A Respected Egoisme

A Respected Egoisme

Author: helmyshin1 (@helmyshin1)

Cast: Byun Baekhyun EXO K and Lee Yongri

Genre: Psychology, Angst, Romance

Rating: PG-15

Lenght: Ficlet, Stand Alone

Disclaimer: LOLLISOMNIA adalah sebuah Fanfic series yang setiap serinya mempunyai cast dan cerita berbeda. Fanfic ini bergenre utama Psychology, tentu memerlukan ‘kerja otak’ yang cukup keras untuk memahami jalan ceritanya yang ber-alur campuran.

Kenapa saia menulis titlenya Stand Alone? Yup, karena FF ini ‘berdiri sendiri’ kita akan tetap mudeng sama ceritanya walau gak baca Lolli seri sebelumnya atau setelahnya 😀

Fanfic ini murni imajinasi helmyshin1 dengan bantuan teman-teman reader.

Shin1 Note: Kali ini LOLLISOMNIA 4 special ulang tahun Baekhyun ^o^ FF ini pernah dipublish di beberapa WP, terutama di Wpku sendiri di sini >> http://helmymikyung.wordpress.com/

NO SILENT READER, NO PLAGIATOR !!!

 

PROLOG

Senja.

Itulah saat terindah bagi Byun Baekhyun dan Lee Yongri. Menyaksikan gumpalan awan tengah merangkak menyusul sang surya, mengejar semburat orange yang menyebar di penghujung langit.

Cinta.

Tak lebih dari sebuah kata sederhana, tapi seorang Yongri telah memberikan makna tersendiri untuk Baekhyun. Tapi seorang Yongri telah membuat kata yang sederhana itu menjadi luar biasa bagi Baekhyun. Tapi seorang Yongri telah merasuki setiap sudut jiwa Baekhyun, menjadi bagian dari hidup Baekhyun bersama sebuah kata yang disebut Cinta.

Senyum tulus mengembang di kedua bibir insan yang tengah dimabuk cinta, di batas senja. Baekhyun meremas punggung tangan kiri Yongri, tak mengijinkan gadis itu beranjak dari bukit hijau yang tenang itu.

“Oppa..” bisik Yongri lirih, memiringkan kepalanya ke arah Baekhyun yang tak juga mengalihkan pandangannnya. Si lelaki semakin meremas punggung tangan Yongri, sungguh ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jikalau gadis itu tiada.

Senyum si gadis semakin mengembang.

Lelaki itu memiringkan wajahnya, mempertemukan matanya dengan emerald milik Yongri. Di bawah pandangan teduh Baekhyun, Yongri terkesiap. Baekhyun mencoba menembus mata itu, mencari pengendali jiwa itu, dan meletakkan sebagian hidupnya di sana.

Baekhyun mengeliminasi jarak yang tak sampai 10 centi antara mereka berdua, begitu pula dengan Yongri. Memejamkan matanya kala merasakan hembusan napas yang lain, sedikit menyesuaikan letak kepala agar hidung mereka tidak bersentuhan.

Bersama surya yang menebarkan rekahan merah indahnya, bersama udara yang menghembuskan dirinya, bersama bunga-bunga mungil bermekaran yang berwarna, mereka memadukan cinta. They kissed..

Bibir mereka bertemu, saling mengecup ringan satu sama lain. Baekhyun merasakan rasa manis di bibir Yongri, membuatnya kecanduan dengan bibir itu, membuatnya menghisap bibir itu, menggigitnya pelan, tak mau sedikit pun melukai Yongri.

Yongri spontan memberikan sedikit celah di mulutnya, membuat lidah Baekhyun langsung memasuki mulut itu, mengabsen satu persatu gigi Yongri yang tersusun rapi. Menautkan lidah mereka, saling bertukar saliva.

Tak berapa lama kemudian, Yongri melepaskan cumbuannya, menstabilkan napasnya yang satu-satu, begitu juga dengan Baekhyun.

Mereka saling melempar senyum, merasakan kebahagiaan yang bahkan terlampau indah untuk dijelaskan.

A Respected Egoisme | 2012 helmyshin1 present

.

.

Baekhyun berlari menembus setiap mahasiswa, menyeberang lapangan luas, dan menaiki tangga menuju ruang kelasnya. Ia terlambat. Baekhyun membuat suara hentakan yang keras kala menyusuri setiap lorong yang cukup ramai, membuat orang-orang menengok ke arahnya. Sayangnya, ia tak peduli.

Tiba-tiba lelaki itu tak bisa mengontrol laju larinya, ia menghantam bahu kanan seorang gadis berambut panjang dari belakang.

BRUK !

“Yy.. Yong.. ri..,” ucap Baekhyun terbata, bahkan napasnya masih memburu dan keringat tak kunjung berhenti bercucuran dari setiap pori-pori kulitnya. Untungnya sang kekasih tidak jatuh atau pun terluka. “Maaf,” tambah Baekhyun.

“Tak apa, Byun Baekhyun. Apa kau sedang lomba lari?” canda Yongri dengan polosnya, tak sedikit pun menampakkan rasa cemas, canggung, atau yang lainnya. Padahal sudah jelas Byun Baekhyun adalah kekasihnya dan ia kini tengah mengalungkan tangannya di lengan Kai. Sang kekasih pun baru menyadari ada yang seorang lelaki yang bersanding dengan Yongri.

Kai nyaris tak bisa menahan tawa kala mendengar ucapan Yongri. “Sudahlah, chagi. Biarkan lelaki ini menyelesaikan pekerjaannya. Kita tak mau mengganggu ‘kan?” sambung Kai disambut anggukan oleh Yongri.

“Oh iya, aku mau mengucapkan beberapa kata padamu, Baekhyun,” sambung Yongri sembari melirik Kai dengan tersenyum. “Aku mau hubungan kita berakhir, maaf, tapi sebenarnya aku sama sekali tidak mencintaimu,” tambahnya ringan.

Andai Yongri tau, perkataan ringan itu akan merubah tujuan hidup Byun Baekhyun, andai Yongri tau, perkataan ringan itu akan berdampak besar pada Byun Baekhyun. Sialnya, tiada seorang pun yang sudi memberitahu hal itu.

Baekhyun mematung.

Seketika itu bumi benar-benar berhenti berputar, seketika itu datanglah hewan buas dari sisi gelap Baekhyun tanpa diundang, mengoyak jiwanya, menyerap semua kekuatannya, menerkam hatinya, memberikan luka paling dalam di sepanjang hidupnya, dan membuang permainan logikanya. Membuat egoisme menjadi tumpuan dari setiap tindakannya.

Ia jatuh terlalu dalam di hati Yongri.

Baekhyun ingin berteriak, memutuskan pita suaranya. Baekhyun ingin menangis, menggersangkan air matanya. Baekhyun ingin merobek hatinya, mengkosongkan perasaannya.

Sementara kedua orang tadi telah pergi, Baekhyun belum bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya berjalan dengan gontai. Lagi-lagi membiarkan ego membawanya ke sembarang tempat, ia terlalu rapuh untuk berpikir.

Baekhyun nyaris tumbang, namun puing kekuatan itu masih tersisa sedikit di dalam hatinya. Ia berlari dengan kencang , seolah tak mau menyiakan satu detik pun waktu yang tersisa dalam hidupnya. Baekhyun terus berlari, egonya mengalahkan sang logika, menggantikan kekuatan raga dengan amarah yang besar.

.

.

Baekhyun terbangun di atas hamparan tanah gembur yang dipenuhi dedaunan kering. Ia tak ingat bagaimana raganya bisa terhempas hingga ke tempat ini. Lelaki itu menatap kosong luasnya langit biru yang cerah, tak seperti hatinya yang sekarang gelap. Kenangannya bersama sang mantan kekasih membuat kegelapan itu semakin pekat, membuat jiwa itu semakin rapuh, membuat batin itu semakin buta, dan membuat ego itu membesar.

Ia tak mengenal Lee Yongri yang tempo hari ditemuinya, ia tak kenal lagi cara gadis itu tersenyum, ia tak kenal kalimat yang ditujukan untuknya kemarin. Gadis itu terasa.. asing. Begitu pula dengan kau, kau pasti tak akan percaya bahwa lelaki yang terkulai lemah itu adalah Byun Baekhyun.

Lelaki itu mencoba duduk, meremas dedaunan kering di sekitarnya. Persetan dengan kalimat bahwa lelaki tak boleh menangis, persetan dengan kalimat bahwa lelaki itu kuat, ia tak peduli.

Buliran air mata yang terus berjatuhan adalah bukti bahwa ia rapuh, bahwa ia kosong, hampa. Baekhyun meremas rambutnya sendiri, menariknya seolah ingin mencabut semua helai rambut hitam di kepalanya. Sakit hati, sedih, kecewa, semua bercampur dalam dadanya, adonan itu meledak di dalam dirinya, membuatnya tak kuasa melakukan apa-apa.

Lelaki itu mulai frustasi, diobrak-abriknya daun-daun kering yang berjatuhan di sekitarnya, membuat dedaunan itu berterbangan tak lama. Baekhyun menengadahkan kepalanya, menatap langit dengan nanar, ingin mencari sebuah jawaban hingga ia mengeluarkan semua persoalannya dengan teriakan lantang.

“Aaaaarrrgggghhh !!!”

Tiba-tiba, beberapa burung yang bertengger di pohon sekitar Baekhyun berterbangan. Entah takut atau mengerti bahwa mereka harus membiarkan Baekhyun sendiri.

Baekhyun memukul-mukul dadanya, berharap monster pembawa rasa sakit itu pergi, musnah. Derai air mata tak kunjung berhenti dan Baekhyun masih terus meremas kepalanya yang mulai berdenyut.

Ia tak siap dengan semua ini, ia tak mau dengan semua ini. Sosoknya yang begitu tegar dan tenang hilang sudah, ia kini berubah.

.

.

Kubus itu serasa menyempit, berusaha mengepung Byun Baekhyun yang terlentang di atas kasurnya dengan mata terbuka. Baekhyun masih bisa mengenali setiap benda di dalam kamarnya, namun ia tak peduli dengan itu semua.

Lee Yongri.

Hanya itu yang terpusat di otaknya, tiada yang lain. Segala file kenangan bersama Yongri di otak Baekhyun terbuka  dengan sendirinya, terus mengingatkan apa saja yang pernah mereka alami. Namun semakin bahagia kenangan yang Baekhyun lihat, semakin sakit pula tusukan di hatinya. Semakin membuatnya nyaris mati rasa.

Suara derap langkah beradu dengan gemuruh petir di malam yang dingin, disusul suara jendela kamar yang menghantam dinding beberapa kali. “Baekhyun-ah, tutup jendelamu ! Segera bangkit dan makan malam!” teriak seorang lelaki bertubuh atletis yang terlihat sebaya dengan Byun Baekhyun.

Biasanya, Baekhyun akan tersenyum dan segera mempause apa saja yang tengah ia lakukan, namun kali ini tidak, Baekhyun sama sekali tidak peduli.

“Cepatlah, Baekhyun! Makanan kita tidak akan selamanya hangat!” kali ini teriakan itu semakin kencang ditambah dengan hentakan kaki kesal.

“Diam,” ucap Baekhyun dingin, tanpa ekspresi sedikit pun. Lelaki yang tadi berteriak menghentikan gerakan tubuhnya, ucapan Baekhyun tak menghentak secara kasar, namun terdengar sangat menusuk. Selama 3 tahuh bersama, baru kali ini ia mendengar Baekhyun begitu dingin.

“Baekhyun-ah? Ada apa denganmu, eoh?” tanyanya sambil bekacak pinggang, masih menyisakkan sedikit nada kesal. Baekhyun tak beranjak sedikit pun, bahkan tak menggerakkan anggota tubuhnya lagi.

“Diamlah, Chanyeol.” Balas Baekhyun tak kalah dingin dari sebelumnya, namun matanya masih fokus menatap langit-langit kamar yang putih pucat.

“Terserah kau saja. Tapi jangan terkejut kalau jatah makananmu sudah terasa hambar saat kau menyentuhnya!” Chaenyol menyerah, tak mau menghabiskan waktu hanya untuk beradu mulut dengan Baekhyun. Ia berbalik dan hendak keluar dari kamar sang teman dengan hentakan kaki kekesalan.

Baekhyun memejamkan kedua matanya selama 5 detik, mendalami semua rasa sakitnya hingga ia kehilangan kesabaran karenanya. Kedatangan Chanyeol benar-benar tidak tepat waktu.

“KUBILANG DIAM !”

Jleb,

Jendela kamar yang sisi-sisinya terbuat dari kayu menghantam dinding kembali, namun kali ini terdengar begitu keras, membiarkan angin malam yang berhembus kencang merusak tatanan rambut Baekhyun. Membuat poni lelaki itu menutupi matanya selama beberapa detik.

Gemuruh petir itu nyaris menyamarkan suara pisau yang menusuk punggung Chanyeol, membuat jantung Baekhyun berdetak lebih kencang. Kedua bola mata lelaki itu nyaris meloncat keluar, ia sungguh tak menyangka bahwa tangan kanannya semudah itu melempar pisau yang –entah mengapa- bisa berada di dekatnya, dan pisau itu tepat mengenai punggung Chanyeol.

Semua itu terjadi dengan refleks.

Baekhyun bisa melihat cipratan darah segar yang mengalir deras dari tubuh Chanyeol, mengalir sampai ke kaki tempat tidurnya, mata Baekhyun membelalak.

“Baek.. baekhyun.. arrgh..” Chanyeol merasakan sakit di sekujur tubuhnya, nyaris mati rasa, suaranya parau dan serak. Lelaki itu mencoba membalikkan tubuhnya, memamerkan mulutnya yang terus mengeluarkan darah.

Tiba-tiba, lelaki itu tumbang dengan posisi tengkurap. Baekhyun pun bisa memastikan bahwa pisau tadi masih menancap di punggung temannya.

The Next Night…

Seorang lelaki jangkung menyeret kakinya membelah jalanan, menembus lengangnya malam tanpa teman. Lelaki itu menutup kepalanya dengan kerudung jaket berwarna gelap ketika telingannya mendengar sebuah sirine mobil polisi.

Sirine itu terdengar lebih jelas, si lelaki menghentakkan kakinya agak keras dan memasuki gang sempit yang hanya diterangi cahaya bulan, ia menempelkan tubunya ke dinding gang, menyembunyikan diri di bawah bayangan lampu jalan.

Tak lama kemudian, ia melihat dua buah mobil polisi melewatinya tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, melewatinya dengan suara sirine yang masih mengaum memecah keheningan.

Sebuah senyum sinis terukir di bibir lelaki tersebut, “bodoh,” ucapnya dingin.

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum licik, kau hanya bisa melihat bibir dan hidungnya di bawah kerudung jaket berwarna gelap. Ia melangkah keluar gang, hendak kembali ke gudang pengap tempat persembunyiannya.

Toko Permen. Tak sengaja ekor matanya menangkap tulisan itu di seberang jalan.

Mengingatkannya akan sebuah kelemahan yang dimiliki sang kekasih yang telah mengkhianatinya. Mengingatkannya untuk membalas rasa sakit yang pernah tertoreh kepadanya. Mengingatkannya akan sebuah gagasan balas dendam yang tak beralasan.

Lelaki itu berubah ekspresi.

.

.

Baekhyun memperhatikan setiap titik di foto yang ia genggam, mengukir sebuah senyum misterius.

“Hey, kau, yang telah merusak jiwaku, merobek-robek hatiku, memusnahkan logikaku, dengan segala keangkuhanmu. Sedang apa kau, wanita jalang?” ucapnya serak, ada kesedihan yang tertahan.

Mata Baekhyun menerawang, nampak berkilau di remang ruangan yang menyisakkan luka. Lagi-lagi, kata itu yang muncul. Ia menarik korek dari dalam saku mantelnya, menyulut api dan membakar ujung foto itu, membiarkan api itu terus membakar dan membumihanguskan gambar tersebut.

“Hahaha.. bodohnya aku hingga tergila-gila padamu. Lalu apa yang harus aku perbuat sekarang, bitch?” foto itu telah terbakar setengahnya, dan sekarang sudah mencapai mata gadis yang ada di dalam gambar.

Beberapa detik kemudian, Baekhyun menarik sudut bibirnya, menemukan sebuah ide cemerlang yang terselubung dalam otaknya.

.

.

Yongri terbangun dengan suasana berbeda. Ia tak merasakan kasur empuk dan aroma kamar yang khas, ia tak mendengar lagu melow yang selalu diputar sang ayah setiap pagi, ia tak merasa sedang berada di kamarnya.

Gadis itu menerjap-nerjapkan matanya, merasa ada sebuah sinar yang terlampau terang untuk ia tatap secara langsung, ia memiringkan tubuhnya untuk menghindari sinar itu. Dan betapa terkejutnya ia kala menyadari bahwa alasnya tidur kali ini adalah dedaunan dan ranting rapuh yang telah berguguran menimpa tanah.

Yongri berusaha duduk dengan cepat, memutar kepalanya 90 derajat, menyapu pandangannya ke seluruh arah yang mampu ia jangkau. Matanya membelalak seketika, apa yang terjadi? Yang bisa ia lihat hanyalah pohon-pohon tua yang menjulang tinggi, burung-burung liar yang bertengger di ranting pohon, dan sebuah jalan setapak yang gelap di depannya.

Gadis itu meneguk ludahnya sendiri, dicubitnya pipi dan kakinya dengan kencang, berharap bahwa ini hanyalah mimpi di siang bolong, dan ia dapat kembali lagi ke rumahnya yang aman. Namun dugaannya salah. Ini bukanlah mimpi, ini kenyataan !

Tiba-tiba telinganya berdenging cukup kencang, merasa namanya disebut secara berkala dengan dingin, membuat kepalanya berdenyut, membuat gadis itu menjambak rambut panjangnya sendiri, mulai merasa kesakitan. Ia mencoba berdiri, mencoba keluar dari hutan yang sama sekali tak dikenalnya.

Yongri. Yongri. Yongri.

Denyutan di kepalanya semakin terasa.

Dengan langkah terseok dan selalu terlihat hampir terjatuh, Yongri menyusuri jalan setapak itu. Entah mengapa ia merasakan rasa sakit disekujur tubuhnya, padahal seingatnya, ia tak melakukan apapun sebelumnya.

Yongri mulai mencium aroma menyengat yang begitu ia benci, aroma menyengat yang sangat ia ingat walau gadis itu tak mau mengingatnnya. Lollipop.

Kedua matanya membelalak lagi, bagaimana bisa ada sebuah lollipop di dalam hutan? Namun Yongri sanggup bersumpah bahwa aroma itu adalah lollipop, hidungnya terlalu sensitif untuk dibohongi. Ya. Lollipop. Sejenis permen yang begitu ia benci, begitu ia.. takuti.

Langkah Yongri mulai tak beraturan, gadis itu bahkan tak bisa mengontrol emosinya. Ia takut. Bukan karena gelapnya hutan, bukan karena suara-suara binatang, dan bukan karena suara binatang, tapi aroma lollipop yang terlampau kuat.

“Lee Yongri.” Sebuah suara berat mengagetkan Yongri, entah mengapa gadis itu bisa tertarik terhadap hal lain kala phobianya mulai kambuh. Yang namanya dipanggil menebarkan pandangannya ke segala arah, mencari sosok yang menyebut namanya tadi. Tapi nihil. Ia tak menemukan apapun kecuali beberapa ekor burung yang tiba-tiba terbang dari pohon yang disinggahinya. Dan sejak saat inilah, Yongri baru menyadari bahwa dirinya benar-benar sendiri.

Yongri merasakan tubuhnya mulai tak normal, gadis itu berlari kembali kala merasa melihat bayang-bayang lollipop berlumur darah yang tiba-tiba muncul tepat di depan matanya. Jantung gadis itu berpacu lebih kencang. Aroma gula khas permen, pewarna dan perisa makanan, bercampur aduk bersama bau darah, membuat Yongri nyaris pingsan ketakutan.

“Rasakan itu, Yongri.”

Suara tadi terdengar kembali, kali ini seakan menggelitik bulu kuduknya. Yongri memutar tubuhnya dengan lambat, mencari sumber suara yang sampai saat ini belum diketahuinya.

“Rasakan ketakutan yang menyelimutimu, mengganggumu, menguasaimu,”

Yongri menengadahkan kepalanya menghadap langit, merasakan awan gelap yang bergerak mengikuti dirinya. Sementara ia mulai terpengaruh dengan suara itu, sementara pening di kepalanya mulai tak tertahan, sementara ia mulai merasakan tusukan dalam dadanya.

“Arrghh..” Yongri mengerang sakit. Gadis itu menutup daun telinganya dengan kedua tangannya, tak mau mendengarkan suara itu lagi.

Tak terasa, langkah kecilnya semakin cepat dan cepat.

“Ingatlah saat cinta dan kebahagiaanmu musnah di sulut api, ingatlah saat napasmu direnggut kesedihan. Ingatlah itu semua,  rasakan, abadikan, jangan lepaskan. Terus hayati hingga kau tak sanggup menampungnya, hingga kau tak sanggup menahannya, hingga kau ingin meledak karenanya,”

Tubuh Yongri bermandikan keringat dingin, gadis itu berlari semakin kencang bersama napasnya yang memburu. Ia berlari tak tau arah bersama aroma lollipop yang bercampur dengan oksigen yang ditariknya.

“Hhh.. hhh..”

Ia takut, sedih, marah, resah, semuanya.

Yongri nyaris terperosok ke dalam jurang yang curam jikalau ia tak dapat mengendalikan laju larinya. Gadis itu mencoba mengatur napas dan detakan jantungnya hingga sebuah suara mengagetkannya lagi. Kali ini terdengar lebih keras, jelas, “Apa kabar..” dan menggantung.

Yongri membalikkan tubuhnya, mencari tau siapa kah yang tadi bersuara tak jelas, dan irisnya berhasil membesar kala melihat sesosok lelaki tegap di hadapannya.

“,Lee Yongri?” lanjut pemilik suara itu.

Sejurus kemudian, si lelaki mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, sesuata yang sangat ia benci, sesuatu yang sangat ia hindari, dan sesuatu yang sangat.. ia takuti.

“Bb.. Baek.. Baekhyun?”

Dengan sekali hentakan, Baekhyun berhasil menjerumuskan Yongri ke dalam jurang yang dalam hingga terdengar sebuah teriakan memekik dari Yongri.

“Tepat sekali,” balas lelaki yang namanya disebut Yongri, mengulum lollipop yang tadi digenggamnya, dan berbalik pergi.

Tamatkah kisah LeeYongri?

EPILOG

Sebuah langkah kaki membelah lorong gelap yang lengang, langkah itu terdengar lamban dan ringan. Sang pemilik langkah berbelok ke kanan, menuju lorong yang lebih lengang.

Suasana mencekam semakin terasa bersamaan dengan lampu redup yang terlihat nyaris berhenti menyala. Namun pria bertubuh tegap dan besar itu tak gentar sedikit pun, walau aroma hampa terus menggerayapinya.

Klek,

Pintu itu seolah terbuka dengan sendirinya kala si lelaki sampai di depannya, seolah mempersilakan tuannya masuk ke dalam ruangan itu.

Seorang gadis meringkuk di sudut ruangan, pandangan kosong dan wajah pucat semakin jelas seiring dengan waktu yang merangkak lambat.

Ruangan serba putih, dengan suhu 21 derajat celcius. Tiada benda apapun yang berwarna lain selain anggota tubuh gadis tersebut. Tiada kehidupan yang lain selain gadis itu. Tiada aroma lain kecuali bau gadis itu. Tiada karbondioksida yang lain kecuali hembusan napas gadis itu.

Menyadari seseorang membuka pintu, si gadis menengadahkan kepalanya, meneguk ludahnya beberapa kali. Sebuah guratan terlihat jelas di keningnya, wajahnya semakin pasi, bahkan kau akan mengira bahwa ia sudah mati. Gadis itu semakin menempelkan tubuhnya ke dinding, menghindari orang tadi walau tak mungkin.

Namun suara langkah itu semakin keras, jelas, dan mengganggu pikiran sang gadis. Ia dongakkan kepalanya lagi, nyaris membuat bola matanya meloncat kala memandang seorang lelaki bertubuh tegap, memakai kemeja biru, celana jeans yang kini hanya terpaut beberapa inci di depannya.

Lelaki itu berjongkok, mengangkat dagu si gadis agar bisa membalas tatapannya dengan matanya yang berair. Si lelaki mengecup bibir itu singkat, mengambil sesuatu dari balik punggungnya, dan memaksakan benda itu masuk ke dalam mulut si gadis.

Lollipop.

“AAAAAAAAAAAAAAAA !!!”

A Respected Egoisme

Saran, kritik, dll bisa langsung comment di bawah atau mention @helmyshin1, big thanks guys *deepbow

 

Best Regards,

 

helmyshin1

Iklan

62 pemikiran pada “A Respected Egoisme

  1. KEREN BANGET THOR SUMPAH
    tapi kenapa Baek juga mbunuh Chanyeol jg? T.T
    Ini pertama kalinya aku bc fic psychology karena kepo, dan i have no regret
    Bahasanya mendalam dan aku bener bener feel
    AAH SARANGHAEYO AUTHOR ~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s