Season of Love: One Fine Spring Day

Title:Season of Love

Sub-title: One Fine Spring Day

Author:Kim Na Na

Main Cast:   Xi Lu Han

Byun Baek Hyun

Kim Joon Myun

Zhang Yi Xing

Oh Se Hun

And their yeojachingudeul (Check it out!)

Other Cast: Wu Yi Fan

Park Chan Yeol

Genre:Romantic

Length:Serial (5 END)

Note: Nah FF yang ini belum pernah di publish.Soalnya ver.spring bwt B1A4 kurang cocok bwt Lay.Ryeo Wook oppa pinjem judul lagunya ya ^^ , DBSK oppadeul juga Kris pinjem Picture of Younya. Jangan lupa RCL ya ^^ gomawo.Happy Reading

 

One Fine Spring Day

          “Chagi, sudah selesai urusan OSISnya?” tanya Yi Xing oppa. “Sudah. Mian membuatmu menunggu.” kataku. “Tidak apa-apa kok. Kajja, aku antar kamu pulang.” katanya sambil memeluk pundakku. Tanpa sadar tubuhku langsung menegang. Pabo, bagaimana kalau dia menyadarinya, batinku. Tapi seprtinya ia menyadarinya karena dia langsung melepaskan pelukannya dan hanya menggengam lembut tanganku. ”Mianhae.” gumamku. Dia hanya tersenyum.

   ”Lihat, itu Yi Xing oppa. Enak ya Yoo Na bisa jadian dengan Yi Xing oppa.” kata seorang yeoja sambil menunjuk ke arah kami. ”Iya, padahal aku sudah suka dengan Yi Xing oppa sejak dulu.” kata yeoja yang satu lagi.

Karena terlalu serius mendengar perkataan yeoja-yeoja itu, tanpa sadar aku langsung melangkah 2 anak tangga sekaligus, membuatku kehilangan keseimbangan. Tapi Yi Xing oppa langsung menahan bahuku.

”Gwenchana?” tanyanya. ”Ne, tapi sepatuku jadi terlepas.” kataku sambil menunjuk ke arah sepatuku yang jatuh di anak tangga terbawah. ”Jamsi gidalyeo. Aku ambikan dulu.” katanya sambil turun ke bawah untuk mengambil sepatuku lalu kembali lagi. ”Aku pasangkan.” katanya sambil berlutut di bawahku dan memasukkan kakiku ke sepatuku.

Wajahku langsung memerah. Duh, banyak orang yang melihat ke arah kami. ”Nah, selesai.” katanya sambil tersenyum ke arahku. Yi Xing oppa memang tipe namja yang mampu membuat yeoja berdebar hanya dengan ada di sampingnya. Semua orang mengatakan aku sangat beruntung dapat menjadi yeojachingunya. Aku juga merasa seperti itu. Tapi aku tidak mampu untuk menerimanya dalam hatiku.

Seseorang masih mengisi hatiku. Meski orang itu telah pergi ke tempat yang tak mampu kujangkau, aku masih terus mencintainya. Yi Xing oppa tahu akan hal itu tapi dia mau menerimaku dan akan menunggu hingga aku mampu membuka hatiku baginya.

`”Satu tahun, bahkan seribu tahun pun aku akan selalu menunggumu untuk membuka hatimu bagiku. Asalkan kamu mau disampingku, selalu bersamaku, aku sudah bahagia.” kata Yi Xing oppa saat dia menyatakan perasaanya di bawah kelopak sakura yang berguguran.

 

****

Yi Xing POV

Aku menggengam tangannya sambil berjalan menyusuri jalanan Seoul yang bergemelapan karena lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan ketika malam mulai turun. Aku melihat sepasang kekasih sedang berjalan. Sang namja memeluk bahu yeoja chingunya yang sedang tertawa bahagia. Wajah sang namja terlihat jelas juga sedang bahagia.

Lalu aku melihat ke arah Yoo Na. Dia hanya diam sambil memandang cincin yang melingkar di jari manis kanannya. Aku tahu siapa yang memberinya cincin itu, cincin pemberian terakhir mantan namjachingunya sebelum namja chingunya tewas dalam kecelakaan.

Aku hanya mampu menahan rasa sakitku. Aku telah berjanji akan selalu menunggunya hingga ia mampu melupakan mantan namjachingunya. Tapi apa aku selamanya tidak dapat memilikinya seutuhnya? Meski dia terkadang memanggilku ’chagi’, tapi aku tahu di dalam hati dan pikirannya tidak ada tempat bagiku.

Bunga sakura berguguran bagaikan air mata. Membuat jalanan terlihat bagai karpet berwarna pink pucat. Apakah aku harus terus melihatnya menangis? Kapankah aku dapat melihat senyumannya yang hanya milikku? Wu Yi Fan, mengapa kamu membuatnya menjadi seperti ini.

 

****

Yoo Na POV

”Nah sudah sampai.” kata Yi Xing oppa membuyarkan lamunanku. ”Oh, ne. Aku masuk dulu. Annyeong.” kataku sambil berjalan menuju pagar rumahku. Tapi tiba-tiba tangan Yi Xing oppa menahanku.

”Wae?” tanyaku bingung. Dia hanya tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. ”Ini untukmu.” katanya sambil meletakan sesuatu di telapak tanganku.

Aku terkejut melihat benda yang diletakan Yi Xing oppa. Sebuah cincin. ”Oppa..” kataku lirih sambil menatapnya. ”Aku tahu. Tapi tolong simpanlah. Aku ingin jika kamu sudah dapat melupakan Yi Fan, kamu mengganti cincin pemberian Yi Fan dengan ini.” katanya sambil mentup cincin itu dengan jari-jariku lalu menggengam erat tanganku.

Aku ingin menolaknya, tapi melihatnya tersenyum lembut kepadaku, aku pun mengurungkan niatku. ”Gomawo.” ucapku sambil membalas senyumannya. ”Chomaneyo. Kamu masuk dulu baru aku pulang.” Aku pun melepaskan tanganku dari genggaman tangannya, lalu berjalan memasuki rumahku. Sebelum aku menutup pintu aku melambaikan tanganku ke arahnya. Dia membalas lambaianku sambil tersenyum lalu aku menutup pintu.

Aku menuju kamarku sambil terus memandang cincin itu. Sesampainya di kamarku, aku langsung melihat ke sebuah foto yang ada di mejaku. Foto yang mengabadikan saat-saat paling indah dalam hidupku. Saat-saat besma Yi Fan oppa. Andai saja waktu itu aku tidak terbawa perasaan.

 

Flasback

”Chagi, mianhae.” kata Yi Fan oppa kepadaku. ”Sudah, aku tidak mau tahu lagi. Kamu lebih sayang bandmu dibandingkan aku.” kataku sambil melepas paksa pergelangan tanganku dari genggamannya dan langsung menyebrang begitu saja tanpa melihat sekeliling.

Tiba-tiba dari sebelah kanaku terlihat cahaya mobil yang begitu menyilaukan. ”Yoo Na!! Awas!!” seru Yi Fan sambil berlari ke arahku dan mendorongku. Aku terjatuh ke jalanan tapi mobil itu malah menghantam tubuh Yi Fan oppa. Aku hanya bisa melihat tubuh Yi Fan oppa yang bergelimang darah sebelum pandanganku menjadi gelap.

Flashback End

Mengingat kejadian itu, air mataku kembali mengalir. ”Yi Fan oppa, mianhae, jeongmal mianhae.” isakku sambil memeluk foto itu erat-erat. ”Oppa, mengapa kamu pergi? Aku sadar waktu itu aku terlalu egois.” isakku lagi.

Aku hanya diam memandang foto itu sambil terus menangis. ”Oppa kamu tahu, besok tepat hari ke 4o kematianmu. Hari terakhir arwah di dunia ini. Juga hari terakhirmu di dunia. Aku ingin sekali bertemu denganmu untuk terakhir kalinya. Aku ingin melihat wajahmu lagi, mendengar suaramu. Meski hanya 1 hari saja, bahkan 1 jam saja, aku ingin bertemu denganmu lagi. Masih banyak kata yang belum terucap kepadamu.” isakku sambil menatap foto itu.

Mataku sudah tak mampu lagi melihat karena air mata yang terus mengalir. Yi Fan oppa, bogoshipoyo, nan jeongmal bogoshipoyo.

 

****

          Aku mengerjapkan mata beberapa kali karena cahaya matahari pagi yang menerobos kamarku. Sepertinya kemarin aku tertidur setelah menangis. ”Chagi..” ucap sebuah suara yang membuatku terkejut. Aku sangat mengenal suara itu. Itu suara Yi Fan oppa.

Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan melihat sekeliling kamarku. Mencoba mencari sosoknya. Tapi aku tidak menemukan sosok yang kucari. Pabo, apa yang kau harapkan Yoo Na? batinku sambil berjalan menuju pintu.

”Chagi..” aku mendengar suara itu lagi. Aku mencoba mencari asal suara itu lagi.Dan pemandangan yang kulihat membuatku nyaris berhenti bernapas.

Dia berdiri di tengah kamarku sambil tersenyum kearahku. Wu Yi Fan, dia ada disini. “Tidak mungkin..” kataku lirih sambil mendekat ke sosok itu. “Yi Fan, ini benar-benar kamu kan?” tanyaku. Dia hanya tersenyum lalu mengarahkan tanganku ke pipinya. “Lihat, kamu bisa meneyntuhku. Ini benar-benar aku.”. Aku sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku langsung mmeluknya. Air mata mengalir di pipiku.

”Mianhae, jeongmal mianhae. Aku tidak menyangka karena keegoisanku, kamu harus seperti ini.” isakku. ”Tidak apa-apa. Aku tidak menyalahkanmu.” katanya sambil membelai rambutku. Selama beberapa saat kami hanya diam.

”Tapi kenapa kamu bisa disini?” tanyaku sambil melepaskan pelukanku. ”Aku diberi kesempatan untuk menemui seseorang yang sangat penting bagiku sehari ini saja sebelum aku pergi dari dunia ini. Dan bagiku itu adalah kamu. Nanti malam tepat jam 12 aku akan meninggalkan dunia ini.” jelasnya.

Ternyata Tuhan memberiku kesempatan.Aku dapat bersamanya untuk hari ini. ”Karena ini hari terakhir oppa di dunia ini, aku mau oppa yang menentukkan apa yang akan kita lakukan hari ini.” kataku sambil tersenyum kepadanya. Benar, biarlah hari ini menjadi hari paling membahagiakan bagi Yi Fan oppa.

”Hmm enaknya kemana ya? Akh arasso. Karena ini musim semi kita piknik saja. Kita buat dulu bekalnya. Kajja.” katanya sambil menggandeng tanganku menuju dapur.

”Aku tahu, oppa pasti mau kimbap isi kimchi kan? Aku buatkan dulu.” kataku sambil mengeluarkan perlengkapan masakku. Kami pun mulai  membuat berbagai macam masakan untuk di bawa piknik. Terkadang Yi Fan oppa bermain dengan bahan-bahan masakan.

”Lihat, anak ayam.” katanya sambil menunjukkan telur rebus yang ia bentuk anak ayam dan cangkangnya.”Aku bisa buat yang lebih bagus. Tadaa~~” kataku sambil menunjukkan telur rebusku. ”Akh mana paruhnya? Mana ada anak ayam seperti itu.” katanya dengan pandangan meremehkan.

Aku hanya menggembungkan pipiku karena kesal lalu kembali memasak lagi. ”Haah.. Begitu saja marah.Ini untukmu.” katanya sambil tiba-tiba mendekatkan potongan apel ke mulutku, membuatku sedikit menjauhkan wajahku. Aku  hanya tersenyum lalu memakannya.

”Selesai!!” seru kami bersamaan. ”Nah sekarang kita mau piknik dimana?” tanyaku. ”Aku tahu tempat yang cocok.” katanya.

 

****

          ”Sampai!!” serunya ketika kami di suatu tempat. Tempat yang penuh dengan pohon sakura yang disampingnya terdapat sungai biru yang genericik.Aku mengamatinya selama beberapa saat. ”Ini..” kataku lirih sambil mendekat ke arah pohon sakura yang berderet-deret.

”Ne. Ini tempat kita pertama kali bertemu sekaligus tempat kita berciuman pertama kali. Kamu ingat, waktu itu kamu nyaris tenggelam di sungai itu. Aku yang menolongmu dengan memberi pernapasan buatan untukmu. Teman-teman langsung heboh melihatku seperti itu.” katanya sambil terkekeh.

Aku ingat. Saat itu kami pergi piknik bersama seluruh kelas. Kemudian ada temanku yang memberi tahuku jika kita dapat menemukan batu berwarna putih di sini, maka permohonan kita akan terkabul. ”Tapi itu kan karena aku mencari batu berwarna putih. Saat itu aku ingin bisa dekat denganmu jadi aku mencarinya agar kamu… Akh lihat oppa bunga sakuranya. Kyeopta..” kataku sambil menunjuk kelopak bunga sakura yang menari mengikuti hembusan angin yang berhembus lebih keras.

Aku mengamati bunga sakura hingga tanpa sadar Yi Fan oppa sudah mendekatkan wajahnya ke wajahku. Ketika sadar, aku hanya memjamkan mataku, membiarkan bibir Yi Fan oppa menempel pada bibirku. Kami berciuman di bawah kelopak sakura yang berguguran yang sama dengan sakura yang berguguran dua tahun yang lalu. Ciuman lembut, yang tidak akan aku lupakan.

Ketika Yi Fan menjauhkan dirinya, aku mulai membuka mataku. ”Ternyata ciuman terakhir kita juga di tempat ini.” katanya sambil tersenyum lembut ke arahku. ”Kajja, kita makan bekal yang kita buat tadi. Aku tidak sabar mencoba kimbap yang tadi kamu buat.” katanya semangat.

Aku tahu dia berusaha membuatku bersemangat karena tahu perkataanya tadi pasti membuatku sedih. Aku pun tahu meskipun ia berusaha tersenyum, masih ada kesedihan dalam matanya.

Kami menikmati bekal kami sambil bercerita banyak hal. Angin yang berhembus hangat, bunga sakura yang berguguran, gemerecik air, seaakan menunjukkan berapa lama waktu telah berjalan. Aku lalu melihat jam tanganku. Pukul 12.00 tepat. Berarti 12 jam lagi aku akan berpisah dengan Yi Fan oppa untuk selamanya.

 

****

          ”Kajja, kita pergi ke suatu tempat yang pasti kamu ingin lihat.” kata Yi Fan oppa sambil mengulurkan tangan membantuku berdiri. Bagiku tempat yang ingin kulihat adalah tempat dimana Yi Fan oppa bisa selalu bersamaku. Tapi aku yakin tidak ada tempat seperti itu di dunia ini.

Kami melewati sebuah jalan yang diapit dengan deretan pohon  sakura di kanan kirinya. Sinar matahari masuk melalui celah-celah dahannya, membentuk serpihan cahaya. Kami hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

”Yoo Na, kamu tahu hari ini hari apa?” tanya Yi Fan oppa tiba-tiba. ”Hari ke-40 kematianmu.” jawabku. ”Ani.” katanya tegas sambil terus menggengam tanganku melewati kerumunan manusia yang berlalu lalang di kota Seoul. ”Hmm hari Minggu?” tebakku. ”Ani.Ini tepat dua tahun kita jadian. Waktu berlalu sangat cepat kan? Rasanya baru kemarin aku menunggumu untuk first date sekarang keadaan kita berubah banyak.”

katanya sambil tersenyum.

Benar. Waktu berjalan begitu kejam. Aku berharap dapat kembali ke waktu itu. Waktu-waktu dimana ada Yi Fan oppa disampingku. Aku selalu merasa Yi Fan oppa akan selalu menggengam tanganku dan kami akan selalu bersama tapi hanya karena keegoisanku semua berubah.

 

****

Yi Xing POV

”Hyung, aku lapar. Cari makanan yuk.” rengek Se Hun. ”Minta yang lain saja.” ktaku sambil terus menatap handponeku. Aneh kenapa dari tadi pagi handphone Yoo Na tidak bisa dihubungi.

”Ayolah, sama hyung saja. Lu Han hyung kalo gini lagi hibernasi, tidur terus. Baek Hyun hyung sama Joon Myun hyung juga lagi kencan. Ya hyung ya, mau kan. Cuma sebentar kok ya.” kata Se Hun sambil mengeluarkan puppy eyesnya.

”Ara ara. Ayo kita pergi beli makanan.” kataku seraya bangkit dari sofa. ”Waah.. gomawo hyung.” katanya kegirangan.

Aku dan Se Hun sedang menunggu jjamyun pesana kami datang ketika aku melihat Yoo Na dengan seseorang melintasi restoran tempat kami makan. Aku nyaris saja menjatuhkan handphone yang kupegang karena terkejut melihat namja yang ada disampingnya.

”Tidak mungkin.. Bukannya dia sudah meninggal. Kenapa dia ada disini?” batinku. Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar dan mengikuti Yoo Na. Mengabaikan teriakan Se Hun yang memanggilku.

Entah berapkali aku menabrak orang, atau berapa kali orang-orang memperingatkanku, aku terus mengikuti mereka. Namja itu begitu mirip dengan Yi Fan hyung. Tapi aku tahu itu tidak mungkin Yi Fan hyung. Dia sudah meninggal. Apa Yoo Na bertemu dengan orang yang begitu mirip dengan Yi Fan hyung?

Mereka terlihat bahagia. Yoo Na tersenyum. Senyum yang tidak kulihat sejak Yi Fan hyung meninggal. ”Hyung kenapa tiba-tiba kabur?” kata Se Hun membuatku tersadar.

”Ani, aniyo. Hanya melihat orang yang kukenal.” kataku. Jika memang namja itu dapat membuat Yoo Na tersenyum, aku rela melepaskan Yoo Na. Asalkan Yoo Na bahagia, aku mampu menahan rasa sakitku.

 

****

Yoo Na POV

”Tadaa~ taman bermain tempat kita dulu first date.” kata Yi Fan oppa ketika kami sampai di sebuah taman bermain. Tempat yang penuh kenangan akan Yi Fan oppa.

”Kajja, kita main sampai puas.” katanya sambil menarik pergelangan tanganku. Aku hanya tersenyum mengikutinya. ”Oppa kita ke situ yuk.” kataku sambil menunjuk labirin. ”Gurae. Bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang pertama kali menemukan yang lain, itu yang menang. Yang kalah harus menuruti perkataan yang menang. Bagaimana?” katanya. ”Gurae. Aku masuk dulu oppa.” kataku sambil berlari masuk ke dalam labirin.

”Appo, gelap sekali di dalam sini.” pikirku. Aku sudah berputar-putar cukup lama, tapi aku belum juga menemukan Yi Fan oppa. “Chagi, akhirnya ketemu juga setelah 2 jam.” kata seseorang di belakangku. 2 jam! Lama sekali! Aku sudah mulai takut ketika tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. “Ketemu. Aku menang.” kata Yi Fan.

“Hehehe. Dari tadi aku sudah menemukanmu. Tapi melihat wajahmu yang bingung dan takut, aku jadi ingin mengerjaimu.” katanya sambil nyengir. ’Dasar, kamu tahu aku sudah sangat takut waktu dengar ada orang yang baru ketemu setelah 2 jam.” kataku kesal sambil menggembungkan pipiku. ”Hahaha, mian. Kajja, kita cari jalan keluarnya.” katanya sambil memeluk bahuku.

Setelah keluar dari labirin, aku langsung mengajak Yi Fan oppa ke permainan lain. Rasanya menyenangkan dapat tertawa bersama Yi Fan oppa. Andaikan saja waktu dapat berhenti di saat ini.

”Aakh istirahat sebentar. Aku capek.” kataku sambil duduk di sebuah bangku taman. ”Aku pergi beli minuman dulu.” kata Yi Fan oppa sambil berjalan pergi.

Angin musim semi yang hangat menerpa wajahku, membuat kelopak sakura berguguran. Cahaya matahari keemasan menimpa bunga sakura membuat pemandang yang indah. Lalu aku melihat hanphoneku. Banyak miss call dari Yi Xing oppa. ”Chagi, naneun bogoshipoyo. Telp aku jika kamu sudah baca pesanku.”. Aku hanya bisa menatap pesan dari Yi Xing oppa. Mianhae oppa, kumohon hari ini saja, ijinkan aku bersama dengan Yi Fan oppa. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hari ini dengan Yi Fan oppa.

Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. ”Ini untukmu.” kata Yi Fan oppa sambil duduk disebelahku. ”Hari ini kita serasa kembali ke awal ya. Ketika kita masih berpikir bahwa kita akan selalu seperti ini. Aku menjadi sadar, kita seharusnya lebih menghargai waktu karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi.” katanya sambil menerawang.

Aku hanya bisa memandang ke jus kaleng yang diberikan Yi Fan oppa tadi. Lalu aku melihat ke arah jam yang ada di tengah taman bermain. Pukul 6. Cepat sekali waktu berlalu. Apakah waktu tidak dapat menghentikan langkahnya?

”6 jam lagi ya? Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu untuk terakhir kali. Kajja.” katanya seraya berdiri. Sesuatu? pikrku bingung.

 

****

          ”Yi Fan ini bukannya tempat kamu biasa berlatih band dengan teman-temanmu?” tanyaku sambil mengamati ruangan yang penuh dengan alat musik ini. ”Semoga Jong In masih menyimpannya.” katanya sambil menunduk mencari sesuatu. ”Ah, ketemu!” serunya. Dia langsung berjalan ke arah keyboard. ”Aku membuat lagu ini khusus untukmu. Coba kamu dengarkan.” katanya sambil mulai memainkan sebuah lagu.

 

jeonyek neouri jigo
hana dul kyeojin bulbicheul ddaraseo
neoege gago isseo
chagaun barame umchurin eokkaega nara angijeone
naega kamssajulkka
I love you babogateun geudae
modeun geoshi na-egeneun gojunghan geol

After the  glow sets,
I’m going towards you,
Following the lights which turn on one by one
I’ll embrace you,
Before the cold wind makes your shoulders flinch
I love you,
The foolish you,
You’re so precious to me

 

geudae wiro ddeo-oreun taeyang mankeum
nuni bushin i gaseumeuro
gidarijun shigan mankeum neol naega jikyeojulke
gidohan modeun kkumi ganjeolhan nae hyanggiro nama
uril hyanghae isseo
More than the air I breath

As much as the sun that rises above you,
I’ll keep you safe as much as you’ve waited for me, with this glaring heart,
All the dreams I’ve prayed for,
They’re going towards you with my sincere scent

Air mata mengalir pelan di pipiku. Aku pernah memintanya membuatkan sebuah lagu.

Flasback

“Oppa, buatkan sebuah lagu.” rengekku. ”Aduh aku nggak bisa buat lagu. Biasanya Yi Xing yang buat bukan aku.” katanya sambil menggaruk kepalanya. “Ayolah oppa. Satu saja. Tidak perlu yang susah, pendek saja ya, ya oppa ya.” rengekku sambil menarik lengan bajunya. “Guraeyo, aku coba dulu. Nanti kalau sudah selesai, akan kutunjukkan kepadamu.” katanya sambil tersenyum

Sejak saat itu, Yi Fan oppa sering telat jika menjemputku. Dia pun jarang meneleponku bahkan mengirim pesan pun jarang. Dia selalu sibuk, tidak bisa diganggu. Lalu aku memarahinya seenakku. Dan akhirnya harus berkahir seperti ini.

Flashback End

          Ternyata saat itu dia sibuk karena berusaha membuatkan aku sebuah lagu. Aku memang pabo yeoja, Yoo Na mengapa kamu tidak menyadarinya? Air mataku terus mengalir seiring alunan lagu Yi Fan oppa.

 

saranghandago ije geudaeppunirago
jeo haneul kkeute soricheo jeonhago shipeo
love you teojildeuthan gaseumi geudaereul bureugo isseo
a peun shi ryeon i u ril chajawado
geu apeume mok meyeowado jul su ittneun naega deo saranghalke
tumyeonghan useum kkochi banjjagineun jeo byeoldeulcheoreom
areumdapge neol neomaneul jikyeojulke

‘I love you’ ‘You’re the only one’,
I want to yell those words out into the sky
I love you, my heart which feels like bursting is calling out to you
No matter how many times they find us,
No matter if we can’t breath,
Like those invisible flower-like smiles,
Which shine just like the stars,
I’ll keep you safe beautifully

geudae wiro ddeo-oreun taeyang mankeum
nunu bushin i gaseumeuro
gidaryeojun shigan mankeum neol naega jikyeojulke
saranghae neol saranghae sesang gajang nunbushin geudae
kkugyeo gateun i mam
More than the air I breath

As much as the sun that rises above you,
I’ll keep you safe as much as you’ve waited for me, with this glaring heart,
I love you, I love you,
You’re the most beautiful in this world,
This dream-like heart,
More than the air I breath

 

 

”Mianhae, jeongmal mianhae.” isakku ketika Yi Fan oppa selesai memainkan lagu itu. Yi Fan oppa menyentuh pipiku lalu menghapus air mataku yang terus mengalir. ”Uljimarayo. Aku tidak menyesal sedikit pun.” katanya sambil tersenyum menenangkanku. ”Aniyo, aku benar-benar keterlaluan. Aku seenaknya saja memarahimu tanpa mau mendengar alasanmu. Mianhae, jeogmal mianhae.” isakku. Berapa kali pun aku mengucapkan kata mianhae, rasanya tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku.

Dia hanya tersenyum. ”Sebelum masuk ke labirin tadi, kita sudah sepakat siapa yang kalah akan menuruti perkataan yang menang kan? Karena itu sekarang aku akan ucapkan sebuah permohonan, dan kamu harus menurutinya. Hanya sebuah kata, berbahagialah.” katanya sambil tersenyum menatapku membuatku terdiam.

”Asal kamu bahagia, aku akan merasa tenang. Jika kamu memang merasa bersalah, kamu cukup membalasnya dengan kebahagianmu. Karena melihatmu bahagia merupakan kebahagian bagiku.” lanjutnya sambil tetap tersenyum, meski aku bisa melihat kesedihan di matanya

”Aku tahu sekarang ada Yi Xing disampingmu. Dia yang menghiburmu di saat kamu sedih ketika aku meninggal. Aku merasa dia sudah berkorban cukup banyak bagimu. Dia mau menahan rasa sakitnya setiap melihatmu menagis karena kepergianku. Dia mau selalu menunggumu, hingga kamu dapat melupakanku.

Sebenarnya dia menyukaimu jauh sebelum kita bersama. Tapi saat itu dia mau mengalah karena dia tahu kamu tidak memilihnya. Dia pernah berkata dia mau mengorbankan apa pun asal kamu bahagia. Aku yakin jika kamu bersama dengannya, ia pasti mampu membuatmu bahagia.

Lupakan aku, jangan tangisi kepergianku, lalu berbahagialah dengan Yi Xing. Melihatmu bahagia itu sudah cukup bagiku.”

Aku hanya bisa menangis. Kebahagian tidaklah pantas bagi orang sepertiku. Tapi jika itu keinginannya, aku hanya bisa menirimanya. Yi Fan oppa menarikku ke dalam pelukannya dan membelai punggungku. ”Ujimarayo. Hari ini aku hanya ingin kita tersenyum tanpa ada kesedihan. Hari ini adalah hari paling indah yang pernah kualami. Dengan membawa semua kenangan kita, aku yakin aku akan bahagia di sana. Jadi jangan menangis lagi.” katanya dengan suara bergetar.

 

****

          ”Ini sudah larut, kamu tidur saja. Aku tidak ingin kamu sakit.” kata Yi Fan oppa. Aku hanya mengangguk dan naik ke tempat tidurku. Aku tahu begitu aku membuka mata esok hari, aku tidak akan melihatnya lagi.

”Oppa, boleh aku menggengam tanganmu?” tanyaku sambil mengulurkan tanganku. Dia hanya tersenyum dan menggengam tanganku. ”Annyeonghi jaljayo.” katanya sambil membelai pipiku. Aku membalas senyuman lalu tertidur.

 

Yi Fan POV

Aku menatap Yoo Na yang tertidur sambil menggengam erat tangannya. Sesekali aku mencium punggung tangannya. Mencoba mengingat hangat tubuhnya. Lalu aku melihat jam yang ada di kamar Yoo Na. Setengah 12. Sebentar lagi aku tidak akan mampu menggengam tangan  mungil ini. Tidak dapat melihat Yoo Na lagi

”Oppa.. jangan pergi.” lirih Yoo Na. Air mata mengalir pelan di pipinya. Aku menghapus air mata itu. Bahkan dalam mimpinya pun aku tidak mampu membuatnya bahagia.

“Yoo Na, meski aku tidak mampu untuk selalu disampingmu, tapi aku bersyukur sekarang ada Yi Xing disampingmu. Aku yakin dia sangat mencintaimu, dapat membuatmu bahagia, dapat melindungimu. Tidak sepertiku yang hanya mampu membuatmu menangis. Janganlah mencintaiku lagi, karena aku tidak mampu melindungimu, bahkan untuk selalu disampingmu pun aku tidak mampu. Berjanjilah agar selalu bahagia.” batinku sambil membelai pipinya.

Jam berdentang menunjukkan tepat pukul 12. Waktuku di dunia ini telah habis. Selamat tinggal Yoo Na.

 

****

Yoo Na POV

Jam berhenti berdentang. Aku menatap kosong langit-langit kamarku. Tangan yang baru saja digenggam Yi Fan oppa sekarang telah terkulai. ”Oppa…” ucapku tanpa suara.

****

          Aku bangun keesokan paginya karena mendengar suara pesan masuk di handphoneku. Aku meraihnya lalu membaca pesan itu

From Yi Xing oppa

          Annyeong chagi-a ^^. Semoga tidurmu nyenyak. Aku tunggu di depan rumahmu seperti biasa.

Aku menatap pesan itu. Perasaan bersalah memenuhi hatiku. Selama ini aku terlalu sedih memikirkan kematian Yi Fan oppa, tanpa memedulikan Yi Xing oppa. Padahal, dia selalu disampingku ketika aku menangisi Yi Fan oppa, menghiburku, meminjamkan bahunya sebagai tempat aku menangis. Aku tidak membayangkan bagaimana jika orang yang kucintai tidak melihatku sama sekali, malah menangisi orang lain yang telah tiada.

Yi Xing oppa mau menerima itu semua. Memendam jauh-jauh rasa kesalnya. Dia selalu menungguku hingga aku mampu membuka hatiku, padahal dia tahu dengan keadaanku, aku tidak akan pernah mampu untuk membuka hatiku baginya.

Aku menatap cincin yang di berikan Yi Xing oppa. Kuletakan begitu saja di mejaku. Seperti janjiku pada Yi Fan oppa, aku harus melupakannya.

 

****

 

Yi Xing POV

Selama perjalanan menuju sekolah dia hanya diam seperti biasanya. Aku sudah siap jika dia mengatakan akan pergi dariku untuk bersama dengan namja itu. Meskipun aku tahu mungkin aku akan hancur karena hal itu, namun asal dia mampu tersenyum kembali aku akan merelakannya.

”Yi Xing oppa, sepulang sekolah nanti ada yang ingin kubicarakan. Aku tunggu di taman belakang sekolah.” katanya saat kami telah sampai di depan kelas Yoo Na.

Aku hanya tersenyum menyembunyikan rasa sedihku. Mungkin itu adalah saat terakhirku bersamanya. ”Baiklah, aku akan ke sana. Aku masuk kelas dulu. Annyeong.” kataku sambil mengecup keningnya lalu pergi menuju kelasku.

 

****

          ”Oppa tolong ulurkan tanganmu.” katanya membutku bingung. Aku pun mengulurkan tanganku. Lalu dia meletakan sesuatu di tanganku. Apa mungkin dia mengembalikan cincin yang kuberikan?

Aku terkejut saat dia menarik tangannya dari benda itu. Itu bukan cincinku tapi cincin yang dulu Yi Fan berikan kepadanya. ”Aku akan berusaha melupakan Yi Fan oppa. Meski tahu itu sulit, tapi aku akan berusaha melupakannya.” katanya sambil tersenyum ke arahku.

Aku hanya diam. Tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Lalu aku melihat cincin yang kuberikan melingkar di tempat yang sama dengan cincin yang kupegang. Aku menariknya ke dalam pelukanku.

”Gomawo.” bisikku. Lalu aku sedikit menjauhkannya tanpa melepaskan pelukanku. ”Aku akan menunggumu hingga kamu dapat melupakannya. Aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku janji.” kataku. Dia mengangguk pelan. Aku mendekatkan wajahku, dia hanya diam menutup matanya. Di bawah kelopak sakura yang berguguran, untuk pertama kalinnya aku merasa bahwa aku telah memiliki segala hal yang indah yang ada di dunia ini.

 

CHOROP

12 pemikiran pada “Season of Love: One Fine Spring Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s