The Last Chance (Chapter 5)

Tittle                : The last Chance (chapter 5 – end)

Author             : @MayLie_

Genre              : Romance, mistery

Main Cast        : Lee Haneul (OC)

Kim Jongin / KAI (EXO K)

Lay (EXO M)

Kim Jaejoong (JYJ/TVXQ)

Other Cast       : you will found them

Haneul sangat panic dan ketakutan melihat Jongin yang sudah babak belur dan terus dipukuli oleh preman-preman itu. Tuhan tolong bantu aku batin Haneul.

“polisi!!! Polisi!!! Ada perkelahian disini” teriak seorang yeoja.

Haneul melihat seorang yeoja yang berada di ujung lorong, Haneul tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena lorong itu cukup gelap karena hari sudah semakin malam.

Preman-preman itu langsung panic dan berlari pergi meninggalkan Jongin yang terkapar ditanah dengan wajah yang babak belur. Haneul mendekati tubuh Jongin ia mengulurkan tangannya ke wajah Jongin yang memar tapi tangannya tidak dapat menyentuh wajah itu.

“Jongin-ah” isak Haneul “ireonayo”

Yeoja yang menolong Jongin tadi mendekati Jongin, ia menutup mulutnya kaget.

“apa yang harus kulakukan?” ucapnya panic.

“tolong dia” mohon Haneul.

Yeoja itu tidak mengubris ucapan Haneul karena ia tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Haneul apalagi melihat sosoknya yang merupakan adalah sosok roh.

“sebaiknya aku menolongnya” ucap yeoja itu.

Haneul tersenyum lega mendengar ucapan yeoja penolong itu. Yeoja itu membantu Jongin yang lemas dan tidak sadarkan diri itu bangun dan ia mengalungkan tangan kanan Jongin di lehernya dengan susah payah yeoja berjalan membawaa Jongin.

****

Mereka bertiga sudah berada di rumah yeoja penolong itu, rumah itu berupa apartemen yang ditinggali seorang diri. Jongin terbaring di tempat tidur yang ada di apartement yeoja penolong dan Haneul duduk di pinggir tempat tidur.

Yeoja itu membawa kompres es dari dapur lalu mulai mengompres wajah Jongin yang penuh dengan memar.

Haneul melihat yeoja itu, tadi ia tidak bisa melihat wajah yeoja itu tetapi kini ia bisa melihat yeoja itu dengan sangat jelas. Yeoja itu sangat cantik wajahnya seperti tanpa cela bisa dibilang sangat sempurna, ia memiliki rambut hitam yang lurus dan panjang.

Seketika Haneul merasakan sangat cemburu melihat yeoja yang sangat cantik itu merawat Jongin tapi segera ditepisnya perasaan itu. Ia berpikir tidak seharusnya ia memiliki perasaan cemburu seperti itu kepada seseorang yang telah menolongnya.

“apakah kau sudah sadar?” tanya yeoja itu saat Jongin mengerang kesakitan.

Perlahan Haneul bisa melihat Jongin membuka matanya. Haneul tersenyum lega melihat Jongin yang telah sadar. Mata Jongin mencari-cari keberadaan Haneul saat ia melihat sosok Haneul yang berdiri di belakang yeoja penolong itu Jongin tersenyum lembut kepada Haneul.

“gwenchanayo?” tanya yeoja itu.

Jongin menatap bingung melihat yeoja yang menurutnya sangat asing dan tidak pernah dikenalnya itu.

“neo nuguya?” tanya Jongin.

“aku Suzy, aku yang menolongmu saat dikeroyok oleh para berandalan itu” ucap yeoja yang ternyata bernama Suzy itu.

“aku akan segera pulang” ucap Jongin dingin.

Jongin beranjak bangun dengan susah payah, badannya terasa sungguh sangat sakit ia meringis merasakan perih pada luka-luka yang ada ditubuhnya. Suzy membantu Jongin bangun.

“aku bisa sendiri” ucap Jongin tetap dengan nada dingin.

Haneul menatap Jongin khawatir, Haneul merasa Jongin seharusnya tidak keras kepala dia masih butuh dirawat oleh yeoja bernama Suzy itu setidaknya hanya mengompres memar-memar yang ada di tubuh Jongin.

Jongin berjalan tertatih-tatih dan mendekati Haneul dan mengatakan sesuatu tanpa bersuara pada Haneul. Haneul bisa melihat dari gerakan bibir Jongin, Jongin mengatakan ‘Kajja’.

Haneul mengikuti Jongin dari belakang, mereka berjalan pulang. Saat mereka sampai di rumah keluarga Kim mereka disambut dengan kepanikan nyonya Kim yang kaget melihat kondisi anak satu-satunya kini sepeninggalan anak tertua mereka Kim Jaejoong.

“Jongin apa yang terjadi? Kenapa kau babak belur seperti itu?” tanya Nyonya Kim panic.

“ah.. gwenchanayo eomma, hanya luka-luka kecil” ucap Jongin.

“tapi wajah mu…”

“eomma, aku bilang tidak apa-apa” kata Jongin sebelum Nyonya Kim menyelesaikan ucapannya.

“arraseo, sebaiknya kau kompres memar-memarmu itu” ucap Nyonya Kim sepertinya dia mengerti watak anaknya yang tidak mau memperpanjang urusan.

“Song ajumma tolong bawakan kompres dingin” perintah Nyonya Kim pada pembantu keluarga Kim.

Jongin pun berjalan menuju kamarnya, tidak terlalu lama Song ajumma membawakan kompres dingin ke kamar Jongin.

Jongin segera merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Haneul menatap kompresan yang tergeletak di atas meja dan tidak digubris oleh Jongin.

“Kim Jongin ambil kompresan itu dan kompres memarmu itu” perintah Haneul dengan tegas.

“aku tidak membutuhkannya” ucap Jongin dengan mata terpejam.

Haneul bertolak pinggang tepat disamping tempat tidur Jongin.

“YA! Kau ingin membuatku marah?” tanya Haneul dengan sangat galak.

Jongin menatap Haneul dengan kesal, lalu ia berdiri dan mengambil kompresan itu. Jongin mengompres bagian-bagian wajahnya dengan asal. Haneul melihatnga dengan sangat kesal.

“kau seharusnya tidak mengompresnya dengan seperti itu” ucap Haneul dengan jengkel.

Haneul berpikir seandainya dia bukan roh dia ingin sekali merebut kompresan itu dan mengompres wajah Jongin dengan benar.

“disini, kau harusnya mengompres didaerah sini” Haneul menunjuk tulang pipi kanan Jongin yang memar “lalu disini” Haneul memindahkan telunjuknya mengarahkannya pada sudut bibir Jongin “dan disini” telunjuknya kembali berpindah dan rahang kiri Jongin.

Jongin menatap kesal pada Haneul tapi ia tetap saja mengikuti perintah-perintah Haneul dengan patuh. Jongin tidak ingin berdebat dengan Haneul karena dia tidak ingin berbicara maka dari itu ia mengikuti perkataan-perkataan Haneul.

Haneul mengawasi setiap gerakan Jongin yang mengompres dirinya sendiri. Sesekali Haneul menunjuk bagian-bagian yang harus dikompres Jongin dengan benar agar memar di tubuhnya tidak semakin parah.

“Jongin-ah” panggil Haneul.

“apa lagi?” ucap Jongin kesal.

“seharusnya kau tadi berterima kasih pada yeoja yang menolong kita tadi, terutama dia menolongmu dari orang-orang itu”

“ahh… kau ini sungguh cerewet” keluh Jongin.

“ya! Neo jinja, jika dia tidak datang kamu akan menyusulku menjadi roh” ucap Haneul.

Jongin bisa melihat Haneul sangat marah padanya, ia paling tidak bisa melihat Haneul marah terutama marah padanya.

“ne arraseo, aku akan berterima kasih padanya setelah aku sembuh”

*****

 

Jongin masuk sekolah setelah beberapa hari ia tidak masuk karena memulihkan tubuhnya yang luka-luka akibat keroyokan berandalan.

Haneul senang sekali bisa datang kesekolah hari ini karena ia ingin menyelesaikan urusannya yang harus ia selesaikan.

Haneul menyusuri lorong kelas yang sepi, ia kabur dari pengawasan Jongin karena Jongin tidak akan menyetujui tindakan yang akan dilakukannya sekarang. Mata Haneul langsung menemukan sesosok namja yang sedari tadi ia cari.

Haneul mendekati Lay yang tidak jauh darinya “ada yang harus kita bicarakan”

Lay mengangkat alisnya melihat sosok Haneul. Tanpa menunggu jaawaban Lay, Haneul langsung berjalan menuju taman belakang sekolah dan diikuti oleh Lay.

“apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Lay saat mereka sampai di taman itu.

“tolong lupakan semuanya” ucap Haneul.

“maksudmu?”

Haneul menghela napasnya “lupakan semua hal yang pernah kulakukan padamu, aku sungguh minta maaf atas semua hal yang dulu pernah ku lakukan padamu”

Lay tersenyum sinis pada Haneul “kau kira semudah itu aku melupakan kejadian-kejadian yang pernah kau lakukan hingga membuatku malu”

“mian jeongmal mianhae” mohon Haneul dengan nada memelas.

Tapi seperti yang diduga Haneul Lay tidak akan memaafkannya dengan semudah itu. Haneul berpikir ia harus mengorbankan harga dirinya agar semua masalah yang ia lakukan dulu terselesaikan dan ia tidak mau Jongin terluka lagi akibat dirinya.

Haneul menjatuhkan lututnya di atas tanah, ia berlutut didepan Lay. Lay tampak kaget melihat apa yang dilakukan oleh Haneul.

“tolong lupakan itu semua” ucap Haneul menunduk.

“kau apa yang kau lakukan? Cepat berdiri” perintah Lay.

“shirreo”

Lay menghela napas sebenarnya ia tidak terlalu dendam pada Haneul, beberapa hari yang lalu ia hanya ingin member pelajaran pada Haneul tapi tidak disangka Jongin ikut campur dan terjadilah kejadian beberapa hari yang lalu.

“baiklah” ucap Lay “berdirilah”

Haneul tersenyum lembut pada Lay dan iapun berdiri, ia merasa lega karena tidak ada lagi masalah.

“gomawo, jadi kita berteman sekarang?” tanya haneul.

Lay menatap Haneul yan terlihat sangat tulus ingin berteman dengannya “ne, kita sekarang berteman”

Haneul tertawa gembira karena walaupun ia adalah seorang roh tapi ia bisa berteman dengan orang yang dulu sempat benci padanya mungkin saat ia menjadi manusia ia tidak akan pernah mengetahui ada orang yang membencinya ia sedikit bersyukur menjadi seorang roh.

“aku akan segera kembali ke kelas” ucap Lay.

“ne chingu” Haneul tersenyum pada Lay.

Lay tersenyum pada Haneul “semoga kau cepat kembali ke tubuhmu”

“gomawo”

“dan satu lagi, cobalah jujur pada dirimu sendiri” ucap Lay.

“ne?” Haneul bingung dengan ucapan Lay tadi.

“kurasa Kim Jongin sangat mencintaimu dan begitu juga kau”

Setelah mengatakan ucapan itu Lay pergi meninggalkan Haneul sendirian.

****

 

Shinyoung berjalan menyusuri pusat kota terdapat banyak caffe dan beberapa tempat yang menjadi tempat pasangan kekasih menghabiskan waktu bersama di malam minggu seperti hari ini.

Shinyoung menghela napasnya, hari ini malam minggu dan dia berjalan sendirian di tengah-tengah keramaian pasangan kekasih. Ia sudah mengajak Jongin untuk berkencan tetapi Jongin menolaknya karena sesuatu hal yang penting.

Shinyoung merasa Jongin sekarang menjauhi dirinya, mungkin memang selama 3 bulan mereka berpacaran Jongin terkesan sangat dingin padanya tapi namja itu tidak pernah sekalipun menolak apapun yang diminta Shinyoung.

“apakah ini karena Haneul?” gumam Shinyoung.

Memang selama ini Haneul sangat berperan penting dalam hubungan Shinyoung dan Jongin. Tetapi semenjak Haneul mengalami kecelakaan Jongin mulai menjauhinya dan tidak ada waktu untuk Shinyoung.

Di lubuk hatinya Shinyoung semakin membenci Haneul, Shinyoung merasa sangat terganggu dengan adanya Haneul dulu tetapi ia selalu berprilaku baik pada Haneul demi mendapatkan hati Jongin, tetapi saat Haneul sudah hampir tidak bernyawa Haneul tetap mengganggu hidupnya dan itu membuat Shinyoung semakin membenci Haneul.

Shinyoung memasuki sebuah Caffe yang cukup sepi hanya ada beberapa pasangan kekasih berada disana. Shinyoung tersenyum hambar melihat pasangan-pasangan kekasih itu. Tetapi mata Shinyoung tertuju pada pasangan kekasih yang sangat serasi sedang duduk di sudut ruangan caffe itu.

Wajah Shinyoung memdadak menjadi sangat marah karena namja dari pasangan kekasih itu tidak lain adalah namjachingunya, Kim Jongin. Shinyoung mendekati tempat dimana Jongin duduk.

Jongin yang sedang sibuk mengaduk-ngaduk minumannya mengangkat wajahnya karena menyadari keberadaan Shinyoung.

“Shinyoung-ah” ucap Jongin dengan nada tenangnya.

Shinyoung menatap Jongin tajam “jadi ini alasannya kenapa kau tidak mau pergi bersamaku hari ini?”

“sepertinya kau salah paham Shinyoung-ah” Jongin menatap Shinyoung yang sangat marah dengan tatapan tenang.

“salah paham?” dengus Shinyoung “kau tahu, sudah lebih dari satu bulan kau mengacuhkanku Kim Jongin, aku sudah tidak tahan sebaiknya kita putus saja”

Shinyoung meraih cangkir yang berisi amerricano yang ada di atas meja lalu menyiramnya di tubuh Jongin lalu Shinyoung pergi meninggalkan Jongin yang basah akibat siraman dari Shinyoung.

“kau tidak apa-apa?” tanya Suzy khawatir.

“gwenchanayo” jawab Jongin sambil membersihkan kemejanya yang berwarna biru langit yang sekarang berwarna coklat dengan sapu tangannya.

“tidakkah kau ingin mengejarnya? Bukankah dia yeoja chingu mu?” ucap Suzy dengan nada bersalah.

Jongin tersenyum “tidak”

Suzy pun bingung mendengar ucapan Jongin tapi dia tidak ingin mencampuri masalah orang lain.

****

Haneul terkejut melihat baju Jongin yang sangat kotor saat Jongin tiba di rumah.

“kau kenapa?” tanya Haneul heran.

“ini perbuatan sahabatmu itu”

Haneul mengerutkan dahinya “maksudmu shinyoung?”

Jongin mengangguk “siapa lagi sahabatmu selain dia? Sahabat yang selalu kau berikan segalanya sampai dulu kau mengacuhkan perasaanku”

Haneul terkesiap mendengar ucapan Jongin dengan nada dingin itu. Ucapan itu langsung tepat sasaran dihati Haneul.

“lalu? Kau sudah bertemu dengan Suzy?” tanya haneul berusaha tidak terbawa suasana tadi.

“sudah, karena itulah Shinyoung menyiramku dan kami putus” ucap Jongin dengan nada datar.

“putus?” tanya Haneul.

“ia mengira aku selingkuh dengan Suzy” ucap Jongin “sudahlah aku ingin mandi” Jongin langsung masuk kedalam kamar mandi.

Haneul menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup, ia merasa senang Jongin putus dari Shinyoung, apakah ini merupakan kesempatan untuknya memperbaiki semuanya.

Haneul berjalan keluar dari kamar Jongin, ia berkeliling dilantai dua rumah itu langkahnya berhenti disebuah pintu kamar yang setengah tidak tertutup Haneul tahu itu kamar milih siapa, pemiliknya sudah tidak ada di dunia ini.

Haneul melangkahkan kakinya memasuki kamar itu ia tidak pernah memasuki kamar itu karena Jaejoong selalu melarangnya, saat memasuki kamar itu Haneul langsung terkesiap dan menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangannya bergetar dan air matanya turun kepipinya yang mulus.

Kamar yang sangat sederhana dan elegan yang dindingnya dipenuhi dengan banyak foto seorang yeoja yang diambil secara diam-diam, yeoja yang berada didalam foto-foto itu adalah Lee Haneul.

Haneul melangkahkan kakinya semakin memasuki kamar Jaejoong langkahnya terhenti didepan sebuah kanvas, di kanvas itu terlukis seorang yeoja, yeoja itu adalah yeoja yang berada disetiap foto yang memenuhi kamar Jaejoong.

Haneul menjatuhkan tubuhnya dilantai kamar itu dan menagis, ia merasa sangat bersalah pada Jaejoong.

“apa yang kau lakukan disini?”

Haneul menoleh kearah pintu kamar disana berdiri sosok Jongin.

“aku… aku tidak tahu bahwa Jaejoong oppa..” ucap Haneul tercekat ia tidak bisa melanjutkan ucapannya.

“dia sangat mencintaimu, kami berdua sangat mencintaimu” ucap Jongin.

“sungguh aku tidak pantas mendapatkan itu semua dari kalian berdua” ucap Haneul terisak.

Jongin mendekati Haneul “aku mencintaimu Lee Haneul”

Haneul menggelengkan kepalanya “jangan ucapkan kalimat itu!” Haneul berteriak “kau akan menyesalinya nanti, karena akulah yang membunuh Jaejoong oppa”

Flashback

Jaejoong dan Haneul keluar dari hotel dimana pesta pertunangan mereka diadakan, pesta pertunangan itu baru saja berakhir.

“aku akan pengantarkan Haneul pulang” ucap Jaejoong pada kedua orang tuanya dan kedua orang tua Haneul.

Haneul merasa tidak nyaman karena Jaejoong memelu pinggangnya karena Jongin menatap haneul dengan tatapan sangat dingin dan tajam.

“baiklah kalau begitu, kalian hati-hatilah dijalan” ucap Nyonya Lee.

“Joongie antar Haneul dengan selamat” ucap Nyonya Kim.

“ne, kalau begitu kami pergi dulu” pamit Jaejoong.

Jaejoong membukakan pintu mobil untuk Haneul, Haneul masuk kedalam mobil dan melambaikan tangannya pada orang tuanya dan orang tua Jaejoong dan ia tersenyum pada Jongin tetapi Jongin tidak membalas senyumannya.

Jaejoong menjalankan mobilnya, di dalam mobil mereka berdua hanya diam, Haneul sibuk dengan pikirannya.

“aku tidak menyangka kau akan memilihku sebagai tunanganmu” kata Jaejoong memecahkan kesunyian.

Haneul menatap Jaejoong tetapi Jaejoong tetap konsentrasi mengemudikan mobilnya. Haneul menundukkan kepalanya ia merasa bersalah karena telah membohongi Jaejoong secara tidak langsung, ia merasa dirinya sungguh jahat dan dia tidak ingin menyakiti seseorang nantinya.

“oppa mianhae” ucap Haneul.

“wae?” tanya jaejoong bingung.

“mian aku membohongi mu”

“berbohong? Berbohong tentang apa?”

“aku sebenarnya mencintai Jongin” ucap Haneul.

Haneul dapat melihat wajah Jaejoong yang mengeras, Haneul tahu jika saat ini ia telah menyakiti kedua namja yang sangat penting dan berarti baginya.

“oleh karena itu aku tidak akan memilih kalian berdua” kata Haneul.

“kau…”

“aku akan pergi keluar negeri sehingga aku tidak akan bertemu dengan kalian berdua lagi” ucap haneul.

“andwe!! Kau sudah memilihku dan kau sekarang adalah milikku” bentak Jaejoong.

“oppa jangan seperti ini, aku tidak ingin kau lebih sakit karena kau tahu bahwa aku tidak mencintaimu”

“tidak aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku”

Jaejoong melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

“oppa!!!” teriak Haneul ketakutan.

Jaejoong mengarahkan mobil yang ia kendarai keluar dari jalur hingga memasuki jalur yang berlawanan arah dan sebuah truk besar dari berlawanan arah menghantam mobil mereka sehingga mobil itu terbalik dan menghancurkan mobil yang ditumpangi Jaejoong dan Haneul.

Flashback End

Jongin terpaku mendengar cerita Haneul.

“sekarang kau sudah mengetahui alasan kenapa kau harus membenciku” ucap Haneul getir.

Jongin menatap Haneul “jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu hanyalah sebuah kecelakaan”

“Tidak! Itu semua memang kesalahanku, Jangan pernah mencintaiku lagi” ucap haneul.

Haneul berjalan melewati Jongin dan keluar dari kamar Jaejoong, dengan segera Jongin mengejar Haneul. Jongin berhenti melangkahkan kakinya di depan pintu kamar Jaejoong.

Ia melihat sosok Haneul yang pudar dan kini hanya seperti kepulan asap tipis, Haneul menatap Jongin dan Haneul tersenyum lembut.

“saranghae” ucap Haneul lembut.

Jongin melihat air mata jatuh dipipi Haneul dan sosok Haneul lenyap seketika dihadapannya.

****

 

“Saranghae”

Sosok Haneul lenyap tepat dihadapan Jongin, sesaat Jongin merasa pikirannya kosong melihat sosok Haneul yang menghilang tetapi beberapa menit kemudian ia berlari keluar rumah dan mengendarai motor balapnya.

Jongin melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi, di kepalanya hanya terpikirkan satu nama yaitu Lee Haneul.

Jongin berlari di sepanjang koridor rumah sakit, ia membuka pintu kamar dimana Haneul dirawat tetapi kamar itu telah kosong tidak ada seorang pun disana termasuk tubuh Haneul.

“kemana pasien yang dirawat kamar ini?” tanya Jongin pada seorang  perawat yang kebetulan lewat.

“pasien Lee Haneul dia sedang ada diruang operasi” ucap perawat itu.

Jongin langsung melesat pergi ke ruang operasi. Kedua orang tua Haneul duduk didepan pintu ruang operasi. Kedua orang tua Haneul menyadari kehadiran Jongin disana.

“Jongin-ah” ucap Nyonya Lee sedih.

“eommonim apa yang terjadi pada Haneul?”

“tadi tiba-tiba saja kondisi tubuh Haneul melemah dan kritis” isak Nyonya Lee.

“tenanglah eommonim Haneul pasti kembali pada kita” ucap Jongin menenangkan walaupun dia tidak yakin.

Mereka semua sudah menunggu didepan ruang operasi selama 2 jam. Seorang dokter keluar dari ruang operasi dan langsung diserbu oleh Tuan Lee.

“kita hanya bisa berdoa pada Tuhan” ucap sang dokter dengan sangat pasrah.

Dokter Shin sudah sangat pasrah dengan keadaan Haneul yang sangat memburuk, hari ini dia merasa Haneul cukup beruntung karena tubuhnya yang sudah sangat lemah masih mampu bertahan.

“jadi maksud dokter…”

“Tuan Lee, kondisi tubuh anak anda sudah sangat memprihatinkan, sudah sangat lemah” desah Dokter Shin “kita hanya bisa menunggu, permisi” Dokter Shin pergi meninggalkan mereka yang terpaku didepan ruangan operasi.

 

Sudah hampir selama 2 hari Jongin terus berada disisi Haneul, kondisi Haneul masih sama saja seperti biasanya.

“Jongin-ah, sebaiknya kau pulang saja” ucap Nyonya Lee.

“nan gwenchanayo eommonim, sebaiknya eommonim dan abeonim istirahat dirumah biar aku saja yang menjaga Haneul disini” Jongin tersenyum pada kedua orang tua Haneul.

“tapi….”

“sebaiknya kau memang harus beristirahat yeobo” ucap Tuan Lee “kami akan pulang Jongin-ah”

“baiklah tolong jaga Haneul, kami akan kembali besok” ucap Nyonya Lee.

Tuan dan Nyonya Lee pun pergi dari kamar dimana Haneul dirawat. Jongin memandang wajah Haneul yang tertidur dalam keadaan koma. Jongin mengulurkan tangannya, tangannya menyusuri wajah mulus Haneul.

“haruskah kau seperti ini terus?” tanya Jongin pada Haneul yang tertidur.

Jongin menyentuh tangan Haneul dan ia menyelipkan jemarinya pada jemari Haneul di genggamnya erat tangan Haneul.

“aku akan menunggumu”

****

 

Haneul melihat keadaan sekelilingnya, ia kini berada di haparan padang rumput yang sangat luas dengan langit yang sangat biri padang rumput itu seperti tidak ada ujungnya. Haneul menemukan ada seseorang yang tidak jauh darinya dan berdiri memunggunginya. Haneul mendekati orang yang mengenakan baju serba putih itu.

“permisi” ucap Haneul.

Sosok orang berbaju putih itu menoleh dan membuat Haneul kaget, orang itu tersenyum pada Haneul.

“Joongie oppa” ucap Haneul kaget.

Jaejoong tersenyum pada Haneul “bagaimana kabarmu Haneul-ah? Kau terlihat sangat terkejut”

“oppa…”

Jaejoong tetap menunjukkan senyumannya yang sangat manis pada Haneul, Jaejoong mengelus kepala Haneul. Haneul merasa sangat senang melihat sosok Jaejoong yang sangat ia rindukan. Ia merasakan kini sosok Jaejoong yang terlihat lebih bahagia daripada dulu.

“oppa mianhae” wajah Haneul langsung berubah menjadi mendung.

“kenapa kau minta maaf padaku?”

“karena aku kau harus pergi meninggalkan semuanya”

Jaejoong menatap mata Haneul dengan sangat lembut “Haneul-ah jangan pernah salahkan dirimu, itu semua karena perbuatan ku sendiri jadi kau tidak melakukan kesalahan apapun padaku”

“tapi oppa…”

“lagi pula aku merasa bahagia disini lebih bahagia dari pada saat hidup dulu, kehidupan disini sangat tenang untukku” Jaejoong menghirup udara yang sejuk.

Jaejoong kembali memandang Haneul “jangan pernah menyalahkan dirimu, kau harus kembali kesana karena semua orang yang masih hidup di dunia masih menginginkanmu”

Haneul menyerbu masuk kepelukan Jaejoong “oppa aku pasti sangat merindukanmu”

“nadoo” Jaejoong membalas pelukkan Haneul.

“berjanjilah kau akan menjaga kedua orang tuaku dan buatlah dirimu dan Jongin bahagia dan jangan merasa bersalah padaku karena aku sudah sangat bahagia berada disini” ucap Jaejoong.

Haneul mengangguk, air matanya mengalir deras dari kedua matanya.

“sekarang aku harus pergi jagalah dirimu, dan nanti pada waktunya kita akan bertemu kembali”

Jaejoong melepaskan pelukannya dari Haneul dan berjalan menjauhi Haneul. Haneul memandang kepergian sosok Jaejoong dan bayangan itu dengan cepat hilang dari pandangannya.

“Lee Haneul-ssi” panggil seseorang dari belakang Haneul dengan cepat Haneul membalikkna badannya untuk mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Tao” ucap Haneul saat melihat sosok dewa kematian yang dulu ditemuinya, sosok itu masih menggunakan jubah yang besar berwarna hitam dengan menggunakan tudung yang hampir menutupi wajahnya.

Tao menyeringai pada Haneul “jadi bagaimana keputusanmu?”

“aku ingin kembali” jawab Haneul tanpa keraguan.

“kau sudah menemukan alasanmu untuk kembali?” kekeh Tao.

Haneul mengangguk mantap “aku menemukan alasanku hidup, aku ingin membuat seseorang bahagia karena dia  selama ini menderita karenaku”

Tao menganggukkan kepalanya mengerti “Kim Jongin, dialah alasan kami memberikannmu kesempatan dan juga agar kau tidak berbohong pada perasaanmu dan membuat hati banyak orang sakit karena ulahmu seperti yang dulu kau lakukan”

“banyak orang sakit karenaku?” tanya Haneul.

“ya, Kim Jongin dia tersakiti karena kau tidak jujur pada dirimu sendiri, Kim Jaejoong kau berbohong tentang perasaanmu padanya hingga ia memiliki harapan yang besar terhadap cintamu, dan yang terakhir Park Shinyoung ia menjadi semakin memiliki niat jahat karenamu” ucap Tao panjang lebar.

Tao tersenyum pada Haneul “kembalilah, dan jangan lupa mulai sekarang jujurlah pada perasaanmu karena ini semua kesempatan terakhir yang bisa kami beri padamu”

Haneul mengangguk dan tersenyum “gomawo Tao-ssi”

Tao melangkah pergi menjauhi Haneul dan tiba-tiba Haneul teringat sesuatu.

“Tao” panggil Haneul dan sontak Tao menoleh pada Haneul “aku ingin tahu satu hal”

Tao mengangkat alisnya “apa?”

“kenapa Jongin bisa melihat sosokku sebagai roh?” tanya Haneul.

“karena Jongin memiliki suatu ikatan yang kuat denganmu, semacam perasaan yang sangat mendalam” ucap Tao lalu ia pergi dan menghilang dari Handapan Haneul.

****

 

Haneul membuka matanya berlahan, matanya sungguh sangat berat dan ia bisa mendengar suara deteksi jantung yang sangat teratur. Aku kembali pikir Haneul. Matanya melihat sosok namja yang selama ini ia cintai berada di sebelah tempat tidurnya, namja itu tertidur.

Haneul menggerakkan tangannya yang ada dalam genggaman tangan Jongin. Jongin merasakan gerakan tangan Haneul yang ada dalam genggamannya sehingga membuatnya terbangun dari tidurnya.

Jongin mengangkat kepalanya dan ia langsung kaget melihat Haneul yang sudah sadar. Haneul tersenyum lembut pada Jongin. Haneul menarik tangannya yang berada didalam jenggaman Jongin dan menyuruh Jongin agar mendekatkan dirinya pada Haneul.

“Saranghae” bisik Haneul.

Jongin terkejut mendengar ucapan dari Haneul lalu ia tersenyum senang mendengar ucapan yeoja itu.

“nadoo” lalu Jongin mengecup kening Haneul dengan lembut.

****

 

Haneul duduk disuatu ruangan dengar rasa bahagia bercampur dengan rasa gugup. Ia mengenakan gaun pengantin putih yang sangat indah kedua tangannya menggenggam sebuket mawar putih yang sangat indah yang merupakan bunga kesukaannya.

Pintu ruangan itu dibuka dari balik pintu muncul seorang namja tampan yang menggunakan setelan jans yang sangat rapi. Haneul tersenyum gembira melihat namja itu.

“Lay” Sapa Haneul senang.

Lay tersenyum “waah… kau sungguh cantik Haneul-ah”

“hehehe… gomawo” ucap Haneul, mata Haneul tertuju pada seorang yeoja yang datang bersama dengan Lay yeoja itu terlihat tidak asing lagi bagi Haneul.

“annyeonghaseyo, Suzy imnida” ucap Suzy memperkenalkan dirinya.

Haneul tersenyum tentu saja Suzy tidak mengenalnya karena saat Haneul mengenalnya ia masih dalam sosok roh.

“annyeong Haneul imnida” Haneul menatap Lay “yeoja chingu mu?”

“iya, kami baru resmi berpacaran dua bulan yang lalu” ucap Lay.

Ternyata dunia ini sangat sempit pikir Haneul.

“selamat atas pernihakanmu Haneul-ah” ucap Lay tulus.

“gomawo Lay ini semua juga berkat dirimu” ucap Lay.

“baiklah, sepertinya acaranya akan segera dimulai, kami pergi dulu” ucap Lay, mereka berduapun keluar dari ruangan Haneul.

Haneul kembali sendiri di ruangan itu menunggu acara dimulai. Haneul memandang buket bunganya. Seseorang masuk kedalam ruangannya yang membuat Haneul kaget.

“kau.. kenapa kau datang kesini?” tanya Haneul heran.

Jongin tersernyum melihat Haneul “karena aku ingin melihat pengantinku”

Jongin menggunakan tuxedo berwarna hitam dan namja itu terlihat sangat tampan. Haneul tersenyum melihat namja yang sangat ia cintai dan kini akan menikah dengannya.

“aku sangat bersyukur kau kembali padaku” ucap Jongin.

“bagaiman jika aku tidak kembali?” tanya Haneul.

“aku akan menyusulmu”

Haneul memandang Jongin yang menatapnya dengan lembut, Haneul melayangkan satu jitakan dikepala Jongin hingga membuat Jongin mengerang kesakitan.

“kau jangan pernah lakukan hal seperti itu” ucap Haneul marah.

“tidak, aku tidak akan melakukannya karena kini kau sudah bersamaku dan menjadi milikku” kata Jongin.

Jongin mengulurkan tangannya pada Haneul dan Haneul menerima uluran tangan itu. Haneul berdiri dari duduknya dengan bantuan Jongin. Tubuh mereka kini sangat dekat, Jongin mengulurkan tangannya menyentuh pipi mulus Haneul dan ia mendekatkan bibirnya pada bibir Haneul lalu mengecupnya dengan lembut.

END

Annyeong gimana critanya?

Tambah aneh kan?

Author bener-bener gak punya ide lagi buat lanjutin critanya ini, jadi berakhir seperti ini deh…

Sebenernya part ini harusnya dibagi jadi 2 chapter jadi tamatnya harusnya chapter 6, tapi karena suatu hal author putuskan dijadiin satu chapter hingga sampai ending.

Terimakasih buat admin yang udah publish FF ini sampai ending, makasi juga buat para reader yang yang udah ngikutin FF ini sampai FF ini tamat.

Jangan lupa tunggu FF author selanjutnya…

*bow*

37 pemikiran pada “The Last Chance (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s