Our Past Future Life (Chapter 1)

Author             : Inhi_Park

Main casts       : Kim Jongin a.k.a. Kai & Kim Hyora

Support casts   : A boy

Genre              : Romance

Length             : Multichapter

Rating             : PG-15

A.N                 : Anyeong readers… Inhi’s back… kekeke~ sok terkenal bgt yaa… (n_n) Aku balik lagi nih… kali ini dengan multichapter beneran…

Ada yg masih inget FF series Half of My Heart???Ini kisah lengkap dari versinya Kai.Karena dari semua series HMH personally aku paling suka sm versi abang Kkamjong itu, jadi aku coba bikin yang lengkapnya. Oleh karena itu, setting dan segala macamnya sama dengan cerita yg itu…

Okee… basa-basinya di cukupkan sekian. Langsung simak aja yaa…

Happy reading… n_n

Summary         :

“No matter how dark your past is, the all I know is that you are my future”

 

(Kai’s side)

Setelah berkali-kali mengganti kaos dan kemeja yang ku gunakan karena terasa kurang pas, berkali-kali mengacak rambut dan mengganti tatanannya, akhirnya aku berakhir dengan setelan jeans dengan kaos abu-abu dan kemeja kotak hitam abu yang sengaja tak ku kancingkan dan lengannya ku lipat sampai siku. Aku mematung cukup lama di depan cermin memastikan kalau penampilanku sudah cukup baik.

Aku Kai. Meski itu bukan nama asliku, tapi mau tidak mau kau harus memanggilku seperti itu. Hari ini, aku merasa senyum tidak mau luntur dari bibirku. Rasanya seperti ada sengatan listrik yang menggelitik hatiku sehingga membuatku selalu ingin terus memajang senyuman ini.

Aku berdiri menyandar di pagar depan rumahku. Hari ini, tepat satu bulan aku resmi menyandang status baru. Dan hari ini juga, pertama kalinya kami –aku dan Hyo- akan pergi kencan. Dan itu dia, dengan mengenakan kaos longgar sepaha dan legging hitam ia tampak mempesona di mataku. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan hanya di hias bandana sederhana membuatnya terlihat manis. Aaahh… cantiknya yeojaku…

(Hyora’s side)

Dia melirik kearahku. Namja yang sedang bersandar di pagar rumahnya itu seketika menegakkan tubuhnya saat mengetahui kalau aku berjalan ke arahnya. Aku tersenyum yang dibalas dengan senyum tipisnya yang khas. Senyum yang membuat duniaku serasa berhenti berputar.

Tanganku memain-mainkan tali tas kecil yang tersampir di bahu kananku demi menutupi rasa canggung yang melanda diriku. Bagaimana tidak, ini adalah kencan pertama kami tepat di satu bulan kami resmi menjadi sepasang kekasih.

Aku menghampirinya yang juga terlihat canggung. Lucu melihatnya seperti ini. setelah hampir 3 tahun kami saling mengenal dan kemudian berteman baik, ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini.

Saat kami hanya berjarak kurang sari satu meter, ia mengulurkan tangan kirinya. “Kita pergi sekarang?” Tanyanya.

Aku menjawab dengan senyuman dan lalu menerima uluran tangannya. Senyumku melebar saat aku memandangai tangan kami yang saling bartautan. Dulu, aku memang seringkali menggandeng lengannya. Tapi rasanya beda, yang sekarang terasa lebih hangat… Kekeke…

<><><>

(Author’s side)

Kai dan Hyo berjalan santai menyusuri jalanan daerah Namsan. Saat itu matahari sedang bersinar dengan teriknya saat Kai menoleh kearah Hyo. Kai mengangkat tangan kanannya dan menghalangi sinar matahari yang menerpa wajah Hyo dengan tangan besarnya itu.

“Wajahmu memerah. Kau pasti kelelahan.” Katanya sambil memandangi wajah kemerahan Hyo.

“Aniya…” Jawab gadis itu sambil menurunkan lengan Kai yang ada di depan keningnya.

“Maaf karena kita hanya bisa berjalan kaki seperti ini.” Kata Kai pelan.

“Kau ini apa-apaan sih. Aku baik-baik saja.” Sahut Hyo sambil tersenyum cerah. Ia tahu kalau Kai pasti merasa tidak enak karena mengajaknya kencan seperti ini sementara Hyo tahu jelas kalau di rumah Kai memiliki motor sport yang karena sesuatu hal tidak pernah dikendarainya lagi.

“Kai?” Pekik Hyo memecah kesunyian. “Ayo main.” Tambah Hyo. Telunjuknya mengarah pada deretan tangga panjang menuju puncak. Kata ‘main’ yang ia maksud adalah berlomba menapaki tangga itu dengan bermain gunting batu kertas. Dan bagi siapa pun yang berhasil sampai ke tengah duluan, maka yang kalah harus menggendongnya sampai ke atas. “Kali ini aku pasti menang lagi.” Kata Hyo. Ya, mereka memang sudah beberapa kali memainkan permainan ini dan selalu diakhiri dengan Hyo yang menaiki punggung Kai.

~ gunting batu kertas~

“Yeay… aku menang! Good bye Kai…” Seru Hyo sambil melangkah menaiki 3 anak tangga pertama. Kai hanya tersenyum menyaksikan sikap childish Hyo.

~ gunting batu kertas~

Sekarang giliran Kai yang menang.

~ gunting batu kertas~ mereka melakukannya beberapa kali sampai mereka berdiri di tangga yang sama dan menyisakan 3 anak tangga lagi. Itu berarti saatnya penentuan.

~ gunting batu kertas~

Tangan kanan Hyo mengepal sementara tangan Kai terbuka lebar. “Aku menang!” Kata Kai sambil meninggalkan Hyo yang kini sibuk mengoceh.

“Ya! Kau pasti curang… kau mengeluarkan tanganmu lebih lambat dariku. Kau curang…” Seru Hyo.

“Sembarangan! Akui saja kalau kau kalah. Sekarang ayo cepat gendong aku sampai ke atas…” Jawab kai.

“Huh! Baiklah.” Hyo berjongkok di depan Kai bersiap untuk menggendongnya. “Ayo cepat naik.” Tambahnya sambil menepuk-nepuk pundaknya.

Namja yang berkulit agak gelap buat ukuran orang Korea itu menyunggingkan senyum tipisnya. Dan dengan sekali hentakan, ia meraih lengan kanan Hyo, memaksanya berdiri lalu membopong tubuh mungil itu.

“Ya! Kai… Kau apa-apaan sih. Cepat turunkan aku.” Hyo terus meronta saat Kai terus menggendongnya dan membawanya sampai ke puncak.

<><><>

“Kau percaya dengan hal-hal seperti ini?” Tanya Kai ragu saat melihat Hyo mengambil kertas dan pulpen yang terletak di sebuah meja kecil.

Saat ini mereka berdua sedang berdiri di samping sebuah pohon cemara besar yang berwarna hijau dan pink. Hijau karena pohon itu berdaun lebat, dan pink karena di pohon tersebut banyak kertas berwarna pink yang digantungkan di dahan-dahannya. Entah atas dasar apa, orang-orang di daerah sini percaya bahwa jika kita menuliskan harapan kita di kertas yang di sediakan disana lalu menggantungnya di pohon ini, maka harapan kita akan menjadi kenyataan.

“Entahlah, tapi apa salahnya kita mencoba.” Kata Hyo. “Ini  untukmu.” Ia menyodorkan secarik kertas pink dan sebuah pulpen pada Kai.

“Aku tidak mau.” Seru namja itu.

“Ayolah, kau ingin tahu ini bisa menjadi kenyataan atau tidak kan? Jadi ayo kita buktikan sendiri.”

Kai mengambil kertas itu dengan sedikit terpaksa. Kalau bukan kau yang memintaku, Hyo… bisiknya dalam hati.

Mereka berdiri sambil saling membelakangi dan menulis harapan mereka masing-masing di kertas pink yang sudah mereka genggam.

“Jangan nyontek punyaku ya!” Kata Hyo.

“Heuh, memangnya siapa yang mau lihat tulisan jelekmu itu.” Balas Kai.

Mereka sibuk memikirkan harapan yang akan mereka tulis disana.

Hyo menuliskan satu per satu kata yang ia rangkai sambil tersenyum manis, ‘Tuhan… Aku mencintai Kai dan aku tahu Kai mencintaiku. Izinkan kami saling mencintai selamanya.’

Sementara Kai, ia tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang harus ia tulis. Namja itu hanya menorehkan beberapa kata di kertas miliknya, ‘KAI ♥ HYO Forever’

<><><>

“Hari ini kenapa panas sekali ya?” Keluh Hyo sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan kirinya, tentu saja karena tangan kanannya masih saling bertautan dengan tangan Kai.

“Kau kepanasan ya?” Tanya Kai.

“Emh… sedikit.” Jawab Hyo ragu.

Kai menyapukan pandangannya ke sekeliling. Di salah satu sudut, ia menemukan sebuah kedai ice cream. Ia berniat membelikan Hyo ice cream strawberry kesukaannya. Tapi matanya tiba-tiba manangkap pemandangan yang menarik.

“Kau tunggu disini sebentar.” Kata Kai.

Hyo menurut. Ia tetap berdiri di tempatnya sementara Kai mendekati seorang pengamen jalanan.

Kedua alis gadis itu bertemu saat melihat Kai berbicara pada pengamen itu lalu membungkuk dan mengambil alih gitar yang awalnya di pegang oleh pengamen tadi.Kai mulai memetik senar gitar akustik itu perlahan. Dan tidak lama setelah itu, beberapa pejalan kaki terlihat berhenti dan mulai mengerubungi tempat Kai beraksi.

“Emh… aku ingin memainkan sebuah lagu untuk  gadis cantik yang berdiri disana.” Kata Kai sambil menunjuk lurus ke arah Hyo. Seketika itu beberapa pasang mata menatapnya. Hyo hanya tersenyum malu-malu sambil mengangguk-angguk pelan. “She is my lady…” Tambah Kai.

Jemari Kai kembali memainkan senar gitar di pangkuannya dan lagu Honesty milik SHINee pun mengalun. (Bayangin aja Kai nyanyinya sebagus dan semerdu suami author, Lee ‘Onew’ Jinki, yaa… hhe)

neul geu jariae isseonal ji kyeojwoseo

neul naega badeul binan daesinhaeseo

amu maldo eobsi nal gamssajun ne museubeul ijen

nega geoulcheoreom bichuryeo hae

Lagu selesai. Kai mengambil beberapa lembar uang hasil mengamen(?)nya lalu kembali menggandeng lengan Hyo dan menariknya ke kedai ice cream. Jangan pikir kalau Kai melakukan itu karena dia sedang tidak punya uang, dia hanya ingin membelika sesuatu untuk Hyo dari hasil kerjanya sendiri.

Setelah mendapatkan masing-masing satu cup ice cream, mereka duduk di salah satu bangku kayu.

“Aku tidak tahu kalau kau bisa main gitar.” Kata Hyo tiba-tiba.

“Asal kau tahu, itu satu-satunya lagu yang bisa ku mainkan.”

“Hah? Memangnya kenapa?

“Karena setelah itu Lay menolak untuk mengajariku main gitar lagi. Katanya dia tidak sanggup punya murid sepertiku.” Jelas Kai yang disambut tawa renyah dari keduanya.

<><><>

Perlahan langit mulai gelap. Awah kelabu bergelantungan disana. Lalu dengan pelan tapi pasti, satu persatu tetesan air turun dari atas sana. Hyo menengadahkan wajahnya dan membuka telapak tangannya, berusaha untuk menangkap tetesan air bening menyejukan itu.

Sambil tersenyum ia berkata, “Pantas saja tadi panas sekali, ternyata mau turun hujan.” Gumamnya.

“Mau berteduh dulu?” Tanya Kai yang hanya di sambut senyuman tipis oleh gadis di sampingnya.

Hyo menggeleng pelan. “Ini hanya gerimis.” Ia kembali menarik tangan kiri Kai yang tidak pernah alpa menggenggam tangannya.

Kai dan Hyo masih menikmati jalan-jalan mereka sampai tiba-tiba butiran air yang jatuh dari langit terasa semakin banyak menimpa tubuh mereka. Perlahan-lahan, langkah mereka yang awalnya pendek dan lambat berubah cepat dan semakin cepat saat mereka menyadari hujan turun semakin deras.

Keduanya berlari mencari tempat untuk berteduh sambil terus berpegangan tangan seolah benar-benar tak ingin terpisahkan.“Ini hanya gerimis kan?” Tanya Kai di sela-sela larinya di bawah terpaan hujan yang semakin deras menerpa tubuh mereka berdua.

Hyo tergelak karena menyadari maksud pertanyaan Kai tadi, yaitu untuk meledeknya yang menolak diajak berteduh tadi.

<><><>

Keduanya berakhir di sebuah gazeebo kecil di area taman dengan badan mereka yang basah kuyup.Kai tersenyum melihat tingkah gadis yang sedang sibuk sendiri di sebelahnya. Gadis itu, Hyo, menepuk-nepuk pundak dan lengannya demi untuk menyingkirkan sisa air hujan yang menempel di dirinya yang sebenarnya percuma karena sekujur tubuhnya sudah sangat basah.

Menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian sepasang mata yang menatapnya dengan tajam, Hyo menoleh ke arah mata itu dan tersenyum manis. “Keringkan rambutmu kalau kau tidak mau masuk angin.” Katanya sambil mengacak-acak rambut Kai.

“Ish… Kau merusak tatanan rambutku…” Namja itu menepis pelan tangan Hyo.

Hyo tertawa pelan. “Ya! Sejak kapan kau mempermasalahkan penampilan seperti ini hah?” Candanya.

Tawa Hyo memudar saat menyadari bahwa lawan bicaranya sama sekali tidak tertawa mendengar candaannya barusan. Kai menatap lurus ke dalam manik mata gadis di hadapannya. Wajah Kai perlahan mendekat dan semakin dekat pada Hyo yang perlahan mulai memejamkan matanya. Kai memiringkan kepalanya sedikit lalu setelah itu bibir keduanya bertemu. Cukup lama mereka dalam posisi seperti ini, saling menempelkan bibir. Merasakan betapa hangat dan lembutnya sentuhan yang mereka dapatkan dari orang yang dicintainya itu.

<><><>

Satu jam udah mereka berteduh disana. Hujan masih terus membasahi bumi meski tidak sederas tadi. Kini hanya butiran-butiran kecil dan jarang yang turun. Gerimis.

“Aku mau pulang Kai. Kasihan Rin sendirian di rumah. Eommonim juga di rumah sendirian kan?”

“Emh… Ayo pulang.” Sahut Kai sambil kembali meraih lengan kanan Hyo.

Mereka kembali menyusuri jalanan yang tadi di lalui, namun dengan arah yang berlawanan. Meski tak jarang mereka hanya diam karena canggung di sepanjag jalan, tapi mereka tetap menikmati saat-saat kebersamaan mereka itu.

Tiba-tiba langkah Kai terhenti. Matanya menatap lurus kedepan sementara tanpa ia sadari genggaman tangannya pada tangan Hyo perlahan semakin erat. Hyo menyadari perubahan Kai. Gadis itu menatap namja di sampingnya yang mematung dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras.

Hyo mengikuti arah pandangan Kai yang ternyata bermuara di wajah seorang namja yang sedang berjalan sambil merangkul seorang yeoja. Namja itu berjalan kearah Kai dan Hyo. Wajahnya terlihat asing bagi Hyo, tapi sepertinya Kai mengenalnya.

Namja berambut cokelatgelap itu tersenyum aneh saat melewati sepasang kekasih yang masih mematung itu. Mata Kai terlihat menancap pada wajah itu sampai akhirnya wajah itu tak terjangkau lagi oleh pandangannya.

“Kai…” Bisik Hyo setelah namja itu menghilang.

“Emh… Ayo pulang.” Kai menarik lengan Hyo sambil tersenyum. Gadis itu tahu benar kalau senyum itu tidak tulus. Ada sesuatu yang Hyo sendiri tidak tahu tersembunyi di balik senyum tipisnya itu.

<><><>

Setelah seharian berjalan-jalan berdua, kini mereka telah kembali ke tempat semula.

“Masuklah…” Seru Kai saat mereka tiba di depan gerbang rumah Hyo yang terletak tepat di samping rumahnya.

“Iya. Tapi kau juga masuk sana!” Titah Hyo sambil mendorong punggung namja jangkung itu.

“Kau masuk saja duluan.”

“Shireo. Kita masuk sama-sama.”

Kai mengacak rambut Hyo pelan sebelum akhirnya melangkah menuju gerbang rumahnya. Cukup lama mereka saling memandang dengan senyum yang terkembang.

“Ayo masuk…” Ajak Kai.

“Emh…” Angguk Hyo.

Baru satu langkah gadis itu memasuki halaman rumahnya, langkahnya berhenti seketika saat terdengar suara orang yang memanggil namanya.

“Apa?” Tanyanya ketika menyadari kalau yang memanggilnya adalah Kai yang ternyata masih mematung di depan gerbang pagar rumahnya.

“Selamat malam…” Kata namja itu pelan.

“Ne, selamat malam.” Hyo lalu melangkahkan kakinya memasuki gerbang.

“Hyo…?” Suara itu memaksa Hyo kembali mengambil satu langkah mundur.

“Apa?”Sahut Hyo malas.

“Sampai jumpa besok…” Kata Kai.

Hyo tersenyum. “Iya… sampai jumpa besok.”

“Hyo…”

Gadis itu menarik nafas agak dalam saat Kai kembali memanggil namanya. “Apa lagi Kai?” tanyanya.

Namja itu hanya tersenyum. “Saranghae…” Ucap Kai

Pipi Hyo merona. Ia tersenyum manis. “Nado saranghae, Kai…” jawab Hyo.

<>끝<>

Author’s talk:

Hmmm… gimana readers? Suka ga???

Beberapa scene di chapter ini author ambil dari beberapa scene drama yg pernah author tonton. Dengan sedikit modifikasi, akhirnya jadi deh…

Di chapter ini author blm masukin konflik, sengaja pengen ngasih waktu buat Kai sm Hyo buat romantis2an walau kenyataannya ga romantis sama sekali… huhu L

Tapi yaa sudahlah… mohon di comment aja yaa reader…

Makasih… n_n

66 pemikiran pada “Our Past Future Life (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s