Terbang Bersama Serpihan Dandelion

Author :  Mrs.Chanyeolet ( @chanyeolli27yahoo.co.id)
Genre : Sad (?)
Rating : Teen
Length : Oneshoot
Cast : Oh Sehun (you) ,  Cho Ahra, Xi Luhan

Note ::

Annyeong readers.. Ini FF pertama author dan asli. Bukan plagiat, copas, atau yang lain. Jadi jangan berburuk sangka
Mian kalu ceritanya agak aneh.. Author akan berusaha jadi lebih baik lagi..mohon kritik dan saran dari para readers…
Happy reading..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 ( 27 – 11 – 2006 )

Benarkah hidup itu indah ?

Tak banyak orang tahu apa itu arti kehidupan. Sebagian orang menganggap hidup itu hanyalah panggung sandiwara yang penuh dengan tinta hitam dan dusta. Namun sebaliknya tak sedikit pula orang memutar otaknya mengartikan hidup adalah sebuah jembatan liku penuh peluh yang harus dilewati untuk mencapai ke kehidupan yang sebenarnya.

Mengapa semua orang  berlebihan mengartikan apa itu kata hidup ? Terlalu mengambil pusing dan bertele-tele menjelaskannya. Selalu berusaha berargumen dan merasa paling benar tentang hal-hal yang membingungkan bila tengah bicara tentang kata hidup. Namun, aku tak peduli. Aku bahkan juga tak tahu apa arti dari kata hidup yang sesungguhnya seperti kata-kata orang kebanyakan itu. Aku hanya menggeleng kepala saat guru religiku bertanya hal bodoh itu kepadaku.

Aku memandang luas taman bunga di samping rumahku yang di penuhi bunga dandelion. Angin membelai lembut serbuk bunga itu dan membawanya terbang menuju langit senja yang indah penuh coretan tinta berwarna jingga. Dandelion. Bunga berkelopak cantik namun amat rapuh. Aku menghembuskan napas perlahan, sejenak pandanganku mengikuti kemana angin akan membawa serpihan-serpihan bunga itu pergi . Dengan lembut serpihan-serpihan itu menjauh, semakin memudar dari pandangan mataku. Dan pada akhirnya menghilang.

Sejenak aku melirik ponsel yang tengah ku dekap saat ini. Tak ada satu pun pesan ataupun panggilan. Rasa bosan menghampiriku, membisikiku dengan berbagai hal yang kuanggap sama sekali tak penting. Dengan malas aku menyentuh layar touchsreen benda kecil berwarna hitam metalic yang ku beli saat musim gugur tiba 5 bulan lalu itu. Bersamanya tentu saja.

Seketika aku menatap dalam-dalam deretan angka yang mampu aku ingat di luar kepala itu di layar ponselku. Sejenak aku ragu,aku hanya tak ingin mengganggu dirimu yang pasti sangat sibuk sekali saat ini. Namun, angin yang diam sedari tadi telah menggodaku hingga aku berani menekan tombol hijau pada layar ponselku.

Pada deringan ketiga, gendang telingaku menangkap suara serak dan paraumu yang seperti biasa selalu mampu membuat hatiku berdesir. Aku terdiam sejenak, di seberang sana kau tetap bersay hello untuk menyapaku. Aku pun tersadar dari lamunanku, dan segera menyambut sapaanmu yang lembut.

“ Yeo…. yeobboseo ?? ,”

Aku terbata bata membalas panggilanmu. Aku hanya terlalu terkejut dan bahagia, pastinya.

“ Hey, jangan seperti itu,kita sudah lama kenal ,”ucapmu.

“ Setelah semua ini kita masih berteman ,bukan ?? “ tambahmu.

“ Tentu saja,..,” aku menjawab sekenanya.

“Ada apa denganmu ?? Apa kau sedang bosan padaku ?? “ tanyamu berbasa basi.
” Tidak, aku hanya ingin …,”

“ Jeongmal bogoshippoyo, Sehun~a…,”ucapmu lirih.

Belum selesai aku berkata kau menyelaku. Dan lagi-lagi hatiku berdesir mendengar ucapanmu, aku menggigit bibirku kuat-kuat menahan perasaan yang sama pada dirimu. Aku terdiam sejenak, mengumpulkan kembali jiwaku yang masih melayang-layang saat aku merasakan getaran suara lembutmu di telingaku. Namun, bersamaan dengan itu, kau memutus hubungan telepon ini. Aku terkejut, segera bangun ke alam nyata dan memulai kembali untuk menghubungi dirimu. Nihil. Kau tak segera mengangkat panggilan itu. Membiarkanku dalam kecemasan pahit untuk berharap kau akan menerima telepon dariku lagi. Aku tak menyerah, mencoba untuk terus menghubungimu dan mengirimkan beberapa pesan untukmu. Beberapa waktu, aku mulai menyerah. Kalah terhadap perasaan ini. Perasaan yang membuat kepalaku terasa berat dan sesak tiap kali hal itu bergelayutan dalam otakku. Aku pun menyandarkan punggungku pada dinding tembok. Sambil tetap memandangi ponsel yang tengah aku dekap saat ini.

Tampak seorang laki laki bertubuh tinggi dan kurus mendekat ke arahku dan duduk di sampingku. Meraih ponselku dan membantingnya kasar.

“ Hey ponselku !! “ bentakku pada laki-laki itu.

“ Hentikan Sehun~a ! Jangan seperti ini !! ,” bantahnya.

“ Ige mwoya ?!!”

Namja itu diam.

“ Kau tahu betapa pentingnya ponsel itu bagiku ?! Dasar payah !! “ umpatku.

Namja itu masih terdiam, matanya menyorot tubuhku dengan tatapan  dingin, seperti biasa.

Aku pun balas menatapnya, aku tahu pasti saaat ini mataku tengah memerah menahan amarah dengan jantung yang terus bergejolak dengan tempo cepat dalam dadaku. Seketika aku menyeringai dan mengepalkan tanganku kuat-kuat.

“ Apa kau menganggapku sudah gila seperti kebanyakan orang umpatkan padaku ?!! “ seruku tepat di depan wajahnya kemudian meraih ponselku yang mati tak jauh dari tempat namja itu berada.

Namja itu menahan lenganku kuat. Aku meronta, berusaha melepas cengkraman tangannya yang terlewat keras menimbulkan tanda merah pada lenganku. Dia memandang wajahku. Tapi aku menepisnya, aku tetap berusaha melepaskan tanganku yang mulai terasa sakit.

“ Lihat Hyung !! Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?!! “ tanyanya kasar.

Tubuhku bergetar hebat seketika. Aku menunduk tanpa berani menatap sorot matanya yang tajam menusuk jiwaku saat ini. Pelan-pelan dia melepaskan cengkramannya pada lenganku.

“ Dia bicara padaku, dia tertawa mendengar leluconku,dia..,”

“ Itu hanya imajinasimu saja, Sehun~a ! ,”

“ Dia benar-benar bicara padaku, Hyung !! ,” bantahku.

“ Di dunia ini tak ada orang yang sudah meninggal mampu untuk mengangkat telepon dan bercanda denganmu !! ,”

Aku terkesiap, merasa kalah dan terpojokkan dalam sudut kecil tanpa bisa lagi bergerak bebas. Bagaimana bisa dia dengan mudahnya berkata bahwa Ahra sudah meninggal padahal baru beberapa menit yang lalu aku mendengar suara lembutnya ??

“ Aku tidak gila, Luhan Hyung !! ,”

“  Lalu tunjukkan !! Bila kau memang masih waras untuk apa kau setiap sore selalu berbicara dan tertawa sendiri dengan ponsel bodohmu itu ?! ,”

“ Ahra masih hidup ! ,”

“ Kau memang keras kepala !! ,” bentaknya seraya menyodorkan sebuah koran kusam dengan kertasnya yang mulai menguning padaku. Aku menerimanya was-was, tanganku masih tetap bergetar membuka setiap lembar demi lembar benda usang itu. Sejenak, mataku menyorot pada sebuah headline berita yang bertuliskan “  16 Orang tewas karena Cuaca Buruk “. Ku lihat tanggal penerbitan koran lawas itu 26 September 2007 .

Luhan Hyung, kakak sepupuku yang memutuskan untuk tinggal bersamaku sejak 3 tahun yang lalu itu memandangku ragu sejenak, lalu mengusap pundakku pelan. Aku tetap menunduk menyembunyikan kesakitanku sambil terus menatap tulisan yang terpampang besar di hadapanku saat ini.

“ Kau percaya sekarang ?? Sehun~a tak ada yang perlu disesali. Kau hanya harus mencoba merelakan dirinya..,”

Aku terdiam seketika, kembali merenungi  semua yang telah terjadi. Tubuhku melemas, kurasakan  tak ada lagi rangka yang mampu menopang tubuh rapuhku saat ini, aku benar-benar tak percaya. Seakan-akan ada yang telah mencoba mempermainkan diriku, dan membuangku sembarang bagai seonggok sampah yang setia menghiasi tepi jalanan. Sekali lagi aku harus menjadi korban untuk menelan pil pahit dari kesalahan orang lain.

Aku menyeka air mataku pelan yang telah membasahi pipi tirusku sedari tadi. Sudah kering, sekalipun kutahu luka hatiku takkan pernah mengering. Teringat saat aku menggenggam tangan mungilnya erat tanpa pernah kulepas dan berbaring bersama di tengah taman bunga sambil menikmati indahnya goresan tinta oranye di langit senja saat musim gugur tiba, melingkarkan syal berwarna merah jambu di lehernya kemudian  mengecup lembut keningnya yang halus dan membuatku sejenak terasa nyaman. Waktu seketika berhenti dan mengurungku dalam ruang penuh cahaya dan imaji. Selalu begitu. Setiap kali memandang sinar hangat dari wajahnya, aku akan berdiri di luar dimensi waktu. Masih tetap berlaku hingga kini. Namun, ruang penuh cahaya dan imaji saat ini telah berganti

.

Kuhembuskan nafas panjang. Bergegas, aku bangkit menuju kamarku di samping kiri ruang tamu. Di cermin, kupandangi bayangku lama. Tak ada yang berubah. Aku masih seperti ini dan akan tetap seperti ini. Meskipun terasa sangat menyakitkan. Pada akhirnya, aku harus melepasmu terbang bebas bersama hembusan angin. Seperti serpihan dandelion yang rapuh di musim gugur.

END-

Iklan

22 pemikiran pada “Terbang Bersama Serpihan Dandelion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s