Fallin Love Trouble (Chapter 1)

Author : Hyo_Hyo (Lee Hyora)

Genre : Romance

Rating : PG 13

Main Cast :

Xi Luhan ( EXO )

Kim Jihyun (OC)

Other Cast :

Jihyun Friends

Chapter Awal ( Aku ingin Jatuh Cinta ! )

 

Normal Pov

 

Bel sekolah berdentang sudah, jam pelajaran ketiga berakhir dan waktu istirahat pun tiba. Yeoja itu memasukkan buku-bukunya dengan malas ke dalam tas nya.

“Hei, ayo kita makan siang” ajak yeoja itu pada teman-temannya. “Mianhae, aku harus menemani Baekhyun oppa latihan bernyanyi” ujar salah satu dari teman-teman yeoja itu.

“Ya sudah, kalau Minah tidak bisa ikut makan bersama” ujar yeoja itu lalu matanya melirik ke arah teman-temannya yang lain. “Aku sudah janji makan dengan Jongin oppa, mian” ujar seorang yeoja disebelah Minah. “Ehm, aku juga sudah ada janji dengan Tao” ujar yeoja di sebelahnya lagi.

“Jadi, hyora sudah ada janji dengan Jongin sunbae , Yeonji juga” ujar yeoja itu dengan nada lesu. “Gwenchana Jihyun – a ” ujar minah menenangkan yeoja yang bernama Jihyun tersebut. “Nee, masih ada Nara, Minri, Jiyeon, dan Hyejin yang bisa menemaniku makan siang” ujar yeoja itu kembali semangat.

“Ne, kalian berlima bisa makan siang bersama, kan lumayan ramai” sahut Yeonji. “Benar, kita bisa makan bersama, iya kan?” tanya yeoja itu girang pada keempat temannya yang lain.

Keempat temannya hanya saling memandang satu sama lain.

“Wae?” Tanya Jihyun bingung akan reaksi keempat temannya itu. “ Jeongmal mianhae Hyunie. kami..” ujar salah satu dari keempat temannya itu terpotong ketika Jihyun memotong pembicaraan mereka.

“Chakaman Hyejin – a , aku sudah tahu apa yang akan kalian katakan, pasti kalian sudah punya janji kan ? Nara dengan Kyungsoo sunbae, kau denganYixing sunbae, Minri dengan Chanyeol sunbae, dan Jiyeon kau baru jadian kemarin, aku yakin Sehun sunbae ingin bersamamu. Aku benar kan? Terima kenyataan bahwa hanya aku yang tidak punya namjachingu” omel jihyun panjang lebar pada teman-temannya.

“Jeongmal mianhae Hyunnie, tapi aku harus cepat pergi, Tao Oppa bisa marah kalau aku terlambat datang. Nanti saja kita lanjutkan pembicaraan ini, ya?” ujar Yeonji lalu berjalan pergi meninggalkan Jihyun. “Ah, aku juga. Annyeong hyunnie” ujar Minah pamit pada Jihyun yang kini membatu terdiam.

Yang lain hanya ikut pergi satu per satu setelah itu.

(Jihyun Pov)

 

Sekarang kelas sepi sunyi. Hanya aku terdiam membatu melihat reaksi teman-temanku yang pergi tanpa menghiraukanku dan lebih sibuk dengan namjachingu mereka masing-masing.

“Sial” dengusku lalu meniupkan poniku ke udara.

“ BRAAK” aku pun menendang bangku di sampingku. “BRAK BRAK BRAK” tendangku berkali-kali.

Itu cara melampiaskan kekesalanku hari ini.

“Apa apaan mereka semua.! Mentang-mentang sudah mempunyai namjachingu.! Padahal dewi cinta mereka itu adalah aku. Aku yang membuat mereka semua dapat bersama orang yang mereka cintai ” omelku.

Mungkin kalau orang melihatku sekarang, pasti mereka mengira aku cacat mental.

“ BRAKK ” tendangan terakhir kulayangkan pada bangku itu.

Karena kakiku sudah agak sakit jadi, kuhentikan saja amukanku hari ini. Aku pun berjalan keluar, berniat menuju kantin mengisi perutku yang keroncongan.

“Ahjumma, aku ingin membeli roti melon satu” ujarku pada Bibi penjaga kantin. “Maaf nak, kau telat, rotinya sudah habis” ujar ahjumma itu padaku.

“Haah, betapa sialnya aku hari ini” ujarku menghela nafas dan pergi.

Akhirnya aku lebih memilih membeli minuman kaleng daripada tidak makan dan minum sama sekali hari ini.

“Klontangg” suara jus kaleng jatuh dari mesin penjual otomatis.

Aku pun mengambilnya dan meminumnya sambil berjalan-jalan. Kakiku melangkah menuju taman dan duduk dibangku dekat situ.

“Fuuh. Suasana taman ini tenang dan nyaman” gumamku sambil meminum jus yang kubawa.

Ketenangan yang kurasakan tiba-tiba terusik dengan suara para yeoja di sekitarku. Rutinitas yeoja, apalagi kalau bukan gossip. Lebih baik aku menguping saja daripada bosan merenung disini.

“Uwa, EXO itu keren sekali. Aku ingin menjadi yeojachingu salah satu dari mereka” ujar salah seorang yeoja.

Lagi-lagi gossip EXO. Memang banyak yeoja dan namja yang membicarakan mereka. Sekolahku ini sekolah menengah atas favorite, di lingkungan sekolah ada semacam gang sunbae yang terbentuk bernama EXO. Gosipnya anggota exo sebanyak 12 orang.

EXO itu terbentuk atas siswa siswa yang sangat berpengaruh disekolah dan mempunyai bakat luar biasa, dan katanya sih mereka semua namja yang tampan. Tentu saja mereka juga populer. Pantas saja semua yeoja menggilai mereka dan berharap menjadi yeojachingunya.

Aku kurang tahu mengenai anggota EXO, Anggota yang kutahu hanya enam orang. Lebih tepatnya yang kutahu itu hanyalah namjachingu teman-teman terdekatku. Hebat bukan ? Keenam teman terdekatku adalah yeojachingu anggota EXO ? Itu karena takdir beruntung dan jangan lupakan aku sebagai dewi cinta mereka.

“Apanya yang anggota berwajah tampan? Semua namjachingu teman-temanku wajahnya pas-pasan” gumamku sambil terus menguping pembicaraan mereka.

Jujur saja, aku ini sangat sulit menemui tipe idealku. Aku tidak akan mau berpacaran dengan orang yang tidak sesuai dengan tipeku. Mungkin itu sebabnya aku tidak mempunyai namjachingu hingga saat ini.

Tapi tetap saja. Seleraku itu kan tinggi. Aku ini kan imut dan cantik, jadi harus mempunyai namjachingu yang setara. Namja yang imut juga tentunya. Bel masuk pun berbunyi. Aku segera bangun dari posisi dudukku dan berjalan kembali ke kelas.

“Padahal jus ku belum habis” gumamku memandang isi jus kalengan yang kubawa. “Permisi permisi!” ujar gerombolan namja berlari menyerobotku, jus kalengan yang kubawa terlepas dan jatuh dari tanganku “KLONTANG!”.

Hampir saja seragamku basah terkena tumpahan jus.

“Ya! Kalian!” teriakku pada gerombolan itu tapi tidak dihiraukan.

Aisshh Jinjja, aku sial lagi. Aku pun memungut kaleng jus itu dan membuangnya ke tong sampah terdekat. Lalu berjalan kembali ke kelas.

“Untung jam pelajaran selanjutnya olahraga, jadi telat sedikit tak apa” gumamku.

Saat sampai di kelas kami semua berganti pakaian menjadi seragam olahraga dan segera turun ke lapangan.

“Panas, ingin tidak olahraga” ujar Nara mengipas – ngipaskan tangannya ke arah lehernya . “Nado” jawabku.

Hari ini memang panas tak cocok untuk olahraga. Untung rambutku kuikat sehingga tak terlalu merasa gerah nanti.

“Coba kita minta izin saja ke Mr.Jung untuk meniadakan olahraga kali ini saja karena cuacanya panas” ujar Minah. “Aku jamin, Mr.Jung tidak akan mengizinkannya. Yang ada malah kita dihukum. Kau ingin kita disuruh mencabuti rumput halaman belakang? Dia kan cinta olahraga sampai mati” sahut yeonji. “Benar juga, lebih baik olahraga dibanding mencabuti rumput” jawab hyora. “ PRIIT ” suara peluit khas Mr.Jung berbunyi tanda berkumpul.

Kami semua berkumpul dan mengatur barisan masing-masing. Pemanasan dimulai. Setelah itu Mr. Jung menyuruh kami semua bermain olahraga voli.

“Jiyeon ah, jangan keras-keras lemparnya” ujarku pada jiyeon yang menjadi pasangan bermainku. “Nee” jawabnya lalu mulai melempar bola.

Permainan voliku dan jiyeon lancar-lancar saja sejak tadi, aku yang melempar dan dia menangkapnya atau sebaliknya.

“Hyunnie.! Awaas.!” teriak hyora padaku.

Aku pun menoleh dan..

“BUAGGH” bola voli memantul tepat di wajahku.

“Kim Jihyun, mianhae. Kami salah lempar tadi” ujar namja teman sekelasku mengambil bola itu lalu pergi.

“Dasar orang-orang itu” sungutku sambil menggigit bibir bawahku kesal.

Aku marah pun tak ada gunanya, sepertinya hari ini aku memang ketiban sial.

“Gwenchana?” tanya teman-temanku datang menghampiriku. “Nee, aku baik baik saja. Bolanya tak sepenuhnya kena wajahku. Hanya terpantul kena jidatku saja untung jidatku tak melebar kalau iya bisa – bisa jidatku jadi pengganti lapangan sepakbola ” jawabku.

Untung bola itu tak terpantul di wajahku, kalau itu sampai terjadi aku pasti bisa mimisan.

“PRIIIT” suara peluit Mr.Jung berbunyi lagi, tanda olahraga usai.

“Akhirnya” ujar Minri menghela nafas. “Aku lelah” ujar Nara. “Kalian pikir kalian saja yang merasa begitu ? Nado” sahut Yeonji. “Ada yang ingin membeli air minum?” Tanya Hyejin. “Aku” ujar minah. “Aku juga, kita sama-sama ke kantin saja” ujar Hyora. “ Aku titip pada kalian saja, belikan milkshake” ujarku menyerahkan uang pada hyora. “Aku menemani jihyun disini” ujar Jiyeon. “Kami akan langsung ke kelas setelah selesai membeli air.” ujar Yeonji. “Nee, nanti aku dan jiyeon menyusul. Aku juga akan mengambil milkshake ku” jawabku. “Oh, kami pergi dulu.” ujar Minri.

(***)

Aku dan jiyeon pun duduk di dekat bangku yang ada di lapangan ini.

“Jihyun ah” panggil jiyeon padaku. “Waeyo?” jawabku. “Kau mau mendengar ceritaku?” tanyanya lagi. “Hmm” jawabku pengganti kata ‘iya’.

Sudah kuduga yeoja ini akan cerita tentang dirinya dan sehun. Dengan kata lain, ya Curhat. Semua teman-temanku saat baru jadian juga ujung-ujungnya curhat padaku, seperti jiyeon ini. Entah sudah ke berapa kalinya aku mendengar curhatan teman-temanku. Bosan, aku hanya mendengar kisah yang katanya membuat mereka berdebar-debar itu.

“Aku tidak menyangka selama ini Sehun Oppa juga menyukaiku.” Ujar Jiyeon. “Nee, perasaanmu yang saling terbalas itu hebat” ujarku. “Kau tidak mau mempunyai namjachingu?” Tanya Jiyeon padaku. “Bisa dibilang iya juga tidak. Aku ingin namja yang benar-benar pas idealku tak ada cacatnya sedikit pun” jawabku. “Hm, tipe idealmu memangnya seperti apa ?” Tanya Jiyeon lagi. “Yang setara denganku. Dan harus berwajah di atas rata-rata, Flower boys juga boleh” jawabku,

Intinya aku menyukai tipe tipe pangeran atau malaikat yang sempurna, yang mempunyai wajah yang manis dan juga tampan serta senyumnya yang membuat hatiku meleleh jika melihat senyumnya.

“Eh, susah. Sehun oppa tak sepenuhnya tipeku, tapi aku menyukainya” ujar jiyeon lalu kembali curhat tentangnya dan si sehun.

(***)

Bel tanda istirahat kedua pun berbunyi. Seluruh siswa dan siswi keluar dari kelas. Halaman sekolah pun mulai ramai. Dan Jiyeon terus saja mengoceh curhatannya tanpa jeda. Aku hanya bisa menghela nafas mendengarnya.

“Jiyeon – a” panggilku. “Nee?” jawabnya, akhirnya dia berhenti mengoceh juga.

“Aku ingin jatuh cinta” ujarku padanya.

Kira-kira apa reaksinya kalau aku berkata seperti ini. Yeoja itu kemudian membulatkan matanya mendengar perkataanku.

“Mwo?” ujarnya terkejut. “Ne, aku ingin jatuh cinta” ulangku. “Bohong” ujarnya meledek. “Serius” jawabku. “Jeongmal?” tanyanya lagi, benar-benar yeoja cerwet. “Nee Jeongmal. Aku suka seseorang kok” jawabku.“Nuguya? Nuguya?” Tanya jiyeon antusias. “Hm, aku bisa saja menyukai seseorang” jawabku. “Apa maksudmu?” Tanya jiyeon, tergambar di wajahnya dia semakin bingung sekarang.“Aku berani bertaruh” ujarku. “Bertaruh?“ tanyanya lagi.

“Kan aku bilang aku bisa saja menyukai seseorang. Kalau begitu aku akan menyukai namja yang berbelok dari tikungan itu” jelasku sambil menunjuk tikungan koridor sekolah yang mengarah ke lapangan.

Ini mungkin adalah hal yang gila, tapi siapa tahu aku beruntung.

“Jihyun ah, bagaimana kalau orang itu sangat jauh dengan tipemu?” Tanya Jiyeon padaku. “Begini saja, namja ke tiga yang berbelok dari tikungan itu. Guru atau petugas sekolah tak termasuk kategori” ujarku.

“Kau benar-benar serius?” Tanya Jiyeon lagi. “Sudahlah, jangan cerewet. Pokoknya namja ketiga yang melewati tikungan itu akan menjadi orang yang kusukai” jawabku. “Aku akan jadi saksinya. Jangan hanya bicara saja” ledek Jiyeon. “Aku akan mengatakan langsung perasaanku dan memintanya jadi namjachinguku” ujarku. Sekalian saja agar dia terkejut.

“Mulai kapan taruhan ini berjalan?” tanya Jiyeon memastikan. “Mulai Sekarang” Jawabku. Kami pun mulai memperhatikan tikungan yang menjadi sasaran kami. “Namja pertama!” ujar jiyeon menyenggol lenganku.

Aku pun memperhatikan orang yang dimaksud. Mataku membesar dan jantungku serasa ingin meledak saking shocknya. Oh God! Untung saja namja ini orang pertama yang berbelok. Masa aku harus berpacaran dengan namja gendut bulat seperti babi ini.

Aku pun menelan ludahku sendiri, takut akan resiko berat yang kuambil. Aku baru sadar, keputusan yang kuambil tadi benar-benar nekat. Kalau namja yang ketiga nanti lebih jelek, ottokhae? Uwaa, aku bisa menangis darah.

“Untung yang tadi orang pertama, kau selamat jihyun ah” ujar jiyeon. “Kau benar, kalau namja yg ketiga nanti lebih parah. Sepertinya namaku akan terdaftar di list warga bunuh diri” ujarku panik.

Kami terus menunggu di tengah keramaian halaman sekolah.

“Ya! Namja kedua” ujar jiyeon.

Aku reflek menoleh ke orang yang dimaksud.

“Tuhan usil padaku.” ujarku begitu melihat namja kedua itu.

Namja berkacamata tebal dengan tubuh tinggi kurus sangat, kurus seperti kerangka layangan. Kalau seperti ini lebih baik aku pacaran dengan tiang listrik saja.

“Tenang, dia itu orang kedua” ujar jiyeon.

Wajahku langsung pucat begitu mengingat sesuatu. Bagaimana dengan namja ketiga nanti? Sedangkan hari ini peruntunganku jelek. Dan sejak tadi aku tertiban sial.

“Jiyeon – a ” panggilku. “Wae?” jawab jiyeon. “Aku, takut” ujarku. Terlihat dari mukaku yang pucat sekarang.

Sebentar lagi namja ketiga. Aku menutup mataku perlahan lalu merapatkankan telapak tanganku dan menyilangkan jari-jariku untuk berdoa. Datanglah, kumohon datanglah. Orang yang sesuai dengan tipeku. Jebal.

Keningku berkerut dan bibirku serasa kering. Jantungku berdetak sangat kencang. Telapak tanganku mulai terasa dingin. Nafasku tak beraturan. Intinya, aku merasa sangat panik dan takut saat ini. Tangan seseorang pun menyentuh pundakku.

“Jihyun ah. Dia, datang. Namja ketiga” ujar Jiyeon padaku.

Aku pun membuka mataku perlahan dan mencari keberadaannya.

“Mana?” tanyaku dengan mata yang tetap memandang ke seluruh penjuru. “Bohong.” Ujar Jiyeon lalu tertawa. “Ya! Tidak lucu” ujarku. “Habis kau terlihat sangat tegang sih” ledeknya lagi.

Aku pun menundukkan kepalaku, mengatur nafas dan detak jantungku yang tak beraturan sejak tadi. Tiba-toba saja jiyeon memukul-mukul pundakku lagi.

“Wae?!” bentakku. “Jihyun ah! Namja ketiga! Benar datang! Sumpah! Aku tak bohong!” ujarnya histeris sendiri.

Baru saja detak jantungku berdetak normal, sekarang sudah tak beraturan lagi. Aku pun sedikit mendongak melihat namja yang akan menjadi orang yang kusukai. Dan sangat terkejut ketika melihat orangnya. Otakku berhenti berfikir, tubuhku membatu dan suaraku tak mau keluar.

“Jihyun ah! Jihyun ah!” ujar jiyeon mengguncang-guncangkan tubuhku.

Hanya satu kalimat yang bisa kukatakan saat ini.

“Aku, melihat malaikat” ujarku pada jiyeon.

Namja yang ketiga itu, Namja dengan rambut berwarna coklat agak panjang, benar-benar sangat tampan. Wajahnya kecil dengan mata bulat yang besar dan, bisa dibilang dia juga imut mencakup flower boys. Tentu sesuai dengan tipeku selama ini.

“Kenapa aku tak menyadari  bahwa selama ini ada orang sepertinya, di sekolah yang isinya namja berwajah pas-pasan ini?” gunmamku. “Jihyun ah” panggil jiyeon menghapus lamunanku. “Tuhan mendengar doaku, aku akan segera menyatakan perasaanku padanya” ujarku lalu berdiri dan berjalan ke arah namja itu.

“Chakaman Jihyun ah! Jangan namja itu!” ujar jiyeon padaku. “Wae? Kebetulan dia tampan seperti malaikat dan tipeku, kenapa tidak?” ujarku pada jiyeon. “Ada masalah penting yang harus kau ketahui mengenai namja itu” ujar jiyeon. “Apa?” tanyaku. “Nanti saja, pokoknya kau tidak boleh bersama namja itu!” ujar jiyeon padaku lagi.

Aku tidak mempedulikan apa kata-kata jiyeon. Aku terus berjalan menuju dimana namja itu berada.

“Yak! Hyunnie! Dengarkan aku!” teriak jiyeon.

Aku hanya membalik hadap memandangnya sekilas

“Sudah kubilang aku ingin jatuh cinta” ujarku padanya. Dan berlari menuju namja itu.

Namja itu berdiri di dekat lapangan sekarang. Aku segera menghampirinya. Dan memerhatikannya sejenak. Namja ini memakai dasi berbeda denganku, sepertinya dia sunbae kelas 2.

“Chogi, aku ingin berbicara denganmu” panggilku.

Namja itu pun menoleh ke arahku.

“Wae?” tanyanya datar.

Akh, aku bingung harus mengatakan apa. Naega pabo, Aku sama sekali tidak berpengalaman apapun mengenai masalah seperti ini. Mana sekarang disini sedang ramai, masa aku harus mengatakan perasaanku yang belum tentu dibalas, di depan umum. Aku jadi malu sendiri.

Aku menoleh sekilas ke arah Jiyeon. Dia hanya berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya. Entah itu pertanda ‘jangan lakukan itu’ darinya. Tapi, aku tak mau di cap yeoja tak menepati janji. Jadi mau tak mau aku harus mengatakan pada namja ini sekarang juga.

“Waeyo? Apa yang ingin kau katakan? Palliwa” ujar namja itu ketus padaku. “Mmh, Siapa namamu?” tanyaku tiba-tiba.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja keluar dari bibirku. Ottokhae? Aku jadi lebih tegang sekarang. Namja itu lalu mengangkat alisnya sebelah dan menghela nafas. Jarinya menunjuk papan nama yang ia kenakan.

“Bisa baca kan?” tanyanya padaku.

Aku pun melihat arah jari telunjuknya itu. Dan membaca apa yang tertulis disana. ‘Xi Luhan’ sepertinya itu nama namja ini.

“Kenapa diam saja? Tidak bisa baca ya?” tanyanya lagi.

Dia pun memanggil salah seorang namja yang lewat.

“Ya’ kau, bacakan apa tulisan di papan namaku untuk yeoja ini” ujarnya.

Namja itu hanya menurut.

“Xi Luhan” ujar namja tersebut.

Setelah itu namja yang bernama Luhan itu menyuruh namja tadi pergi.

“Sekarang kau dengar kan? Namaku Luhan. Baca saja tidak bisa” ujarnya.

Aku mengerti sekarang, sepertinya namja ini sifatnya tidak terlalu baik. Tapi tak apa, yang penting wajahnya sesuai standarku. Aku akan mengatakan perasaanku sekarang, agar taruhan ini cepat berakhir. Aku pun memandang wajahnya. Dia hanya menatap balik terhadapku.

“Xi Luhan Sunbae. Aku menyukaimu, maukah sunbae menjadi namjachinguku?” ujarku padanya.

Entah kenapa dan sejak kapan kami berdua jadi bahan perhatian siswa-siswi lainnya. Jeongmal, kalau bukan karena taruhan, aku tak akan mau mengatakan  hal seperti ini di depan umum. Pernyataan cinta pertamaku terbuang sia-sia hanya untuk taruhan macam ini. Dia hanya menatapku sesaat dan melengos. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan bingung.

Luhan Sunbae pun tertawa, tertawa sekeras-kerasnya. Apa maksud namja ini? Apa aku melakukan sesuatu yang lucu?. Aku pun menolehkan pandanganku ke arah Jiyeon. Jiyeon hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tangannya tetap menyilang. Aku kembali menatap Luhan.

“Sunbae, apakah ada yang salah?” tanyaku padanya. “Lihat sekelilingmu” ujarnya.

Aku mengikuti ucapannya, dan terkejut melihat semua siswa-siswi sudah mengerumuni kami. Luhan kembali tertawa, seperti orang gila. Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan, kenapa semua orang mengerumuni kami? Bukankah pernyataan suka bukan hal yang harus di lebih-lebihkan seperti ini?.

Aku mengingat pernyataan Jiyeon tadi, ada yg ingin ia bicarakan mengenai Luhan sunbae. Apa maksudnya? Aku menyesal tidak mendengar nasihatnya terlebih dahulu. Mataku beralih pandang menuju Jiyeon. Aku menatapnya dengan tatapan bingung, kurasa dia mengerti. Jiyeon mencoba memberitahuku, yeoja itu menggerakan bibirnya tanpa suara.

Aku mencoba membaca gerakannya itu dalam hati. Kata per kata berhasil kumengerti dan akhirnya aku tahu maksud Jiyeon. Dan sangat terkejut mengetahui apa kenyataannya.

“Mwo !! jadi orang ini penyuka sesama jenis.!” Ujarku terkejut menunjuk Luhan Sunbae dan tidak sengaja bersuara mengeluarkan kata-kata yang diberi tahu Jiyeon.

(TBC)

 

Annyeong *bow* . Terimakasih sudah membaca chapter awal dari FF ini semoga mendapat tanggapan yang baik, kritik dan saran sangat saya perlukan. Komenan dan Like membuat saya selaku author dapat membuat FF menjadi lebih – lebih – lebih semangat lagi. Fighting ! hehehe

Iklan

79 pemikiran pada “Fallin Love Trouble (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s