Cooking? Cooking? (Chapter 1)

Author: @Anggiilicious

Genre: Romance

Cast: Park Yoonhae

EXO-K Do Kyungsoo

EXO-M Kris

And other cast..

Annyeoooooooooooong!!! Ini fanfiction jelek yang entah kenapa terus dibuat sampe selesai hahaha. Tiba-tiba kepikiran cerita ini setelah dengerin resep Kimchi Spaghetti nya Kyungsoo eomma *laper*tapi walaupun jelek, ini ngetiknya pake tangan sendiri. Bukan tangannya Baekhyun yang kukunya cantik-cantik banget itu -_____-  Enjoooooooooooooyy!

_______________________________________

Yoonhae POV

“Apa ini?” ujar kekasihku, Kris, saat ia melihat sepiring cookies yang kusajikan dihadapannya. Ia menatapnya lekat-lekat, seakan takut aku memasukkan racun ke dalamnya.

“Cookies. Aku membuatnya pagi ini” ujarku manis sambil mengambilkan segelas sirup jeruk. Kris menatapku seperti berkata ‘haruskah aku memakan ini?’

“Aku akan sangat senang jika kau mau mencobanya, dan katakan padaku bagaimana rasanya” ujarku sambil duduk di hadapannya. Kris tersenyum dan mengambil sepotong cookies. Ia memakannya sedikit, dan tak ada reaksi yang keluar darinya. Terus begitu sampai satu potong cookies itu masuk semua ke perutnya. Ia meminum sirup yang kusiapkan dan berdeham sejenak.

“Terlalu pahit Yoonhae-ah. Mungkin kau terlalu banyak memasukkan cokelat bubuk?” ujar Kris sambil mengusap ujung bibirnya. Aku mendesah pelan. Gagal lagi. Aku hanya ingin membuat sesuatu yang enak untuk Kris. Tapi selalu gagal. Tiba-tiba kurasakan ada tangan besar yang menyentuh pucuk kepalaku. Kuangkat kepalaku dan kudapati Kris tersenyum padaku.

“Menyerah?” tanyanya dengan ekspresi wajah yang sangat kusukai. Senyumku terkembang dan aku menggeleng mantap.

“Tentu saja tidak, maaf ya tidak enak” ujarku sambil menyentuh tangannya yang ada di kepalaku.

“Gwaenchana” ujar Kris sambil tersenyum. Ini bukan pertama kalinya masakanku gagal. Aku pernah membuatkan Kris cupcakes yang krimnya terasa asin. Brownies yang kubuat pahit dan tidak mengembang, bahkan aku pernah nyaris membakar rumahku dan merepotkan Kris karena aku lupa sedang memanggang pizza. Tetapi walaupun sebegitu cerobohnya aku, Kris tak pernah marah. Dan yang pasti, dia selalu jujur apapun rasa masakanku.

J

“Hah? Kenapa kau bodoh sekali? Pakai resep atau tidak sih??” temanku, Lee Seoyeon memarahiku ketika aku meceritakan kegagalanku untuk yang kesejuta kalinya. Aku menghela napas. Aku juga tak mau gagal, tapi entah kenapa sulit sekali rasanya.

“Pakaaaaaai! Tapi tetap saja. Resepnya pasti salah” ujarku sambil meminum lemon squash yang kupesan. Aku dan Seoyeon sedang berada di salah satu cafe di sekitar Myeongdong. Sedangkan Kris sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.

“Kau saja yang bodoh” ujar Seoyeon sambil menyeruput Iced lemon tea yang dia pesan. Aku menghela mapas, ya memang Seoyeon benar. Aku saja yang tidak bisa memasak. Kuedarkan mataku ke sekeliling jalanan Myeongdong ini. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu gedung berpalang yang bertuliskan “Do’s Cooking Course” di seberang café ini.

“Seoyeon-ah, kesana yuk?” ajakku sambil menunjuk gedung itu. Seoyeon membulatkan matanya. Ia menatapku dan aku hanya tersenyum.

“Aku tidak mau” ujarnya sambil kembali menyeruput lemon tea nya.

“Jebal Seoyeon-ah, ayo temani aku” ujarku sambil menarik-narik kecil tangannya. Seoyeon menatapku sebal dan dengan terpaksa ia menemaniku ke gedung itu. Saat aku memasuki gedung itu, wangi masakan langsung menyeruak ke dalam indera penciumanku. Aku segera menghampiri front office.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” ujar seorang wanita ketika melihatku menghampiri mejanya.

“Aku ingin bergabung disini, aku ingin kursus memasak. Apa yang harus aku lakukan?” ujarku setelah duduk di hadapan wanita itu. Ia tersenyum dan mulai menjelaskan mekanisme apa saja yang harus aku lakukan jika ingin bergabung. Aku memperhatikan dengan seksama. Tak lama kemudian proses pendaftaranku pun selesai. Aku mulai bisa mengikuti kursus disini mulai lusa.

J

“Aku ikut kursus memasak mulai besok” ujarku pada Kris saat kami makan malam bersama di sebuah restoran di Dongdaemun.

“Oh ya? Sebegitunya ingin bisa memasak?” tanya Kris sambil memotong steak yang ia makan. Aku menganggukkan kepalaku.

“Aku tak tahan kalau harus menyajikan batu bata goreng kepadamu setiap hari” ujarku sambil menyeruput chocolate milkshake yang kupesan. Kris tertawa kecil.

“Sesungguhnya kau tak perlu seperti ini Yoonhae-ah” ujar Kris sambil menatapku dan tersenyum kecil. Aku suka ekspresinya yang seperti ini.

“Kau bilang kau suka perempuan yang bisa memasak. Makanya aku sangat ingin bisa memasak. Kamu tidak marah kan, Kris-ah?” ujarku sambil mendongak menatapnya. Ia tersenyum dan menyentuh puncak kepalaku.

“Bagaimana bisa aku marah pada seorang yeoja yang sedang berusaha untukku?” ujarnya sambil tersenyum dan menggenggam tanganku.

J

Aku sudah berada di Do’s Cooking Course untuk memulai kelas pertamaku. Hari ini pun aku bertemu untuk yang pertama kalinya dengan chef yang akan mengajariku. Agak gugup, semoga hari ini berjalan dengan baik. Aku tidak sendirian, aku bersama dengan 4 yeoja lain dan ada satu orang namja juga yang ikut kursus bersamaku.

“Annyeonghaseo” sapa seseorang yang membuatku sedikit kaget. Seorang namja yang tampan, berkulit bersih dan bermata besar berdiri di hadapan kami. Senyumnya sangat menyenangkan.

“Choneun Do Kyungsoo imnida. Aku yang akan menemani kalian belajar memasak hari ini” ujarnya sambil tersenyum. Oh, dia chef yang akan mengajariku. Tetapi wajahnya terlihat muda. Apa dia benar-benar seorang chef?

“Baiklah, untuk kelas yang pertama ini aku akan mengajari kalian untuk membuat pasta” ujarnya sambil melangkah ke mejanya untuk mulai memasak. Ia memakai apron nya sesaat dan mulai menyentuh bahan masakan.

“Pasta ada banyak macamnya. Ada lasagna, spaghetti, fussili, penne, fettuchini, dan yang lainnya. Tetapi yang paling sering digunakan pasta spaghetti seperti ini” ujar Kyungsoo ssi sambil memperlihatkan segenggam spaghetti mentah. Aku memperhatikannya sesaat. Sosoknya sangat menarik.

“Nah yang akan kita masak hari ini adalah Pasta Ayam Krim Keju. Resepnya sudah ada di meja masing-masing. Aku akan berjalan-jalan untuk mengawasi” ujarnya sambil tersenyum. Aku mulai memasak sesuai resep yang sudah ada di mejaku.

“Ah iya, ayamnya sudah kufillet, jadi tinggal potong kecil-kecil saja” ujar Kyungsoo ssi sambil berjalan pelan. Aku mulai memanaskan air untuk memasak pastanya. Sementara menunggu airnya mendidih aku mulai memotong-motong bahan pelengkap yang lain. Ada brokoli, bawang bombay, bawang putih dan ayam fillet juga. Aku mulai memotong-motong bawang putihnya kecil-kecil.

“Bukan begitu cara mencincang bawang putih” ujar Kyungsoo ssi yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku.

“Kalau begitu caranya akan melukai tanganmu” ujarnya sambil mengambil pisau dari genggamanku. Ia mencontohkanku bagaimana caranya mencincang bawang yang benar. Ia melakukannya dengan sangat cepat dan rapi. Aku tercengang melihatnya, ternyata namja yang bisa memasak memang benar-benar ada.

“Begitu caranya” ujarnya sambil tersenyum padaku. Aku masih tercengang, terlebih lagi saat melihat senyumnya yang sangat menarik. Ia pun melangkah menjauh dan mulai memperhatikan peserta kursus yang lain. Haaaaah, aku harus konsentrasi! Ini semua demi Kris!

J

“Bagaimana rasanya? Apakah enak?” ujar seorang yeoja peserta kursus saat Kyungsoo ssi menyicipi pasta buatannya. Kyungsoo ssi mengangguk-angguk pelan.

“Enak, tetapi rasa krim nya terlalu tajam. Lain kali kurangi sedikit ya” ujar Kyungsoo ssi sambil tersenyum. Yeoja itu pun mengangguk senang. Kemudian Kyungsoo ssi menghampiri mejaku.

“Bagaimana?” tanyanya ketika ia sampai ke mejaku.

“Ah aku tidak tahu, coba kau yang cicipi” ujarku sambil menyodorkan garpu padanya. Ia mengambil garpu yang kusodorkan dan mulai mencicipi masakanku.

“Umm, pasta ini terlalu kering. Mungkin apinya terlalu besar atau memasaknya terlalu lama” ujarnya sambil mengusap ujung bibirnya. Kris juga sering melakukan itu. Aku mematung ketika ia melakukannya.

“Ah, ne..” ujarku singkat dan ia pun berjalan menghampiri meja lainnya. Aku teringat pada Kris saat Kyungsoo ssi mengusap bibirnya tadi. Aku harus bisa masak demi Kris!

“Semuanya sudah sangat baik untuk pertemuan pertama ini. Kita bertemu lagi lusa dan terimakasih atas kerjasamanyaaa” ujarnya sambil membungkukkan tubuhnya dalam. Aku pun balas membungkukkan tubuhku. Dan berakhirlah kelas memasak hari ini. Aku segera membereskan barang-barangku dan segera menelpon Kris.

“Yoboseyo Kris-ah? Sudah selesaikah? Aku sudah selesai” ujarku saat kudengar Kris mengangkat teleponku.

“Sebentar lagi ya, kamu tunggu disitu saja. Jangan kemana-mana” ujar Kris dan tak lama kemudian sambungan telepon kami terputus. Kris sedang di kampusnya, ada beberapa tugas yang harus dia selesaikan. Dan setelah dia selesai dia akan menjemputku. Kuraih tasku dan segera menuruni tangga menuju lobby. Aku duduk di kursi yang disediakan sambil mendengarkan iPod ku. iPod pemberian Kris.

“Menunggu seseorang?” ujar Kyungsoo ssi yang entah sejak kapan berada di dekatku. Sejenak aku berpikir dia itu seperti ninja. Senang sekali datang tiba-tiba dan mengagetkan orang lain. Aku mengangguk dan tersenyum. Ia pun tersenyum dan duduk di sebelahku. Seketika itu juga tercium olehku wangi manis yang terpancar dari tubuhnya.

“Do Kyungsoo” ujarnya sambil menyodorkan tangannya kepadaku untuk berjabat tangan. Bukankah tadi di kelas sudah berkenalan?

“He? Kan tadi di kelas sudah” ujarku sambil melepas sebelah headsetku.

“Do Kyungsoo imnida” ujarnya sambil tersenyum lebar. Sepertinya dia memang  masih anak-anak.

“Park Yoonhae” ujarku sambil tersenyum dan menyambut jabatan tangannya. Ia tersenyum lebar. Seseorang yang sepertinya staff disini berjalan di hadapan kami.

“Siang chef” ujarnya sambil membungkukkan badan. Kyungsoo ssi pun berdiri dan membungkukkan badannya juga sambil tersenyum. Hal baru yang kuketahui, dia sangat sopan.

“Kyungsoo ssi, kau memang benar-benar seorang chef ya?” ujarku sambil tertawa padanya. Ia menunjukkan ekspresi wajah yang lucu.

“Tentu saja, usiaku  memang terlalu muda untuk jadi chef hehehe” ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya.

“Memang umurmu berapa?” ujarku padanya. Paling tidak dia pasti seumuran denganku.

“Kau sendiri?” tanyanya padaku sambil memain-mainkan gantungan yang ada di tasnya.

“Aku kelahiran tahun 1990. Kenapa jadi kau bertanya padaku?” ujarku sambil memilin-milin kabel haedsetku.

“Noona. Hihihi. Yoonhae Noona” ujarnya sambil tertawa-tawa kecil. Aku membulatkan mataku. Dia lebih muda dariku?

“Ya! Kau lebih muda dariku?” tanyaku sambil menepuk lengannya pelan.

“Aku kelahiran 1993 hehehe” ujarnya sambil masih tertawa-tawa. Aku tercengang, ternyata dia memang benar-benar masih kecil, dan dia lebih pintar memasak dariku.

“Bagaimana bisa kau menjadi chef? Umurmu masih sangat muda” ujarku sambil memasukkan iPod ku ke dalam tas.

“Entahlah, aku sangat suka memasak. Ibuku sangat pandai memasak dan aku selalu suka masakan ibuku. Aku masuk sekolah memasak 8 tahun lalu. Tidak biasa memang seusiaku sudah menjadi chef. Ini tempat kursus memasak milik keluargaku dan aku diizinkan untu mengajar disini. Aku juga sering diajak ayahku ke taman kota, kami sering makan di kedai bulgogi yang rasanya enak sekali. Aku ingin bisa masak bulgogi seenak itu, jadilah aku belajar memasak” ujarnya bercerita padaku sambil tersenyum lebar. Aku tersenyum melihatnya. Ia nampak seperti namja biasa seumurannya, tetapi siapa sangka keahlian memasaknya jauh diatasku.

“Ah noona, jangan panggil aku Kyungsoo ssi lagi. panggil Kyungsoo saja” ujarnya sambil memakan sebuah lollipop. Chef sepertinya bahkan ia punya lollipop.

“Ya! Memangnya aku mengizinkanmu memanggilku noona?” ujarku menajamkan nada bicaraku. Kyungsoo pun terkekeh geli.

“Diizinkan atau tidak aku akan tetap memanggilmu noona. Yeppeo Noona” ujarnya yang sukses membuatku terdiam. Perlahan kurasakan wajahku memanas.

“Noona jadi tambah cantik kalau wajahnya memerah seperti itu” ujar Kyungsoo dengan ekspresi wajahnya yang polos. Matanya terlihat bening saat menatapku. Aku sangat malu. Saat ini baru terasa kalau Kris lama sekali datangnya!

“Noona, aku pulang dulu ya! Ini untukmu” ujarnya sambil meletakkan sebatang lollipop ke tanganku. Ia tersenyum dan melangkah kearah pintu.

“Annyeong noona!” ujarnya sambil melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Ia pun menutup pintu dan sosoknya hilang. Aku masih mematung dan kupandangi lollipop yang ada di genggamanku. Yeppeo noona katanya? Tanpa kusadari bibirku tertarik dan membentuk sebuah senyum. Kualihkan pandanganku keluar dan kulihat mobil putih yang sangat kukenal. Segera kumasukkan lollipop di genggamanku ke dalam tas dan kulangkahkan kakiku keluar. Tepat saat aku keluar, Kris menurunkan kaca jendela mobilnya dan menyuruhku masuk.

“Bagaimana hari ini?” tanya Kris saat aku selesai memasang seatbelt. Kulihat wajahnya dan tergambar sebuah senyum kecil disana. Aku sangat suka melihat wajahnya seperti ini.

“Chef nya bilang pastaku terlalu kering, kurang lembab” ujarku tanpa menatap matanya. Kris hanya tersenyum simpul. Ia mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya dan memberikannya kepadaku. Setangkai bunga lily putih kesukaanku. Aku tersenyum dan kusentuhkan bibirku di tulang pipi Kris. Aku suka saat hidungku menyentuh bulu matanya yang panjang saat ia memejamkan mata. Wangi cokelat dari tubuh Kris langsung tercium jelas ketika berdekatan dengannya.

“Gomawo Kris-ah” ujarku sambil tersenyum padanya. Kullihat jok belakang mobil Kris banyak terdapat paper kuliahnya. Dan ada juga sweater kesukaan Kris yang kuberikan. Sweater yang kurajut dengan tanganku sendiri.

“Mobilmu berantakan, Kris-ah” ujarku saat melihat jok belakang mobilnya. Kris tertawa pelan.

“Aku akan membereskannya nanti setelah memastikan yeojachinguku sudah mengisi perutnya” ujar Kris sambil menyalakan mesin mobilnya dan kami pun pergi untuk makan siang ke restoran favorit kami. Dan sungguh, ketika melihat Kris bayangan Kyungsoo yang tadinya memenuhi kepalaku hilang begitu saja.

J

Kutatap lollipop yang diberikan Kyungsoo tadi siang. Aku belum memakannya sampai sekarang.

“Yeppeo noona..”

Kugelengkan kepalaku cepat. Apa-apaan ini? Aku punya Kris. Aku punya namjachingu yang sangat tampan, pintar, dan mempesona. Untuk apa aku memikirkan anak kecil seperti Kyungsoo hanya karena dia bilang aku cantik? Aku ingat persis pertama kali Kris memanggilku cantik. Jantungku berdebar dan wajahku memerah. Sama seperti ini.

Tiba-tiba kudengar handphoneku berdering di atas meja. Kuraih handphoneku dan senyumku terkembang ketika tahu siapa yang menelpon.

“Kau belum tidur Yoonhae-ah?” kudengar suara rendah Kris diujung sana. Aku tersenyum senang.

“Belum, kau sendiri?” tanyaku pada Kris. Kudengar samar-samar suara kertas yang dibalik berulang kali.

“Paperku belum selesai. Akan sangat baik kalau aku bisa menyelesaikannya malam ini juga” ujarnya. Aku khawatir dia sakit karena sibuk mengurusi papernya.

“Kris-ah” ujarku memanggilnya. Aku menyesal kenapa tidak ada disampingnya saat ini sekedar untuk membuatkan segelas cokelat hangat untuknya.

“Waeyo?” ujarnya pelan diujung sana.

“Jangan sampai sakit. Istirahat dan makan yang banyak supaya tetap sehat” ujarku pelan. Lalu ada hening sejenak dan entah mengapa aku yakin Kris sedang tersenyum di ujung sana.

“Iya, aku tak akan lupa itu. Ayo kau istirahat. Sebentar lagi aku selesai. Walaupun tidak selesai aku akan berhenti” ujar Kris sambil tertawa kecil. Aku tersenyum mendengar tawanya.

“Iya. Ayo cepat istirahat ya. Kututup teleponnya” ujarku mengakhiri pembicaraan.

“Yoonhae-ah!” panggil Kris sesaat sebelum aku menutup telponnya. Kudekatkan lagi handphoneku ke telinga.

“Saranghae..” ujar Kris setengah berbisik. Kris memang tipe namja yang sering memberikan bunga, hadiah, ataupun kejutan yang lainnya. Tetapi dia tidak mudah mengatakan kata-kata cinta. Selama kami berpacaran Kris sangat jarang mengucapkan hal seperti itu. Tetapi perlakuannya padaku mewakili semuanya.

“Nado saranghae Kris-ah..” ujarku serak. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis. Tangis terharu tentu saja.

“Uljima hehehe” ujarnya sambil sedikit terkekeh. Ia selalu tahu apa yang kurasakan.

“Sok tau” ujarku pelan yang disambut tawa renyah darinya.

“Hehehe. Sudah ya, kamu tidur dan aku akan melanjutkan paperku. Ara?” ujar Kris.

“Iya, selamat malam” ujarku singkat dan sambungan telepon kami terputus. Kurebahkan tubuhku ke tempat tidurku dan kuletakkan handphoneku di meja, disebelah lollipop yang diberikan Kyungsoo tadi siang. Ingatanku kembali melayang pada Kyungsoo. Aku baru bertemu dengannya beberapa jam lalu tapi entah kenapa rasanya jadi serumit ini?

J

Hari ini aku ada jadwal kursus di Do’s Cooking Course. Entah sudah ke pertemuan yang ke berapa. Tampaknya baru aku saja peserta kursus yang sudah datang. Aku terlambat? Atau terlalu cepat? Kulihat jam di pergelangan tanganku, aku sepertinya tepat waktu. Kuputuskan untuk menunggu di lobby. Tak lama kemudian Kyungsoo datang. Ia menyapa para staff di front office dengan senyumnya yang lebar.

“Ah! Noona annyeong!” ujarnya sambil melambaikan tangannya semangat ketika melihatku. Dia terlihat sangat tampan hari ini. Ia memakai kaos putih bergambar tengkorak dan luaran berwarna hitam dengan celana panjang yang juga hitam dan sepatu abu-abu yang tingginya semata kaki. Rambutnya tertata dan senyum lebarnya menambah sempurna penampilannya hari ini. Aku tercengang sesaat, dia tampan hari ini. Jantungku pun berdetak melihatnya.

“Noona, belum pada datang?” ujar Kyungsoo padaku sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa di sebelahku. Aku mencoba untuk bertingkah biasa saja.

“Mollayo, aku juga baru datang” ujarku sambil mengeluarkan handphoneku dan mengutak-atiknya agar tak terlihat gugup. Wangi manis tubuhnya langsung tercium olehku.

“Mulai saja yuk noona, aku ingin mengajarkan cara buat tiramisuuu” ujar Kyungsoo sambil memajukan tubuhnya ke arahku. Aku sedikit tersentak karena tingkahnya ini.

“Ya sudah, ayo” ujarku tak menolak ajakannya. Ia tersenyum dan melangkah lebih dulu ke ruang memasak. Aku pun mengikutinya dari belakang. Sesampainya di ruang masak tanpa banyak bicara kami pun segera memakai apron masing-masing.

“Noona sini saja, jangan jauh-jauh” ujarnya sambil melambaikan tangannya member tanda agar aku mendekat.

“Karena kita cuma berdua jadi semeja saja cukup kan” ujarnya sambil mengambil beberapa bahan untuk memasak kali ini. Entah mengapa mataku selalu melihat ke wajahnya. Wajahnya sangat lucu dan menarik. Aahh aku nyaris gila pasti sekarang.

“Ja! Sekarang kita akan membuat tiramisu! Aku sangat suka tiramisu. Noona suka?” ujarnya dengan nada suara yang sangat lucu. Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Yayaya aku suka. Bahan apa saja yang dipakai? Aku ingin mencatatnya” ujarku sambil mengeluarkan catatan.

“Yang perlu kita tahu, kita akan buat cake dan tiramisunya. Nah bahan untuk cakenya kita pakai terigu, gula pasir halus, telur, cake emulsifier, mentega, dan bubuk kopi” ujarnya sambil memperlihatkan bahan yang akan dipakai.

“Selanjutnya, bahan untuk tiramisunya kita pakai gelatin, air, gula pasir, keju mascarpone, whipped cream kocok” ujarnya lagi dengan mimik yang lucu. Matanya yang besar seperti bermain-main saat mengenalkan bahan-bahan itu. Aku tertawa kecil melihatnya.

“Sekarang cara bikinnya. Noona, letakkan catatanmu. Kita akan buat bersama” ujarnya sambil menarik pelan catatanku. Aku pun menurut dan menaruh catatanku.

“Pertama, kita bikin cakenya dulu. Kita masukkan terigu, gula pasir halus, telur, cake emulsifier, dan bubuk kopi ke dalam wadah terus diaduk. Aduk yang rata ya noona” ujar Kyungsoo sambil mengaduk bahan-bahan di wadahnya. Aku pun mengangguk sambil mengaduk adonan milikku.

“Selanjutnya lelehkan mentega. Hati-hati noona” ujarnya mengingatkanku ketika tanpa sengaja tanganku hampir menyentuh pan yang panas.

“Kyungsoo-ah, mentega ku sudah meleleh. Diapakan ini?” ujarku sambil menggoyang-goyang pan ku.

“Ah, sekarang masukan menteganya ke adonan yang tadi sambil diaduk. Yang rata noona. Setelah rata, kita masukan ke loyang” ujarnya sambil menuang mentega miliknya dan mengaduk adonannya perlahan. Tak lama kemudian ia mulai memasukkan adonannya ke loyang dan memanggangnya. Aku sangat menikmati saat-saat bersama Kyungsoo seperti ini. Terkadang Kyungsoo pun menjahiliku dengan mengoleskan mentega ke pipiku. Atau tangannya yang tak sengaja menyambar mangkuk terigu dan membuatnya tumpah ke meja. Kami tertawa lepas. Waktu yang terlewati jadi terasa cepat sekali.

“Sepertinya enak deh noona” ujar Kyungsoo sambil menatap seloyang tiramisu yang baru saja keluar dari lemari pendingin. Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. Kyungsoo kemudian mengambil 2 buah garpu dan memberikan salah satunya kepadaku. Kami pun menyicipi tiramisu yang kami buat. Dan ternyata rasanya sangat enak! Mata besar Kyungsoo semakin besar ketika menyicipinya. Sedangkan aku memejamkan mataku dan mencoba menikmati tiramisu ini. Rasanya sangat enak!

“Aku tidak bercanda, tiramisu ini rasanya sangat enaak!” ujarku pada Kyungsoo yang disambut senyuman lebar darinya.

“Noona ini percobaan pertamamu bikin tiramisu dan berhasil. Kau akan berikan ke siapa tiramisu ini?” tanya nya sambil menyuapkan tiramisu ke dalam mulutnya.

“Maksudmu?” ujarku tak mengerti.

“Ah, di keluargaku ada tradisi untuk memberikan percobaan pertama makanan yang berhasil kepada orang yang paling dicintai. Aku memberikan pasta pertamaku untuk ummaku. Kalau aku punya yeojachingu aku akan membuat dua piring pasta hehehe” ujar Kyungsoo sambil menggigit-gigit kecil garpunya. Dia terlihat cute sekali saat itu. Tiba-tiba aku teringat akan seseorang.

“Kyungsoo, aku tahu aku akan memberikan tiramisu ini ke siapa!” ujarku senang. Wajah Kyungsoo menjadi lebih cerah.

“Aku akan memberinya pada namjachinguku!” ujarku senang. Kulihat wajah Kyungsoo berubah, tak seceria tadi.

“A..ah, Yoonhae noona punya namjachingu ya?” ujar  Kyungsoo pelan.

“Iya” ujarku sambil tersenyum lebar. Ia pun balas tersenyum kepadaku.

“Ah tentu saja Yoonhae noona punya namjachingu. Yeppeo yeoja seperti noona tidak mungkin tidak punya pacar kan? Hehehe” ujarnya sambil tertawa kecil. Aku terdiam melihatnya. kata-kata itu lagi yang dia ucapkan. Tiba-tiba kudengar handphoneku berdering. Kris menghubungiku.

“Kau dimana? Masih di cooking course kah? Aku sudah didepannya saat ini. Kebetulan aku lewat sini” ujar Kris diujung sana.

“Iya aku masih disini. Kau dibawah? Tunggu sebentar ya, aku beres-beres dulu” ujarku dan menutup telepon.

“Noona, ayo kita pulang. Jangan lupa tiramisunya” ujar Kyungsoo singkat sambil melepas apronnya. Aku mengangguk dan kami mulai membereskan diri masing-masing. Kami pun berjalan bersama keluar dari gedung kursus ini. Kulihat Kris diluar sedang  bersandar pada mobilnya.

“Kyungsoo-ah, gomawo. Hari ini menyenangkan sekali. sampai ketemu lagi!” ujarku sambil melambaikan tanganku kearah Kyungsoo yang dibalas senyum olehnya. Aku sedikit berlari keluar sambil membawa tas berisi tiramisu buatanku untuk Kris.

J

Kyungsoo POV

“Kyungsoo, aku tahu aku akan memberikan tiramisu ini ke siapa!” ujar Yoonhae noona senang. Aku tersenyum lebar, kuharap orang itu aku. Sungguh.

“Aku akan memberinya pada namjachinguku!” ujar Yoonhae noona. Matanya terlihat cerah saat mangatakannya. Mwo? Yoonhae Noona? Noona yang kucintai punya namjachingu? Hatiku remuk rasanya.

“A..ah, Yoonhae noona punya namjachingu ya?” ujarku sedikit terbata. Anni, aku tak boleh terlihat seperti ini. Aku harus tetap terlihat senang dimatanya.

“Iya” ujarnya sambil tersenyum manis. Aku yakin namjachingunya sedang ada di pikirannya saat ini. Aku sangat cemburu, kenapa tak dari awal dia bilang padaku tentang hal ini?

“Ah tentu saja Yoonhae noona punya namjachingu. Yeppeo yeoja seperti noona tidak mungkin tidak punya pacar kan? Hehehe” ujarku sambil tertawa kecil untuk menyembunyikan perasaanku yang sesungguhnya. Yoonhae noona hanya terdiam tak merespon omonganku. Tiba-tiba handphone Yoonhae noona berdering.

“Iya aku masih disini. Kau dibawah? Tunggu sebentar ya, aku beres-beres dulu” ujarnya dan menutup telepon. Aku yakin itu pasti namjachingunya yang menelpon dan sepertinya ia ada dibawah saat ini.

“Noona, ayo kita pulang. Jangan lupa tiramisunya” ujarku singkat sambil melepas apron. Aku benar-benar ingin pulang. Tak tahu kenapa tapi aku rasanya hancur sekali. Yoonhae noona hanya mengangguk dan kami mulai membereskan diri masing-masing. Aku ingin marah rasanya. Yeoja yang pertama kucintai malah mencintai orang lain. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuat ekspresiku tetap terlihat baik-baik saja di depan Yoonhae noona.

“Kyungsoo-ah, gomawo. Hari ini menyenangkan sekali. sampai ketemu lagi!” ujar Yoonhae noona  sambil melambaikan tangannya dan tersenyum kearahku. Aku hanya balas tersenyum dan melihatnya berlari-lari kecil keluar gedung. Diluar sana kulihat seorang namja yang tengah bersandar pada sebuah mobil berwarna putih. Namja itu bertubuh tinggi, berkulit putih dan berambut cokelat. Ia mengenakan kaos putih polos dengan luaran berwarna biru navy. Celananya berwarna hitam polos dan memakai sepatu cokelat setinggi mata kaki. Namja itu tersenyum pada Yoonhae noona saat ia menghampiri namja itu. Yah, namja itu memang tampan. Dan sangat cocok dengan Yoonhae noona. Tapi aku tidak suka melihat mereka. Aku lebih suka kalau Yoonhae noona bersamaku.

TBC

Ditunggu saran dan kritiknya. Kamsahamnidaaaaaaaaaaaaaa!!! :*

48 pemikiran pada “Cooking? Cooking? (Chapter 1)

  1. Berasa banget thor ekspresi dan tingkahnya kris, sama D.O…
    Aaah, jadi pengen minta bunga sama kris nih :3 ㅋㅋㅋ

  2. D.O
    I LOVE YOU!!!!!! Aku suka cowok yang bisa masak. Aaaaa….*dipelototi chanyeol. Maaf chan oppa, aku gak bermksud dusta sama kamu oppa~
    pokoknya ini bagus. Bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s