MEREKA !!”

Suara teriakan teriakan terdengar keras ketika aku sedang berusaha menerobos kerumunan orang orang untuk menjumpai 2 orang yang beberapa menit yang lalu terhempas ke jalanan .

““TUAN !! BERTAHANLAH !! PANGGILKAN AMBULANCE !! TOLONG PANGGILKAN AMBULANCE !!”

Hatiku serasa dicengkram tangan tak terlihat ketika terdengar teriakan seorang wanita. Suara yang entah bagaimana caranya, sudah sangat familier di telingaku . Aku menyingkirkan beberapa orang yang menghalangi pandanganku, dan disanalah kujumpai dirinya .

Duduk di aspal, tubuh penuh dengan debu dan kotoran, memeluk seorang pria berjaket putih, sambil menangis kencang .

Han Seung-Hee .

Mataku membulat tatkala kulihat warna merah yang merembes keluar dari bagian bahu laki laki itu . Laki laki korea namun berkulit agak hitam . Berhidung mancung, dan aku yakin dia memiliki mata yang tajam kalau saja mata itu tidak sedang terpejam seperti saat ini . Sebuah fakta menyerang akal sehatku .

Pria itu sengaja membiarkan dirinya tertembak .

Rasa terkejut masih menyergapku ketika mendadak ponselku bergetar . Aku melihat kini Han Seung-Hee bangkit berdiri dibantu oleh beberapa orang dan memasuki mobil cherokee hitam yang kutahu adalah mobil pribadinya, diikuti oleh si lelaki korea yang digotong oleh beberapa orang . kualihkan mataku ke layar ponselku .

Kris, avaru igagale nam’ma

Yojanegalannu gottu

( Kris, mereka sudah tahu rencana kita )

Aku sedikit kaget mendapati Mr.Blanchett mengirimiku pesan dengan bahasa Canada . Ini berarti semua orang sedang berkumpul di kantor pusat—Canada.

Nanu viphalavagide

( aku gagal )

 

Kuputuskan untuk memberi tahu mereka tentang kegagalanku, walau sebenarnya mereka pasti sudah tau tentang hal ini .

Nivu avara ejent ksipravagi kaleduko

Iiuva sikkitu

( kau kalah cepat dengan agen mereka )

 

Dahiku mengrenyit membaca pesan Mr.Blanchett . Agen mereka ? siapa ? belum sempat pertanyaanku terjawab, ponselku kembali bergetar, menampilkan identitas seseorang lengkap dengan fotonya . Mataku nyaris keluar melihat foto 3×4 seorang pria yang terpampang jelas di layar ponselku .

Name                                        : Kim Jong In

Date of Birth                              : January 14th 1987

Nationality                                 : Korean

Occupation                                : Takeshi Kagiwara Corp .

Last identity detected                             : Fukuoka , Japan .

Nafasku memburu setelah membaca dan melihat identitas Agen Jepang yang menjadi sainganku . Aku melihat mobil Seun-Hee yang kini sudah menjauh dariku . Membawa sang agen Jepang bersamanya . Kini kupacu kakiku menuju mobilku yang terparkir kurang lebih 500 m dari tempatku berdiri . Kutekan huruf ‘’call’’ pada nama Mr.Blanchett .

He’s the one ! he was the one who failed my mission ! “

Aku berteriak pada Mr.Blanchett sambil menyalakan mesin mobilku . Kuinjak pedal gas kuat kuat, dan kini volvo silver sudah melaju di jalanan Seoul .

of course he did it on purpose .” Mr. Blanchett menjawabku, lalu melanjutkan perkataannya .

“jangan panik, tetaplah fokus pada tugasmu . Jangan pikirkan hal lain selain membunuh Han Seung-hee . Kris, aku benar benar menekankan ini padamu . Jangan pernah pikirkan hal lain selain membunuh Han Seung-Hee”

KLIK !

Sambungan telefon itu putus . Aku mencelos mendengar perintah Mr.Blanchett . jangan pikirkan hal lain selain membunuh Han Seung-Hee . Bagiku, itu sama saja dengan jangan mencintai Han Seung-Hee . hatiku mendadak panas melihat gambaran kejadian 15 menit yang lalu, ketikda Han Seung-Hee mendekap tubuh Kim Jong-In dalam dadanya, sambil menangis meminta tolong .

“Kim Jong-In .. kau benar benar menyatakan perang mulai sekarang ..”

L.A.C.R.I.M.O.S.O

Iklan

44 pemikiran pada “Lacrimoso (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s