Red-letter Day

 Title                       : Red-letter Day

Author                  : parkhyejin94

Genre                   : Romance

Category              : NC-21

Main Casts          : Kris & Song Raeki

Length                  : One-Shoot

Hoyee… author nongol bawa ff Kris. Ini ff pertamaku. Masih banyak kurangnya. Mian masih ada typo bertebaran di sini *mungutin typo bareng Kris*. Ga mau banyak bacot ah. Langsung aja. Happy Reading Chingudeul ^^

Author POV

‘Kriett…’

Terdengar suara  pintu ditutup. Keadaan kamar begitu hening, belum ada yang berani bersuara. Kedua insan yang baru saja mengikat janji suci dalam pernikahan itu tenggelam dalam diam.

Sang pria berjalan menuju ranjang pengantin, sementara si wanita masih terdiam mematung di depan cermin. Bingung. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Sambil duduk dan melepas jas serta melonggarkan dasinya Kris mencoba mengusir kekakuan di antara mereka. “Kau mandi duluan saja. Nanti aku menyusul,” Raeki mengernyitkan dahinya.

“M-maksudnya aku mandi setelah kamu.”



Kris masih duduk terdiam di atas ranjang. Dia melamun. Melamunkan takdir yang entah sedang mengarahkannya kemana.

‘Bagaimana perasaannya terhadapku?’

‘Apakah dia akan baik-baik saja dengan pernikahan ini?’

Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran Kris. Walaupun pernikahan ini terkesan mendadak, tapi dia tahu persis bagaimana perasaannya. Dia yang sebelumnya hidup hanya dikelilingi oleh belajar, pekerjaan, klien dan juga hotel tidak pernah terlalu memikirkan wanita, kini bertekuk lutut pada cintanya. Cinta yang baru beberapa hari lalu menyapa hidupnya.

Kris telah menemukan tambatan hati. Dia. Dia yang membuat cinta Kris jatuh pada pandangan pertama. Dia yang bisa membuat Kris tidak berpikir dua kali untuk mengikat janji suci tali pernikahan.

Song Raeki. Yeoja polos berperawakan mungil dan imut. Wajah kecil dengan mata bulan sabit. Hidung mancung dan bibir pink seksi yang selalu tertarik jika sedang tersenyum.



Kris POV

Oppa, aku sudah selesai,” suara Raeki membuyarkan lamunanku.

Aku terdiam memandang sosok Yeoja di depan pintu kamar mandi yang berada tegak lurus dengan penglihatanku. Raeki hanya mengenakan handuk yang melilit di batas atas dada dan atas lututnya.

‘Oh My…’

Demi apapun, dia terlihat sangat seksi dan menggiurkan. Jika saja aku bisa, ingin rasanya langsung menerjangnya dan menjatuhkannya di ranjang. Tubuh yang basah dililit menggunakan handuk yang menutupi bagian vital saja. Tetes air masih berjatuhan dari tubuhnya ke keset di bawah kakinya. Mungkin karena mentapnya terlalu lama, tanpa kusadari kini sesuatu diantara kedua pahaku menegang, membuat celanaku terasa sesak.



Raeki POV

“Giliranku mandi,” Kris Oppa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Aku merasa dia menatapku agak lama setelah aku keluar dari kamar mandi tadi. Entahlah mungkin perasaanku saja. Tapi saat dia berjalan ke arahku, tidak sengaja aku melihat ada sesuatu yang menyembul di balik handuk yang kini menutupi bagian bawah tubuhnya. Astaga. Itu pasti juniornya. Omona… kenapa bisa tegang begitu?

Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa malam ini dan bisa selamat sampai hari esok.

“Kenapa kamu masih di sini? Cepat pakai baju sana,” dia berbicara tepat di sampingku.

“I-iya Oppa. Ini, badanku masih basah, handukku cuma satu,” Kris Oppa membuat ekspresi wajahnya seolah mengatakan ‘Oh begitu,’ kemudian berlalu menuju kamar mandi.



Kris POV

‘Bruuuss’

Titik-titik air berjatuhan di tubuhku. Wajah dan tubuhnya membuatku serasa ingin meledak. Malam ini adalah malam pertamaku dengan Raeki. Aku jadi teringat perkataan Kyunhyun Hyung saat dia bersalaman denganku di pelaminan.

“Malam pertama jangan dilewatkan ya, nanti tidak seru jadinya. Yang ada cuma malam pertama, tidak ada lagi istilah malam kedua atau malam ketiga.  Dan ingat, lakukan dengan lembut, karena perempuanlah yang merasakan sakit. Perlakukan dia dengan baik. Jangan hanya rebut keperawanannya tapi rebut juga hatinya. Hahaha,” Kyuhyun Hyung mengakhiri pesannya dengan memukul-mukul pundakku.

Ah! PD sekali aku ini. Mana mungkin dia mau melakukannya denganku. Pernikahan kami atas dasar persetujuan orang tua saja. Eomma-ku dan Eomma Raeki yang berteman sepakat menjodohkan kami. Sebelumnya tidak pernah terbersit di pikiranku menikah dengan Raeki. Tentu saja. Aku baru mengenalnya sebulan yang lalu saat acara makan malam di rumah keluarganya.

Eomma mungkin khawatir, karena selama ini aku selalu mementingkan pekerjaan. Di usia yang sudah menginjak 27 tahun aku belum pernah mengenalkan pacarku, apalagi mengutarakan keinginan untuk berkeluarga pada Eomma. Itulah landasan bagi Eomma untuk langsung menjodohkanku dengan anak sahabatnya Song Jina, yaitu Song Raeki. Entah bagaimana, Raeki juga tidak menolak dinikahkan denganku. Padahal kami sama-sama belum mengenal baik satu sama lain.

“Hyaaa…” tiba-tiba terdengar teriakan dari luar. Aku tahu pasti itu suara Raeki. Kutajamkan kembali pendengaranku, tapi tidak terdengar lagi teriakan darinya. Aku pikir dia hanya kaget dan baik-baik saja.

Setelah lima belas menit membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi. Pandanganku tertegun pada sosok Yeoja yang sedang duduk di atas ranjang sambil mengutak-atik Android miliknya. Tapi, tunggu dulu. Ada yang aneh dari pakaian Raeki. Kenapa dia berpakaian seperti itu? Aku menatapnya seksama dari bawah hingga atas.

Ia mengenakan kain terawang pas badan berwarna biru donker. Ujung pakaianya hanya mencapai paha atas alias di bawah Miss-V. Di bagian perut dibuat sedikit lebih terawang, membuatku bisa melihat perut rata dan pusarnya. Dadanya tertangkup sempurna oleh kain renda berlapis busa tipis di dalamnya. Tali kecil menggantung di kedua pundaknya. Baju yang ia kenakan mungkin lebih tepat disebut lingerie. Rambutnya digelung keatas mengekspos leher putih jenjang miliknya. Membuat penampilannya seksi dengan sempurna.

Sepertinya Raeki sadar akan keberadaanku. “Oppa, handphone-ku mati. Apa kau punya charger-nya? Aku lupa membawanya kesini,” aku terus menatap Raeki tanpa berkedip. Bagaimanapun, aku ini lelaki. Sangat sulit bagiku menahan diri tidak menggagahinya.

Karena tidak mendapatkan respon, Raeki melambai-lambaikan tangannya ke arahku. “Oppa…

“Ah, ne. Itu cari saja di sana,” jawabku sambil menunjuk ke arah lemari kecil di samping tempat tidur.

Raeki berdiri sambil membungkukkan tubuhnya 90 derajat. Mengais benda yang ia cari di dalam laci.

Sepertinya saranku tidak tepat. Ini semakin menguntungkan bagi nafsu yang kian menggerogoti pikiran dan tubuhku. Posisinya menungging membuatku harus menatap pantatnya yang kenyal dan padat.

‘Ahhh… I’m truly sorry. I’m at my limit,’ batinku mengerang. Melihat pemandangan indah di hadapanku semakin membuatku tidak bisa mengontrol diri. Aku merasakan penisku menegang dan mengeras. Membuat celana panjangku sedikit menyembul ke depan. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Aku melangkahkan kaki ke depan menuju Raeki.

“Ini dia. Dapat.”

Saat akan meyolok charger ke electric plug aku merengkuh tubuhnya dari belakang.

Oppa akh… apa yang kau lakukan?” aku terus saja mengecupi lehernya sambil sesekali menyibakkan rambutnya ke samping. Tanganku semakin erat melingkar di perutnya.

Oppa… hentikannhh…” protesnya.

I’m sorry. I can’t stand it. I just can’t deny your hot body baby,” helaan nafasku kembali menerpa lehernya.



Raeki POV

Oppa akh… apa yang kau lakukan?” tiba-tiba bibir Kris Oppa menempel di leherku. Permukaan bibirnya menyentuh kulitku lembut. Hembusan nafasnya menerpa dengan sangat lembut sekaligus menaikkan bulu halus di seluruh tubuhku.

Oppa… hentikannhh…” Kris Oppa tetap tidak menggubris permintaanku. Dia memainkan bibirnya semakin cepat, membuat desahan keluar dari mulutku secara tidak tertahankan. Lidahnya keluar, meyapu permukaan leher kulitku kemudian naik hingga daun telinga. Ia memainkan lidahnya dengan sangat lihai. Aku jadi semakin merinding dibuatnya.

“Ahhh…” desahan demi desahan terus saja meluncur bebas. Otakku memerintahkan untuk segera menghentikan semua ini. Berbanding terbalik dengan tubuhku yang sangat menikmati setiap sentuhannya. Getaran akibat pergeseran lidah dan bibirnya di tubuhku dengan reflek diterima oleh saraf di bawah kulitku, diteruskan ke otak yang membuat tubuhku merespon setiap gerakannya. Tubuhku mengelinjang tidak karuan.

Kris lalu membalikkan tubuhku menghadapnya. Dalam sekejap mata kami saling berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa yang aku sendiri tidak mengerti. Aku menangkap pancaran aneh dari kedua bola mata Kris Oppa. Pandangannya seolah mengatakan ia ingin meminta lebih dari yang sekedar ia lakukan sekarang. Tubuhku membeku. Aku tidak dapat bergerak. Matanya membiusku sempurna. Aku tidak dapat mengiyakan apalagi menolak permintaannya.

Sadar akan kebekuanku, Kris melakukan sesuatu yang tidak aku sangka-sangka.

“Song Raeki. Aku ingin menanyakan sesuatu,” ia menarik nafas berat sebentar.

“Mengapa kau mau menerima pernikahan ini?”

‘Deg’

Aku terdiam. Bibirku juga tidak dapat bergerak. Aku tidak tahu harus mejelaskan apa padanya. Tubuhku langsung membeku. Aku jatuh terduduk di tepi ranjang.

Satu nama yang terus berputar di benakku. Tao. Huang Zhi Tao.

Sebelumnya dia adalah kekasihku. Tapi kini tidak lagi. Dua tahun yang lalu aku terpaksa berpisah dengannya. Setelah itu, dia tidak lagi pernah memberi kabar padaku.

Tanpa bisa kubendung, tangisku meledak. Kris Oppa sepertinya terkejut melihat tetes air mata mengalir di wajahku.

Dia duduk, kemudian memelukku *masih topless* O.o

“Raeki-ah… Oppa bisa mengerti. Kamu pasti merasa asing karena kita baru sebulan lalu bertemu dan harus menikah hari ini. Oppa tidak akan memaksamu untuk menerima Oppa.”

Aku terkejut mendengar perkataannya. Kini wajahnya menunduk, menyiratkan kesedihan seolah aku telah menolaknya. Ya Tuhan, dia salah paham.

Oppa, bukan seperti itu…”

“Lalu seperti apa?”

Aku kembali terdiam. Bibirku membeku seketika. Haruskah kukatakan bahwa aku masih mencintai orang lain? Aku masih mencintai Tao Oppa. Aku teringat saat terakhir kali kami bertemu.

Flashback

Saat kami berjalan bersama bergandeng tangan. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah gaun yang terletak di etalase toko. Gaun itu sangat indah, menurutku. Gaun mini tanpa tali berwarna putih. Bagian bawahnya mengembang seperti rok. Aku ingin sekali memiliknya.

Kurasakan tangan hangat milik Tao Oppa menyentuh pipiki. “Chagiya… kau sedang melihat apa?”

“Gaun itu ya? Apa kau menginginkannya?”

Dengan sigap Tao Oppa menangkup kedua pipiku. “Maafkan Oppa. Saat ini Oppa belum bisa memberikannya. Oppa belum punya cukup uang.”

Mataku berkaca-kaca mendegarnya. “Oppa jangan sedih. Aku tidak suka melihat Oppa begini. Oppa, percayalah, aku tidak menginginkan gaun itu. Bisa bersama dengan Oppa, itu sudah lebih dari cukup bagiku…” lalu kami saling berpelukan. Di bawah pohon sakura yang bunganya sedang jatuh berguguran. Summer. My last summer with him. The one I loved.

Di bandara Incheon aku mengantarkan kepergiannya menuju Amerika. Aku mengingat semuanya. Masih sangat jelas terasa. Saat Tao Oppa mencium keningku lalu berucap, “Tunggu aku. Suatu saat nanti aku pasti kembali. Kembali pada bidadariku yang cantik. Menikah lalu hidup bahagia bersama anak-anak kita. Maaf, aku harus membuatmu menunggu. Saat aku kembali, aku harap aku masih berada di hatimu bidadari kecilku,” aku hanya bisa menangis saat ia mengucapkan janjinya. Aku tidak bisa menentang pilihannya menerima tawaran beasiswa dari Amerika. Tao Oppa bilang padaku bahwa yang ia lakukan untuk kebaikan kami berdua.

End of Flashback

 

Bulir-bulir bening kembali menumpuki sudut mataku. Kenangan bersama Tao Oppa terus berputar di memori otakku.

Seketika kurasakan tangan Kris Oppa membelai pipiku lembut. Memutus aliran anak sungai yang terbentuk di kedua belah pipiku. Ia masih melakukannya. Aku mencoba menghentikan tangis, tapi yang ada aku malah terisak.

Dengan menggenggam kedua tanganku, Kris Oppa berkata, “Raeki, aku tahu kau menerima pernikahan ini bukan atas dasar cinta. Aku sadar, pertemuan kita yang singkat belum bisa membuat hatimu menerima diriku,” aku terdiam. Samar aku melihat mata Kris Oppa berkaca-kaca.

Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan? Butiran bening suci memaksa keluar dari kedua belah matanya. Kris Oppa menangis. Ya, aku membuat malaikatku menangis.

Oppa, maafkan aku. Aku tidak mau membuatmu seperti ini. Terus menyangsikan pernikahan kita. Satu yang harus Oppa tahu, aku meyakini pernikahan sebagai sesuatu yang sakral. Aku tidak akan menerimanya jika aku tidak menginginkannya. Aku yakin dengan pilihanku. Menjalani hidupku bersama Oppa kini dan nanti. Hingga hanya maut yang dapat memisahkan kita,” dia merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Perasaan bahagia menyeruak. Aku meyakinkan diri. Pilihan Eomma tidak salah. Kris Oppa benar-benar orang baik. Dia bahkan tidak mau membuatku merasa terpaksa.

“Terima kasih. Sekarang aku hanya bisa berjanji akan selalu menjaga dan mencintaimu dan akan kubuktikan janji itu. Aku mencintaimu Song Raeki, dengan seluruh jiwa dan ragaku,” Kris Oppa lalu mencium rambut dan keningku. Lembut. Sangat lembut. Tidak sedikitpun tersirat nafsu. Aku mengeratkan pelukan di tubuhnya. Menaruh kepalaku tepat di dadanya. Aku menikmati  irama jantungnya yang berpacu dengan cepat.

Nado saranghaeyo Kris Oppa.



Author POV

Kedua insan itu kini melepas pelukan mereka. Saling menatap wajah satu sama lain. Tatapan mereka kini diwarnai cinta. Cinta yang akan menaungi sepanjang perjalanan hidup bersama.

Entah siapa yang memulai lebih dahulu, kini bibir mereka menyatu. Masih terdiam untuk mengenali rasa pasangan masing-masing. Mereka berdua duduk berhadapan di atas ranjang. Sungguh posisi yang sempurna bagi keduanya.

Tangan sang namja tergerak merengkuh pipi yeoja-nya. Dan sang yeoja pun seolah tak mau kalah dengan mendekap kepala sang namja menuju wajahnya. Bibir Kris mulai bergerak melumat bibir Raeki. Lumatan itu berubah semakin menggairahkan. Kris mengecup bibir Raeki bergantian. Raeki yang awalnya hanya mematung mulai memberanikan diri membalas ciuman suaminya. Mereka benar-benar menikmati hingga kini saling membuka tutup mulut mereka seperti ingin memakan bibir masing-masing.

“Ahhh…,” tiba-tiba Raeki memekik nikmat. Tidak tahan dengan nafsu yang kini sudah menggerogoti tubuh dan akal sehatnya.

Desahan Raeki semakin membuat Kris bersemangat. Ia menggendong Raeki hingga terbaring sempurna di atas ranjang. Kris mengambil posisi di atas Raeki yang kini terkulai lemas di bawah tubuhnya.

Kris membelai tubuh Raeki menggunakan jari-jarinya lembut. Dimulai dari kepala lalu turun ke hidung, bibir, dagu dan leher. Hingga tangan Kris mencapai puncak dari salah satu titik tersensitif wanita.

Oppa akkkhh…” perlakuan Kris di atasnya benar-benar membuat tubuhnya terbuai. Erangan Raeki semakin membahana di seluruh penjuru kamar ketika Kris meremas-remas kedua belah dadanya dengan gerakan seduktif. Sesekali mencubit nipple Raeki yang ditemukannya sudah menegang di balik gaun. Untung saja kamar Kris yang kini telah berubah menjadi kamar pengantin kedap suara. Jika tidak, seisi rumah bisa saja mendengar erangan sensual Raeki.

“Rupanya kau sudah tidak tahan? Sabar, chagi..” Kris melanjutkan kegilaannya. Bibirnya mengambil alih peran untuk mengecup dan menggigit-gigit payudara Raeki dari luar. ‘Ohh… sungguh nikmat,’ batin Raeki.

Raeki merasa dirinya sudah gila. Gila akan setiap sentuhan Kris di permukaan tubuhnya. Bagaimana bisa ia menerima saja perlakuan Kris sementara dia sendiri masih bingung menentukan arah jalan cintanya.

Pakaian tipis yang dikenakannya menjadikan sentuhan bibir Kris begitu terasa di kedua payudara Raeki. “Oppa-hhh….” bibir Kris semakin ganas menjajal payudara kanan Raeki. Tangan kanan Kris masih  meremas-remas gundukan kesukaannya, sementara tangan kirinya mulai menjalar turun membelai perut Raeki dan berputar-putar di sana. Raeki sadar akan perasaan asing di perutnya. Asing namun sangat nikmat menurutnya. Perutnya terasa penuh, seolah ada ribuan kupu-kupu yang terbang berdempetan di dalam perutnya. Tangannya mulai turun dengan berani menuju pangkal paha Raeki. Sedikit melebarkannya agar tangannya mudah menyentuh kewanitaan Raeki.

Tangan kanan Kris kini berpidah menuju punggung Raeki, mencoba menurunkan restleting untuk memudahkan aksesnya menjamah tubuh wanita yang ia cintai. Kris menurunkan gaun tidur Raeki sampai bawah perut. Kris memicingkan matanya, terpesona pada pemandangan indah yang langsung terpampang jelas di depan matanya. Tentu saja, karena Raeki tidak memakai breast holder, gaunnya dilengkapi built-in bra. Selama beberapa detik, Kris diam tak bersuara. Payudara Raeki begitu indah, cukup besar dan bulat sintal dengan nipple berwarna cokelat kemerahan. ‘Ternyata aslinya  lebih indah,’ pikirnya.

Raeki merasa risih karena sejak tadi Kris terus memandangi dadanya. “Oppa, jangan pandangi aku seperti itu terus. Kau seperti ingin memakanku.”

“Kau benar, chagiya… aku akan memakanmu,” Kris mulai menciumi lalu melahap payudara Raeki. Menggerak-gerakkan bibirnya seperti mau memakan tapi tidak menggigit.

“Hyaa… akkhh… mmmpphh…” desah Raeki setengah berteriak.

Tanpa menunggu lama, sebelah tangan Kris segera melepaskan pakaian Raeki yang masih tersisa. Lalu memasukkan satu jarinya ke dalam vagina Raeki. Raeki menggigit bibirnya menahan rasa sakit. Ia ingin berteriak, tapi tidak bisa. Kris terus menggesekkan jarinya semakin cepat, membuat Raeki tidak lagi bisa menahan jerit kesakitannya.

“Pelan Oppa… akkhh… sakitttt, akkkhhhh….” tanpa peringatan, Kris langsung menambah satu lagi jarinya. Raeki terus meronta. Tapi Kris tidak menghiraukannya, tiba-tiba ia menjadi tuli dan terus melakukan kegiatannya hingga sesuatu yang basah menyembur dan menyelimuti jari-jari Kris.

Kris kemudian menarik jarinya dari vagina Raeki. Ia menghentikan semua kegiatannya. Dari atas, ditatapnya wajah berpeluh Raeki. Nafasnya putus-putus karena bergairah dan terus mendesah, menambah kesan seksi di mata Kris. Wajah tampannya menyeringai penuh gairah. Kris bangkit lalu melepas celana hitam panjang yang masih menutupi kaki dan junior-nya.

Kris mendudukkan Raeki kemudian mejatuhkan dirinya sendiri bertumpu pada kedua lututnya di hadapan Raeki. Wajah Raeki merah padam melihat junior Kris. Kejantanan Kris mengacung tinggi dan keras. Tegang hingga urat-uratnya menonjol dengan jelas.

Raeki terdiam. Masih terpana dengan ukuran Kris yang tidak biasa. Apalagi dia belum pernah melihat benda seperti ini sebelumnya. Kris membimbing tangan isterinya menuju junior-nya yang kini siap mengamuk.

“Manjakan dia, chagi,” pinta Kris.

Oppa,” Raeki menatap wajah Kris seksama.

“Ini milikku,” tanpa melanjutkan kata-katanya lagi Raeki langsung menggenggam benda itu, mengklaim benda dengan diameter 6 cm dan panjang 19 cm itu sebagai miliknya. Ia lalu melahap penis Kris. Mengulum kepala batang Kris yang memerah, ‘seperti stroberi’ pikir Raeki. Menjilat-jilat ujung lubangnya yang terasa asin karena pre-cumnya sudah keluar. Tanpa jeda memasukkan penis Kris sambil memaju mundurkan kepalanya.

Yes baby… oucchh.. it’s yours. Mmmhhh…” kini Kris yang meracau tidak karuan. Matanya terpejam sembari menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi nikmat yang menjalar dari pangkal paha ke seluruh tubuhnya. Wajahnya memerah. Entah berapa menit berlalu, Raeki merasakan sesuatu dalam mulutnya semakin berkedut. Merasakan hal itu, Kris mencabut penisnya dari mulut Raeki lalu mendorong tubuh Raeki hingga telentang di bawahnya.

Raeki merengut, protes karena ‘mainannya’ direbut.

Oppa lagiii… aku masih mau. Oppa juga belum keluar ‘kan? Ayo Oppa… kesinikan,” pinta Raeki menggunakan aegyo-nya.

“Aiisshh… baby nakal. Nanti saja dulu, Kris junior sudah tidak tahan nih…” ucap Kris sambil mengacung-acungkan barangnya.

Gemas dengan kelakuan Kris, Raeki meremas juniornya.

“Ouchh… sakit, chagi,” Raeki hanya tersenyum menanggapi keluhan suaminya itu.

Kris mengelusnya pelan, lalu mengocok sendiri junior-nya. Beberapa detik hingga ukurannya mencapai maksimal, 6×19. Raeki langsung menutup wajah menggunakan kedua tangannya.

Kris heran pada Raeki, “Kenapa?”

Sambil mengintip Raeki berkata “Aku malu Oppa.”

“Hasshh, chagi, kau membuatku semakin gemas. Aku masukkan sekarang, ya?” Raeki hanya mengangguk menjawab pertanyaan Kris. Ia tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Kris memegang kendali penuh atas tubuhnya.

Kris membuka lebar-lebar kaki Raeki, memasukkan penisnya perlahan.

“Ahh uhh Oppa… sakittthh,” rintih Raeki tak jelas karena ia menggigit jari-jarinya sendiri. Sementara tangannya yang lain meremas kuat sprei kasur sutera berwarna merah di bawahnya.

“Tahan, chagi, ini baru ujungnya.”

Oppa akkhh…” jerit Raeki ketika penis Kris menerobos dan terasa merobek sesuatu di dalam sana.

Karena sedikit susah memasukkannya, Raeki memekik dan menangis kencang.

“Jangan menangis, baby. Aku hanya ingin memberimu kepuasan.”

Oppa… hiks hiks… sakiiitt…” Kris mengecup ujung mata Raeki. Berusaha menghentikan tangisan isterinya itu. Kris menghentikan gerakannya, membiarkan vagina Raeki beradaptasi dengan ukuran miliknya.

“Sakit Oppa… aaakkhh… hmpph-“ ia beralih mencium dan melumat bibir Raeki lembut. Dia terus menciumi Raeki sampai dirasanya keadaan Raeki tenang.

Kris lalu menghentakkan pinggulnya membuat Raeki memekik terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba. Tapi suara Raeki tertahan karena bibir Kris masih melumat bibirnya. Mengalihkan rasa sakit yang diderita Raeki.

Dada Raeki bergoyang-goyang seirama dengan hentakkannya keluar masuk tubuh Raeki. Sensasi kenikmatan terasa di setiap jengkal tubuh mereka berdua. Kris memejamkan matanya lalu kembali mendesah saat merasakan vagina Raeki meremas kuat penis-nya. Kris sangat menikmatinya, begitu pula Raeki.

Selama puluhan menit berlalu mereka terus melakukannya. Raeki merasa tubuhnya sangat lemas karena mengeluarkan banyak cairan. Tapi Kris belum juga mencapai orgasme. Kris mengubah gerakannya semakin cepat. Mengeluar masukkan miliknya ke dalam vagina Raeki. Sepertinya, sebentar lagi dia juga akan klimaks.

Raeki merasakan milik Kris yang tertanam di tubuhnya semakin mengeras. Urat-urat penis-nya terasa menegang.

“Akkkhhh….” Kris akhirnya mencapai puncak. Menyemburkan cairan hangatnya di dalam tubuh Raeki.

Tubuhnya melemas, telungkup di atas Raeki. Kris terus memeluk tubuh Raeki di bawahnya tanpa melepaskan pertautan milik mereka.

Oppa… mau sampai kapan di atasku? Berat…”

Kris tersenyum, lalu menggulingkan tubuhnya ke samping Raeki. Kini mereka berbaring miring agar bisa saling menatap wajah satu sama lain.

Saranghaeyo Mrs. Wu,” ucap Kris sambil mengecup kening isterinya, Song Raeki.

Nado saranghaeyo,”

Keduanya lalu tertidur sambil berpelukan.

In the same night

“Jadi kau membongkar kopernya?”

“Iya. Terus semua bajunya kutukar dengan lingerie.”

“Wah wah… Song Jina, kau jenius seperti biasa. Hihi.”

“Ah… Tentu saja Nyonya Wu. Hahahahaha… aduh, aku jadi tidak sabar ingin menimang cucu,” kedua wanita paruh baya itu terus saja tertawa bersama.

“Hey lihat! Ternyata kita berhasil. Sepertinya sebentar lagi mereka akan melakukannya.”

“Eh sssttt… mereka mulai,” salah seorang dari mereka memberikan instruksi dengan menaruh telunjuknya di bibir.

Mereka memicingkan mata masing-masing ke sebuah TV layar datar. Ya, mereka sedang menonton. Kalian tahu? Yadong. Live! Dari kamar pengantin anak-anak mereka.

-THE END-

Bwahahahaha… *ketawa lebar* Gimana ffnya? Seru ga? Atau malah aneh? Itu sebenarnya author bingung mau ngasih judul apa buat ff ini. Red-letter day itu sebenarnya istilah. Red-letter day artinya suatu hari yang akan selalu dikenang karena sesuatu yang khususnya baik terjadi pada hari itu. Mian kalo NCnya kurang. Atau malah kelebihan? #bletaakk *dijitakin readers*

Author sangat mengharapkan cinta dari readers berupa kritik dan saran membangun untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Last word, Kamsahamnida~ *bow with Kris*

112 pemikiran pada “Red-letter Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s