When I’m Become A Yeoja (Chapter 2)

Author: minnieasmilkyway & Scandanavia

Title: When I’m Become a Yeoja (Chapter 2)

 

All Cast:

EXO-K’s Kris | EXO-K’s Chanyeol | EXO-M’s Lay | EXO-K’s Kai | EXO-K’s Sehun | EXO-M’s Tao (Fem!Tao) > Hwang JinRi | Song MiCha (OC) | EXO-K’s Suho | Find it by yourself^^!

 

Genre: Romance, Gender Switch

Length: Multi Chapter

 

Disclaimer: All Cast belongs to God and they parents! (Except: OC is mine). The plot is pure from our brain!^^

 

Summary: Tao sangat menyukai sahabatnya sejak kecil itu. Namun, men to men atau yaoi itu adalah tindakan yang dilarang. Saat muncul cahaya yang berpendar itu, ia berharap menjadi yeoja seutuhnya. Saat harapannya terkabul, akankah Tao berhasil menjalani hidup barunya dan mendapatkan namja incarannya?

 

HAPPY READING! 😀

*Tao (JinRi) PoV*

“Aku… Park Chanyeol” ucapnya.

Aku hanya terdiam mendengar ia menyebutkan namanya.

“Hey! Kau terkesima melihatku menyebutkan nama, huh?”

“Geer banget sih!-___-” tolakku.

Namja yang mengenalkan dirinya dengan nama Park Chanyeol itu semakin dekat dengan tubuhku.

“Kau manis, sayangnya dandananmu itu terlalu kamseupay” jelasnya.

“Kenapa kau repot sekali, sih? Ini tubuhku, dan akulah yang menjalankannya Tuan!” seruku.

Tap tap tap

Dari balik sebuah tembok, muncullah seorang namja yang wajahnya nampak familiar. Yah, dia yang MiCha bilang bernama Lay.

“Lay Hyung?” ucap Chanyeol sambil terus memandangi langkah kaki yang diciptakan oleh namja yang dipanggilnya.

“Kenapa kalian ribut sekali, huh? Mengganggu ketenanganku tahu!” jelas Lay kesal.

“Kembalilah ke ruanganmu” pinta Lay dan Chanyeol hanya bisa menuruti kata-kata hyungnya itu dan bergegas meninggalkan atap bangunan Chungdam University.

“Jwesonghamnida karena aku dan dia mengganggu ketenanganmu. Jeongmal jwesonghamnida” ucapku sambil membungkuk 90º ke arahnya.

“Bangunlah” balasnya singkat.

“Gamsahamnida sunbae”

“Untuk apa kau berterimakasih padaku? Bahkan, aku tidak melakukan apa-apa padamu” jelasnya.

“A-aaa itu tentang Chanyeol-ssi. Ia… sepertinya menyebalkan” tuturku.

“Eumm.. sudah kubilang kan. Jangan membicarakan seseorang di belakang mereka, ne?”

“Jwesonghamnida, sunbae”

“Nan gwaenchana, JinRi-ssi” balasnya yang kemudian tersenyum ke arahku.

“Ayo turun” ajaknya kemudian.

Kamipun menuruni bangunan Chungdam University. Dengan aku yang tepat berada beberapa langkah di belakang tubuh Lay Sunbae.

“Ohya, kau mahasiswi baru jurusan hukum kan?” tanya Lay seolah ia ingin memastikan tentangku.

“Sebegitu jelaskah desas-desus kehadiranku disini, hm?”

“Haha” ia tertawa?!

“Berarti kau sekelas dengan Sehun dan Kai” ucapnya kemudian.

“Eh? Sehun? Kai? Maksudmu namja yang berjalan paling belakang tadi?” tanyaku memastikan.

“Begitulah” ucap Lay singkat dan kemudian ia berbelok ke kanan. Sedangkan aku, menuju ruangan kelas yang akan aku singgahi. Hal itu, mengharuskanku berbelok ke kiri dan berpisah dengan Lay Sunbae.

Ruangan Kelas

Saat sampai di kelas, jantungku berdegup kencang. Ternyata, pelajaran sudah dimulai. Song MiCha mengarahkan pandangan cemas ke arahku. Karena, dosen yang sedang mengajar sekarang terkenal akan kegalakannya.

“Ya! Nona Song, ada apa?” suara dosen Kim membahana di seluruh ruangan kelas.

“A..dosen Kim. Aa..”

Demi menyelamatkan kecanggungan yang dibuat oleh dosen Kim, akupun memberanikan diri mengetuk pintu ruangan kelas tersebut.

“Sillyehamnida, dosen Kim” ucapku setelah mengakhiri ketukan pintu yang kubuat berkali-kali.

“Kau itu mahasiswi baru bernama Hwang JinRi, benar begitu?” tanya dosen Kim yang benar-benar membuatku terbujur kaku seketika.

*Other Side, by Sehun*

Aku dan Kai hanya menahan cekikikan kami berdua. Sebuah tontonan baru tengah berlangsung di depan kelas. Seorang mahasiswi baru yang datang terlambat, merupakan hal yang menarik.

“Jwesonghamnida dosen Kim” ucap yeoja tersebut sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali.

“Kali ini, aku maafkan kesalahanmu itu. Sekali lagi, kau berbuat seperti itu, kau tidak boleh mengikuti pelajaranku lagi” ancam dosen Kim setelahnya.

Yeoja tersebut kini memasuki ruangan kelas.

“Perkenalkan dirimu terlebih dahulu” pinta dosen Kim yang membuat yeoja tersebut mengangguk secara otomatis.

“Aku punya ide gila” bisikku pada Kai.

“Apa?” tanya Kai singkat dan reflek, iapun mendekatkan telinganya ke wajahku.

“Bagaimana kalau kali ini, dia yang jadi bahan taruhannya?”

“Eum? Siapa takut!” balas Kai bersemangat.

“Kalau aku menang, kau bersedia untuk memberi salah satu studio dance-mu tidak?”

“He? Tidak akan! Memangnya, kau mau memberiku apa jika aku yang menang?” tanya Kai balik.

“Emm… bagaimana lukisan termahal koleksiku?” tawarku kemudian.

“Baik, kuterima” balas Kai.

*Tao (JinRi) PoV*

“Joneun Huang Zi, err Hwang JinRi imnida. Bangapseumnida!”

Saat aku sedang memperkenalkan diri, dua orang namja yang berada di hadapanku membuat mataku sedikit mendelik ke arah mereka. Ternyata, Lay Sunbae tidak berbohong padaku.

Setelah dipersilahkan duduk oleh dosen Kim, akupun melangkahkan kakiku ke arah kursi kosong yang berada tepat dua kursi di belakang Song MiCha.

Pluuuk.

Aku merasakan seseorang menimpuk kepalaku dengan sesuatu yang tidak terlalu keras. Saat aku melihat ke arah kanan bawah, aku melihat sebuah gumpalan kertas berukuran sedang yang tadi sempat mengarah ke arahku. Aku menengok ke belakang dan melihat namja yang kuyakini bernama Sehun dan Kai melambaikan tangan ke arahku. Apa yang terjadi dengan mereka?!

= skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip =

Song MiCha mengarahkan dirinya ke kantin. Namun, aku lebih suka merelaksasikan diriku di taman. Tepat seperti saat sebelum aku menjadi yeoja. Bayangan itu masih terlintas indah di benakku. Kris yang sedang berjalan ke arahku dan berbicara padaku bahwa ia ingin memiliki pacar. Tapi, sekarang kehidupanku sudah berbeda. Aku menjadi seorang Hwang JinRi. Bagaimana aku harus menyikapinya ya?

“Kau sendirian, nona?” ucap seorang namja yang bahkan suaranya telah kukenal meski baru kudengar sejak saat pertama kali memasuki kelas hukum pagi ini.

“Se-Sehun? K-Kai?”

“Ne^^” balas mereka dengan melemparkan seulas senyum terindah versi mereka.

“Boleh kutemani?” tanya Sehun.

“Yak! Lebih baik denganku saja” ucap Kai tak mau kalah.

Bruk bruk bruk.

Tiga bungkus roti yang telah dibawa oleh MiCha yang kini berada di hadapanku berhamburan tak karuan. Aku memang sengaja menunggunya dan memberi waktu untuknya membeli makanan.

“Ka-kalian… APA YANG KALIAN LAKUKAN???!!!” ucapan yang keluar dari mulut MiCha semakin lantang.

“Psssssttt” ucap Sehun yang sudah berada di belakang MiCha dan membungkam mulutnya.

“Ayo ikut aku” ucap Sehun setelahnya yang lalu menarik pergelangan tangan MiCha.

Kai kini mengambil duduk tepat di sebelahku.

“Apa yang mau kau lakukan, eh?!” tanyaku gelagapan.

Kai hanya terdiam lalu mengangkat tanganku perlahan.

“Hentikan, Kai-ssi!!!” ya, aku hanya dapat meronta agar ia dengan senang hati menghentikan aksi gilanya.

“Jangan berteriak seolah aku sedang membahayakanmu” pintanya menenangkanku.

“Mianhamnida, Kai-ssi”

“Tidak enak sekali-_- Panggil aku oppa”

“Tap… Tapi?”

“Kau hanya perlu mengikuti kata-kataku. Ara?”

Aku dengan pasrahnya hanya dapat menganggukkan kepalaku. Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan sih?

Cup. Dengan cepat, bibir Kai menyentuh permukaan pipiku.

“YAAAAAK!”

“Sssssttt. Kalau kau tidak bisa diam, aku akan mencium sumber keributan itu!” ucapnya dan hanya membuatku diam.

*Other Side, MiCha PoV*

“YAAAAK!!! Sehun-a, lepaskan aku!!” aku hanya meronta agar ia mau melepaskan tangannya dari lenganku sekarang juga. Dan akhirnya, iapun melepaskannya.

“Kau tahu? Ini sungguh sakit!”

Namja yang kini berada di hadapanku hanya bisa menggaruk kepala bagian belakangnya yang kurasa tidak gatal.

“Mianhae, habisnya… kau itu mengganggu moment kami” ujarnya beralasan.

“Korban baru lagi, hm?”

“Bukan urusanmu” ucap namja itu sinis.

“Dia temanku, bodoh! Jadi, aku berhak tahu tentang urusanmu” balasku tak kalah ketus.

“Baik, baik! Kau benar. Memangnya, kalau aku memberitahumu akan hal itu? Kau mau membantuku, he?” ia menunggu jawaban dariku sambil mengerenyitkan keningnya.

“Dengan satu syarat! Bagaimana?”

“Jangan macam-macam!” ancam Sehun kala itu.

Aku hanya mendelik mendengarnya. Untuk apa aku mengapa-apakan namja seperti dia?! Segera saja kutarik tubuhnya, agar aku bisa dengan mudahnya membisikkan syarat yang terbilang rahasia.

“Baik, aku setuju!” seru Sehun setelah mendengar syarat yang kuajukan.

*Tao (JinRi PoV)*

“Kai-a, sekarang giliranku! Hush… hush..” usir Sehun begitu ia datang.

Giliran katanya? Apasih yang sebenarnya mereka berdua bicarakan?!

Kai mendesah berat, lalu melangkahkan kakinya menjauhiku dan Sehun yang kini berjalan mendekatiku. Saat pandangan keduanya bertemu, Sehun membisikkan sesuatu pada Kai. Reaksi yang dikeluarkan Kai hanya sebuah seringaian panjang.

“Sebenarnyan apa yang tengah kalian rencanakan??”

“Nothing” jawab Sehun singkat dan yang ia lakukan kini adalah duduk di sampingku.

“Sebenarnya, aku kurang percaya dengan teori seperti yang akan kuucapkan setelah ini. Tapi rasanya, cinta pada pandangan pertama itu benar-benar nyata”

“Kenapa kau berbicara seperti itu?” kini aku mulai menaruh curiga pada sikap Sehun.

“Kau mau tidak menjadi pacarku?!”

= skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip =

‘Kau mau tidak menjadi pacarku?!’ kalimat itu yang sedari tadi berada di pikiranku. Oh Sehun, kenapa kau bicara seperti itu, eh?

“Kalau aku jadi kau, aku akan menerima pernyataannya. Kau tahu, ia bisa jadi batu loncatan yang baik!” ucap sebuah suara.

“Yak! Kenapa kau selalu datang disaat yang tidak tepat?!” tanyaku kesal.

“Tapi, idemu benar juga” tambahku.

Malaikat Suho kini hanya tersenyum ke arahku, “Katakan padanya bahwa kau mau menjadi miliknya. Aku Cuma bisa berpesan padamu, jangan sampai kau menaruh hati padanya. Ingat, target utamamu adalah Kris, ne?”

Aku hanyamengangguk sambil tersenyum mendengar Malaikat Suho berbicara seperti itu.

“Ternyata, Malaikat punya otak yang cerdas seperti itu juga” candaku.

“Jangan karena aku adalah malaikat, kau malah melecehkanku seperti itu-___-” sungutnya.

“Aku hanya bercanda” ujarku.

Keesokan Harinya, Ruang Kelas

Kudaratkan tubuhku ke kursi yang telah kududuki sejak pertama kali masuk ke kelas ini. Sehun yang memang sudah  datang saat itu, langsung melangkahkan kakinya dan menggelayut tidak jelas di tubuhku.

“Pelecehan!” seruku singkat, membuatku seantero kelas langsung menatap ke arahku.

“Sehun-a, diakah pacar barumu?!” tanya seseorang yang duduk di pojok depan.

“Ya, begitulah. Cocok tidak?!”

“Dibandingkan dengannya, kau terlihat seperti pembantu dan majikan. Kalau kau mau, ubahlah penampilannya sedikit!” sambar yeoja yang duduk di kursi deretan kiri.

“Aku menyukai dirinya yang apa adanya”

“Yak, Sehun-a! Kau kerasukan setan apa semalam?!” sahut seorang namja yang sudah berada di ambang pintu.

“Kai! Enak saja, selama aku kenal denganmu, satu-satunya setan yang kutemui adalah kau” jelas Sehun yang aku tahu itu hanyalah sebuah bercandaan.

Cup. Serangan singkat di permukaan pipiku yang berasal dari Sehun. Setelah itu, ia beralih ke tempat duduknya. Meninggalkanku yang masih mematung di kursiku.

*Other Side, Kai PoV*

“Kau curang sekali, Sehun-a” ucapku pada Sehun masih dalam bisik.

“Apanya?!” balas Sehun tak terima.

“Kau menyogokku dengan MiCha, huh?”

“Apa maksudmu, Kai-a?, lagipula yeoja itu memang mencintaimu”

Setelah itu, suasanapun kembali hening. Saat bel istirahat berkumandang, aku kembali menghampiri JinRi dan mengajaknya menuju taman sekolah.

“Jadi, apa jawabanmu?”

“Aku… Mau!” balas JinRi sambil tertunduk malu.

“Saranghae…” ujarku singkat yang lalu melumat bibirnya perlahan. Menimbulkan sensasi tersendiri untuk tubuhku.

*Other Side, Kai PoV*

Jadi, Sehun menang?! Argh, pemandangan di depanku yang melihatnya sedang berciuman membuat hatiku terdiam.

“Kai…” lirih yeoja yang kuketahui adalah MiCha.

“Ne?”

“Sedang apa di sini?”

“Ah, tidak apa-apa. Kau mau tidak menjadi yeojachinguku?” tanyaku setelahnya.

“Ah, Kai?” yeoja itu hanya tertegun. Aku hanya dapat memperhatikan lekuk wajahnya yang sepertinya akan kembaran dengan kepiting rebus beberapa saat lagi.

Lalu, akupun berinisiatif mendekap tubuh yeoja itu. Ia… menangis?!

*Tao (JinRi PoV)*

Entah apa yang membuatku bersandar lega di kursi kelas. Beberapa kali kuarahkan pandanganku ke deretan kursi belakang. Sehun hanya tersenyum melihatku. Namun, wajah Kai hanya tertekuk sejak istirahat berlangsung.

‘Ingat, jangan sampai kau menaruh hati padanya’ bisikan itu seolah memperingatiku.

Kembali kuhadapkan wajahku ke arah depan. Aku melihat wajah MiCha yang tiba-tiba merona saat menatapku. Ada apa dengannya?

= skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip skip =

“JinRi-ya, aku berpacaran dengannya!!!” ujar MiCha histeris sesaat setelah kami berhamburan keluar kelas.

“Kami duluan ya!” seru Kai dan Sehun yang langsung melengos pergi. Kemana lagi, kalau bukan ke basecamp mereka?

“Hmm, aku la-parrrrrr”

“Bagaimana kalau kau makan dulu di kantin?” tawaran MiCha menggugah seleraku dan akupun hanya dapat mengangguki ajakannya.

Area kantin tidak terlalu ramai jika sudah bel pulang seperti ini. Untuk mencapai kantin, kami harus melewati basecamp para namja populer itu.

Hatiku bergetar, sebuah bisikan membuatku berhenti pada pintu depan basecamp tersebut. Suara Kai dan Sehun.

“Kubilang apa? Pasti aku menang! Sini, berikan studio dance-mu itu” suara itu, suara seorang Oh Sehun!.

BRAAAAK.

Tanpa memperdulikan orang-orang yang berada dalam basecamp tersebut, aku mendorong pintu tersebut sekencang-kencangnya.

“Kalian semua! Kenapa kalian… Ergh–––!”

“JinRi-ya?!” Sehun dan Kai yang melihat sosokku dengan pandangan takjub, kini hanya bisa terkaget-kaget.

-TBC-

 

Apa yang bakalan Tao/JinRi lakukan setelah tahu tentang taruhan yang dijalankan oleh Kai dan Sehun? Dengan siapa lagi Tao/JinRi akan dekat dengan salah satu namja terpopuler tersebut? RCL dulu^^ Baru dikasih next chapternya(?) Gomawo untuk yang komen waktu Chapter 1 yang lalu ya^^

45 pemikiran pada “When I’m Become A Yeoja (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s