Cherry Blossoms

Author             : Inhi_Park

Main casts       : Lee Yeonhi & Do Kyungsoo a.k.a. D.O

Length             : Oneshoot

Genre              : Romance

Rating             : PG-12

Summary         :

“Apa yang akan kau lakukan jika getaran asmara yang dulu terasa indah kini sudah tak mampu lagi menghangatkan hatimu?”

PROLOG

“Apa yang akan kau lakukan jika getaran asmara yang dulu terasa indah kini sudah tak mampu lagi menghangatkan hatimu?”

Itu adalah sebuah pertanyaan yang sedang bergelut dalam kepalaku saat ini. pertanyaan yang tak kunjung ku temukan jawabannya. Pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa ia tiba-tiba muncul ke permukaan. Yang ku tahu adalah, itu yang sedang kurasakan saat ini.

 

(Yeonhi’s side)

Penglihatanku di penuhi warna merah jambu yang sangat memanjakan mata. Berkali-kali aku menarik nafas dalam-dalam, menikmati udara yang sangat menyejukkan. Ini yang kusukai dari musim semi. Saat udara mulai kembali menghangat, warna-warna yang sempat terselimuti putihnya salju mulai menampakkan lagi pesonanya dan saat anak-anak kecil mulai berani bermain di luar setelah mengurung diri di rumah selama musim dingin. Tapi yang terbaik dari semua itu adalah bunga sakura yang mulai bermekaran.

Dengan berbekal kamera digital kesayanganku, aku berjalan sendirian menyusuri jalanan yang tidak begitu ramai. Di kanan dan kiriku berjejer rapi barisan pohon sakura yang sepertinya sudah cukup tua namun masih berbunga dengan sangat indahnya. Ada juga keluarga-keluarga yang sedang menikmati saat-saat indah ini dengan menggelar alas di bawah pohon yang tengah berbunga itu sambil menyantap bekal yang mereka bawa.

Senyum sinis terukir tipis di bibirku saat kulihat beberapa pasang sejoli terlihat sedang berjalan bergandengan tangan sambil mengobrol. Mesra.

Dulu, aku juga sama seperti mereka. Aku adalah seorang gadis yang menikmati indahnya musim semi dalam rangkulan seorang pria yang sangat dicintainya. Tapi coba kau lihat aku sekarang. Aku sendirian.

Sejujurnya saat ini aku sedang melarikan diri. Bukan melarikan diri dari rumah atau dari orang tuaku, melainkan dari kisah cintaku.

Semua orang yang mengenalku akan mengatakan kalau aku adalah orang yang paling beruntung dalam masalah percintaan. Bagaimana tidak, aku yang seorang gadis biasa bisa secara ajaib membuat seorang namja yang menurutku dan menurut kebanyakan orang sangatlah luar biasa.

Namja itu adalah seorang namja yang sangat baik. Dia cukup terkenal, ah tidak, sangat terkenal di lingkungan sekolah. Dia di kenal bukan hanya karena prestasi akademiknya saja, tapi juga prestasi non-akademiknya. Meski orangnya cukup pendiam, tapi dia memiliki banyak teman dan tentu saja penggemar.

Sekarang kau pasti bertanya ‘lalu kenapa aku melarikan diri dari kisah yang sempurna itu?’

Jawabannya, ‘entahlah.’

Ya, aku juga tidak tahu. Hanya saja seperti yang kukatakan diatas. Dia namja yang baik. Sangat baik. Bahkan terlalu baik menurutku.

Ku langkahkan lagi kaki menyusuri jalanan yang terlihat semakin ramai. Beberapa anak kecil terlihat berlarian di taman yang kini bernuansa merah muda itu. Merasa tertarik melihat keceriaan anak-anak tersebut, aku memutuskan untuk berhenti berjalan dan mengambil beberapa gambar mereka.

Saat tanganku bergerak mengangkat kamera yang terkalung di leherku itu, indra penglihatanku menangkap sesuatu yang memantulkan cahaya keperakan dari pergelangan tanganku. Gerakan tanganku seketika berhenti. Sekarang mataku malah intens memperhatikan gelang perak pemberiannya di hari ulang tahunku yang ke 16.

“Saengil cukhae chagiya…” Hari itu ulang tahunku. Ia mendatangi kelasku sesaat setelah bel pulang berbunyi. Ia melingkarkan sebuah gelang perak dengan gantungan berbentuk bintang di sekelilingnya. “Maaf jika aku tidak bisa memberikan apa yang kau harapkan.”

“Aniya Oppa. Ini cantik. Aku suka…”Kataku sambil memandangi gelang pemberiannya yang sungguh indah.

“Kau tahu, kenapa aku memberimu gelang dengan banyak bintang?”

Aku menggeleng pelan.

“Aku tahu kau takut gelap. Dan kau tahu kan kalau bintang itu memiliki cahayanya sendiri?” Ucapnya. “Aku ingin bintang-bintang itu selalu memberimu cahaya disaat kamu merasa takut.”

Hah… Begitulah, semua yang dilakukannya selalu sanggup membuatku meleleh seketika. Namun karena sejuta kebaikan yang dia berikan padaku, seringkali aku merasa terlalu beruntung. Ingin rasanya aku merasakan hubungan yang seperti teman-temanku jalani. Beberapa dari mereka pernah mengeluh padaku bahwa ia kesal pacarnya ingkar janji, beberapa juga bercerita bagaimana mereka bertengkar karena pacarnya melirik yeoja lain.

Aku sangat iri pada mereka. Bukan maksudku ingin dikhianati atau dikecewakan oleh namjaku, hanya saja hubungan mereka terlihat lebih berwarna. Tidak hanya hitam dan putih seperti hubunganku.

Beberapa kali aku mencoba untuk sekedar membuat namjaku kesal padaku, tapi itu sia-sia. Pernah juga suatu hari, seorang teman menyarankanku untuk mengetes ketulusan namjaku itu. Dan bodohnya aku menuruti usulnya. Saat itu, kami –aku dan namjaku- berjanji untuk bertemu di taman dekat sekolah. Kami berjanji bertemu sekitar jam 4 sore. Dan atas usul temanku, aku akan dengan sengaja datang terlambat.

Kalau boleh jujur, alasan lain kenapa aku melakukannya adalah karena aku sangat ingin melihatnya marah. Kau tahu, sudah hampir 2 tahun kami menjalin hubungan, tak pernah sekalipun dia marah padaku. Separah apapun ulah yang ku lakukan, dia selalu berhasil meredam emosinya. Aku sendiri heran, sebenarnya dia manusia atau bukan.

Dengan unsur kesengajaan, aku membiarkan namjaku menunggu lama. Sangat lama. Kami berjanji bertemu jam 4, tapi aku baru beranjak dari rumah menuju tempat janjian kami sekitar pukul 9. Saat itu aku sangat berharap dia sudah tidak ada disana karena malam itu salju turun. Aku sangat berharap dia sudah pergi jauh sebelum aku datang dan besok dia akan menegurku lalu aku akan minta maaf padanya, maka aku akan merasa memiliki pacar seorang manusia biasa.

Tapi ternyata Tuhan tidak mendengar harapanku. Di salah satu bangku kayu, aku melihat seorang namja itu terduduk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Itu namjaku.

Dengan tergesa aku menghampirinya. Dia membalikkan tubuhnya saat aku berada tepat di belakangnya. Wajahnya pucat dan bibirnya berwarna kebiruan.

“Oppa…” kataku dengan nada khawatir.

Kepalaku tertunduk dan mataku terpejam, siap menerima kemungkinan terburuk. Kemungkinan dia akan memarahiku, membentakku atau bahkan meminta putus saat itu juga. Tapi itu tidak terjadi.

Seketika aku merasa seperti sedang berada di pusat kutub terdingin. Tubuh yang sudah hampir membeku itu memelukku.

“Kau kemana saja? Kenapa tidak bisa dihubungi? Kau tahu, aku mengkhawatirkanmu. Aku sudah hampir gila menunggumu disini…”

Itu yang dia katakan. Bukannya memarahiku yang telah membuatnya menunggu, dia justru mengkhawatirkan aku. Dan saat itu aku tahu kalau dia bukan manusia. Dia malaikat dengan hati yang super baik.

Nafas dalam dan berat ku hembuskan pelan-pelan. Aku tersenyum getir. Sekarang rasanya hatiku sakit dan mataku memanas. Memikirkannya membuatku mengingat semua yang kulakukan padanya belakangan ini.

Aku jahat… Oppa, mianhae…

(D.O’s side)

Di saat bunga-bunga berwarna putih bersemu merah itu mulai mekar, maka aku selalu merasa memiliki harapan baru. Bunga sakura seringkali di jadikan filosofi sebagai kehidupan yang tidak abadi. Periode mekar bunga sakura memang cukup singkat, hanya sekitar satu bulan setelah mereka mekar pada awal bulan April, mereka akan kembali gugur berjatuhan dari dahannya. Dan untuk melihatnya kembali bermekaran, kita harus menunggu selama sebelas bulan.

Dan melihat bunga sakura yang sedang bermekaran seperti ini, mengingatkanku pada sesosok gadis yang kutemui di bawah pohon sakura ini 2 tahun lalu. Saat itu ia sedang dengan asyiknya menikmati sakura yang baru bermekaran. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar. Wajahnya menengadah ke atas dengan mata yang tertutup rapat.  Dan dengan senyum yang terukir manis dibibirnya, ia bergerak berputar-putar, persis seperti anak kecil.

Dia gadis dengan senyum paling tulus yang pernah kulihat. Dia gadis yang menjadi alasanku untuk tersenyum setiap hari. Dia satu-satunya gadis yang demi dirinyalah aku akan sanggup melakukan apapun. Dia gadisku.

(Yeonhi’s side)

Dari kejauhan aku melihat bayangan seorang namja yang sedang berdiri menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon sakura besar yang terletak di tengah-tengah taman. Aku tahu siapa dia. Jelas saja aku sangat mengenal siluet tubuh namja itu karena ia terlihat mengenakan jaket berwarna abu-abu, jaket pemberianku saat Anniversary kami yang pertama. Masih terrekam jelas saat ia bilang kalau jaket itu akan menjadi satu-satunya barang kesayangannya.

Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menghampirinya. Saat jarak kami hanya tinggal beberapa langkah, namja itu membalikkan badannya karena tersadar akan kehadiranku.

“Oppa…” Pekikku pelan.

Aku berlari menghambur ke pelukannya lalu menenggelamkan wajahku ke dalam dadanya.

“Oppa… Nan neomu bogoshippo.” Kataku terisak.

(D.O’s side)

Refleks ku balikkan badan saat terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Belum sempat ku tangkap sempurna bayangan wajah orang yang berdiri di hadapanku itu, tiba-tiba ia berlari dan memelukku. Dan sekarang aku tahu siapa gadis yang tiba-tiba memelukku itu. Lee Yeonhi.

“Oppa… Nan neomu bogoshippo.” Katanya pelan. Suaranya lebih terdengar seperti bisikan bagiku. Dan aku bisa merasakan kalau ia berkata sambil menangis.

“Sshhh… Kau kenapa chagi?” Tanganku bergerak hendak mengangkat kepalanya, namun ia menggeleng keras.

Gadis bertubuh mungil itu semakin mengencangkan pelukannya. “Mianhae oppa…”. Hanya kata-kata itu yang sanggup tertangkap olehku dari sela-sela isakannya.

“Ne, gwenchana…” Meski aku tidak mengerti maksud ucapannya, tapi semoga itu bisa membuatnya lebih tenang.

Ku usap pelan kepalanya yang kini berada didekapanku. Wangi mirip bunga sakura yang khas menyeruak saat ku cium puncak kepalanya. Aku tersenyum. Gadis manisku sudah kembali.

 

EPILOG

Maka jika seseorang bertanya padaku “Apa yang akan aku lakukan jika getaran asmara yang dulu terasa indah kini sudah tak mampu lagi menghangatkan hatiku?”, dengan tegas akan ku jawab “Aku akan dengan sekuat tenaga bertahan demi keindahan yang lebih indah yang akan aku temui di ujung sana.”

_END_

Anyeong readers…

Maaf banget yaa udah bikin kalian baca cerita yang ga jelas dan ga mutu kayak begini… #bow

Author ga tau harus nyalurin kegalauan author kemana, setelah ngetik-ngetik ga jelas, eh tau-tau jadi deh nih FF yang ga jelas maksud dan tujuannya ini… hehe

Di tunggu banget kritik dan sarannya yaa chingu…

Makasih… n_n

41 pemikiran pada “Cherry Blossoms

  1. Ini cerita ada di Korea atau Jepang sih ? Judul nya “Cherry Blossoms” tapi isinya kok ‘Bunga Sakura’.
    Cherry blossoms sama Bunga Sakura tuh beda jauh, Cherry blossom itu di Korea, klo bunga Sakura itu di Jepang !

    hanya memberi tahu. Tapi bagus kok ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s