Our Story Begin (Chapter 3)

Author: Rin

Cast(s): Kris, Park Ririn (you), EXO member, etc.

Genre: Comedy Romance (karena entah kenapa kebanyakan reader bilang kalu fic ini bikin ngakak, padahal biasa aja .___.)

Rated: T+ (ada kiss scence yang mungkin belum tepat dibaca oleh anak dibawah umur *lirik umur 15 tahun kebawah)

Disclaimer: Cerita ini murni milik author, dikarang langsung dari imajinasi author yang super liar dan gakjelas. Sedangkan member EXO, sayangnya belum menjadi milik author. T.T

Warn: Long Fic! Super long~ .___.

A/N: Gak tau apakah ini bisa disebut update cepet. Sori buat typo, buat penurunan kualitas penulisan, dan buat kekurangan lainnya. Rin lagi gugup menghadapi snmptn, gak mau banyak bacot, doakan ya chingu-yaaa~ #doakusuk

Yang belum baca chap lalu, bisa baca disini CHAPTER 1 ; CHAPTER 2*semoga linknya bisa idup!* kalau gak idup, silahkan obrak-abrik library yaa~ XD

PS: sori buat poster super noraknya .___.

=======

Previews on chapter 2….

Bohongan.

Ini hanyalah sebuah kebohongan konyol. Dan sepuluh detik yang lalu bahkan aku hampir saja benar-benar menyukai Kris.

Buka matamu Park Ririn!

Kalian hanyalah fake couple! Semuanya fake! Hubungan ini, kencan ini, bahkan… aku rasa semua perlakuan Kris tadi juga hanyalah sandiwara. Bodohnyaa~

Aku menggengam erat cup hot milk coffeeku.

Arasso. Aku akan berusaha.” Jawabku kemudian.

Rasanya saat ini juga ada bongkahan batu besar menyumbat dadaku.

Sakit dan sesak.

Aishh, jadi terlihat sangat lemah. Lakukan yang terbaik besok dan seketika itu semuanya akan berakhir! Hwaiting!

=======

.

OUR STORY BEGIN CHAPTER 3: PLAYING WITH MY HEART

.

.

Rin’s POV

10 Februari 2011

“Huaaahh~”, Aku meregangkan tubuhku yang terasa pegal. Tiga jam nonstop aku harus menjalani ujian mata kuliah desain modern.

“Aku tidak yakin akan mendapatkan nilai maksimal Rin-ah. Hyaaa~ kalau kau melihat desainku tadi, parah….”, seseorang yang berdiri di sampingku menunduk lesu.

“Hayaa~ kenapa kau berubah jadi pesimis seperti itu, Hyona? Ayolah…. Ini hanya ujian biasa. Tidak terlalu mempengaruhi nilai akhir kita kan? Santai saja!”, aku menyenggol bahu Hyona pelan, menghibur.

“Sepertinya aku salah memilih jurusan Rin. Desain visual sama sekali tidak cocok untukku.”

“Ahh~ dari pada memikirkan itu, kita ke kantin saja. Aku lapar~”, aku merasakan perutku mulai merusuh minta diisi.

“Baiklah….”

Aku tersenyum lebar, kemudian menggandeng lengan sahabatku, Hyona. Namun langkah kami terhenti ketika merasakan saku jeansku bergetar.

Ada pesan masuk ke ponselku.

From: +544512325

BISAKAH KAU MENJAWAB PANGGILANKU SEKALI SAJA?!

Aku mengenrnyit, nomor asing dan dia langsung marah-marah? Haissh~ tidak sopan.

Sedikit kesal, aku bermaksud memasukkan ponselku kembali ke dalam tas. Namun sedetik kemudian, ponselku kembali bergetar. Kali ini lebih panjang.

+544512325 calling….

Yobose-“

“YA! KAU KEMANA SAJA!”, aku menjauhkan ponselku dari telinga, berisik sekali.

Nuguya?”

“HASIIHH, PARK RIRIN KAU LUPA?!”

“YA! KAU KENAPA MARAH-MARAH! KAU INI SIAPA?!”, namun kemudian aku ingat sesuatu, menepuk dahiku.

“ASTAGA KRIS AKU LUPAAA~”, reflek aku menekan tombol merah pada ponselku.

“HYO~ MIAN AKU HARUS PERGIII~”, aku melambai pada sahabatku itu, berlari sekuat tenaga menuju gerbang Seoul University.

.

.

=======

.

.

 “Noona sih, Kris Gege dari tadi marah-marah terus.”, Tao yang membukakan pintu dorm untukku merengut imut. Membuatku ingin mencubit pipi pandanya itu.

“Hyaaa~ aku benar-benar lupa Tao. Sekarang dimana si Kris?”

“Semenit yang lalu Gege masih duduk di sofa itu.”, Tao menunjuk sofa di ruang tengah.

“Sekarang tidak tau~”

“Haahh~”, aku mendesah lesu. Sedikit merasa bersalah pada Kris. Tapi aku benar-benar lupa kalau hari ini aku harus menemui ibunya. Kulirik jam tangan pinkku. Pukul 2.30. Artinya aku terlambat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan.

“Kris di kamarnya Noona. Kau lihat saja dia. Sepertinya marah besar.”, Luhan menepuk bahuku dari belakang, memberitahukan keberadaan Kris.

Gomawo Lulu-ya~”, ragu, kulangkahkan kakiku menuju sebuah kamar yang ditunjuk Luhan.

Tok… tok… tok…

Hening. Tidak ada jawaban.

Aku melemparkan pandangan kearah para penghuni dorm yang lain, meminta bantuan.

“Buka sajalah Rin.” Chanyeol menyarankan.

Aku menarik nafasku. Ragu, mulai memutar kenop pintu kamar Kris.

Ceklek.

Aku melongo, menatap takjub pada pemandangan di depanku kini. Sungguh luar biasaa~

Kris sedang mengganti bajunya!

Satu detik….

Dua detik….

Tiga detik….

“HYAAAA~ KRIS YADONG!”

BRUAKK.

Ku tutup pintu kamar Kris sekuat tenaga. Mengatur nafasku yang memburu akibat menyaksikan pemandangan tidak senonoh tadi.

“Kenapa Rin? Ada hantu? Pocong? Kuntilanak? Tuyul?” Baekhyun menghampiriku panik.

A-ani-yaa~”

“Kenapa? Ya! Mukamu merah. Kau sakit? Pusing? Demam? Bagian mana yang sakit? Kepala? Pundak? Lutut? Atau kaki?”

PLAKK.

Kyungsoo dibelakang Baekhyun menjitak bocah tengil itu.

“Yayy~ Dio, sakitt tauu~~” Baekhyun merengut sebal.

Ceklek.

Pintu kamar Kris terbuka, menampakkan si empunya yang berjalan santai menuju sofa dengan wajah arogannya. Ketika melewatiku, ia hanya melirik sekilas. HANYA SEKILAS! Seperti tidak terjadi apapun tadi.

“Kris, mi-mianhae…. Aku benar-benar lupa….” ucapku meminta maaf.

Kris menolehkan kepalanya kearahku, mengintimidasi dengan tatapan tajam nan menyebalkan miliknya.

Aku sedikit gelagapan, memilih tidak menatap manik tajam milikknya. Namun ekor mataku malah tertuju pada badanya.

Masih sangat terpatri di otakku, bagaimana tubuh Kris ketika berganti baju tadi. Postur yang sempurna, kulit putih mulus, dan otot-ototnya yang samar terlihat. Yak! Aku akui dia sedikit errr~ seksi. TAPI HANYA SEDIKIT! SEDIKIT SEKALI! SANGAT SEDIKIT! TIDAK BANYAK!

“Acaranya diundur jam lima nanti. Kau bersiaplah.” Kris menjelaskan singkat.

“Ta-tapikan ini masih lama. Apa aku pulang saja dulu?”

“Tidak. Chanyeol sudah menyiapkan semua untukmu.”

“Lhah, tapi kau saja malah ganti baju santai begitu.” Aku sedikit memerah menyebut kata ganti baju.

“Acaranya masih lama.”

“Kalau begitu aku pulang dulu saja!”

“Ngeyel! Turuti perintahku!”

Aku mendengus kesal. Dasar namja tidak tau diri! Sudah ditolong, marah-marah! Tidak sadar apa muka marahnya itu sangat menyebalkan?

Haisshh~ kemana sikap manisnya ketika kami kencan? Dasar namja bermuka dua! Menyebalkan! Serigala berbulu domba!

“Nahh~ kajja, Rin-ah…. Kami akan mengubahmu dari itik buruk rupa menjadi swan lake!” Baekhyun menyeretku menuju sebuah ruangan.

“Ehh~ kok kau segala? Kyungsoo juga?” aku mulai merasakan firasat teramat buruk mendapati trio hiper ini menyeretku paksa.

“Ikut sajalah, nona itik buruk rupa~” Baekhyun menyeringai mengejekku.

“YA! BYUN BAEKHYUN!”

“Aku jamin! Setelah ikut kami, Prince Kris akan jatuh cinta padamu~” Kyungsoo ikut mengejek.

“Y-YA!”

Aigoo~ wajah uri Rin memerah. Ottohke Kris? Dia memerah~”

Aku melotot kearah trio hiper yang malah tertawa dengan nistanya. Menunjuk-nunjukku dan Kris. Aku menoleh sekilas kearah Kris. Namja tower itu terlihat mengalihkan wajahnya kearah jendela. Entah mataku yang salah tangkap, atau penglihatanku yang mulai memburuk seiring bertambahnya umurku, pipi Kris terlihat sedikit….

Memerah?

Ahh~ mollayoo~

.

.

=======

.

.

Author POV

“PARK CHANYEOL JAUHKAN BENDA BERBULU ITU DARI HIDUNGKU! YA! YA! Hatcchiiii~”

“Astaga Rin, ini hanya olesan blush on!”

“YA! DO KYUNGSOO! LEPASKAN RAMBUTKU DARI BENDA PANAS ITU ATAU KU TUSUK KAU DENGAN PISAU DAPUR!”

“AISH JINJJA! CHANYEOL KAU MENUSUK MATAKU BODOH!”

“Diam sebentar Rin. Hasilnya akan jelek!”

“YA! BYUN BAEKHYUN HENTIKAN MENGAMBIL GAMBARKU!”

Suho menggeleng pelan mendengar suara berisik yang terdengar dari salah satu kamar member. Sedang para magnae, Kai-Tao-Sehun terlihat berlindung di belakang Hyung kesayangan mereka. Ketakutan mendengar teriakan tidak lazim dari seorang gadis.

“Diam sebentar Rin! Lipsticknya meluber kemana-mana tau!”

“HYAAA~ RASANYA ASIN! AKU TIDAK SUKA TAU! YA BYUN BAEKHYUN HENTIKAN MENGAMBIL GAMBARKU DENGAN MUKA MESUMMU ITU!”

“Kekekeke~”

“DO KYUNGSOO! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMUTILASIMU SETELAH INI!”

“AISHH KALIAN MENYIKSAKUUU~~ EOMMAAA~~”

Luhan menyenggol pelan bahu Kris, menunjukkan rasa khawatirnya.

“Apa yang mereka lakukan pada Rin Noona Kris? Dia baik-baik saja?”

“Tenang saja Lu, mereka hanya memoles mukanya.”

“Tapi aku khawatir…. Sehunnie bagaimana menurutmu?” Luhan menoleh kearah Sehun yang sedari tadi mendekap Luhan erat. #eaaaa

“Entahlah, mungkin nanti Rin Noona akan jadi cantik.” Jawab Sehun polos dengan masih terus mendekap erat Luhan.

Ceklek.

Tepat ketika Sehun menyelesaikan kalimat terakhirnya, pintu kamar terbuka.

“Kalian siap menyaksikan seorang putri?” Baekhyun yang muncul pertama bergaya seperti seorang MC acara penting.

“Siaaaapppp~” Seru semua member. Minus Kris tentunya.

“Ehem! Dia mulanya hanya seorang itik yang sangat buruk rupa~~” Baekhyun mengatakan dengan nada amat dramatis.

“Ditelantarkan di pinggir jalan, kotor, bau, dekil, penuh jerawat, rambut lepek, kulit berminyak, jel-“

“BYUN BAEKHYUN!” Rin nampak protes dari balik pintu.

“Hehehe~ Yah pokoknya kalian akan terkesima ketika melihatnya pemirsahh~ SAMBUTLAH!”

Teng teng teng teng teng…..

Dari balik pintu, Chanyeol dan D.O membuat backsound gagal.

“TADAAAA~~”

Seketika Rin muncul dari balik pintu, berjalan beberapa langkah bak model. Dengan sedikit efek angin dari buku yang dikipaskan D.O. Berjalan penuh percaya diri. Efek bling-bling-dor-pun tidak luput ditambahkan.

“HWAAAAA~~” Member yang sedang berkumpul di ruang tengah melongo terkesima.

Rin yang biasanya tampil sangat biasa, kini terlihat begitu berbeda.

Dress warna pink pastel selutut dengan aksen renda diberbagai sudutnya, rambut panjang sepunggung yang ditambahkan pita cantik, sepatu hak 10 centi warna senada, dan terakhir make up natural sekelas artis korea kelas 1 yang sempurna dipoleskan pada wajah Rin membuat penampilannya begitu mempesona.

“Lihatkan? Tanpa oprasi, botox, suntik, atau bahkan susuk, dia berubah jadi sangaaatt cantik!” Chanyeol pamer.

“Kalian sangat daebak~” Xiumin bertepuk tangan bangga.

Noona neomu yeppo! Replay~ replay~ replay~” Kai melongo.

“Mirip artis~” Tao menimpali dengan polos.

“Kalian berlebihan. Biasa saja menurutku. Ayo kita berangkat.” Kris beranjak dari sofa, segera menarik lengan Rin dan mengajaknya berangkat.

“Kau hanya memakai hoodie seperti itu?” Rin menunjuk hoodie abu-abu yang melapisi kaos yang sebelumnya Kris pakai.

“Tidak penting aku pakai apa kan?”

Rin mendengus pelan, “Lalu apa maksudmu mendandaniku seperti ini? Namja aneh!”

.

.

=======

.

.

 “Jadi ini kekasihmu, K.Li?”

“Namanya Rin Daddy.” Kris mengenalkan Rin pada seorang pria yang meski sudah setengah baya, namun masih terpancar garis ketampanan yang sangat tegas.

Nǐ hǎo, Tuan Wu.” Sapa Rin ramah.

“Manis.” Tuan Wu mengacak poni Rin pelan. Membuat Rin menundukkan wajahnya malu.

“Fei, Jane, kemari! K.Li sudah datang!” Tuan Wu memanggil Jane dan ibunya Kris.

Seketika dua sosok wanita yang sangat anggun muncul. Rin akhirnya mengerti kenapa Kris repot-repot mendadaninya. Tentu saja, bagaimana mungkin dua wanita yang kini sudah duduk dihadapan Rin terlihat begitu anggun sedang dia hanya biasa saja? Menyetarakan dengan mereka, itulah alasan Kris menyuruh trio hiper itu memoles wajahnya.

“Kita belum kenalan kan? Aku Jennifer Liu. Kau bisa memanggil aku Jane.” Jane mengulurkan tangannya ramah, memperkenalkan diri dalam bahasa Mandarin.

“Park Ririn.” Rin menyambut tangan Jane. Dan seketika itu Rin merasa sangat minder. Walaupun hanya dari menjabat tangannya, Rin bisa merasakan aura wanita sesungguhnya dari seorang Jane.

“Tetap! Dilihat darimanapun Jane jauh lebih cantik dari kekasihmu itu K.Li.” Ucap Nyonya Wu skeptis.

“Tapi dia manis. Dan dia sepertinya ceria. Lihat saja mata indahnya, selalu berbinar.” Berlawanan dengan Nyonya Wu, Tuan Wu memunji Rin.

“Cih. Kita lihat saja dia bisa apa.” Nyunya Wu menyepelekan.

Rin gelagapan. Dengan bahasa mandarinnya yang mulai menguar dari ingatannya, ditampah tekanan dari Nyonya Wu membuatnya gugup setengah mati.

“Jane sangat mahir memainkan alat musik biola dan piano. Kau bisa apa?” Nyonya Wu bertanya meremehkan.

“Saya bersekolah si Seoul International Art School saat SMA. Jadi beberapa alat musik dapat saya mainkan. Beberapa hanya basic, tapi beberapa lainnya saya dalami benar.”

Kris sedikit terkejut. Tidak menyangka gadis yang gemar berteriak ini mempunyai kemampuan yang hebat. Kris juga baru tau kalau Rin pernah  bersekolah di sekolah seni. International pula.

“Waw~ apa saja yang bisa kau mainkan Rin?” Tuan Wu nampak sedikit tertarik dengan ‘kekasih’  anak kesayangannya itu.

“Drum, gitar, dan bass.”

“Cih. Alat musik seperti itu lebih cocok untuk laki-laki.”

“Saat SMA memiliki sebuah band beraliran J-rock, saya jadi bisa memainkan beberapa alat musik.” Jelas Rin.

“Band J-rock? K.Li dimana kau menemukan gadis ini? Mommy yakin dia itu seorang gadis brandalan.”

Rin mendesah lirih. Ibu Kris benar-benar tipe mertua menyebalkan. Mengata-ngatainya. Menghina J-rock. Rin cinta setengah mati dengan J-rock tau! Andai saja dia bukan ibunya Kris, sudah Rin teriaki mati-matian.

“Aku juga menyukai J-rock. L’arc~en~Ciel, mereka hebat menurutku!” Tidak terduga, Tuan Wu malah membela Rin.

“Hyaa~ Anda fans L’arc~en~Ciel? Mereka hebat kan Tuan?” Rin mulai berbinar.

Yes!

“Hyaaa~ tidak aku mengira ayahmu seorang Cielers Kris!” Rin mulai kalap, berteriak kegirangan. Melonjak-lonjak kecil ditempat duduknya.

“EHEM!” Nyonya Wu menatap tajam Rin.

“Ternyata kau gadis yang manner less.”

Ba-baoqian…. (Maaf….)” Rin menunduk penuh penyesalan.

“Kau fasih berbahasa Mandarin. Kau punya darah China?” Sepertinya Tuan Wu benar-benar tertarik pada Rin.

Meiyou (Tidak), saya dibesarkan di China karena ayah saya punya perusahaan disana. Namun saya murni berdarah Korea.” Rin menjelaskan.

“Apa pekerjaan orang tuamu?” Tiba-tiba Nyunya Wu memotong pembicaraan suaminya dan Rin.

“Ayah saya memiliki perusahaan dibidang jasa di China, sedangkan ibu saya seorang desainer di China juga.”

Pembicaraan mereka berlima terus berlanjut. Tidak jarang ditengah pembicaraan Nyonya Wu akan menyela Rin habis-habisan, dan membanggakan Jane. Sedang Tuan Wu lebih netral, mencoba menarik informasi sebanyak mungkin dari Rin. Kris sendiri lebih banyak diam. Terkadang ia hanya angkat bicara ketika posisi Rin benar-benar dipojokan ibunya. Sisanya, ia diam kusuk menyimak. Dan tanpa sadar lebih mengenal sosok Rin lebih jauh dari pembicaraan sore itu.

Kriuuukkk~

Sebuah suara aneh muncul di tengah obrolan mereka.

“Hahaha~ kau sudah lapar Rin? Fei, makan malamnya sudah siap belum?” Rin merasa sangat malu tertangkap basah Tuan Wu.

“Jane dan kau,” Nyonya Wu menunjuk Rin. “Kalian bedua yang menyiapkan makan malam. Menunya sudah aku tentukan. Fèves au lard, oreilles de christ, dan ginger beef.”

Rin melongo total. Apa tadi yang dikatakan Nyonya Wu? Feves feves apa? Oriles apa juga. Yang Rin tau biscuit oreo. Haissh~. Jangankan bisa memasaknya, melihatnya saja belum pernah.

“Kau tidak tau makanan tadi? Lucu sekali kau  berani memacari K.Li. Makanan kampung halamannya saja tidak tau. Kau serius tidak sih memacari K.Li? Atau kau hanya memanfaatkan K.Li saja?”

“Mommy!” Kris membela Rin.

“Biarkan saya mencobanya dulu Nyonya. Saya yakin dapat membuktikan kepada Nyonya kalau saya pantas untuk Kris!” entah dari mana datangnya keberanian itu, Rin menantang Nyonya Wu.

“Oke! Buktikan kalau kau pantas berada di samping putraku!”

.

.

=======

.

.

Dan sekarang disinilah Rin. Mengenakan apron dan sibuk di dapur keluarga Wu bersama dengan Jane. Mencoba membuat masakan yang bahkan ia belum pernah melihatnya. Berbekal hasil googling dari ponselnya, Rin yang mendapat bagian membuat ginger beef berjuang mati-matian.

“Kau memotongnya terlalu  besar! Kalau seperti itu, beefnya tidak akan matang sampai dalam!” Jane memarahi Rin.

“Ah baoqian….”

“Kau itu pacarnya K.Li sungguhan tidak sih? Masa makanan kesukaannya saja tidak becus kau buat!”

Rin menahan emosinya. Sedari tadi gadis China itu terus saja memarahinya. Semprot sana semprot sini. Dia pikir dia yang paling hebat?

“Bahkan aku sudah menyelesaikan menu bagianku! Haissh~ bagaimana mungkin K.Li bisa memacari gadis sepertimu?” Jane berkacak pinggang. Berkata dengan angkuh di depan Rin.

Rin masih bisa menahana emosinya. Untunglah dia orang yang penyabar. Kalu tidak, bahkan tidak mungkin pisau digengamannya sudah ia lemparkan ke muka cantik nan mulus milik Jane itu.

“Cabainya bukan dipotong seperti itu! Kau harusnya memotong menyerong!”

Cukup.

Miss Jane yang cantik, Bisa kau diam sebentar? Suara cemprengmu itu menganggu konsentrasiku tau!” Rin melotot kearah Jane, menusuknya dengan tatapan tajam. Yaah~ setan dalam diri Rin telah muncul.

Jane nampak terkejut dengan sikap Rin yang tiba-tiba menyeramkan, “KA-KAU?!”

“Apa?! Kau apa? Aku minta kau diam atau kulumuri mukamu dengan cabai ini!”

“Beraninya!”

Entah siapa yang memulai, mereka berdua mulai bertengkar. Saling maju untuk menyerang. Berteriak-teriak histeris. Saling jambak. Saling cubit. Berteriak lagi. Saling tendang. Bahkan kini keduanya sudah tersungkur di lantai, masih saling menjambak.

“HYAAA~ PANAS! MATAKUU~!” Jane berteriak kalap ketika tangan bekas cabai Rin tanpa sengaja mengenai matanya.

“ASTAGA! Apa-apaan ini?” Tuan dan Nyonya Wu, serta Kris datang ke dapur begitu mendengar teriakan spektakuler Jane.

“Mataku Aunty~ dia melempariku dengan cabai!” Rin mendengus. MELEMPARINYA? Haisshh~ pembual.

“Aku sudah bilang kalau dia memang bukan gadis baik-baik!” Nyonya Wu nampak sangat marah. Sedang Rin nampak mendunduk. Bukan karena menyesal atau merasa bersalah. Tapi sebisa mungkin ia tidak memperkeruh keadaan.

“Jane sayang, kau istirahat dan obati matamu dulu. Biar Aunty yang membereskan masakannya.” Nyonya Wu menyerahkan kotak P3K kepada Jane, menyuruhnya keluar. Tuan Wu pun terlihat tidak mau tau dan mencampuri urusan, mengekor di belakang Jane untuk keluar.

Kini hanya tersisa Rin, Nyonya Wu, dan Kris di dapur.

“Ayah sebentar lagi pulang dan masakan malah belum siap. Hasihh~ tidak berguna!” Nyonya Wu mengerutu sendirian. Kemudian mengambil alih pekerjaan Rin.

“Biar saya ban-“

“Kau diam saja disana!” ucap Nyonya Wu sadis.

Rin memilih mengalah. Mundur dari tempatnya semula.

“Hahh~” Rin mendesah lesu. Sepertinya sandiwaranya bersama Kris akan berlangsung dalam jangka waktu yang masih lama.

.

.

=======

.

.

 “Kris~”

“….”

“Kris~”

“….”

“YA TUAN WU YI FAN!”

Kris menoleh sekilas, kemudian kembali meneruskan langkah kakinya.

“YA! KRIS~~!” Rin gemas, melepas sepatu hak tingginya dan melemparkan kearah Kris, sayang tidak kena.

“Apa?”

“Tunggu aku! Kau tau betapa susahnya jalan kaki dengan sepatu setinggi 10 centi? Sangat menyiksa~” Rin berteriak dengan suara bergetar, hampir menangis.

“Siapa yang meminta jalan kaki dari rumah kakek? Siapa yang menolak diantar Daddy tadi?” Emosi Kris pun mulai terpancing.

“Aku tidak tau kalau  jaraknya sejauh ini~ YA! Kenapa meninggalkanku lagi! Tunggu aku Kris~” Rin mengejar Kris yang berjalan jauh di depannya, dengan hanya mengenakan satu sepatu.

“AKKKH~” Rin sukses tersungkur di trotoar, terkilir satu buah sepatu haknya yang masih terpasang di kaki kanannya.

“Sakiitth~” Rin merintih kesakitan. Mengelus-elus kakinya yang kini terasa nyeri dan panas.

Rasanya bertambah sakit ketika melihat Kris yang notabenya orang yang dia bantu malah terus berjalan meninggalkannya tanpa mempedulikan keadaannya sedikitpun.

“KRIS MENYEBALKAN! BABO! JELEK! TIDAK TAU DIRI! SOK GANTENG! AGGHHH~~” Rin berteriak-teriak dipinggir jalan ditengah malam yang dingin. Saking jengkelnya, kini Rin menangis.

“Dia pikir dia tampan? Muka angry bird macam itu saja dibanggakan! Masih banyak tau namja tampan selain dia! Menyebalkan! Sok ganteng! Haiisshhh~” Tangis Rin makin menjadi. Kini ia meremas-remas ujung dressnya jengkel.

“Apa hubungannya kau kesleo dengan ketampananku hn?” Rin mendongkak menatap Kris yang berdiri dengan angkuh di depannya.

“Bangun, sudah malam. Kita segera pulang.” Kris melepas hoodie abu-abunya, melemparkan kearah Rin yang terlihat kedinginan.

“Aku tidak bisa jalan~ sakit tau~” Rin merajuk.

Kris mendesah pelan. Tidak tega juga melihat keadaan gadis di depannya ini. Sangat mengenaskan.

“Naiklah.” Kris menawarkan punggungnya.

“Eh?”

“Aku hitung sampai tiga atau penawaranku batal!”

Sejenak Rin ragu untuk menerima tawaran Kris. Namun mengingat kakinya yang sudah sangat kritis, toh akhirnya dia naik ke punggung Kris.

Seketika bau khas seorang Kris menguar masuk hidung Rin. Dari jarak sedekat ini, jujur Rin merasa sangat gugup. Merasakan punggung kokoh Kris, mencium bau khasnya, dan memeluknya.

“Aku berat tidak?” Rin merasa khawatir kalau-kalau Kris merasa keberatan.

Yeoja kerempeng sepertimu tidak masalah bagiku.”

“YA!” Rin memberontak, mencekik Kris.

“Haishh~ diam atau kau turunkan disini! YA! RIN! YA! JANGAN MENYEKIK-“

“AGGHH~ Uhuk! Uhuk!”

“Makanya jangan pernah mengejekku, Tuan Wu Yi Fan!”

Yeoja gila.”

“Biar saja~”

Setelah itu terjadi jeda yang cukup lama diantara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kris, aku lelah berbohong~” akhirnya Rin memberanikan diri untuk memecah keheningan.

“Kalau kau ingin berhenti, aku tidak akan melarangmu. Aku juga tau mendapat tekanan dari Mommy seperti tadi pasti sangat melelahkan untukmu.” Jawab Kris lembut.

Rin diam merenungi kalimat Kris. Memang benar. Berbohong dan berakting seperti ini membuatnya sangat lelah.

“Jadi aku boleh mundur?”

“Tentu. Ini masalahku. Seharusnya sejak awal aku tidak membawamu dalam masalahku.” Kris masih lembut. Kalau dipikir-pikir, ketika hanya berdua seperti ini Kris akan berlaku sedikit lembut dan hangat.

Rin kembali diam. Kalau dia mundur berarti….

Aniya! Aku sudah bertekad membantumu sejak awal. Aku tidak akan mundur begitu saja! Aku ini bukan tipe gadis yang akan mengingkari janjiku.” Rin nampak sungguh-sungguh.

Jeongmalyo? Tidak mau mengingkari janji, atau tidak mau berpisah denganku?” Kris menggoda Rin.

Rin merengut namun kemudian tersenyum dari balik punggung Kris. Perlahan ia eratkan pelukannya pada leher Kris. Membenamkan wajahnya pada bahu Kris, menghirup wangi tubuh Kris. Merilekskan diri.

Diam, bisa diartikan jawaban ‘iya’ kan?

.

.

=======

.

.

20 Februari 2011

Rin mendorong troli belanjaannya menuju kasir. Sembari antri, ia kenakan earphone putih milikknya. Sesekali Rin akan berguman dan menganggung-angguk mengikuti irama musik yang sedang di dengarnya. Stay away by L’Arc~en~Ciel.

Yǒu rènhé nǎilào?” Seseorang di depan Rin berkata dalam bahasa asing.

Mianhamnida?” Penjaga kasir nampak kebingungan.

Nǎilào?”

Mianhamnida?” Penjaga kasir masih kebingungan.

Aishh~ Chesse. Chesse.” Kini orang di depan Rin mulai frustasi. Berusaha menjelaskan kepada penjaga kasir dengan bahasa tubuh.

Rin mulai tertarik dengan pembicaraan mereka. Sepertinya ibu ini kesulitan berkomunikasi. Sejenak ia lepaskan earphonenya, kemudian menghampiri si ibu.

Rin mulai merangkai kalimat berbahasa Mandarin dalam kepalanya. “Maaf, Anda kesulitan Nyo-“ Rin melongo, kaget, terkejut, bercampur jadi satu.

“Kau!”

“Kau!”

Rin menutup mulutnya, latah ikut-ikutan berkata ‘kau’. Itu kan sangat tidak sopan dikatakan kepada orang yang lebih tua.

Baoqian.” Rin menunduk dalam. Aissh~ Rin sial hari ini. Kenapa ia malah bertemu dengan orang yang paling tidak ingin dia temui untuk saat ini?

Aunty Wu aku sudah membeli makanannya~ Aunty sudah selesai belanjanya?” Tidak terduga lagi, dari arah luar munculah sosok Jane yang dengan riang gembira menenteng sebuah kardus sedang.

“Eh? Di-dia kan?”

Nǐ hǎo…” Sapa Rin dengan tersenyum. Hatinya berdebar kuat sekarang. Bagaimana mungkin dia terjebak bersama dua singa bentina seperti ini?

“Aku hanya tinggal membayar dan kita segera pergi dari sini.” Nyonya Wu menatap Rin tajam, mengintimidasi.

“Ahh~ Aunty! Berhubung aku lupa jalan menuju dorm K.Li, bagaimana kalau….” Jane tersenyum penuh arti kepada Rin.

Bagus.

Dalam bayangan Rin sekarang, wajah cantik Jane berubah menjadi singa betina yang licik.

Perasaannya sungguh tidak enak!

.

.

=======

.

.

Dan benar saja, Jane menyuruhnya mengantar ke dormnya Kris. Padahal Rin sudah bilang kalau Kris mungkin sedang latihan dan baru pulang nanti malam. Tapi gadis ini ngeyel, bahakan membawa-bawa Aunty Wu-nya. Aiiiissshh tukang mengadu!

Dan lihat akibatnya kalau nona cantik dan anggun ini tidak menggubris perkataan Rin. Mereka harus menunggu diluar pintu apartement dan kini sudah lebih dari dua jam.

“Kalau kau lelah, aku kan sudah bilang kau boleh pulang.” Jane yang melihat Rin sepertinya sudah bosan maksimal menyuruhnya pulang untuk kesekian kalinya.

Kalau Rin mau, bahkan ia tidak perlu mengantarnya sampai dalam. Cukup dengan menunjukkan gedungnya. Namun seolah sesuatu dalam diri Rin menyuruhnya untuk ikut dan bertahan di sini. Sedikit tidak rela mungkin nantinya akan ada moment antara Jane dan Kris.

EHHH? Apa? Tunggu dulu?

“WAHHH ADA TAMU~” Tiba-tiba dari arah lift terdengar teriakan. Tanpa Rin lihat saja ia sudah tau siapa itu.

“RIN-AH~ Bogosipoyoo~ kau lama tidak kesini.” Orang itu kini mencubit pipi Rin keras, membuat Rin meringis kesakitan.

“Lepaskan pipiku atau kau akan mati Baekhyun!” Rin melotot.

“Hya~ sudah aku bilang Bakhyun Oppa yang seksii~ panggil aku seperti itu Rin.”

Rin memutar matanya, “Bagiku Oppa disini hanya Joonmyun, Xiying, Jongdae, dan Minseok Oppa.”

“Kalau begitu jadikan aku maknae squad yaaa~” Baekhyun meminta dengan puppy eyesnya yang gagal, terlalu sipit.

“Kau mau bergabung dengan Lu, Sehun, Tao, dan Kkamjongie? Kau tidak cukup imut!” Rin berkata telak. Membuat Baekhyun bersungut sebal. Beberapa member yang baru keluar dari lift menggeleng pelan.

“YAK! Kris! Pacarmu itu galak sekali!” Baekhyun mengadu kepada Kris.

An-annyeong-haseyo….” Dari arah belakang Jane menyeruak kekerumunan. Membuat semuanya terdiam kaget.

“Emm~ Aku, bawa ini.” Kata Jane dalam bahasa Korea yang seadanya, sembari menyodorkan sekotak makanan.

Selama lima detik pertama tidak ada yang merespons Jane. Hingga akhirnya Chen maju untuk menerima makanan itu.

Xie xie, Nona Jane.” Kata Chen ramah.

“Hmm… boleh kalian tinggalkan kami berdua? Aku dan K.Li saja?” Jane meminta dalam bahasa China. Tentu saja para member tidak Korea tidak mengerti dan malah hanya melongo.

Akhirnya, sebagai member paling cute, paling terlihat muda, dan paling angel, Luhan mengintruksi teman-temannya untuk masuk. Memberikan privasi kepada Kris dan Jane saja.

Grep.

Kris menahan tangan Rin. Memintanya tetap tinggal.

“K.Li tapi dia….”

“Katakan sekarang atau aku masuk.” Kata Kris tegas.

Jane memandang Rin sedikit benci, kehadirannya sangat menganggu.

“Kemarin, ayahku dan ayahmu membatalkan perjodohhan kita.”

Kris tetap memasang wajah datarnya.

“Kau tau bagaimana aku mencintaimu kan, K.Li? Bisakah… bisakah kau membujuk ayahmu untuk menarik keputusannya lagi?” Jane meremas tangannya, suaranya sedikit bergetar.

“Dan kau juga tau kan bagaimana tidak sukanya aku dengan perjodohan ini?”

“K.Li aku mohon~ Aku tidak bisa hidup tanpamu~” Jane memohon.

Sorry Jane, tapi aku sudah punya DIA.” Kris menekankan pada kata dia, merajuk pada Rin.

“Kau pikir kami tidak tau? Uncle memberitahukan semuanya pada kami! Kalian hanya fake couple kan?” Rin terkejut. Sudah tau? Ia melirik kearah Kris. Wajah Kris lebih mengeras dari pada sebelumnya.

“Kris….”

Kris mengenggam tangan Rin erat. Memang tempo hari akhirnya ia mengakui semuanya pada ayahnya. Mengakui kalau Rin hanya alat untuk menghindari Jane. Bagaimanapun, ayahnya adalah seseorang yang paling tidak bisa ia bohongi. Ayahnya seperti memiliki kekuatan super yang bisa membaca  pikirannya.

“Hah, menyedihkan sekali kau! Kau itu dipermainkan! Hanya dijadikan alat! Kau pikir K.Li  benar-benar mencintaimu? Wanita menyedihkan! Murahan!”

“Xiao Cheng Liu!” Kris membentak Jane yang sudah kelewatan, meneriakkan nama lahir Jane.

“Asal kau tau, aku benar-benar mencintainya.” Rin terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut Kris barusan.

“Aku tidak percaya!”

“Kau butuh bukti Jane?” Kris menatap tajam Jane.

“Buktikan padaku!”

Rin tidak tau persis apa yang terjadi. Tapi yang pasti, dalam sekali hentakan tubuhnya terdorong ke tembok di sampingnya. Tangan kokoh Kris memegangi kepalanya yang blank. Tidak bisa mencerna secara jelas, tiba-tiba bibirnya merasakan sapuan hangat dan halus. Lembut, dan memabukkan.

Dan seketika semua syaraf dan jantung Rin seperti terhenti ketika bibir Kris bergerak perlahan, melumat bibirnya lembut.

“Kau itu dipermainkan! Hanya dijadikan alat! Kau pikir K.Li  benar-benar mencintaimu?”

Hati Rin sesak. Benar juga, kalau ayahnya saja sudah membatalkan perjodohannya dengan Jane, kenapa Kris masih memperlakukan dirinya seperti ini? Dipermainkan, tentu saja.

Ingin sekali Rin mendorong tubuh Kris, mengakhiri semua ini. Tapi, tubuhnya menolak. Yang Rin bisa lakukan hanya memegang erat lengan Kris. Pasrah.

Kris semakin memperdalam ciuman mereka. Padahal tadinya dia hanya mau mengecoh Jane. Berpura-pura mencium Rin. Tapi entah dorongan setan apa, dia malah terperangkap dalam permainannya sendiri. Ingin meminta lebih.

Kris baru melepaskan ciumannya ketika mendengar derap langkah kaki Jane yang menjauh.

Ia tatap wajah Rin yang memerah, terengah-engah, dan sayu.

Di angkatnya dagu Rin, memintanya menatap matanya dalam.

Kris dapat melihat dengan jelas, gurat rasa sakit dalam mata Rin.

Dan sekali lagi, Kris mendorong tubuh Rin ke tempok, menguncinya secara penuh dan menyapukan bibirnya ke bibir Rin. Sekali lagi, scence ciuman panjang mereka terjadi.

Rin bersumpah! Setelah ini, ia akan membenci Kris mati-matian yang telah mempermainkan hatinya.

TBC.

.

=======

.

Aneh ya chingu sama scence terakhir? Bingung kenapa perjodohan bisa dibatalin gitu aja, padahal Kris-Rin ketahuan boong sama babenya Kris?

Penjelasannya di chap depan 😀

Kalau ada scence yang masih bingung, bisa diungkapkan. Nanti bisa aku perjelas di chap depan. J

Mianhae kalau chapter ini terkesan lambat, bertele-tele dan membosankan T.T *bow*

Aku juga ngerasa chap ini kok aneh nian? #nangis

Jeongmal mianhae~~ T.T

 

Makasih banyak buat admin yg udah publish, makasih buat yang udah baca, komen, nge-like. Makasih banyak chingu-yaaa~ *bowbowbow*

Aku bener-bener berterima kasih banget sama kalian… bener dehh~~ *bowbowbowagainagainagain*

 

Dan terakhir, aku minta banget yang udah baca ninggalin kritik, saran, dan masukan. Biar aku tau mana yang kurang. Biar next chap bisa lebih baik. Jeball~~ >,<

 

PS: semoga tulisan terakhir fontnya gak berubah jadi super gede kaya di chapt 2 kemarin XD

 

 

154 pemikiran pada “Our Story Begin (Chapter 3)

  1. astaga! omo kris! kris mulai suka sm rin kyaaaa >//////< kenapa aku jd seneng bgd ya kris mulai sk sm rin?
    jd appanya kris ud tau kl rin bkn yeojanya kris? trs kenapa dia tetep ngebatalin prjodohan kris sm jane? ahhh penasaran! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s