First Snow, Last Snow

Author             : Inhi_Park

Main casts       : Park Yeonhi&Oh Sehun

Support casts   : Park Inhi (author numpang eksis selewat ga apa2 yaa… n_n)

Length             : Oneshot

Genre              : Sad (?), Romance, Drama

Rating             : PG-13

(Yeonhi’s side)

Jarum pendek jam bulat yang menempel di dinding kamarku menunjuk angka dua, sementara jarum panjangnya menunjuk ke angka empat. Sudah hampir pagi tapi mataku belum sempat terpejam sedikitpun. Sejak tadi malam kepalaku terasa berat dan mataku panas karena terlalu banyak menangis. Tapi kini sepertinya air mataku sudah mengering hingga tak ada lagi yang menetes. Hanya puing-puing kepedihanku saja yang masih tersisa.

Aku terduduk diatas tempat tidur. Menyandar ke sandaran kasur sambil duduk memeluk lutut. Di hadapanku, sebuah boneka teddy bear berukuran sedang terlihat sedang menatapku. Hatiku terasa sakit setiap kali mengingat kenangan di balik boneka itu.

~pletak~

Mataku berpaling pada pintu kearah balkon yang tertutup rapat.

~pletak~

Suara itu terdengar lagi. Itu suara yang berasal dari batu kerikil yang menabrak pintu yang terbuat dari kaca itu. Pelakunya siapa lagi kalau bukan namja imut yang kamarnya terletak persis di seberang balkon kamarku.

Aku beranjak menuruni tempat tidur lalu membuka tirai yang menutupi pintu kaca. Disana, di balkon kamar di seberang sana, berdiri seorang namja yang sedang tersenyum manis kearahku.

“Kenapa kau mengurung diri di kamar seperti itu?” Tanyanya.

Aku tidak menjawab. Lidahku kelu. Hanya mataku yang tak terlepas dari sosoknya, dan kakiku yang perlahan menghampiri tepian balkon yang diberi pagar pembatas besi. Aku berjalam semakin dekat demi memastikan kalau yang sedang ada di hadapanku adalah benar dirinya.

“Coba lihat, wajahmu kusut sekali. Kau terlihat jelek.”

Senyumnya memaksaku untukpercaya kalau itu memang dirinya.

“Tersenyumlah.” Katanya lagi. “Hey, lihat… Saljunya turun.” Namja itu menjulurkan tangannya melewati atap yang memayungi balkon kamarnya sehingga tangannya bisa menangkap salju yang turun untuk pertama kalinya di musim dingin tahun ini.

Ia kembali menatapku yang masih tak bergeming.

“Tersenyumlah… Aku mohon…” Pintanya.

Aku memaksa kedua ujung bibirku tertarik ke atas agar membentuk sebuah lengkungan yang indah untuknya. Rasanya sulit. Sangat sulit karena aku hampir lupa bagaimana caranya tersenyum.

“Kau masih ingat bagaimana pertama kali kita bertemu?” Tanyanya sambil masih memainkan butiran salju yang berhasil di tangkapnya.

“Emh… Kau merusak boneka saljuku.” Jawabku datar.

“Ahahaha… Kenapa yang kau ingat malah bagian itu. Apa kau tidak ingat aku membuatkan boneka salju yang sangat bagus untukmu?”

Tawanya. Masih sama. Itu memang dirinya.

“Itu karena kau merusak boneka salju yang ku buat sendiri.” Kataku lagi.

“Hehehe… Iya… Iya… Aku minta maaf untuk itu.”

Selang beberapa saat tawa itu memudar. Ekspresi wajahnya berubah. Dingin. Tidak ada senyuman. Yang kulihat kini hanya ada sebuah wajah tanpa ekspresi. Ia masih sibuk dengan salju di tangannya, meski perhatiannya bukan tertuju pada benda itu.

“Apa kau akan merindukanku?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku yang sejak tadi memang tidak melepas pandanganku darinya mencoba tersenyum lagi. Meski sepertinya yang berhasil ku buat adalah senyum dingin tanpa perasaan. “Apa kau ingin aku merindukanmu?”

“Ani.”Ia menatapku tajam. “Tolong jangan rindukan aku. Katakan kalau kau tidak akan merindukanku.”

Ku menghela nafas dalam. “Akan ku katakan kalau kau ingin mendengar kebohongan besar dariku.” Tuturku. “Kau teman terbaik yang pernah ku punya.” Kataku kemudian.

Ia tersenyum getir. “Ternyata masih menganggap perkataanku waktu itu sebagai candaan.”

“Aku akan merindukan saat-saat pergi ke sekolah bersamamu.” Kini giliranku yang mencoba menangkap salju yang masih berjatuhan dengan derasnya.

“Kau masih tidak percaya dengan yang ku katakan.” Katanya.

“Aku akan rindu saat-saat menikmati salju pertama bersamamu.” Senyum hambar kembali tersungging di bibirku saat kata-kata itu terucap begitu saja.

“Yeonhi-ah”

Tidak. Aku tidak mau… Aku tidak sanggup mendengar kata-katanya lagi. “Aku akan rindu saat…”

“Park Yeonhi, dengarkan aku!” Suaranya meninggi.

“Andweee…” Aku menutup kedua telingaku rapat-rapat. Kakiku lemas dan tak sanggup menopang tubuhku sehingga aku jatuh terduduk. “Jangan katakan itu lagi Sehunnie… Ku mohon…” Pintaku.

“Aku hanya ingin kau…”

“Iya… Sehunnie, iya…” Ia belum sempat menyelsaikan kata-katanya saat tiba-tiba aku mengiyakan semua yang akan di katakana olehnya. “Aku tahu. Aku percaya kau mencintaiku.” Kataku sambil menahan air mata yang hampir terjatuh. “Aku juga menyukaimu. Aku mencintaimu.”

Usahaku sia-sia. Air mata yang dengan susah payah ku tahan akhirnya jatuh juga saat teringat bahwa semua yang kurasakan saat ini sudah tidak ada artinya.

“Tapi sekarang apa gunanya semua itu? Tidak ada. Percuma Sehunnie…” Kataku sambil tertawa. Ironis. Aku tertawa di tengah airmata yang tak mau berhenti. “Mianhae… Jeongmal mianhae…” Kataku dengan suara yang mulai serak.

“Tidak. Tolong… Kumohom jangan menangis. Jangan tunjukan air matamu di hadapanku karena itu membuatku lebih sakit.” Suaranya terdengar panik. “Ku mohon Yeonhi.” Namja itu memang paling tidak suka melihatku meneteskan air mata.

Aku menghapus aliran sungai kecil di pipiku dengan punggung tangan lalu kembali menegakkan badan dan menatap Sehun yang sedang berdiri di tepi pagar balkon kamarnya dengan tangan yang mencengkeram erat pagar dari besi tersebut.

“Aku senang kau sudah menyadari perasaanku padamu.” Kata-katanya membuatku terhenyak.

Aku terdiam. Kami terdiam.

“Yeonhi-ah… boleh ku minta sesuatu?”

“Apa?”

“Temani aku malam ini. Kita nikmati salju pertama ini bersama-sama.”

Aku menatapnya yang sedang tersenyum manis. Senyum yang mungkin terakhir kalinya bisa ia berikan untukku.

<><><>

Aku merapatkan syal yang melilit leherku saat udara pagi di awal musim dingin membelai lembut tengkukku. Angin yang membekukan itu mengusik kenyamananku yang sedang tertidur pulas. Mataku perlahan terbuka. Ku paksakan otakku bekerja keras untuk mengingat apa yang terjadi semalam sampai aku tertidur di balkon kamarku seperti sekarang. Dan syal ini, sejak kapan syal merah hati hadiah ulang tahun dari Sehun ini ku kenakan. Seingatku aku sudah memasukkannya ke dalam kotak kardus yang siap ku simpan ke gudang. Kotak kardus yang berisi semua barang kenanganku bersama namja itu.

Saat bayangan-bayangan kejadian semalam mulai berkelebatan di ingatanku, aku berdiri menghadap pintu kaca yang tertutup di seberang sana. Cengkeraman tanganku di pagar besi balkon kamarku itu semakin erat saat ku lihat kamar itu gelap dangordyn putihnya yang juga tertutup rapat, menandakan kalau sang penghuni kamar tidak ada disana.

~cklek~

Kulihat senyum tipis di wajah Inhi eonni saat ia melangkah menghampiriku yang masih berdiri di tepi balkon. “Bagaimana tidurmu semalam?” Tanyanya sambil mengelus rambutku.

Aku tersenyum singkat untuk mewakili suaraku yang masih tercekat tak mau keluar.

“Bersiaplah, aku tunggu di bawah.” Katanya sambil beranjak meninggalkanku.

“Eonni…” Kataku serak.

Ia berbalik lalu melemparkan senyum tipisnya lagi sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

<><><>

Inhi eonni berdiri di sampingku. Tangan kanannya menggenggam setangkai bunga chrysant sementara lengan kirinya melingkar di pundakku, seolah bersiap jika sewaktu-waktu aku ambruk.

Mataku menatap nanar sebingkai foto yang terletak di atas sebuah bongkahan marmer besar bertuliskan nama orang yang sangat ku kenal.

Prosesi selesai. Beberapa orang, termasuk Inhi eonni, melangkah maju lalu meletakkan bunga berwarna putih yang mereka bawa masing-masing. Aku… Aku masih berdiri di tempat asalku. Mataku tak berpaling sedikitpun dari wajah di foto itu. Oh Sehun.

“Ayo…” Bisik Inhi eonni tepat di sampingku.

Aku tak bergeming. Bahkan bunga chrysant putih yang ku bawa masih belum berpindah ke depan nisan marmer itu.

Seolah mengerti, Inhi eonni menepuk pundakku pelan. “Eonni tunggu di mobil ya…” Katanya.

Saat semua orang sudah melangkah pergi meninggalkan kompleks pemakaman ini, aku melangkah maju. Mendekati tempat peristirahatan terakhirkawanku itu.

“Sehunnie…” Aku menarik nafas dalam dan memejamkan mata sejenak sebelum melanjutkan kata-kataku. “Mianhae…”

Aku berlutut tepat di depan foto Sehun sedang tersenyum. Ku taruh bunga chrysant putih tepat di depan fotonya.

“Harusnya aku tidak mempertanyakan kesungguhanmu saat itu.” Setitik cairan bening meluncur dari sudut mataku. “Sehunnie… Mianhae…”

“Tidak usah meminta maaf seperti itu.”

Aku menoleh ke samping. Sesosok namja tampan dengan pakaian serba putih dan wajah yang sangat bersinar tengah tersenyum ke arahku.

“Sehunnie…”

“Maaf telah menyembunyikan soal penyakitku darimu.” Namja itu menatap lekat foto dirinya sendiri yang terletak di depan sebuah nisan marmer bertuliskan namanya.

Ia memalingkan pandangannya padaku. “Aku ingin kau tahu kalau aku sangat mencintaimu dan kau membalas cintaku itu karena kau juga memang mencintaiku. Bukan atas dasar rasa kasihan.” Katanya.

“Tapi aku memang mencintaimu. Hanya saja… Hanya saja aku terlalu bodoh karena tidak bisa menyadarinya dari dulu.” Kataku tertunduk. “Maafkan aku Sehunnie…” Butiran bening air mataku terjatuh lagi.

“Sudah ku bilang jangan tunjukkan air matamu di hadapanku.”Katanya.“Aku tahu kau mencintaiku. Aku bisa melihatnya sekarang.”

“Tapi aku sudah terlambat.”Tuturku.

Ia tersenyum. “Tidak. Karena aku akan terus mencintaimu.”

Kami terdiam. Sosok di sampingku ini masih lekat menatapi puluhan tangkai chrysant putih yang bertebaran di depan nisannya sampai perlahan, satu per satu, butiran benda putih terjatuh dari langit.

“Salju…” Ia menengadahkan kepala.

Aku mengikuti gerakannya. Sambil memejamkan mata, kami mengangkat telapak tangan dan menunggu butiran itu mendarat disana. Ini yang selalu kami lakukan saat salju mulai turun di awal musim dingin.

“Katakan kalau ini bukan salju terakhir yang bisa ku nikmati bersamamu.” Ia membuka mata dan langsung menatap sedih kearahku yang sudah lebih dulu menancapkan pandangan padanya.

Lagi. Ia tersenyum. “Tentu saja bukan. Aku akan selalu bersamamu karena aku akan selalu ada disini…”

Sesuatu yang hangat menyeruak dari dalam dadaku saat ia menempatkan ujung telunjuknya tepat di luar rongga dadaku.

Aku tersenyum. Dan detik selanjutnya, sosok itu sudah tak ada di hadapanku. Aku sendiri. Hanya angin musim dingin yang membawa butiran salju yang perlahan mengelus rambutku. Hangat.

“Aku tahu itu kau… Saranghae Sehunnie…”

<>THE END<>

Author’s talk:

FF ini author persembahkan buat ‘Syifa Refianti’.Ini FF sad ending Sehun yg km pesen waktu itu saeng… Maaf kemampuan eonni cm sampe sigini doang… semoga ga mengecewakan ya… hehe

Maaf kalo kurang sedih… Maaf kalo ga kerasa feelnya… Maaf jg kalo ternyata ada reader yang malah ga ngerti karena ceritanya ga jelas… hehehe… Mianhae… #bow

Okeee… reader yang baik ga pernah pelit buat RCL… hehe

Di tunggu yaa…

Makasih… n_n

73 pemikiran pada “First Snow, Last Snow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s