Love Sign (Chapter 3)

Tittle : Love Sign

Author : Shane

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

Disclaimer : Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Oh iya, disini anggap aja Sehun dan Kai masih berumur 17 tahun ya ^^

_____________________

Bel istirahat berbunyi di lingkungan kelas Khusus. Bel yang berbeda bunyi dan waktunya dari kelas reguler ini adalah hal yang ditunggu oleh Kai. Ia tidak begitu menyukai pelajaran fisika, apalagi dengan guru killer yang sangat memuja Sehun.

“Guru itu tidak bosan-bosannya ya memuji kepintaranmu dalam bidang fisika,” papar Kai setelah keluar dari kelasnya.

Sehun berdecak pelan, “Aku bosan mendengarnya, kau tahu?”

Kai tertawa lalu merangkul Sehun. Mereka berdua adalah duo sahabat paling terkenal di lingkungan tersebut. Apalagi dengan status ekonomi mereka yang bisa dibilang ‘wah’ tersebut membuat mereka semakin terkenal.

Namun tidak banyak yang membuat mereka berdua tertarik dengan apa yang terjadi dilingkungan sekolah mereka dan para muridnya. Karena yang mereka lihat adalah anak-anak yang membanggakan harta orang tuanya.

Sebenarnya, menurut Kai sendiri, Keadaan kelas reguler dan kelas khusus itu sama saja. Hanya perbedaannya terletak pada pribadi murid masing-masing.

“Hei,” ucap Sehun sambil melambaikan tangannya didepan Kai.

EoMuseun ilisseo? *ada apa?”

“Kau tidak mendengarkanku bicara?” tanya Sehun sambil menghela napasnya. “Satu pun tidak ada yang kau dengar?”

Kai menggelengkan kepalanya, “Mianhae, kau ulangi saja ucapanmu.”

Ah langsung saja, kau ingin pesan apa?”

Kai terdiam, ia belum merasa lapar jadi ia tidak membutuhkan makanan. Ia tidak begitu haus dan tidak sedang ingin minum Coffe Latte kesukaannya —bahkan tidak ada hasrat untuk meminumnya.

Ia teringat sesuatu. Entah kenapa minuman berwarna putih kesukaan Yoojun sekarang memenuhi otaknya.

“Susu!” teriak Kai.

Sehun mengernyit, “Hah? Kau yakin?”

Sebenarnya, Kai sendiri tidak yakin dengan apa yang ia katakan. Kata-kata tersebut keluar begitu saja setelah ia memikirkan Yoojun dan kenapa pula ia memikirkan Yoojun? Benar-benar aneh.

Ah, Tidak..  kau saja, aku belum lapar.” kata Kai agak terbata-bata.

Sehun tidak menghiraukan sikap sahabatnya ini, ia lalu melanjutkan jalannya menuju counter makanan tersebut. Namun, ia yakin bahwa ada sesuatu dalam diri Kai. Sesuatu yang tidak ingin ia bahas lebih lanjut —atau mungkin ia sudah mengetahuinya.

***

Pelajaran olahraga telah selesai untuk kelas reguler. Guru berparas garang itu pun pergi dengan membawa peralatan olahraga miliknya. Diikuti murid-murid yang lain, kecuali Yoojun dan Hyesung yang masih ingin beristirahat.

Mereka berdua masih tergeletak di Lapangan basket itu. Masih berkeringat, karena mereka terlalu lelah. Permainan basket bukanlah permainan yang Yoojun kuasai, alhasil ia akan kelelahan karena harus mengulang gerakan yang salah.

“Akan kukutuk guru itu menjadi bola basket!” gerutu Yoojun. Ia masih tidak terima dengan pengulangan gerakan yang harus ia lakukan hingga sepuluh kali.

Ya,” Hyesung menoleh, menatap Yoojun. “Dia guru olahraga, dan pastinya ia akan senang jika menjadi bola basket.”

Yoojun menatap Hyesung heran, “Kenapa begitu?”

“Karena mereka satu habitat, sama-sama dibidang olahraga,” jawab Hyesung sambil merapatkan jari telunjuknya.

Volume botol air mineral itu berkurang, Hyesung sudah meminumnya sebagian. Ia haus dan ia memang menyukai air mineral. Tak jarang kalau Hyesung sendiri bisa menghabiskan satu botol air mineral sekaligus.

Sedangkan milik Yoojun hanya berkurang sedikit. Menurutnya, yang bisa membuat semangatnya kembali hanyalah sebuah banana milk atau yogurt. Dua minuman tersebut akan menyegarkan pikiran dan tubuhnya.

“Yoojun-ah, kau sudah berpacaran dengan Kim Jong In ‘kan?” tanya Hyesung membuka pembicaraan.

Ne, muloniji! *ya, tentu!” jawab Yoojun semangat.

“Lalu… kalian sudah melakukan apa saja?”

DEG. Pertanyaan sensitif yang membuat jantung Yoojun berdegup kencang. Ia sendiri berpikir, apa saja yang sudah ia dan Kai lakukan. Sejauh ini mereka hanya pernah bergandengan tangan, itupun sambil berlari, tidak salah ‘kan?

“Tidak lebih selain bergandengan tangan,” kata Yoojun. “Kami juga sudah pernah berkencan, walau tidak selama yang aku lihat di drama-drama romantis.”

Hyesung menatap Yoojun tidak percaya. Sungguh itu sama sekali bukan yang ia harapkan —bahkan tidak ada satupun harapannya yang terjadi. Pasangan ini membosankan sekali, pikirnya.

Yoojun meringis. “Kenapa menatapku seperti itu?”

Eomeona Park Yoojun!” pekik Hyesung. “Aku tidak ingat punya teman sepolos dirimu!”

“Kau ini sudah tujuh belas tahun, harusnya melakukan sesuatu yang lebih daripada bergandengan tangan! ciuman mungkin?” tambahnya.

Belum sempat membuka botol air mineral tersebut, botolnya telah terlepas dari genggaman tangan Yoojun. Sepertinya kata-kata ‘cium’ itu bisa membuat seorang Yoojun terpaku selama sepuluh detik.

Botol tersebut sudah bergelinding entah kemana —mungkin pemiliknya sendiri juga tidak sadar bahwa botol tersebut sudah hilang dari hadapannya. Dari pandangannya.

Tiba-tiba Yoojun teringat kembali apa yang ia lihat sewaktu ia berada di Perpustakaan. Kejadian yang belum ia ceritakan kepada orang-orang terdekatnya. Saat itu hanya Sehun yang mengetahuinya, dan itu menjadi rahasia mereka berdua.

“Hey, ayolah! kau harus membuat dia mencintaimu,” kata Hyesung.

Eotteo? Aku kalap jika didekatnya.”

Hyesung menepuk jidatnya. Ia lupa bahwa yeoja disampingnya ini mempunyai —bahkan pengalamannya tentang cinta sangat buruk. Terlalu buruk sampai-sampai Hyesung ingat, sahabatnya ini pernah dengan bodohnya berlari saat mendengar pernyataan cinta dari seorang namja.

Ia mendesah, merasa yakin bahwa ini akan menjadi perjuangan yang cukup berat untuknya, untuk membantu Yoojun.

Beberapa detik kemudian mata Hyesung melebar, ia lalu tersenyum penuh kemenangan. Dipikirannya sekarang bertebaran berbagai ide untuk membuat seorang Kim Jong In jatuh cinta pada Park Yoojun.

“Aku punya ide yang bagus!” Hyesung menoleh, menatap Yoojun. “Kau harus melakukannya sesuai perintahku!’

Yoojun pun mengangguk, namun ia merasa ada sesuatu yang janggal.

***

Rumah yang kosong dan kakak yang jarang berada di Rumah memang membuat Yoojun terbiasa dengan melakukannya sendiri. Ia bahkan pernah membersihkan seisi rumah sewaktu kakaknya, Taejun pergi ke Busan untuk sebuah pemotretan.

Namun kali ini dia tidak sendiri. Hyesung sekarang berada di Rumah Yoojun karena ada sesuatu yang harus Hyesung lakukan. Hari ini atau tidak sama sekali, pikir Hyesung dalam hati.

Mereka berdua sekarang berada di Ruang tamu dengan kesibukan mereka masing-masing. Yoojun yang masih memakan pocky sambil menonton TV dan Hyesung yang sedari tadi tidak lepas dari iPod-nya.

Hyesung tersenyum puas melihat layar iPod-nya, sebuah direct message —dari seorang teman ditwitternya— yang bisa membuatnya melompat kegirangan —kalau saja tidak ada Yoojun kala itu, ia pasti sudah melakukannya— diatas sofa tersebut.

“Yoojun-ah! Aku ingin pinjam iPhone-mu sebentar,” pinta Hyesung.

Igeo,” ucap Yoojun sambil memberikan iPhone-nya tanpa melihat Hyesung. Ia masih fokus pada layar TV.

To        : 02-877-xxxx

Ini aku, Park Yoojun. Jangan bertanya darimana aku mendapatkan nomor-mu.
bisakah kita kencan malam ini?
 ^^

Dengan cepat Hyesung mengetik kata-kata tersebut pada iPhone milik Yoojun. Ia cekikikan, membayangkan apa yang terjadi nanti jika namja tersebut menyetujui pertanyaan itu.

Sebuah pesan langsung terpampang dilayar iPhone tersebut. Pesan dari Kim Jong In, namja yang dimaksud Hyesung.

From    : 02-877-xxxx

Baiklah, aku akan menjemputmu jam 7. Sampai ketemu.

Dan Hyesung benar-benar melompat disofa tersebut. Ia tidak membayangkan bahwa ini akan benar-benar terjadi. Idenya berjalan dengan mulus, walaupun masih ada satu hambatan yang harus ia urus yaitu, Yoojun.

Jam sudah menunjukkan pukul enam. Hyesung terdiam, terlihat berpikir. Apakah cukup dalam satu jam untuk mempersiapkan semuanya? Apalagi ia harus membuat Yoojun terlihat cantik untuk kencannya kali ini.

Mata Hyesung terpaku pada sebuah kotak disamping sofa yang ia duduki. Ia menatapi kotak tersebut lekat sampai ia teringat sesuatu.

Hyesung berterimakasih pada kotak yang ia bawa dari rumahnya itu. Kotak berwarna sky blue itu berisikan pakaian yang harusnya ia berikan kepada teman ibunya nanti saat ia pulang.

Ia yakin ibunya akan mengerti jika ia memberikan alasan tentang hal ini. Ibu Hyesung bukanlah seorang yang pemarah, ia akan mengerti —atau mungkin mencoba mengerti untuk alasan Hyesung yang satu ini.

Hyesung tersenyum puas mengingat pakaian tersebut adalah pakaian yang ukurannya sama dengan Yoojun. Ia mengambil kotak tersebut.

“Yoojun-ah, ganti pakaianmu dan pakai baju yang ada dikotak ini! ppali!” seru Hyesung seraya memberikan kotak tersebut pada Yoojun.

“Jangan bertanya untuk apa, ganti saja bajumu!” tambahnya.

Yoojun mengangguk. Ia harus menurut atau Hyesung akan mengamuk saat itu juga. Ia tahu itu.

Setelah sepuluh menit berlalu, Yoojun keluar dari kamarnya dengan sebuah dress bercorak victorian flowers. Baju itu nampak cocok dengannya —apalagi Yoojun sangat jarang memakai dress jadi baju tersebut nampak cocok ditubuhnya.

Ah! neomu joha!” pekik Hyesung. “Lalu kau harus memakai high—”

ANDWAE!” teriak Yoojun histeris. Ia tahu bahwa Hyesung akan mengatakan high heels, dan ia segera membantahnya. Yoojun tipikal orang yang lebih senang menggunakan sneaker dari pada wedges ataupun high heels.

Hyesung meringis, “Okayno more high heels.”

“Memangnya kita ini mau kemana? Kenapa aku harus berpakaian seperti ini?” tanya Yoojun heran.

Haah… kau itu sama sekali nggak peka ya,” papar Hyesung. “Kau dan Kim Jong In akan kencan malam ini. Tidak lama lagi, dia akan menjemputmu.”

NE?! MWORAGUYO?!!” kali ini teriakan Yoojun lebih histeris daripada sebelumnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Hyesung padanya. Dan ia sendiri bingung harus sedih atau senang dengan hal tersebut.

Hyesung menutup mulut Yoojun dengan tangannya. Berharap itu bisa meredam amukan yang bersumber dari mulut Yoojun. Ia tidak ingin tetangga Yoojun berpikiran yang macam-macam dengannya, apalagi ia tidak ingin dituduh sebagai seorang lesbian.

bbmmmbbbdhh” erang Yooojun masih dengan mulut yang tertutup tangan Hyesung.

“Aku akan memaksamu memakan keju kalau kau mengacaukan rencanaku kali ini!” ancam Hyesung kala itu juga. “Arraseo?”

Mau tidak mau Yoojun harus menurut, atau ia akan —harus memakan keju yang bisa membuatnya pipinya merona merah seperti memakai blush on selama tiga hari. Alerginya terhadap keju memang sangat merugikannya, apalagi Hyesung yang notabene-nya sangat menyukai makanan yang berasal dari susu tersebut.

Dan Yoojun mengangguk.

Pelan-pelan Hyesung melepaskan tangannya dari mulut Yoojun. Ia tersenyum puas mana kala mengetahui bahwa rencananya akan berjalan mulus seperti perkiraannya. Ia lalu menepuk pundak Yoojun, tanda bahwa ia senang.

“Kau ini temanku atau bukan sih?” tanya Yoojun kesal.

Hyesung menatapnya, “Hey, aku melakukan ini semua demi kebaikanmu.”

Tiba-tiba deru mesin mobil terdengar dari luar. Cepat-cepat Yoojun melihatnya keluar untuk mengetahui siapa pengendara mobil tersebut. Namun kali ini bukan sebuahporsche yang ia lihat, melainkan hanya mobil sedan biasa.

Kakaknya, Taejun keluar dari mobil tersebut. Ia baru saja pulang dari pekerjaannya dan sepertinya itu mobil temannya Taejun, pikir Yoojun dalam hati.

Rasa kecewa kini membanjiri hatinya. Dia sendiri juga masih bertanya-tanya kenapa juga ia harus merasa kecewa padahal ini semua terjadi atas kehendak Hyesung dan harusnya ia senang bahwa sedari tadi, Kai belum muncul.

Taejun berjalan lebih cepat ketika mendapati adiknya yang berdiri diam diambang pintu rumahnya. Ia menatapi adiknya heran lantaran baju yang dikenakan sangat jarang dipakai oleh adiknya sendiri, bahkan Taejun belum pernah melihat baju tersebut.

“Kau ini ingin pergi kemana? Kenapa berpakaian seperti ini?” tanya Taejun seduktif.

“Aku Ti—” belum selesai bicara, sebuah mobil menyita perhatian Yoojun kala itu. Yoojun, lalu berlari mengabaikan kakaknya.

Yoojun berbalik, menatap Taejun dengan senyum tiga jarinya, “Oppa, na kalkke! Annyeong! *aku pergi, kak! Dadah!”

Porsche itu melesat cepat setelah Yoojun masuk kedalamnya. Taejun tahu siapa pemilik porsche tersebut dan ia —mungkin— tahu apa tujuan mereka pergi. Ia hanya berdecak, lalu masuk kedalam rumah tersebut.

NEO?!” pekik Taejun mendapati seorang yeoja dengan rambut pendek itu sedang duduk disofa sambil memainkan sebuah PSP. Yeoja itu lalu menatap Taejun sinis dan kembali menatap layar PSP-nya.

Ia berdecak, “Tenang saja, aku bukan hantu.”

Taejun meletakkan ranselnya asal. Ia lalu mendekati yeoja tersebut dan duduk disampingnya. “Apa yang kau lakukan pada adikku, Hyesung-ah?”

Eobta *tidak ada. Dia hanya sedang berkencan,” jawab Hyesung tanpa menatap Taejun sedikitpun.

Ya, yeoja tersebut adalah Hyesung, Shin Hyesung. Orang yang selalu ingin Taejun hindari karena menurut Taejun, Hyesung cukup menakutkan. Apalagi dengan lidah tajam dan sifat dinginnya makin membuat Taejun merasa ngeri berdekatan dengan yeoja ini.

Ahju—”

“Panggil aku oppa!” sembur Taejun. Ia tahu bahwa gadis disampingnya ini akan memanggilnya dengan sebutan ahjussi.

Hyesung mendelik, “Terserah.”

“Aku ingin pulang, tolong antarkan aku!” pinta Hyesung sambil mematikan PSP-nya dan memasukan console tersebut kedalam tasnya.

Belum juga Taejun menanggapi permintaan Hyesung, ia sudah berbicara terlebih dulu. “Tidak baik membiarkan seorang wanita pulang sendirian pada malam hari.” kata Hyesung tenang.

Taejun mengutuk gadis ini dalam hatinya. Seiring mengutuknya, ia juga bertanya-tanya, mengapa adiknya tahan berteman dengan Hyesung selama hampir dua tahun?

Dari pemikiran tersebut, ia yakin bahwa adiknya telah diguna-guna oleh Hyesung.

***

Sungai Han yang terbentang itu menjadi tempat dimana Kai dan Yoojun untuk kencan. Sudah umum memang, namun entah kenapa, tempat tersebut adalah satu-satunya yang ia pikirkan saat Kai menanyakan tujuan padanya.

Kai teringat perkataan Sehun padanya tempo hari.

“Kau harus bersikap tidak peduli! Kau tidak selamanya harus berperilaku baik pada setiap yeoja, Kai,” ucap Sehun.
“Waeyo? Ada yang salah dengan itu?”
“Ya,” Sehun menatapku tajam. “Karena aku tidak ingin cerita cintamu yang sekarang menjadi datar seperti dahulu, saat kau bersama
—”

Kai berhenti mengingatnya, ia tidak ingin melanjutkan kata-kata tersebut. Terlalu menyakitkan dan mengecewakan baginya, dan tidak ada yang tahu hal tersebut selain Sehun.

Yoojun juga tidak —harus—  tahu akan hal tersebut, semoga saja, pinta Kai dalam hati.

“Aku akan membeli kopi! suhu disini membuatku haus,” ujar Yoojun sambil menggosok-gosokkan tangannya. Pakaian yang ia pakai itu tidak terlalu tebal, sehingga angin dapat masuk, menyapu dingin kulitnya.

Kai mengangguk. Sebenarnya ia tidak mau seperti ini, terkesan tidak peduli dan terima saja. Lagi-lagi perkataan Sehun lah yang memaksanya berbuat seperti ini —atau kalau tidak, dia akan mendapatkan sebuah cerita cinta yang datar.

Yah, itulah kemungkinan yang ia percaya.

Kai merasakan sesuatu dalam dirinya —tepat saat sebuah mobil berwarna silver dengan plat nomor yang terasa familiar bagi Kai sendiri. Ia memastikan mobil tersebut, apakah benar pemiliknya adalah orang yang sangat ingin ia temui kala itu?

Lalu, seorang wanita paruh baya yang menggandeng sebuah tas gucci ditangannya, masuk kedalam mobil tersebut.

Jantung Kai berdegup dan darahnya mendesir lebih cepat. Orang itu —wanita itu adalah benar-benar seseorang yang sangat ingin ia temui. Dan mobil itu melewatinya begitu saja seperti tidak mengenali Kai, anak si Pemilik mobil tersebut.

Tanpa basa-basi lagi, ia langsung mengejar mobil tersebut dengan porsche-nya. Pikirannya hanya tertuju pada wanita tersebut, mengejarnya dan menemuinya, tanpa berpikir resiko apa yang ia ambil.

Kai mengabaikan resiko tersebut —bahkan ia tidak memikirkannya sama sekali.

Dipikirannya hanya wanita itu seorang, tidak ada lagi.

Sementara diujung jalan itu, Yoojun sedang berjalan membawa dua buah Americano ditangannya. Ia masih bersenandung riang, membayangkan apa yang akan ia dan Kai lakukan nanti. Yoojun tersenyum sepanjang perjalanannya.

Dan senyumnya memudar ketika ia tidak melihat Kai —dan mobilnya— ditempat itu. Tempat semula dimana ia dan Kai memberhentikan mobilnya.

Setelah mencari dan bertanya-tanya pada orang sekitar, ia menyerah. Yoojun, lalu duduk disebuah kursi taman yang tersedia disana. Duduk dan meminum Americano-nya seorang diri. Tanpa Kai yang seharusnya duduk disampingnya saat itu.

iPhone-nya berdering, ia lalu merogoh tasnya, mencari iPhone tersebut. Sebuah nomor yang tak dikenal terpampang dilayar iPhone-nya. Yoojun ragu untuk mengangkatnya, namun ada sebuah dorongan —yang entah dari mana— membuat ia harus mengangkat panggilan itu.

Yobose—”

“Yoojun-ah,” desah seseorang dari seberang sana. “Maaf aku harus meninggalkanmu karena ada sesuatu yang harus kulakukan. Kau bisa pulang sendiri, ‘kan?”

Ah ne… mu… mulonijiyo,” ucap Yoojun dengan suara bergetar.

Hening. Yoojun tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, lidahnya sudah kelu karena mendengar suara Kai. Matanya sudah terasa panas saat itu dan beberapa detik kemudian sebuah bulir air menetes dari sudut matanya.

Gwenchana?” tanya Kai.

Yoojun berdeham —bermaksud menahan tangisnya—, “Nan gwenchana!”

“Aku bisa pulang sendiri, kok! Jangan khawatirkan aku!” ucap Yoojun dengan suara semangat yang ia paksakan.

Hmm.. kalau begitu aku tutup ya,”

Klik! Sambungan telepon itu terputus. Dan Yoojun mulai beranjak pergi dari kursi tersebut. Meninggalkan sebuah Americano tanpa pemilik itu, sendirian.

Bus berwarna merah itu menjadi transportasi akhir bagi Yoojun. Ia tidak mungkin naik taksi karena ia tidak memiliki cukup uang, karena jarak dari sungai Han dan rumahnya lumayan jauh.

Yoojun menepuk jidatnya. Ia lupa bahwa pemberhentian bus didekat rumahnya juga jauh. Ia harus menempuh jarak 500 m dari rumah ke pemberhentian bus. Lagi-lagi ia harus berjalan. Ia mengutuk dirinya sendiri.

Setelah 45 menit menaiki bus tersebut, Yoojun turun di Pemberhentian Bus. Matanya melebar setelah melihat mini market disamping pemberhentian bus itu. Dengan pasti, ia melangkah masuk kedalam mini market tersebut.

Ah! Banana milk!” pekik Yoojun. Hanya dengan melihat banana milk, semangatnya sudah terkumpul kembali. Yoojun, lalu mengambil dua buah banana milk tersebut dari tempatnya.

Tepat saat Yoojun berbalik, seseorang menabrak tubuh mungilnya. Ia pun terjatuh —karena tubuh orang yang menabraknya lebih besar—.

Yoojun meringis. Mengusap-usap bagian tubuhnya yang ia rasa sakit.

“Park Yoojun?” tanya seseorang.

Yoojun mendongak, “Sehun-ssi!”

Setelah membayar banana milk-nya, Yoojun dan Sehun keluar dari mini market tersebut. Mereka lalu duduk disebuah kursi taman didekat sana.

“Kau tidak membeli apa-apa?” tanya Yoojun heran. Melihat Sehun dengan tangan kosong setelah keluar dari mini market itu, membuat Yoojun bertanya-tanya.

Hmm, benda yang kucari tidak ada disana,” jawab Sehun tenang.

Sehun memandangi Yoojun. Keningnya berkerut setelah melihat penampilan Yoojun yang memakai dress itu. Ia pikir, Yoojun bukanlah seseorang yang senang memakaidress. Ternyata dugaannya salah.

Yoojun yang —seakan— sadar akan hal itu langsung menepisnya, “Aneh ya? ini eksperimen temanku. Sebenarnya aku tidak suka memakai pakaian seperti ini.”

Hoo,” Sehun mengangguk. “Kau abis kencan dengan Kai ya?”

Yoojun tertohok mendengar itu. Ia lalu mengambil sebuah banana milk dari kantung plastik yang ia genggam. Menyeruput banana milk itu agar perasaannya bisa tenang, harap Yoojun.

“Hei,” panggil Sehun.

Yoojun menghela napasnya, “Ya, Aku kencan dengan Kai.”

“Kau tahu darimana tentang hal ini?” tanya Yoojun.

“Aku sahabatnya, tentu aku akan —malah aku pasti tahu tentang hal ini.”

“Begitu ya?” Yoojun melihat jam dipergelangan tangannya. Jam digital tersebut menampakkan pukul 10:10 malam.

Yoojun kalap, ia harus pulang sekarang juga. Ia lalu merapikan pakaiannya dan beranjak dari posisinya. “Maaf, aku harus pulang sekarang juga. Lain kali kita ngobrol lagi ya!”

Saat Yoojun ingin pergi, sebuah tangan mengenggam lengannya. Ia menoleh dan menatap Sehun bingung.

“Aku antar.”

Dan Sehun menarik tangan Yoojun menuju mobilnya.

Mobil tersebut sekarang berisikan dua muda-mudi didalamnya. Yah, Yoojun sedang duduk disamping Sehun. Mau tidak mau —atau ia akan sampai dirumah sekitar jam sebelas malam jika berjalan.

Entah mengapa Yoojun merasa ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Cepat-cepat Yoojun melupakan hal tersebut.

“Rumahmu didekat sini?” tanya Sehun.

“Yap,” jawab Yoojun antusias. “Nanti belok kiri.”

Sehun mengerlingkan matanya. “Apartemen-ku didekat mini market yang tadi. Kalau kau mau memberikanku hadiah karena sudah mengantarkanmu, kau bisa kesana.”

Yoojun mengernyit, “Kau percaya diri sekali.”

“Lebih baik—” Sehun membelokkan stirnya kekiri. “Lebih baik daripada tidak ada kepercayaan diri.”

“Dimana?”

“Belok kiri lagi nanti diujung sana,” jawab Yoojun sambil menunjuk-nunjuk.

Nggak ada belok kanan nih?”

“Ada,” Yoojun menatap Sehun sambil terkikik. “Tapi nanti kalau rumahku udah pindah.”

Sehun menatap Yoojun sinis, “Bodoh.”

Setelah melalui beberapa blok rumah, akhirnya mereka berhenti sebelum sampai rumah Yoojun. Yoojun takut kalau kakaknya tahu bahwa ia pulang bukan dengan Kai, tetapi dengan orang lain.

“Rumahmu yang mana?” tanya Sehun heran.

“Yang itu,” Yoojun menunjuk rumahnya sendiri. “Sampai sini saja. Aku tidak mau kakakku menghabisimu.”

Sehun mengangguk. “Oke, aku mengerti.”

Kamsahamnida!” ucap Yoojun lalu keluar dari mobil tersebut.

Sehun mulai meninggalkankan tempat itu dengan mobilnya. Setelah merasa mobil Sehun sudah agak jauh, Yoojun mulai berjalan menuju rumahnya.

Lagi, ia melihat sebuah porsche milik Kai didepan rumahnya. Yoojun, lalu mengerjapkan matanya, berharap kalau itu hanya imajinasinya saja. Yoojun tetap berjalan, namun dengan hati-hati.

Ternyata harapannya tidak terkabul —melihat Kai keluar dari porsche tersebut dan berjalan menghampirinya. Jadi ini yang mengganggu pikiranku tadi, kata Yoojun dalam hati.

“Apa kau baik-baik saja? Kau pulang bersama siapa?” tanya Kai bertubi-tubi.

“Aku baik-baik saja, Kai-ssi,” jawab Yoojun sambil tersenyum dengan paksa. “Aku lelah hari ini, besok kita bertemu lagi ya.”

Dengan cepat Kai menggenggam lengan Yoojun. Mau tidak mau Yoojun harus berbalik, menatap Kai.

“Apa kau pulang bersama Sehun?”

Jantung Yoojun berdegup kencang, ia takut Kai salah paham padanya. “Iya, aku pulang dengannya.” Suara Yoojun mulai bergetar.

“Tapi.. tapi kau jangan salah pa—”

Satu tarikan dari tangan Kai membuat Yoojun masuk kedalam pelukannya. Kai memeluk Yoojun erat. “Jangan.”

“Eh?”

“Jangan dekat-dekat dengan Sehun.”

Yoojun melepaskan dirinya dari pelukan Kai. “Memangnya kenapa?”

Kai menatap Yoojun lekat. “Pokoknya kalau kau dekat-dekat dengannya, aku… aku akan..”

“Akan apa?” tanya Yoojun bingung.

Kai mendekatkan wajahnya kearah wajah Yoojun. Refleks, Yoojun menghindar, namun Kai tetap mendekatkan wajahnya. Kai, lalu menunjukkan smirk-nya.

“Aku akan menciummu.”

TBC

Garing ya garing -__- kekeke

Oh iya, buat yang bertanya-tanya tentang ‘ide menarik’ milik Sehun pada chapter 2 itu, nanti akan dijelaskan di chapter 4 ^^ Hohohoho so, tetep setia nunggu fanfict abal-abal ini ya! hehe

Sekarang saya minta review *maksa ._. tentang fanfict abal-abal ini. Saya sendiri lagi butuh kritik dan saran nih~ jadi minta review nya ya! kkk kamsahamnida! J

52 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s